Sunday, January 10, 2010

Analisis Cerpen Anak Ibu Reda Gaudiamo

DOMINASI IBU TERHADAP ANAK DALAM CERPEN “ANAK IBU”

Ketidakadilan gender sebagai akibat sosiokultural cenderung memihak maskulinitas yang menyeret perempuan sebagai korban. Ketidakadilan gender yang justru dikukuhkan oleh seorang perempuan (ibu) yang berpikiran tradisional di dalam cerpen “Anak Ibu” digambarkan secara gamblang. Sebagai akibatnya, seorang perempuan (anak) yang berpendidikan tinggi dan berpikiran moderat pun tidak mampu melawan ibunya yang dalam cerpen ini mewakili pandangan ideologi gender yang mennjunjung supremasi laki-laki sebagai pihak yang mendominasi.


1. Pendahuluan

Kompas adalah surat kabar yang secara konsisten memuat rubrik sastra, seperti kritik dan karya sastra (cerpen, cerbung, dan sajak). Salah satu karya kreatif yang dipublikasikan Kompas Minggu pada tanggal 6 Agustus 2006 adalah sebuah cerpen yang berjudul “Anak Ibu” karya Reda Gaudarmo. Cerpen ini cukup menarik dalam segi temanya, yaitu penggambaran sosok seorang ibu yang menguasai anaknya. Tema tersebut terwujud atau terimplementasikan dalam struktur cerpen, seperti dalam alur cerita yang tersusun dari awal sampai dengan akhir.

Cerpen “Anak Ibu” dari awal hingga akhir dinarasikan dalam dialog antara ibu dan anak. Cerpen ini pada dasarnya berkisah tentang seorang ibu yang terlalu dominan dalam perjalanan hidup si anak atau dengan kata lain, si anak telah kehilangan haknya untuk menentukan sendiri corak kehidupan yang bakal dijalaninya karena intervensi orang tua yang terlalu berlebihan.

Padahal, seorang anak selayaknya bebas menentukan nasibnya, terutama apabila si anak sudah dipandang “dewasa”. Sesungguhnya, dalam hubungan ibu dan anak, sebagaimana yang terungkap dalam larik-larik sajak Kahlil Gibran yang berbicara tentang hakikat hubungan orang tua—anak, seorang anak diibaratkan sebagai anak panah yang lepas dari busurnya. Busur panah itu sendiri merupakan representasi orang tua. Jadi, meskipun secara biologis dan genetis seorang anak berasal atau lahir dari rahim seorang ibu, sang ibu pada hakikatnya bukanlah pemilik si anak itu. Si anak tetap saja titipan Ilahi.

Dominasi ibu terhadap anak perempuannya dalam cerpen “Anak Ibu” karya Reda Gaudarmo ini di sisi lain, sesungguhnya merefleksikan ideologi gender, suatu pandangan yang menempatkan perempuan sebagai sobordinasi laki-laki. Kondisi ini berangkat dari pembagian tugas antara perempuan dan laki-laki. Konsep gender dengan pembagian tugas yang berbeda antara perempuan dan laki-laki dan yang menempatkan perempuan di belakang terbentuk dan bekerja dalam masyarakat yang berlangsung selama berabad-abad. Akibatnya, ideologi gender oleh sebagian orang dipandang sesuatu yang wajar dan tidak perlu diganggu-gugat.

Budianta (1998) menyatakan bahwa secara umum gender dapat didefinisikan sebagai pembedaan-pembedaan yang bersifat sosial yang dikenakan atas pembedaan=pembedaan biologis atau pembedaan yang tampak antara jenis kelamin. Dalam konsep ini jelas dibedakan antara yang bersifat alami, yakni pembedaan biologis, dan yang bersifat sosial. Bahwa perempuan mempunyai rahim dan laki-laki mempunyai penis, misalnya , adalah sesuatu kenyataan biologis, tetapi bahwa perempuan hanya memakai rok, berdandan, dan menghabiskan sebagian waktunya di ruang domestik, sedangkan pria di ruang publik adalah suatu norma sosial yang terbentuk oleh kondisi budaya dan masyarakat tertentu.

Dengan demikian, satu prinsip dasar dalam konsep gender, menurut Budianta, adalah antideterminisme biologis, keterkaitan, dan multidimensi. Persfektif antideterminisme biologis tidak serta-merta menentukan perbedaan sikap, sifat, dan perilaku. Seorang perempuan berlaku lemah lembut dan bertutur kata manis bukan karena secara biologis ia berkelamin wanita, melainkan karena norma-norma masyarakat dan budayanya mengondisikan untuk berperilaku demikian.

Istilah gender juga mengacu pada hubungan yang relasional. Artinya ialah gagasan tentang pria atau maskulinitas tidak bisa dipisahkan dari gagasan tentang perempuan atau feminitas. Pendekatan yang berwawasan gender dengan demikian mengoreksi kecenderungan sementara kaum feminis yang memfokuskan perhatian pada perempuan saja. Pendekatan ini dianggap keliru karena identitas kategori (termasuk jenis kelamin) berpijak pada hubungan relasional dengan kelompok yang ada dalam kategori itu, hitam, misalnya, tidak dapat dipahami tanpa merah, putih, atau kuning.

Dalam kaitan dengan pembentukan gagasan-gagasan tentang gender inilah sastra memainkan peranan penting. Sastra sebagai bagian dari praktik sosial dan identitas sosial dalam masyarakat ikut menyusun, menggugat, dan mengubah ideologi yang berkaitan dengan gender. Melalui karya sastra dapat diketahui bagaimana skenario representasi menyusun, mengukuhkan, dan sekaligus menggugat ideologi gender yang ada.

Untuk memahami praktik ideologi gender dalam cerpen “Anak Ibu” karya Reda Gaudarmo yang diungkapkan lewat dominasi sang ibu terhadap kehidupan si anak yang menyebabkan anak menjadi bayang-bayang ibu, selanjutnya akan dikupas secara detail di bagian berikut.

2. Anak yang Menjadi Bayang-Bayang Ibu

Seorang bayi yang baru lahir pertama-tama secara kodrati dan alami pasti membutuhkan air susu ibunya. Setelah itu, masih ada fase-fase tertentu yang masih harus dilewati hingga seorang anak manusia benar-benar mandiri, lepas dari perawatan dan perlindungan kedua orang tuanya, atau dengan kata lain si anak menjadi anak panah yang lepas dari busurnya (sebagaimana dinyatakan dalam larik-larik sajak Kahlil Gibran). Meskipun telah merawat dan membesarkan anaknya, seorang ibu tidak mungkin memiliki anaknya secara mutlak karena setiap manusia itu pada dasarnya merupakan individu yang merdeka. Jadi, dapat dikatakan bahwa seorang ibu sesungguhnya hanya memfasilitasi seorang anak untuk memasuki kehidupan lebih lanjut, tetapi tidak berhak untuk terlalu mengintervensi kehidupan si anak itu sendiri.

Namun, larik-larik sajak Kahlil Gibran yang menyamakan hubungan ibu dan anak dengan busur dan anak panah tersebut tidak berlaku dalam cerpen Reda Gaudiarmo “Anak Ibu”. Cerpen “Anak Ibu” karya Reda Gaudiamo ini terdiri atas lima bagian dan masing-masing bagian diberi penanda angka tahun, yakni 1978, 1983, 1994, 2002, dan 2006 sehingga membayangkan fase-fase perkembangan kehidupan tokoh anak dalam cerpen ini yang senantiasa diintervensi dan didominasi oleh tokoh ibu. Berikut sebuah penggalan cerpen “Anak Ibu” yang menggambarkan hal itu.

“Lima setengah, Bu.”
“Lima setengah ya lima!”
“Tapi bisa jadi enam, Bu.”
“Siapa bilang? Kalau lima koma delapan atau sembilan bisa dibulatkan ke atas. Tapi lima setengah, tetap lima! Lima!”
“…”
“Ulangan yang lalu, empat. Sekarang lima setengah. Berapa angka matematikamu di raport nanti? Mengkhawatirkan sekali ini!”
“…”
“Ibu sedih. Karena Ibu tahu, sebetulnya kamu bisa dapat lebih dari ini. Delapan, sembilan, juga bisa! Masalahnya cuma satu: kamu malas belajar. Kalau tidak dikejar-kejar, dimarahi, tidak belajar!”
“…”
“Jaman sekolah dulu, nilai berhitung Ibu tidak pernah kurang dari delapan. Ibu tidak minta kamu dapat delapan. Tujuh saja sudah cukup. Tidak lebih. Ini buat kebaikan kamu! Heran, apa susahnya dapat tujuh? Apa?”
“…” (Kompas, 2006)

Bagian awal cerpen “Anak Ibu” yang terbaca dalam kutipan itu memperlihatkan bagaimana si ibu memaksa anaknya untuk berprestasi di sekolah. Si anak masih merupakan anak panah yang belum lepas dari busurnya karena orang tua yang selalu mengkhawatirkan perkembangan si anak dan kemudian mengurungnya dengan sejumlah kriteria baik-buruk dari sudut pandang orang tua. Oleh arena itu, pada akhirnya si anak tidak akan pernah menjadi dirinya sendiri. Ia hanya menjadi bayang-bayang ibunya.

Cukup banyak orang tua yang tanpa sadar telah mencetak seorang anak menjadi sekadar bayang-bayang dirinya dengan mengabaikan kemampuan dan keinginan si anak itu sendiri. Misalnya ialah karena ingin anaknya berprestasi luar biasa, orang tua mengikutkan anaknya dalam berbagai les dan kursus sehingga akhirnya si anak kehilangan waktu untuk bermain, kehilangan masa kanak-kanak atau kehilangan masa remajanya, sesuatu yang sebetulnya kurang sehat bagi perkembangan kepribadian si anak itu sendiri.

Tokoh anak dalam cerpen “Anak Ibu” sesungguhnya hanya sekadar bayang-bayang diri sang ibu. Pada waktu si anak masih duduk di bangku SMA, ia terpaksa masuk jurusan IPA sesuai dengan keinginan ibunya. Kemudian, ia melanjutkan ke fakultas kedokteran sesuai dengan keinginan ibunya pula. Demikian pula dengan pekerjaannya. Sebagai dokter baru, tokoh anak harus mengabdikan diri di daerah terpencil. Namun, hal itu ditentang habis-habisan oleh ibunya. Ia pun terpaksa membatalkan keinginannya untuk membuka praktik di perkampungan nelayan karena ibunya menginginkannya membuka klinik spesialis yang pasiennya berasal dari kelas atas. Singkatnya, si anak–yang kebetulan perempuan hanya menjadi “pelaksana” dari cita-cita dan keinginan sang ibu. Untuk memperlihatkan betapa si anak hanya tunduk pada keinginan ibunya, akan dikutipkan penggalannya berikut .

“Tobat! Tobat!”
“Ibu tidak setuju?”
“Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau mendarat di kampung nelayan? Kapan kayanya kamu?”
“Kaya?”
“Ya, kaya. Banyak duit! Hidup senang! Seperti Pakde-mu itu! Dokter spesialis kulit, langganannya ibu-ibu cantik dan kuaya ruaya!”
“Aku tidak suka yang model begitu, Bu.”
“Kamu itu kenapa ya, kok bisa-bisanya mirip dengan bapakmu yang sok sosial itu. Begitu sial betulan, teriak-teriak. minta tolong sama Ibu!”
“Dulu, Ibu bilang di rumah ini harus ada dokter. Sekarang aku sudah jadi dokter, mau mengabdikan ilmu, Ibu larang …”
“Pintar omong kamu. Kalau tahu bakal selancar ini omonganmu, lebih baik aku biarkan kamu di rumah. Buta huruf. Tidak usah sekolah. Tidak usah jadi dokter. Buang uang. Buang waktu. Percuma.”
“Ibu hanya ingin kamu bahagia.”
“…”
“Supaya bahagia, dengarkan ibu. Kamu kan tahu Ibu tidak minta macam-macam. Ibu cuma tidak ingin kamu praktek di kampung itu. Sayang betul, sudah sekolah mahal-mahal, lama-lama, eh tenyata cuma buat mengobati orang-orang yang tidak bisa bayar kamu. Sayang! Bukalah praktek yang normal, yang beres, yang menghasilkan. Seperti dokter-dokter lain itu, lho. Sudah. Tidak macam-macam. Apa susahnya? Tidak ada! Malah bisa bahagia kamu nanti! Banyak uang!” (Kompas, 2006)

Menarik untuk disimak dalam dialog antara si anak dan ibu yang terbaca di atas, yakni ketika si anak melontarkan pernyataan “Dulu, Ibu bilang di rumah ini harus ada dokter. Sekarang aku sudah jadi dokter, mau mengabdikan ilmu, Ibu larang …”, yang kemudian ditimpali ibunya dengan pernyataan“Pintar omong kamu. Kalau tahu bakal selancar ini omonganmu, lebih baik aku biarkan kamu di rumah. Buta huruf. Tidak usah sekolah. Tidak usah jadi dokter. Buang uang. Buang waktu. Percuma.” Pernyataan sang ibu itu mengimplikasikan bahwa sang ibu bersedia menyekolahkan anaknya hingga jadi dokter, tetapi dengan syarat si anak harus mau menuruti keinginan dan kemauan ibunya hingga kapan pun.

Patut diperhatikan pula tokoh si anak dalam cerpen “Anak Ibu” adalah seorang perempuan. Dari sisi kesetaraan gender, pernyataan sang ibu jadi menarik, terlebih-lebih jika disimak berdasarkan kronologi waktu. Implikasi lebih lanjut yang bisa kita petik ialah meskipun dari tahun ke tahun semakin banyak perempuan yang berpeluang menikmati pendidikan, tetapi itu tidak berarti makin banyak pula perempuan yang bisa melepaskan diri dari kungkungan dan penindasan gender, sebagaimana diperlihatkan oleh cerpen “Anak Ibu”. Situasi sosiokultural yang cenderung berpihak pada maskulinitas pada akhirnya akan menyeret perempuan sebagai korban ketimpangan gender, sebagaimana dipaparkan pada bagian akhir cerpen “Anak Ibu” yang akan dikutipkan berikut ini

“Tidak pulang? Tugas luar?”
“Ya, tugas di rumah perempuan lain. Buka cabang baru.”
“Aduh, Gusti!”
“Tidak apa-apa, Bu. Kami akan pisah baik-baik.”
“Jangan! Jangan pisah! Itu sakit musiman laki-laki. Biasa! Bapakmu begitu juga. Pakde Mursid, Paklikmu, Herry … hampir semua laki-laki di dunia suka main sana-sini. Itu biasa. Biasa sekali!”
“Maksud Ibu, aku harus tetap bertahan dengan kesukaannya main sana-sini itu?”
“Ya! Karena di situlah letak kekuatanmu sebagai istri! Kamu musti belajar menderita. Belajar bertahan! Kuat! Lihat, ibumu ini. Kuat! Ibu bisa. Bapak boleh ke mana-mana, Ibu tetap di sini ….”
“Tapi Bapak tidak pernah kembali.”
“Itu bukan urusan Ibu. Yang penting Ibu di sini. Terus di sini. Bersama kamu dan adik-adikmu.”
“Tapi aku bukan Ibu.”
“Tapi kamu musti seperti aku. Mesti.”
“Aku tidak bisa, Bu.”
“Kuat sampai tua. Sampai mati.”
“Bu …”
“Kamu harus bisa. Ini bukan buat Ibu. Ini buat kebaikan kamu sendiri. Tidak baik melepaskan diri dari suami. Aib itu.”
“Ibumu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin kamu bertahan. Demi Ibu. Kau ini anak Ibu. Kau pasti tidak ingin Ibu jadi sedih dan malu karena keputusanmu itu, kan? Sudah, cuma itu. Ibu ndak minta macam-macam … Apa susahnya? Apa?” (Kompas, 2006)

Bagian akhir cerpen itu mengimplikasikan bahwa perempuan dalam pandangan sang ibu harus berperilaku dan bersikap seperti dirinya dalam menghadapi “ulah” suami yang suka “main sana-sini”. Perempuan harus bertahan, bersabar, dan berkuat diri meskipun suaminya pergi ke mana-mana dengan perempuan lain, sebagaimana yang diperlihatkan oleh dirinya dan saudara-saudara perempuan lainnya. Perbuatan laki-laki seperti yang dilakukan oleh suami sang ibu dan anaknya itu di mata sang ibu hanyalah suatu penyakit musiman laki-laki yang tidak perlu dirisaukan. Namun, tokoh anak yang berpikiran moderat tidak dapat menerima pandangan ibunya. Meskipun berontak dan berusaha melawan ibunya tetap saja tokoh anak tidak mampu menaklukkan pandangan ibunya karena tokoh ibu yang merupakan produk tradisional dengan latar belakang kekuatan ideologi gender yang telah berurat- berakar tidak mudah dirobohkan dalam sekejap. Dengan demikian, lingkungan atau sosiokultural yang berpihak pada maskuliinitas tetap saja menyeret perempuan sebagai korban ketidakadilan gender.

3. Simpulan

Pemaparan singkat dalam subbabagian “Anak yang Menjadi Bayang-Bayang Ibu” dalam cerpen Reda Gaudiamo “Anak Ibu” secara tegas mengimplikasikan sosok seorang anak yang kepribadiannya tersita dan terjajah oleh dominasi sang ibu. Cerpen ini sekaligus juga memaparkan masalah ketimpangan gender, sebagaimana terungkap dalam penggalan bagian akhir cerpen yang telah dikutipkan. Biarpun sang suami selingkuh dengan perempuan lain, si anak oleh ibunya “diwajibkan” untuk tabah dan menerima saja kenyataan itu. Hal itu sesungguhnya merupakan “kewajiban” yang mengungkung perempuan dalam suatu ketimpangan gender. Namun, di sisi lain cerpen ini juga merefleksikan pandangan sosiokultural yang “mewajibkan” seorang istri untuk tabah dalam menghadapi tingkah dan ulah suami yang bagaimanapun.

Daftar Pustaka

Budianta, Melani. 1998. “Sastra dan Ideologi Gender”. Jakarta: HorisonXXXII/4.

Djajanegara, Soenarjati. 2003. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Fakih, Mansoer. 1996. Menggeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gaudiarmo, Reda. 2006. “Anak Ibu”. Jakarta: Kompas Minggu, 6 Agustus 2006.

Gibran, Kahlil. 2009. Syair-Syair Cinta: Sajak-Sajak Kahlil Gibran. Yogyakarta: Narasi.

Yeni Mulyani Supriatin

Download tulisan ini KLIK di sini

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook