Sunday, September 21, 2008

Kritik Puisi Subagio Sastrowardoyo

Subagio Sastrowardoyo, Menulis Sepi pada Tepi yang Tak Mungkin Lagi Kembali

Oleh Cecep Syamsul Hari

Apakah tujuan pokok seorang seniman? Seperti yang ditulisnya dalam Mengapa Saya Harus Menulis Sajak,[8] Subagio Sastrowardoyo memberi jawaban seperti ini: Menciptakan nilai-nilai seni yang kekal yang sanggup bertahan menghadapi pertimbangan-pertimbangan estetik yang berubah-ubah menurut perbedaan waktu.

Ada dua frase kunci dalam pernyataan Subagio itu; yang pertama nilai seni, dan yang kedua adalah pertimbangan-pertimbangan estetik. Apakah yang dimaksud nilai seni dan apakah yang dimaksud pertimbangan estetik itu? Membaca sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo, tampaknya, memahami dua frase kunci dari pernyataannya itu menjadi sangat penting untuk mengungkap, membongkar, dan melibatkan diri kita dengan sajak-sajaknya.

Nilai merupakan seperangkat rujukan yang dijadikan dasar bagi pertimbangan, standar atau prinsip yang menjadi ukuran (kebenaran, kebaikan, keindahan) cipta, karya, karsa dan perilaku manusia pada umumnya. Nilai agama menjadikan kitab suci sebagai rujukan, nilai moral merujuk pada filsafat dan ideologi, nilai hukum merujuk pada undang-undang, sementara nilai seni menjadikan kaidah-kaidah estetika sebagai rujukan. Kaidah-kaidah estetika dalam kesenian meliputi keutuhan, keseimbangan, harmoni, kesatuan dan keragaman dan penekanan yang tepat yang mesti ada dalam karya seni itu. Tinggi rendahnya perhatian seorang seniman terhadap kaidah-kaidah estetika akan menentukan tinggi-rendahnya kualitas estetik dari karya seni yang diciptakannya. Subagio, sebagai seorang penyair, menulis sajak dengan kesadaran yang konsisten terhadap kaidah-kaidah estetika itu.



Kaidah-kaidah estetika inilah yang menjadikan rujukan utama pertimbangan estetik untuk dijadikan bahan penilaian dalam menentukan apakah suatu karya sastra dapat dikatakan berhasil atau gagal, prematur atau matang. Namun demikian, pertimbangan estetik kuat dipengaruhi oleh spirit zaman, kira-kira seperti mode pakaian. Seragam serdadu anak buah Adolf Hitler (pemimpin partai Nazi Jerman) tentu ganjil dan berlebihan jika digunakan serdadu-serdadu Kopassus saat ini. Namun, ada juga seragam tentara dari zaman monarki absolut Eropa abad pertengahan yang tetap sedap dipandang mata, modis, lentur mengikuti kecenderungan-kecenderungan zaman yang berubah, jika digunakan di tempat yang tepat, misalnya pakaian pengawal istana Buckingham, Inggris. Begitu pun pakaian abdi dalem di Kraton Yogyakarta. Para hakim di negara-negara Anglo-Saxon berabad-abad bersidang memakai wig dan jubah yang itu-itu juga. Selama ratusan tahun para pendeta Budha dari Tibet hingga Burma menggunakan jubah warna kuning. Dimulai pada zaman dinasti Abbasiyah para rektor perguruan tinggi memakai jubah hitam (toga) dan hingga kini mode berpakaian seperti itu menjadi bagian dari tradisi akademik di berbagai perguruan tinggi di seluruh dunia. Seperti mode pakaian, pertimbangan estetik ditentukan pula oleh selera (taste). Dan seperti halnya selera, pertimbangan estetik selain mengandung unsur-unsur kesementaraan dan lokalitas juga mengandung unsur-unsur kelanggengan dan keuniversalan.

Begitu pula dalam puisi. Menulis puisi yang mendayu-dayu seperti zaman Romantik Eropa atau Pujangga Baru pada tahun 1990-an yang jauh lebih banyak menawarkan diksi yang baru, aneh dan berlimpah, menjadi terasa lamban dan ketinggalan zaman (kosa kata seperti donat dan tiang listrik pada puisi Afrizal Malna, buldozer dan Puskesmas pada puisi Agus R. Sarjono, bagi penyair Pujangga Baru tentu asing dan janggal). Akan tetapi, bukan berarti karya-karya Amir Hamzah kemudian menjadi usang. Dalam banyak hal kekuatan diksiologinya bahkan masih tetap memberi inspirasi bagi karya-karya penyair lain di zaman berikutnya, seperti kancing dan kerah lurus seragam Napoleon Bonaparte yang masih menjadi sumber ilham sebagian perancang mode terkenal dunia saat ini. Kekuatan diksiologi Amir Hamzah itu, misalnya, masih dapat ditemukan jejak pengaruhnya pada puisi-pusi Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan Goenawan Mohamad.

Jadi, selalu ada “sesuatu” yang tahan menerima gempuran ukuran-ukuran zaman yang berubah. Sesuatu yang memiliki daya kekekalan dalam kefanaannya. Kenyataan tentang adanya kelanggengan dalam kefanaan inilah yang menjadi spirit Subagio Sastrowardoyo dalam menulis puisi. Kelanggengan, bagi Subagio, bahkan meniadakan batas “yang nyata” dengan “yang mati”. Semangat itu dapat kita rasakan dalam sajaknya “Dan Kematian Makin Akrab”. Bagi Subagio, kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi. Bahwa dalam perpisahan—dan tiada perpisahan paling menyedihkan dalam kehidupan manusia kecuali maut—tak ada yang hilang.

Sulit dipungkiri bahwa persoalan maut menjadi perhatian utama sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo. Namun, jika kita telusuri lebih jauh, maut dalam sajak-sajaknya sebenarnya lebih merupakan angkasa semesta raya yang lambat-laun akan ditelan lubang hitam (black-hole) “rahasia keabadian”. Manusia yang paling rendah diri sekalipun, bukan hanya selebritis mahakaya seperti Michael Jackson, pasti pernah memiliki impian menjadi “abadi”; itulah yang membuat keberadaan industri cat rambut, kosmetik, jamu awet muda, dan dokter bedah plastik senantiasa diperlukan. Impian menjadi abadi itu pula yang melahirkan tokoh-tokoh fiksi seperti Peter Pan (yang seumur hidupnya tetap kanak-kanak kecuali dalam film Hook ketika ia dipaksa seorang penulis sekenario menjadi dewasa dan tua dalam tubuh Robin Williams), Sleeping Beauty dan Dayang Sumbi. Kesadaran akan keinginan tersembunyi manusia menjadi abadi itu pulalah yang menyebabkan film seperti Witches of Eastwick (diadaptasi dari karya seorang novelis Amerika dan antara lain dibintangi Jack Nicholson dan Uma Thurman) dibuat dan dibanjiri penonton.

Tak banyak, barangkali tak ada, orang yang mengakui terus-terang keinginan (yang mengerikan) menjadi abadi itu sebagai kepengecutan seperti Subagio mengakuinya dengan transparan, sebab baginya sajak-sajaknya yang menaruh perhatian besar pada persoalan maut itu bolehlah dipandang, sebagaimana dikatakannya sendiri, “karangan seorang pengecut yang menyaksikan kegagalan diri hendak mencapai keabadian”. Mari kita baca sajaknya, “Di Ujung Ranjang” dan mari kita rasakan bagaimana ia dengan kesinisan yang lembut menulis kengerian itu: waktu tidur tak ada yang menjamin kau bisa bangun lagi… tidur adalah persiapan buat tidur lebih lelap. Dan, adakah yang lebih lelap dari tidur kecuali maut?

Maut adalah batas yang tegas yang memisahkan kefanaan dan keabadian. Bagi Subagio maut menjadi “Daerah Perbatasan”, yang dengan elok dan dengan “nada rendah”, meminjam istilah Goenawan Mohamad (Horison, Nomor 2, Th. II, Februari 1967), menjadi tema dari sajaknya yang berjudul sama. Kita selalu berada di daerah perbatasan antara menang dan mati. Tak boleh ada kebimbangan memilih keputusan: Adakah kita mau merdeka atau dijajah lagi, tulis Subagio yang melukiskan pertarungan antara kefanaan dan keabadian itu dengan meminjam suasana dan latar medan peperangan.

Dan ketika dalam kehidupan ini kita menemukan manusia yang seketika menyerah dan sumarah pada kematian yang dipaksakan, oleh penguasa atau penjarah yang lalim, dan membiarkan hidup yang berharga itu lepas begitu saja, tanpa kekenyalan yang keras kepala untuk mempertahankannya, kembali dengan sinisme yang lembut, Subagio, dalam sajak “Pidato di Kubur Orang”, menyebut manusia seperti itu sebagai “manusia yang terlalu baik buat dunia ini”. Bagi Subagio, penghormatan yang besar terhadap maut sebagai pintu menuju rahasia kelanggengan mestilah sepadan dengan penghormatan terhadap hidup. Keduanya berada dalam lingkaran harmoni yang saling memunculkan dan meniadakan sekaligus. Tidak ada lubang hitam tanpa galaksi, begitu pun sebaliknya. Suatu seisei hatten (kelahiran, pertumbuhan, perkembangan dan transformasi) dalam pemikiran filsuf Jepang, Konosuke Matsushita.

Dari segi proses kreatif, ketika menulis puisi Subagio memanfaatkan betul kekuatan kreatif yang dalam sejumlah esainya ia sebut sebagai “daya angan”. Bagi Subagio, seperti juga bagi Samuel Taylor Coleridge (penyair dan filsuf Inggris abad ke-8 M.), daya angan merupakan nyawa penciptaan seorang penyair. Daya angan akan membawa penyair pada kemampuan menghayati dan memiliki pengetahuan tentang kehidupan di luar dirinya. Ia akan menjadi seseorang yang terbuka bagi segala kemungkinan mengetahui, mencoba, menolak, menerima, atau memberi makna baru terhadap sesuatu.

Daya angan itulah yang menjadi kekuatan Subagio ketika ia terjerat dalam tarik-menarik antara rahasia yang fana dan yang langgeng itu. Daya angan itu pulalah yang membuat ia menjelajah dan menemui tokoh-tokoh alam mitologi (dongeng), pewayangan dan biblikal (kitab suci), seperti terlihat dalam sajak-sajaknya yang berjudul “Nawang Wulan”, “Bima”, “Abil dan Kabil”, “Adam” dan pada sajak-sajaknya yang lain, seperti “Matinya Pandawa yang Saleh”, “Nuh”, “Yudas”, “Mikraj”, “Genesis”, “Kayal Angin” (tentang Arjuna), “Asmaradana” (tentang Sita, salah seorang tokoh dalam Ramayana).

Nawang Wulan adalah bidadari yang dipaksa nasib menikah dengan manusia biasa di bumi. Pada suatu ketika ia menemukan selendangnya yang tersembunyi dan kembali ke tempat asalnya seraya berjanji sewaktu-waktu akan kembali ke bumi dan mengasuh anaknya. Bima adalah satu dari lima Pandawa yang mengembara mencari rahasia jati diri hingga ke dasar samudera. Nawang Wulan dan Bima yang menjadi citra (image) dan lambang (symbol) dari cinta dan petualangan, yang menjadi pokok pikiran kedua sajak itu, didekati Subagio dengan takzim dan agung: Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia/ Sambut aku dengan bunga/ Aku dari sorga/ jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa/ Aku dari sorga// Sambut aku dengan bunga/ Itu darah dari duka dan cinta… (“Nawang Wulan”); Maka diputuskannya/ untuk meninggalkan tanah kapur/ dan tidur dengan naga/ (yang tak jadi dibunuhnya)/ di samudera angan-angan// Di sana ia bisa bertatap dengan sunyi/ makhluk kecil itu berhuni di lubuk hati/ Matanya cerah seperti punya bocah yang hidup abadi (“Bima”).

Menurut kitab suci, Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Ia dihukum Tuhan harus turun ke bumi, derajat kemanusiaannya jatuh dari yang langgeng menjadi yang fana, karena melanggar larangan Tuhannya. Dalam Perjanjian Lama (Genesis, 4:1-6) diceritakan bahwa Abil (Abel) adalah anak kedua Adam yang dibunuh saudaranya, Kabil (Cain). Abil, seorang penggembala, megurbankan dombanya yang terbaik kepada Tuhannya. Tuhan menerima kurban Abil dan menolak kurban Kabil. Dibakar rasa dengki dan cemburu, Kabil membunuh Abil. Kedua tokoh biblikal ini muncul dalam karya sastra sejumlah pengarang dunia seperti Samuel Taylor Coleridge (yang pemikiran-pemikiran sastrawinya banyak dirujuk Subagio), Byron, William Blake, Miguel de Unanumo dan John Steinbeck.

Kejatuhan Adam ke dunia dan kisah Abil dan Kabil adalah puncak-puncak tragik dalam kehidupan manusia. Adam kehilangan peluang untuk hidup abadi di sorga dan Kabil terpaksa dicatat sejarah kemanusiaan sebagai nenek-moyang para pendengki dan pembunuh manusia di muka bumi. Subagio mengangkat tokoh-tokoh biblikal itu menjadi citra dan lambang dari kehidupan tragik manusia dengan sepenuhnya melankolik: Karena terkutuk/ manusia pertama yang terdampar di pantai/ matanya buta… waktu ditanya dari mana ia berasal/ dan mengapa bintang berlayangan di langit/ ia hanya menggeleng tak mengerti (“Adam”); Tersesat di belantara/ ia dikejar tanya:/ Di mana saudaramu?/ Mengapa kaukucilkan dari dada/ dan biarkan ia terkapar di pantai/ Ia kawan paling setia/ yang mengisi senyummu dengan doa (“Abil dan Kabil”).

Kesadaran terhadap sepi pulalah, selain hasrat kelanggengan, yang mendorong Subagio menulis puisi. “Di dalam keadaan jiwa saya yang hening dan bening,” tulisnya dalam Mengapa Saya Harus Menulis Sajak, “saya telah menulis sajak-sajak saya yang bersemangat keagamaan dan keruhanian.” Bukan suatu kebetulan jika semangat keagamaan dan keruhanian itu pula yang dominan dalam hampir seluruh sajak Subagio kecuali beberapa sajak cintanya, seperti “Keroncong Motinggo” atau “Maafkan Kalau Aku Lekas Lupa pada Nama”.

Jika maut adalah galaksi dan keabadian merupakan lubang hitam, maka sepi bagi Subagio adalah sebuah tempat di antara maut dan keabadian itu, suatu alam ruhani yang dapat dibayangkan, barangkali bisa dirasakan, tetapi jelas tak dapat dihindarkan sebab akan menjadi bagian dari pengalaman manusia dalam perjalanan menuju rahasia keabadian, sebuah daerah perbatasan lain—angkasa yang jauh dari bumi yang kukasih. Maka dalam “Manusia Pertama di Angkasa Luar”, ia pun menulis dengan kemurungan luar biasa, seperti ini: Angkasa ini bisu/ Angkasa ini sepi/ tetapi aku telah sampai pada tepi/ Darimana aku tak mungkin lagi kembali/ Ciumku kepada istriku, kepada anak dan ibuku/ Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang/ Jagat begitu dalam, jagat begitu diam/ Aku makin jauh, makin jauh/ Dari bumi yang kukasih….

Suatu ketika kita akan sampai pula pada tepi yang bisu itu. Seperti Subagio Sastrowardoyo, dari tempat itu kita tak mungkin lagi kembali ke bumi yang kita kasihi. ***
(Majalah Sastra HORISON, Februari 1999)

2 comments:

kenapa sekarang blog agepe ini tidak ada link downloadnya?

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook