Wednesday, July 30, 2008

Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh?

Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh?

Cerpen Seno Gumira Ajidarma


“Lihatlah bagaimana aku mencintaimu kekasihku. sudah begitu lama kita berpisah, tapi aku ingin mengawinimu. Telah kuraih gelar MBA dari harvard. Telah kududuki jabatan manajer perusahaan multinasional. Telah kukumpulkan harta benda berlimpah-limpah. Kawinlah denganku. Kuangkat kamu dari lembah hitam. Marilah jadi istriku. Jadi orang baik-baik, terhormat dan kaya. Ayo pergi dari sini, kita kawin sekarang juga.”

Ia tersenyum, masih seperti dulu. Ada kerutan di ujung matanya, tapi masih menatap dengan jalang. Dan setiap kali aku menatap mata itu, dadaku rasanya bagai tersirap.

”Ayolah kekasihku, cepat, kita pergi dari sini. Lihatlah Baby Benz yang menunggumu. Akan kumanjakan kamu seperti ratu. Pergilah dari tempat busuk ini. Jauhilah lagu dangdut. Jauhilah bir hitam, marilah memasuki dunia yang elit dan canggih. Kuperkenalkan kamu nanti dengan dunia Mercantile Club, dunia para pedagang dan para manajer internasional. Kuajari kamu main polo, kuajari kamu naik kuda, kuajari kamu bicara Prancis, sambil sedikit-sedikit mengutip Simone De Beauvoir. kujadikan kamu seorang wanita diantara wanita. Berparfum Poison keluaran Christian Dior, berbaju rancangan Lacroix, bercelana dalam Wacoal. Cepat kekasihku, pergi bersama aku. Waktu melesat seperti anak panah. Jangan sampai kamu jadi tua di sini. Menjadi kecoa yang tidak berguna.”

Ia tersenyum lagi. Matanya jalang sekali. Rambutnya keriting dan panjang.

”Ayo cepat kekasihku. Cepat. Jangan sampai dunia berubah. Tak ada yang kekal di dunia ini. Tak ada yang setia. Ayo cepat. Tunggu apa lagi?”

Wanita itu merebahkan tubuhnya. Bau wangi yang kampungan meruap dalam kamar yang lembab. Alangkah lembabnya. Alangkah kumuhnya. Di ranjang itu juga dulu, ia memitingku sehari semalam. Seperti baru kemarin rasanya. Dua belas tahun yang lalu.
Di luar terdengar dangdut saling menghentak dari setiap rumah. Pada sebuah tembok tertulis dengan huruf merah: Termiskin di Dunia. Entah apa maksudnya.

”Apa lagi yang kamu tunggu kekasihku? Inilah kesempatan emas bagimu. Cepat kemasi barang-barangmu. Amankan kopormu? Biar aku bantu. Tinggalkanlah rawa-rawa sipilis ini, pindah ke pondok indah. Ayo cepat. Besok pagi kamu sudah bisa terjun ke kolam renang, begitu mentas langsung membaca International Herald Tribune, sambil menelpon teman-teman di Beverly Hills. Ayolah cepat kekasihku. Jangan sampai ketinggalan kereta. Kesempatan tidak datang dua kali. Tinggalkan saja barang-barangmu di sini. Kita akan segera memborong gantinya di Shinjuku.”

Matanya mengerling tajam dan masih jalang. Apakah ia melihat lembaran Dollar Amerika? Kulihat dari belahan bajunya yang terbuka, ada tato kupu-kupu di atas buah dada. Gambar itulah sensasi masa remajaku. Aku selalu senang mengingatnya karena memberikan persaan aneh dan mendebarkan. Ia menyulut rokok sambil tetap tiduran. Bibirnya merah dan sungguh-sungguh basah. Ia menghembuskan asap rokok ke wajahku, lantas kakiknya naik ke pundakku.

”Siapakah kamu anak muda yang menggebu-gebu? Aku tidak kenal kamu. Dua belas tahun lalu ? aku sudah lupa. Terlalu banyak yang sudah tidur denganku. Aku tidak mengerti. Bagaimana kamu bisa mencintaiku?”

”Janganlah bertanya-tanya. Ikutlah aku sekarang. Penjelasannya nanti saja belakangan.”

”Jelaskan padaku anak muda, jelaskan. Jangan sampai aku berbicara dengan orang yang tak bernama. Apalagi kamu bicara tentang perkawinan.”

”Untuk apa? Bukankah kamu tidak perlu nama-nama? Toh kamu akhirnya selalu lupa. Ikutlah saja denganku. Bersenang-senang. Bermewah-mewah. Akan kubawa kamu ke dunia yang ada dalam iklan-iklan.”

Ia tertawa lepas, seperti mengejekku. Matanya menerawang ke luar jendela, ke langit, ke bintang-bintang. Masih terdengar orang-orang mendendangkan Gubug Derita. Para pelacur berjajar-jajar duduk di luar sambil menaikkan kaki. Leher mereka penuh cupang yang mengerikan.

Seseorang nampaknya baru dihajar, lewat sambil menangis meraung-raung. Bau minuman keras murahan menyesakkan udara bercampur bau keringat para pelacur yang ajojing habis-habisan sampai teler, mencoba melupakan nasib yang entah kenapa bisa begitu buruk dan begitu nestapa. Aku merasa gerah. Aku sudah terbiasa hidup dalam ruangan AC. Jakarta terlalu panas dan menyesakkan. Terlalu banyak orang-orang yang bernasib malang. Ia masih tertawa.

”kenapa kamu tertawa?”

”Aku tidak bisa ikut kamu anak muda. Maafkanlah aku.”

Hatiku rontok. Mulutku kering. Keseimbanganku goyah.

”Kenapa? Apa yang kurang dariku, aku lulusan Harvard dan aku …”

”Aku sudah punya pacar.”

”Siapa? Apanya yang lebih hebat dari aku?”

”Dia cuma tukang jual obat di pojok jalan. Tapi aku bangga sama dia.”

”Hahaha! Tukang obat? Apanya yang bisa dibanggakan?”

”O, aku sangat bangga padanya. Setidaknya dia tidak sombong seperti kamu. Dia bisa bicara tentang segala macam hal, dan dia bisa bicara tentang semua itu dengan meyakinkan. Kamu, meskipun sudah sekolah di Harvard, tdak akan pernah mengalahkan Sukab. Dia adalah segala-galanya bagiku.”

”Hahaha! Sukab seorang tukang jual obat! Obat apa? Paling-paling obat kumis! Obat kuat! Seorang penjual omong kosong! Aku tahu orang-orang semacam itu pembual! Kamu pasti sudah dibohonginya. Kamu sudah dirayu dengan segenap kegombalannya. Mungkin juga kamu sudah dipeletnya, dengan ilmu semar mesem! Atau dia punya batu akik kecubung pengasihan! Jangan mau ditipu. Coba, siapa yang bukan penipu di Jakarta ini? Jangan mau jadi korban!”

”Aku bukan korban. Aku cinta padanya. Dia membuatku bahagia. Dialah satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan hidup. Dia sangat pintar. Sama pintar dengan menteri. Dia sangat lucu. Sama lucunya dengan Asmuni.”

”Hebat. Hebat. Seperti roman picisan. Kamu mau kawin sama dia?”

Ia menggeleng. Wajahnya jadi muram. Membanting puntung rokok ke dalam kloset.

Sejumlah kecoa berterbangan.

”Kenapa?”

Ditenggaknya segelas bir sebelum menjawab, nyaris tanpa suara.

”Dia sudah kawin.”

Hatiku yang tadi sudah jatuh berkeping-keping bagaikan melayang saling melekat kembali.

”Kalau begitu, Ayo! Cepat! Kita pergi dari sini! Aku sudah tidak tahan bau apek di kamar ini!”

Ia diam saja. Membuka bajunya. Lantas terkapar. Kulihat tato kupu-kupu itu. Rasanya makin aneh dan makin mendebarkan.

”Aku akan tetap di sini. Menanti setiap orang yang datang dan pergi. Aku akan tetap setia padanya, meskipun ia tak akan pernah mengawiniku.”

Goblok! Goblok! Ia seorang wanita yang bodoh atau mulia?

”Baiklah. Kalau begitu, sebagai pelacur kubeli dirimu. Kukawini kamu. Kubayar kamu seharga 500.000 dollar Amerika ”

”No,” jawabnya tanpa menatapku, namun nadanya menegaskan ia memang sunguh-sungguh.

”Kamu memang bodoh sekali kekasihku, alangkah bodohnya kamu. Dari Dolly sampai St. Paulli belum pernah kutemui pelacur seperti kamu. Apakah kamu memang seorang pelacur kekasihku?”

Seekor kecoa terbang, dari atas lemari ke kutang, yang tergantung di jemuran.

”Mungkin aku bodoh. Tapi aku punya cinta. Pelacur profesiku. Cuma lima ribu tarifku. Tapi tak kujual diriku. Nyahlah engkau anak muda. Kembalilah ke Harvard.”

Akhirnya kuambil juga botol bir itu. Kutenggak sampai tandas. Aku ngeloyor pergi. Kutengok ke belakang sekali lagi. Ia masih di jendela itu. Melambaikan tangan seperti dua belas tahun yang lalu. Astaga. Bahkan pelacur pun menolak cintaku. Apakah aku mesti mengiris telingaku seperti Van Gogh? Sistem nilaiku guncang. Ternyata masih ada orang punya cinta. Ternyata masih ada orang bodoh. Terlalu!

Jakarta 1989.

*) Dimuat diharian Suara Pembaruan, 1989, sebagai Gombal.

Monday, July 28, 2008

Monolog Felix: Sampah

SAMPAH

Naskah Monolog karya Felix Hendi
Kelas XII Bahasa


(Lampu hidup, fokus pada seorang lelaki, murung, duduk di kursi sisi belakang panggung, tertunduk.)

► : Aku manusia, sama seperti manusia-manusia lainnya. Manusia yang punya hak untuk hidup layak, punya istri, anak, uang, rumah dan kebebasan (kesal). Aku dulu anak desa, hidup dari mencangkul. (kaki disilangkan di atas kaki lainnya, masih bersandar pada kursi).
(Lampu meredup & mati)
(Lampu menyala, seorang lelaki terlihat).

► : Pak, apa warung ini butuh pekerja? Saya sedang cari kerja, Pak (memohon, lalu pindak ke warung lain), Pak, saya boleh membantu? Saya mau digaji berapa saja asal ada kerjaan buat saya (terlihat bergairah, lalu muram dan pindah lagi ke warung lain), Bu, saya butuh kerja, saya bisa bantu cuci piring atau apa saja, asal saya bisa makan (muram, lalu pergi karena tak ada yang menanggapi).

(kembali duduk di sisi belakang panggung).
► : Begitulah. Aku hidup tak jelas di Jakarta, uang tak punya, baju apalagi, bisa makan saja sudah untung. Aku menyesal meninggalkan orangtuaku di desa. Di desa, aku malah bisa makan kenyang meskipun seadanya, tapi setidaknya bisa makan, tak seperti di sini, makan aja susah.

(Berusaha mengingat sesuatu, berjalan di sekitar panggung)
► : Satu hari, aku melewati sebuah TPA. Banyak orang mengais sampah di sana. Aku merasa jijik melihatnya. Tapi demi perut, aku mulai ikut bekerja.


(duduk di lantai, kesal)
► : Tapi menurutku yang kulakukan itu bukanlah yang disebut kerja, entah kenapa banyak orang di Jakarta ini yang mau menyebutnya kerja, bahkan profesi (sinis). Yang kulakukan hanyalah mengais sampah, sampah yang bisa kujual lagi untuk memberi makan perutku (menepuk nepuk perutnya sendiri, masih duduk di lantai). Mungkin karena aku bekerja dengan sampah, (berdiri, berjalan menuju kursi) maka pemerintah dan orang-orang menyebut aku dan teman-temanku lainnya sebagai sampah masyarakat. Seperti sampah-sampah sebenarnya, kami yang jelas-jelas bukan sampah ,melainkan manusia yang bekerja dengan sampah, harus dibuang agar tidak membusuk dan mengotori kota. (sangat kesal).

(kembali mengingat sesuatu).
► : Saat kami para sampah sedang istirahat di emper kota satu hari, rantib keparat suruhan pemerintah itu menyeretku ke penampungan dan rehabilitasi. Memang pemerintah, dari dulu cuma bisa korupsi, tak memikirkan orang sepertiku. Tapi di barak itulah, aku menemuinya, sampai…
(Lampu mati & kembali hidup, sekarang seorang lelaki mengenakan peci, duduk di lantai, bersimpuh)
► : Saya terima nikahnya, Sholehah binti Maemunah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai (mengucapkan ijap kabul).

(kembali berjalan menuju kursi, melepas peci).
► : Aku menikahinya. Aku punya istri dan anak. Senang sekali mengenang masa itu (terlihat bahagia), anakku satu laki-laki. Kami hidup di rumah kontrakan, yang kusebut gubug di pinggiran kali. Meskipun dengan susah payah, aku berhasil menghidupi keluargaku dari hasil memulung. Saat anakku berumur 1,5 tahun, musibah datang lagi…

(bersimpuh, menunduk, menaburkan bunga)
► : Maaf aku tak bisa menjagamu baik-baik, kau tenang sekarang di atas sana, tak usah mikir makan, utang & uang. Jaga anak kita baik-baik. Aku akan rajin-rajin datang kemari.

(kembali duduk di kursi).
► : Istriku mati. Terbakar bersama anakku satu-satunya. Sekarang aku duduk disini,mengingatnya. Dan pemerintah tak pernah peduli. Mereka tetap menganggapku sampah yang harus disingkirkan. Aku tetaplah sampah, yang bau, busuk, menjijikkan & kotor. Sampah, sampah, sampah….

Download naskah ini KLIK di sini
Naskah drama lain? Klik di sini

Saturday, July 26, 2008

Mbeling Remy Sylado

PUISI PALING JOROK Dl DUNIA
DIILHAMI DARI CERITA BOHONG
ANAK KEMAYORAN SEBELUM 1927



Ada orang cerdik tapi jorok
mengeluarkan uang dengan senang
karena kalah bertaruh atas perkara jorok
Ada orang jorok sekaligus goblok
mendapatkan uang dengan senang
karena menang bertaruh atas perkara jorok

Demikian kisah orang-orang jorok
di Glodok setahun sebelum Sumpah Pemuda
tentang Si Acay Si Acong dan Si Acun
yang senang bermain-main ludah dahak
mengulum-ngulum lendir ingus di dalam mulut
lantas memuntahkannya di dinding tembok

Konon mereka bertanding
siapa yang bisa memuntahkan
gumpalan ludah lendir ingus paling besar
ke atas dinding tembok dari jarak 3 meter
bakal menang mendapat uang tunai 3000 dolar

Mula-mula hompila hompimpa
Acay pertama Acong kedua Acun ketiga

Acay pun berkonsentrasi
memompa dan menghirup lantas mengulum
seluruh dahak lendir ingus di hidung dan tenggorok
dan memuntahkan semuanya sehabisnya
huak, huak, huak, cuhhh!
dan gumpalan ludah dahak lendir ingus besar
bergaris-tengah 10 senti menempel di dinding

"Itu belum seberapa," kata Acong
"aku bisa membuat yang lebih besar dari itu"


Acong pun berkonsentrasi
memompa dan menghirup lantas mengulum
seluruh dahak lendir ingus di hidung dan tenggorok
dan memuntahkan semuanya sehabisnya
huak, huak, huak, cuhhh!
dan gumpalan ludah dahak lendir ingus besar
bergaris-tengah 12 senti menempel di dinding

"Itu belum seberapa," kata Acun
"aku bisa membuat yang lebih besar dari itu"

Acun pun berkonsentrasi
memompa dan menghirup lantas mengulum
seluruh dahak lendir ingus di hidung dan tenggorok
dan memuntahkan semuanya sehabisnya
huak, huak, huak, cuhhh!
dan gumpalan ludah dahak lendir ingus besar
bergaris-tengah 14 senti menempel di dinding

Konon muncul orang keempat
Si Otong bedebah paling goblok
"Itu juga belum seberapa," katanya
"aku bisa membuat yang lebih besar dari itu
ukurannya kalian tiga aku satu"

Otong pun berkonsentrasi
melangkah luruh ke dinding tembok
menyedot kembali ketiga gumpalan muntah itu
lantas mengulum-ngulum di mulut dengan asyiknya
sampai-sampai matanya terjuling-juling menikmatinya
dan setelah itu memuntahkannya kembali sehabisnya
huak, huak, huak, cuuuuuhhhhh!
gumpalan dahak lendir ingus paling besar
bergaris-tengah gabungan 10 + 12 + 14 = 36 senti
menempel di dinding

Si Acay Si Acong Si Acun mengakui kemenangan Otong
lantas melakukan patungan 1000 dolar per orang
untuk hadiah buat Otong

Ada orang cerdik tapi jorok
mengeluarkan uang dengan senang
karena kalah bertaruh atas perkara jorok
Ada orang jorok sekaligus goblok
mendapatkan uang dengan senang
karena menang bertaruh atas perkara jorok.


1981
DUA BUAT HAR


Har berumur dua kali selawai
Dua warna rambut: hitam & putih
Dua jumlah istri: tua & muda
Dua hati: dua kemauan

Mau istri muda: Har tampil muda
lantas mencabut rambut-rambut putih
Mau istri tua: Har tampil tua
lantas mencabut rambut-rambut hitam

Dalam dua bulan: Har jadi botak
Kepalanya mengkilat mengganggu ozon.

Tuesday, July 22, 2008

Grhhh! Cerpen SGA

Grhhh!

oleh Seno Gumira Ajidarma


Reserse Sarman masih asyik menyeruput kopinya di warung Markonah, ketika bunyi HT yang menjengkelkan itu memanggil-manggil. Malam sudah larut. Sisa gerimis bertabur membiaskan cahaya petromaks.

“Bintara Sarman?”

“Siap Pak!”

“Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!”

“Siap Pak!”

Kopinya masih berkepul, namun Reserse Sarman telah melesat pergi. Kenikmatan sejenak di warung itu mesti dilepasnya kembali. Senyuman Markonah yang telah lama menghunjam hatinya harus dilupakan sementara. Eh, demikian nian hidup, batin Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari saat ke saat, setiap kali menarik napas di permukaan segera terbenam dalam persoalan kembali. Di dalam mikrolet yang menuju tempat kejadian perkara, ia meraba pistol di balik jaket. Masih ada.



Dengan lincah, ia melompat ke luar mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih berkerumun di tepi jalan. Di balik punggung orang-orang itu, kepala Reserse Sarman menjulur. Dan segera saja matanya merekam pemandangan yang mengerikan.

Dalam cahaya bulan, sosok itu berdiri di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak dan mulutnya mengeluarkan suara serak. Grhhhh! Grhhhh! Orang-orang tak berani mendekat. Di tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalung emas. Berkilat-kilat ditimpa lampu jalanan.

Reserse Sarman menyeruak maju. Kini makin jelas terlihat, betapa sosok itu sangat mengerikan. Tubuhnya tinggi besar. Kakinya menginjak korban yang sudah setengah mati.

Grhhh! Ia menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat betapa dari mulut itu meluncur air liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengket dan hanya bisa dibuka dengan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair. Mata kirinya bolong dan dari bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. Daging di seluruh tubuhnya setengah mencair dan baunya busuk sekali. Reserse Sarman sudah terbiasa melihat mayat. Mulai dari yang mengalami kecelakaan sampai yang teraniaya. Mayat-mayat itu sering kali mengerikan, tapi tak menggiriskan hati Reserse Sarman sama sekali.



Kini Reserse Sarman menatap sesuatu yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Pada sosok membusuk itu terlihat lubang-lubang yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap kali ulat-ulat berjatuhan dan kruget-kruget di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam tubuh busuk itu dan kruget-kruget lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kruget lagi. Grhhh!

Gerakan sosok itu seolah-olah mengancam korban yang diinjaknya. Reserse Sarman segera bertindak. Ia mengeluarkan pistol. Dibidiknya kepala orang itu. Ia menembak.

Terdengar letusan. Sosok itu tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya berlubang karena peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru itu seperti menembus gedebok pisang. Malah dari lubang itu muncullah ulat-ulat yang langsung ber-kruget-kruget berjatuhan di aspal.



Reserse Sarman menembak beberapa kali lagi dengan penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak lubang-lubang. Dan dari setiap lubang muncul ulat-ulat yang ber-kruget-kruget sehingga sosok itu semakin lama makin menjijikkan. Dan malah bergerak mendekati Reserse Sarman. Langkahnya lambat tapi pasti. Kaku tapi meyakinkan. Kedua tangannya terangkat ke atas, seperti melambai-lambai dengan berat. Orang-orang buyar. Reserse Sarman cepat meraih HT-nya.

“Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!”

“Untuk apa?”

“Menembak monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! Cepat!”

“Monster? Monster apa?”

“Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!”

“Rudal apa ini yang diminta?”

“Dasar goblok! Rudal antitank!”



Karena jalanan sudah sepi, kiriman rudal TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sekejap mata, rudal seberat 40 pon melesat dahsyat. Tubuh busuk itu hancur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin banyak saja ber-kruget-kruget dan ber-kruget-kruget di mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Kruget-kruget.

Seorang wartawan yang sejak tadi diam-diam memotret kejadian ini segera melambai taksi.

“Palmerah! Cepat!”



Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GENTAYANGAN DI IBU KOTA. Potongan berita:

. . . dan reporter kami di berbagai sudut ibu kota melaporkan, di setiap tempat keramaian muncul mayat hidup. Tubuhnya busuk sekali. Dagingnya sebagian mencair, peluru pistol atau senapan biasa tidak mempan. Bahkan senjata api yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti ia mati. Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya berkembang biak dengan dahsyat.

Pada umumnya para reporter kami melaporkan kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi itu berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, meminta uang, atau menodong. Tapi karena tubuh mereka yang busuk, dan gerakannya yang lamban, mereka tak bisa menghilang seperti penjahat. Mereka hanya mengacung-acungkan hasil jarahannya sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul begitu saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi belum ada laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol.



Kini para dokter sedang memeriksa serpihan daging yang masih menggeliat-geliat itu. Kita berharap pihak yang berwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh aneh ini. Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah terlalu banyak hal-hal yang tidak masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi yang satu ini, kita harap saja segera berlalu. Mayat hidup gentayangan adalah kenyataan yang terlalu mengerikan.



Reserse Sarman membaca berita itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Terlalu. Masak namaku secuil pun tidak disebut-sebut. Pers sekarang terlalu membesar-besarkan persoalan yang tidak penting, sambil menutup-nutupi masalah sebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas? Aku sudah bekerja siang malam tanpa istirahat, eh, potret si mayat hidup yang dimuat. Mending kalau cakep! Masyarakat juga brengsek selalu menghina polisi. Malah memuja-muja polisi di film Barat. Maknyadirodog!”



Di warung Markonah ia terus saja nerocos, sambil mengunyah sekerat tempe.

“Sekarang koran ikut-ikutan. Berita mayat hidup dibesar-besarkan. Masyarakat ketakutan. Paling-paling nanti yang disalahkan polisi lagi! Polisi lagi! Atasan mencak-mencak, dan buntutnya kita-kita lagi yang kena. Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! Coba kalau dulu gua diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wartawan tau apa sih? Sok tau!”

Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT itu memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat.

“Siap Pak!”

Dan segera Reserse Sarman menghilang.

“Lho, mana uangnya?” teriak Markonah, bersungut-sungut. Tapi cuma sebentar. Ia tahu, Reserse Sarman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak empat. Akan selalu kembali padanya.



Sekali lagi Reserse Sarman berhadapan dengan mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia berdiri di perempatan jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mulutnya mencair tapi masih mengeluarkan suara serak. Grhhh! Grhhh! Jalanan macet. Mobil-mobil itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas atap mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pun mulai mencair.

Reserse Sarman memperhatikan dengan lebih tenang. Ia tahu, meski yang satu ini bisa dibereskan, yang lain akan segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, apa urusannya mereka mengacau?

Mungkin semasa hidupnya mereka dulu kriminal, pikir Reserse Sarman. Tampaknya mereka penjahat-penjahat kasar kelas teri. Penjahat-penjahat yang mengandalkan senjata dan tenaga, bukan otak. Reserse Sarman memperhatikan bahwa di tubuh yang mulai mencair itu terlihat sisa-sisa tato. Dan pada sosok-sosok itu selalu terdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu meruyak ke luar dan berjatuhan kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa ingat sesuatu tapi lupa lagi.



Grhhh! Suara itu menyadarkan lamunannya. Ia mengamati lagi, sosok itu juga bertato. Lamat-lamat masih terlihat sebentuk wanita telanjang di dadanya. Dan lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang berderet-deret dari dada sampai perut. Atau sepanjang punggung. Tapi tidak banyak. Lagi-lagi Reserse Sarman seperti ingat sesuatu. Namun suara itu terdengar lagi. Grhhh!

Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata paling ampuh untuk melumpuhkan zombi. Sambil menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster itu jatuh bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang busuk tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, mayat kok hidup lagi. Setan mana yang merasukinya?

Kalau dihitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup bermunculan di berbagai sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati memantaunya. Setiak kali mesti digunakan rudal TOW untuk memusnahkannya. Celakanya rudal TOW ini bukan hanya menghancurleburkan si mayat hidup. Lingkungannya pun ikut hancur. Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup sudah marah-marah.



“Kenapa sih mesti menggunakan rudal? Apa tidak sayang membuang-buang rudal yang mahal itu? Apa tidak bisa menjeratnya dengan jala? Menebasnya dengan golok? Atau menyiramnya dengan bensin?” ujarnya di televisi.

Namun sementara terjadi polemik, mayat-mayat hidup terus nongol di mana-mana. Para petugas ingin membereskan dengan cepat. Untuk itu, rudal memang paling tepat.

Tapi baru beberapa hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau rudal kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Amerika Serikat baru kapok menjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan meneror. Dari mana sih datangnya mayat-mayat busuk ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. Ia meraih HT-nya.

“Periksa kuburan-kuburan di segenap penjuru tanah air. Laporkan kuburan siapa saja yang jebol!” Reserse Sarman memerintah.



Saat itu juga kiriman rudal tiba. Para petugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi itu telah tegak di atap sebuah mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman memperhatikan wajahnya yang setengah mencair. Rasa-rasanya sudah pernah ketemu. Siapa ya? Grhhh! Grhhh! Ulat-ulat berjatuhan dari mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. Berkembang biak dengan cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga para wanita cantik yang tidak sempat lari menjerit-jerit seperti orang gila. Zombi itu kini lebih buas.

“Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman.

“Oke Bos!” Dan rudal TOW melesat cepat. Blgggrrr!



Ibu kota seperti terlanda perang. Reruntuhan puing merata di mana-mana. Inilah akibat rudal yang diobral. Namun Zombi terus bermunculan. Ulat-ulat merayap seperti wabah. Ulat ber-kruget-kruget di atas meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, sepatu, piring, gelas dan botol-botol. Orang-orang setiap hari sibuk menjetikkan ulat-ulat yang merayap di bajunya, rambutnya, lubang hidungnya, maupun yang bergantungan di kacamatanya.



Zombi makin merajalela. Kehidupan sehari-hari kacau. Mereka kini bukan hanya menyambar benda-benda murahan, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberadaaannya adalah teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri ini biasanya tenteram dan damai, subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus berperang melawan zombi?

HT Reserse Sarman menguik.

“Bintara Sarman?”

“Siap Pak!”

“Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!”

“Siap Pak!”

Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua kaki ke atas meja di kantor. Kepalanya terkulai. HT-nya terus menguik-nguik. Percakapan berseliweran.

Dengan malas diraihnya sejumlah laporan yang masuk.



…para informan di segenap penjuru tanah air melaporkan adanya sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka dan isinya tidak ada lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu memang kuburan kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan bernama dan bertanda tahun. Hasil penyelidikan sementara juga menunjukkan, sebagian mayat itu datang dari Lubang Besar…



Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat sesuatu. Belum lagi mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan di jendela kaca, yang terletak di belakangnya. Ia menoleh, dan terhentak, zombi!

Jantungnya berdegup keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam sekilas, meski wajah itu pun telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya.

“Ngadul!” Ia berteriak. Namun Ngadul yang telah jadi zombi tidak mengenalinya lagi. Zombi itu merayap masuk. Grhhh! Grhhh!

Reserse Sarman melompat ke atas meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan menemukan sesuatu.

“Komandan! Salah satu zombi adalah Ngadul! Salah satu korban pembantaian misterius di Lubang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di markas!”

“Tembak segera dengan rudal!”



“Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaikan masalah!”

Zombi itu mendekat dan membalikkan meja Reserse Sarman. Sang Reserse keburu meloncat dan lari ke ruang lain. Zombi terus mengejar. Ulat-ulat merayapi dinding.

“Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?”

“Bukan begitu Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!”

“Apa maksudmu Bintara Sarman? Zombi itu mengganggu kehidupan!”

Zombi menendang pintu sampai jebol. Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya.

“Apakah Bapak tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas teri terbantai secara misterius! Masih ingat Pak?”

“Masih! Masih! Kenapa?”

“Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang Besar Pak Komandan!”

“Aku tahu! Lantas kenapa?”



“Ada laporan, banyak di antara mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius itu banyak yang sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak ada yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siapa saja bisa terbunuh secara misterius Pak!”

Grhhh! Zombi melompat dari jendela. Reserse Sarman memanjat pagar tembok.

“Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?”

“Pembantaian itu kesalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Sembahyangkan mereka Pak! Harus dilakukan penyembahyangan massal Pak! Rudal kita cuma seratus! Tidak cukup untuk membasmi mereka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya santai!”



“Kamu bermimpi ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong-kosong! Kita sedang mengimpor rudal dari luar negeri! Kamu dengar itu? Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka akan dibantai!”

Zombi menangkap kaki Reserse Sarman yang masih separo di halaman markas.

“Tolong! Mereka menangkap saya! Tolong!” Reserse Sarman berteriak ngeri. Zombi mulai mencaplok kaki itu. Jeritan Reserse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh masuk selokan.

Di berbagai sudut kota zombi bermunculan, makin banyak dan makin cepat, dan makin ganas. Mereka merayat seperti ulat. Memenuhi jalanan, menyeruduk di supermarket dan memasuki kampus-kampus. Mereka gentayangan di segala pelosok. Memanjati gedung-gedung bertingkat dan berteriak-teriak dengan serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara berbarengan seperti kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! Dhendham khesumath! Grhhh!

Di sela-sela paduan suara kengerian yang membuat seluruh kota gemetar ketakutan itu, terdengar lengkingan Reserse Sarman yang menyayat, “Tolongngngngng! Pak Komandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!”



Jakarta - Yogya,

Desember 1986

Sunday, July 20, 2008

Putu Wijaya Dokter

Dokter

Cerpen Putu Wijaya


Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. Bagaimana pembuahan di luar rahim, dalam bayi tabung, dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza, HIV, flu burung sampai sekarang masih dicari obatnya. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun.

Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul, masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter, karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun. Kalau yang sakit sudah sekarat, baru dibawa ke puskesmas. Biasanya pasien parah langsung diinfus, sehingga ketika maut tiba, masyarakat cenderung melihat jarum infuslah yang membunuhnya. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal, tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima pun, manusia tetap mati.

Pada suatu malam, saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. Ketika sampai di puskesmas, saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu.

"Pak Dokter harus tolong kami. Dia itu kepala keluarga. Hidup-mati kami tergantung pada dia!"

"Tapi sudah terlambat."

"Terlambat bagaimana, kami sudah bawa kemari pakai taksi! Uang kami sudah banyak keluar!"

"Tapi sebelum dibawa kemari nampaknya dia sudah tidak ada!"

"Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia. Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!"

"Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya, tidak ada gunanya, sebab orangnya sudah meninggal."

"Makanya keluarkan ular itu cepat. Pak Dokter jangan ngomong terus!"

"Kami memang miskin, tidak bisa bayar, tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!"
"Jangan bikin kami tambah susah, Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!"

"Cepat bertindak!"

Saya disumpah untuk menjalankan praktik sesuai dengan etik kedokteran. Tetapi, di dalam hutan, itu tidak berlaku. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta, karena saya dokter, saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit.

Disaksikan keluarganya, saya bedah mayat itu. Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun. Dia mati karena kurang gizi dan salah menenggak ramu-ramuan dukun. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri, keluarganya tidak percaya. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak.

"Kalau Pak Dokter langsung bertindak tadi, tidak akan terlambat."

"Terlambat bagaimana?!"

"Kata dukun, ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya, bersatu dengan darah. Dibawa ke China pun dia akan tetap mati, apalagi hanya ke puskesmas yang fasilitasnya berengsek ini. Dokter tidak bertanggung jawab!"

"Dokter harus bertindak!"

"Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya hanya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!"

"Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa kemari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Kasihan keluarganya, Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya, tahu?! Dia tidak boleh mati!"

"Tapi ajal itu di tangan Tuhan, kita hanya bisa berusaha!"

"Makanya, kau harus berusaha terus, Dokter!"

"Berusaha bagaimana lagi?"

"Panggil! Kejar sekarang!"

"Kejar ke mana?"

"Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. Paling berapa kilometer. Kalau Dokter cepat bertindak, tidak cuma ngobrol, dia pasti bisa disusul!"

"Disusul?"

"Ah, kau lambat sekali. Beta bilang kejar! Kejar!"

Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar, memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi.

"Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu, asal habis jam kantor!"

"Ayo Pak Dokter, jangan terlalu banyak diskusi, nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!"

Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Ada yang menangis, berdoa, dan menyanyi. Dukun pun terus menjalankan upacara, mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang.

Saya bingung. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek.

Pagi-pagi pintu digedor. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar, ingin tahu apa hasilnya. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. Wajahnya meringis kesakitan, seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. Saya terpaksa menjadi dukun.

Saya rogoh saku, gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh. Lalu saya buka pintu.

"Bagaimana?"
"Tenang!"

"Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!"

"Saya sudah berusaha."

"Dan hasilnya?"

"Lumayan."

"Ah, apa itu itu artinya lumayan, kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. Bilang saja terus-terang, berhasil atau tidak?"

"Berhasil."

Mereka tercengang.

"Jadi dia hidup lagi?"

"Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?"

"Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. Itu maka kita bawa dia kemari!"

"Saya sudah mencoba."

"Terus hasilnya?"

"Itu," kata saya menunjuk pada mayat.

Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. Saya berikan ruang agar mereka lewat, tapi tidak ada yang mau. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. Dukun sendiri malah mundur selangkah.. Mereka semua nampak bimbang. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan.

"Ayo!"

Orang-orang itu tambah ragu-ragu, tak percaya apa yang saya katakan. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat.

"Jadi dia hidup lagi?"

Saya mengangguk. Mereka curiga. Tapi tidak ada yang berani memeriksa.

"Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?"

"Dan mengapa bau?"

"Tadi dia sudah hidup, sekarang sedang tidur."

"Tidur?"

"Ya. Tidur untuk selamanya."

"Apa?!!!!"

"Tapi dia meninggalkan pesan."

"Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan, kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!"

Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji.

"Kata dia sebelum tidur, berikan ini kepada istri, anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. Sampaikan kepada mereka, tenang semua, biarkan aku istirahat sekarang, karena aku sudah lelah sekali. Puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga, aku tidak sanggup lagi bekerja!"

Orang-orang itu terdiam. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. Diendus-endusnya dari jauh. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya, ia menghitung. Bahkan sampai tiga kali. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu, lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya.

Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. Setelah dukun mengeluarkan mantera, mereka lalu bergerak. Beberapa orang menyanyi, yang lain menghampiri mayat, lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari puskesmas untuk dikuburkan.

Saya sama sekali tidak ingin mengatakan bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Tidak. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kacamata orang kota yang sinis. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara, menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu, dengan bahasa yang mereka pahami.

Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke puskesmas. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib, karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka, karena saya tidak menganggap kebenaran kata sayalah yang paling benar.

Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. Begitu kejeblos, saya langsung kelelap, lantaran saya sama sekali tidak siap.

Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup, berubah menjadi pengurus orang mati. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya.

Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke puskesmas. Kalau saya tolak, bisa jadi konflik, karena saya sudah telanjur dipercaya. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu, kalau saya runtuhkan lagi, saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan.

Setiap kali mengobati mayat, saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku, mengeluarkan duit. Mengulur semacam pelipur, atau apa sajalah namanya, untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut.

Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Termasuk cincin pemberian ibu saya. Sementara itu, kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke puskesmas, minta agar saya mengobatinya.

Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. Saya tidak percaya orang-orang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. Strategi "orang bodoh" untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus.

Pada suatu malam, datang di puskesmas mayat seorang kepala suku. Badannya penuh dengan luka parang. Kepalanya sudah putus dari tubuh. Rombongan pengantarnya banyak sekali. Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman puskesmas

"Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas," kata putra kepala suku. "Sebelum perang, Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa kemari. Tolong hidupkan Bapa kami, Dokter, karena kalau sampai dia mati, berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!"

Saya termenung di depan mayat itu. Kepalanya bisa saya sambung, tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar puskesmas dengan senjata-senjata mereka. Banyak di antaranya yang terluka, tetapi mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan.

Saya bingung. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. Lebih dari itu, duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu.

Saya benar-benar cemas. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. Di samping itu, akhir hidup saya juga nampak sudah tiba. Mereka pasti akan kecewa sekali, karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya.

Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan, sekarang menghajar saya. Saya sudah berpura-pura jadi dukun agar bisa nyambung dengan masyarakat, tetapi ternyata tidak cukup. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. Itu mustahil. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama.

Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. Subuh, pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajuritnya yang berang itu menatap saya.

"Berhasil, Dokter?"

Tubuh saya gemetar.

"Jangan kecewakan kami, Dokter!"

Saya tidak berani menjawab.

"Kehormatan buat kami paling penting. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan, boleh mati karena wabah penyakit, boleh kocar-kacir karena kebakaran, gempa, banjir, longsor atau letusan gunung berapi, tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu. Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!"

"Saya paham itu."

"Kalau begitu hidupkan lagi Bapa."

"Saya sudah berusaha."

"Kami tidak mau hanya usaha. Kami mau ada hasil!"

"Tapi ?"

"Kalau satu hari tidak cukup, kami bisa tunggu. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini, asal dia bisa hidup lagi. Bapa saya itu raja. Apa artinya orang-orang ini, kalau Bapa tidak ada?"

"Ya, itu saya juga mengerti sekali. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!"

"Makanya hidupkan lagi Bapaku. Otaknya rusak juga tidak apa, asal hidup. Bapa saya itu lambang. Kami semua ada karena dia hidup. Kalau dia mati, kami semua akan mati. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?"

"Apa?"

"Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. Hidupkan dia sekarang, Dokter!"

"Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi, tapi nyawa tidak mungkin."

"Tapi, kau dokter kan?!"

"Betul."

"Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan, kenapa Bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. Dia cinta kami semua. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera, tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara, tapi cintanya palsu. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo, Dokter!"

Saya tidak sanggup menjawab.

"Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?"

"Tidak."

"Kalau begitu, hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong, Dokter!"

"Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya, supaya musuh dapat diberantas."

Anak kepala suku itu kaget.

"Maksud Dokter, Bapaku mati?"

Saya tidak mampu menjawab. Anak kepala suku itu sangat kecewa. Mukanya langsung keruh. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Mereka melolong seperti binatang liar. Saya ketakutan. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencincang apa saja yang ada di puskesmas. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri.

Karena bingung saya mundur menghampiri meja. Dengan panik, di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Kalau saya harus mati, saya tidak mau mati terlalu konyol. Kalau kalah, kalahlah dengan indah dan gagah, pesan orang tua saya waktu kecil.

Harapan saya ada gunting, pisau atau barang tajam lainnya, tidak terkabul. Di laci, tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. Saya genggam besi itu, lalu mencoba mengambil posisi bertahan. Saya bukan lagi dokter, saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapapun berengseknya. .

"Diam!!!!" teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek.

Teriakannya membuat semua terdiam. Saya gemetar. Besi bendera itu terlepas, tetapi cepat saya gapai lagi. Itulah satu-satunya pegangan saya. Anak kepala suku itu menghampiri saya, hangat nafasnya membuat saya tersiraf.

"Jangan tembak!!!"

Dengan gemetar saya tunjukkan itu bukan pistol. Itu hanya tiang bendera yang copot.
Anak kepala suku tertegun. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. Tiba-tiba saya melihat peluang. Lalu entah dari mana datangnya keberanian, saya berbisik.

"Pahlawan tidak pernah mati. Semangat berjuang tidak bisa mati!"

Pemuda itu terpesona. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. Orang-orang lain pun tegang. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. Lutut saya tambah lemas. Saya tak sanggup lagi bicara. Apa pun yang akan terjadi, saya menyerah.

Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. Tapi ajaib, tidak. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub, lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya.

"Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!" serunya.

Sedetik hening. Tetapi kemudian semua meledak, bersorak gegap-gempita.

Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan.

Sejak itu, bukan orang mati, tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke puskesmas. Mereka tidak hanya mencari obat, tetapi terutama kasih-sayang. Kalaupun kemudian karena sudah ajal, ada orang sakit yang mati, tapi puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun. Saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu. ***


Dimuat di Jawa Pos, 12/16/2007

Friday, July 18, 2008

Senja di Jakarta

Senja di Jakarta


Cerita ini melukiskan kehidupan yang dinamis, pelaku yang banyak bersifat anarkis dan menggunakan berbagai variasi alur cerita yang imajinatif.

Suryono seorang pegawai Kemeterian Luar Negeri baru kembali dari melaksanakan tugas di New York. Ia merasa tidak puas terhadap keadaan di tanah air terutama di Jakarta.

Raden Kaslan, ayah Suryono, seorang direktur PT Bumi Ayu, juga menjabat sebagai anggota dewan pimpinan partai Indonesia.Istrinya, Fafma, yang dinikahinya ketika Suryono di luar negeri masih sangat muda. Namun demikian ia masih gemar berkencan dengan wanita-wanita lain. Sifat ini pun menurun kepada Suryono.

Amara Suryono dan Fatma terjalin hubungan di luar batas kesusilaan. Dengan Dahlia, Suryono pun menjalin hubungan seperti yang terjadi dengan Fatma, walaupun Dahlia sudah bersuami.

Yes adalah teman Suryono dalam kelompok diskusi. Sebenarnya Yes-lah yang menjadi idaman Suryono. Tetapi ia menolak karena pribadi Suryono yang tidak disukainya.

Sugeng mulanya pegawai Kementerian Perekonomian yang jujur. Setelah mendapat kenaikan pangkat, mulailah ia menyalahgunakan wewenang demi keinginan istrinya, Hasnah, yang mendesak untuk memiliki rumah sendiri sebelum melahirkan anaknya yang kedua.

Menjelang pemilihan umum dewan pimpinan partai sibuk meluaskan pengaruh. Untuk keperluan kampanye dibutuhkan biaya yang besar. Husin Limbara (ketua partai) dan R. Kaslan merencanakan pemalsuan dan penjualan lisensi impor dan pendirian perusahaan. Lisensi dijual melebihi harga yang sebenarnya. Perusahaan-perusahaan hanya namanya yang ada beserta direkturnya yang terdiri dari para anggota dewan pimpinan partai dan beberapa anggota keluarga mereka termasuk Suryono dan Fatna. Kaslan selain mencari keunrungan bagi panainya, juga untuk keuntungan pribadinya. Sugeng mendapat tugas untuk memberi izin penjualan lisensi dan pendirian perusahaan. Itu dilakukannya karena mendapat imbalan jasa dan perlindungan dari partai.

Dalam kelompok diskusi Suryono terjadi perdebatan seru mengenai keadaan Indonesia. Achmad tokoh kaum buruh menghendaki agar kita mengikuti sistem komunis. Sedang Murhalim menginginkan agar kita mengtkuti hukum-hukum agama. Suiyono mendukung Achmad dan Yes mendukung Murhalim. Perdebatan diakhiri dengan pengunduran diri Achmad.

Usaha partai Indonesia mencari biaya mendapat sorotan tajam melalui surat-surat kabar. Karena itu Husin Limbara mencari dukungan dari salah satu surat kabar, yaitu yang dipimpin oleh Halim. Halim pura-pura mau, tapi sebenarnya ia mempunyai keinginan tersendiri.

Hati Hasnah kini was-was sebab Sugeng makin jarang tinggal di rumah meskipun mereka telah memUiki rumah baru. Kemesraan yang dikecap bersama Sugeng, anaknya Maryam tempo hari, kini tak pernah kunjung. Hasnah sadar dialah yang bersalah menyebabkan Sugeng tidak jujur. Akibat memikirkan hal-hal ini kesehatan Hasnah dan kandungannya menjadi rawan.

Kampanye pemilihan uroum mulai rataiai. Berbagai rapat raksasa berlangsung. Persaingan melalui surat-surat kabar makin gencar, membela partainya masing-masing.


Dewan pimpinan partai Indonesia menjadi gelisah karena pengkhianatan Halim. R. Kaslan bersiap-siap ke luar negeri. Fatma disuruhnya menyusul. Suryono gembira atas kepergian ayahnya karena akan dapat memiliki Fatma. Lebih-lebih setelah cintanya
ditolak Yes. Fatma pun merasa dirinya hebat karena dapat menguasai ayah (R. Kaslan) dan anak (Suryono).

Kabinet yang baru dibentuk ternyata tidak menyertakan wakil partai Indonesia. Pemerintah mulai mengadakan pembersihan wakil partai Indonesia. Pemerintah mulai mengadakan pembersihan,dalam dirinya, menindak para pegawai yang menyeleweng. Sugeng termasuk di antaranya selain cobaan atas meninggalnya bayi yang dikandung Hasnah. R. Kaslan diminta pulang ke tanah air. Suryono tewas bersama Fatma dalam kecelakaan perjalanan menuju Bandung. Mursalim tewas diserang para perusuh yang dihasut Achmad.

Teman-teman kelompok diskusi berjanji akan meneruskan perjuangan.

Mau download? Klik di sini
lihat novel lain? klik di sini

Wednesday, July 16, 2008

Puisi vs Cerpen

Cerpen Versus Puisi


SEJAK Seno Gumira Ajidarma membedah melalui gaya penulisan cerpennya, terutam dengan diterbitkannya kumpulan Cerpen "Manusia Kamar", dunia kepenulisan Prosa Indonesia mengalami metamorfosa yang sangat liar. Remy Novaris DM, dalam salah satu esai menulis kalimat di atas. Saya justru melihatnya dalam dunia prosa ada sebuah perubahan yang berlanjut.

Semacam ada sebuah energi yang mendesaknya untuk melakukan sebuah pembaruan "radikal". Begitu dashyatnya peta perjalanan prosa Indonesia. Apabila Sutardji berulang kali menafsirkan peta perpuisian Indonesia dianggap sudah mencapai pembaruannya, dengan menuliskan sebuah "Kredo Puisi", yakni pembebasan sebuah kata dari makna maka tamatlah riwayat perjalanan perpuisian Indonesia.

Apa yang ditempuh para pendahulu di bidang puisi telah mencapai tahapan yang masimal. Permulaan tahun 1945, Chairil Anwar dianggap merombak diksi-diksi yang konon begitu sakral, dan dipercayai Pujangga Baru, sebagai aturan yang tak bisa diubah.

Diksi-diksi puisi yang berirama, semacam a-b-ab, harus diikuti kaidahnya. Dengan gayanya sendiri Chairil tak lagi bisa menerima itu semua. Pendedahan mulai dilakukan, dengan melakukan sebuah pelafalan baru. Mencoret kata-kata yang tak perlu. Meski, jasa penemuan akan kepenyairan Chairil tersebut tidak terlepas dari H.B. Jassin.

Jassinlah yang mempromosikan Chairil, dengan menjelaskan sajak-sajak Chairil, melalui teori sastranya. Peta pembaruan puisi dilanjutkan Sutardji. Penyair "meong" ini melafalkan sajak-sajak mantranya yang abai dari makna. Dalam salah satu esainya Subagio Sastrowardoyo dalam "Pengarang Sebagai Manusia Perbatasan", menjelaskan puisi-puisi Sutardji masih bermakna, walau kadang terasa janggal.

Simak saja salah satu sajaknya dengan penulisan lirik semacam, "Walau Penyair Besar, alif ba ta ku tak sebatas Allah". Yang menjadi pertanyaan disini: Adakah Allah mempunyai batas? Lalu, dimana batasannya. Atau dalam, sajak lain semacam "Mesin Kawin", atau "Kalian"-yang hanya berisi satu lirik 'pun'.

Untuk sementara, peta perpuisian Indonesia berhenti di tangan Sutardji. Penggebrakan generasi sebelumnya terasa belum banyak berarti. Afrizal Malna yang dianggap lokomotif Angkatan 2000 di bidang puisi, hanya mencari kedalaman kata. Gejala mempengaruhi antargenerasi memang kerap terjadi, dalam bidang apapun.

Bisa dilihat, bagaimana Afrizal yang mengakui dirinya terpengaruh sajak Goenawan Muhammad, di awal kepenyairannya. Hal ini, berbeda dengan dunia Cerpen atau agar lingkupnya lebih luas, saya lebih enak menyebutnya sebagai dunia prosa. Gaya kepenulisan yang disuguhkan senantiasa berbeda.

Berbagai macam gaya penulisan disini, sebut Danarto, dengan gayanya yang berkiblat ke mistis. Dengan penawaran cerpen-cerpen bertemakan Malaikat Jibril. Surealis dari kenyataan yang disuguhkan, membenturkan kaidah logika. Sebab, siapa yang bisa bercakap-cakap dengan Malaikat, atau menjaringnya.

Realitas

Dunia prosa berlanjut dengan meluaskan diri pada kenyataan persoalan sekitar. Putu Wijaya saya anggap memiliki corak tersendiri. Prosa yang ditulis Putu, bertemakan dunia suram dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Putu bisa dengan jenaka meninabobokan pembacanya, sambil menyiapkan energi untuk menutup prosanya, dengan hal yang tak pernah dipikirkan sebelumnya.

Dalam kata pengantar yang ditulis sendiri, Putu selalu bermaksud melakukan teror bagi pembacanya. Bukan hal yang mustahil, jika kenyataan-kenyataan yang ditulisnya begitu abai pada logika. Sebagai contoh, dalam cerpen "Mayat" yang dimuat di Horison, Putu memaparkan bagaimana seongok Mayat yang mati. Tiba-tiba terbangun dan merasa hak "matinya" sebagai mayat telah dicolong penerbitan.

Meskipun, Putu tidak serta-merta menyelesaikan prosanya dengan bahagia. Hal ini, diakui dalam "Blok" semua prosanya dilakukan disela sebagai wartawan saat itu. Regenerasi prosa terus berjalan. Seno dengan gayanya yang baru, menggabungkan gaya penulisan jurnalistik dan sastra. Belakangan, saya menduga, sebenarnya gaya tersebut lama dilakukan Majalah Tempo, sekarang dikembangkan secara lebih nyata lagi dalam Pantau, juga Kalam. Hal ini, barangkali tidak terlepas dari peranan Goenawan Muhammad, sebagai pemimpin redaksi. Corak-corak Seno, seusai menerbitkan "Penembak Misterius", jelas terlihat. Seno selaku wartawan, menuliskan dengan sudut pandang sebagai penyaksi. Simak saja, novelnya "Jazz, Parfum, dan Insiden"-yang memakai banyak kaidah-kaidah penulisan suatu berita.

Prosa Indonesia senantiasa memdedah sendiri. Tak ada kritik yang sanggup menahan laju pergerakannya. Kritik yang tertulis media massa, semuanya dianggap "gertak-sambal". Semua penulis tetap dengan gayanya masing-masing. Di era 80-an ke atas, seiring dengan bermunculan sejumlah sastrawan baru, prosa Indonesia, mengalami pergulatan baik mental dan fisiknya. Pengangkatan isu seputar gejala masyarakat urban, keluarga, cinta yang begitu buram maknanya, terlihat nyata.

Sebut saja sejumlah prosa yang ditulis Bre Redana, Agus Noor, Gus Tf Sakai, Joni Aridianta, Teguh Winarsho AS, Yanusa Nugroho, Anton Kurnia, Helvy Tiana Rosa, Kurnia Effendi, Satmoko Budi Santoso, Djenar Mahesa Ayu, Puthut EA, Eka Kurniawan, Jujur Prananto-sekadar menyebut beberapa nama. Prosa kian tumpang-tindih, makin beragam gaya yang bermunculan.

Hal ini, barangkali, disebabkan tidak adanya teori yang menetapkan gaya kepenulisan prosa. Ketika saya membaca karya Djenar Mahesa Ayu, "Wong Asu" (sebenarnya Cerpen ini merupakan tanggapan dari cerpen Seno sebelumnya "Legenda Wong Asu"). Saya melihat tanda-tanda baca dialog antar tokoh yang hanya dibuka dengan tanda "+" dan "-", tidak sebagaimana lazimnya "". Keadaan ini mengingatkan saya pada gaya kepenulisan lama, sekitar tahun 50-an, dimana prosa yang berkembang banyak menggunakan tanda baca semacam itu.

Hal ini pula yang selalu berulang, ketika Danarto selalu menuliskan prosanya dengan gaya sufisme. Kemudian, dilanjutkan dengan sebuah prosa dari Agus Noor "Pemburu", yang menggambarkan, adanya keterpengaruhan bentuk, meskipun secara makna berbeda. Generasi-generasi terbaru di bidang prosa bermunculan.

Batasan yang disebut prosa makin berkesinambungan. Kita bisa menemukan prosa yang benar-benar pendek, hanya satu halaman bila diketik dua spasi. Sapardi Djoko Damono pelopornya, di pertengahan tahun 2001 Sapardi menerbitkan antologi prosa berjudul "Matinya Seorang Pengarang" (Indonesia Tera), dengan lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas.

Menceritakan peristiwa dengan bahasa yang singkat. Bisa juga menemukan prosa yang panjang, bahkan sampai 30 halaman, 100 halaman, bahkan 1.000 halaman. Remy Silado, menulis prosa panjang, mengenai sejarah etnis Cina dalam peta sejarah Indonesia "Cau Bau Kan" (Gramedia). Atau beberapa prosa lainnya yang menggebrak gaya penulisan baru dalam jagat sastra semacam "Saman", "Larung", dan "Supernova".

Puisi jelas berbeda dengan prosa. Puisi dianggap memiliki daya magis. Walaupun puisi yang berkembang saat ini hanya sebatas seni merangkai kata. Selayak yang diucapkan Sutardji di Bentara April 2002, "Jika saat ini puisi bisa bersifat tak abadi. Semacam taik kuda,". Namun, tingkat yang dicapai puisi, barangkali karena ketuaan usianya.

Puisi dianggap lebih energik dan liar dari prosa. Meskipun, terkadang saya masih gamang membedakan antara prosa yang benar- benar pendek dengan puisi yang juga 1 halaman itu. Puisi sebagai seni olah kata, barangkali, akan tetap mendapatkan tempatnya.

Mengingat usia puisi jauh lebih tua dibandingkan dengan prosa. Puisi begitu sakral dan diagungkan, sebagai mitos. Ucapan-ucapan yang dibentuk dalam sebuah puisi begitu memiliki corak, tentunya dalam kadar sebagai mantra. Penyair merupakan sosok individu sejati yang paling "arrogan" dalam melahirkan sebuah karya. Bila dibandingkan dengan prosa. Walau terkadang, tidak tertutup kemungkinan seorang penyair juga bertindak selaku penulis prosa.

Gus Tf Sakai salah satu contoh, bagaimana penyair dapat bertindak sebagai prosais. Atau sebut Sutardji yang telah meluncurkan antologi cerpennya "Hujan Menulis Ayam" (Indonesia Tera, 2001). Meminjam ucapan Sutardji, tentang kondisi dalam dirinya, apabila dia menulis puisi maka ia akan meliarkan imajinasinya. Sedangkan, bila menulis prosa ia akan mencoba menentramkan imajinasi tersebut.

Di tengah perkembangan dunia prosa kita. Di era berkembangnya kebudayaan secara universal, gaya penulisan prosa cenderung meliarkan imajinasi. Bahkan, meniadakan batasan moralitas yang berkembang di masyarakat. Gaya penulisan prosa mencapai momentum ledakannya yang dashyat, kita bisa menangkap kesemuanya apabila menangkap gaya dari penulis Agus Noor, Indra Tranggono, Triyanto Triwikromo, Oka Rusmini, Ayu Utami, atau sebutlah generasi terbaru yang tengah hadir semacam Djenar Mahesa Ayu, dan Puthut EA. Aroma mistis, persinggungan dari aspek psikologis, begitu kental dan terasa dalam karya kreatifnya.

Prosa Indonesia, boleh melakukan pembaruan maksimal, dengan cara menurutkan sejarah lama, kemudian menggabungkannya dengan suatu hal yang baru. Toh, tidak ada yang bisa mencegahnya. Prosa Indonesia, semacam suatu kebimbangan tersendiri dari penulisnya, yang siap menetas menjadi apa saja, setelah diperam cukup lama. Ia bisa serius, bercanda, atau main-main. (Alex R. Anggota Komunitas Sastra Pelangi)

Sumber: http://203.130.242.190//artikel/599.shtml

Monday, July 14, 2008

Remy Sylado mbeling





Saturday, July 12, 2008

Hikayat Pelanduk jenaka (2)

Pelanduk jenaka Menundukkan Raja Gajah
(lanjutan)
Baca Bagian 1? Klik di sini
Download Teks ini KLIK di sini

Setelah sudah maka kelihatan pula suatu pasukan lagi dengan sorak tempiknya seperti halilintar membelah bumi bunyinya itu.

Maka kata raja gajah, "Hai sang kera, siapakah pula yang datang itu?"

Maka sembah raja kera itu, "Ya Tuanku, itulah raja sengala, yang digelari oleh Tuan Syekh Alim di rimba itu, Maharaja Santika'"

Setelah sudah kelihatanlah pula suatu pasukan lagi, dan rupanya pun adalah seperti ranggas terlalu banyaknya di tengah medan, dipandang oleh segala gajah akan isi rimba itu, seperti bunga di karang rupanya. Setelah itu maka ia pun berjalan berbanjar-banjar seperti rupa api, serta dengan berjenis-jenis dan berbagai-bagai barang lakunya itu dan tiada membilangkan lawannya serta dengan tempik dan soraknya.

Hatta maka kelihatan pulalah suatu pasukan. Maka katanya, "Hai sang kera, siapa pula yang datang itu?"

Maka sembah sang kera, "Ya Tuanku, itulah raja yang digelari oleh Tuan Syekh Alim di rimba Maharaja Lawi Rangga 2), yang amat buas melompat-lompat berdahulu-dahuluan, serta dengan tempik soraknya dan terlalu azimat bunyinya itu."

Maka kata raja gajah, "Hai sang kera, siapakah yang datang itu berbagai-bagai lakunya?"

Maka sembah sang kera, "Ya Tuanku, inilah raja badak yang digelari oleh tuan Syekh Alim di rimba itu Maharaja Payuk."

Setelah itu maka datang pula suatu pasukan lagi. Maka kata raja gajah, "Hai sang kera, siapakah yang datang itu yang lakunya tiada sekali-kali membilang lawannya?" Maka sembah raja kera,

"Ya, Tuanku, itulah raja beruang yang digelari oleh Tuan Syekh Alim di rimba Maharaja Sang Guna."

Maka berkata pula raja gajah, seraya tersenyum, "Nama-nama apakah yang digelarkan oleh pelanduk jenaka itu, seumur hidupku belumlah pernah aku mendengar nama yang demikian itu."

Setelah sudah raja gajah itu berkata-kata, maka kelihatanlah pula suatu pasukan gegap gempita bunyinya serta dengan berbagai-bagai rupanya itu terlalu hebat, seraya menakuti kepada segala yang memandang dia.

Maka kata raja gajah, "Hai sang kera, siapakah pula yang datang itu, lakunya itu tiada membilang lawannya?"

Maka sembah sang kera dengan gemetar tulangnya, dan bibirnya gentar berkata-kata dengan takutnya, "Ya, Tuanku, itulah kawan 3) harimau yang digelari oleh pelanduk Jenaka itu Maharaja Syahmar dan Johan Pahlawan Perkasa Agung."

Maka kata raja gajah, "Aku pun heran pula mendengar gelaran harimau itu demikian; sesungguhnya yang empunya nama itu aku dengar ialah Baginda 4), raja segala laki-laki di tengah medan peperangan, maka ia pun pura-pura bernama manusia."

Setelah itu, maka kelihatanlah pula suatu pasukan lagi seperti ombak mengalun rupanya, terlalu banyak rakyatnya tiada terbilang banyaknya itu. Maka kata raja gajah, "Hai sang kera, siapakah yang datang itu, banyak pula rupanya dan terlalu banyak rakyatnya itu?"

Maka sembah sang kera, "Ya, Tuanku, itulah raja kerbau yang digelari oleh pelanduk jenaka itu Maharaja Rama Pasut 5)."

Setelah itu raja gajah pun berkata sambil tertawa-tawa seraya katanya, "Itulah gelaran yang sebenarnya."

Syahdan maka kelihatanlah pula pasukan, terlalu azmat bunyinya itu kedengaran oleh segala isi rimba itu, gemuruh bunyinya seperti topan yang besar. Maka terkejutlah raja gajah itu dan disangkanya gunung roboh.

Maka raja gajah pun heranlah, seraya katanya, "Ada juga rupanya kebesaran pelanduk jenaka itu maka segala isi rimba takluk kepadanya itu. Maka jikalau demikian, baiklah aku coba juga kesaktiannya dan ilmunya itu. Jika aku alah olehnya, takluklah aku kepadanya dan jika aku menang, niscaya aku dipuji oleh segala isi rimba ini."

Setelah raja gajah berpikir demikian itu, maka berkatalah ia kepada raja kera, "Siapakah yang datang ini? Maka tiadalah aku ketahui yang tiada tepermanai banyaknya itu, dengan rakyatnya terlalu azmat bunyinya."

Maka sembah raja kera, "Ya, Tuanku, itulah Tuan Syekh Alim di rimba yang berkenaikan di atas belakang seladang itu dan yang di hadapannya itu raja singa dan yang di kanannya itu bergelar Rambu dan di kirinya itu Jipan 6) dan yang di belakangnya itulah Tuanku Raja Janggi dan lain lagi banyaklah segala raja-raja yang ternama, masing-masing dengan rakyatnya."

Setelah sudah maka ia pun sampailah ke pinggir gunung kepada tempat raja gajah itu.

Kalakian maka Tuan Syekh Alim di rimba pun berhentilah, serta dengan rakyatnya sekalian. Dan seketika lagi, maka raja gajah pun pergilah mendapatkan Tuan Syekh Alim di rimba itu, dengan segala rakyatnya gemuruh bunyinya, seperti tagar membelah langit lalu ke bumi."

Setelah didengar oleh isi rimba sekalian raja gajah itu telah sampai serta berhadapan dengan Tuan Syekh Alim di rimba itu, maka berkatalah Tuan Syekh Alim di rimba kepada raja gajah sedang ia lagi di dalam kahamya, "Hai raja gajah, adapun hamba datang ini kepada tuan hamba hendak memeriksa salah dan benar hamba, jika hamba salah kepada raja, niscaya tampaklah dan jika benar kepada raja gajah tampaklah kebenaran hamba. Apakah kesalahan hamba maka raja gajah mengata-ngatai yang keji-keji itu?"

Maka sahut raja gajah kepada Tuan Syekh Alim di rimba, "Hai Tuan Syekh Alim, apakah kehendakmu datang kemari ini?"

Maka sahut Tuan Syekh Alim di rimba, "Hai raja gajah yang pahlawan lagi gagah perkasa, adapun maksud hamba datang kemari ini, hendak bertanya kepada tuan hamba, karena tuan hamba mengata-ngatai hamba dengan kata-kata yang keji-keji. Apakah dosa hamba kepada tuan hamba, maka hamba dikatai demikian?"

Maka sahut raja gajah, "Bahwa sesungguhnyalah hamba mengatai tuan hamba. Maka sekarang ini, apakah kehendak tuan hamba akan hamba ini; adalah hamba menanti kehendak tuan hamba itu."

Maka kata Tuan Syekh Alim di rimba, "Jikalau demikian baiklah kita bercoba dahulu, dan marilah kita berbenteh. Jika kita sudah berbenteh baharulah kita berempas-empas dan jika sudah berempas-empasan itu, maka kita mengadu kesaktian pula; tetapi kita berbenteh dahulu."

Setelah didengar oleh raja gajah akan perkataan Tuan Syekh Alim di rimba mengatakan hendak barbenteh itu, maka ia pun pikir di dalam hatinya, "Tuan Syekh Alim di rimba itu hendak melawan aku berbenteh karena aku lihat kakinya itu terlalu kecil, jikalau seribu sekalipun kakinya itu berhimpun tiadalah sama dengan kakiku besarnya dan tubuhnya pun kecil; tiadalah aku takut melawan; dengan sekali benteh aku pun remuklah tulangnya itu."

Setelah sudah berpikir itu, maka katanya, "Hai Tuan Syekh Alim di rimba, apa-apa lagi kehendak tuan hamba aku turutlah."

Syahdan maka dilihat oleh Tuan Syekh Alim di rimba ada suatu tunggul teras terunjam di tanah, katanya, "Hai raja gajah, marilah kita berbenteh di sini."

Maka sahut raja gajah, "Janganlah kita berbenteh pada tunggul teras itu, karena sempitlah oleh hamba membenteh pada tunggul itu."

Maka sahut Tuan Syekh Alim di rimba, "Adapun gunanya tunggul itu pada hamba akan tempat bertumpu, karena tubuh hamba kecil daripada tuan hamba itu."

Maka kata raja gajah itu, "Baiklah, hamba terimalah bicara tuan hamba, dan hamba turutlah."

Setelah itu maka Tuan Syekh Alim di rimba pun turunlah dari atas belakang seladang hitam itu, seraya katanya, "Hai tuan-tuan sekalian, berdirilah di luar baris itu, supaya boleh engkau sekalian melihat aku berbenteh dengan raja gajah ini dan jangan mendengar khabar daripada orang, menjadi syak tuan-tuan sekalian dan wahamlah aku berbenteh dengan raja gajah ini."

Setelah itu maka berdirilah segala isi rimba itu berkeliling bersaf-saf akan melihat Tuan Syekh Alim di rimba berbenteh dengan raja gajah itu.

Syahdan maka ujar Syekh Alim di rimba kepada raja gajah, katanya, "Sekaranglah kita berbenteh dan hendaklah kita bersaksi dan bersetia dahulu kepada segala isi rimba ini, siapa alah dan siapa menang dan jangan sekali-kali kita berdengki-dengkian."

Maka sahut raja gajah, "Hai Tuan Syekh Alim di rimba, aku berbenteh dengan engkau tiadalah mau dengki dan seumur hidup belumlah pemah aku dengki atau aniaya kepada segala makhluk."

Maka ujar sekalian isi rimba, "Jikalau raja gajah itu dengki, patik semua akan lawannya itu."

Maka Tuan Syekh Alim pun berkata, "Hai tuan-tuan sekalian, lihatlah olehmu akan salah kami keduanya ini, barang siapa yang keluar daripada mulutnya berteriak-teriak, itulah alamat alah. Maka lihatlah oleh tuan hamba kaki hamba, dan kaki raja gajah itu pun demikian juga; itulah permintaan hamba kepada tuan hamba sekalian. Dan barang siapa tiada menurut perkataan itu kena kutuk Wali Allah yang keramat, disambar oleh halilintar dan mati ditimpa oleh gunung yang tinggi,"

Maka sahut segala isi rimba, "Patik kabullah akan kata tuanku itu."

Setelah sudah maka kata Tuan Syekh Alim di rimba, "Hai raja gajah, bentehlah hamba dahulu oleh tuan hamba."

Setelah didengar oleh raja gajah itu, maka ia pun berkata kepada Tuan Syekh Alim di rimba, katanya, "Tiadalah patut sekali-kali hamba dahulu, karena engkau kecil daripadaku."

Maka ujar Tuan Syekh itu, katanya, "Bentehlah juga."

Maka Tuan Syekh Alim di rimba pun mengunjurkan kakinya serta ditahankannya. Syahdan maka raja gajah itu pun bersegeralah membenteh pelanduk jenaka. Maka oleh Tuan Syekh Alim di rimba dilindungkannya kakinya di balik tunggul teras itu, sehingga tiadalah dilihat oleh raja gajah dan segala binatang itu dari sebab pantasnya itu. Serta lepas benteh raja gajah itu, maka terunjur pula kakinya kembali, seraya digosok-gosoknya dengan ludahnya kakinya itu, serta katanya, "Hai raja gajah, dua kali lagi engkau benteh kakiku ini."

Maka raja gajah pun marah, seraya dijulurkannya belalainya itu lalu dibentehnya dua kali lagi berturut-turut; itu pun demikian juga diperbuat oleh Tuan Syekh Alim di rimba.

Hatta maka dilihat oleh segala isi rimba kaki Tuan Syekh itu tiadalah patah dan di dalam hatinya sangat menahan dibenteh itu. Maka masuklah di dalam hati segala isi rimba itu, bahwa sesungguhnyalah Tuan Syekh Alim di rimba ini beroleh kekuatan daripada Baginda Ali dan beroleh berani daripada Amir Hamzah 7) dan kesaktian daripada Wali Allah dan beberapa dipuji-puji oleh mereka itu akan Tuan Syekh itu.

Setelah raja gajah merasai kakinya itu sakit hampirlah patah rasanya dan tiadalah tertarik lagi maka ujar Tuan Syekh Alim di rimba, "Hai raja gajah, tahanlah olehmu benteh hamba orang kecil pula; apabila terasa kepada tuan hamba, dan jika tuan hamba pijakkan pula tiadalah berasa lagi kepada tuan hamba."

Setelah itu maka raja gajah pun mengunjurkan kakinya. Maka kata Tuan Syekh Alim di rimba kepada isi rimba, "Hai tuan-tuan sekalian, hendaklah engkau lihat baik-baik dengan adil akan mata dan mulut raja gajah itu."

Syahdan maka Tuan Syekh Alim pun bersegeralah membenteh raja gajah, serta ditikamkannya kukunya yang tajam kepada siratan kuku raja gajah itu. Maka gajah pun merasa terlalu sakit serta hendak diangkatnya kakinya itu tiadalah terangkat lagi, karena sangat bisanya itu.

Kalakian maka raja gajah mengherik serta minta maaf. Maka kata Tuan Syekh itu, "Mengapa engkau hendak mengangkat kakimu itu?"

Maka oleh raja gajah pun tiadalah lagi diangkatnya kakinya itu.

Hatta maka oleh Tuan Syekh Alim di rimba ditikamkannya kuat-kuat, hingga sampai kepada isi siratan kuku raja gajah itu. Maka raja gajah pun tiadalah menderita 8) lagi oleh sangat sakitnya yang tiada terkira-kira itu. Maka hancurlah seraya menjerit dengan sekuat-kuat suaranya, dan terbitlah air matanya sambil menarik kakinya itu.

Maka Tuan Syekh Alim pun segeralah melompat kepada tunggul itu, lalu ia melompat ke atas tengkuknya sampai kepada kepalanya. Maka hendak digigit oleh raja gajah, tetapi segeralah dikoriskan oleh Tuan Syekh Alim di rimba taringnya kepada pangkal telinganya itu. Setelah dirasainya sakit yang terlalu sangat itu, adalah seperti besi yang tajam dirasanya, hendak melepaskan dirinya pun tiada boleh lagi.

Maka sekalian isi rimba itu pun bersoraklah; maka riuh rendahlah bunyinya masing-masing dengan tempiknya.

Setelah itu maka kata Tuan Syekh Alim di rimba, "Hai raja gajah, apalagi kehendak tuan hamba, katakanlah kepada hamba ini."

Maka sahut raja gajah, 'Tiadalah lagi kehendakku."

Maka kata pelanduk jenaka itu, "Jikalau adalagi kepandaianmu, janganlah tuan hamba sembunyikan kepada hamba ini dan hendaklah tunjukkan."

Syahdan maka pada ketika itu habislah budi bicaranya. Maka katanya, "Telah maklumlah hamba akan tuan hamba, dengan sesungguhnyalah tuan hamba raja dalam rimba ini."

Maka kata Tuan Syekh Alim di rimba, "Bahwa sesungguhnya adapun adat segala raja itu tiada ia mau mengubahkan janji, jikalau mati pun niscaya aiblah namanya pada segala raja-raja isi rimba ini, dan lagi pun ia kena sumpah Wali Allah yang keramat, dan seumur hidupnya itu tiada ia beroleh kebajikan sampai kepada anak cucunya."

Maka sahut raja gajah, "Ya Tuanku, Tuan Syekh Alim di rimba, tiadalah hambamu melalui barang titah tuanku ini, jikalau melalui tiadalah hamba ini beroleh selamat sempurna dan biarlah kena kutuk Wali Allah yang keramat dengan berkat doa Tuanku yang mustajab itu."

Maka kata Tuan Syekh Alim di rimba, "Hai tuan-tuan isi rimba Sekalian, kamu dengarkanlah sumpah setianya raja gajah ini."

Maka sembah segala isi rimba itu, "Hamba junjunglah titah tuanku itu."

Syahdan maka Tuan Syekh Alim pun turunlah dari atas kepala gajah itu, seraya katanya, "Hai raja, tinggallah tuan hamba, karena hamba hendak pulang kembali kepada kosa 9) jenaka itu, karena kata Wali Allah, "Bertapalah engkau lagi, karena belum sampai pertapaanmu itu dan banyak lagi musuhmu dan seterumu. Sekalian isi rimba ini akan datang kepadamu."

Maka sembah raja gajah itu, "Baiklah Tuanku, Tuan Syekh Alim di rimba, patik pun mengiringkan dari belakang duli tuanku."

Setelah sudah maka Tuan Syekh Alim pun kembalilah dengan kemenangannya serta segala isi rimba dengan segala rakyatnya dan balatenteranya pun gegap gempitalah bunyinya, seraya memuji-muji akan Tuan Syekh Alim di rimba itu, katanya, "Bahwa sesungguhnyalah Tuan Syekh Alim ini beroleh kekuatan daripada Baginda Raja Ali, dan daripada Amir Hamzah radiallahu'anhu dan daripada berkat Baginda Ali, maka terlalu mustajab doanya."

Hatta maka beberapa lamanya berjalan itu, maka baginda pun sampailah kepada tempat kosa jenaka itu, dengan segala rakyat dan hulubalangnya itu. Demikianlah adanya.***


Diambil dari Bunga Rampai Hikayat Lama, Sanusi Pane Hal. 30-39


Keterangan:

Banteng.

  1. Lawi = bulu yang panjang dan melengkung, isang; rangga = tanduk rusa, balung
  2. Kumpulan.
  3. Menantu Nahi Muhammad terkenal sakti dalam cerita-cerita segolongan Muslimin
  4. Asalnya: Parasyurama, Rama yang berkapak, dan cerita Hindu: penjelmaan Wsynu sebelum Rama (dari Ramayana. Lihat "Sri Rama mencari Sita Dewi") Raja kerbau disebut Rama Pasut oleh pelanduk jenaka karena bertanduk
  5. Nama bagi tenuk (babi gajah).
  6. Lihat "Amir Hamzah berperang dengan Landahur".
  7. Bedaya. Sekarang biasanya: Menanggung kesakitan, kesengsaraan dan sebagainya derita kata Sangsekerta yang akarnya berarti: menahan.
  8. Alat penghalau gajah atau perbendaharaan; kosa jenaka ialah nama tempat pelanduk jenaka; disebut juga pongsu jataka (pongsu atau pusu artinya bukit kecil, lebih besar busut; jataka artinya kelahiran)

Thursday, July 10, 2008

Hikayat Pelanduk jenaka (1)

PELANDUK JENAKA MENUNDUKKAN RAJA GAJAH

Pelanduk jenaka, yang bergelar Syekh Alim di rimba,
mengalahkan banyak raja hewan, akan tetapi raja gajah
belum tunduk kepadanya. Karena raja gajah itu menista
dia, Syekh Alim dirimba pun berangkat ketempatnya.


Maka Tuan Syekh Alim di rimba pun berangkatlah berkendaraan di atas seladang 1) hitam.

Sebermula adapun yang berjalan itu pertama Maharaja Dandah, kemudian yang menjadi sayap kiri itu Maharaja Beruang dan yang menjadi kepala jalan Maharaja Syahmar dan Raja Perkasa yang menjadi ekor sekali, dan beberapa pula raja-raja sekalian isi rimba itu berjalan dengan segala rakyat tenteranya mengerimkan Tuan Syekh Alim di rimba itu serta dengan tempik soraknya. Adalah lakunya seperti halilintar membelah bumi dan sebab segala raja-raja yang tiada terkira-kira banyaknya itu. Syahdan maka segala isi rimba yang di tanah itu pun berjeritanlah dan tiadalah berketahuan lagi membawa dirinya, ada yang ke dalam lubang tanah ada yang ke celah-celah batu adanya.

Hatta maka segala rakyat yang di atas kayu itu berkata, Apa pula yang datang itu, tiada berketahuan bunyinya; sedikit lagi pecah kepalaku."

Dan setengah di antara yang berjalan itu berkata, Nyaris putus perutku diirikkannya."

Maka masing-masing berbagai-bagai kelakuannya, sebab yang datang itu. Dan setengah berkata, "Nyaris patah kaki tanganku dipijaknya," Dan lagi setengah berkata, "Kutuk apa namanya ini, pulas-pulas perutku dipijaknya."

Maka masing-masing dengan perkataannya pada masa itu. Hatta maka Tuan Syekh Alim di rimba itu pun berjalan tiada berketahuan lagi datangnya segala balatentaranya dengan segala rakyatnya itu.


Alkissah maka tersebutlah perkataan gajah itu berbicara dengan segala rakyatnya itu, "Sebermula adapun raja kera datang membawa dirinya kepadaku ini pada fitnah bencana pelanduk jenaka itu." Setelah beberapa lamanya raja gajah berkata-kata itu, maka kedengaranlah bunyi-bunyian dan tempik sorak segala rakyat balatentara Tuan Syekh Alim di rimba, gegap gempita bunyinya, disangkanya tagar di langit; bunyinya sorak itu tiadalah berketahuan lagi.

Maka raja gajah pun terkejut, seraya katanya, "Hai sang kera, bunyi apakah yang riuh rendah dan yang tiada berketahuan bunyi itu?"

Maka kata sang kera, "Ya Tuanku, itulah bunyi sekalian rakyat Tuan Syekh Alim di rimba dan segala yang takluk kepada pelanduk jenaka itu dan ialah yang mengaku dirinya Tuan Syekh Alim di rimba, ya Tuanku. Bahwasanya adalah ia datang hendak melanggar, dan hendak berperang dengan Tuanku ini."

Setelah didengar oleh raja gajah sembah sang kera itu, maka ia pun marahlah lalu ia turun daripada tempatnya itu, serta dilihatnya pelanduk jenaka datang itu.

Syahdan maka dilihatnyalah angkatan pelanduk jenaka itu berjalan; pertama Maharaja Dandah serta dengan soraknya ditempik dengan gemerencing, bunyinya terlalu indah-indah sekali didengar oleh sekalian binatang itu. Maka halnya berjalan itu adalah seperti ombak mengalun rupanya. Setelah itu maka dilihat oleh raja gajah itu suatu pasukan lagi dengan tempik soraknya terlalu gemuruh bunyinya seperti ombak memecah di batu.

Maka kata raja gajah, "Hai sang kera, siapakah yang datang seperti orang berarak rupanya itu?"

Maka sembah sang kera, "Ya Tuanku, itulah raja singa serta dengan rakyatnya sekalian."

Setelah itu maka dilihatnya pula oleh raja gajah suatu pasukan berbagai-bagai rupanya dan terlalu indah-indahnya sekali barang lakunya itu. Kalakian maka ia berjalan itu berdahulu-dahuluan. Maka kata raja gajah, "Hai sang kera, siapakah yang datang itu?"

Maka sembah raja kera, "Ya Tuanku, itulah raja kambing yang digelari oleh Tuan Syekh Alim di rimba Maharaja Laksana Dewa."

Maka raja gajah pun terlalulah heran sekali, seraya katanya, "Apa-apa juga kelebihannya pelanduk jenaka itu, maka sekalian isi rimba ini takluk kepadanya dan barang perkataannya diturut oleh segala isi rimba itu?"

Setelah itu maka dilihatnya pula suatu pasukan lagi, seraya katanya, "Hai sang kera, siapakah yang datang itu, terlalu sekali hebatnya?"

Maka sembah sang kera, "Ya Tuanku, itulah raja kijang, yang digelari oleh Tuan Syekh Alim di rimba Maharaja Dewalaksana."

bersambung ke Hikayat Pelanduk jenaka (2)
Download Teks ini KLIK di sini

Tuesday, July 08, 2008

Drama Monolog: Manequin

Manequin

Monolog karya Jonathan H.
Kelas XII Bhs, No. Absen: 6


(Sory Jo, naskah monolog-mu saya posting di sini untuk contoh dalam pengajaran teater)

Suasana sebuah etalase sebuah toko pakaian. Ada sebuah manequin separuh badan (MSB) dan manequin laki-laki (ML).

(semua lampu menyala)

Ting… ting… ting… ting… (suara bel masuk)

“Perhatian kepada semua pengunjung Rembulan Department Store, Rembulan Department Store akan tutup kurang lebih dua menit lagi. Harap para pengunjung yang terhormat segera menyelesaikan aktivitas pembayaran. Kami mengucapkan terimakasih karena sudah berbelanja di Rembulan Department Store. Kami beritahukan bahwa besok, Minggu, 24 Juni 2015 akan ada diskon sampai dengan 70 % di Rembulan Department Store. Terima kasih dan selamat malam.”
Ting… ting… ting… ting… (suara bel masuk)

(Lampu dipadamkan, hanya di atas pemain yang menyala)

ML :
Ah… akhirnya semua orang udah gak ada. Jadi bisa bersantai. Mematung dan membeku selama 12 jam sangat membosankan. Hanya bisa memperhatikan dari etalase ini. Hah… di luar sana ada dunia yang katanya begitu luas, tapi aku hanya terjebak di sebuah balok kaca berukuran 3 x 2 m. Terdiam, terpaku, termanequin. Hah… Kenapa kalau ada manusia aku gak bisa bergerak. Coba kalau gak ada manusia, aku bisa bersenda gurau, aku bisa berlari dan gak berhenti, dan bahkan aku bisa seperti manusia. Tapi tentu saja lebih dari manusia. Aku abadi, sedangkan manusia… ha… ha… ha… kemarin lahir, besok mati!

(Mendekati MSB)

Ups… I’m sorry. Bukannya nglupain kamu. Sejak pertama kali aku sadar aku bisa bergerak kala gak ada orang, kamu sudah ada di sampingku. Aku tahu kamu gak bisa bergerak apalagi berbicara. Kepala, gak ada; tangan, invisible; kaki, ada sih, tapi bentuknya stick. Ha… ha… ha… Tapi entah kenapa aku merasa kamu bisa berbicara padaku. Am I already crazy? Harus segera diperiksa nih!

Menjadi manequin sangat enak, ya kan? Tiap dua bulan sekali bisa ganti gaya. Tiap ada acara khusus, bisa dipajang di etalase. Semua mata memandang, semua merek terpasang. Dari merk terbaru: Glue, Lava, dan Vella, sampai merk lama kayak Polo, Versace, Planet Surf, Nevada, udah pernah tak pakai. Disainer terkenal dari Luis Vitton sampai Ivan Gunawan sudah pernah melekat di aku dengan gagahnya. Look at me! Aku punya banyak gaya. (berpose seperti model) I’m very fashionable, you know!

Tapi aku merasa muak dan bosan juga. Aku dipakai untuk menyombong. Baju biasa aja, dilekatkan padaku agar semua pengunjung bisa melihat. Dasar sombong! Aku benci kesombongan, berbeda dengan aku, sudah tampan, rendah hati pula.

(jeda, mendengarkan MSB)

Nah, mulai lagi kan. Aku merasa kamu bisa ngobrol dengan aku. Tapi please deh, kalau mau ngobrol mikir dulu. Kamu bilang aku sombong? Heh… yang punya sifat sombong itu di mana-mana juga manusia. Tiap hari hilir mudik ke sini cuma buat nyombong. Entah cuma punya anting berlian baru atau punya nama yang terkenal, datang ke sini untuk mengangkat derajat mereka atau sekedar bikin heboh. Mending kita, tubuh berisi kehampaan tapi tetap merasa sederajat antar manequin. Sedangkan mereka, hah… katanya punya hati tapi kok menimbulkan kesenjangan.

(jeda, mendengarkan MSB)

OK! Nih buktinya. Inget ga cerita ibu-ibu di café depan etalase kita. Tiap hari bolak balik ke café, cuman pesen es capucino, tapi bisa ngobrol berjam-jam. Kalau diperhatikan, tiap kali datang selalu aja ada yang baru. Dua hari yang lalu, si ibu A punya gelang baru. Kemarin, dianya punya tas kulit beruang baru, hari ini punya bulu mata palsu baru. Eh, inget gak, tiap ada cowok muda keren, mereka langsung berbincang mengenai kekayaan mereka dengan suara yang bisa didenger satu lantai. And the conclusion is mereka sombong, manusia sombong.

Trap… trap… trap… (suara langkah sepatu).

Aduh satpam datang lagi. Berarti sebentar lagi kit… (tiba-tiba mematung)

(Pemain berganti peran menjadi seorang satpam dengan gaya 70-an, lampu di atas etalase mati dan semua lampu menyala)

(Satpam datang lalu sambil memandang etalase, menyisiri rambutnya)

Satpam:

Roger… Roger… kamu kok ganteng banget sih? Rambut rapi, postur tubuh tegap bersahaja, paras… wah sudah tidak usah diragukan lagi. Untuk mengomentari parasmu, Roger, semua kata di dunia tidak bisa menggambarkannya. Serba terlalu, terlalu tampan, terlalu keren, terlalu top, terlalu…

Heh… manequin! Ngapain liat-liat? Tar naksir lo! Kamu tuh aneh, tiap siang posenya sama. Tapi kalau malam posemu selalu berubah, seperti sedang berbicara. Hi… serem! Aduh Roger, walau mukamu menunjukkan ekspresi takut, tapi mukamu tetap ganteng. (Pergi ke samping panggung)

(Pemain kembali menjadi manequini, semua lampu mati, kecuali di atas etalase)

ML:
Bener kan. Capek deh… kalau lagi asyik chit-chat lalu muncul manusia. Lihat satpam tadi, jaga mall apa asik nyombong. Muka abstrak gitu, dibilang ganteng. Karena terlalu asyik nyombong, pasti dia gak tahu kalau-kalau ada pencuri. Telalu percaya pada keheningan. Manusia, manusia, gak orang hebat, gak satpam, manusia selalu sombong.

(jeda, mendengarkan MSB)

Munafik? Bagaimana bisa?

(jeda, mendengarkan MSB)

Apa? I was a human? Heh… buntung, jangan samakan aku dengan manusia! Aku jelas-jelas manequin yang keren dan abadi! Bagaimana mungkin aku manusia! Dasar buntung!
(jeda, mendengarkan MSB)

Sifat manusiaku keluar? Aku ini manequin, dari dulu juga maneguin. Tapi baiklah, sekedar untuk hiburan dan tambah-tambah pengetahuan, coba jelaskan teori anehmu itu, buntung!

(jeda, mendengarkan MSB)

Gak masuk akal! It’s impossible! Kamu bilang aku fenomena di dunia manusia dan manequin? Aku adalah manequin yang masa lalunya manusia? How come?

(jeda, mendengarkan MSB)

Di tahun 2005 aku adalah model? Pantas aku tampan, lalu saat itu aku menjadi terlalu sombong? So what?

(jeda, mendengarkan MSB)

Lalu suatu hari saat aku di mall ini… Apa? Saat aku menyombongkan diriku di depan semua orang, kulitku mengeras, mataku membeku, mulutku terdiam, dan aku tiba- tiba jadi manequin? Ih… gak masuk akal banget!

(jeda, mendengarkan MSB)

Bagaimana tanggapan manusia?

(jeda, mendengarkan MSB)

Seorang tetua berkata bahwa kejadian seperti ini pernah terjadi di seluruh dunia. Ada kala di mana kesombongan sudah merajai manusia maka manusia tersebut akan berubah. Lalu para manusia manequin dijadikan legenda bagi anak-anak agar jangan terlalu sombong. Sama seperti cerita Malin Kundang yang menjadi patung karena durhaka. Bila manusia terlalu sombong, maka mereka akan terkena ganjarannya, menjadi manequin.

(jeda, mendengarkan MSB)
Berarti ada manequin lain yang kayak aku?
(jeda, mendengarkan MSB)
Hah? Manequin di lantai 5 dan lantai 6 dan kamu ? Heh, kalau kamu manusia manequin, kenapa kamu buntung? Selain itu, manequin di lantai 5 dan 6 semuanya buntung kan?
(jeda, mendengarkan MSB)

Kamu dan manusai manequin yang lain terlalu sombong dan kelihatan dari ekspersi wajahmu. Para manusia membencinya dan memutuskan untuk memotong kepala kalin bertahun-tahun yang lalu. Ha… ha… ha… so pathetic. Makanya, jangan sombong. Kayak aku ini lho, rendah hati.
(jeda, mendengarkan MSB)

Apa? Se… sebentar lagi aku pasti akan… akan dipotong dan jadi kayak kalian? Kenapa?
(jeda, mendengarkan MSB)
Mukaku… mukaku sudah menunjukkan keangkuhan? Dan itu berarti, mukaku sudah gak layak untuk dipajang?

(jeda, mendengarkan MSB)

Gak mungkin! Aku hanya berhalusinasi! Kamu gak nyata! Kamu berdusta! Kamu kan hanya imajinasiku! Kamu khayalan! Kamu kepalsuan. Kamu…

(jeda, mendengarkan MSB)

Aku akan dipotong? Kepalaku hilang? Aku buntung? Aku…

(jeda, mendengarkan MSB)

Aku seorang manusia yang sombong? Bukan… Bukan… Aku lebih parah! Aku manequin yang terlalu sombong! Dan kini aku akan dipotong karena aku manequin sombong. Shut up! Jangan berteriak-teriak! Jangan mengejek aku! Aku manequin, titik!

(berpura-pura memukul kaca etalase)

Keluarkan… Keluarkan aku dari etalase ini! Aku mau menyelamatkan wajah tampanku!

(berpura-pura memukul kaca etalase)

Diam buntung! Jangan menghina aku! Cukup… Cukup…

(menjatuhkan manequin separuh badan lalu memukul-mukul kaca etalase)

Let me go! Biarkan aku lari! Keluarkan aku dari sini!

(berpura-pura memukul kaca etalase)

Aku… Aku manusia sombong… Aku manequin sombong… Aku sombong… Aku sombong… Aku sombong… (menjadi manequin kembali dengan ekspresi menangis dan takut)

(Lampu di atas etalase dimatikan dan semua lampu menyala)

(Pemain menjadi sylist dengan gaya kebencong-bencongan, semua lampu dinyalakan)

(Stylist datang dan langsung memperhatikan etalase)

Stylist:
Semuanya kumpul! Catet! Segera ganti manequin ini. Atau paling gak, potong kepalanya. Tampangnya udah out of date dan ekspresinya aneh.

(semua lampu dimatikan, lampu di atas etalase dikedip-kedipkan)

ML:
Aku… Aku manusia sombong… Aku manequin sombong… Aku sombong… Aku sombong… Aku sombong…

Catatan:
Naskah ini digunakan untuk Ujian Praktik Mata pelajaran Seni teater


Dowload naskah ini SILAKAN KLIK di sini
Naskah drama lain? Silakan klik di sini

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook