Tuesday, January 13, 2009

Becak Terakhir di Dunia

Becak Terakhir di Dunia
atawa Rambo


Ceritakanlah padaku tentang kepunahan,” kata Alina pada tukang cerita itu. Maka tukang cerita itu pun bercerita tentang Rambo

***
Langit semburat ungu. Senja telungkup ke kota itu. Dari dalam kota, kafilah beratus-ratus truk menggebu melewati padang pasir, mengangkut beribu-ribu becak. Debu mengepul di balik bayang-bayang hitam yang memanjang seperti naga raksasa. Deretan truk itu bagaikan tak putus-putus keluar dari kota mengangkuti beribu-ribu becak. Musik yang dahsyat membahana di telinga para sopir. Beratus-ratus sopir truk mengenakan walkman. Beratus-ratus walkman menggaungkan musik padang pasir.

Beratus-ratus truk meluncur di padang pasir. Di bagasi truk itu, becak-becak menungging, rodanya berputar-putar dan bergoyang-goyang. Kepulan debu makin memanjang. Dari jauh tampak membubung dalam sisa cahaya senja. Beratus-ratus truk terus meluncur tanpa berbelok. Beribu-ribu orang jongkok di tepi lintasan truk-truk itu dengan mata kosong. Tangan mereka sesekali terulur entah mau apa. Sesekali mulut mereka mengeluarkan keluhan lemah. Namun sopir-sopir menekan pedal gas dalam-dalam. Mata mereka waspada ke depan. Mereka tdk menoleh ke kiri atau ke kanan. Dan di telinga mereka bergema musik padang pasir yang syahdu. Keras sekali.

Beratus-ratus truk menuju ke pantai. Ombak menghempas-hempas dan berdebur-debur bagaikan dewa laut yang kelaparan. Beratus-ratus truk tiba di pantai. Ombak menderu-deru dan angin mendesis-desis. Ratusan truk berjajar-jajar membelakangi laut. Ratusan bagasi truk terangkat bersama-sama dan beribu-ribu becak berpindah tempat ke ratusan perahu angkutan. Beratus-ratus perahu mengangkut beribu-ribu becak dalam ombak yang ganas. Di tengah laut, beratus-ratus perahu menumpahkan beribu-ribu becak bersama-sama. Beribu-ribu becak meluncur ke dasar laut membuyarkan ikan-ikan. Tak lama kemudian, becak itu berubah menjadi fosil.

Di puncak bukit karang, seorang lelaki tegak menatap pemandangan itu. Latar belakang langit senja membuat lelaki itu hanya tampak seperti sosok hitam. Ia berdiri tegak seperti patung, matanya menatap tajam pada beratus-ratus becak perahu yang memuntahkan beribu-ribu becak. Ia masih tetap di sana sampai perahu-perahu kembali ke pantai, dan truk-truk meluncur kembali ke kota, meninggalkan kepulan debu yang memanjang. Di samping sosok kehitaman lelaki itu, tampaklah bayangan sebuah becak.

Pada malam hari, Ia mengendarai becak itu menuruni bukit. Sampai di kaki bukit, seorang wanita melambaikan tangannya: “Cak!”

Becak itu berhenti.

“Ke pasar berapa, Bang?”

Gopek.”

Nopek mau?”

“Naik.”

Becak itu segera melaju di padang pasir menuju kota yang kini gemerlapan. Di jalan mereka menyalip beribu-ribu orang yang tadi jongkok di tepi jalan dengan pandangan mata kosong.

“Rambo!” teriak mereka ketika melihat becak itu.

“Apa?!”

“Hati-hatilah Rambo!”

“Kenapa?”

“Waspadalah! Becakmu kini adalah becak terakhir di dunia!”

“Aku tahu.”

Ya, Itulah Rambo si tukang becak. Tubuhnya luar biasa tegap. Wajahnya tampan tapi agak bego. Ia menggenjot becaknya dengan kencang. Rambutnya yang agak gondrong melambai-lambai. Ikat kepalanya juga melambai-lambai. Dari langit terdengar lagu melayu.

Kudaku lari gagah berani …

Rambo memang bukan sembarang tukang. becak. Becak yang digenjotnya pun bukan becak sembarangan. Becak itu adalah Becak Kencana. Dengan becak itu Rambo telah menjuarai reli akbar Paris-Dakar dalam kelas becak. Telah keliling dunia mengendarai becak sampai tiga kali. Telah ikut sirkus keliling yang mempertunjukkan atraksi becak-becak. Rambo mampu berjalan di atas tali mengendarai becak, satu roda becak itu menapak tali, dua roda depan terangkat ke atas. Belum lagi akrobat-akrobat becak yang lain.

Becak Kencana itu kini melaju ke dalam kota. Keringat berleleran di tubuh Rambo. Kaos singletnya basah. Bahkan celana renang yang dipakainya pun basah. Sesekali ia mengelap wajahnya dengan handuk kecil di lehernya. Kakinya yang bersepatu basket mengayuh terus tanpa henti. Wanita dalam becak itu duduk dengan santai. Kakinya menjuntai dan tangannya terus-menerus menyisir rambut.

Dengan kecepatan angin, Becak Kencana menembus gerbang kota. Para petugas bersenjata Armalite dan Kalashnikov yang sedang asyik merenung-renung terkejut. Seseorang segera memberondong. Tapi luput.

“Gila! Masih ada saja becak di kota ini!”

“Itulah becak terakhir yang belum digaruk!”

“Cepat laporkan!”

Dalam sekejap kota itu jadi hiruk pikuk. Sirene polisi meraung-raung. Mobil-mobil polisi dengan lampu merahnya yang sorot cahayanya berputar-putar segera melejit di jalanan, memburu satu-satunya becak yang masih gen-tayangan.

Rambo ngebut di sela-sela kendaraan lain. Orang-orang di dalam mobil atau di trotoar yang melihatnya terperangah.

“Lihat! Becak Kencana belum digaruk!”

“Itu Rambo!”

Keringat Rambo berkilatan disiram hujan cahaya dari reklame-reklame neon raksasa.

“Sebelah mana pasarnya?” teriaknya di antara deru kendaraan yang berseliweran.

“Masih jauh!”

“Di mana?”

“Ujung dunia,” Dan wanita itu tertawa berkepanjangan. Tapi belum lagi Rambo memahami maksudnya, suara sirene mobil polisi terdengar makin nyaring. Di hadapannya mobil polisi itu mendecit menghadang jalan. Dengan lincah Rambo membelokkan becaknya. Ia menyelusup di jalan-jalan kecil, lantas muncul di jalan-jalan besar yang lain.

Di setiap jalan besar, petugas-petugas ber-HT segera melaporkan ketika melihat Becak Kencana melaju.

“Rambo melintas Jalan Satu!”

“Becak Kencana melintas Jalan Dua!”

Setiap jalan ke luar telah disumbat, namun Rambo tetap saja bisa mengecoh. Kadang-kadang ia meng-genjot becaknya terbang di atas mobil polisi. Sementara wanita di dalam becak itu tetap saja tertawa-tawa sambil terus-menerus menyisiri rambut.

Hampir seluruh polisi di kota itu telah dikerahkan. Sirene menjerit-jerit sepanjang jalan. Lalu lintas kacau. Rambo malang-melintang dengan akrobatis. Ia menggenjot Becak Kencana kencang-kencang dalam berbagai gaya. Kadang-kadang becak itu berjalan miring, hanya dengan dua roda, tapi tak jarang pula cuma dengan satu roda. Di tempat-tempat strategis, para juru kamera TV mengabadikan perjuangan Rambo. Seorang reporter TV berkomentar:

“Dahsyat sekali! Tak kurang tiga ribu polisi mengejar becak terakhir di dunia! Tapi Becak Kencana yang dikemu-dikan Rambo belum juga tertangkap! Rupa-rupanya Rambo jauh lebih paham seluk beluk jalanan kota ini ketimbang para polisi! Ia melaju! Ia menyalip! Ia mengepot! Dari ujung jalan satu ke ujung jalan lain. Rambo melesat seperti setan! Dari gang ke gang! Dari jembatan ke jembatan! Lihat saudara-saudara! Lihatlah pada layar TV Anda! Seorang tukang Becak diuber-uber tiga ribu polisi. Inilah sejarah! Saudara-saudara sedang menyaksikan nasib becak terakhir di dunia. Dikemudikan pengemudi becak terbaik dan terakhir di dunia!”

Pada layar TV, gambar Rambo terus menerus bisa diikuti penonton. Para kamerawan pun agaknya tak kalah lincah. Setiap jengkal perjalanan Rambo bisa mereka kejar. Para reporter berganti-ganti melaporkan pandang-an mata mereka.

“Para pirsawan di mana saja Anda berada! Lihatlah peluh Rambo yang bercucuran spt butir-butir mutiara! Napasnya terengah-engah! Wajahnya memelas tapi memendam kemarahan. Ia terus-menerus menggenjot becaknya! Matanya nyalang! Astaga! Para pirsawan di rumah! Lihatlah matanya! Matanya menyimpan dendam! Dendam yang tak pernah bisa terbalas! Tidak pernah ada tukang becak bermata spt itu saudara-saudara sekalian! Tukang becak biasa bermata loyo, malas, dan pasrah! Tapi ini? Para pirsawan di seantero tanah air, apakah mata Rambo mewakili perasaan tukang-tukang becak di seluruh dunia yang becaknya digaruk?!”

Rambo masih menggenjot becaknya. Ia mulai bisa menjauh dari kejaran polisi. Ia memasuki daerah kumuh yang tak bisa dilalui mobil polisi. Sebetulnya sepeda motor polisi masih bisa mengejar, kalau mau, tapi banyak di antara sepeda motor itu sudah rusak bergelimpangan ketika menguber-uber Rambo di jalan raya. Rambo telah menyapu mereka ke comberan satu per satu. Sisanya mau masuk ke daerah itu takut. Maklumlah mereka bisa dikepruk tangan-tangan tak kelihatan dari belakang. Para kamerawan ragu-ragu pula masuk ke sana, apalagi mengingat peralatan mereka yang serba mahal. Maka mereka naik ke gedung-gedung tinggi, dan menembak-kan kameranya dari sana.

Dari ketinggian tampak Rambo menggenjot becaknya pelan-pelan. Di ujung jalan sekelompok orang berjoget mengikuti irama dangdut, diterangi lampu petromaks.

“Aku turun di sini, kita sudah sampai,” ujar wanita yang tak henti-hentinya menyisiri rambut itu tiba-tiba.

“Inikah ujung dunia?”

Wanita itu hanya tertawa. “Kamu tidur di tempatku saja,” katanya sambil menarik tangan Rambo. Tukang becak itu menurut saja. Mereka lenyap di kegelapan.

“Mereka lenyap di kegelapan! Para pirsawan di rumah, Rambo dan wanita penumpangnya menghilang ke sebuah gubuk! Dari tempat reporter Anda berada, hanya tampak Becak Kencana parkir di depan gubuk reyot yang biasa digunakan para pelacur. Saudara penonton di rumah, di daerah hitam ini orang-orang tidak terlalu peduli dengan Rambo. Mereka juga tidak peduli ada tiga ribu polisi sedang memburu-buru Becak Kencana. Mereka sendiri sudah terlalu sering digusur, diciduk, maupun digaruk. Mereka adalah . . . “

Reporter TV itu terus melaporkan keadaan. Sementara di sekeliling wilayah kumuh itu, satu per satu bermuncul-an anggota pasukan tentara. Mereka merayap perlahan dengan senapan M-16 di tangan. Beberapa orang bah-kan membawa bazoka. Di dalam gubuk, kedua orang itu bercakap-cakap.

“Aku pelacur. Kami sudah biasa digaruk. Nasib kita sama-sama tergusur.”

“Tapi pelacur tak akan pernah habis digaruk, lain dengan becak. Becakku adalah becak terakhir di dunia. Tak akan pernah ada pelacur terakhir di dunia. Kamu lebih untung…”

“Ah, sudahlah Rambo,” kata pelacur muda itu sambil mengusap peluh di wajah Rambo, lantas ditariknya kepala tukang becak itu. Lantas diciumnya. Lantas mereka main cinta.

Secercah cahaya menerangi Becak Kencana yang nongkrong di luar. Rambo mengunci rodanya dengan rantai, dibelitkan ke sebuah tiang.

“Pirsawan TV di seantero tanah air”, kali ini suara si reporter rendah sekali, nyaris berbisik. “Satu batalion tentara telah didatangkan utk menyergap Rambo. Maklumlah, kalau becak terakhir di dunia ini tidak juga berhasil dirazia, yang berwajib akan malu. Bukan saja malu krn tak mampu membasmi becak, tapi juga malu krn di negara modern ini masih saja ada becak. Untuk dosa ini, Rambo bisa dihukum tembak. Memang, para bekas tukang becak belum mendapat pekerjaan baru. Namun, wajah kota yang bersih, dan jalanan yang lebih indah tanpa becak jauh lebih penting. Bukankah negara kita sedang membangun? Saudara-saudara penonton TV. Suasana makin menegangkan. Sekitar gubuk reyot tempat Rambo dan wanita tadi masuk sudah dikepung rapat. Sayup-sayup terdengar musik dangdut. Pada layar TV Anda tampak mereka merayap dengan senjata di tangan. Namun orang-orang yang berjoget di ujung jalan itu tidak peduli. Nah, lihat saudara-saudara, komandan operasi berbicara lewat pengeras suara…”

“Rambo! Menyerahlah! Kamu sudah dikepung! Kamu tidak mungkin bisa lolos! Serahkan becakmu dengan suka rela!”

Sepi. Tak ada jawaban. Malam serasa lebih kelam.

“Kalau kamu menyerah dengan baik-baik, kami akan memberi kamu pekerjaan Kamu tidak usah menggenjot becak!”

Masih sepi. Suara tikus mencericit dari lubang got.

“Kami akan memberi kamu sebuah bajaj! Sebuah Bajaj Kencana!”

Dari dalam gubuk terdengar suara tawa wanita.

“He, ada berapa bajaj tersedia untuk seluruh bekas tukang becak?” teriak wanita itu, di tengah tawanya yang berkepanjangan.

“Bangsat kamu Rambo! Kami tidak punya pilihan lain! Maaf, sebetulnya kami bersimpati padamu, tapi kami hanya menjalankan tugas! Siap menyerbu! Satu … Dua…”

Tapi tiba-tiba pintu gubuk reyot itu terbuka.

“Tahan! Aku menyerah!” Rambo mengangkat kedua tangannya. Wajahnya loyo, malas, dan pasrah, seperti umumnya tukang becak. Pelacur itu mengikut di belakangnya dengan malu-malu.

“Astaga! Saudara-saudara pirsawan. Pahlawan kita menyerah! Lambang pemberontakan kita menyerah! Sungguh memalukan! Ini tidak boleh terjadi! Tidak! Rambo! Jangan menyerah Rambo! Matilah sebagai ksatria! Matilah sebagai pahlawan!” Reporter TV itu berteriak-teriak dari atap gedung. Di rumah-rumah, para penonton TV juga riuh berteriak-teriak. Suasana kota hiruk pikuk.

“Jangan bikin malu Rambo!”

“Bangsat kamu Rambo!”

“Kami tidak punya lambang lagi!”

“Kami sendiri tidak berani!”

“Rambo! Sialan lu! Dibayar berapa kamu?!”

Bahkan banyak yang menendang dan melempar kaca layar TV-nya sampai pecah.

“Jadi, kamu menyerah Rambo?” komandan itu menegaskan. Rambo maju ke depan, masih mengangkat kedua tangan.

“Ya, aku menyerah. Aku bukan pahlawan. Dan aku tidak mau jadi pahlawan. Aku Cuma tukang becak yang takut mati dan perlu makan…”

Komandan itu tersenyum sejenak. Namun mendadak berseru: “Tembaaakkk!!!”

***

“Sudah! Sudah! Jangan teruskan!” teriak Alina pada tukang cerita itu. “Aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi! Kenapa sih ceritanya harus berakhir seperti itu?”

“Begitulah jaman berubah Alina. Punah dinosaurus. Punah suku Apache. Punah pula becak-becak…”

“Zaman memang sudah berubah. Tapi kenapa kita juga ikut berubah?”

Tukang cerita itu tidak menjawab. Ia hanya meringis. Sehingga mirip patung Buddha yang sedang tertawa.

***
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Jakarta, Februari 1986

1 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook