Sunday, February 21, 2010

Contoh Analisis / Kritik Novel


Pabrik: Konflik Antara Buruh dan Majikan


Novel ini menceritakan kehidupan dalam sebuah pabrik. Pabrik yang didirikan di tanah bekas sebuah perkampungan yang terbakar itu dipimpin Tirtoatmojo. Bekas penghuni perkampungan tersebut dibujuk untuk pindah ke dekat kompleks pelacuran denganjanji diberi saham. Merekajuga ditampung sebagai buruh biasa.

Akan tetapi, Tirto ternyata belum memenuhijanjinya. Lagi pula kesejahteraan para karyawan sangatjelek. Hal tersebut menyebabkan buruh-buruh tidak puas sehingga Dringgo kalap dan membakar pabrik. Api dapat dikuasai, Dringgo masuk penjara. Sementara itu, pimpinan pabrik diganti Joni - anak tiri Tirto yang pernah diusir - karena sesudah peristiwa kebakaran, kesehatan Tirto sangat mundur.

Mula-mula keadaan pabrik agak membaik sesudah pergantian pimpinan. Namun, kemudian ternyata justru lebih parah. Sesudah kematian Tirto, Joni mengumpulkan orang-orangyang dapat dipercaya, dan menjelaskan bahwa berdasarkan wasiat ayahnya ia akan membagi saham. Di samping itu, ia akan merawat Maret yang bisu kalau benar Maret adalah anak Tirto dengan saudara kandungnya. Juga ia akan mengajak Susi yang dahulu pemah menggantikan kedudukan ibu Joni yang meninggal, untuk tinggal serumah. Sayang sebelum semua itu terlaksana, pabrik habis dimakan api.

Pada dasarnya, struktur Pabrik masih menggunakan struktur sastra realis, tetapi memiliki beberapa penyimpangan. Dari segi alur, susunan peristiwanya tidak mengikuti pola: awal, tikaian, gawatan, puncak, leraian, dan akhir, melainkan berakhir pada "puncak". Selain itu, pada bagian "tikaian" mengalami perulangan, yaitu tikaian pada masa pabrik dipimpin Tirto dan Joni. Jenis tikaiannya pun sama: masalah pemimpin pabrik yang kurang memperhatikan kesejahteraan karyawan.

Sesudah pabrik dipimpin Joni memang tampak ada pengendoran sedikit, atau bahkan barangkali pembaca menduga "leraian", tetapi sebenamya ada ketegangan terselubung. Sebab meskipun pendapatan karyawan bertambah baik, pendapatan tersebut temyata mengalir ke perjudian dan pelacuran. Selain itu, Joni ternyata lebih keras bertindak dibanding Tirto, meskipun semua dilakukan dengan lemah lembut. Munculnya peraturan-peraturan yang menggiring karyawan pada keadaan yang lebih genting membuat "gawatan" yang sudah bermula sejak pabrik dipimpin Tirtoatmojo semakin menggawat lagi. Masalah-masalah terpendam yang dahulu dicetuskan dengan berani oleh Dringgo, tidak ikut terpendam dengan dimasukkannya Dringgo ke dalam penjara karena membakar pabrik. Sebab semangat Dringgo mengalir kepada Robin, Eko, dan Zubaedi. Ditambah dendam orang-orang yang tersingkir, yaitu Paman - orang kepercayaan Tirto - yang bukan saja tersingkir tetapi juga sempat ditahan untuk masalah pencurian surat-surat penting. Dalam keadaan mabok, ia termakan hasutan orang-orang yang mempermainkannya, sehingga ia menantang Joni dengan membawa granat. Pembaca pasti menyangka bahwa peristiwa tersebutlah yang membawa alur ke "puncak". Akan tetapi, dugaan pembaca lagi-lagi keliru karena tiba-tiba ketegangan di rumah Joni-lah yang siap membawa ke "puncak" peristiwa: pabrik itu dimakan api.

Kemusnahan pabrik itu justru terjadi ketika Joni sudah membuka rahasia keluarga dan bermaksud memperbaiki semuanya: saham yang akan segera dibagi bulan berikutnya, dan juga kesanggupannya untuk mengajak saudara tirinya - yaitu Maret, dan ibu tirinya - yaitu Susi yang kurang waras - untuk hidup bersama-sama dalam rumah peninggalan almarhum ayah tirinya. Dengan demikian, akhir yang akan bahagia itu tiba-tiba secara tak terduga dihancurkan dengan kebakaran pabrik itu. Bayangan happy end diputar menjadi tragedi.

Akhir yang tak terduga itu merupakan salah satu keunggulan pengaluran. Juga pencerita yang diciptakan oleh pengarang pandai menjaga kerahasiaan cerita dengan cara yang lebih kaya dan tak terduga, menunjukkan keunggulan teknik menampilkan alur. Disamping masih tersimpan tanda tanya di hati pembaca: siapakah yang membakar pabrik itu?

Untuk merunut hal tersebut tidak terlalu sulit kalau diikuti jalur Dringgo yang selalu ingin menyelesaikan masalah dengan membakar pabrik. Apalagi ia juga telah melakukan hal itu sebelumnya, yang mengakibatkan proses pergantian pimpinan dipercepat karena Tirtoatmojo sangat terpukul dan kemudian sakit berat. Maka ketika Dringgo dilepas dari penjara tetapi sadar bahwa ia diperlakukan sebagai umpan untuk menangkap pencuri yang mencuri surat-surat penting dari rumah Tirto, disusul dengan terpukulnya atas meninggalnya anaknya karena pimpinan pabrik tidak mau tahu, ia kalap. Sebab ia sama sekali tidak terlibat dalam pencurian itu. Lebih-lebih ketika Robin secara tak sengaja memanasi dengan mengatakan bahwa Joni menuduh Dringgo lari, maka Dringgo berkata,

"Baik, itu berarti menantang aku," jawab Dringgo. Ia duduk di samping anaknya lama-lama. Kemudian ia berdiri hendak pergi. Waktu Robin hendak menyusulnya ia mencegah. "Kaujangan ikut. Biar aku saja yang masuk penjara. Kau bisa tolong mengurus biniku"
(Pabrik, 1975:113)

Keunggulan teknik penampilan alur tersebut erat kaitannya dengan penokohan. Kerahasiaan tokoh-tokoh yang kelihatannya tidak berarti, yaitu tokoh Maret yang bisu dan dikenal sebagai orang hanyut, disimpan hingga akhir cerita. Demikian pula ketulusan tokoh setengah gila seperti Susi, dan hubungan Jegug - yang bertubuh raksasa dan juga bisu - dengan Maret. Temyata Maret adalah anak Tirto dengan saudara kandungnya sendiri yang kemudian dititipkan kepada orang bisu bemama Jegug. Ibu Maret sendiri meninggal karena tidak kuat menanggung malu.

Dengan demikian, dalam novel ini sudah dimunculkan masalah incest, dan tampaknya juga masalah kompleks Oidipus, yaitu hubungan Maret dengan Jegug. Meskipun bukan sebagai masalah pokok, tetapi hal tersebut semakin menunjukkan keruwetan latar belakang sang pemimpin pabrik, Tirtoatmojo, ditambah oleh kenyataan bahwa ia keturunan Cina, lebih-lebih dengan nama aslinya: Robert Lee. Lee menunjukkan nama keluarga Cina, sedang Robert mungkin saja menunjuk pada nama Kristiani. Akan tetapi, dilihat dari kata-kata yang biasa ia gunakan, seperti ikke, vaarwel, God verdom, nama Robert lebih menunjuk bahwa ia mempunyai darah Barat. Penggunaan struktur kalimat ketika ia berbicara sekaligus menunjukkan bahwa ia mempunyai darah Cina. Misalnya,

"Kenapa ikke bikin pabrik? Kenapa ikke bikin susah banyak orang? Kenapa ikke tidak peduli janji-janji? Kenapa ikke usir banyak orang? Kenapa ikke.......tanya tanya terus-menerus. Ikke jadi marah. Mana dia orang punya mata, mana dia orang punya telinga. Ikke tidak suka omong besar. Ikke mau kerja. Apa anak negeri ini tidak boleh jadi tuan besar? Apa kita orang mesti terus ngemis dan hidup satu gobang satu hari? Kita mau bikin mewah kita punya negeri sendiri. Tapi mereka algojo. Mereka mau bakar ini pabrik ... apa yang ikke cita-citakan bertahun-tahun mau mereka makan satu hari."
(Pabrik, 1975: 40)

Pencerita sendiri menyatakan bahwa berdasarkan tanda-tanda tubuhnya, Tirtoatmojo merupakan campuran macam-macam keturunan (h. 33).

Bagaimana dengan tokoh-tokoh yang kelihatannya kurang beres, yaitu Susi dan Maret? Oleh pencerita, Susi diibaratkan "beras yang tercecer dari karung yang dilarikan truk" (h. 39). la tidak tahan menerima kenyataan itu, sehingga menjadi agak kurang beres. Kepahitan hatinya terungkap dalam keluhannya yang ibarat menunggu Godot.

Terus terang saja, aku sudah tua, benar. Ke mana harus kutawarkan bangkai ini. Lihat tangan ini, sudah kendor semua. Kalau terlampau lama berdiri mataku berkunang-kunang. Katakan saja terus terang, apa gunanya aku menunggu. Kalau memang ada, baiklah aku tunggu terus. Kalau tidak biar aku mati lebih dulu. Aku rela, meskipun aku tidak diacuhkan, padahal.......
(Pabrik, 1975: 38)

Meskipun ia selalu berceloteh tentang warisan, ketika Tirto sakit keras menjelang ajal, tampaklah ketulusan hatinya: ia ingin menengok Tirto bukan karena soal warisan, melainkan semata-mata karena kangen. Demikian pula meskipun ia setengah gila, naluri-naluri kemanusiaannya justru masih berkembang baik. Terbukti ia merawat Maret dengan tulus sebagai seorang ibu, dan berlaku sebagai ibu bagi pasangan Maret - Dargo yang bercinta.

Tentang Maret, sekaligus pencerita memang tampak tak pernah mengungkapkan "kehidupan dalam"-nya. Akan tetapi, sebenamya ia melakukannya sesuai dengan tingkat kemampuan batiniah Maret, dan hal tersebut merupakan teknik tersendiri bagi orang yang kemampuan rohaninya terbatas seperti Maret, sebab Maret lahir dari hubungan saudara sekandung, ditambah ia hidup dalam asuhan orang bisu. Namun, keterbatasan Maret justru membuat ia mencuat sebagai bunga yang sederhana, sehingga pencerita melukiskannya: cantik, bersahaja, memandang penuh kata (h. 74). Bahwa Maret dapat merasakan kepahitan hati, terungkap dalam lukisan fisik yang mencerminkan keadaan hatinya ketika ia berjalan sendiri dengan kandungannya yang tua ke luar kota.

...Mukanya pahit. la berjalan tak menoleh-noleh. Lurus ke depan. Langkahnya tetap dan pasti. Mulutnya tak henti-henti komat-kamit menggumamkan sesuatu. Dengan perut buncit dan rambut terurai, ia seperti dituntun oleh suatu suara yang tak didengar orang lain. Ke situ, ke sebuah tempat yang aman dan menyenangkan.
(Pabrik, 1975: 108)

Hubungan Maret dan ayah angkatnya tetap merupakan sebuah misteri, sebab bagaimana sebenarnya hubungan itu tidak pernah dibukakan sepenuhnya. Memang jelas bahwa Jegug yang memelihara Maret, tetapi perbuatan-perbuatan mereka di gardu menyarankan bahwa hubungan mereka bukan hanya sekadar ayah dan anak angkat, melainkan seperti yang diduga orang-orang: pacar. Dengan demikian, masalah kompleks Oidipus juga sudah mulai muncul dalam novel ini.

Berbeda dengan Bila Malam Bertambah Malam, latar tempat dalam Pabrik ini luput dicari, meskipun jelas bahwa pabrik itu berada di Indonesia. Sebab hadiah hari raya - yang maksudnya hari raya Idul Fitri – selalu tampil sebagai masalah hangat. Keluputan penangkapan latar dalam peta Indonesia itu menyarankan bahwa ia bisa berada di mana saja di Indonesia, bahkan di dunia. Itulah sebabnya pabrik itu juga tak pernah disebut pabrik apa, meskipun ada petunjuk "bagian pengepakan". Latar waktu yang juga luput ditangkap menyarankan bahwa peristiwa yang terjadi dalam novel ini dapat terjadi kapan saja.

Meskipun luput ditangkap di mana dan kapan terjadinya peristiwa, bukan berarti tidak ada sama sekali latar tempat dan waktu. Latar tempat itu mengacu khusus pada latar sosial manusia-manusia pabrik, sehingga yang paling sering tampil adalah kantin yang merupakan bagian penting dari pabrik. Dari kantin tersebut akan tercermin sifat-sifat pengunjungnya, yaitu orang-orang pabrik. Dari kantinlah pembaca mengenal karyawan pabrik yang suka berjudi, Paman yang suka mabok, Dargo penjaga kantin yang dilukiskan sebagai "anak kambing yang lucu dan jujur", bahkan sifat pimpinan pabrik itu sendiri, yaitu Tirto dan kemudian Joni. Dari kantin itulah bisa didengarkan denyut nadi pabrik.

Denyut lain yang lebih tegang dapat disaksikan di rumah Muginah - bagian pengepakan - karena di sanalah tempat mereka berkumpul untuk rapat. Di sanalah pembaca dapat mengenal Dringgo yang keras kata-katanya, tetapi benar, misalnya:

"Dengar!" teriaknya di tengah-tengah orang yang mulai ribut. "Ini sudah melewati batas. Bertahun-tahun kita percaya omongannya. Kita dijanjikan jaminan hidup, lihat sekarang! Kita mau dikubur!
Berapa banyak tunjangan Hari Raya itu kalau dilipatkan dibanding dengan pendapatan pabrik ini.
Dia maju terus, kita mau dikuburnya di sarang pelacuran itu! Dia sengaja membiarkan kita main judi, Paman dilepaskan supaya kita jadi penjudi, miskin dan selalu hutang. Kalau sudah hutang, kita akan lupa tanah ini kepunyaan kita, tanah ini kita sewakan kepadanya. Kita sudah lupa mengusut siapa yang sudah membakar kampung kita ini dulu. Banyak orang tahu dia ....
(Pabrik, 1975: 55)

Secara tidak langsung dapat pula diketahui keadaan tempat tinggal para buruh yang dekat dengan kompleks pelacuran. Maka lukisan ketika istri Dringgo sibuk mendiamkan tangis bayinya yang kelaparan, berdempetan pula dengan penyajian Tatang yang tidur dengan wantunas Ares. Bagaimana keberadaan mereka dalam kamar, sekaligus terwakili oleh penggambaran "Di sangkutan kawat di atas dipan, celana blue jeans Tatang berjuntai berpelukan dengan kutang Ares." (h. 29).

Situasi lain yang tampil dalam teknik penampilan latar adalah situasi hari hujan, hari mendung, yang tidak secara konvensional. Untuk menunjukkan hari hujan misalnya, ditandai dengan kucing hitam yang basah menyelinap masuk kantin, atau langit yang seakan sedang bertempur (h. 5). Alam yang cenderung dilukiskan basah karena hujan, tampaknya berkaitan erat dengan keadaan para tokoh, terutama para karyawan pabrik
yang nasibnya selalu tidak cerah.

Berbeda dengan Bila Malam Bertambah Malam, Tirto mengingkari wajahnya di cermin: ia tidak pernah memberikan kesempatan bagi superego-nya untuk berbicara. Ingatan-ingatannya pada masa lalunya sebenarnya adalah jembatan untuk pencarian diri, sehingga ia bisa mengambil tindakan yang layak, misalnya merawat Maret dan Susi. Kenyataannya, kalau ia melihat anak kandungnya sendiri dalam kantin, bukannya ia merasa kasihan dan berbuat sesuai dengan harkatnya sebagai manusia, melainkan mengumpat: "Bawa pigi itu orang. Sekarang! Cepat! God verdom ! (h. 33). Ucapan kasar tersebut menunjukkan bahwa ia ingin mengubur masa lalunya yang memalukan. la bahkan siap menghancurkan dirinya sendiri, kemuakan pada kejadian yang sudah terlanjur, tangisnya yang pahit, ia tenggelamkan ke dalam minuman keras.

Pengingkaran terhadap wajah di cermin juga tampak dalam sikapnya kepada Susi. Meskipun Susi dibuang, alam bawah sadamya menunjukkan bahwa sebenamya ia pun mencintai Susi. Terbukti secara tidak sengaja ia menyiulkan lagu yang baru saja dinyanyikan Susi. Pencerita pun melukiskan secara sangat tersirat dalam peristiwa ketika keduanya terjebak di tempat yang sama dalam kantin, dilukiskan bahwa "Kedua orang yang pemah hidup bersama itu seakan-akan sedang melewatkan saat-saat yang mesra." (h. 38).

Tirto luput mencari dirinya. Ia tidak cukup jantan untuk melakukan penambalan terhadap luka-lukanya di masa lalu. Tugas tersebut hanya dihibahkan kepada Joni dalam surat wasiatnya, agar Joni merawat Maret dan menerima Susi kalau Susi ingin tinggal di rumah keluarga untuk hari tuanya.

Joni juga luput mencari dirinya. Panggilan dirinya sebenarnya adalah menjadi penyair. Namun, kemudian ia melupakan panggilan itu dengan alasan sudah terlalu banyak penyair. Kalau bukan menjadi yang terbaik, ia memilih melupakan panggilannya. Hal tersebut menunjukkan keluputan pencarian diri, sebab ambisinya untuk berada di puncak mengalahkan nuraninya yang penyair.

Th. Sri Rahayu Prihatmi dalam
Karya-Karya Putu Wijaya: Perjalanan Pencarian Diri.

DOWNLOAD tulisan ini KLIK di sini

1 comments:

Otre. makcih ye, coz blog ini tugas bhs ndon gue kelar dah. tanks bangtez

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook