Monday, March 30, 2009

Kritik Puisi Kwatrin Tentang Sebuah Poci

“ KWATRIN TENTANG SEBUAH POCI “
Sebuah Dialog: Teori dan Analisis Puisi Goenawan Mohamad



Pada keramik tanpa nama itu
Kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol, ternyata
Untuk sesuatu yang tak ada
Apa yang berharga pada tanah liat ini
Selain separuh ilusi
Sesuatu yang kelak retak
Dan kita membikinnya abadi
1973, kumpulan puisi “ Asmaradana “


Pendahuluan, Membaca Cinta Membaca Energi Hidup

Cinta suatu kata yang mendorong setiap manusia ( mahluk semesta ) berangan tentang suatu harapan, yang akan membawa pada sebuah kehidupan dan keimanan yang terbaik. Dalam pengertian yang substansial cinta adalah sebuah energi kehidupan yang berisi harapan tak terhingga tapi berisi pula resiko yang tak terbatas. Buahnya demikian manis kadang juga demikian pahit, tetapi sebagian manusia mengatakan sebuah realitas yang pahit, tidak berarti cinta yang pahit, dan sebaliknya realitas yang megah atau indah-indah tidak pula berarti cinta yang manis. Apapun yang akan dialami manusia akibat cinta, yang pasti ia tak sekedar bisa begitu saja dilupakan.

Tapi ada satu pintu bagi cinta yang harus bisa kita sepakati, yaitu saling memberi dan menerima dengan satu ikthikad meninggikan ketakwaan kita dalam ber-Tuhan dan kehidupan yang nyata, bukan yang sesaat-saat indah. Puisi yang lahir sebagai salah satu efek dan ikhikad baik seseorang yang mengidentifikasi nilai bijak, dari resiko cinta dan hidup yang dipilihnya, akan menjadi bahasan dengan harapan kita mendapatkan energi hidup yang lebih baik atau setidaknya tidak lebih buruk.

Bagaimana Membaca Energi dan Mencintai Puisi

Dalam membangun kehidupan yang lebih berarti, tentunya setiap individu mempunyai pengalaman yang begitu mempesona, baik manis atau pahit yang menjadikan ia butuh untuk mengekspresikan citra diri dan empati energi hidupnya ke dalam berbagai media, salah satunya puisi atau sajak.

Mengekspresikan moral dalam kata-kata kadangkala menjebak kita menjadi egois, mengetengahkan realitas reaktif menjadi terlampau indah-indah, tanpa memandang seimbang empati yang dialami lawan konflik atau pengalaman kita itu sendiri. Untuk mengeliminasi semangat yang terlampau reaktif, ada baiknya membaca karya yang telah teruji zaman dan mencari sejarahnya, seolah kita telah lahir juga hadir, dalam kejadian karya itu.

“ Kwatrin Tentang Sebuah Poci “, sebuah puisi atau sajak Goenawan Mohamad, yang sederhana unik tetapi mengandung empati yang padat, mari mengupasnya bersama agar gairah dan energinya juga terasa oleh kita. Untuk memahami makna suatu puisi maka perlu dilakukan dua macam pembacaan. Jenis pembacaan itu antara lain :

1. Heuristik

Pada ( sebuah ) keramik ( yang ) tanpa nama itu
Kulihat kembali ( bayangan ) wajahmu ( kekasih )
Mataku ( ini ) belum (sangat ) tolol, ternyata
Untuk ( melihat ) sesuatu yang ( memang sudah ) tak ada
Apa ( lagi ) yang berharga pada ( sebuah ) tanah liat ini Selain ( cuma ) separuh ilusi ?
Sesuatu yang kelak ( pasti akan ) retak
Dan kita ( yang akan selalu ) membuatnya abadi



2. Hermenuetik

Judul “ Kwatrin Tentang Sebuah Poci “ memang sangat sesuai dari segi jumlah larik dalam satu bait, yaitu empat larik. Poci didalam puisi ini memberikan suatu kenangan yang sangat menyenangan sekaligus menyedihkan bagi si aku.

Dalam puisi ini digambarkan betapa merindunya si aku terhadap kekasihnya, sehingga si aku terus mengingat-ingat dan selalu mengenang segala sesuatu yang telah si aku jalani bersama kekasihnya.

Bermula dari sebuah poci keramik, tiba-tiba saja si aku teringat kembali akan wajah kekasihnya yang telah memberikan begitu banyak kenangan. Lalu lamunan itu harus berhenti, sebab si aku tersadar bahwa kekasih yang sangat dicintainya itu sudah tak ada lagi disampingnya.

Kemudian kesedihan, keperihan, dan kekecewaan melanda diri si aku, sehingga menimbulkan suatu pertanyaan yang pesimistis.

“ Apakah yang lagi berharga pada sebuah tanah liat ini / selain separuh ilusi “, sehingga si aku benar-benar menyadari bahwa yang telah ia lamunkan tadi dan bayangan wajah kekasihnya itu hanya sekedar ilusi.

Sebuah poci, yang menyebabkan sebuah ilusi, yang suatu saat pasti akan retak berpuing-puing sehingga hilanglah semua kenangan indah si aku bersama kekasihnya. Dan si aku dan kekasihnya ( demikian pula kita ) akan selalu berusaha untuk membikin kenangan itu selalu ada dan berarti, bahwa hal itu benar-benar pernah si aku alami bersama kekasihnya, serta selalu membuat kenangan-kenangan itu abadi didalam dan diri si aku serta kekasihnya.

Sajak “ Kwatrin Tentang Sebuah Poci “ terdiri atas dua bagian, yaitu: Bagian I adalah larik ke-1 dan ke-4 dan bagian II adalah larik ke-5 dan ke-8. Pada bagian I mempunyai sajak akhir a-a-b-b, sekilas memang seperti struktur pantun akan tetapi persajakan yang terdapat didalam puisi ini terjadi karena si penyair tepat memilih kata-kata yang membangun ekspresi dari isi puisi. Misalnya apda larik ke-3 “Mataku belum tolol, ternyata”. Disini nampak sekali bahwa sangat tepat si penyair untuk membuat pola inversi dengan ditempatkannya kata ternyata pada akhir kalimat dan bukan pada awal kalimat untuk terciptanya efek ekspresivitas, juga terciptanya aliterasi t-t yang menimbulkan nada dan sajak akhir yang terdengar sangat merdu.

Pada bait 1 larik ke-1 terdapat asonansi a-a untuk menunjukkan bahwa yang dialami si aku itu sangat berat dan sungguh menyiksa perasaannya (bila mengingat kenangan-kenangan).Pada larik ke 2 dan ke 3 juga terdapat aliterasi k-k; l-l; t-t yang menambah intensitas ekspresi dan kepadatan isi puisi itu. “Kulihat kembali wajahmu”; “Mataku belum tolol, ternyata”.Bahkan penempatan kata ternyata dibelakang kalimat (padahal dalam kalimat biasa diletakkan di depan) mampu menciptakan suatu nada kepedihan.

Pada bagian II terdapat sajak akhir a-a-b-b, mungkin ini memang menyimpang dari konvensi-konvensi puisi lama itu digunakan untuk menunjang ekspresivitas si penyair (bila tak emnunjang tidak akan dipakai), sehingga penyair tidak terlalu memaksa agar bersajak akhir a-a-a-a-a (sebab dianggap kurang mampu mempertinggi intensitas isi puisi)

…………tanah liat ini /…….separuh ilusi?/……..kelak retak/………membikinnya abadi??

Kata “kelak retak’ tidak dipaksakan menjadi “kelak terberai” untuk menyamakan persajakan akhir. Hal ini disebabkan kata “kelak retak” mempunyai asonansi e-e; a-a; dan aliterasi k-k yang lebih padat dan ekspresif untuk menyatakan seuatu yang ditakutkan terjadi dari kata “kelak terberai” yang terasa sangat cair dan lembek. Pada larik ke-4 terdapat sesuatu yang emnarik yaitu: “dan kita membikinnya abadi”, penggunaan kata “kita” ini menjadi semacam kontradiktif dengan apa yang telah ditulis pada larik ke-1 dan ke-2 “Apa yang berharga pada tanah liat ini/ selain separuh ilusi ?”. Kata “kita” semacam menjadi suatu pembesaran hati (apologi) dari kata “selain separuh ilusi”, padahal kekasih si aku (mungkin) telah melupakan ilusi-ilusi tersebut sehingga ilusi tersebut tinggal separuh, yaitu milik si aku yang berusaha agar ilusi-ilusi tersebut tetap abadi.

Dalam sajak ini digunakan secara bersama-sama sarana-sarana kepuitisan untuk mendapatkan efek-efek puitis sebanyak-banyaknya (Altenbernd, 1970: 4-5), antara lain corak kosakata, citraan, sarana-sarana retorika, dan keselarasan bunyi yang dikombinasi sedemikian rupa sehingga mampu menciptakan kepadatan dan koherensi puisi “Kwatrin Tentang Sebuah Poci”.

Citraan penglihatan terlihat pada: kulihat kembali wajahmu bunyi vokal a menandakan suatu kepedihan yang sangat berat dan perih. Citraan gerak terkandung pada : sesuatu yang kelak retak. Aliterasi k-k dan asonansi a-a dapat memberi kesan gerak poci yang retak. Dalam sajak ini juga terdapat sinekdok yang berupa sinekdok pars pro toto: kulihat kembali wajahmu / mataku belum tolol, ternyata. Dimana wajahmu itu menyatakan bahwa si aku teringat lagi pada kekasihnya secara fisik maupun rohaniah, sedangkan mataku itu mewakili diri si aku secara keseluruhan bahwa si aku ternyata tidak tolol.

Dari segi kosakata puisi ini memang menggunakan kosakata yang biasa dan akrab dengan keseharian kita namun karena dikombinasi dengan beberapa sarana kepuitisan, maka tampillah puisi ini menjadi sesuatu yang sangat romantis-tragis-dan memilukan. Dalam puisi ini tidak perlu kata: sutra, selendang, mutiara dan kata-kata romantis yang lain tapi munculnya kata: “keramik tanpa nama, wajahmu, tanah liat, kelak retak”cukup mampu menciptakan suasana yang romantis-tragis. Metafora nampak pada: apa yang berharga pada tanah liat ini/ selain separuh ilusi: Yaitu berupa metafora implicit dimana tanah liat ini diumpakan sebagai suatu kenangan yang indah antara si aku dan kekasihnya.

Dari segi arti, bila dipandnag dari sudut tertentu kekasih si aku ini sangat dirindukan bagi kehadiran pada : “Pada keramik tanpa nama itu/ kulihat kembali wajahmua “kemudian lagi dan aliterasi s-s semakin meng-intens-kan kesan pesimis tersebut.

Berdasarkan statistik jumlah bunyi merdu (efoni) baikitu bunyi vokal, konsonan bersuara, liquida, sengau (yaitu a, 1, u, e, o : b, d, g: r, l : m,n,ng,ny) jumlahnya berimbang dengan bunyi kakofoni (k, p, t, s) sehingga dapat ditangkap bahwa yang dialami si aku adalahs esuatu yang sebetulnya sangat menyenangkan (kenangan-kenangan bersama kekasihnya), semua terasa menyakitkan, perih dan pedih si aku mengingatnya.

Apakah Poci yang pecah akhir sebuah Cinta

Begitu sederhananya kosakata yang digunakan dalam puisi “Kwatrin tentang sebuah poci” ini sehingga hampir setiap pembacanya (yang awam sekalipun) akan langsung mengerti makna puisi tersebut, minimal dapat menggambarkan bahwa ada seseorang (si aku) entah duduk atau bersimpuh sedang memperhatikan sebuah poci keramik (yang telah memberikan banyak kenangan) dengan penuh kepedihan dan ia teringat akan kekasihnya.

Menurut A. Teew (kata permbaca “Asmaradana” 1992: 120) yang mendominasi tema puisi Gunawan Mohammad adalah rawan dan gentingnya eksistensi manusia dalam waktu. Gunawan Mohammad memang seorangpenyair yang selalu mempermasalahkan waktu yang berjalan dan bagaimana menjadikan hal itu abadi dan berarti. Dalam puisi ini juga tersangkut tiga waktu yaitu masa lalu (ketika si aku teringat pada “poci” yang penuh kenangan), masa kini (ketika si aku melihat poci keramik), dan masa depan (ketika si aku mengharapkan kenangan-kenangan itu abadi).

Dalam puisi “Kwatrin Tentang Sebuah Poci” ini tergambar jelas bahwa detik jam (waktu) pada saat si aku mengingat-ingat kekasihnya sangat lambat dan seakan-akan lambatnya waktu itu justru semakin membuat rasa sakit bagi si aku (karena waktu berjalan lambat, tidak cepat). Dengan kosakata sederhana tapi penuh dengan permainan asonansi dan aliterasi yang sanghat tepat serta adanya sedikit kontradiktif tetapi penempatannya sangat pas (sehingga menimbulkan efek kepuitisan yang luar biasa) dan hal-hal lain yang telah dianalisis diatas puisi “Kwatrin Tentang Sebuah Poci” ini memiliki kekuatan ekspresivitas dan kepadatan serta masing-masing unsurnya memiliki suatu koherensi (kesatuan) dan jalinan yang sangat rapi sehingga mampu menampilkan hal yang sederhana, tidak bombastis, dan mampu menampilkan nuansa yang romantis – tragis yang dialami si aku dengan kekasihnya.

Mencintai berarti beraktivitas aktif untuk memberi perhatian terhadap objek yang dicintai. Demikian pula mencintai puisi, berarti usaha memperhatikan segala hal tentang dunia puisi secara lebih intim. Bayangkan saja puisi itu sebagai manusia, maka untuk mencintainya kita perlu mengetahui; bagaimana karakternya, sifatnya, wujudnya atau semua hal yang berhubungan dengannya. Karena itu, maka dalam mencintai puisi tidak lagi cukup bila hanya memandangnya sebagai sekedar urutan atau teks saja. Demikian menurut Sulung Lukman, dalam sebuah makalah workshop puisi beberapa waktu lalu, di Fakultas Sastra Universitas Jember.

Selanjutnya mari senantiasa kita katakan bahwa esok pagi aku akan membaca dan berkarya untuk dunia yang hidup hingga dunia akan membaca dan berkarya untuk aku yang hidup. Mari masuk melipat kertas bermain getah, mari masuk melintasi napas berdzikir basah.

Catatan:
naskah ini diambil dari dokumen tugas kuliah Iqbal Kiki, dan telah disunting oleh Pam Gunawan, untuk kebutuhan menjadikan naskah ini bisa lebih berdialog, serta sebagai upaya menghilangkan kesan kekakuan akademis.

Oleh: Iqbal Agusta Riski (Alm),
Mantan mahasiswa FS-UGM Yogjakarta.
Mantan Ketua Teater Bambu 26 Jember
Pegiat Komunitas BAHANA SASTRA Jurs. Sastra Ind. UGM
Pendiri Kelompok Studi SMONGKO KaBESAR Jember

sumber: http://dapuribuknasiputih.multiply.com/journal/item/3/3

2 comments:

terima kasih apresiasinya, salam literasi dari Jember

terima kasih apresiasinya, salam literasi dari Jember

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook