Friday, May 07, 2010

Proses Kreatif Iwan Simatupang

Penulis Sastra Garda Depan
Korrie Layun Rampan


Untuk mencapai hasil sastra garda depan (avant garde), sastrawan ini mendasarkan konsep kesusastraannya pada kesegaran penciptaan, keaslian, dan penggunaan fantasi yang berani. Pada dasarnya, setiap sastrawan yang jenius selalu memiliki aturan penciptaan secara individual. Seperti dikatakan Eric Newton, semakin kaya pengalaman seseorang dan semakin besar kemampuannya untuk berkontemplasi, maka semakin utuhlah perlengkapannya untuk mencerapi keindahan, itu berarti pula semakin baiklah selera seninya.

Proses kreatif Iwan Simatupang dapat dirunut dari sejumlah suratnya yang ditujukan kepada rekan-rekannya seperti H.B. Jassin, B. Soelarto, dan Utuy Tatang Sontani. Lewat surat itu tampak konsep sastranya sehingga melahirkan karya sastra yang mumpuni.

Dami N. Toda pernah merekonstruksi surat-surat kreatif Iwan Simatupang dalam esainya "Iwan Simatupang (1928-1970): Manusia Hotel Salak Kamar 52" (lihat Korrie Layun Rampan (editor), Iwan Simatupang Pembaharu Sastra Indonesia, 1985, h.150-163). Dijelaskannya bahwa ia ingin keluar dari mainstream penulisan novel "biasa" yang sudah dikenal sejak Angkatan Balai Pustaka hingga Angkatan 45. Untuk dapat keluar dari model penciptaan novel yang sudah ada, maka tugas utama pengarang adalah menciptakan tokoh utama (protagonis) yang kuat dan unik. Tokoh utama itu harus di luar model tokoh yang pernah diciptakan para sastrawan dunia seperti Albert Camus, Heinrich Boll, Gunther Grass, Nathalie Sarraute, dan Simone de Beavoir. Bahkan tidak juga mengambil wujud dan karakter tokoh-tokoh tipikal semacam Martin Luther King atau John Kennedy. Dengan model tokoh yang unik itu maka harus ditentukan latar cerita yang mencerminkan wajah Asia dengan kekhasan latar dan tokoh manusia Indonesia. Dalam suratnya yang ditujukan kepada H.B. Jassin (tertanggal 7 September 1968) Iwan mengatakan bahwa makna-makna yang hendak ditonjolkannya harus mendapatkan pengertian baru, seperti makna kepahlawanan, pengkhianatan, pengorbanan, dan sebagainya. "Novel," tulisnya, "bukan saja mampu menyediakan tempat terhormat bagi tipe-tipe tokoh revolusi Indonesia, tokoh Hukbalahap di Filipina, tokoh-tokoh pembebasan Asia lainnya (seperti Ho Chi Minh, Mau Tse Tung, Kim II Sung), tetapi juga tokoh-tokoh seperti Kartosuwirjo, Soumokil, gembong Papua Merdeka, PGRS di Kalimantan Barat, dan juga tokoh-tokoh G30S/PKI."

Masih mengenai tokoh ini, dalam suratnya tertanggal 21 Oktober 1968 (yang ditujukan kepada H.B. Jassin) dikatakannya bahwa, "Tokoh harus ada pada posisi sosial di mana secara paling sadar dan fitriah terlibat di dalam semua unsur, gerak, dan arah kehidupan ini. Tokoh yang menghayati kasus umat manusia dari kurun kita. Berpijak semampu mungkin di semua kehidupan ini, yang mobilitas sosialnya paling maksirnum. Memiliki kondisi fisik dan spiritual paling optimum untuk mencernakan semua perasaan, pikiran, cita-cita, serta bening dan efisien, dan ini semua dapatdikomunikasikannya kepada umat manusia lainnya. Tokoh yang mempunyai posisi paling strategis, di mana dia dapat memenuhi misinya secara optimum."

Untuk mencapai pembaruan tentang penokohan, acuannya tidak lagi seperti apa yang dilakukan Proust, Kafka, atau Strindberg. Bukan perasaan mual, iseng, sepi, atau lengang yang harus disandang tokoh-tokoh itu, karena revolusi bukanlah sesuatu yang aktual. Pembunuhan atau khianat tidak mampu menjadi pusat pengisahan, bahkan seks bukanlah hal yang tabu diungkapkan. Dalam suratnya tertanggal 21 Oktober 1968 yang ditujukan kepada H.B. Jassin, Iwan mengatakan bahwa tokoh yang paling tepat menyandang sebuah kriteria yang dimaksudkannya adalah gelandangan. Mengapa? Karena, "Manusia gelandangan memiliki posisi dan status manusia terbuka... mereka tidak mengenal determinisme-determinisme. Makhluk dengan kemungkinan pilihantakterbatas. Manusia yang mengarah ke sebanyak mungkin penjuru. Sedangkan tugas novel masa depan adalah menemukan tipe-tipe tokoh demikian, yang bagai roket siap ditembakkan ke angkasa luar."

Dalam esainya yang brilian "T dari Tanggung Jawab" (Sastra, November 1961) Iwan menekankan pentingnya resepsi dalam apresiasi sastra. Dalam hubungan itu maka proses kreatif pengarang akan mudah dipahami pembaca karena partisipasi pembaca di dalam pemahaman teks sama kuatnya dengan proses kreatif pengarang.  Khusus dalam hubungan proses kreatif penulisan cerpen, Iwan Simatupang menjelaskan bahwa dalam sastra modern, perhatian terutama diberikan kepada apa yang disebut ekonomi daripada sugesti ini. Kesadaran manusia modern, terutama sejak Perang Dunia ke-2, banyak sekali beroleh tambahan pengalaman rohani dan jasmani. Hal ini menimbulkan konflik-konflik dan ketegangan-ketegangan baru yang meminta bentuk-bentuk dan cara-cara baru pula untuk dapat diungkapkan kembali ke dalam sastra. Prosede yang dihadapi pengarang, menurut Iwan, adalah: (1) mengalami sendiri seluruh peristiwa itu sebanyak, seintens, dan sesaksama mungkin; (2) mendramatisasi kembali pengalaman-pengalamannya itu; (3) mensublimasikannya, kemudian menuangkannya kembali dalam sastra sedemikian rupa, sehingga tiap kali dia berkonfrontasi dengan dirinya sendiri dalam cerpen itu, dia mengalami pengalaman baru tersendiri. Inilah cerpen modern. Cerita pendek yang sudah jadi otonom dari, dan terhadap, pengarangnya sendiri, dan oleh sebab itu berhak pula punya hidup dan buminya sendiri pula. Oleh sebab itu, dia juga mengalami evolusi sendiri.

Inilah model penciptaan sastra Iwan Simatupang yang dikatakannya sebagai novel masa depan yang tidak mengandung tema da'; tidak memiliki tokoh hero, juga meninggalkan kesan moralitas. Di dalam karya sastra semacam itu tampak manusia mempertaruhkan dirinya sebagai nilai terakhiryang perlu diuji keampuhannya dalam suatu keadaan baru, yakni keadaan tepi terakhir kemanusiaan sendiri. Dengan kata lain, dari karya-karyanya itu muncullah kesunyian dari kerinduan-kerinduan manusia akan nilai-nilai keabadian dari kebenaran (tanpa kepalsuan), hidup (tanpa kematian), cinta (tanpa kebencian), keabadian dari kesetiaan dan kebahagiaan, kerinduan memahami manusia dan kemanusiaan.

Dalam kondensasi terhadap keempat novel Iwan Simatupang, Dami N. Toda menyebutkan bahwa novel-novel Iwan Simatupang ditandai dengan satu tema pokok yang sama, yakni kegelandangan. Suatu kegelandangan yang harus, karena ia merupakan suatu kesadaran hakikat manusia yang tiada pilihan lain. Eksistensial! Kegelandangan itu bukan dalam cita-raya material, tetapi mendukung bersusun-susun pertanyaan/renungan tentang kesunyian hdup ini. Kesunyian mempertanyakan tujuan hidupnya sndiri, sesudah sempat jadi pahlawan, sementara membela tanah air engan menghalalkan pembunuhan manusia lain, dan melaksanakan tuntutan naluri biologis yang jujur dari manusia (Merahnya Merah). Kesunyian manusia, setelah kematian menyusup ke jantung kehidupan, merobek dan menguburkan segala kegairahan untuk hidup menurut akal budi dan jadwal-jadwal rencana kehidupan yang bahagia. Perobekan dan penguburan itu tanpa persetujuan manusia terlebih dahulu, tanpa upacara (Ziarah). Kesunyian manusia menghadapi segala kesibukan rutin, menggumuli rencana-rencana kesejahteraan sosial untuk kecukupan sandang pangan, yang dihapus secara sekali pupus saja oleh kemutlakan hukum alam yang tak terpegang upaya dan rencana kerja manusia (Kering). Kesunyian manusia mempertanyakan tujuan pembangunan desa, makna kebebasan, makna keisengan, dan semua yang tampak hanya irasionalisme belaka (Koooong).

Konsep dan isi semacam itu membuat Iwan Simatupang mendapat julukan sebagai penulis sastra garda depan Indonesia. Bukan hanya hadiah sastra nasional yang didapatnya dari Pemerintah Rl tahun 1970 atas karyanya itu, melainkan juga hadiah sastra ASEAN serta tanggapan yang meluas di berbagai kawasan (Australia, Eropa, Amerika). Sifat-sifat avant-garde itu tampak dari beberapa komponen penggunaan kata kerja atau komponen lainnya seperti yang dicatat Umar Junus dalam Mitos dan Komunikasi (1981: 63) di mana di dalam novel-novel Iwan Simatupang terdapat hal-hal khas (khususnya novel Kering) yang secara dimensional saling bertentangan seperti (a) pengacauan waktu: masa lampau, sekarang, dan masa depan bukan merupakan tiga hal yang terpisah, tetapi merupakan suatu kesatuan yang malah sukar dibedakan; (b) pengacauan dimensi: misalnya di antara realitas dan imajinasi, pembaca tidak pernah yakin adakah sedang berhadapan dengan realitas atau suatu imajinasi belaka. Orang tidak pernah yakin adakah tokohnya memang ada atau hanya ada dalam pikiran seorang tokoh lain; (c) tak ada sumber kekuasaan yang harus dipatuhi, karena seseorang sekaligus berkuasa dan tidak berkuasa. Ia berkuasa karena memang ada kekuasaan di tangannya. Ia tidak berkuasa karena ia tidak dapat melaksanakannyo; ia dikuasai pula oleh bermacam-macam tekanan dan kekuatan lainnya. Ia terpaksa menghadapi penghinaan, bahkan ia mungkin akan bunuh diri.

Tampaknya agak sukar mengikuti proses kreatif Iwan Simatupang yang dipaparkannya lewat surat maupun esai- esainya yang cemerlang. Akan tetapi jika sudah membaca novel, esai, cerpen, dan drama-dramanya, konsep kesusastraannya tampak jelas. Terasa bahwa Iwan Simatupang memang sastrawan jenius yang menghasilkan karya-karya sastra yang sangat inovatif dan inspiratif. ***

Sumber: Majalah Horison Edisi XI 2009 (Sisipan Kaki Langit 155/2009).

Download postingan ini KLIK di sini 


2 comments:

Pantas saja Iwan Simatupang disebut sastrawan kontemporer sekaligus filsuf. Karya-karya beliau sangat melampaui zamannya. Posting karya beliau yang lain dong

Iya tuh. Sayang usia Iwan Simatupang tidak panjang. Meski begitu, karya-karya Iwan (novel) lumayan banyak. Gaya eksistensialis sangat kental dalam karya-karyanya.
Coba deh jika ada bahan, nanti juga diposting. Tunggu saja dan rajin-rajin berkunjung :)

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook