Monday, November 30, 2009

Sarang Angin Sapardi Djoko Damono

Sarang Angin

Cerpen Sapardi Djoko Damono

Balam yang hinggap di sela-sela juntaian daun kelapa itu berpikir, Masuk akal juga keheranan tekukur itu. Ada-ada saja, angin kok mencari sarangnya. la kemudian terbang ke rumputan di kuburan tua dekat kebun kelapa itu, mencari makan. la suka membayangkan saudara-saudaranya yang berada dalam sangkar, mendapat jatah makan secara teratur, dimandikan hampir setiap hari, dan kadang-kadang diadu keindahan suaranya. Dan diperjual-belikan. Ia tidak pernah iri hati, dan juga tidak pernah merasa kecewa harus susah-payah mencari makan setiap hari. Tidak seperti saudara-saudaranya itu, ia bergaul bebas dengan balam-balam lain ada di antara mereka yang lebih suka menyebut dirinya tekukur, ada juga yang lebih suka disebut puter, entah karena apa.

Dan ia merasa berbahagia setiap kali bertemu angin, yang meskipun tidak pernah bisa dilihatnya tetapi jelas dirasakannya untuk tidak mengatakan dihayatinya. Dan jika kebetulan angin terbang lewat sarang sepasang balam, terasa sekali bahwa ada semacam rasa iri dalam diri angin terhadap pasangan itu. Lebih dari balam mana pun, angin pernah terbang ke semua penjuru dunia. la tidak boleh hinggap di mana pun. Kalau balam saja punya sarang, kenapa aku tidak? demikian selalu tanyanya, tidak kepada siapa pun. Tak pernah putus asa ia mencari sarangnya. Dan karenanya balam-balam itu, terutama yang sedang berada di sarang mengerami telur-telurnya, suka menyebarkan kabar burung bahwa angin semakin tidak bisa dipahami tingkah-lakunya.

Ia telah diciptakan tanpa sayap. Tanpa cakar. Bahkan tak pernah kelihatan ujudnya. Sudah lumayan dia tanpa sayap bisa terbang ke mana-mana. Harusnya berterima kasih untuk itu. Tetapi tetap saja ia menanyakan di mana sarangnya. Begitu balam-balam itu sering saling membicarakannya. Balam juga suka bertanya kepada pohon kelapa tentang hal itu, dan pohon yang daun-daunnya selalu berkibar karena digosok-gosok angin itu selalu menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak paham juga. la pun menggelengkan kepala setiap kali ditanya angin di mana sarangnya. Pikiran angin sebenarnya biasa saja, semuanya tertuang dalam bentuk kalimat tanya: Apa yang tidak punya sayap tidak berhak punya sarang? Apa yang tak punya cakar tidak boleh punya sarang? Apa yang tak tampak tidak boleh punya sarang?

Benar juga. Dan angin pun terus mencari sarangnya. Ia bertanya kepada debu di gurun pasir, kepada asap di hutan terbakar, kepada daun-daun kuning kecokelatan yang gugur, kepada dahan yang patah, kepada layar perahu di laut semuanya menggelengkan kepala dan malah ikut bertanya dalam hati, Ya, untuk apa angin mencari sarang? Mereka semua mengenal angin dengan baik, mereka ada karena angin, mereka ingin berterima kasih kepada angin, tetapi sayang tidak sampai hati menyampaikan kenyataan bahwa sia-sia saja baginya mencari sarang.

Dan angin pun akhirnya menyadari bahwa hanya laut yang belum pernah ditanyainya. Kalau di darat tidak ada, tentunya sarangnya berada di laut. Nun di dalam sana. Tapi laut lebih suka diam, kecuali kalau ditanya terus-menerus oleh angin mengenai hal itu. Sarangku pasti disembunyikan di dasar laut sana, pikir angin. la sama sekali tidak suka jawaban laut yang baginya terdengar tidak jujur. la pun menghajarnya, mengaduknya, meniupnya kencang-kencang—pergulatan itu luar biasa dahsyatnya. Laut bergolak, perahu terlempar, dan angin terus berputar sepanjang pantai. Di mana sarangku? Ayo, katakan!

Di pedalaman, di sebuah pohon, balam yang sedang menyaksikan anak-anaknya keluar dari telur-telurnya itu tidak pernah mendengar mengenai hal tersebut. Kalaupun ada yang nanti memberi tahu, ia tidak akan percaya. Angin akan dengan lembut dan penuh kasih sayang mengelus bulu-bulu anak-anakku ini kalau sudah besar nanti. Seandainya angin punya sayap, bulu-bulunya pasti tak terkatakan indahnya, tak ada burung yang bisa menandinginya. ***

Download cerpen ini KLIK di sini

Saturday, November 28, 2009

Cinta Dalam Sepotong Kangkung

Cinta Dalam Sepotong Kangkung

Cerpen Amril Taufiq Gobel

Malam tanpa bintang. Jangkrik berderik-derik, saling bercengkerama. Angin mati dan pepohonan tegak kaku. Saya menatap dalam-dalam tumis kangkung yang tak habis saya lahap. Potongan-potongan kangkung yang ornamental, tercelup dalam kolam kuah yang eksotik berwarna hijau segar, memberi nuansa tersendiri dalam alam pikiran saya. Kangkung itu punya wibawa magis yang membuat saya seakan terlontar pada pengalaman-pengalaman masa silam. Saya membantu upaya 'pengumpulan' ingatan itu, dengan melirik istri saya, Mira, yang penuh cinta meneteki anak kami, Fatimah. Ia duduk membelakangi saya dan menikmati fitrah keibuannya, secara bersahaja. Dari mulutnya mengalun lagu ninabobo, merdu melenakan. Dengkur halus Fatimah terdengar syahdu. Saya tersenyum sembari melangkah pelan ke arah jendela. Mira tetap cantik, seperti dulu, saya membatin. Saya merasa beruntung memiliki istri seperti dia: anggun dan mempesona. Saya kemudian menyulut rokok dan menghirupnya penuh perasaan. Rimbun asapnya mengepul-ngepul. Maka kenangan pun berlari ke belakang, pada suatu sore tiga tahun yang silam.

***
Waktu itu saya masih ingat betul, Bang Heri, redaktur hiburan tabloid 'Gossip Kita' tempat saya bekerja, memanggil.

"Firman!" serunya dari pojok kanan ruang redaksi.

Saya menghentikan ketikan berita dan menyahut. "Ada apa, Bang?" tanya saya lalu berdiri, dan berjalan ke arahnya.

"Saya punya tugas untuk kamu," ujar Bang Heri seraya mengangsurkan setumpuk berkas kepada saya. Saya meraihnya, lalu menatap Bang Heri.

"Dokumen tadi adalah data pendukung tugas wawancara kamu dengan Mira Saraswati, bintang film 'Cintailah Aku Seutuhnya' yang diperkirakan oleh banyak kalangan bakal meraih piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik tahun ini. Kamu wawancarai dia, dan korek informasi serta tanggapannya tentang nominasi yang diperolehnya termasuk latar belakang keluarganya. Selengkap-lengkapnya. Lekas berangkat dan ingat, lusa sore laporan hasil wawancaramu sudah harus diterima. Jangan sampai terlambat!" tegas Bang Heri.

Saya hanya mengangguk mengiyakan. Bang Heri berlalu tanpa memberi kesempatan saya untuk bertanya lebih jauh. Apa boleh buat, sebagai wartawan muda, saya harus selalu siap mengerjakan tugas-tugas di lapangan.

Tidak berapa lama, saya telah meluncur ke rumah Mira dengan mengendarai motor butut pinjaman Joko, pegawai bagian iklan. Sepanjang jalan, wajah Mira Saraswati terbayang-bayang. Wajah itu memang cukup populer, sebab selain bintang iklan tivi dan artis, salah satu posenya menghiasi kalender yang menggantung di kamar kos saya. Ia memang begitu cantik dan menawan. Kariernya di usia yang masih cukup belia ini memang melonjak drastis. Dalam waktu singkat, ia telah meraih popularitas yang mencengangkan, sesaat setelah membintangi film Box Office-nya 'Cinta dan Dusta'. Walau terus terang, saya kurang begitu tertarik terhadap film-film buatan negeri sendiri lantaran mutu akting pemainnya yang jelek dan logika berceritanya cenderung mengada-ada, saya cukup salut pada cara Mira melakoni karakter yang diperaninya. Wajar dan begitu alami. Sewaktu menonton film pertama Mira tersebut, saya sudah menduga ia bakal menjadi bintang film terkenal. Dan tampaknya, dugaan saya itu tak terlalu melenceng jauh. Terbukti, ia masuk nominasi piala Citra, setara dengan bintang-bintang film lainnya yang lebih dulu tampil di dunia layar perak

***
Tanpa terasa, saya telah tiba di tempat tujuan. Saya mencocokkan alamat rumah Mira dengan data alamat rumah yang diberikan Bang Heri. Ternyata pas. Saya lantas memencet bel yang menempel pada pilar pagar tembok. Tak berapa lama, muncul seorang lelaki muda tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Tampaknya seorang pembantu rumah atau mungkin tukang kebun. Pakaian yang dikenakannya cukup memberi kesan.

"Selamat sore. Apa betul ini rumah Mira Saraswati?" Saya bertanya.

"Benar, apa Mas mau ketemu dengan Mbak Mira?" jawab lelaki itu dari balik jeruji pagar.
"Ya, saya wartawan dari tabloid 'Gossip Kita'. Tolong sampaikan pada Mbak Mira, saya mau wawancara. Kemarin kami sudah janji," kata saya mengungkapkan maksud kedatangan. Lelaki itu manggut-manggut seraya membuka pintu lalu mempersilakan saya masuk.

Rumah Mira betul-betul mentereng. Megah dan mewah. Taman bunga yang asri terawat rapi, tampak segar dan menyejukkan. Rumah itu bertingkat dua dan bercat putih. Saya diminta duduk di serambi sementara lelaki muda tadi masuk memanggil Mira. Sekitar sepuluh menit kemudian, sosok Mira Saraswati muncul di depan saya. Ia memakai kaus oblong putih bertuliskan 'Public Enemy' dan jeans biru. Rambutnya yang sebahu terlihat basah, kelihatannya habis keramas. Saya terpukau sejenak. Mira memang sangat menawan. Belahan dagu dan dekik pipinya menambah manis penampilannya. Saya tiba-tiba merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Anda wartawan?" tanya Mira mengejutkan keterpesonaan saya. Saya gugup dan menelan ludah. Saya lalu berdiri dan mengulurkan tangan.

"Benar. Kenalkan, saya Firman, wartawan tabloid 'Gossip Kita'." Saya memperkenalkan diri. Mira menyambut uluran tangan saya dengan hangat dan mempersilakan saya duduk kembali. Saya kemudian mengutarakan maksud kedatangan saya sekaligus memohon maaf atas kelancangan saya atas kebohongan: 'Sudah janjian kemarin'.

Mira tersenyum. "Tak apa-apa, itu sudah lagu lama wartawan, saya sudah hapal itu. Nah, apa yang Anda mau tanyakan?" tanyanya seraya memperbaiki letak duduknya. Saya lantas mempersiapkan daftar pertanyaan yang telah diberikan Bang Heri pada saya.

"Anda rupanya bukan wartawan profesional," Mira mencibir.

"Kenapa?" Saya penasaran.

"Itu, Anda bawa daftar pertanyaan segala. Wartawan profesional tidak memerlukan itu bukan?" kata Mira mengajukan alasan. Ia tersenyum-senyum penuh kemenangan. Saya agak tersipu tapi kali ini sedikit tersinggung.

"Saya memang masih amatir, Nona Mira, tapi bukan berarti saya tidak dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang profesional, daftar pertanyaan ini sekedar menjadi panduan saya agar arah wawancara kita lebih jelas," kata saya membela diri dengan nada tajam.

Mira tertawa kecil. Saya merutuk dalam hati.

"Oke, saya minta maaf kalau Anda kurang berkenan. Saya tak punya maksud apa-apa di balik pernyataan saya tadi. Sekedar bergurau, kok. Saya cuma ingin berusaha membuat suasana lebih santai. Anda kelihatannya sangat tegang dan gugup Oh, ya, kita ber-'saya-kamu' sajalah. Panggil saja saya Mira," kata Mira enteng. Tanpa beban.

Saya menghela napas panjang. Kejengkelan masih tersisa. Belum apa-apa ia sudah meremehkan saya. Tapi dalam hati, saya mengakui kecerdikannya menguasai keadaan.

Saya kemudian tidak memperdulikan 'insiden' tadi, pertanyaan-pertanyaan saya pun mengalir lancar. Yang mengagumkan, Mira mampu menjawabnya dengan baik dan sistematis. Omongannya padat dan bernas. Hal ini menunjukkan bahwa selain cantik Mira memiliki otak yang cukup encer.

Menjelang akhir wawancara, Mira melontarkan pujian.

"Ternyata, pertanyaan-pertanyaan kamu cukup profesional juga. Bahkan lain dengan pertanyaan-pertanyaan wartawan yang sudah mewawancarai saya sebelumnya. Kamu lebih jeli melihat sosok Mira sebagai pribadi bukan sosok Mira sebagai artis film. Saya suka itu," katanya tulus.

"Kamu juga, Mira. Jawaban-jawaban yang kamu berikan menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Begitu cerdas dan jujur," balas saya memujinya. Kali ini Mira yang tersipu. Pipinya memerah. Lagi-lagi saya dibuat terpukau.

"Kapan-kapan kita jumpa kembali. Hasil wawancara ini akan saya berikan pada Mira. Terima kasih atas kesediaannya. Permisi." Saya beranjak pamit.

Mira tersenyum manis. Ia kemudian mengantar saya sampai ke pintu gerbang depan rumahnya. Kami berjabat tangan. Sorot mata kami bicara. Di ufuk barat langit merah jingga. Perlahan berubah menjadi merah jambu.

***
Kalau kemudian saya dan Mira jadi sering bertemu. Semata-mata karena kenekatan saya. Saya betul-betul terjerat oleh panah asmara Mira. Sudah menjadi watak saya untuk meraih apa yang saya inginkan. Sengotot mungkin. Setelah mengantarkan hasil wawancaranya yang dimuat di tabloid 'Gossip Kita' dan Mira menyatakan kepuasannya, saya merasa dapat peluang emas. Dan tanpa ampun, kunjungan demi kunjungan pun saya lakukan. Saya tak mempedulikan lagi status sosial kami yang berbeda: ia artis, kaya dan public figuresementara saya hanya wartawan miskin yang kamar kost saja sering nunggak. Mira pun menampilkan sikap tidak keberatan bahkan sangat senang. Saya berusaha tampil apa adanya dan Mira menerima semua itu dengan penuh pengertian. Tanpa sungkan-sungkan, Mira memilih duduk dibonceng nonton ke bioskop atau makan di warung pinggir jalan diatas motor butut pinjaman dari Joko atau Mas Yono tetangga saya, ketimbang membawa mobil BMW pribadinya. Sebuah sikap bersahaja yang membuat saya makin kagum pada sosok Mira.

Sebagaimana biasa bila artis agak bertingkah maka tak ayal lagi ia dijadikan bulan-bulanan gossip. Hal ini juga menimpa diri Mira. Dalam beberapa kejap sejumlah 'koran kuning' mulai memuat berita hubungan kami secara vulgar dan blak-blakan. Mira tak ambil pusing, saya pun demikian. Meski belakangan ini beberapa orang rekan wartawan memandang iri pada keberuntungan yang saya peroleh. Untuk sementara saya dan Mira tak memperhitungkan masalah apapun. Semua lancar dan beres. Bahkan Bang Heri dan Pak Sofyan, pemimpin redaksi 'Gossip Kita', memberikan dukungan penuh pada gebrakan monumental saya ini.

"Maju terus, Fir. Kapan lagi kita-kita ini punya ipar artis. Siapa tahu malah oplah tabloid kita naik," demikian kata Pak Sofyan memberi semangat. Saya hanya menyambut gurauan tadi dengan senyum penuh arti.

Sampai malam itu.

Saya baru saja melangkah masuk ke rumah Mira, ketika percakapan itu terdengar.

"Wartawan itu profesi tanpa masa depan. Apa yang kamu harap dari dia?" Terdengar suara geledek Pak Sasmita membahana. Saya terpaku di tempat saya berdiri. Bulu kuduk saya meremang. Saya diselimuti perasaan kurang enak.

"Firman baik, Pak. Mandiri dan siap bertanggung jawab. Dia punya keteguhan pribadi dan kematangan sikap yang sangat saya kagumi, Pak. Firman bukan lelaki yang bisa dianggap rendah," bela Mira sengit. Di luar, saya tersenyum getir. Mira sangat membanggakan saya.
"Persetan! Pokoknya, Bapak tak mau lihat kamu bergaul lagi dengan dia, si wartawan kere itu. Titik!" tegas Ayah Mira. Terdengar langkah-langkah kakinya meninggalkan Mira yang isak tangisnya mulai terdengar

Saya menghela nafas panjang. Ini sebuah resiko, dan saya sudah memperhitungkan

kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Saya telah siap menghadapinya seperih dan sepahit apapun. Namun meskipun begitu, saya cukup terpukul atas kejadian tadi. Saya memutuskan untuk pulang, agar persoalan tersebut tidak menjadi makin runyam. Sepanjang perjalanan, saya terus memikirkan kelanjutan hubungan saya dengan Mira. Akhir yang tragis , saya membatin. Nelangsa.

***
Sejak prahara tersebut muncul, saya tak pernah lagi berusaha menemui Mira Untuk kasus ini, saya mesti melakukan langkah-langkah yang lebih realistis. Saya tahu posisi saya dan kesulitan Mira.

Hingga suatu ketika, saat saya tengah asyik melahap tumis kangkung di kamar kost, Mira datang. Matanya menyala.

"Kenapa bang Firman tidak pernah datang menemui saya?" semprotnya langsung. Saya meletakkan sendok di mangkuk, lalu berdiri dan menatap ke arahnya.

"Ayahmu, Mira. Saya dengar semua percakapan kamu dengan ayahmu mengenai saya. Saya tak ingin hanya karena saya dekat dengan kamu, hubungan keluarga kalian retak. Saya tahu

bagaimana saya harus menempatkan diri. Saya bukan apa-apa, Mira. Hanya wartawan miskin. Tak lebih. Saya sadar, terdapat banyak perbedaan antara kita yang tidak dapat dipertemukan." Saya berusaha menjelaskan dengan tenang.

Mata Mira terlihat mulai memerah. Ia menangis. Saya tak tahan menyaksikannya. Saya lantas mengalihkan perhatian pada langit-langit kamar. Ada cicak bercengkerama di sana.

"Bang Firman terlalu picik memandang masalah ini. Saya tahu, apa yang harus saya lakukan. Saya tahu apa yang terbaik untuk saya. Saya....." Mira tak menyelesaikan ucapannya. Tangisnya meledak. Saya menggigit bibir.

"Mira, dengar. Apa yang saya lakukan semata-mata demi kepentinganmu, kebaikanmu dan karir cemerlangmu di masa datang. Hubungan kita selama ini, boleh jadi, menyebabkan kamu tak leluasa mengembangkan apa yang telah kamu raih selama ini. Kamu artis penuh harapan Mira." Saya raih dan meremas tangannya. Saya merasa tenggorokan saya tercekat. Ada keharuan yang membuncah.

Mira menengadah. Matanya yang sembab tajam menghunjam. Saya balas memandangnya. Dengan lembut, saya lalu menyeka butir-butir airmata yang mengalir di pipinya. Dalam diam mengalir sesuatu yang tak dapat dijelaskan. Ia melepas genggaman tangan saya dan berjalan ke arah meja.

"Saya lapar. Masih punya tumis kangkung?" tanya Mira memecah keinginan. Suaranya terdengar putus asa. Saya lalu menyiapkan segala sesuatunya di meja. Mira memang biasa makan di tempat saya. Ia sangat menyukai tumis kangkung buatan saya.

"Lezat dan eksotik," katanya suatu ketika. Saat itu saya cuma meringis, sebab terus terang hanya menu itu yang dapat saya buat selain menanak nasi dan telur goreng.

Saya menyaksikan Mira dengan lahap menghabiskan hidangan saya yang sangat sederhana. Nasi plus tumis kangkung. Ia terlihat sangat menderita. Wajahnya yang cantik seperti dibaluri kabut. Pekat dan suram. Saya trenyuh.

Mira mengakhiri prosesi makannya dengan meneguk segelas air putih. Saat saya beranjak untuk membenahi. Ia menyentuh lengan saya.

"Sudah, biar saya, Bang," katanya. Saya mengangguk. Dengan keanggunan yang sangat alami, ia membenahi meja. Saya terpukau menyaksikannya.

"Tumis kangkung buatanmu tadi betul-betul enak, Bang Firman," puji Mira tulus yang berdiri membelakangi saya. Ada nada getir dalam kata-katanya.

"Itu cuma soal kebiasaan dan kemampuan meramu bumbu," jawab saya enteng seraya menyalakan rokok.

Mira tiba-tiba berbalik dan menatap saya lekat-lekat. Saya terkejut.

"Jadi Bang Firman masih mempersoalkan perbedaan-perbedaan, sementara tumis kangkung yang seenak ini dibuat hanya dengan kebiasaan dan keandalan meramu? Perbedaan-perbedaan dapat dipertemukan dengan membiasakan dan meracik keberagaman," tutur Mira jernih.

Saya mengerutkan kening.

"Banyak hal yang perlu kita mengerti sebelum kita menyatakan untuk berbuat. Bang Firman perlu banyak belajar dari tumis kangkung itu," lanjut Mira sembari tersenyum. Ia lalu berbalik dan melanjutkan pekerjaannya, mencuci piring.

Saya tercenung. Mira benar dan itu membuat saya merasa makin tak ingin kehilangan dia. Sikap saya keliru selama ini. Saya mematikan rokok yang belum sempat saya isap di asbak, lalu berjalan kearahnya.

"Mira," panggil saya lirih.

Ia menoleh memandang saya. Parasnya yang jelita seperti bercahaya.

"Saya cinta kamu Mira Saraswati!"

"Saya juga cinta kamu Firman Agus," sahut Mira malu-malu. Ia menunduk.

Saya lalu memegang bahunya. Mengalirkan keyakinan.

"Kamu mau bersamaku membangun kebiasaan dan meracik keberagaman?"

Mira mengangguk kencang-kencang.

"Kamu mau membuat tumis kangkung bersamaku, meramunya secara dashyat dan menikmatinya sepanjang hidup?"

Lagi-lagi Mira mengangguk kencang-kencang.

Kami lalu tertawa bersama.

Di luar, angin bersorak dn pohon akasia bertempik kegirangan.

***
Saya membuyarkan lamunan. Kini, saya dan Mira telah bersama-sama selama tiga tahun 'membangun kebiasaan dan meracik keberagaman' itu, tanpa ada perbedaan-perbedaan. Saya pun telah meninggalkan profesi sebagai wartawan, dan Mira telah menjadi istri yang setia mendampingi saya sebagai pemilik restoran 'Tumis Kangkung' paling terkemuka dan paling dashyat di negeri ini.***

Download cerpen ini KLIK di sini

Thursday, November 26, 2009

Guru Putu Wijaya

Guru
Cerpen Putu Wijaya

Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong.

"Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu? Betul?!"
Taksu mengangguk.

"Betul Pak."
Kami kaget.

"Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?"
"Ya."

Saya dan istri saya pandang-pandangan. Itu malapetaka. Kami sama sekali tidak percaya apa yang kami dengar. Apalagi ketika kami tatap tajam-tajam, mata Taksu nampak tenang tak bersalah. Ia pasti sama sekali tidak menyadari apa yang barusan diucapkannya. Jelas ia tidak mengetahui permasalahannya.

Kami bertambah khawatir, karena Taksu tidak takut bahwa kami tidak setuju. Istri saya menarik nafas dalam-dalam karena kecewa, lalu begitu saja pergi. Saya mulai bicara blak-blakan.

"Taksu, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita. Itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota. Dan ini era milenium ketiga yang diwarnai oleh globalisasi, alias persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja. Ngerti? Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?!"

"Tapi saya mau jadi guru."
"Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti apa? Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar. Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Rumahnya saja rata-rata kontrakan dalam gang kumuh. Di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar tapi dari tani. Karena profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan saja kurang. Cita-cita itu harus tinggi, Taksu. Masak jadi guru? Itu cita-cita sepele banget, itu namanya menghina orang tua. Masak kamu tidak tahu? Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!"

"Sudah saya pikir masak-masak."
Saya terkejut.

"Pikirkan sekali lagi! Bapak kasi waktu satu bulan!"
Taksu menggeleng.
"Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru."

"Tidak! Kamu pikir saja dulu satu bulan lagi!"
Kami tinggalkan Taksu dengan hati panas. Istri saya ngomel sepanjang perjalanan. Yang dijadikan bulan-bulanan, saya. Menurut dia, sayalah yang sudah salah didik, sehingga Taksu jadi cupet pikirannya.

"Kau yang terlalu memanjakan dia, makanya dia seenak perutnya saja sekarang. Masak mau jadi guru. Itu kan bunuh diri!"
Saya diam saja. Istri saya memang aneh. Apa saja yang tidak disukainya, semua dianggapnya hasil perbuatan saya. Nasib suami memang rata-rata begitu. Di luar bisa galak melebihi macan, berhadapan dengan istri, hancur.

Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan kemudian, kami berdua datang lagi mengunjungi Taksu di tempat kosnya. Sekali ini kami tidak muncul dengan tangan kosong. Istri saya membawa krupuk kulit ikan kegemaran Taksu. Saya sendiri membawa sebuah lap top baru yang paling canggih, sebagai kejutan.

Taksu senang sekali. Tapi kami sendiri kembali sangat terpukul. Ketika kami tanyakan bagaimana hasil perenungannya selama dua bulan, Taksu memberi jawaban yang sama.

"Saya sudah bilang saya ingin jadi guru, kok ditanya lagi, Pak," katanya sama sekali tanpa rasa berdosa.
Sekarang saya naik darah. Istri saya jangan dikata lagi. Langsung kencang mukanya. Ia tak bisa lagi mengekang marahnya. Taksu disemprotnya habis.

"Taksu! Kamu mau jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh puji-pujian orang-orang pada guru itu ya?!" damprat istri saya. "Mentang-mentang mereka bilang, guru pahlawan, guru itu berbakti kepada nusa dan bangsa. Ahh! Itu bohong semua! Itu bahasa pemerintah! Apa kamu pikir betul guru itu yang sudah menyebabkan orang jadi pinter? Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru-guru yang brengsek dan bejat sekarang? Ah?"

Taksu tidak menjawab.
"Negara sengaja memuji-muji guru setinggi langit tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang setimpal, karena mereka yakin, banyak orang seperti kamu, sudah puas karena dipuji. Mereka tahu kelemahan orang-orang seperti kamu, Taksu. Dipuji sedikit saja sudah mau banting tulang, kerja rodi tidak peduli tidak dibayar. Kamu tertipu Taksu! Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang yang lemah hati seperti kamu, masih tetap mau jadi guru. Padahal anak-anak pejabat itu sendiri berlomba-lomba dikirim keluar negeri biar sekolah setinggi langit, supaya nanti bisa mewarisi jabatan bapaknya! Masak begitu saja kamu tidak nyahok?"

Taksu tetap tidak menjawab.
"Kamu kan bukan jenis orang yang suka dipuji kan? Kamu sendiri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang konkret. Yang konkret itu adalah duit, Taksu. Jangan kamu takut dituduh materialistis. Siapa bilang meterialistik itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena tidak mampu cari duit mereka lalu memaki-maki duit. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpa duit? Yang bener saja. Kita hidup perlu materi. Guru itu pekerjaan yang anti pada materi, buat apa kamu menghabiskan hidup kamu untuk sesuatu yang tidak berguna? Paham?"

Taksu mengangguk.
"Paham. Tapi apa salahnya jadi guru?"
Istri saya melotot tak percaya apa yang didengarnya. Akhirnya dia menyembur.

"Lap top-nya bawa pulang saja dulu, Pak. Biar Taksu mikir lagi! Kasih dia waktu tiga bulan, supaya bisa lebih mendalam dalam memutuskan sesuatu. Ingat, ini soal hidup matimu sendiri, Taksu!"

Sebenarnya saya mau ikut bicara, tapi istri saya menarik saya pergi. Saya tidak mungkin membantah. Di jalan istri saya berbisik.

"Sudah waktunya membuat shock therapy pada Taksu, sebelum ia kejeblos terlalu dalam. Ia memang memerlukan perhatian. Karena itu dia berusaha melakukan sesuatu yang menyebabkan kita terpaksa memperhatikannya. Dasar anak zaman sekarang, akal bulus! Yang dia kepingin bukan lap top tapi mobil! Bapak harus kerja keras beliin dia mobil, supaya mau mengikuti apa nasehat kita!"

Saya tidak setuju, saya punya pendapat lain. Tapi apa artinya bantahan seorang suami. Kalau adik istri saya atau kakaknya, atau bapak-ibunya yang membantah, mungkin akan diturutinya. Tapi kalau dari saya, jangan harap. Apa saja yang saya usulkan mesti dicurigainya ada pamrih kepentingan keluarga saya. Istri memang selalu mengukur suami, dari perasaannya sendiri.

Tiga bulan kami tidak mengunjungi Taksu. Tapi Taksu juga tidak menghubungi kami. Saya jadi cemas. Ternyata anak memang tidak merindukan orang tua, orang tua yang selalu minta diperhatikan anak.

Akhirnya, tanpa diketahui oleh istri saya, saya datang lagi. Sekali ini saya datang dengan kunci mobil. Saya tarik deposito saya di bank dan mengambil kredit sebuah mobil. Mungkin Taksu ingin punya mobil mewah, tapi saya hanya kuat beli murah. Tapi sejelek-jeleknya kan mobil, dengan bonus janji, kalau memang dia mau mengubah cita-citanya, jangankan mobil mewah, segalanya akan saya serahkan, nanti.

"Bagaimana Taksu," kata saya sambil menunjukkan kunci mobil itu. "Ini hadiah untuk kamu. Tetapi kamu juga harus memberi hadiah buat Bapak."

Taksu melihat kunci itu dengan dingin.
"Hadiah apa, Pak?"

Saya tersenyum.
"Tiga bulan Bapak rasa sudah cukup lama buat kamu untuk memutuskan. Jadi, singkat kata saja, mau jadi apa kamu sebenarnya?"

Taksu memandang saya.
"Jadi guru. Kan sudah saya bilang berkali-kali?"

Kunci mobil yang sudah ada di tangannya saya rebut kembali.
"Mobil ini tidak pantas dipakai seorang guru. Kunci ini boleh kamu ambil sekarang juga, kalau kamu berjanji bahwa kamu tidak akan mau jadi guru, sebab itu memalukan orang tua kamu. Kamu ini investasi untuk masa depan kami, Taksu, mengerti? Kamu kami sekolahkan supaya kamu meraih gelar, punya jabatan, dihormati orang, supaya kami juga ikut terhormat. Supaya kamu berguna kepada bangsa dan punya duit untuk merawat kami orang tuamu kalau kami sudah jompo nanti. Bercita-citalah yang bener. Mbok mau jadi presiden begitu! Masak guru! Gila! Kalau kamu jadi guru, paling banter setelah menikah kamu akan kembali menempel di rumah orang tuamu dan menyusu sehingga semua warisan habis ludes. Itu namanya kerdil pikiran. Tidak! Aku tidak mau anakku terpuruk seperti itu!"

Lalu saya letakkan kembali kunci itu di depan hidungnya. Taksu berpikir. Kemudian saya bersorak gegap gembira di dalam hati, karena ia memungut kunci itu lagi.

"Terima kasih, Pak. Bapak sudah memperhatikan saya. Dengan sesungguh-sungguhnya, saya hormat atas perhatian Bapak."
Sembari berkata itu, Taksu menarik tangan saya, lalu di atas telapak tangan saya ditaruhnya kembali kunci mobil itu.

"Saya ingin jadi guru. Maaf."
Kalau tidak menahan diri, pasti waktu itu juga Taksu saya tampar. Kebandelannya itu amat menjengkelkan. Pesawat penerimanya sudah rusak. Untunglah iman saya cukup baik. Saya tekan perasaan saya. Kunci kontak itu saya genggam dan masukkan ke kantung celana.

"Baik. Kalau memang begitu, uang sekolah dan uang makan kamu mulai bulan depan kami stop. Kamu hidup saja sendirian. Supaya kamu bisa merasakan sendiri langsung bagaimana penderitaan hidup ini. Tidak semudah yang kamu baca dalam teori dan slogan. Mudah-mudahan penderitaan itu akan membimbing kamu ke jalan yang benar. Tiga bulan lagi Bapak akan datang. Waktu itu pikiranmu sudah pasti akan berubah! Bangkit memang baru terjadi sesudah sempat hancur! Tapi tak apa."

Tanpa banyak basa-basi lagi, saya pergi. Saya benar-benar naik pitam. Saya kira Taksu pasti sudah dicocok hidungnya oleh seseorang. Tidak ada orang yang bisa melakukan itu, kecuali Mina, pacarnya. Anak guru itulah yang saya anggap sudah kurang ajar menjerumuskan anak saya supaya terkiblat pikirannya untuk menjadi guru. Sialan!

Tepat tiga bulan kemudian saya datang lagi. Sekali ini saya membawa kunci mobil mewah. Tapi terlebih dulu saya mengajukan pertanyaan yang sama.
"Coba jawab untuk yang terakhir kalinya, mau jadi apa kamu sebenarnya?"

"Mau jadi guru."
Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke atas meja. Gelas di atas meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.

"Tetapi kenapa? Kenapa? Apa informasi kami tidak cukup buat membuka mata dan pikiran kamu yang sudah dicekoki oleh perempuan anak guru kere itu? Kenapa kamu mau jadi guru, Taksu?!!!"

"Karena saya ingin jadi guru."
"Tidak! Kamu tidak boleh jadi guru!"

"Saya mau jadi guru."
"Aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru."

Taksu menatap saya.
"Apa?"

"Kalau kamu tetap saja mau jadi guru, aku bunuh kau sekarang juga!!" teriak saya kalap.
Taksu balas memandang saya tajam.

"Bapak tidak akan bisa membunuh saya."
"Tidak? Kenapa tidak?"

"Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yanag akan datang. Guru tidak bisa mati, Pak."

Saya tercengang.
"O… jadi narkoba itu yang sudah menyebabkan kamu mau jadi guru?"

"Ya! Itu sebabnya saya ingin jadi guru, sebab saya tidak mau mati."
Saya bengong. Saya belum pernah dijawab tegas oleh anak saya. Saya jadi gugup.

"Bangsat!" kata saya kelepasan. "Siapa yang sudah mengotori pikiran kamu dengan semboyan keblinger itu? Siapa yang sudah mengindoktrinasi kamu, Taksu?"

Taksu memandang kepada saya tajam.
"Siapa Taksu?!"

Taksu menunjuk.
"Bapak sendiri, kan?"
Saya terkejut.

"Itu kan 28 tahun yang lalu! Sekarang sudah lain Taksu! Kamu jangan ngacau! Kamu tidak bisa hidup dengan nasehat yang Bapak berikan 30 tahun yang lalu! Waktu itu kamu malas. Kamu tidak mau sekolah, kamu hanya mau main-main, kamu bahkan bandel dan kurang ajar pada guru-guru kamu yang datang ke sekolah naik ojek. Kamu tidak sadar meskipun sepatunya butut dan mukanya layu kurang gizi, tapi itulah orang-orang yang akan menyelamatkan hidup kamu. Itulah gudang ilmu yang harus kamu tempel sampai kamu siap. Sebelum kamu siap, kamu harus menghormati mereka, sebab dengan menghormati mereka, baru ilmu itu bisa melekat. Tanpa ada ilmu kamu tidak akan bisa bersaing di zaman global ini. Tahu?"

Satu jam saya memberi Taksu kuliah. Saya telanjangi semua persepsinya tentang hidup. Dengan tidak malu-malu lagi, saya seret nama pacarnya si Mina yang mentang-mentang cantik itu, mau menyeret anak saya ke masa depan yang gelap.

"Tidak betul cinta itu buta!" bentak saya kalap. "Kalau cinta bener buta apa gunanya ada bikini," lanjut saya mengutip iklan yang saya sering papas di jalan. "Kalau kamu menjadi buta, itu namanya bukan cinta tetapi racun. Kamu sudah terkecoh, Taksu. Meskipun keluarga pacarmu itu guru, tidak berarti kamu harus mengidolakan guru sebagai profesi kamu. Buat apa? Justru kamu harus menyelamatkan keluarga guru itu dengan tidak perlu menjadi guru, sebab mereka tidak perlu hidup hancur berantakan gara-gara bangga menjadi guru. Apa artinya kebanggaan kalau hidup di dalam kenyataan lebih menghargai dasi, mobil, duit, dan pangkat? Punya duit, pangkat dan harta benda itu bukan dosa, mengapa harus dilihat sebagai dosa. Sebab itu semuanya hanya alat untuk bisa hidup lebih beradab. Kita bukan menyembahnya, tidak pernah ada ajaran yang menyuruh kamu menyembah materi. Kita hanya memanfaatkan materi itu untuk menambah hidup kita lebih manusiawi. Apa manusia tidak boleh berbahagia? Apa kalau menderita sebagai guru, baru manusia itu menjadi beradab? Itu salah kaprah! Ganti kepala kamu Taksu, sekarang juga! Ini!"

Saya gebrakkan kunci mobil BMW itu di depan matanya dengan sangat marah.
"Ini satu milyar tahu?!"
Sebelum dia sempat menjawab atau mengambil, kunci itu saya ambil kembali sambil siap-siap hendak pergi.

"Pulang sekarang dan minta maaf kepada ibu kamu, sebab kamu baru saja menghina kami! Tinggalkan perempuan itu. Nanti kalau kamu sudah sukses kamu akan dapat 7 kali perempuan yang lebih cantik dari si Mina dengan sangat gampang! Tidak perlu sampai menukar nalar kamu!"

Tanpa menunggu jawaban, lalu saya pulang. Saya ceritakan pada istri saya apa yang sudah saya lakukan. Saya kira saya akan dapat pujian. Tetapi ternyata istri saya bengong. Ia tak percaya dengan apa yang saya ceritakan. Dan ketika kesadarannya turun kembali, matanya melotot dan saya dibentak habis-habisan.

"Bapak terlalu! Jangan perlakukan anakmu seperti itu!" teriak istri saya kalap.
Saya bingung.

"Ayo kembali! Serahkan kunci mobil itu pada Taksu! Kalau memang mau ngasih anak mobil, kasih saja jangan pakai syarat segala, itu namanya dagang! Masak sama anak dagang. Dasar mata duitan!"

Saya tambah bingung.
"Ayo cepet, nanti anak kamu kabur!"

Saya masih ingin membantah. Tapi mendengar kata kabur, hati saya rontok. Taksu itu anak satu-satunya. Sebelas tahun kami menunggunya dengan cemas. Kami berobat ke sana-kemari, sampai berkali-kali melakukan enseminasi buatan dan akhirnya sempat dua kali mengikuti program bayi tabung. Semuanya gagal. Waktu kami pasrah tetapi tidak menyerah, akhirnya istri saya mengandung dan lahirlah Taksu. Anak yang sangat mahal, bagaimana mungkin saya akan biarkan dia kabur?

"Ayo cepat!" teriak sitri saya kalap.
Dengan panik saya kembali menjumpai Taksu. Tetapi sudah terlambat. Anak itu seperti sudah tahu saja, bahwa ibunya akan menyuruh saya kembali. Rumah kost itu sudah kosong. Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secarik kertas kecil dan pesan kecil:

"Maaf, tolong relakan saya menjadi seorang guru."
Tangan saya gemetar memegang kertas yang disobek dari buku hariannya itu. Kertas yang nilainya mungkin hanya seperak itu, jauh lebih berarti dari kunci BMW yang harganya semilyar dan sudah mengosongkan deposito saya. Saya duduk di dalam kamar itu, mencium bau Taksu yang masih ketinggalan. Pikiran saya kacau. Apakah sudah takdir dari anak dan orang tua itu bentrok? Mau tak mau saya kembali memaki-maki Mina yang sudah menyesatkan pikiran Taksu. Kembali saya memaki-maki guru yang sudah dikultusindividukan sebagai pekerjaan yang mulia, padahal dalam kenyataannya banyak sekali guru yang brengsek.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Saya seperti dipagut aliran listrik. Tetapi ketika menoleh, itu bukan Taksu tetapi istri saya yang menyusul karena merasa cemas. Waktu ia mengetahui apa yang terjadi, dia langsung marah dan kemudian menangis. Akhirnya saya lagi yang menjadi sasaran. Untuk pertama kalinya saya berontak. Kalau tidak, istri saya akan seterusnya menjadikan saya bal-balan. Saya jawab semua tuduhan istri saya. Dia tercengang sebab untuk pertama kalinya saya membantah. Akhirnya di bekas kamar anak kami itu, kami bertengkar keras.

Tetapi itu 10 tahun yang lalu.
Sekarang saya sudah tua. Waktu telah memproses segalanya begitu rupa, sehingga semuanya di luar dugaan. Sekarang Taksu sudah menggantikan hidup saya memikul beban keluarga. Ia menjadi salah seorang pengusaha besar yang mengimpor barang-barang mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke berbagai wilayah mancanegara.

"Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja," ucap promotor ketika Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah pergurauan tinggi bergengsi. ***

Download Cerpen ini KLIK di sini


Tuesday, November 24, 2009

Rumah-rumah Sapardi Djoko Damono

Rumah-rumah
Cerpen Sapardi Djoko Damono

(Nomor 11)

Seandainya boleh memilih, saya tidak mau menjadi rumah. Orang boleh memilih rumah, tetapi rumah tak berhak memilih penghuninya. Saya berusaha sebaik-baiknya untuk selalu menyayangi keluarga yang menghuni saya, siapa pun orangnya dan apa pun wataknya. Saya tahu bahwa tetangga saya, Rumah Nomor 13, suka terganggu dengan ulah keluarga yang menghuni saya, tetapi ia hanya bisa menggerutu. Tidak kepada saya, untunglah, tetapi kepada Saudara.

Saya sudah telanjur menjadi rumah. Aneh, rumah tak boleh ikut penghuninya jika pergi meninggalkannya, tetapi penghuni berhak seenaknya saja pergi dan kalau sudah capek dan perlu istirahat, kembali pulang ke rumah.

Saudara tinggal di dalam rumah juga, bukan? Saudara pasti pernah merindukan rumah, tetapi pernahkah Saudara merasa dirindukan rumah? Bahwa ada juga orang yang tidak betah tinggal di rumah, dan lebih suka hidup menggelandang, misalnya, itu bukan urusan saya.

(NOMOR 13)

Saya sebuah rumah seluas 150 meter persegi, hampir semuanya ditanami bangunan kecuali tiga kali enam meter persegi di depan. Mungkin dimaksudkan sebagai semacam taman kecil nantinya. Entah bagaimana dulu-dulunya ada keluarga yang ingin membangun rumah, yang ingin melahirkan saya—begitu istilahnya kira-kira bagi Saudara. Proses penghamilan saya tampaknya biasa saja. Keluarga itu membeli tanah, lalu meminta tukang-tukang untuk membangun saya. Pondasi, kerangka, dinding, atap, dan sebagainya. Ribut. Suara paku besar kecil dipaksakan masuk kayu, batu bata ditumpuk, semen diaduk, dicampur pasir, dilekatkan di batu bata—sedikit ngilu dan bising. Meskipun di tengah keributan itu ada saja tukang batu yang suka nyanyi, atau bersenandung sepotong lagu klasik. Ditirunya dari tukang es krim.

Tetangga saya, kira-kira lima tahun lebih tua, adalah sebuah rumah yang bercat hijau muda di sebelah kanan saya. Rumah Nomor 11, perempuan. la dihuni oleh si empunya, keluarga yang selalu meributkan segenap perkara. Suami rapat dan pulang malam, anak ikut tawuran, gunting ketlisut, sandal ketukar, meja berantakan habis makan, masak kue sampai gosong; semua itu tentu berujung pada heboh.

Sejak saya masih dalam proses kelahiran, ribut-ribut semacam itu memang sering kali saya dengar. Dan saya, tentu saja, khawatir jangan-jangan keluarga yang memiliki saya juga sejenis. Sejak di dalam rahim, saya selalu berdoa agar keluarga Bapak (begitu semua orang memanggilnya) berbeda dengan yang punya tetangga saya itu. Tetapi sesudah dengan selamat dan lengkap dilahirkan, mulailah sakit hati saya.

Keluarga Bapak itu ternyata tidak akan tinggal di saya, tetapi memasang papan di pagar depan untuk mengontrakkan saya. Saya sudah telanjur jatuh hati kepada istrinya yang suka menengok proses kelahiran saya. Juga anak perempuannya yang rambutnya dikepang dua, yang suka bersenandung lagu Cinta Terisolasi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Yang memiliki saya itu ternyata peternak rumah. Konon miliknya yang seperti saya ini jumlahnya tidak kurang dari lima. Apa pekerjaannya tidak jelas. la selalu mengenakan setelan safari, warnanya gonta-ganti. Itu yang saya tahu.

Saya sama sekali tidak suka dikontrakkan. Soalnya, tidak jelas keluarga macam apa yang akan tinggal. Kalau yang menghuni saya nanti amat sangat brengsek dan tidak suka membaca cerita pendek dan tidak berpengetahuan dan tidak intelek dan suka masak jengkol, apa saya bisa protes dan mengusirnya?

Tetangga saya, Rumah Nomor 15 di sebelah kiri saya, baru setengah jalan dibangun ditinggal begitu saja. Padahal luasnya minta ampun, mungkin tiga kali lebih luas dari saya. Dan di huk pula. Konon yang punya bangkrut dan berniat menjualnya saja. Karena belum jadi, bentuknya agak menakutkan. Bayangkan saja bayi yang masih di dalam kandungan dan belum lengkap ujudnya. Orang lewat menyebutnya rumah hantu. Beberapa kali saya lihat orang datang menaksirnya, tetapi sampai hari ini belum juga ada yang sungguh-sungguh berminat membelinya.

Saya tidak tahu Saudara siapa, tetapi saya sangat mengharapkan agar Saudaralah yang nanti mengontrak saya. Saya suka pada Saudara karena Saudara kadang-kadang membaca cerita pendek; oleh karena itu tentunya melek huruf dan sabar dan cerdas dan berpengetahuan luas dan intelek, hanya saja tidak mampu membeli rumah.


(NOMOR 15)
Percayakah Saudara bahwa hantu itu ada? Percayakah Saudara bahwa saya, rumah yang belum jadi ini, ada hantunya? Tetangga saya, rumah yang tidak juga ada pengontraknya itu memang suka bicara. Tapi khusus yang menyangkut diri saya, yang menyakitkan adalah bahwa saya dibandingkannya dengan bayi dalam kandungan yang bentuknya bisa Saudara bayangkan. Dan tentunya ia bayangkan juga bahwa saya belum bisa—belum boleh dan belum berhak—bicara. la keliru.

Mungkin saja ujud saya buruk, dan sedikit menakutkan. Di pekarangan banyak ilalang, tidak jarang pula ada yang berbunga. Kadang-kadang ada juga, maaf, ular yang suka menunggu kelengahan katak atau tikus yang tersesat. Ada juga, tentu ini sudah Saudara bayangkan, lumut yang semakin lama semakin tebal. Tetapi itulah saya. Itu semualah penghuni saya, dan tidak boleh ada sebuah rumah pun di alam raya ini yang merasa berhak menilainya sebagai hal buruk atau apa. Segala jenis tanaman dan binatang yang saya sebut itu bukan ciptaan manusia, tetapi ciptaan-Nya, bukan? Setidaknya, begitulah kata Kitab yang tentu pernah Saudara baca. Mereka memang diciptakan dengan sempurna, sedangkan saya—dan tetangga sebelah saya itu—bisa saja tidak selesai dibangun, seperti halnya benda budaya lain, yang diciptakan manusia.

Tetapi sudahlah, saya sebenarnya lebih suka diam. Hanya saja nurani saya terganggu ketika dikatakannya bahwa rumah seperti saya ini dihuni hantu. Itu kelewatan. Anak-anak takut? Bohong. Mereka malah suka masuk pekarangan saya mencari cengkerik; bahkan ada juga yang main petak umpet. Dan jika salah seorang dari mereka itu berteriak "hantu, hantu!",mereka berhamburan ke sana ke mari—saya yakin bukan karena takut hantu yang mungkin menurut bayangan Saudara menakutkan ujudnya. Anak-anak itu bermain begitu sebab hantu merupakan bagian dari permainan mereka. Dan mereka tidak berpura-pura pernah melihat hantu.

Kembali kepada tetangga saya yang tidak kunjung laku dikontrakkan itu; saya malah merasa kasihan padanya. Kalau saya belum laku dijual, itu wajar. Harga yang dipasang tuan saya mungkin terlalu mahal untuk sebuah rumah yang belum selesai dibangun, atau lantaran uang susah didapat sekarang (itu menurut alasan orang yang pernah saya dengar). Tetapi kalau tidak laku dikontrakkan, itu memalukan. Apalagi malah membujuk Saudara agar mengontraknya. Sebagai pembaca cerpen tentu Saudara menyadari bahwa ada maksud tertentu di balik semua itu. Itu karena ia tidak kunjung laku dan putus asa sehingga sudah sampai pada taraf membujuk, dan bahkan mengejek Saudara. Saudara dianggap tidak mampu membeli rumah.

Bahwa Saudara juga tidak suka makan jengkol, itu boleh saja, tetapi apa pula salahnya orang yang doyan jengkol? Istri Saudara sendiri sering makan jengkol, meskipun itu dilakukannya diam-diam, padahal bau mulutnya Saudara kenal benar. Jadi, tetangga saya itu menghina jengkol. Jengkol itu bukan ciptaan manusia, bukan benda budaya, kecuali jika sudah dimasak. Jengkol itu ciptaan-Nya, begitu kata Kitab yang Saudara baca hampir setiap malam. Keterlaluan tetangga saya itu. Tetapi setiap kali saya mengajaknya bicara baik-baik, ia menganggap saya masih belum lengkap, seperti bayi dalam kandungan—oleh karenanya tidak pantas diladeni bicara.

Jadi, bagaimana? Percayakah Saudara bahwa hantu itu ada? Jengkol itu ciptaan-Nya, demikian juga Saudara. Sedangkan rumah adalah ciptaan manusia. Hantu ciptaan siapa, coba? Siapa pula yang mau susah-susah—maaf—menciptakan hantu kalau manfaatnya hanya untuk menakut-nakuti manusia? Cengkerik, ilalang, lumut, dan segala sesuatu yang ada di sekeliling saya itu jelas tidak pernah memikirkan hantu, apalagi merasa ditakut-takutinya. Mereka juga tidak suka saling menjelekkan, berbeda dengan rumah di sebelah kanan saya itu. la suka begitu mungkin sebab ia ciptaan manusia.

Jadi, kalau Saudara terbujuk juga untuk mengontraknya, silakan sajalah. Seandainya nanti Saudara, atau keluarga Saudara, ada yang berteriak-teriak karena katanya ditakut-takuti hantu yang menghuni saya, jangan panik. Itu akibat ulah rumah kontrakan Saudara sendiri. Itu ciptaan keluarga Saudara sendiri. Apakah Saudara juga malah ikut-ikut menciptakan hantu?***

Koran Tempo, 2003

Download cerpen ini KLIK DI SINI

Sunday, November 22, 2009

Tembang Zaman Sapardi Djoko Damono

Tembang Zaman

Cerpen Sapardi Djoko Damono

amenangi jaman edan
ewuh aya ing pambudi
(R. Ng. Ronggowarsito, 1802-1873)

Aku suka terkenang akan suatu peristiwa kecil yang terjadi di rumah ketika aku masih duduk di kelas pertama SMA. Waktu itu kami baru pindah dari pusat kota yang sibuk ke pinggir kota. Kami lama-lama terbiasa dengan suasana yang sama sekali berbeda. Gerisik rumpun bambu, suara air sungai di sebelah rumah kalau malam tiba, dan lampu teplok.

Malam itu akan ada tamu, seorang laki-laki sebaya ayahku. Ayah selalu memanggil beliau Kamas Sastro. Aku sengaja menunda tidurku, ingin mendengarkan tamu itu menembang. Suaranya pernah kudengar, luar biasa! Tembang itu biasanya didiskusikan dengan asyik oleh keduanya, biasanya sampai larut malam. Maka, setelah basa-basi sekedarnya, tamu itu menyeruput kopi, terus nembang. Sebagai pemuda Jawa yang pernah belajar di sekolah khusus untuk priayi, aku kenal benar larik-larik itu. Dari Kalatidha, karya pujangga Jawa terakhir.

Beberapa ayat yang indah selesai ditembangkan, sungguh memesona. Maka ayah dan tamunya pun bergantian menyeruput kopi, cangkir kedua yang dihidangkan ibu, yang ginasthel manis, panas, dan kental. Seruputan demi seruputan luar biasa indah bunyinya.

"Lha, ya, Kamas. Karya itu diciptakan seratus tahun lalu, tapi masih sesuai untuk kita di zaman sekarang," ayah membuka diskusi. "Apa memang semua zaman sama saja atau bagaimana?"

"Begini, Dimas. Pujangga itu weruh sadurunge winarah, tahu yang belum terjadi. Beliau memang menulis untuk zaman kita ini."

"Tapi katanya karyanya itu juga menyindir zamannya."

"Benar, bahkan juga menyidir masa yang telah berlalu."

"Jadi, adakah zaman yang tidak edan?"

"Wah, pertanyaan Dimas itu aneh. Zaman itu tetap tetapi berubah, berubah tetapi tetap."

"Siapa yang menjadikan zaman berubah tetapi tetap edan, Kamas?"

Diskusi itu berlanjut entah sampai jam berapa. Aku tertidur, bermimpi menjadi Ronggowarsito.***

Friday, November 20, 2009

Monolog Anton Chekov: Racun Tembakau

Monolog
RACUN TEMBAKAU
Karya Anton Chekov; terjemahan Jim Lin



IVAN BERCAMBANG PANJANG, KUMIS DICUKUR KLIMIS, JAS RESMI YANG SUDAH TUA DAN SELALU SERING DI PAKAI, IA MUNCUL DENGAN SIKAP AGUNG, MANGGUT DAN MEMPERBAIKI VASNYA.

Omong-omong Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya (MENGUSAP CAMBANGNYA) pada Istri saya datang sebuah permintaan supaya untuk tujuan amal saya membacakan sebuah ceramah yang bersifat umum, Nah, kalau saya harus ceramah, mesti saja—bagi saya tidak menjadi soal sama sekali. Jelas saya ini bukan professor, dan saya tidak mempunyai gelar apapun, tapi meskipun demikian, selama 30 tahun ini, bahkan sampai merugikan kesehatan dan segala rupa, tidak ada berhentinya saya mengerjakan persoalan-persoalan yang bersifat ilmiah melulu, saya seorang pemikir, dan bayangkan sewaktu-waktu saya juga menyusun tulisan-tulisan ilmiah. Maksud saya bukan ilmiah saja tapi maaf, saya katakan ini boleh digolongkan ke kelas ilmiah, sebelum lupa, kemarin dulu saya menulis artikel panjang berjudul bahaya dari jenis-jenis serangga tertentu. Anak perempuan saya semuanya sangat mengenangnya, terutama bagian-bagian mengenai kutu-kutu tembok, tapi setelah dibaca kembali, saya robek-robek lagi.

Untuk ceramah hari ini; omong-omong saya mengambil sebuah pokok tentang bahaya yang disebabkan pada bangsa manusia oleh menghisap tembakau. Saya sendiri merokok, tapi istri saya yang menyuruh ceramah tentang bahaya tembakau pada hari ini, dan karena itu, tidak ada jalan lain. Tentang tembakau. Ya sudah tembakaulah...

bagi saya sama sekali bukan soal; tapi bagi hadirin, saya anjurkan sebisa-bisanya menganggap ini dengan segala kesungguhan, demi mencegah terjadinya sesuatu yang tidak terduga. Namun siapa yang takut ceramah ini akan terlampau kering ilmiah, yang tidak suka macam begini mereka tidak perlu ikut mendengarkan, dan saya tidak keberatan kalau mereka mau pulang saja (MEMPERBAIKI VASNYA) saya, terutama minta perhatian dari anggota lingkungan kedokteran yang hadir disini, untuk mereka bisa memperoleh keterangan berguna dari ceramah saya, berhubung tembakau selain membawa akibat-akibat buruk, juga dipergunakan dalam pengobatan. Tembakau kita kenal sebagai tumbuh-tumbuhan...

biasanya kalau saya ceramah, mata saya yang kanan sering kedip-kedipan yang hadirin tak usah hiraukan! Itu lantaran senewen, dan kedipan mata ini sudah mulai sejak lama, sejak tahun 1889, kalau mau tepatnya tanggal 13 September, di hari istri saya melahirkan anak perempuan yang omong-omong , yang ke empat, Barbara. Anak perempuan saya semuanya lahir pada tanggal 13, tapi (MELIHAT ARLOJI).

Karena sempitnya waktu, sebaiknya saya jangan menyimpang dari pembicaraan ceramah ini. Sebelum lupa saya bisa sebutkan bahwa istri saya punya sekolah musik dan membuka indekost partikelir, maksud saya bukan indekost biasa, tapi berupa itulah, antara kita,,, istri saya dan saya, ia paling demen ngomel tentang kesusahan zaman, padahal ia punya simpananan uang 40 sampai 50 Rubel di satu tempat yang tersembunyi, sedangkan saya, saya ini tidak dikarunia sepeser-pun, tidak se-sen-pun... tapi ya, buat apa ngotot tentang hal yang begituan?

Saya turut mengatur indekos dengan menjaga urusan rumah tangga. Saya yang belanja persedian makanan, saya awasi bujang-bujang, saya catat pengeluaran-pengeluaran dalam buku besar, saya lihat buku tulis anak-anak, saya pembasmi kutu-kutu, saya bawa jalan-jalan anjing kesayangan istri saya, saya nangkap tikus...

Malam kemarin saya menakar tepung terigu dan mentega (UNTUK KOKI) berhubung hari ini kita makan kue dadar gulung. Singkatnya hari ini setelah dadar gulungnya jadi, istri saya masuk ke dapur, untuk mengabarkan bahwa dari tiga murid-murid tidak dapat dadar gulung lantaran sakit gendeng. Jadi kebenaran saja ada beberapa dadar gulung kelebihan. Lantas mau diapakan? Istri saya tadinya suruh simpan dilemari; kemudian dia berfikir lagi dan setelah dipertimbangkan ia berkata “sudah makan saja dadar gulung itu, begeng...” kalau sedang marah-marah selalu panggil saya demikian; begeng, cacing, atau setan alas. Dia sering marah-marah begitu.

Saya tidak punya, perlahan-lahan malah dadar gulung itu saya telan bulat-bulat, karena saya selalu kelaparan. Kemaren misalnya saya tidak dikasih makan; tidak ada gunanya” kata istri saya parabin itu begeng.... tapi (melihat pada arlojinya lagi) saya sudah ngelantur lagi, sudah menyimpang pada pokoknya, mari kita lanjutkan, meskipun tentu saja hadirin lebih senang mendengarkan roman atau simponi atau sebuah area.... (NYANYI) dalam api perjuangan kita tidak gentar .... saya kurang ingat dari opra mana itu’ ... sebelum lupa, saya belum sebut bahwa sebelum menjaga urusan rumah tangga, di sekolah musik istri saya tugas, saya termaksud juga mengajar matematika, ilmu hayat, ilmu kimia, ilmu bumi, sejarah, do re mi, sastra dan seterusnya; untuk les dansa nyanyi, dan menggambar istri saya meminta bayaran ekstra, meskipun sebetulnya, saya guru dansanya dan guru nyanyinya.

Sekolah musik kami terletak dijalan lima, anjing nomor 13, karena baranga kali itu membikin hidup saya sial karena tinggal dirumah nomor 13. lagi pula anak perempuan saya lahir pada tanggal 13, dan rumah kami punya 13 jendela... tapi, ya untuk apa diributkan semua itu. Istri saya selalu dirumah setiap waktu, bisa terima kunjungan pembicaraan prospektus, dan sekolah bisa dapat dari portir, tiga ketipan satunya (mengambil beberapa contoh dari salah satunya) tidak ada yang mau? Sudahlah, dua kepit (HENING)

sayang sekali satu nomor rumah kami jalan 13.( sayang sekali ) saya ini memang gagal dalam beberapa hal, saya sudah tua dan lagi bodoh, sekarang saya sedang ceramah dan kelihatannya riang. Tapi sesungguhnya saya ingin teriak setinggi langit atau lari keujung dunia. Dan pada siapa saya mengadu saya malah ingin menangis-hadirin. kaukan punya anak perempuan .... tapi anak perempuan itu apa? Saya ngobrol dengan mereka, mereka demikian melulu ... istri saya punya? Anak perempuan ... bukan, maaf kalau tak salah 6 (RUSUH) tentu saja yang sulung Anna, umur 27, yang bungsu sudah berumur 17, tuan-tuan (MELIHAT SEKELILING) aku sengsara, aku sudah menjadi dungu tidak berarti, didepan sini saya berdiri sebagai seorang ayah yang paling bahagia. Bagaimanapun, begitulah mestinya dan aku tidak berani mengatakan bahwa tidak begitu. Tapi kalau kalian tau! Aku sudah bersama biniku selama 33 tahun itu adalah tahun-tahun yang paling subur, maksudku bukan yang terbaik, tapi secara umurlah. Telah lalu semua, dalam satu kata, seperti satu detik kebahagiaan, tapi terus terang, persetan segalanya.!

(MELIHAT KELILING) aku kira dia belum datang kesini, jadi aku bisa bicara sesuka ku. Nah seperti sudah aku katakan, anak perempuanku belum pada kawin. Kemungkinan mereka pada pemalu, dan juga karena jejaka-jejaka tidak di beri kesempatan melihat mereka. Biniku paling tidak suka bikin pesta, ia tidak pernah undang siapa-siapa makan. Dia kelewat judes, adatnya jelek, perempuan tukang cek-cok, sehingga tidak ada yang bertamu, tapi ini, aku tahu karena aku percaya pada saudara-saudara (naik ke fuotligt) pada hari-penting penting anak perempuan biniku bisa dijumpai dirumah (bini mereka) pakai gaun kuning ordo-ordo hitam. Disana makannya betul-betul enak dan kalau kebetulan biniku tidak ikut, kita bisa saja.... (MENGANGKAT SIKUT) maklum, aku bisa saja mabuk dari satu gelas anggur dan disaat demikian aku merasa sangat bahagia dan sekaligus sedih yang tidak aku bisa gambarkan pada hadirin, aku teringat lagi masa muda dan ada sesuatu yang membikin aku ingin lari. Ingin minggat segera...

oh jikalau saudara-saudar bisa merasakan bagaimana aku ingin melakukan itu! (SEMANGAT) dari, meninggalkan semua ini, lari tanpa menengok lagi kebelakang... kemana tidak peduli kemana... asalkan bisa minggat dari kehidupan yang hina, kejam, rumah ini yang sudah menjadikan aku tua mangka bobrok, tua bangka edan, minggat dari si pelit goblig, galak, dengki, yang jiwanya sempit, serta minggat dari kemusikan (kemusrikan), dari dapur, dari urusan duit bibiku, dari persoalan-persoalan sepele dan fulgar... lari untuk berhenti di suatu tempat yang jauh, jauh sekali di suatu padang, untuk berdiri menjulang seperti pohon, seperti tiang, seperti beubeugig pengusir burung, dibawah langit yang lebar dan semalam terus memandang bulan yang terang dan sunyi diatas kepala, lalu melegakan, melupakan...

oh betapa aku rindukan kemampuan tidak mengingat, betapa aku tidak sabar untuk menjambret jas tua, buluhuk ini, yang 33 tahun yang lalu dipakai dipernikahanku (dengan kasar membuka jasnya), yang selamanya mesti ku pakai buat beri ceramah-ceramah pada kesempata yang ada... rasain lho! (MENGINJAKNYA) rasain luh! Aku tua, melarat, sengsara, seperti jas tua ini, dengan punggungnya yang tambal-tambal, bobo nyeh-nyeh (MELIHATKAN PUNGGUNG) aku tidak mau apa-apa! Aku lebih suka, dan lebih baik dan lebih bersih dari itu, aku pernah muda, aku pernah belajar di universitas, aku pernah bercita-cita, aku pernah menganggap diriku lelaki... sekarang aku tidak mau pap-apa! Tidak apa-apa selain istirahat ... istirahat! (MELIHAT BELAKANG IA CEPAT MEMAKAI JASNYA LAGI) istri saya sudah ada di belakang panggung... sudah datang dan mengejar saya disini (melihat pada arloji) waktu sudah habis... kalau ditanya istri saya, saya mohon, saya mohon dengan sangat , jawablah bahwa pemberi ceramahnya... bahwa si begeng, saya maksud, saya sendiri, telah melakukanya tugasnya dengan sopan. (MELIHAT KEPINGGIR) (BATUK-BATUK) istri saya sedang memandang saya...

(SUARA DIPERKERAS) setelah kita bertitik tolak dari segala, bahwa tembakau mengandung racun yang sangat jahat, seperti tadi saya uraikan, maka hendaknya kebiasaan merokok harus dihapuskan dan omong-omong, saya mengharapkan sekali bahwa ceramah saya mengenai “ bahwa dari tembakau” ada juga manfaatnya bagi hadirin sekalian... sekian (MANGGUT DAN MENGUNDURKAN DIRI DENGAN AGUNG).

Wednesday, November 18, 2009

Sapardi Djoko Damono Bertemu Gadis Cantik Dalam Lift

Dalam Lift

Cerpen Sapardi Djoko Damono


Sehabis menghadiri rapat rutin yang dihadiri oleh sejumlah guru besar pensiunan di lantai 27 sebuah gedung bertingkat, aku buru-buru menuju lift. Di depan pintu kelihatan seorang perempuan muda. Untuk pertama kalinya sejak entah berapa puluh tahun terakhir ini aku merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak aneh dalam pikiranku. Alangkah elok anak perawan ini, dipandang dari jauh bagaikan anak dagang yang rawan, yang bercintakan sesuatu, yang tak mudah diperolehnya. Barangsiapa memandangnya, tak dapat tiada akan tertarik oleh suatu tali rahasia, yang mengikat hati. Begitu kata pengarang Sitti Nurbaya. la mungkin seorang sekretaris, mungkin seorang tamu di salah satu kantor di gedung itu, atau mungkin entah apa. Apa peduliku? Ya, tapi aku peduli. Sayang, kosa kataku ternyata tidak cukup untuk menggambarkannya, apalagi mengungkapkan ricik air, atau semilir angin, atau langkah kaki hujan yang bergerak dalam pikiranku. Semuanya terasa hambar dan klise belaka.

Padahal aku ingin sekali menggambarkan perempuan itu sebab dengan begitu setidaknya bisa merasa agak tenteram. Begini saja, biar kupinjam beberapa larik lagi dari Sitti Nurbaya, yang menggambarkan keelokan tubuh dan paras seorang gadis yang sampai hari ini tidak pernah tergoyahkan dalam angan-anganku. Pakaian anak gadis ini sebagai pakaian anak Belanda. Di tangan kanannya adalah sebuah payung sutera kuning muda, yang berbunga dan berpinggir hijau. Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai janda baru bangun tidur. jika ia minum, seakan-akan terbayanglah air yang diminumnya di dalam kerongkongannya

Aku sama sekali tidak berani mengajaknya bicara sebab khawatir, jika mendengar suaranya, terlalailah daripada suatu pekerjaan. Aku tidak mau lalai dalam pekerjaanku. Sampai pemberhentian di lantai satu, tidak ada orang lain yang masuk. Perempuan muda itu tetap berada dalam lift, berdua saja denganku. Pintu terbuka dan kami keluar. Seperti ketika masuk, ia kupersilakan keluar duluan. Seperti juga ketika masuk, ia tersenyum, lalu cepat-cepat keluar, berbelok ke kiri entah ke mana. Aku harus ke kanan, meninggalkan gedung. Kami pun berpisah, dan sampai sekarang ia tak pernah kujumpai lagi.***

Download cerpen ini KLIK DI SINI

Monday, November 16, 2009

Sapardi Djoko Damono Ditunggu Dogot

Ditunggu Dogot
:Bakdi
Cerpen Sapardi Djoko Damono

+ Kita harus tepat waktu. Tidak boleh terlambat, apa lagi terlalu cepat datang. Dogot sama sekali tidak suka orang yang tidak tepat waktu. Harus tepat, setepat-tepatnya.
- Kita harus bergegas kalau begitu.
+ Siapa bilang begitu? Harus tepat waktu! Sudah kubilang, terlalu cepat juga tidak tepat waktu.
- Tapi kan bisa menunggu sampai Dogot muncul kalau kita terlalu cepat sampai. Jadi, kita bergegas saja.
+ Kamu tahu siapa Dogot?
- Peduli amat.
+ Benar juga. Tapi kalau tak tahu, bagaimana kita bisa tahu itu Dogot kalau nanti ketemu?
- Lho, tadi kau bilang kita ditunggu Dogot.
+ Begitu?
- Mungkin.
+ Tapi kan kita ini ditunggu. Jadi, tak peduli kita kenal atau tidak siapa yang menunggu. Yang jelas adalah kita ditunggu Dogot. Siapa itu Dogot, itu bukan urusan kita. Bahkan apa yang menunggu itu Dogot atau apa, itu juga di luar urusan kita. Tapi enaknya Dogot saja yang menunggu kita, ya kan?
- Dari mana kau tahu kita ditunggu?
+ Peduli amat.
- Kalau begitu ditunggu atau tak ditunggu ya sama saja.
+ Begini. Kalau ada yang menunggu, tentu harus ada yang ditunggu. Kita ditunggu, jadi tentu ada yang menunggu. Ya Dogot itu. Pakai akal sehat sajalah, ditunggu itu pasangannya menunggu. Kita sekarang ini ditunggu.

- Dari mana kau tahu?
+ Peduli amat.
- Kalau begitu tidak usah ditunggu sajalah, biar enak.
+ Tidak mungkin. Dunia ini tidak akan ada jika tidak ada tunggu-menunggu. Kau bisa membayangkan dunia yang tidak ada yang menunggu dan tak ada yang ditunggu? Apa yang kau
kerjakan, coba? Begitu saja kok susah.
- Kau saudaranya Dogot, ya?
+ Tai kucing!
- Jangan marah. Ditunggu kok malah marah. Yang menunggu boleh marah, begitu logikanya, kan? Dogot itu saudaramu, ya?
+ Sontoloyo, lu!
- Bapakmu?
+ Jangan begitu.
- Jangan-jangan Dogot itu saudara tirimu. Ya, nggak? Jangan kura-kura dalam perahu. Ya, nggak. Saudara tirimu, kan?
+ Tai kucing!
- Punya saudara tiri saja kok malu. Lihat itu, ada pesawat terbang lewat.
+ Apa urusannya?
- Katanya ditunggu. Pesawat terbang penting, dong. Kan ditunggu.
+ Maksudmu menunggu pakai pesawat terbang?
- Pakai akal sehat sajalah. Pesawat terbang itu urusan yang ditunggu, bukan yang menunggu.
+ Ini bukan urusan cepat-cepatan, ini urusan tepat waktu. Harus tepat.
- Kalau begitu kau saja yang ditunggu, aku tidak.
+ Tidak bisa. Kita berdua ditunggu, bukannya aku ditunggu dan kau tidak ditunggu.
- Lho, kok tidak boleh memilih?
+ Memilih apa?
- Ya memilih tidak ditunggu. Kalau pakai akal sehat kan boleh memilih. Kau memilih ditunggu, aku memilih tidak ditunggu. Masalahnya jadi beres, kan?
+ Kita ditunggu, bukan aku saja. Kau juga. Akal sehat berbunyi: jika ada yang menunggu harus ada yang ditunggu. Kau dan aku ditunggu, mau tidak mau. Itu baru akal sehat namanya.
- Ya, sudah.

+ Waktu kereta mendesis meninggalkan stasiun, dan orang- orang melambaikan tangan tanda perpisahan, tukang peluit di peron itu melambaikan tangan padaku sambil berteriak, "Ingat, kau ditunggu!" Aku lihat kiri-kanan, jangan-jangan bukan aku yang dimaksudkannya, tetapi seorang ibu tua di sampingku bilang tukang peluit itu melambaikan tangan padaku. "Masih saudara, ya?" tanya ibu tua itu. la tidak memperhatikan gelengan kepalaku. Sampai stasiun tak tampak lagi, tukang peluit itu masih melambaikan tangannya dan seperti kudengar suaranya, "Ingat, kau ditunggu!"
- Jadi, ia saudaramu ya?"
+ Waktu di bandara tempo hari, petugas tiket itu membisikkan sesuatu padaku, "Saudara ditunggu, jangan lupa." Aku tak sempat menanyakan hal itu sebab calon penumpang yang antre di belakangku tampaknya tergesa-gesa, dan aku didesaknya.
- la saudaramu, ya?
+ Waktu nyopir mobil lewat jalan macet yang sedang diperbaiki, seorang tukang gali tersenyum padaku dan berkata, "Ingat ya, Saudara ditunggu." Aku pengin berhenti menanyakan hal itu tetapi mobil-mobil yang bererot di belakangku langsung tekan klakson.
- la saudaramu, ya?
+ He, kamu pernah ditabokin orang?
- Nggak.
+ Pernah dibedil Jepang?
- Nggak, belum lahir.
+ Pernah diklocop kepalamu, ya?
- Jangan begitu, dong.
+ Pernah dikilik-kilik, ya?
- Jangan sadis, dong.
+ Habis, kenapa tanya-tanya apa mereka semua itu saudaraku?
- Malu ya, punya saudara jadi tukang tiup peluit?
+ Kuingat benar, katanya aku ditunggu.
- Malu ya, punya saudara jadi tukang tiket?
+ Aku yakin, ia bilang aku ditunggu.
- Malu ya. punya saudara jadi tukang gali jalanan?
+ la telah menyampaikan kebenaran, aku ditunggu.
- Ya, sudah sana. Cepat, nanti terlambat.
+ Tidak paham-paham juga kau. Kalau aku ditunggu, kau juga ditunggu. Harus. Tidak bisa hanya ada aku. Aku hanya ada kalau kau ada, kan? Dan kita ada karena ada yang menunggu-itu akal sehat.
- Kamu kenal Plato?
+ Tanya itu lagi!
- Kenal Konghucu?
+ Itu lagi!
- Kau kenal Gandhi?
+ Diulang-ulang lagi!
- Begini, kalau tidak kenal mereka kok bisa jadi pintar begitu?
+ Ditunggu ya ditunggu, tidak ada urusan sama pintar atau bodoh. Seandainya aku pintar dan kau bodoh, ya kita sama saja, sekarang ini ditunggu. Seandainya aku bodoh dan kau pintar-tapi itu tidak mungkin.
- Meskipun tidak mungkin kita kan ditunggu juga. Itu, kan, yang mau kau bilang?
+ Begitu, baru pintar namanya.

+ Masalahnya adalah posisi kita sekarang ini di mana. Kita harus bisa tepat waktu kalau tahu posisi Dogot juga, kan?
- Dan posisi Dogot baru bisa kita ketahui kalau kita tahu posisi kita di mana. Begitu, kan?
+ Kau memang pintar ternyata. Tapi kenapa kita ditunggu?
- Nah, sekarang kau yang mulai bodoh. Jawabannya kan jelas: karena ada yang menunggu. Titik. Masalahku lain, bukan kenapa kita ditunggu tetapi Dogot itu siapa.
+ Lho, kau jadi bodoh lagi.
- Nanti dulu. Apa kau bisa menggambarkan Dogot itu kepalanya botak atau tidak, dahinya monyong atau tidak, perutnya buncit atau tidak, kakinya pengkor atau tidak, mulutnya dower atau tidak. Kau harus bisa menggambarkannya agar nanti kalau ketemu aku bisa kasih salam, "Halo, Dogot. Apa kabar? Maaf kami tidak bisa tepat waktu. Habis, tadi bertengkar melulu. Jangan marah, ya, kita kan belum terlambat."
+ Stop, kita tidak akan bisa ketemu Dogot kalau tidak tepat waktu. Jangan ngawur, dong.
- Begitu?
+ Lha ya. Dan lagi tadi kau tanyakan dahinya macam apa mulutnya macam apa. Apa Dogot kau bayangkan sama dengan kita, punya mulut, perut, dan sebagainya?
- Kalau tidak punya mulut dan perut, bagaimana bisa makan?
+ He, tukang makan, jangan menyamakan Dogot dengan dirimu sendiri. Tidak tahu ya tidak tahu, tidak kenal ya tidak kenal. Tidak usah membayangkan yang bukan-bukan.
- Akal sehat sajalah. Kalau tidak makan ya tidak hidup.
+ Tidak ada hubungannya dengan makan atau hidup atau apa saja. Pokoknya kita harus tepat waktu. Mau makan, mau hidup terserah.
- Kan sejak tadi kita bicara tentang Dogot yang katamu menunggu kita, kenapa kau jadi begini dan begitu? Bagaimana Dogot bisa menunggu kalau tidak punya perut, mulut, dan
sebagainya?
+ Tugas kita ditunggu, tugas Dogot menunggu. Itu saja. Perut itu kan urusanmu.
- Apa urusanmu cuma otak, tak pakai perut? Apa Dogot, saudaramu itu, tak punya perut tapi punya otak? Begitu? Kau saudaranya, kan? Seperti halnya tukang tiup peluit, tukang jual tiket, dan tukang gali selokan. Dogot itu saudaramu, kan? Kalau bukan kenapa kau tutup-tutupi...
+ Sekali lagi bilang ia saudaraku, kuhabisi kau.
- Kalau aku kau habisi, ya alhamdulilah. Aku nggak usah ditunggu Dogot.
+ Sapa bilang begitu?
- Lho, malah bertanya. Lihat itu matahari sudah sepenggalah. Kita harus cepat-cepat supaya tidak ditinggal Dogot.
+ Ini bukan urusan ditinggal. Ini urusan ditunggu. Kalau bisa ditinggal, itu gampang masalahnya.
- Aku maunya ditinggal saja, nanti pergi sendiri saja. Tidak pakai ditunggu.
+ Pergi sendiri ke mana? Kita ini ditunggu, tidak bisa mau ke mana seenak perut.

+Waktu aku menuruni bukit untuk menemuimu dari lembah juga kudengar suara, "Jangan lupa, kalian ditunggu!" Itu tandanya kau juga ditunggu, tidak hanya aku.
- Tapi kenapa hanya kita berdua?
+ Kok 'hanya. Kau dan aku ini tidak sekedar 'hanya.
- Kok tidak salah satu saja yang ditunggu?
+ Kalau salah satu saja nanti tidak ada yang mengingatkan bahwa ada yang sedang menunggu. Itu merepotkan.
- Merepotkan?
+ Ya, merepotkan yang sedang menunggu. Harus ada yang merasa ditunggu agar Dogot tidak repot. Menunggu orang yang tidak merasa ditunggu itu tentu saja bikin repot. Untuk apa pula Dogot menunggu kalau kita tidak merasa ditunggu?
- Apa tidak punya kerjaan lain kecuali menunggu? Aku tak paham, kenapa repot-repot menunggu dan kenapa lebih menjadi repot lagi kalau tidak ada yang merasa ditunggu.
+ Dogot itu ada kalau menunggu, repot atau tidak repot apa pasalnya? Paham?
- Kalau tidak usah menunggu saja, bagaimana?
+ Kalau tidak menunggu ya Dogot tidak ada, padahal Dogot harus ada. Harus.
- Kenapa harus?
+ Karena kita ditunggu.
- Kenapa ditunggu?
+ Ya, karena ada yang menunggu.
- Kau ini tak pernah baca buku kok pintar.


+ Ingat, di dunia ini semua berpasangan: langit-bumi, kiri-kanan, atas-bawah, jauh-dekat, surga-neraka...
- Menunggu-ditunggu!
+ Tepat. Kau mulai paham.
- Kalau yang ditunggu ketemu yang menunggu?
+ Tidak boleh, dan tidak mungkin. Mana ada langit ketemu bumi? Kalau ketemu namanya bukan langit dan bumi lagi, tidak berpasangan lagi. Kau pikir bisa membayangkan jauh dan dekat bertemu? Bisa kau bayangkan siang dan malam bertemu? Bisa kau bayangkan laki dan perempuan bertemu?
- Kau dan aku.
+ Ya, harus berpasangan supaya ada.
- Kalau nanri kita ketemu Dogot?
+ Siapa bilang kita akan ketemu Dogot?
- Kau bilang kita ditunggu!
+ Ya, supaya ada sepasang ditunggu-menunggu.
- Sudan sajalah. Capek juga ditunggu.
+ Ditunggu kok capek. Yang nunggu saja tidak capek.
- Kok tahu?
+ Ini bukan pasal tahu atau tak tahu. Dogot menunggu dan kita ditunggu. Dan yang ditunggu tidak berhak capek, itu saja.
- Tapi apa ada yang bilang, "Aku capek ditunggu." Orang bilang, "Aku capek menunggu." Ya, kan? Akal sehat.
+ Kau pintar lagi, yang ditunggu tidak ada yang bilang capek, kan?
- Akal sehat?
+ Pasal capek atau tidak capek tidak usah dikait-kaitkan dengan sehat atau tidaknya akal. Bahkan dengan akal pun tidak ada kaitannya. Kau memang suka mengait-ngaitkan yang bukan-bukan.
- Begini, kalau ditunggu tidak berhak capek, menunggu juga tidak berhak, dong.
+ Ya terserah yang menunggu saja. Mau capek, mau kagak!
- Lho katanya tadi nggak ada yang boleh capek. Gimana sih?
+ Gimana gimana?
- Itu Iho, yang menunggu. Dia boleh capek, begitu?
+ Terserah. Hanya saja ingat, kita tidak boleh capek hanya karena ditunggu, itu wajib hukumnya.
- Kita ini boleh mikir cara apa?
+ Ditunggu kok mikir.

+ Kita harus tepat waktu. Tidak boleh terlambat, apa lagi terlalu cepat datang. Dan Dogot menunggu, kita wajib ditunggu.

Oktober 2002
Download cerpen ini KLIK DI SINI

Saturday, November 14, 2009

Bayang Bayang AA Navis

Bayang Bayang

AA Navis

Si Dali bukan orang biasa. Sudah jadi tokoh. Bahkan tokoh luar biasa. Hidupnya selalu dalam cahaya yang bersinar terang. Gemerlap dengan warna-warni yang aduhai indahnya. Lebih dari pelakon utama di atas panggung sandiwara.

Karena pelakon Julius Casar, atau King Lear, atau Macbeth hanya gemerlap sandiwara para pelakon kembali jadi manusia biasa. Adakalanya mereka menjadi seperti orang kere yang selesai melakonkan Gatotkaca pada wayang wong masa lalu. Sedangkan Si Dali berada seperti pada panggung dunia yang tak lagi dibatasi oleh sepadan negara. Kata orang, Si Dali jadi begitu karena dia tidak pernah hidup dalam kegelapan. Kegelapan malam maupun kegelapan siang. Artinya dia hidup selalu dalam terang benderang, penuh cahaya.

Makanya Si Dali terus diiringi bayang-bayang. Bayang- bayang yang banyak. Ada yang pendek ada yang panjang, ada yang gemuk ada yang kurus. Tentu saja kemanapun dia pergi selalu diiringi bayang-bayang. Karena memang bayang-bayang itu bayang-bayangnya sendiri. Sebagai bayang-bayang, bayang-bayang itu senantiasa meniru apa saja yang dilakukan Si Dali. Baik Si Dali makan atau tidur, jalan-jalan atau berzina.

Tak sekalipun bayang-bayang itu terpisah dari dia. Dan Si Dali yakin benar, bayang-bayang itu ada karena dia.

Tanpa dia, bayang-bayang itu semua sirna. Karena itu semua bayang-bayang memerlukannya. Sangat memerlukannya. Berbeda dengan orang lain, yang tidak pernah peduli dengan bayang- bayangnya sendiri. Karena mereka suka hidup bergelap-gelap di tempat gelap. Seolah-olah bayang-bayang tidak menjadi makhluk penting.

"Bayangkan", kata Si Dali pada bayang- bayangnya sendiri ketika dia lagi nongkrong di closet: "Jenis manusia apa yang hidup tanpa bayang-bayang, selain manusia gelap yang suka bergelap-gelap?"

Si Dali juga membiarkan bayang-bayang menirukan dengan amat persis apa saja yang dilakukan Si Dali. Apa salahnya bilamana semua bayang-bayang itu meniru apa yang dilakukannya. Karena peniruan tidak merugikannya. Bagaimana pun persisnya peniruan itu, satu hal yang tidak akan diperoleh bayang-bayang, yaitu serba kenikmatan yang diregup Si Dali. "Tirulah oleh kalian serba apa yang aku lakukan, tapi jangan coba-coba berkhayal akan ikut menikmati apa yang aku regup. Karena serba kenikmatan bukan hak kalian. Itulah adalah aksioma."

Kegemerlapan hidup Si Dali yang terang-benderang itu sampai juga ke telinga istana. Lalu raja memanggil perdana menteri dan menanyainya.

"Benar, Paduka." jawab perdana menteri, yang tahu benar kemana ujung ceritanya.

"Bunuh dia." perintah raja.

Setelah merenung perdana menteri berkata: "Apa Paduka tidak ingin melihat lebih dulu macam apa Si Dali itu?"

"Kalau begitu tangkap dia. Bawa kesini." kata raja. "Membunuh dan menangkap orang memang kekuasaan Paduka. Tapi jika dia dibunuh atau ditangkap, dia akan jadi lebih besar dari kadarnya. Dia akan menjadi mitos sejarah. Dengan mitos itu rakyat terbius untuk berdemonstrasi. Bayangkan, Paduka. Demosntrasi masa ini biadabnya bukan main."

"Maksudmu?"

"Undang dia. Rangkul dia. Supaya Paduka tetap lebih besar dari Si Dali."

"Kalau begitu undang dia. Elu-elukan seperti mengudang gladiator atau artis top." kata raja.

Si Dali bukan tidak berpikir dengan asumsi. Menurutnya dia akan diangkat jadi warga kehormatan negara. Barangkali sekurang-kurangnya menjadi Perdana Menteri atau Menko seperti yang berlaku di Indonesia. Tapi jabatan itu membutuhkan lidah yang panjang dari akal. Maka dia akan menolaknya. Demikianlah ketika Si Dali sampai di istana, dia disambut oleh barisan pagar ayu yang berdada busung dan berpantat tonggeng seperti penari jaipong. Ruang istana bermandikan cahaya gemerlap. Raja dengan pakaian bermanik dan berbintang lapis-berlapis pada kiri-kanan dada, bahkan sampai ke perut buncitnya. Raja menanti di tengah ruangan yang luas. Begitu megah dan perkasanya raja dilihat oleh Si Dali. Lebih mempesona daripada raja ketoprak yang dilihatnya di televisi.

Cahaya lampu yang bersinar marak di ruang itu, tidak memberi bayang-bayang pada raja. Tapi di dinding penuh berjajaran para pejabat kerajaan dengan isteri masing-masing. Itulah bayang-bayang raja, pikir Si Dali. Tiba-tiba seluruh lampu meredup. Lampu sorot dari dinding kiri menyinar tajam ke arah ratu yang muncul di ujung ruang. Bayang-bayang mengiringi. Raja memperkenalkan Si Dali kepada ratu. Si Dali membungkuk ketika bersalaman. Tapi bayang-bayang Si Dali seperti memeluk erat bayang-bayang ratu. Keduanya jatuh bergumul di lantai. Si Dali memandang berkeliling. Di sepanjang dinding terlihat seperti bayang-bayang hitam, yang seperti menatap ketiga orang yang berada di tengah ruang. Ketika semua lampu menyala kembali, Si Dali tidak melihat bayang- bayangnya. Bayang-bayang ratu pun tidak. Sampai pulang pun bayang-bayangnya tidak mengikutinya. Dan ketika dia menyalakan lampu di ruang tamunya, dia melihat bayang-bayang raja yang bertubuh buntal duduk mengalai di sofa.

"Kamu bukan bayang- bayangku." kata Si Dali. "Mestinya kamu bersama raja. Mengapa kamu di sini?"

"Aku kesal. Muak. Sakit hati. Raja punya banyak bayang-bayang. Semuanya berlidah panjang. Sehingga aku yang setia sejak waktu lahirnya, tidak diperdulikan lagi." kata bayang-bayang raja itu.

"Terus?"

"Ketika aku lihat bayang-bayang kamu mengikuti bayang- bayang ratu, sehingga kamu kehilangan bayang-bayang kamu sendiri, aku pikir kebih baik aku ikut kamu. Karena kamu toh perlu bayang-bayang. Aneh bin ajaib kalau seorang tokoh seperti kamu tidak punya bayang-bayang." kata bayang-bayang itu.

Sebagai seorang tokoh besar yang senantiasa punya gagasan diluar jangkauan manusia kebanyakan. Kemudian Si Dali menawarkan pergantian posisi kepada bayang-bayang raja. Dia jadi bayang-bayang raja dan bayang-bayang raja jadi dia. "Kamu ingin jadi bayang-bayang raja?" tanya bayang- bayang itu.

"Oh, tidak. Sampai mati pun aku tidak mau. Aku cuma mau menyamar jadi kamu. Selama satu hari saja. Oke?"

"Oke."

Sebagai bayang-bayang, Si Dali begitu leluasanya masuk istana yang berlapis-lapis pengawalannya. Leluasa pula memasuki seluruh ruang yang banyak dan beragam-ragam disain dalam istana itu. Semua megah, bahkan spektakuler. Ada ruang seperti yang ditemui dalam film Star Trek. Ada yang seperti taman dalam film The Last Day of Pompeye. Namun tidaklah begitu menakjubkan mata Si Dali.

***

Ketika Si Dali yang lagi menyamar dalam bentuk bayang- bayang raja memasuki Ruang waktu perdana menteri sedang berkata: "Nah, Tuan-Tuan sudah tahu, macam apa tokoh yang bernama Si Dali. Dia krempeng seperti Nashar. slebor seperti Affandi. Matanya melotot seperti.....seperti.....siapa, ya?" Sejenak dia terdiam ketika ingat pada seorang presiden, yang dirasanya tidak etis kalau diucapkan. Selanjutnya katanya lagi: "Ya, seperti Picasso bila mengambil contoh maka pelukis. Dia jadi tokoh karena sering, sangat sering, dipublikasi oleh pers dan televisi. Pidato atau khotbah atau ucapannya sering dikutip, puisinya dinyanyikan dalam berbagai pertunjukan sastra dan musik. Apa tidak begitu?"

"Dia tidak akan jadi apa-apa kalau tidak ada pers dan televisi. Makanya tidak bisa dibandingkan dengan raja. Raja tetap jadi raja, meski tidak ada publikasi." kata seorang menteri.

"Baiknya, larang saja pers dan televisi mempublikasikannya." usul menteri yang lain.

"Larang-melarang itu sudah kuno. Tidak cocok dengan semangat reformasi." kata perdana menteri pula.

"Kalau begitu, imbangi dengan banyak-banyak mempublikasikan raja?" usul yang lain lagi mengusul.

"Seperti kita semua tahu, raja tidak punya kegiatan apapun yang berharga untuk dipublikasikan. Apa pantas raja sedang makan, sedang tidur dipublikasikan?"

"Sekali lagi saya peringatkan. Pakailah bahasa yang baik dan benar ke alamat raja. Raja tidak makan, tapi santap. Tidak tidur, tapi beradu. Tidak sakit, tapi gering. Tidak minum, tapi dahar. Tidak berbaju, tapi.....Tapi apa, ya? kata perdana menteri dengan sedikit keras.

"Kalau begitu raja tidak akan pernah mati, ya?" bisik seorang menteri kepada rekannya di sebelah kiri.

"Memang. Tapi w afat," jawab yang ditanya.

"Untuk hal-hal yang sakral atau dipandang sakral perlu menggunakan bahasa kuno, seperti kebiasaan orang Indonesia yang memakai bahasa Sanskerta yang kuno untuk menamakan bangunan baru yang disakralkan," kata menteri yang duduk di kanan
menyela.

"Jadi masalah Si Dali itu apa, sih?" tanya menteri yang mengenakan seragam jenderal dengan segala asesori tanda jasanya.

"Si Dali terlalu termasyhur. Populer. Lebih dari raja." jawab perdana menteri. "Itu membahayakan kredibilitas kerajaan."

"Raja sendiri berpendapat apa?"

"Tidak ada pendapatnya karena memangnya raja tidak punya suatu alat untuk berpikir."

"Nah, kalau raja sendiri tidak perduli, kenapa kita ribut?"

"Apa kata dunia internasional, apabila raja sudah begitu, tapi para menteri diam saja? Dunia internasional akan mengatakan kita semua goblok," kata perdana menteri dengan nada yang agak tajam.

Pada saat semua anggota kabinet saling memandang oleh kebingungan, Si Dali melompat ke tengah ruangan. Katanya setengah berteriak: "Kabinet macam apa ini. Bicara tentang kepentingan diri sendiri. Bicarakanlah tentang nasib rakyat yang setiap tahun dilanda banjir atau kebakaran hutan.

Setiap waktu kena peras, kena tipu atau rampok atau ditembak oleh oknum-oknum bersenjata. Keadilan dimafia aparat, sejak polisi sampai jaksa, terus ke hakim. Anggota dewan minta disuapi supaya program pemerintah disetujui."

Tapi anggota kabinet itu tidak ada yang acuh. Mereka masih terus berbicara dengan sesamanya. Padahal menurut Si Dali, dia telah bicara setengah berteriak sambil mengedari ruang di tengah-tengah persidangan itu. Tiba-tiba dia sadar pada dirinya yang tengah menjelma jadi bayang-bayang raja. Dengan berlari kencang dia kembali ke rumahnya untuk membebaskan dirinya dari bayang-bayang raja. Untuk kembali menjelma ke jati dirinya sendiri.

Selama berlari Si Dali berkata pada dirinya: "Bayang- bayang tetap bayang-bayang. Meski bayang-bayang raja sekalipun, tidak ada yang hirau. Para menteri raja pun tidak hirau. Kalau bayang-bayang raja tidak diacuhkan orang, apa peduliku. Tapi pada bayang-bayang raja ini ada aku. Mengapa mereka tidak peduli?"

Dalam berlari Si Dali terus bebicara pada dirinya sendiri. Kadang-kadang dia bertanya, kadang-kadang mengomel. Adakalanya juga dia memaki dan berteriak-teriak marah. Akhirnya dia marahi dirinya sendiri, yang mau menyamar sebagai bayang-bayang, meski bayang-bayang raja. Tiba-tiba larinya melambat dan terus melambat. Di bawah naungan mahoni yang tumbuh berderet di sepanjang jalan dia mulai terenung. Dalam renungannya kian menjadi jelas baginya, bahwa bayang-bayang akan selamanya jadi bayang-bayang. Bayang-bayang raja tetap bayang-bayang raja. Kalau raja mati, meski bayang-bayangnya tidak ikut dikubur, dia tidak lagi berfungsi. Yang berfungsi ialah bayang-bayang raja pengganti. Bayang-bayang raja lama lenyap.

"Kalau saat ini raja pemilik bayang-bayang ini mati, apa jadinya aku?"

Sambil berlari kencang sepanjang jalan ke rumahnya, Si Dali berteriak keras: "Aku tidak mau lenyaaap. Tidak mau lenyaaap."

***

Sampai di rumah ternyata pintu rumah ternganga. Di dalam semuanya hitam. Tidak satupun lampu yang nyala atau cahaya yang masuk. Tapi dia tahu persis letak sesuatu benda atau ruang demi ruang. Meski berlari tidak satu benda pun tersenggol. Meski tersenggol, oleh karena bayang-bayang tidak akan menggeser, apalagi merusak. Maka dia langsung menghambur ke kamar tidurnya, yang ketika pergi dulu sebagai bayang-bayang raja. dirinya lagi mengalai di ranjang.

Tapi Si Dali tidak menemui dirinya di sana. Lalu dicarinya dengan perasaan cemas ke seluruh ruang yang gelap itu. Betapa seluruh ruang telah diarungi, betapa lama waktu dalam menyigi, dia tidak menemui dirinya. Simpul hatinya, dirinya yang dipakai bayang-bayang raja pasti sudah keluar rumah pergi bertualang dalam kehidupan yang nyata. Tapi kemana dia? Dia telusuri seluruh jalan dan pelosok kota sampai ke sudut-sudut yang kumuh pun dia cari. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berkelana. Entah berapa hari, entah berapa malam.

Akhirnya, ketika rasa putus asa telah sampai ke ujung hidupnya, dia melihat seorang laki-laki kere. Duduk terkulai di bangku dalam taman luas Lapangan Merdeka di pusat kota. Laki-laki itu kurus kerempeng. Lusuh dan mengenas- kan. Laki-laki itu tidak lain dari dirinya yang jelmaan bayang-bayang raja. Sebagian hati Si Dali demikian gembira karena telah menemukan kembali jati dirinya. Tapi sebagian lain hatinya demikian risau. Dia melihat dirinya yang dipakai orang lain. Tak obahnya seperti lusuh baju dipakai oleh bukan pemiliknya sendiri. Sampai dia ragu sejenak, apa memang itu Si Dali yang sosok paling populer di masa itu.

"Hai, Dali. Kemana saja kamu. Berhari-hari aku telah mencarimu." kata Si Dali pada dirinya yang disandang oleh bayang-bayang raja itu.

"Aku? Aku mencoba menikmati hidup di dunia nyata seperti manusia. Aku kira meski aku palsu akan lebih baik daripada bayang-bayang. Tapi tidak satu pun nikmat yang aku dapat." kata bayang-bayang raja yang memakai tubuh Si Dali. "Kemudian aku yakin, bahwa aku hanya bayang-bayang. Tidak mungkin hidup sebagai manusia yang utuh. Lalu aku mencari kamu untuk bertukar tempat kembali, agar aku bisa hidup menurut kodratku sendiri. Berhari-hari aku mencari kamu. Kemana saja kamu?"

"Aku juga mencari kamu agar aku bisa kembali ke duniaku lagi." kata Si Dali.

"Terlambat sudah."

"Terlambat?"

"Raja sudah Wafat. Di kubur atau di neraka raja tidak perlu bayang-bayang. Bagaimana aku kembali jadi diriku, sebagaimana kamu bisa kembali jadi jati dirimu? Akan jadi apa aku dengan tubuhmu. Tidak akan jadi apa-apa, tahu?" kata bayang-bayang raja yang mamakai jasad Si Dali. Terasa mengenaskan suaranya.

"Ayo, kita berganti jadi jati diri kita sendiri lagi." kata Si Dali.

"Aku mau. Tapi tak mungkin aku kembali jadi bayang- bayang raja karena raja sudah wafat."

"Artinya?"

"Tidak mungkin itu. Sebagai Si Dali kau telah kehilangan bayang-bayangmu sendiri. Bayang-bayangmu takkan kau peroleh lagi karena dia lebih suka hidup di istana."

"Maksudmu?"

"Ya, setiap bayang-bayang berbakat demikian."

"Aku tidak perlu bayang-bayang. Aku hanya perlu diriku sendiri."

Lawan Si Dali menggelengkan kepala. "Kau tidak berarti apa-apa tanpa bayang-bayang."

"Sekarang aku ini jadi apa?" tanya Si Dali yang bayang- bayang.

"Mendingan dari aku yang jadi manusia palsu." kata ba yang-bayang yang jadi Si Dali.

Si Dali yang perjalanan hidup pernah gemerlapan begitu terpana dan terus terpana entah sampai apabila dan hingga kemana.

10 November 1999
Download cerpen ini KLIK di sini

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook