Thursday, June 10, 2010

Kritik Puisi Perahu Kertas Sapardi Djoko Damono


Perahu Kertas Sapardi Djoko Damono : Asal Mitos Balik Mitos

- Jangan tanya transendensi pengalaman?

Buku puisi ini, tak beda dengan buku puisi dan buku esai sastra Indonesia lain, pemah diumumkan secara terpisah per judul di media massa. Majalah sastra Indonesia Horison dan majalah sastra Malaysia Dewan Sastra. Kumpulan puisi merupakan hasil koleksi atau hasil seleksi penyaimya.

Sapardi Djoko Damono (44 tahun) membuktikan kembali. Dia bukan penyair ide. Dia tak doyan kata-kata abstrak dan besar tapi kata-kata sederhana. Dia bukan penyair verbal. Diapun tahu, peranan mitos di dalam puisi itu penting.

Kata-kata sederhana dipakai untuk menyampaikan gambaran puitiknya. Ungkapan sederhana dalam puisi tak identik penyairnya sederhana. Kesanggupan memakai kata-kata sederhana itu menunjukkan penyairnya menghargai dan menghormati kata-kata. Puisi-puisi brilian lazimnya memakai kata-kata sederhana. Oleh sentuhan tangan penyair yang baik. kata-kata sederhana menjelma menjadi puisi yang baik. Hanya penyair jelek yang obral dan royal kata-kata.

Sapardi pun sangat pintar mendayagunakan teknik penulisan puisi. Oleh penguasaan teknik berpuisi yang sudah matang, kata- kata sederhana itupun punya tenaga keindahan yang khas. Salah satu tugas penyair memang memberi tenaga dan jiwa pada kata-kata. Tanpa ambil peran itu, dia akan menulis esai dan bukan puisi.

AKULAH SI TELAGA
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang
menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana. tinggalkan begitu saja —
perahumu biar aku yang menjaganya

SERULING
Seruling bambu itu membayangkan ada yang meniupnya,
menutup membuka lubang-lubangnya, menciptakan
pangeran dan putri dari kerajaan-kerajaan
jauh yang tak terbayangkan merdunya.....
Ia meraba-raba lubang-lubangnya sendiri yang senantiasa
menganga

Dalam sajak "Akulah Si Telaga" dan "Seruling" itu, Sapardi menggarap lanskap alam dan alam benda. Dia menghidupkan alam benda dan dia meninggalkan aku-lirik. Dia menghidupkan alam benda untuk meninggalkan aku-lirik. Dia mengidentikkan diri kepadanya. Objek-objek diberi peran subjek-subjek. Dia meletakkan diri sebagai persona kedua.

Usaha ini mencapai realitas subtansial sebagai puisi, hanya mungkin terjadi ketika penyairnya cermat dan hemat kata-kata, jeli dan hati-hati mengamati gejala alam, ditopang penguasaan teknik berpuisi yang baik. Tanpa kesediaan dan kesanggupan itu, semangat bergelora seorang penyair mandeg. Dia tak pernah dapat menyelesaikan proses penciptaan sebuah puisi. Kata-kata tak tampil secara intuitif.

Puisi, di manapun dan kapanpun sama, dia berada di lepas semangat dan pretensi.

PERAHU KERTAS
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan
kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan
perahumu bergoyang menuju lautan.
"Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang
lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan ber
bagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau
pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang
tak pemah lepas dari rindumu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya
Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah
banjir besar dan kini terdampar di sebuah pulau."

ANGIN I

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke
sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar suara
nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, "hei siapa ini yang
mendadak di depanku ?"
angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita
untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi —
sampai pagi tadi: ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa
seorang diri di tengah bising-bising ini
tanpa Hawa.

Dalam sajak "perahu kertas" dan "Angin I" itu, Sapardi "mempermainkan" mitos. Bermula dari ungkapan gejala alam hidup sehari-hari yang biasa. Kita baru tahu bahwa. akhirnya kita diajak masuk ke dalam sebuah mitos dalam kitab suci agama Kristen. "Perahu Kertas" meletakkan mitos Nuh pada akhir sajak. Sajak "Angin I" sebaliknya. Bermula dari mitos Adam. Bermula pembayangan "angin" dan berakhir pembayangan diri, yang ekstensial: manusia hadir sendirian tanpa orang lain, tanpa Hawa. Sapardi mempermainkan dua mitos Kitab Perjanjian Lama yang bersumber di Timur Tengah itu dalam dua sajak, di awal dan di akhir sajak.

Penyair bebas mitos? Puisi bebas mitos ?

Taufiq Ismail pernah membebaskan puisi dari mitos. Kumpulan Tirani dan Benteng menyatakan itu. Tapi usaha ini lebih di latarbelakangi situasi buteg di sektor sosial-politik-ekonomi ketimbang pertimbangan estetika dalam puisi modern. Puisi-puisi inipun manifestasi dari sikap penyair yang memberontaki realitas rutin. Sutardji Calzoum Bachri memberontaki mitos pula. Puisi anti-mitos menunjukkan adanya kemauan keras penyairnya dan keterbatasan wilayah anti-mitos itu sendiri. Siapa tak maklum, "permainan" tipografi huruf dan kata model "concrete poetry" pun subur? "The Gutenberg Galaxy" punya resonasi konkret dalam puisi modern. Image visual mencocok mata anda.

Tapi tak ada pemakai bahasa bebas mitos. Bahasa itu mitos. Kata-kata itu mitos. Makna bahasa dan makna kata-kata disimpan oleh masyarakatnya. Dulu, sekarang, dan esok. Benteng kebudayaan berupa mitos bahasa dan mitos kata-kata ini kukuh dan kokoh. Para pemakainya mustahil sanggup menggempur dan merobohkan bangunan abstrak itu. 

Penyair kreatif pintar membuat premis. Datang sambutan yang memberi pembenaran dari sejumlah orang cerdas. Pun andaikata premis itu sampai ke jalan buntu. "Aku presiden penyair Indonesia". Dia meninggalkan mitos kata dan mitos bahasa tapi mengintrodusir mitos dirinya. Ayunan pendulum manusia sampai pada gandrung mitos.

Penyair modern bergulat dengan mitos. Berangkat pada mitos dan sampai pada mitos. Anti mitos dan butuh mitos. Ingkar mitos dan mengakui mitos. Menolak mitos dan terjerembab mitos. Mitos adalah sumber kreatif seorang penyair. Masyarakat yang kaya mitos merupakan wilayah potensial bagi lahirnya puisi besar dan penyair besar. Tak ada penyair besar bebas mitos. Tak ada puisi besar tanpa mitos. Eliot? Pasternak? Seferees? Ronggowarsito? Mangkunegoro IV?

Sapardi Djoko Damono menerima mitos dengan wajar. Dia selektif dan hati-hati memanfaatkan mitos dalam puisi. Dia menggali makna di balik mitos dan menterjemahkan ke dalam puisi (sajak "Benih", "Pesan", "Telinga"....):

TELINGA
"Masuklah ke telingaku." bujuknya.
Gila:
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apapun
secara terperinci — setiap kata, setiap huruf

bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara
"masuklah," bujuknya.
Gila ! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-
baiknya apapun yang dibisikkannya
kepada diri sendiri.

Sajak Telinga" ini menarik bukan pada renungan transendentalnya. Renungan itu tak dikaji penyaimya. Tapi pada kesadarannya sebagai penyair modern. Dia selalu menyadari "setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis yang menciptakan suara". Dia sadar kata dan sadar bahasa. Penyair modern itu sadar huruf. Begitu "sengit" kesadarannya sehingga wahana ekspresi itu sendiri diungkapkan secara eksplisit di dalam sajak.

Mungkin penyair bukan lagi pencari makna dan pencari pengertian. Kata-kata di dalam sajak bukan hasil pemerasan dan pengembangan pengalaman rohani. Kata-kata tersebut hadir pada penyair yang mencari makna dan pengertian bertaraf transendental. Di dalam kebebasan kreativitas dan dengan kebebasan kreativitasnya, penyair itu "dikuntit" bayang-bayang untuk berbagi makna dan berbagi pengertian dengan orang lain. Mungkin penyair menjadi pencari seni kata-kata. Bagaimana dia bergulat dengan kata-kata dan kata-kata yang digulatinya menjelma menjadi karya seni. Problema yang digulati penyair lebih terarah pada masalah sektoral. Masalah wahana bahasa itu sendiri, bahasa : kata-kata dan huruf. Sajak sebagai seni kata memperoleh terjemahan paling tipikal dan (sekaligus) artifisial.

Ke 42 sajak dalam Perahu Kertas ini diterbitkan Balai Pustaka, Jakana, 1983. Bahkan memperoleh hadiah seni Dewan Kesenian Jakarta 1983. Dia diakui, disahkan, dan dikukuhkan secara institusional. Dia terpilih dalam seleksi lewat pola pengembangan kesenian yang mengambil model kompetisi. Meskipun di banding kumpulan "MataPisau" oleh penyair yang sama, Perahu Kertas ini "hanya" merupakan kelanjutan saja dari usaha Sapardi didalam berseni kata itu. Perahu Kertas merupakan mata rantai dari satu fase kreatif dalam Mata Pisau.

Penyair ini bermain-main imajinasi dengan kata-kata, dalam kata-kata, dan lewat kata-kata. Pembaca Perahu Kertas duduk berimajinasi dengan sajak-sajak,di dalam sajak-sajak, dan lewat sajak-sajak. Pembaca lain berimajinasi, bagaimana Sapardi bermain kata-kata untuk menciptakan seni kata-kata. Pembaca yang lain lagi sudah menyatakan, Sapardi seorang penyair imajis. Sajak- sajak yang mengejawantahkan pengalaman transenden penyairnya mungkin akan dikerjakan nanti pada fase kreatif berikutnya. Kalau tidak, cari saja pada penyair-penyair lain.

Karena itu, mari kita ramai-ramai berimajinasi lewat idiomatik penyair ini dalam seni kata yang berteknik perfect dan kita tidak mengganggu permainannya :

DI TANGAN ANAK-ANAK
Di tangan anak-anak. kertas menjelma perahu Sinbad
yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung
yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;
di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci
'Tuan jangan kau ganggu permainanku ini"

Yogya, Rabu, 23 Mei 1984
Linus Suryadi, Ag., Di Balik Sejumlah Nama:
Sebuah Tinjauan Puisi-Puisi Indonesia Modern
(hal. 111-116)

Download esai ini? silakan KLIK di sini

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook