Sunday, December 07, 2008

Sastra Perbandingan

Studi Banding dalam Sastra Bandingan

Istilah studi banding yang dikenal secara luas oleh masyarakat ternyata juga menjadi salah satu studi dalam kesuksesan. Dalam karya sastra, studi banding atau studi komparatif menjadi fenomena yang menarik dan khas yang diistilahkan dengan sastra bandingan.

Jangkauan sastra bandingan ini tidak saja dalam lingkungan sastra suatu daerah, tetapi juga hubungan sastra daerah dengan daerah lain, dengan sastra nasional bahkan dengan sastra negara lain. Produk-produk kesusastraan antarwilayah dan antarnegara itu sering dijumpai memiliki pertalian dan kemiripan cerita. Fenomena itu kian menarik sebab tumbuh dan berkembangnya karya sastra itu dipisahkan oleh letak geografis yang berjauhan serta latar bduaya masyarakat yang sangat berbeda.

Awal munculnya sastra bandingan sebagai suatu teori dan pendekatan ilmiah, agak meragukan dan kurang sukses dari segi akademik. Hal ini berbeda dengan pendekatan sosiologi sastra, strukturalisme, psikologi sastra, feminisme, hegemoni dan lain-lain yang sudah bisa diterima oleh masyarakat sastra. Walaupun harus diakui pendekatan-pendekatan tadi masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri. Istilah sastra bandingkan memiliki batasan makna yang bervariasi, namun mengacu pada studi perbandingan terhadap dua karya sastra atau lebih.

Buku klasik Theory of Literature oleh Renne Wellek dan Austin Warren yang sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia, menyebutkan berbagai versi mengenai sastra bandingan. Dalam praktIknya istilah sastra bandingan menyangkut studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Pengertian sederhana itu juga dapat diartikan sebagai studi dengan masalah-masalah lain di dalam sastra. Hakikat kajian sastra bandingan adalah mencari perbedaan atau kelainan, di samping persamaan atau pertalian antara dua atau lebih teks sastra. Studi banding ini umumnya membahas mengenai relasi di antara dua buah karya sastra yang berbeda budaya, tetapi memiliki kesejajaran baik dari segi bentuk maupun isi.

Dalam kesusastraan Indonesia, kajian sastra bandingan belum begitu populer, dibandingkan negara lain. Dari segi teori, ilmu ini belum mendapat perhatian serius, padahal objek garapannya cukup banyak tersedia dan terbentang luas. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki bahasa dan sastranya masing-masing. Tidak sedikit, sastra daerah di tanah air menampakkan kemiripan karena beberapa cerita memiliki motif yang sama. Banyak dijumpai cerita rakyat yang hampir sama tentang seorang pemuda beristrikan bidadari. Contohnya, cerita Raja Pala (Bali), Jaka Tarub (Jawa), Malem Diwa (Aceh), Fefo Kakar Ritu atau Tujuh Orang Putri Bersaudara (Nusa Tenggara Timur), Datu Unjum atau Telaga Bidadari (Kalimantan Selatan) dan Lahilote (Sulawesi Utara). Cerita tentang laki-laki yang bodoh-bodoh pintar juga banyak dijumpai di tanah air seperti Pan Balang Tamak (Bali), Pak Belalang (Sumatera) dan Si Kabayan (Jawa Barat).

Tidak saja dalam bentuk cerita rakyat, hasil kesusastraan yang lebih maju juga banyak memiliki unsur persamaan. Cerita-cerita panji yang berkembang di Jawa juga terdapat pertalian dengan di Bali. Demikian juga karya sastra bentuk babad mempunyai kemiripan antara babad di Bali, Jawa, Sasak dan Sunda. Artinya Jawa dan Bali memiliki hasil-hasil kesusastraan yang tidak jauh berbeda seperti cerita rakyat Bawang Merah dengan Bawang Putih, Si Kaya dengan Si Miskin, legenda tentang Bhatari Shri dan Tujuh Bidadari, serta yang lainnya. Kisah-kisah yang disebutkan itu hidup dan berkembang di Jawa dan Bali dengan versi yang sedikit berbeda. Intisari ceritanya menunjukkan pertalian yang erat. Kedekatan secara geografis serta latar orang Jawa yang beragama Hindu, maka sastra tradisional antara Jawa dan Bali mengandung banyak kesamaan.

Bukan Plagiator

Dalam perkembangan selanjutnya, studi banding dalam sastra bandingan semakin melebar dengan mengkaji dan menganalisis teks sastra. Prinsip kerja ini pernah dilakukan oleh HB Jassin ketika membela pengarang Hamka dan Chairil Anwar dari tuduhan sebagai palgiat. Pengarang Hamka dituduh sebagai plagiat ketika menulis novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Novel ini memiliki kemiripan dengan karya seorang pengarang Mesir, Musthafa Luthfi Al Manfaluthi. Hal yang sama juga dilakukan Jassin ketika Chairil Anwar dituduh menjiplak karya-karya penyair manca negara.

Setelah mengkaji dengan sastra bandingan, Jassin, kritikus sastra Indonesia itu menegaskan, Hamka bukan plagiat. Tetapi dia mengadaptasi karya pengarang Mesir tersebut. Mengenai Chairil Anwar, Jassin juga menilai, penyair angkatan 45 itu hanya menyadur dan menerjemahkan karya-karya sastra asing itu. Pembelaan yang berpihak kepada Hamka dan Chairil itu akhirnya terungkap bahwa tuduhan sebagai palgiator itu hanya mengada-ada. Justru tuduhan itu banyak bermuatan politis. Tuduhan itu datangnya dari sekelompok orang yang beraliran komunitas yang bernaung di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lembaga yang ingin menghantam kaum nasionalis ini kemudian dibubarkan seiring dengan pelarangan partai komunis di Indonesia.

Analisis melalui sastra bandingan dapat mengantarkan kehidupan sastra dalam posisi yang lebih bergengsi. Citra dunia kesusastraan akan dapat terangkat dari posisinya yang terputuk. Sastra sudah lama berada di ruang terpencil dan jarang mendapat perhatian dibandingkan dIsiplin ilmu lain. Sastra bandingan merupakan mediator untuk membandingkan dua teks sastra atau lebih. Perbandingan itu tidak saja antarkarya sastra dalam suatu daerah, tetapi juga dengan daerah lain, sastra daerah dengan nasional, atau sekaligus antara, sastra lokal dengan sastra nasional dan dengan sastra dunia. Dengan jangkauan seperti itu sastra akan mendapat perhatian yang lebih luas lagi. Sebab melalui sastra bandingan, akan melibatkan pengarang yang berbeda, masyarakat yang berlainan identitas seperti perbedaan sosial budaya, agama, politik dan lain-lain. Terlebih lagi kajian sastra bandingkan itu ingin mengetahui proses penciptaan serta perkembangan sastra di suatu daerah dan negara.

Usaha-usaha ke arah itu tampaknya sudah dirintis melalui kerja sama kesusastraan negara-negara Asia Tenggara yang terhimpun dalam wadah Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera). Salah satu program kerja Mastera itu adalah menyusun antologi sastra bandingan dari masing-masing negara anggota (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Muangthai dan Filiphina). Malahan lembaga Mastera itu ingin membudayakan sastra bandingan. Artinya, studi sastra bandingan kesusastraan Asia Tenggara dapat diangkat menjadi mata kuliah wajib bagi perguruan tinggi yang membuka program studi kesusastraan di wilaah Asia Tenggara.

Dengan membuka diri terhadap kesusastraan milik orang lain, dari daerah dan dari negara yang berlainan pula, maka sastra bandingan merupakan jembatan budaya untuk mengetahui sistem pErilaku, agama, adat istiadat, politik dan unsur budaya lainnya. Jembatan budaya ini akan lebih dapat dipupuk karena dibalik perbedaan, ternyata unsur persamaan karya sastra sangat menojol, walaupun dalam wujud karya fiksi. Melalui sastra bandingan dengan cerita-cerita yang bermotif sama, maka rasa persaudaraan itu akan semakin tebal dan kokoh. Sebab cerita yang dimiliki dan dipelajari oleh masyarakat disuatu daerah sebagai warisan budaya mereka, ternyata juga dipahami dan dipelajari oleh masyarakat di daerah lain, bahkan di negara yang letak geografisnya berjauhan juga dipelajari. Dengan demikian, maka sesama warga negara dan warga dunia, akan terjadi rasa saling menghargai, saling memiliki dan saling mencintai melalui sastra.

Masyarakat Indonesia yang berbeda agama, budaya, bahasa dan suku bangsa sangat relevan untuk menggairahkan studi sastra bandingan. Identitas yang beragam ini dapat dipertemukan melalui hasil-hasil kesusastraan dengan melakukan studi banding antarteks sastra. Sementara ini kajian seperti itu sangat langka. Kalaupun ada lebih banyak dalam bentuk tulisan singkat berupa esai atau artikel yang muncul di media massa. Objek garapan sastra bandingan cukup tersedia baik dalam bentuk sastra tradisional maupun modern. Untum mempertebal dan memperkokoh rasa nasionalisme dan rasa kebangsaan Indonesia yang kian memudar itu, sastra dapat mengambil peran melalui sastra bandingan.

i nyoman suaka
diambil dari Bali Post, Minggu, 23 Mei 2004

4 comments:

waduh, bos. kok saya ga bisa copas artikelnya?
padahallumayan penting buat saya...
mohon ijinnya

hooh i pige kang rag iso di copas...

Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat hulu sungai selatan, kandangan, kalimantan selatan seperti datuk panglima hamandit, datung suhit dan datu makandang, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, legenda datu ayuh/sindayuhan dan datu intingan/bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabo di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat,legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin mempertahankan benteng gunung madang, panglima bukhari dan perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hamparaya, datu haji muhammad rais di bamban, sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran, datu balimau dan habib lumpangi, kubur enam pahlawan di ta’al, kuburan tumpang talu di parincahan, perang garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M.Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Basri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan. Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

thanks buat artikelnya ...cukup berguna dan sangat membantu untuk menambah pengetahuan saya

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook