Friday, June 18, 2010

Kritik Puisi Interlude Goenawan Mohamad

Interlude Goenawan Mohamad: Gejala Puisi Indonesia Modern?

Two roads diverged in a yellow wood
And sorry I could not travel both"
Robert Frost, The Road Not Taken

Alkisah, terdapat olok-olok untuk dunia puisi Indonesia modern. Tentu saja, paling tidak olok-olok demikian terhitung sejak Chairil Anwar, yang telah ramai-ramai kita pegang tengkuknya dan dijadikan tokoh tidak tergugat terhadap apa yang disebut sebagai tokoh puisi Indonesia modern.

Jika anda mencari puisi Indonesia modem — yang berbahasa Indonesia lengkap, penuh, jernih dan bersih, benar dan tanpa cacat — jangan Anda mencari pada puisi-puisi yang ditulis oleh para penyair Indonesia, tetapi harapkan Anda mencari puisi-puisi asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia; yang biasanya dikerjakan oleh sejumlah penyair Indonesia.

Karena, kita telah berdiri dengan kaki terpancang tegak di atas landasan realitas yang tidak tertolak.

Kita berdiri dan hidup di tengah iklan sebuah negeri Indonesia. Bentuk dan isi yang bernama megah — mungkin juga mewah — itu, terdiri dari dua unsur global: Dari ragam banyaknya kebudayaan daerah yang berserakan dari Sabang sampai Merauke dan dari ragam banyaknya kebudayaan asing yang masuk ke negeri kepulauan ini. Dan adonan dua kutub itu ramai-ramai menghidupi kita: etnik baru yang secara geografis ada di antara dua benua Asia dan Australia serta di antara lautan Pasifik dan India. Sekarang wajah kita tampak samar, namun pada gilirannya, tentu akan jelas juga. Kita berdiri pada sebuah posisi bagus: posisi keterlanjuran.

Di dalam posisi demikian, seyogyanya kita bangga. Kita tidak bisa lain kecuali menghadapi kenyataan itu. Manakala kita mengeluh dan menyayangkan, berarti kita kecewa dengan realitas yang terus berderap penuh gegap gempita. Tidak ada pilihan lain, apabila rasa bangga itu pun diharuskan. Kita pun dengan rasa sukarela akan menerima kebanggaan demikian. Kita telah meniscayakan diri dengan nasib untuk terlanjur— dengan rasa kecut atau masam — kemudian berbangga-bangga. Paling banter kita cuma bisa berkata: ya, apa boleh buat.

Dengan kata-kata yang seolah berkesan pragmatik demikian, kita bersedia untuk tidak menjadi ilusionis ulung. Kita pun meninggalkan impian siang bolong, untuk tidak menjadi steril. Selamanya memang, sterilitas dalam gelora hidup hanya ada dalam angan-angan. Arus besar yang bernama hidup terlanjur terus melanda usaha-usaha membangun impian demikian itu. Mungkin sebetulnya hanya kita enggan mengakui terjadinya proses adonan, yang disebabkan beberapa gambar hidup, antara lain:

a) Tidak segera merumuskan langkah karena kita memang kurang terlatih untuk merumuskan fenomena-fenomena yang ada, kurang terlatih bertindak menuruti disiplin diri atau disiplin hasil komitmen bersama.

b) Latar kebudayaan daerah rural dengan irama interaksi yang lamban, dengan pemeo tersohor sebagai "timeless" dan trauma warga jajahan kolonial ratusan tahun, yang melemahkan ketangkasan dan kepekaan kreatif, untuk bersikap dan berpendirian terbuka.

c) Pemudaran intensitas penghayatan pribadi, di tengah gosokan-gosokan proses urbanisasi yang beriarut- larut tapi belum juga terbentuk alternatif-alternatif baru yang sanggup mewadahi kebutuhan ekspresi manusia kontemporer di kota-kota.

d) Dengan demikian bahasa Indonesia yang dipercaya khalayak pemakainya sebagai alat komunikasi. wahana ekspresi artistik, dan penciptaan orientasi baru sebagai idiom kebudayaan Indonesia memerlukan pemapanan terus menerus.

Pola berpikir yang saling mempertentangkan secara tajam antara terminologi tradisional dan modern, hendaknya juga sebatas pada tata cara melihat dan mengamati, tata cara memilih jalan dan berekspresi, tata cara bersikap dan berpandangan, dan sebagainya tapi tidak berani untuk mematikan dan memusnahkan yang satu atau menghidupkan dan menyuburkan yang lain. Dengan demikian substansi-substansi karya budaya masing-masing tetap bisa bereksistensi, tanpa terhalau oleh tata cara berkebudayaan. Kalaulah terjadi degradasi di antara mereka sendiri, sumber proses tidak bermula dari para penyangga substansi-substansi karya budaya, tapi dari aktivitas-aktivitas di luarnya.

Kita pun tidak asing dengan usaha-usaha kalangan yang punya orientasi ke daerah-daerah yang menghidupkan potensi sub-budaya masing-masing sebagai bagian tak terpisah dari kesehariannya. Tidak juga mengganggap dia hanyalah sisa-sisa potensi masa lampau yang lambat atau cepat akan tamat tapi selalu hendak dihidup-hidupkan. Pada lain wajah kita pun menghargai dan menghormati kenyataan kontemporer yang menggapai-gapai potensi budaya kaum modernis dengan meraih sumber-sumber budaya asing, karena berbagai hasil dan proses yang tampak di permukaan dalam kehidupan modern juga hadir di depan mata. Pilihan-pilihan ke arah mana seorang hendak menambatkan diri dengan orientasi hidupnya, dengan demikian-memperoleh hak hidup wajar di bumi Indonesia.

Usaha menghidupkan potensi sub-budaya yang majemuk itu, tentu saja sesuai dengan alam dan citarasa manusia kekinian. Sudah lazimlah manakala dia mengambil bentuk dan peran sertanya selaku sumber-sumber pengucapan kreativitas. Dengan usaha-usaha demikian itu peran para seniman bukan hanya mencipta karya semata-mata, tapi di balik penciptaannya sudah berlangsung usaha pencarian atas persambungannya dengan substansi-substansi karya budaya yang sudah ada di zaman lampau, baik yang berasal dari bangsa Indonesia maupun dari bangsa-bangsa asing.

Kesaksian historis kita pun sudah sanggup menjelaskan kemustahilan kita untuk bersikap dan bervisi tertutup terhadap interaksi dengan potensi-potensi budaya dari bangsa-bangsa lain. Monumen religius Borobudur dan Prambanan sekadar menunjuk bukti raksasa bagi kesaksian sejarah kehidupan sebuah bangsa yang terbuka. Daya cipta yang saling bergabung antara potensi Jawa asli dan Buddha serta Hindu ini tidak mungkin gagal memberikan pembenaran berlakunya proses sinthesa yang merupakan sebuah keniscayaan di dalam membangun peradaban di kawasan ini.

Di dalam mengartikulasikan pengalaman pribadi sebagai manusia kontemporer pun, para penyair Indonesia modern menunjukkan bahwa mereka meresapi proses-proses sinthesa kebahasaannya. Adapun substansi dari sinthesa demikian terwujud di dalam manifestasi artistik, di dalam bahasa puisi-puisinya. Fenomen-fenomen tersebut dapat kita kenali melalui dua hal: pemakaian kosakata asing dan kosakata daerah, pemakaian mitos-mitos dan wisdom-wisdom sebuah etnik sampai pada pemakaian-pemakaian mitos-mitos dan wisdom-wisdom sebuah etnik asing. Dalam hal demikian, kita dapat menambah dengan pemakaian sumber-sumber referensi keagamaan, yang berasal dari bangsa dan negara lain.

Saini KM dalam Nyanyian Tanah Air dan Rumah Cermin, kedua buku puisi ini sebagian besar mereguk sumber mitos dan wisdom Yunani kuno, akan hancurlah puisi-puisinya manakala kita mengambil sumber-sumber estetik sekaligus filosofisnya (baca: wisdom) yang berorientasi ke kahyangan dewa Zeus ini dengan umpama, kahyangan dewa Bethara Guru dalam epik Mahabarata. Di balik mitos dan wisdom tuanya menyimpan rangkaian sejarah peradaban dan prestasi filsafat yang tinggi, dengan resonansi ilmu dan filsafat modern dari Barat. Sebaliknya, Subagio Sastrowardojo berjalan mondar-mandir antara Kitab Suci dan epos Ramayana dan Mahabarata (baca: wayang), gejala kehidupan sehari-hari dan mitos-mitos Jawa, dengan esensi-esensi renungan yang bersifat pribadi sekali. Buku-bukunya Simphoni, Daerah Perbatasan, Keroncong Motinggo, dan Hari dan Hara, jelas menerangkan orientasi demikian. Sedang dalam hal hubungan pria dan wanita pada puisi-puisi Subagio Sastrowardojo, tentulah merupakan bab tersendiri yang dapat mengundang para penelaah untuk mengupasnya.

Goenawan Mohamad dalam Pariksit (Litera, Jakarta, 1970) dan Interlude (Puisi Indonesia, Jakarta, 1973). judul-judul 2 buku itu sudah menerangkan selaku isyarat lebih jauh kapan kita membaca puisi-puisi yang terpacak di dalamnya. Kalau dalam buku Pariksit, penyair ini masih berhati-hati memakai mitos dan kosakata asing, mungkin karena trend perjalanan puisi Indonesia yang gencar pada tahun 1960-an ialah "pembebasan dan penemuan kembali" puisi lirik-meminjam idiom penyairnya manakala dia menulis kritik terhadap buku Dukamu Abadi karya Sapardi Djoko Damono - dari jargon massa politik dan sosial di pertengahan tahun 1960-an, maka dalam buku Interlude, penyair ini sudah leluasa dan bebas memakai mitos dan kosakata asing. Singkat kata, ekspresi citarasa keindahan poetiknya memungkinkan penjelajahan kreatif dengan memungut sumber-sumber simbol dan bahasa cendekia sehari-hari.

Sumber-sumber simbol etnik Jawa ini tampak dalam pemakaian mitos sejarah tak tertulis sebelum kerajaan Mataram kuno berdiri — kisah prabu Anglingdarma dan Setiowati; karya sastra mistik Jawa Gatoloco, episode Damarwulan dan Anjasmara di zaman Majapahit (sajak Dongeng Sebelum Tidur, Gatoloco, dan Asmaradana). Dari sejarah kontemporer asing: perang Vietnam (Potret Taman Untuk Allen Ginsberg) atau konflik rasial hitam-putih (Afrika Selatan). Demikian juga secara tersamar permainan simbol mengenai dongeng kita jumpai dalam Di Sebuah Pantai: Interlude.

Pemakaian bahasa cendekia sehari-hari tampak di dalam ekspresi artistik manakala dia dengan enak dan luwes bisa mengungkapkan diri dengan bahasa berkosakata campuran: Indonesia dan asing. Selain di situ dia memperlihatkan bahwa, pada dasamya penyair Indonesia adalah seorang cendekiawan dalam sisinya yang lain, maka diapun menjadi seorang marginal. Istilah yang juga dia kerap pakai dalam menulis esai sastra, tidak lain menunjuk kepada posisi dan peran Goenawan Mohamad sendiri, sebagai seorang "modernis".

Sebagai manusia marginal alias modernis Indonesia, mustahil dia berbicara lisan dan berbicara tertulis tanpa memakai idiom-idiom modern. Mustahil pula akhirnya, dia mengekspresikan daya ciptanya dengan modal kosakata 40.000 jumlahnya. Sudah jamaknya dia menerobos perbatasan konvensi bahasa Indonesia yang berwatak boros suku kata, tanpa pembagian tenses, kekaburan kata ganti orang ketiga untuk pria dan wanita, miskin diftong dan konsonan, tanpa stress yang jelas, sangat terbatasnya kosakata alam fauna dan alam flora. Semua itu juga menunjukkan batas-batas potensi bahasa Indonesia murni bagi pengucapan artistik para penyair Indonesia. Penerobosan kreatif di lapangan bahasa oleh para penyair kita ini pada hakikatnya sudah menjelaskan satu hal: pengalaman intelektual dan pengalaman spiritualnya menjangkau atmosphere lain, di luar batas-batas ilmu pengetahuan yang terhantar bahasa Indonesia.

KWATRIN TENTANG SEBUAH POCI
Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol, temyata:
untuk sesuatu yang tak ada
Apa yang berharga pada tanatdiat ini
selain sebuah ilusi?
Sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi

Pemakaian kata ilusi di bait ke 2 baris ke 2 sajak itu, terang menunjukkan padat ekspresi dan tepat citraan. Dia tidak memakai kata khayal—misalnya — karena mungkin dapat berani lebih dangkal. Mungkin ilusi punya arti lebih dari hanya khayal, mungkin ilusi punya konotasi lain bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Yang jelas, penyair ini punya pengalaman bahasa ganda; dalam hal ini bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Demikian pun pada sajak Rekes, dia mamakai kosakata eksekusi, amnesti:: satu terminologi asing yang tak dipunyai dalam bahasa Indonesia asli tahun 1982-an. Tidak ada yang salah di situ. Pemakaian kosakata asing — Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Arab, dan sebagainya; atau Jawa, Batak, Bali, Minang, Bugis, Aceh, Ngada, Madura. Sunda dan sebagainya — sebanyak etnik penghuni tanah air Indonesia; pada dasarnya absah sebagai ekspresi intelektual dan spiritual manusia Indonesia. Pertanyaan yang lebih pokok ialah, ekspresi intelektual dan spiritual tersebut sudah muncul dalam ungkapan berbobot artistik atau belum. Setiap pemakaian kosakata dan bahasa tertentu dalam sebuah puisi, penyair yang bersangkutan tentulah berhadapan dengan proses baca ulang dan restropeksi kreatif, sebelum sampai pada usaha terakhir: menyerahkan buah karyanya kepada sidang pembaca yang hendak memanfaatkannya untuk multifungsi dan kepentingan.

Rangkaian semua ini hanya akan menunjuk satu premis: sebuah pendirian kesenian seorang penyair yang menegakkan idea keseniannya sendiri, apalagi yang menyangkut problem pemakaian kosakata campuran—untuk tidak setuju dan menolak—pada dasarnya tidak berdiri di atas anggapan objektif terhadap keberadaan bahasa Indonesia itu sendiri. Sandaran demikian hanya menunjukkan sebuah idola paling utopis, karena diapun menolak proses sinthesa pemakaian bahasa Indonesia, pada gilirannya menolak proses perkembangan bahasa itu pula. Kalau memang seorang penyair Indonesia modern (baca: cendekiawan) hanya mungkin sanggup berkembang dan meningkatkan prestasi kreatifnya lewat proses sinthesa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dari Barat (baca: Dunia Pertama), mungkin memang trend zaman kita di abad 20 untuk bertindak demikian. Seperti halnya kita pun tidak mungkin menolaki transformasi kretif terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tradisional, yang sudah ada berabad-abad yang lalu di bumi Indonesia. Dua belahan peradaban ini merupakan warisan umat manusia, tergantung apa akan dimengerti dan dimuliakan atau akan diremehkan dan diacuhkan. Karena. dengan idiom cerdas Goenawan Mohamad sendiri:

Kita memang bersandar pada apa yang mungkin
kekal, mungkin pula tak kekal
Kita memang bersandar pada mungkin
Kita bersandar pada angin
Dan tak pemah bertanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa
(Pada Sebuah Pantai: Interlude), 1973.

Agaknya Goenawan pun bilang: And sorry I could not travel both.

Yogya, 5 April 1976 -1987
Linus Suryadi, Ag. Di Balik Sejumlah Nama
Sebuah Tinjauan Puisi-puisi Indonesia Modern
Hal. 125-131
Download esai ini? Silakan KLIK di sini

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook