Thursday, September 16, 2010

Analisis Majas dalam Puisi

Majas dalam Puisi

Penciptaan sastra pada masa kini lebih menekankan pada masalah manusia, demikian pula dengan puisi. Persoalannya, bagaimana cara penyair menyajikannya. Itulah yang berbeda. Puisi diciptakan didasarkan atas ilham dari beragam peristiwa yang dituangkan dengan media terpilih, penjiwaan yang lengkap, dan membawa suatu konsep secara puitis.

Tidak dapat dipungkiri bahwa gaya bahasa memainkan peranan yang penting dalam sebuah puisi. Gaya bahasa yang menjadikan karya itu hidup atau kaku. Kalau gaya bahasa dimanfaatkan secara baik, indah dan sempurna menjadikan karya itu menarik dan memikat hati pembaca. Begitu pula sebaliknya, penggunaan gaya bahasa yang kurang dioptimalkan dalam puisi justru tidak akan membawa efek apapun bagi puisi tersebut.

Dalam penulisan sajak atau puisi, setiap penyair memanfaatkan gaya bahasa  dengan cara mereka sendiri. Pembaca akan dapat menangkap gaya bahasa yang berbeda antara penyair yang satu dengan penyair yang lain. Gaya bahasa juga menjadikan sebuah karya itu bermutu tinggi di mata pembaca. Dan biasanya gayabahasa itu bergantung kepada pengalaman, ilmu dan kemahiran berbahasa yang dimiliki oleh setiap individu penyair

Majas atau figurative language adalah bahasa kias, bahasa yang dipergunakan untuk menciptakan efek tertentu. Majas merupakan bentuk retoris yang pengunaannya antara lain untuk menimbulkan kesan imajinatif bagi penyimak atau pembacanya

Terdapat empat macam jenis kelompok majas yaitu: (1) majas perbandingan, (2) majas penegasan, (3) majas pertentangan, dan (4) majas sindiran. Majas perbandingan adalah gaya bahasa yang bertujuan untuk membandingkan, yang termasuk majas ini diantaranya metafora, litotes, hiperbola, alusio, dan sebagainya. Majas penegasan adalah gaya bahasa yang betujuan untuk menegaskan sesuatu, yang termasuk majas ini diantaranya adalah antiklimaks, anaphora, koreksio, dan sebagainya. Majas pertentangan adalah gaya bahasa yang bertujuan untuk mempertentangkan sesuatu, yang termasuk majas ini diantaranya paradoks, antithesis, okupasi, dan sebagainya. Majas sindiran adalah gaya bahasa yang bertujan untuk menyindir, yang termasuk majas ini diantaranya ironi, sinisme, dan sarkasme. Pembahasan majas secara lengkap dapat dilihat di sini .... (silakan KLIK)

Berikut ini akan dicontohkan penggunaan majas pada puisi “Jakarta” karya Husni Djamaludin.

Jakarta
(Husni Djamaludin, Jakarta, 22 Juni 1990)
jakarta adalah biskota
yang berjubel penumpangnya
bergerak antara kemacetan jalan raya
dan terobosan-terobosan tak terduga
jakarta adalah bos besar
gajinya sebulan empat milyar
adapun yang babu
tinggi sudah empat puluh ribu
jakarta adalah rumah-rumah kumuh
yang mengusik tata keindahan gedung-gedung pencakar langit
jakarta adalah gedung-gedung pencakar langit
yang mencakar wajah-wajah kemiskinan rumah-rumah kumuh
jakarta adalah komputer
yang mengutak-atik angka-angka nasib
dan memutar
nasib angka-angka
jakarta adalah ciliwung
sungai keringat dan mimpi rakyatnya
disitu pula mengalir
air mata ibukota
Pada puisi ini terdapat majas perbandingan yaitu alegori. Alegori adalah majas perbandingan yang bertautan satu dengan yang lainnya dalam kesatuan yang utuh. Hal ini terlihat pada bait pertama, yaitu:

jakarta adalah biskota
yang berjubel penumpangnya
bergerak antara kemacetan jalan raya
dan terobosan-terobosan tak terduga

Pada bait pertama tersebut, penyair menyimbolkan kota Jakarta dengan, biskota /yang berjubel penumpangnya/bergerak antara kemacetan jalan raya/dan terobosan-terobosan tak terduga/, dengan maksud menautkan ciri-ciri biskota dan kemacetan dengan situasi kota Jakarta.

Selain pada bait pertama, di tiap bait puisi ini juga terdapat majas alegori,

Pada bait kedua: 
jakarta adalah bos besar
gajinya sebulan empat milyar
adapun yang babu
tinggi sudah empat puluh ribu

Pada bait ini, kota Jakarta disimbolkan dengan perbedaan bos besar dan babu, dengan maksud menautkan ciri-ciri kesenangan bos besar dan penderitaan babu sebagai rakyat kecil dengan keadaan masyarakat kota Jakarta.

Pada bait ketiga, kota Jakarta disamakan dengan rumah-rumah kumuh dan gedung-gedung pencakar langit, ”/jakarta adalah rumah-rumah kumuh/yang mengusik tata keindahan gedung-gedung pencakar langit/jakarta adalah gedung-gedung pencakar langit/yang mencakar wajah-wajah kemiskinan rumah-rumah kumuh/”.

Pada bait keempat, Jakarta disamakan dengan “komputer”, yang mengatur segala kehidupan ekonomi manusia lewat “angka-angka” yang di utak-atik.

jakarta adalah komputer
yang mengutak-atik angka-angka nasib
dan memutar
nasib angka-angka

Pada bait kelima, Jakarta disimbolkan dengan sungai ciliwung yang kumuh, yang mengalir air mata ibukota.
jakarta adalah ciliwung
sungai keringat dan mimpi rakyatnya
disitu pula mengalir
air mata ibukota

Majas metafora juga terdapat pada puisi ini, metafora adalah majas perbandingan yang diungkapkan secara singkat dan padat atau pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata sepertilayaknya, bagaikan, dan lain-lain.

Pada bait I baris I, “Jakarta adalah biskota”, pada bait ke II baris I, “Jakartaadalah bos besar”, bait ke III baris I, “Jakarta adalah rumah-rumah kumuh”, pada bait IV baris I, “Jakarta adalah komputer”, pada bait ke V baris ke I, “Jakarta adalah sungai ciliwung”.

Penyair dengan sangat jelas membandingkan Jakarta dengan biskota,Jakarta bagaikan bos besar, Jakarta bagaikan komputer, jakarta bagaikan rumah kumuh dan Jakarta bagaikan sungai ciliwung.

Majas hiperbola juga terdapat pada puisi tersebut. Hiperbola adalah majas yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan dengan maksud untuk memperhebat meningkatkan kesan dan daya pengaruh, bukan yang sebenarnya (2006: 111). Pada bait ke II baris II, “gajinya sebulan empat milyar”, adalah ungkapan kiasan, bukan makna yang sesungguhnya melainkan ingin melebih-lebihkan penghasilan bos besar yaitu kota Jakarta adalah sebulan empat milyar.

Pada bait III baris III dan IV terdapat majas personifikasi, yaitu seolah-olah menghidupkan benda-benda mati, ”/jakarta adalah gedung-gedung pencakar langit/yang mencakar-cakar wajah kemiskinan rumah-rumah kumuh/”. Gedung-gedung pencakar langit diibaratkan menjadi benda yang benyawa yang mencakar-cakar wajah kemiskinan rumah-rumah kumuh. Mencakar digunakan penyair untuk mengambarkan betapa tinggi gedung-gedung pencakar langit sehinga rumah-rumah kumuh seperti di robeknya. Majas personifikasi juga terdapat pada bait ke-5 baris ke-4, “Air mata ibukota”, ibukota dihidupkan dengan bisa mengeluarkan air mata. Padahal, hanya mata saja yang bisa mengeluarkan air mata.

Disarikan dari http://remmysilado.blogspot.com/


0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook