Wednesday, June 30, 2010

Legenda, Dongeng, Hikayat: Candra Kirana

Inu Kartapati dan Panji Semirang Dimabuk Rindu

(Panji Semirang. Kuda Perwira, Kuda Peranca, Jerude, 
Kartala, Punta, Persanta, Raja Daha, Raden Inu Kartapati)


Kian lama kian makmur kehidupan rakyat, makin kuat pula tentara Baginda Panji Semirang. Kuda Perwira dan Kuda Peranca makin ditakuti orang karena keberanian dan keunggulannya dalam pertempuran melawan musuh.
Pada satu hari kedua pahlawan itu tampak sedang melakukan tugas menjaga pintu gerbang. Seperti biasa, setiap orang yang lewat, harus dimintai keterangan.

Tampaklah oleh Kuda Perwira dan Kuda Peranca serombongan orang naik kuda. Datang dari jurusan Kuripan menuju arah kerajaan Daha. Di belakang orang-orang yang mengendarai kuda itu kelihatan sebarisan orang yang berjalan kaki. Melihat kepada pakaian dan tunggangannya, serta payung dan panji-panji yang mereka bawa, rombongan orang itu mesti utusan kerajaan Kuripan.

Sesungguhnyalah! Mereka adalah utusan Raja Kuripan yang hendak mempersembahkan uang jujuran bakal pengantin Raden Inu Kartapati kepada Raja Daha. Utusan Kerajaan Kuripan itu dikawal oleh empat orang pendekar pilihan, yaitu : Jerude, Kartala, Punta dan Persanta. Gagah-gagah orangnya. Sorot matanya menakutkan orang yang melihat. Kumisnya yang melintang di bawah hidung, jambangnya di pipi kiri kanan, membuat takut orang yang memandang.


Akan tetapi hati Kuda Perwira dan Kuda Peranca sedikit pun tidak gentar melihat keempat orang pahlawan Kuripan itu. Dengan suara lantang Kuda Perwira menyuruh berhenti sambil memintas jalan Jerude dan Punta.

"Kalian siapa? Hendak pergi ke mana?" Kuda Perwira menegur.

"Kami utusan Raja Kuripan hendak mempersembahkan uang jujuran ke hadapan Raja Daha." Punta menyahut.

"Putra Raja Kuripan yang manakah hendak menikah ? Dengan siapa!?”

"Raden Inu Kartapati. Bakal istrinya bernama putri Cendera Kirana."

Kuda Peranca bertanya pula, katanya, "Apakah Raja Daha miskin
dan perlu diberi uang oleh Raja Kuripan ?"

Jemde, Kartala, Punta dan Pesanta saling memandang, karena heran mendapat pertanyaan sedemikian. Akan tetapi dijawab juga oleh Punta, katanya, "Kedua-duanya raja besar. Tidak kekurangan suatu apa. Persembahan uang jujuran hanyalah keperluan menurut adat kebiasaan."

"Jika kedua raja itu orang-orang besar kekayaan mereka tak perlu ditambah. Berikanlah kepada raja kami untuk rakyat kami," kata Kuda Perwira.

Tersiraplah darah Punta karena perkataan Kuda Perwira itu. Ia merasa dihina. Mukanya menjadi merah. Ia hendak melecut kudanya, tetapi segera Kuda Perwira membentak, "Jangan bergerak! Kalian berikan dulu harta benda rajamu kepada kami, baru kalian boleh lalu!"

Temenggung Kuripan tampil katanya, "Siapa rajamu ? Tahukah kamu? Tempat ini masuk wilayah kerajaan Kuripan !"

"Raja kami Sri Baginda Panji Semirang Asmarantaka," sahut Kuda Peranca. Temenggung merasa heran karena ia baru tahu ada kerajaan di wilayah kerajaan Kuripan. Ada negara dalam negara.

"Sekarang apa bicaramu? Menyerah atau berkelahi?" Demikian bentak Kuda Perwira dengan nafsu amarah tertahan-tahan. Giginya dipergeser-geserkan. Bergeretak bunyinya kedengaran. Darahnya bergejolak. Jantungnya berdetak-detak.

Tiba-tiba Temenggung dan Patih meloncat dari kudanya. Keris dihunus! Terus menerjang Kuda Perwira dan Kuda Peranca. Dua lawan dua. Sama-sama berani, sama-sama nekat hendak berkelahi mati-matian demi kehormatan kerajaannya masing-masing. Prajurit-prajurit Kuripan yang lain turut menyerang pula.

Wah, bukan main tangkasnya Kuda Perwira memainkan keris! Tusuk kanan kiri. Dua tiga prajurit jatuh bermandikan darah. Kuda Perwira melompat, menerjang lawan. Kaki rikat menyikat. Tangan menangkis. Keris beradu keris. Tak! Pyar! Bunga api memancar dari dua besi yang keras beradu. Patih tampil ke depan. Menantang Kuda Perwira. Dua pasang mata saling memandang beringas. Saling intai saat-saat lengah pihak musuh. Saling pancing dengan gerak tipuan. Dada kembang kempis karena deburan jantung. Siut! Ujung keris Patih hendak menusuk perut Kuda Perwira. Nyaris kena! Kuda Perwira mengelak cepat. Keris lawan menusuk angin. Cros! Keris Kuda Perwira makan lambung kiri Patih. Syur! Darah muncrat. Patih jatuh tergelimpang. Badannya bermandikan darah. Tiba-tiba Kuda Perwira dise rang serentak dari kiri kanan oleh beberapa prajurit. Cepat Kuda Per wira melompat. Cepat menjengkau tombak. Prajurit-prajurit memburu. Hendak menusuk Kuda Perwira dari belakang. Celaka. Mereka menubruk Temenggung yang sempoyongan kena tusuk keris Kuda Peranca. Prajurit-prajurit Kuripan pada jatuh celentang.

"Hai! Jangan main curang ! Mau menusuk dari belakang ! Ayo bangkit! Serang aku dari depan!"

Punta dan Jerude menjadi kecil hatinya mehhat kawan-kawannya banyak yang kalah. Banyak pula yang mati. Terus melompat ke atas kuda Dilecut: Tar! Terus lari. Patih dan Temenggung yang masih hidup menyusul. Kuda menderap deras, lari kembali ke Kuripan. Pra jurit-prajurit yang penakut pada melompat ke atas kuda masing-masing.

Tar! Kuda dilecut. Lari pontang-panting. Terus menyusul Temenggung. Prajurit-prajurit Kuripan yang masih tinggal menjadi kalang kabut - Kebingungan.

Ayo pengecut! Mau lari atau menyerah?" Kuda Perwira menantang- “Siapa berani maju !" Kuda Peranca sesumbar sambil mengamangkan keris.

Tetapi tiada seorang prajurit Kuripan yang berani tampil ke depan. Mereka menyerah kalah. Oleh karena itu mereka digiring masuk kota untuk dihadapkan kepada Baginda Panji Semirang.

"Ah sekarang sampaUah ajal kita," kata prajurit Kuripan yang seorang kepada yang lain. Kuda Perwira dan Kuda Peranca menyerahkan orang-orang tawanan itu kepada prajurit-prajurit untuk terus dihadapkan kepada Sri Baginda Panji Semirang.

Prajurit-prajurit Kuripan tercengang-cengang melihat betapa cantiknya Baginda Panji Semirang dan betapa lemah-lembut tutur katanya. Sebab mereka menyangka bakal dihadapkan kepada raja yang lalim.

"Wahai prajurit-prajurit Kuripan. Kalian jangan kuatir akan kami siksa. Kalian di sini berada di tengah-tengah saudara kalian sendiri. Uang jujuran untuk putri Daha, harta benda dan panji-panji kebesaran Raja Kuripan akan kami kembalikan ke tangan Raden Inu Kartapati sendiri jika dia datang mengambilnya. Sekarang bersantailah kalian dengan rakyat kami." Demikian sabda Sri Baginda Panji Semirang.

Alangkah senang hati prajurit-prajurit Kuripan mendengar sabda Baginda demikian. Sungguh di luar dugaan ! Sebab, semula mereka menyangka akan disiksa dan dipenjarakan sebagai tawanan. Tetapi apa buktinya ? Kesenangan jugalah yang diterima.

Prajurit-prajurit Kuripan di jamu makan minum oleh rakyat Panji Semirang, lalu bersukaria bersama-sama.

Sekonyong-konyong, kedengaran derap kaki kuda beratus-ratus dan teriak beratus-ratus orang. Riuh gemuruh kedengarannya. Itulah tentara Kuripan yang dikepalai Raden Inu Kartapati sendiri yang hendak membalas dendam — hendak menyerang kerajaan Panji Seanirang.

Setiba di pintu gerbang, Raden Inu Kartapati dan tentaranya berhenti. Kemudian bersiap untuk menghadapi pertempuran.

"Hai penjaga pintu ! Aku Raden Inu Kartapati dari Kuripan. Kabarkan kepada rajamu kami minta kembali harta benda yang kalian rampas. Jika kalian menolak, kami segera menyerbu."

"Baik ! Kami sampaikan amanat Tuan kepada Baginda Raja," sahut Kuda Perwira.

Sementara menunggu Kuda Perwira kembali, Hulubalang Kuripan memerintahkan prajurit-prajurit untuk berjaga-jaga. Keris dicabut dari pendoknya dibacakan doa mentera kesaktian — ditiup tiga kali. Mata tombak dijamah — dibacakan doa mentera. Pangkal tombak ditumbukkan ke tanah tiga kali. Kuda meringkik-ringkik; kakinya disepak-sepakkan ke tanah, seperti tak sabar menunggu; seolah-olah ingin lekas menyerbu ke medan perang.

Kuda Perwira kembali dan berkata, "Tuan! Sri Baginda Panji Semirang hanya bersedia menerima Raden Inu Kartapati. Harta benda dan panji-panji kebesaran Kuripan harus diterima oleh Raden Inu Kartapati sendiri. Silakan, kami antar Tuan menghadap Baginda Raja."

Raden Inu Kartapati heran mendengar pesan Baginda Panji Semirang demikian. Timbul curiga. Kemudian ia melecut kudanya. Sambil memegang keris terhunus ia menuju istana Panji Semirang.

Dari jauh tampak oleh Panji Semirang, Raden Inu Kartapati semakin mendekat. Hatinya berdebar-debar. Tetapi bukan karena perasaan takut bakal kalah dalam perang tanding. Melainkan disebabkan perasaan girang bercampur sedih. Girang, lantaran mendapat kesempatan untuk melihat dari dekat tunangan yang sudah lama dirindukan. Sebab baru sekali ini Cendera Kirana alias Panji Semirang akan bertemu muka dengan Raden Inu Kartapati, tunangannya itu.

Hati Panji Semirang sedih, oleh karena dalam keadaan seperti sekarang ini, ia tidak bisa menurutkan rindu hatinya. Rindu hati seperti antara sepasang merpati yang bercinta kasih dan sudah terikat oleh tali pertunangan. Selain itu hatinya pun cemas, kalau-kalau Raden Inu Kartapati lepas dari tangannya — kalau-kalau jadi didudukkan dengan Galuh Ajeng.

Akan tetapi Panji Semirang tak hendak memperlihatkan kerisauan hatinya dan bertekad hendak menyelesaikan lakonnya sebagai seorang kelana sampai tercapai cita-citanya.

Raden Panji nan ayu naik kuda, menyongsong kedatangan Raden Inu Kartapati. Lakunya seperti seorang adik sedang menyambut kedatang an kakak yang baru kembali dari pengembaraan. Dua pasang mata berpandang-pandangan. Dua jantung manusia berlainan jenis berdebar-debar, risau. Mulut terkatup, namun hati kedua merpati itu saling menyambut dengan kasih mesra.

Raden Inu Kartapati seperti kena tenung. Matanya tanpa kedip memandang kepada Panji Semirang nan ayu seperti bidadari dari kayangan. Tangannya seolah-olah menjadi lemah; tidak bertenaga memegang keris yang terhunus itu. Segera keris dimasukkan ke dalam pendoknya.

"Selamat datang kakanda Inu Kartapati. Semoga kakanda merasa senang ada di kerajaan adinda. Silakan kakanda naik istana untuk bersantap."

Suara Panji Semirang yang empuk dan merdu itu kedengaran oleh Raden Inu Kartapati sebagai suara Batara Indra. Dan bertambah heranlah Raden Inu Kartapati. Dalam hati berkata, "Semula aku mengira bakal menghadapi raja perampok yang jahat dan kasar tingkah lakunya."

Sekali lagi Panji Semirang mempersilakan Raden Inu Kartapati masuk istana untuk bersantap.

"O, adinda Panji Semirang. Maafkanlah, pikiran kakanda sebenarnya sedang kacau. Jadi kakanda tidak dapat lekas menyambut kata-kata adinda," kata Raden Inu Kartapati dengan suara gagap.

Sri Baginda Panji Semirang mengulum senyum, lalu sabdanya. "Adinda mengerti, kanda. Mungkin oleh karena kakanda hendak menjadi pengantin. Hendak menjadi menantu raja Daha. Jika perkara itu benar yang menjadi sebab, uang jujuran dan panji-panji kebesaran Kuripan dapat segera kakanda terima untuk kemudian dipersembahkan kepada Raja Daha. Adinda turut merasa bahagia dengan kakanda."

"Ah, tidak benar samasekali pendapat adinda demikian. Akan tetapi kiranya ada suatu kekuatan gaib yang menguasai kakanda dalam pertemuan kita sekarang, dinda. Sayangnya, kakanda belum mengerti apakah gerangan yang akan terjadi atas dliri kakanda. Akan tetapi sebaiknya kakanda beritahukan dahulu kepada tentara Kuripan agar supaya jangan membuat huru-hara dalam kerajaan adinda. Malahan sebaiknya tentara Kuripan bersahabat dengan tentara dan rakyat adinda."

"Adinda menurut saja kehendak kakanda," sabda Baginda Panji Semirang.

Raden Inu Kartapati segera menyampaikan perintah kepada hulubalang untuk tidak membuat huru-hara. Tetapi sebaliknya harus mengikat tali persahabatan dengan tentara dan rakyat Sri Baginda Panji Semirang. Kemudian Raden Inu Kartapati masuk istana. Santapan yang lezat-lezat telah tersedia.

"Silakan kakanda santap dahulu. Adinda makan kemudian saja," sabda Panji Semirang dengan rendah hati.

Raden Inu Kartapati melihat tercengang, lalu berkata, "Mengapa kanda harus makan dahulu dan adinda kemudian ? Dari tadi kakanda menduga-duga, rupanya adinda wanita, maka tidak suka makan bersama-sama pria sebagai kakanda ini."

"Kakanda salah sangka. Bukan itu sebabnya. Melainkan, karena adinda punya penyakit. Adinda kuatir kalau-kalau kakanda ketularan penyakit adinda. Jadi sebaiknyalah kanda makan dahulu." Panji Semirang bersiasat.

Senang tak senang, Raden Inu Kartapati makanlah sendirian.

Sementara itu hari mulai remang-remang menjelang malam. Raden Inu Kartapati tak hendak pulang ke Kuripan oleh karena hatinya masih rindu kepada Panji Seairang. la berkata, pura-pura terpaksa harus bermalam di istana situ. Baginda Raja Panji Semirang mengizinkan, sebab ada kamar disediakan bagi para tamu.

Panji Semirang memberitahukan kepada Mahadewi agar supaya tidak menampakkan diri kepada Raden Inu Kartapati. Maksudnya agar supaya rahasia mereka tidak terbongkar.

Malam itu Raden Inu Kartapati hatinya senantiasa gelisah karena memikirkan perihal Panji Semirang. Keras dugaannya, bahwa Panji Semirang adalah wanita. Akan tetapi ia tidak berani bertindak sembrono demi kehormatan Panji Semirang dan demi kehormatan ayahanda Raja Kuripan. Raden Inu tak dapat tidur. Berbaring, balik ke kanan balik ke kiri. Hatinya gelisah. Kantuk tak mau juga datang.

Panji Semirang pun malam itu tak dapat lekas tidur. Hatinya risau, goncang, disebabkan pergulatan yang hebat antara perasaan dan pikiran. Hatinya panas seperti dibakar, jika apa yang di cemaskannya esok lusa menjadi kenyataan — yaitu jika Raden Inu Kartapati, lantaran tidak tahu, jadi nikah dengan Galuh Ajeng.

Aduh, betapa pedih rasa hati Panji Semirang! Serasa disayat-sayat sembilu, pedih serasa luka parah digarami. Panji Semirang memejamkan mata. Mencoba mengusir bayangan-bayangan yang menggoda hatinya. Akan tetapi, ah, setan-setan itu terus juga menggoda. Tampaklah dalam khayal Panji Semirang seperti Raden Inu Kartapati sedang duduk di samping Galuh Ajeng — bersenda gurau dengan mesra sebagai pengantin baru. "Aduhai Dewata yang mulia, hamba tak sanggup melihat keadaan serupa itu. Lebih baik cabutlah segera nyawa hamba." Panji Semirang menjerit-jerit dalam hati sambil menutup muka dengan tangan. Kemudian ia memeluk, mendekap erat-erat boneka kencananya. Hatinya terus gelisah juga — tidak mau ditenangkan. Bayangan yang mencemaskan hatinya tetap menggoda — tak mau dilupakan — tak mau hilang. Berbaring miring ke kiri tak enak, berbalik miring ke kanan tetap tidak enak juga rasanya. Tetapi untung! Akhirnya Panji Semirang dapat juga tidur barang satu jam.

Pagi-pagi buta Panji Semirang bangun, lalu ke luar dari bilik untuk menghirup udara segar — untuk menenteramkan hatinya.

Raden Inu Kartapati bangun agak siang. Buru-bulu ia bangkit dari tempat tidumya. Mukanya tampak pucat oleh karena semalam ia sangat kurang tidur. Selesai bersantap pagi hari, maka ia pun bersiap-siap untuk berangkat menuju Daha.

"Kakanda, terimalah uang jujuran dan panji-panji kebesaran Kuripan yang hendak kakanda persembahkan kepada Baginda Raja Daha. Dan terima pulalah tanda mata dari adinda — ikat pinggang pelangi yang tak seberapa harganya. Semoga kakanda selamat dalam perjalanan dan bahagialah kakanda dalam pernikahan." Panji Semirang menundukkan kepala, memejamkan mata, menahan napas, menahan jeritan batin.

"Oh, adinda Panji Semirang. Sesungguhnya berat hati kakanda untuk berpisah dengan adinda. Entah apa benar sebabnya. Perkenalan antara kita berdua yang sangat singkat ini, betapa mendalam berkesan di hati kakanda. Tidak sangguplah kakanda menerangkan dengan kata-kata kepada adinda."

Raden Inu Kartapati menarik napas panjang. Matanya menatap Panji Semirang yang masih menundukkan kepala itu. Suatu kekuatan gaib seolah-olah telah menggerakkan tangan Raden Inu Kartapati untuk menjamah tangan Panji Semirang yang halus itu. Panji Semirang kaget. Hatinya goncang. Srrr ........ arus gaib menggeletarkan urat-urat syaraf Panji Semirang.

"Oh! Betapa halusnya!" pikir Raden Inu Kartapati. Darahnya tersirap. Jantungnya berdetak-detak dengan hebatnya.

Cepat-cepat Panji Semirang menarik tangannya seraya berkata, "Oh kakanda, adinda kuatir kakanda ketularan penyakit adinda."

Raden Inu Kartapati bangkit dari kursi hendak berangkat.

"Alangkah berat kakanda melangkahkan kaki, adinda," bisik Raden Inu Kartapati.

"Selamat jalan dan selamat nikah, kakanda," kata Panji Semirang. Suaranya gagap dan hanya sayup-sayup saja kedengaran oleh Raden Inu Kartapati.

Kedua insan yang sedang digoda perasaan hati masing-masing itu berjalan perlahan-lahan menuju ambang pintu istana. Keduanya naik kuda masing-masing. Kedua kuda itu berjalan berdampingan menuju pintu gerbang.

Sebelum berpisah, kedua merpati itu bercakap-cakap sebentar. Empat mata saling memandang. Dua hati saling menarik — saling menyambut.

Raden Inu Kartapati melecut kudanya — si Rangga Ringgit. Kuda berlari. Raden Inu sebentar-sebentar menoleh ke belakang; memandang Panji Semirang yang masih kelihatan duduk di atas kudanya di depan pintu gerbang itu.

Raden Inu Kartapati hilang dari pandangan oiata, namun masih terbayang-bayang di hati Panji Semirang yang sedang dimabuk rindu.***

Download kisah ini?
Silakan KLIK di sini

Monday, June 28, 2010

Cerpen GM Sudarta: Wanita Berpedang

Wanita Berpedang Samurai
Cerpen GM Sudarta

Perempuan itu berjalan mendekatiku sambil tangan kirinya menggenggam pangkal sarung pedang, sedang tangan kanannya mencengkeram tangkai pedang, siap menghunusnya.

Pedang yang bersarung kulit itu paling tidak sudah selama 60 tahun tergantung di dinding ruang tamu persis di atas sofa. Seingatku semenjak usiaku lima tahun sudah kulihat terpampang di situ. Bentuknya yang ramping memanjang, dengan hiasan logam keemasan di tangkainya, membuatku terkagum-kagum membayangkan betapa gagahnya orang yang menyandangnya. Almarhum ayah pernah bercerita, pedang itu hadiah dari Seigo-san, seorang serdadu Jepang sahabat ayah di zaman pendudukan Dai Nippon. Mereka bersahabat mungkin karena mempunyai kegemaran sama, yakni minum-minum sampai mabuk dan wanita.

“Sewaktu Jepang kalah perang, dia ditarik kembali ke negerinya,” cerita ayah. “Sebelum pergi kami menyanyikan Kimigayo bersama-sama sambil menangis. Kemudian dia menyerahkan pedang sebagai kenangan dengan harapan bisa bertemu lagi. Paling tidak ketemu di akhirat nanti.”

“Rawatlah dan hargailah pedang itu dengan baik sebagaimana kau mencintai istrimu kelak. Pedang samurai adalah lambang dari kesetiaan dan harga diri. Jadikanlah hidupmu seperti seorang samurai. Sebagaimana keris, pedang samurai dengan mata pedang yang sangat tajam yang ditempa dari wesi aji, kemudian dilapisi baja di punggungnya sehingga lentur tak mudah patah, adalah lambang ketegaran hidup yang tidak gampang patah dan berwawasan tajam,” pesan ayah menjelang kepergian untuk selamanya.

Setiap kali kubersihkan pedang dan kubasuh dengan minyak cendana, seperti yang kulakukan untuk koleksi keris-kerisku. Kekagumanku tak pernah habis menikmati keindahan bilahnya setiap kuhunus. Di depan cermin aku suka berdiri bak samurai menggenggam tangkainya dengan kedua tangan dan membayangkan diriku seperti Musashi.

Itu semua rupanya memberikan getaran-getaran benang halus yang menghubungkan hatiku sehingga jatuh cinta kepada Jepang. Dari usia sekolah hingga sekarang aku sangat menyukai gambar-gambar alam Jepang juga lukisan-lukisan ukiyoe karya Utamaro atau Hirosige. Juga nyanyian tradisionil Jepang, Shina No Yoru, hingga lagu-lagu Kenji Sawada. Semua film karya Kurosawa saya lalap habis. Begitu juga film serial Zatoichi.
Rupanya pedang itu telah merasuk dalam jiwa ragaku. Mungkin bisa dibilang aku kesurupan pedang, sehingga bagaikan Musashi yang dalam perjalanan hidupnya selalu mencari tantangan. Dan kemudian sang penantang yang datang kepadaku adalah senyuman dari perempuan itu yang badannya semampai, matanya sedikit sipit dan sayu, rambutnya panjang tergerai, kutemukan dia di sebuah diskotek paling liar di Jakarta.

“Kita para lelaki itu biasanya, kalau sedang jatuh cinta, jarak antara otak dan ’senjata’-nya sangat berjauhan, sehingga apa pun akan dilakukannya tanpa pakai otak,” ujar sahabatku memberi peringatan ketika aku nampak tergila-gila pada si mata sayu.

“Dimulai dengan mengirim bunga, hadiah-hadiah, harta, sampai sedia menjadi budaknya, bahkan sampai nyawa pun diserahkan,” tambahnya. Ah, enggak percaya pikirku. Masa iya, sampai sebegitu jauhnya, kan aku seorang samurai.

Dan jadilah kemudian sebuah kisah cinta bagaikan opera sabun sinetron di televisi kita. Memang dimulai dengan sekuntum bunga mawar. Kemudian bukan hanya bunga saja, melainkan masa depan hidup aku serahkan kepadanya. Meskipun bibir tipisnya suka bicara setajam pedang samurai, dan dia datangnya lewat tajamnya sinar laser lampu-lampu diskotek, serta tajamnya perbedaan usia kami berdua, aku malah semakin mencintainya. Apalagi setelah anak lelaki tampan telah dia lahirkan, melengkapi kebanggaanku sebagai seorang samurai yang habis menang berlaga.

Musim gugur di Kyoto ditandai dengan mulainya daun momiji yang hijau berubah menguning yang nantinya akan berubah merah meronai kota indah itu. Kota yang pernah dihadiri Musashi ini, yang telah lama kuimpikan, akhirnya kenyataan telah datang dengan tugasku di negeri matahari terbit ini. Daun momiji yang berakhir dengan menghitam layu di akhir tahun, telah memberikan kerinduan gaib dalam jiwaku.

Bermula dari ketika kuhabiskan waktu sore sepulang dari jalan-jalan ke Ginkakuji, dengan menyusuri jalan setapak Tetsugaku no Michi yang dalam buku petunjuk wisata disebut philosophy pathway, jalan untuk merenung sambil menyusuri sungai di sampingnya. Sementara pohon momiji rindang menaungi sepanjang jalan dengan daunnya masih menghijau.

Di seberang kanan jalan sebuah restoran kecil meniupkan bahu semerbak, mengundang selera saya. Noren di atas pintu masuk bertuliskan yakitori.

Irashaimase…,” suara halus dari seorang wanita beryukata muncul dari balik noren dengan sikap ojigi, ketika langkahku sampai di depan kedai. Budaya Jepang yang santun ini membuatku tak bisa menolak undangannya. Kuambil kursi dekat jendela yang menghadap rimbunnya daun momiji.

Dozo…,” ucapnya sambil menyerahkan daftar menu dengan sedikit senyum tersungging.

Yakitori to biru ni shimasu,” jawabku.

Kuperhatikan langkah-langkah halusnya setelah dia berbalik ke dapur. Yukata dengan obi di punggung serta leher baju bagian belakang agak turun ke bawah ditambah sanggul yang agak ke atas, telah membuatku terkesima. Di mataku terlihat tengkuknya putih bagai salju dengan bulu-bulu halus kebiruan. Benar juga kata sementara teman, bahwa keindahan wanita Solo adalah pada pinggang ramping dan pinggulnya, sedang wanita Jepang pada tengkuknya!

Sambil menunggu datangnya pesananku, kubuka buku Ai No Kawaki karya Mishima Yuko yang kupinjam dari koleksi buku Murai shensei.

Omatashe-shimashita…,” ucapnya minta maaf karena telah menunggu agak lama sambil meletakkan sepiring yakitori, segelas bir dan secawan kecil oshiko yang di atasnya ditaruh sehelai daun momiji hijau.

Its okey, domo,” jawabku sekenanya.

Kuambil sehelai daun momiji dari cawan acar itu dan kuselipkan ke buku Mishima dengan hati-hati sebagai pembatas buku. Dia perhatikan apa yang aku kerjakan sambil tersenyum. Senyumannya itu… ah!!

Dan senyuman itulah yang kemudian memberiku perasaan aneh mulai melilitku. Mungkin kecantikan asli wanita Jepang paruh baya ini sebagaimana digambarkan dalam lukisan Ukiyoe Utamaro dengan mata sipit, hidung mancung dan kulit putih, serta namanya yang indah dan enak didengar. Harumi memaksaku untuk kerap mengunjungi restoran itu, supaya bisa menemuinya setiap sore, menjelang dia pulang kerja. Sepertinya ada kegelisahan penuh rahasia di antara kami berdua. Apalagi bagiku, kalau teringat si mata sayu di rumah yang beberapa tahun terakhir ini suka uring-uringan tidak jelas juntrungannya.

Tanpa kami sadari setahun telah berjalan dengan sendirinya, dan aku kerap pula mengantarkannya, dengan kereta subway menuju stasiun terdekat dengan tempat tinggalnya, meskipun apartemenku berlawanan arah. Di kereta, kami lebih banyak berbicara dalam diam. Hanya saling memandang dengan tersenyum. Rupanya dia sadar benar akan keterbatasanku dengan bahasa negerinya. Di peron stasiun pemberhentiannya kami berpisah. Dia ucapkan sayonara sambil menyerahkan setangkai kecil daun momiji tiga helai yang masih hijau, yang dia ambil dari tas jinjingnya, dan kemudian menaiki tangga keluar. Aku pun melanjutkan langkah mencari peron sebaliknya.

Getaran-getaran aneh yang selalu menyelinap dalam jalan bersama ini, sepertinya sangat kami nikmati, hampir setiap hari. Sehingga daun momiji yang aku terima dan kemudian menjadi pembatas bukuku ini, telah menjadi catatan mesra selama musim gugur. Dari warna hijau, lalu kuning, merah, hingga coklat dan daun kering menghitam tanda musim gugur usai.

Dua musim gugur telah berlalu. Selama itu telah banyak aku dengarkan cerita tentang dirinya sendiri. Rupanya juga tak jauh berbeda denganku. Insan yang menjalani hidup ini dengan perasaan tak jelas arahnya. Perjalananku ke negeri sakura ini sebenarnyalah bagai terhempas ke dunia yang dihimpit sepi, tak bertujuan, karena hanya menyerah pada keadaan. Begitu juga dia. Kesehariannya adalah rutinitas yang baginya bukan lagi kodrat, melainkan nasib. Nasib seorang perempuan yang dijauhkan dari impiannya sebagai ibu dan istri. Anak sudah menikah, jauh dari rasa peduli kepada ibunya. Suami pulang kerja tengah malam dengan bau alkohol, seperti biasanya kaum pekerja di Jepang yang menghabiskan waktu pulangnya dengan minum-minum sesama koleganya. Bahkan harus rela berbesar hati apabila sang suami pulang mabuk, dipapah seorang wanita lain.

Pagi hingga malam terjerat kesendirian, setelah menyiapkan makan pagi sang suami, kemudian membereskan rumah, belanja, masak, dan akhirnya hanya ditemani acara televisi yang sangat membosankan. Dan akhirnya terhempas pula di restoran ini untuk bisa berjumpa dengan orang lain.

Tiga tahun lebih, aku telah merasa benar-benar bagai samurai sehebat Mushasi. Kami menikmati hari-hari indah ini dengan penuh kerahasiaan yang kami simpan berdua. Menjelang akhir tugasku, kujumpai dia dengan kabut di wajahnya. Matanya agak lebam dan pipi kirinya nampak memar meskipun disaput dengan bedak tebal. Pandangan matanya mengisyaratkan bahwa aku tak usah bertanya. Hampir dua bulan aku tak bisa menemuinya sesudah itu. Bahkan sehari sebelum kepulanganku, tak kujumpai dia di restoran itu. Mama-san, pemilik kedai yang biasa dipanggil, mengatakan bahwa Harumi sudah tidak bekerja di situ lagi.

Hampir tiap bulan aku terima suratnya, berhuruf kanji yang kurang aku mengerti. Hanya tempelan daun momiji dari warna hijau hingga merah yang aku ketahui maknanya. Lewat penantian yang panjang, setelah puluhan kali suratku tak terbalas, barulah setahun kemudian kuterima surat tanpa tulisan dengan tempelan daun momiji hitam yang sudah kering kerontang.

Perempuan itu semakin mendekat. Pedangnya mulai terhunus. Mata sayunya lenyap. Berubah menjadi tajam berkilat, mulutnya mengatup rapat. “Ada apa yang…?” tanyaku terkesima. Ujung pedangnya telah menyentuh dadaku. “Tidak usah tanya! Ceraikan aku sekarang atau kubunuh kau!” jawabnya sambil menekan ujung pedangnya semakin keras. “Ada apa yang?” tanyaku lagi.

“Kau kira aku tidak tahu apa yang terjadi di Jepang? Tua bangka gak tahu diri!” Ujung pedangnya mulai menembus bajuku. Ah aku pikir bukan itu alasannya. Apa yang kurasakan belakangan ini adalah seperti yang telah diperingatkan teman-teman. Penyebabnya adalah setelah akal sehatku hilang, setelah apa yang kupunya kuserahkan atas nama dia, rumah, tanah, mobil, bahkan asuransi jiwaku, tak ada alasan lagi baginya untuk tidak membuka topengnya.

“Tidak mungkin aku menceraikan kau dong yang,” ujarku setenang mungkin. “Bagaimana dengan nasib anak kita nanti…?”

“Anak kita?! Bukan!! Yang pasti anak itu bukan anak kamu! Dia anak diskotek!” ujarnya sambil mengangkat pedangnya.

Sebelum pedangnya menebas leherku, aku sudah keburu hancur berkeping-keping!

Kyoto, 2008

Saturday, June 26, 2010

Legenda, Hikayat, Dongeng Panji Semirang

Kuda Perwira dan Kuda Peranca yang Gagah Perkasa


Meresmikan berdirinya suatu kerajaan baru tiadalah sukar. Dengan beberapa patah kata, dengan pengumuman ringkas, orang bisa lekas tahu. Janji bisa lekas dilupakan orang jika tanpa bukti, tanpa ujud yang dapat dirasakan adanya.

Membangun, memajukan dan mempertahankan kedaulatan Negara merupakan tugas yang maha berat bagi Panji Semirang. Hal itu disadari benar olehnya dan berkat dorongan kemauan yang kuat, segala sesuatunya berjalan baik juga.

Tampak dua orang penjaga pintu gerbang. Elok paras mukanya. Galak-galak sorot matanya. Langkahnya gagah seperti pahlawan yang tak kenal takut.

Itulah Ken Bayan dan Ken Sanggit, dayang-dayang yang berpakaian pria dan berganti nama pula. Yang seorang bernama Kuda Perwira dan yang seorang lagi dipanggilkan Kuda Peranca.

Tugas mereka berat. Mereka harus mencegah orang-orang yang lewat, baik yang datang dari arah Kuripan menuju Daha, maupun sebaliknya. Hanya orang-orang Gagelang dibolehkan terus berjalan tetapi yang lain harus dipaksa menghadap Panji Semirang. Kuda Peranca matanya beringas melihat serombongan pedagang yang hendak lalu. Ujung kumis palsu dipelintir, supaya kelihatan bertambah bengis. Tangan kiri memegang tombak. Tangan kanan bertolak pinggang. Berjalan gagah seperti juara silat. Pangkal tombak ditumbukkan ke tanah. Mulut membentak, "Berhenti!" Para pedagang kecil hatinya melihat tingkah laku Kuda Peranca, lalu berhenti berjalan.

"Kalian dari mana ? Mau ke mana ?"

"Kami dari Gegelang," jawab seorang kepala rombongan pedagang.

"Semua dari Gagelang ?"

"Betul! Kami hendak berdagang."

"Hem! Dari Gagelang !" Kuda Peranca berkata sendirian sambil menatap pedagang-pedagang itu seorang demi seorang. Tangan memelintir ujung kumis palsu.

"Kabarkan kepada orang-orang di negeri kalian tentang negeri kami. Raja kami ialah Sri Baginda Panji Semirang Asmarantaka. Raja gagah perkasa tapi adil."

Demikian perintah Kuda Peranca kepada pedagang-pedagang itu. Maksudnya agar supaya nama Panji Semirang dikenal orang di mana-mana.

"Baik Raden!" sahut para pedagang itu serentak.

''Kalian boleh lewat," kata Kuda Peranca.

Kemudian berjalanlah rombongan pedagang itu dengan hati lega, diikuti oleh pandangan mata Kuda Perwira dan Kuda Peranca.

Selang beberapa jam sesudah itu, tampak pula serombongan orang yang hendak lalu. Kuda Peranca dan Kuda Perwira bersiap-siap hendak menegur bersama-sama. Sebab orang-orang yang hendak lewat itu agak besar jumlahnya.

"Berhenti !" teriak Kuda Peranca dan Kuda Perwira dengan suara lantang.

"Kalian dari mana ? Mau ke mana ?"

"Kami dari negeri Mentawan. Kami hendak pergi ke negeri Kuripan, Raden," sahut kepala rombongan.

"O, dari negeri Mentawan? Apa maksud kalian ke Kuripan?" tegur Kuda Peranca.

"Macam-macam Raden. Ada yang hendak berdagang, ada yang hendak menjual tenaga atau ada juga yang hendak menyelenggarakan tontonan. Seperti lais, ronggeng, debus, sunglap, dan macam-macam lagi pertunjukan."

Jadi kalian semua dari negeri Mentawan ?" Kuda Perwira minta ketegasan sekali lagi.

"Betul, Raden."

Kuda Peranca dan Kuda Perwira saling memandang. Kemudian Kuda Perwira berkata, "Kalian dilarang meneruskan perjalanan ke Kuripan. Kalian mesti ikut kami menghadap Sri Baginda Panji Semirang Asmarantaka. Raja adil dan budiman. Di negeri kami, kalian boleh mencari nafkah hidup. Sumber penghidupan luas terbuka bagi siapa pun."

Kuda Perwira berhenti berbicara. Memandang muka para pedagang yang tampak tidak setuju dan agak kesal hatinya. Mereka merasa dibegal dan bakal menderita rugi. Berdagang di Kuripan sudah kelihatan untungnya, sebab sudah banyak langganan di sana. Sedangkan di negeri yang baru itu segala-galanya belum tentu.

"Kami tidak setuju, Raden ! Kami harus meneruskan perjalanan ke Kuripan. Langganan menunggu kedatangan kami di sana," sahut kepala rombongan pedagang. Dan serentak pula pedagang-pedagang itu bangkit hendak berjalan.

Kuda Peranca marah. Sambil menumbukkan pangkal tombaknya ke tanah ia membentak, "Siapa-siapa tidak mau menurut perintah, kami tangkap. Yang berani melawan dengan kekerasan kami bunuh ! Mengerti ?"

"Mengerti, Raden! Kami menurut saja kehendak Raden." Demikian sahut orang-orang dari rombongan kesenian. Maka timbullah perpecahan di antara orang-orang negeri Mentawan itu. Segolongan menurut dan segolongan yang lain membangkang.

Enam orang pedagang yang pemberani, serentak mencabut keris masing-masing. Terus menyerang Kuda Peranca dan Kuda Perwira. Timbullah pertikaian. Dua lawan enam! Dengan sigap kedua prajurit itu memainkan tombak masing-masing. Mempertahankan diri. Tangkai tombak dipegang sama tengah. Dengan cara demikian mereka bisa memukul penyerang dengan ujung dan pangkal tombak. Tak! Musuh kena pukul pangkal tombak. Musuh sempoyongan. Cos! Mata tombak ditusukkan ke perut musuh. Sur! Darah membersit membasahi tanah. Musuh jatuh — mengerang kesakitan — berdengus-dengus napasnya — akhirnya mati.

Dua penyerang sudah terang jadi mayat. Yang empat lagi luka-luka berat. Keenam-enamnya bergeletak di tanah tanpa daya. Orang-orang Mentawan itu menjadi takut semua kepada Kuda Perwira dan Kuda Peranca. Mereka menurut tanpa syarat segala perintah kedua prajurit itu. Kemudian terus digiring untuk menghadap Sri Baginda Panji Semirang.

Dengan kata-kata lemah-lembut, dengan sikap yang menarik, Baginda Raja menyampaikan sabdanya, "Dengan rasa persaudaraan, rakyat kami menyambut kedatangan kalian di negeri kami. Rakyat kami mengajak kalian bekerja bersama-sama; secara gotong royong membangun negeri kami sehingga menjadi bertambah makmur. Kehidupan kalian kami jamin."

Selanjutnya Sri Baginda memerintahkan rakyat untuk menghibur orang Mentawan dengan makan minum. Tiap keluarga harus menerima dua tiga orang tamu di rumah masing-masing. Kemudian secara gotong royong mendirikan perkampungan baru. Setelah itu mengadakan keramaian di alun-alun.

Orang-orang Mentawan senang hatinya mendengar sabda Sri Baginda sedemikian. Hilanglah takut mereka dan timbul rasa persaudaraan dengan rakyat Baginda Raja Panji Semirang. Lambat laun mereka merasa betah tinggal di negeri baru itu. Dengan sukarela orang-orang Mentawan menyatakan hendak menjadi rakyat Sri Baginda Panji Semirang Asmarantaka. Dengan demikian bertambah banyaklah rakyat Sri Baginda. Keadilan dan kemakmuran yang dijanjikan Sri Baginda menjadi kenyataan, oleh karena rakyat sendiri patuh dan giat bekerja, rajin usaha; masing-masing menurut kecakapannya sendiri-sendiri. Barangsiapa merasa belum cakap bekerja pasti mendapat bimbingan. Barangsiapa menghadapi kesulitan, pasti diberi pertolongan. Yang sakit, yang papa atau pun cacat dirawat baik-baik. Anak-anak muda dilatih membuat alat perkakas pertanian dan alat perang. Juga dilatih menjaga keamanan negeri. Barangsiapa memperlihatkan kecakapan dan kerajinan bekerja yang luar biasa, pasti dikaruniai hadiah oleh Sri Baginda.

Nama Baginda Panji Semirang semakin harum tersiar ke mana-mana. Semakin banyak rakvat berasal dari Daha, dari Kuripan, dan dari Mentawan pada pindah ke negara Panji Semirang. Banyak di antara orang-orang pendatang itu yang hidup makmur dan beroleh pangkat dalam kerajaan. Ada orang asal Daha menjabat pangkat menteri, ada orang asal Kuripan menjadi demang atau temenggung. Tidak sedikit pula orang-orang asal Mentawan yang menjabat pangkat bupati.

Sementara itu Raja Mentawan bersedih hati, oleh karena rakyat banyak yang pindah ke negeri Baginda Panji Semirang. Tidak hanya rakyat biasa, melainkan juga orang-orang berpangkat pada meninggalkan tempat, kemudian menjabat pangkat di negeri Panji Semirang.

Negeri Mcntawan semakin lemah, semakin mundur. Raja Mentawan cemas hatinya dan merasa takut kalau-kalau negerinya akhimya diserang dan dijajah Baginda Panji Semirang.

Menumt dugaannya Baginda Panji Semirang itu orangnya jahat, ganas. Badannya tinggi besar seperti raksasa. Gagah perkasa tanpa tanding.

"Jika negeriku diserang, rakyatku rusak binasa. Permaisuri dan kedua putriku pasti menjadi korban juga. Dijadikan seperti barang rampasan." Demikian pikir Raja Mentawan. Perasaannya rusuh. Pikirannya kelam kabut. Lebih-lebih mengingat kepada kedua putrinya, Puspa Juita dan Puspa Sari.

Pada suatu hari isi keraton Mentawan menjadi gempar. Beratus-ratus orang dari desa-desa pinggiran, berbondong-bondong menuju ibu kota. Sebab di perbatasan negeri, tampak pasukan tentara Baginda Panji Semirang. Orang-orang menduga negeri Mentawan akan diserang musuh yang sangat kuat.

Raja Mentawan segera mengutus Patih pergi ke perbatasan untuk menyelidiki benar tidaknya kabar yang disampaikan orang-orang pengungsi itu. Patih bersama-sama hulubalang dan beberapa prajurit segera berangkat ke perbatasan. Betul! Dari jauh sudah kelihatan betapa banyak lasykar musuh yang sedang berkemah di sana. Dengan hati berdebar-debar Patih terus mendapatkan hulubalang pasukan Panji Semirang dan minta izin hendak menghadap Sri Baginda. Permintaan Patih diperkenankan. Dengan dihantarkan Hulubalang Kuda Perwira dan Kuda Peranca, Patih menghadap Sri Baginda Panji Semirang.

Patih terkejut ketika melihat Sri Baginda yang sangat cantik itu. Sungguh di luar dugaan ! Sebab ia menduga akan berhadapan dengan seorang raja yang serba kasar tingkah lakunya; yang jahat dan bengis perangainya. Tetapi kiranya ia berhadapan dengan raja yang gagah perkasa tapi molek cantik. Sangatlah kagum Patih melihat kecantikan paras Sri Baginda Panji Semirang! Serasa menghadap sang Dewa Kamajaya dari keindraan.

"Paman Patih ! Harap Paman sampaikan sembah sujud kami ke hadapan Paduka Sri Baginda Mentawan. Jika Paduka Raja berkenan hati kami bermaksud hendak menghadap untuk mengeratkan silaturahmi kami dengan Paduka Raja. Kami menunggu balasan Paduka Raja, Paman." Demikian sabda Baginda Panji Semirang.

Bukan main-main lega hati Patih mendengar sabda Baginda Panji Semirang demikian. Dengan khidmat Paman Patih bersembah, "Hamba junjung setinggi-tingginya sabda Paduka. Hamba mohon diri."

Patih segera naik kuda. Terus kembali ke istana Mentawan.

Kegemparan di istana mendadak menjadi reda. Kegelisahan hati segera hilang lenyap, setelah Patih mempersembahkan berita dari perbatasan itu. Dan segera pula Baginda Raja menitahkan Patih mengatur segala persiapan untuk menyambut kedatangan tamu agung Sri Baginda Panji Semirang. Permaisuri, Puspa Juita dan Puspa Sari berpeluk-pelukan, tertawa-tawa oleh karena hatinya terlalu girang. Girang oleh karena mereka tidak jadi diancam malapetaka, tetapi sebaliknya bakal mendapat kehormatan menerima kunjungan muhibah Sri Baginda Panji Semirang yang sudah masyhur namanya itu.

Tak lama kemudian kedengaranlah suara gamelan dan macam-macam bunyi-bunyian, pertanda tamu agung beserta pengiringnya sudah tiba. Dan kedengaran pulalah sorak sorai rakyat Mentawan yang menyambut tamu agung itu sepanjang jalan.

Rakyat Mentawan berdesak-desakan, berjejal-jejal, karena ingin jelas melihat Sri Baginda yang masyhur karena cantik dan gagah perkasanya itu; yang dikabarkan sebagai penjelmaan Dewa Kamajaya itu.

Raden Panji nan cantik jelita, naik kuda berwarna putih bersih. Menyambut rakyat Mentawan dengan senyum manis. Senyum mesra, tanpa dibuat-buat ke luar dari kalbu bersih sang Nata.

Banyak gadis lupa akan tunangan, karena hati terpikat Raden Panji. Mata memandang tanpa kedip, mulut ternganga lebar. Jantung berdebar-debar, kaki tak berasa capek mengikuti Sri Baginda yang naik kuda. Nenek-nenek lupa akan rambut sudah putih, bertingkah seperti gadis remaja. Hendak berlari menyongsong Baginda jelita, tapi kaki kaku tak mau diajak cepat-cepat melangkah. Tinggallah nenek berdiri sendirian, seperti orang-orangan di tengah sawah. Jika kakek tidak menyeret pulang, maulah nenek menunggu sampai Sri Baginda nanti kembali.

Jika nenek melihat cermin barulah ia sadar, bahwa masa muda sudah lama meninggalkan dia.

Permaisuri mentawan dan kedua putrinya berdiri tertegun. Matanya terbelalak seperti mata belalang melihat Sri Baginda Raja Panji Semirang masuk istana, terus menyembah dengan hormatnya di hadapan Sri Baginda Raja Mentawan. Istana sunyi senyap, orang-orang mulutnya bungkam, berdiri seperti patung-patung; seperti dikuasai tenung.

Tutur kata, gerak-gerik Sri Baginda Panji Semirang sangat menarik perhatian orang-orang Mentawan.

Selesai bersantap sambil beramah-tamah, Panji Semirang mohon diri. Lalu menitahkan bersiap-siap untuk meninggalkan negeri Mentawan. Kunjungan muhibah Sri Baginda Panji Semirang sesungguhnyalah meninggalkan kesan baik yang takkan mudah dilupakan oleh rakyat Mentawan.

Untuk menambah eratnya hubungan persaudaraan, Puspa Juita dan Puspa Sari diizinkan ayahanda Raja untuk turut serta dengan Sri Baginda Panji Semirang ke negerinya. Untuk melayani kedua putri itu, dua emban turut pula, yaitu Ken Pamonang dan Ken Pasirian.

Hari malam ketika Baginda Panji Semirang masuk istana. Mahadewi menyambut dengan senang gembira kedatangan Panji Semirang. Setelah bercakap-cakap sejenak dengan Mahadewi, Panji Semirang pergi bersiram dengan air kembang yang harum baunya. Pakaian prianya ditanggalkan, rambutnya diurai, lalu bersiram dan berlangir. Baginda Panji Semirang beralih rupa kembali menjadi Galuh Cendera Kirana.

Dalam bilik tertutup, di malam sunyi, Cendera Kirana menyepi seorang diri. Putri ayu hendak melepaskan pikiran dari segala kesibukan kerja sebagai raja — ingin kembali menjadi manusia biasa sepanjang malam — ingin menurutkan bisikan hati yang rindu kepada Raden Inu Kartapati di Kuripan. Sambil berbaring di atas tilam empuk yang beralaskan kain sutera indah, Cendera Kirana mencium boneka emasnya. Anak-anakan itu ditimang-timang, didendangkan nyanyian-nyanyian merdu, dipeluk, didekap, diajak berbicara. Semua isi hati dicurahkan Cendera Kirana kepada boneka kencana. Legalah hati Kirana. Kemudian hanya napasnya jugalah yang sayup-sayup sampai kedengaran dalam bilik itu. Putri ayu mengembara di alam mimpi.***

Thursday, June 24, 2010

Ramayana: Sinopsis

Ringkasan Cerita Ramayana

Raja Dasarata di Ayodya mempunyai beberapa istri. Dengan permaisuri ia berputra Rama. Dengan istrinya yang ke-2 bernama Kaikeyi berputra seorang bernama Barata. Putra-putranya yang lain ialah Laksamana dan Satrugna.. Putra-putranya ini dididik sebagaimana pendidikan yang diberikan para putra raja.

Dalam suatu sayembara Rama mendapat Dewi Sita yang sangat, cantik sebagai istrinya. Dewi Sita adalah anak raja Janaka yang memerintah di Mitila.

Pada waktu Dasarata sakit ia pernah berjanji kepada Kaikeyi bahwa kelak tahta kerajaan akatt diserahkan kepada Barata, untuk membalas jasa Kaikeyi yang telah dengan tekun merawatnya. .

Setelah Dasarata tua, tahta kerajaan diserahkan kepada Rama. Karena itu Kaikeyi menggugat dan mengingatkan baginda akan janjinya dahulu. Tuntutan ibu tiri Rama itu ialah: (1) Barata harus dinobatkan menjadi raja Ayodya; (2) Rama harus dibuang dalam hutan selama 14 tahun.

Dasarata harus menepati janjinya sebagai seorang ksatria dan dengan sedih ia menyampaikan keputusan atas tuntutan di atas.

Rama mengundurkan diri dan roengembara di hutan Dandaka selama 14 tahun bersama istri dan adiknya, Laksamana. Hal ini sangat mengharukan rakyat Ayodya yang sangat mencintai Rama. Karena sedih memikirkan hal itu maka mangkatlah Dasarata.

Pada suatu hari Sita dirampas raksasa Wirada. Tetapi raksasa itu dapat dikalahkan Rama dan Laksamana. Pada hari lain Rama berjumpa dengan Surpanaka, adik perempuan raja Rawana yang memerintah kerajaan Langka. Surpanaka jatuh cinta kepada Rama, tapi Rama tidak mau tergoda. Begitu pula cinta Surpanaka terhadap Laksamana tidak mendapat sambutan. Bahkan Laksamana mengerat telinga dan hidung Surpanaka karena bencinya. Surpanaka segera mengadukan halnya kepada Rawana (Dasamuka = sepuluh muka) yang sudah mengetahui kecantikan Dewi Sita. Timbullah keinginannya untuk melarikan Dewi Sita.

Raja Rawana segera mendatangi tempat perkemahan Rama dengan pengiringnya, Narisa, yang dapat menjelma sebagai kijang emas. Narisa menjelma menjadi seekor kijang emas dan mendekat ke kemah Dewi Sita. Setelah terlihat oleh Sita, inginlah ia memiliki kijang emas itu dan minta supaya Rama mau menangkapnya. Sebelum Rama berangkat mengejar kijang emas terlebih dahulu ia membuat lingkaran kesaktian mengelilingi kemah mereka. Siapa yang masuk ke lingkaran itu tidak dapat keluar lagi. Tapi semua ini telah diperhatikan dan diketahui oleh Rawana dari jauh. Setelah Rama jauh dari kemah, mengejar kijang emas, terdengarlah pekik orang. Sita mengira Rama mendapat bahaya. Segera Laksamana disuruh Sita menyusul abangnya. Mula-mula Laksamana menolak, karena telah dipesan oleh Rama supaya Laksamana tidak meninggalkan Sita, sebelum Rama kembali. Sita lalu menyindir dengan mengatakan "Istri kakak lebih penting daripada kakak sendiri."

Mendengar sindiran itu, maka Laksamana menyusul abangnya. Rawana segera menghampiri kemah menjelma seorang peminta-minta, berdiri di luar lingkaran kesaktian. Ia memohon agar Sita dapat memberinya air minum karena ia sangat haus. Ketika Sita mengulurkan air minum itulah Rawana menarik tangan Sita dan langsung dibawanya terbang ke Langkapura (Sailon) tempat kerajaannya. Rama jatuh pingsan setelah kembali, Sita telah menghilang dari kemah.

Di udara burung Jatayu melihat Sita dibawa oleh Rawana. Jatayu segera menyerang Rawana. Tapi ia terpukul bagian sayapnya oleh gada sakti Rawana. Rawana dengan mudah mengalahkan Jatayu karena ia mempunyai sepuluh muka yang dapat melihat segenap penjuru, selain mempunyai gada sakti. Untung saja Sita sempat melemparkan cincinnya kepada Jatayu. Cincin itu diberikan Jatayu kepada Rama sebagai bukti tentang Sita, setelah pada suatu ketika Rama sampai di hutan tempat Jatayu jatuh. Jatayu-lah yang sempat memberitahukan hal Sita, sebelum ia menghembuskan napas terakhir.

Dengan pertolongan Kabanda, Rama dan Laksamana mendapat petunjuk supaya minta bantuan kepada Sugriwa raja kera, untuk menaklukkan Rawana. Sugriwa mau membantu asalkan terlebih dahulu ia dibantu menaklukkan saudaranya, Walin, yang memusuhinya. Hanoman, Panglima Raja Kera, menyusup ke Langkapura untuk mematai-matai Rawana. Ia menyamar sebagai seekor kucing dan berhasil masuk ke istana Rawana menemui Dewi Sita. Tahulah ia bahwa Sita tidak kekurangan sesuatu apa pun. Sita sangat gembira berjumpa dengan Hanoman yang juga menyampaikan berita tentang suaminya. Tapi sayang ketika akan pulang ia tertangkap. Hanoman tidak jadi dibunuh setelah ia mengaku sebagai utusan. Sebagai ganti hukumannya, dibakarlah ekornya dengan mengikatkan bahan-bahan yang mudah terbakar. Dalam keadaan ekor terbakar Hanoman melompat-lompat dari bangunan yang satu ke bangunan yang lain yang menimbulkan kebakaran besar di Langkapura. Senanglah hati Rama mendapat kabar dari Hanuman bahwa istrinya, Sita, tidak diganggu Rawana.

Rama mulai menyusun penyerangan. Untung sekali ia mendapat bantuan Wibisana, saudara Rawana, yang menyalahkan perbuatan Rawana melarikan Sita. Dengan panah Rama yang sakti, Rama menghadapi Rahwana.

Dalam peperangan itu Rawana tewas dan Rama menang. Langkapura diserahkan kepada Wibisana yang telah membantunya. Akhirnya masa pembuangan 14 tahun selesai. Rama dan Sita pulang ke Ayodya dengan upacara yang diadakan secara besar-besaran.

DOWNLOAD sinopsis ini

Tuesday, June 22, 2010

Memahami Ramayana

Memahami Ramayana

Ramayana sama sifatnya dengan Mahabharata yaitu Wiracarita dan berhubungan dengan agama. Yang dianggap sebagai penulis ialah Walmiki, seorang Rsi yang memelihara putra Rama.

Sama halnya dengan Wiyasa, Walmiki dianggap sebagai penyusun saja, dengan alasan: (1) Perkembangan eeritanya dalam jarak waktu yang lama, yaitu selama 400 tahun. Mulai 200 tahun sebelum Masehi dan berakhir 200 tahun sesudah Masehi; (2) Ceritanya tersusun atas 24.000 seloka. Tiap seloka tersusun atas 28 sampai dengan 32 suku kata. Jadi sangat panjang.

Ramayana dianggap lebih dari Wiracarita. Rama dianggap orang Hindu sebagai penjelmaan Dewa Wisnu, sehingga Dewa Wisnu disebut juga Dewa Ram. Sebesar-besar dosa yang dibuat manusia, dapat terhapus dengan mengucapkan Ramantra (Mantra Rama).

Cerita Ramayana terbagi atas bagian-bagian yang disebut kanda. Semuanya ada 7 kanda, yaitu: (1) Balakanda: Cerita pertama tentang Wisnu akan menjelma ke dunia. Ceritanya kebanyakan bersifat mythe; (2) Ayodyakanda: Cerita tentang raja Dasatha di Ayodya; (3) Aranyakanda: Cerita tentang percakapan Barata dengan Rama di hutan Dandaka mengenai tahta kerajaan; (4) Kiskandakanda: Cerita tentang Sugriwa, raja kera dengan laskarnya; (5) Sundarakanda: Cerita tentang keindahan kerajaan Langkapura dan pertemuan Hanoman dengan Dewi Sita; (6) Yudhakanda: Cerit tentang pengucilan Sira (hukuman dari Rama) dan Cerita akhir hayat Rama sampai ia menjadi Wisnu kembali.

Aneka Ragam Cerita Ramayana

Dalam cerita Sri Rama Indonesia tentang Ramayana ini berakhir dengan kesedihan. Rama merasa curiga terhadap Sita bahwa ia masih suci, tidak ternoda oleh Rawana di istana Langkapura. Untuk membuktikan kesuciannya Sita diuji dengan api. Ternyata Sita tidak terbakar dalam kobaran api yang menandakan bahwa ia betul-betui tidak dinodai oleh Rawana. Tetapi Rama tetap belum percaya. Sita dibuang ke hutan, dan untunglah ia mendapat perlindungan Rsi Walmiki (penyusun Ramayana). Dalam pertapaan Sita diciptakan oleh Maharsi anak Sita yang diberi nama Kusa dan Tilawa.

Walmiki memperkenalkan kedua putranya tersebut kepada Rama, yaitu putra yang lahir dalam pertapaan Sita. Karena Rama tetap belum percaya, maka Sita berkata, bahwa bumi akan terbuka dan menelannya jika ia sungguh tidak ternoda oleh Rawana. Maka terjadilah hal yang demikian, bahwa Sita ditelan oleh bumi. Tinggallah Rama dengan penyesalan dan ucapan "Sungguh suci kau Sita."

Rama kembali ke hutan bertapa, sampai akhir hayatnya, dan ia kembali sebagai Wisnu di keinderaan. Tilawa diangkat menjadi raja pengganti Rama di Ayodya.


Ramayana Menjadi Sastra Indonesia

Karena erat pergaulan bangsa Indonesia dengan bangsa Hindu, maka hasil kesusastraan Hindu ini masuk ke dalam sastra Indonesia dengan variasinya akhirnya juga menjadi milik Indonesia. Perubahan dari yang semula terjadi karena: (1) Adanya penyesuaian dengan adat-istiadat dan kebiasaan di Indonesia; (2) Variasi setiap penutur yang menyampaikan cerita ini secara lisan.

Dalam sastra Indonesia cerita ini lebih dikenal dengan nama Hikayat Sri Rama. Sudah tentu banyak perbedaannya dari Ramayana yang semula. Lebih-lebih dalam Sri Rama sudah banyak kita jumpai hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. Di India pun cerita Ramayana tidak sama. Cerita Ramayana di India Utara berbeda dengan di India Selatan. Menurut Stutterheim, Ramayana Walmiki, bukanlah yang tertua di India, karena selain itu banyak lagi cerita tentang Ramayana.

Ramayana dalam bahasa Hindu disusun oleh Tulsi Das. Buku ini dianggap sebagai buku agama yang dianut oleh lebih-kurang 1000 juta orang India. Ada pula Ramayana yang disusun berbentuk drama yang disusun oleh Kalidasa.

Menurut pendapat ahli, Ramayana yang masuk ke Indonesia bukan Ramayana yang disusun oleh Walmiki, melainkan yang berasal dari India Utara. Oleh Yogiswara cerita yang masuk dari India Utara ini disalin ke dalam bahasa Jawa Kuno pada tahun 925. Kemudian pada tahun 1900 diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa oleh Prof. Dr. Kern dan diterbitkan di Leiden (Belanda). Oleh karena banyak yang tidak mengetahui bahasa Jawa Kuno, maka Yasadipura I menerjemahkannya ke dalam bahasa Jawa Baru dan diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Hikayat Sri Rama dalam kesusastraan Indonesia ada 2 macam, yaitu:
  1. Yang diterbitkan oleh Roorda van Esynga pada tahun 1843. Merupakan cerita yang tertua dan tidak banyak bedanya dengan Ramayana Walmiki.
  2. Yang diterbitkan oleh Shellabear tahun 1915. Isinya sangat berbeda dengan Ramayana Walmiki.

Lama-kelamaan tokoh Laksamana di Indonesia lebih disenangi daripada Rama, karena Rama mencerminkan orang yang lepas bimbingan, kurang berani, dan pencuriga.

Sedangkan Laksamana mencerminkan orang yang mau berkurban, berani, jujur, dan berjasa. Kemudian Laksamana menjadi nama pangkat perwira tinggi dalam Angkatan Laut.

Masyarakat Indonesia lebih menyukai cerita Ramayana daripada Mahabharata dengan jiwa masyarakat Indonesia.

Sedangkan pada cerita Mahabharata lebih menonjol unsur pertempuran yang menimbulkan kurban yang sangat banyak. Namun demikian bagian-bagian cerita Mahabharata tetap disenangi masyarakat Indonesia. Cerita-cerita dalam pewayangan banyak yang berhubungan dengan cerita Mahabharata ini.

Cerita-cerita dalam Mahabharata banyak dipahatkan di candi Borobudur dan candi lainnya. Demikian juga cerita Ramayana, dipahatkan pada candi Prambanan. Pada candi Prambanan terkenal pahatan Larajongrang, cerita yang terkenal di kalangan penduduk di sekitarnya.

Disarikan dari berbagai sumber

DOWNLOAD postingan ini

Sunday, June 20, 2010

Mahabarata: sinopsis

Sinopsis Mahabarata


Pada kerajaan Hastinapura di negeri Barata memerintah Prabu Syamanu dari keluarga Kuru. Ia sangat gagah dan perkasa. Dengan Dewi Gangga ia berputra seorang bernama Bisma.

Pada suatu hari Syantanu melihat putri raja nelayan yang cantik bernama Setiawati. Ia ingin memperistrinya. Ayah Setiawati rnau memberikan putrinya asal keturunannya kelak dinobatkan menjadi raja, dan bukan Bisma.

Melihat kedukaan ayahnya, maka Bisma menyetujui permintaan raja nelayan. Ia berjanji tidak akan menuntut haknya atas Kerajaan Hastinapura. Untuk itu Bisma bersedia tidak menikah, supaya tjdak ada keturunannya kelak yang mungkin menuntut hak atas kerajaan itu.

Atas pernikahan Syantanu dengan Setiawati lahirlah Tsitrangada dan Witsitrawirya. Tsitrangada tewas oleh Gandarwa. Witsitrawirya menikah dengan 2 orang putri raja Ambika. Tetapi Witsitrawirya meninggal dunia sebelum ada keturunan. Setiawati minta supaya Wiyasa (putranya yang lahir atas perkawinannya dengan Palasara) dapat menggantikan Witsitrawirya sebagai suami Ambika dan Ambalika, agar keturunannya tidak punah.

Wiyasa Seorang Rsi (orang suci) yang kenamaan. Dengan Ambika ia berputra seorang Destarastra. Dengan Ambalika ia berputra Pandu. Destarastra menikah dengan Gandari dan berputra Duryudana dengan 99 orang adiknya. Keturunannya ini disebutKorawa. Pandu menikah dengan Kunti dan Madri. Keturunan Pandu ini disebut Pandawa. Sebenarnya Pandu tidak ada keturunan. Anaknya itu didapat atas perkawinan istri-istrinya dengan para dewa, yaitu: Kunti dengan Dewa Darma, lahirlah Yudistira. Kunti dengan Dewa Wahyu, lahirlah Bima. Kunti dengan Dewa Indra, lahirlah Arjuna Kunti dengan Dewa Surya, lahirlah Kama Madri dengan Dewa Aswin, lahirlah Nakula dan Sadewa (kembar).

Setelah Pandu wafat tahta kerajaan dipegang oleh Destarastra. Putra-pufra Pandu (Lima Pandawa) dididik bersama 100 orang putra Destarastra. Durno (paman Korawa) diserahi tugas mendidik anak-anak itu. Tentu saja Durno lebihsuka bila Korawa yang memegahg tahta kerajaan kelak. Dicarinya usaba untuk menjatuhkan Pandawa. Diajaklah Duryudana berjudi dengan'Yudhistira. Sampai-sampai Kerajaan Astinapura yang ditaruhkan. Karena Duryudana selalu mendapat isyarat dan pamannya, Durno, maka ia selalu menang. Pihak Pandawa tidak mau menerima kecurangan itu dan disampaikanlah kepada Desfarastra. Destarastra mendamaikan mereka dengan mengambalikan hak Pandawa. Tapi Korawa menolak dan minta supaya perjudian diulang kembali. Kali ini harus ditepati. Pandawa pun kalah lagi sehingga Kerajaan Hastinapura betul-betui harus diserahkan kepada Korawa. Pandawa harus keluar dari Hastinapura, -diusir selama 12 tahun.

Pandawa mengembara dalam hutan, menderita, dan melarat. Ketika sedang istirahat dalam sebuah pondok, secara diam-diam pondok dibakar atas suruhan Duryudana, untuk membinasakan Pandawa. Namun Pandawa dapat terhindar dari jebakan itu.

Pada suatu hari mereka sampai di negeri Matsya. Kebetulan raja Matsya sedang mengadakan swayembara (sayembara). Siapa yang dapat mengangkat dan memanahkan sebuah panah yang berat, tepat mengenai sasaran, orang itu akan dijodohkan dengan putrinya yang cantik, dijadikan menantunya. Dengan mudah Arjuna dapat melakukannya sehingga ia dinikahkan dengan putri raja Matsya bernama Dropadi. Begitu juga lima Pandawa lainnya, dikawinkan dengan Dropadi. Jadi perkawinan secara poliandri, yaitu seorang istri memiliki beberapa orang suami.

Menurut perjanjian pada, tahun ke-13 para Pandawa harus menghilang di tempat yang telah ditentukan. Namun mereka telah memutuskan untuk sembunyi di istaria Matsya. Setelah berlalu masa 13 tahun, tibalah saat pembalasan dendam kaum Pandawa terhadap Korawa yang diceritakan dalam peperangan 18 (delapan belas) hari di Kuru Ksetra (lapangan Kuru).

Bagian yang indah dan yang penting dalam Mahabharata ialah Bhismaparwa (parwa ke-6). Bagian ini menceritakan tentang percakapan Kresna (penjelmaan Dewa Wisnu) dengan Arjuna pahlawan Pandawa, ketika Arjuna diliputi keraguan untuk menggempur saudaranya kaum Korawa, lebih-lebih setelah melihat mayat bergelimpangan dan darah bercucuran. Mendengarkan ucapan-ucapan Wisnu tentang perjuangan menegakkan kebenaran dan hak, maka Arjuna bangkit semangatnya untuk berjuang dengan berbagai taktik penyerangan dan berhasfl mencapai kemenangan.***

DOWNLOAD sinopsis ini

Friday, June 18, 2010

Kritik Puisi Interlude Goenawan Mohamad

Interlude Goenawan Mohamad: Gejala Puisi Indonesia Modern?

Two roads diverged in a yellow wood
And sorry I could not travel both"
Robert Frost, The Road Not Taken

Alkisah, terdapat olok-olok untuk dunia puisi Indonesia modern. Tentu saja, paling tidak olok-olok demikian terhitung sejak Chairil Anwar, yang telah ramai-ramai kita pegang tengkuknya dan dijadikan tokoh tidak tergugat terhadap apa yang disebut sebagai tokoh puisi Indonesia modern.

Jika anda mencari puisi Indonesia modem — yang berbahasa Indonesia lengkap, penuh, jernih dan bersih, benar dan tanpa cacat — jangan Anda mencari pada puisi-puisi yang ditulis oleh para penyair Indonesia, tetapi harapkan Anda mencari puisi-puisi asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia; yang biasanya dikerjakan oleh sejumlah penyair Indonesia.

Karena, kita telah berdiri dengan kaki terpancang tegak di atas landasan realitas yang tidak tertolak.

Kita berdiri dan hidup di tengah iklan sebuah negeri Indonesia. Bentuk dan isi yang bernama megah — mungkin juga mewah — itu, terdiri dari dua unsur global: Dari ragam banyaknya kebudayaan daerah yang berserakan dari Sabang sampai Merauke dan dari ragam banyaknya kebudayaan asing yang masuk ke negeri kepulauan ini. Dan adonan dua kutub itu ramai-ramai menghidupi kita: etnik baru yang secara geografis ada di antara dua benua Asia dan Australia serta di antara lautan Pasifik dan India. Sekarang wajah kita tampak samar, namun pada gilirannya, tentu akan jelas juga. Kita berdiri pada sebuah posisi bagus: posisi keterlanjuran.

Di dalam posisi demikian, seyogyanya kita bangga. Kita tidak bisa lain kecuali menghadapi kenyataan itu. Manakala kita mengeluh dan menyayangkan, berarti kita kecewa dengan realitas yang terus berderap penuh gegap gempita. Tidak ada pilihan lain, apabila rasa bangga itu pun diharuskan. Kita pun dengan rasa sukarela akan menerima kebanggaan demikian. Kita telah meniscayakan diri dengan nasib untuk terlanjur— dengan rasa kecut atau masam — kemudian berbangga-bangga. Paling banter kita cuma bisa berkata: ya, apa boleh buat.

Dengan kata-kata yang seolah berkesan pragmatik demikian, kita bersedia untuk tidak menjadi ilusionis ulung. Kita pun meninggalkan impian siang bolong, untuk tidak menjadi steril. Selamanya memang, sterilitas dalam gelora hidup hanya ada dalam angan-angan. Arus besar yang bernama hidup terlanjur terus melanda usaha-usaha membangun impian demikian itu. Mungkin sebetulnya hanya kita enggan mengakui terjadinya proses adonan, yang disebabkan beberapa gambar hidup, antara lain:

a) Tidak segera merumuskan langkah karena kita memang kurang terlatih untuk merumuskan fenomena-fenomena yang ada, kurang terlatih bertindak menuruti disiplin diri atau disiplin hasil komitmen bersama.

b) Latar kebudayaan daerah rural dengan irama interaksi yang lamban, dengan pemeo tersohor sebagai "timeless" dan trauma warga jajahan kolonial ratusan tahun, yang melemahkan ketangkasan dan kepekaan kreatif, untuk bersikap dan berpendirian terbuka.

c) Pemudaran intensitas penghayatan pribadi, di tengah gosokan-gosokan proses urbanisasi yang beriarut- larut tapi belum juga terbentuk alternatif-alternatif baru yang sanggup mewadahi kebutuhan ekspresi manusia kontemporer di kota-kota.

d) Dengan demikian bahasa Indonesia yang dipercaya khalayak pemakainya sebagai alat komunikasi. wahana ekspresi artistik, dan penciptaan orientasi baru sebagai idiom kebudayaan Indonesia memerlukan pemapanan terus menerus.

Pola berpikir yang saling mempertentangkan secara tajam antara terminologi tradisional dan modern, hendaknya juga sebatas pada tata cara melihat dan mengamati, tata cara memilih jalan dan berekspresi, tata cara bersikap dan berpandangan, dan sebagainya tapi tidak berani untuk mematikan dan memusnahkan yang satu atau menghidupkan dan menyuburkan yang lain. Dengan demikian substansi-substansi karya budaya masing-masing tetap bisa bereksistensi, tanpa terhalau oleh tata cara berkebudayaan. Kalaulah terjadi degradasi di antara mereka sendiri, sumber proses tidak bermula dari para penyangga substansi-substansi karya budaya, tapi dari aktivitas-aktivitas di luarnya.

Kita pun tidak asing dengan usaha-usaha kalangan yang punya orientasi ke daerah-daerah yang menghidupkan potensi sub-budaya masing-masing sebagai bagian tak terpisah dari kesehariannya. Tidak juga mengganggap dia hanyalah sisa-sisa potensi masa lampau yang lambat atau cepat akan tamat tapi selalu hendak dihidup-hidupkan. Pada lain wajah kita pun menghargai dan menghormati kenyataan kontemporer yang menggapai-gapai potensi budaya kaum modernis dengan meraih sumber-sumber budaya asing, karena berbagai hasil dan proses yang tampak di permukaan dalam kehidupan modern juga hadir di depan mata. Pilihan-pilihan ke arah mana seorang hendak menambatkan diri dengan orientasi hidupnya, dengan demikian-memperoleh hak hidup wajar di bumi Indonesia.

Usaha menghidupkan potensi sub-budaya yang majemuk itu, tentu saja sesuai dengan alam dan citarasa manusia kekinian. Sudah lazimlah manakala dia mengambil bentuk dan peran sertanya selaku sumber-sumber pengucapan kreativitas. Dengan usaha-usaha demikian itu peran para seniman bukan hanya mencipta karya semata-mata, tapi di balik penciptaannya sudah berlangsung usaha pencarian atas persambungannya dengan substansi-substansi karya budaya yang sudah ada di zaman lampau, baik yang berasal dari bangsa Indonesia maupun dari bangsa-bangsa asing.

Kesaksian historis kita pun sudah sanggup menjelaskan kemustahilan kita untuk bersikap dan bervisi tertutup terhadap interaksi dengan potensi-potensi budaya dari bangsa-bangsa lain. Monumen religius Borobudur dan Prambanan sekadar menunjuk bukti raksasa bagi kesaksian sejarah kehidupan sebuah bangsa yang terbuka. Daya cipta yang saling bergabung antara potensi Jawa asli dan Buddha serta Hindu ini tidak mungkin gagal memberikan pembenaran berlakunya proses sinthesa yang merupakan sebuah keniscayaan di dalam membangun peradaban di kawasan ini.

Di dalam mengartikulasikan pengalaman pribadi sebagai manusia kontemporer pun, para penyair Indonesia modern menunjukkan bahwa mereka meresapi proses-proses sinthesa kebahasaannya. Adapun substansi dari sinthesa demikian terwujud di dalam manifestasi artistik, di dalam bahasa puisi-puisinya. Fenomen-fenomen tersebut dapat kita kenali melalui dua hal: pemakaian kosakata asing dan kosakata daerah, pemakaian mitos-mitos dan wisdom-wisdom sebuah etnik sampai pada pemakaian-pemakaian mitos-mitos dan wisdom-wisdom sebuah etnik asing. Dalam hal demikian, kita dapat menambah dengan pemakaian sumber-sumber referensi keagamaan, yang berasal dari bangsa dan negara lain.

Saini KM dalam Nyanyian Tanah Air dan Rumah Cermin, kedua buku puisi ini sebagian besar mereguk sumber mitos dan wisdom Yunani kuno, akan hancurlah puisi-puisinya manakala kita mengambil sumber-sumber estetik sekaligus filosofisnya (baca: wisdom) yang berorientasi ke kahyangan dewa Zeus ini dengan umpama, kahyangan dewa Bethara Guru dalam epik Mahabarata. Di balik mitos dan wisdom tuanya menyimpan rangkaian sejarah peradaban dan prestasi filsafat yang tinggi, dengan resonansi ilmu dan filsafat modern dari Barat. Sebaliknya, Subagio Sastrowardojo berjalan mondar-mandir antara Kitab Suci dan epos Ramayana dan Mahabarata (baca: wayang), gejala kehidupan sehari-hari dan mitos-mitos Jawa, dengan esensi-esensi renungan yang bersifat pribadi sekali. Buku-bukunya Simphoni, Daerah Perbatasan, Keroncong Motinggo, dan Hari dan Hara, jelas menerangkan orientasi demikian. Sedang dalam hal hubungan pria dan wanita pada puisi-puisi Subagio Sastrowardojo, tentulah merupakan bab tersendiri yang dapat mengundang para penelaah untuk mengupasnya.

Goenawan Mohamad dalam Pariksit (Litera, Jakarta, 1970) dan Interlude (Puisi Indonesia, Jakarta, 1973). judul-judul 2 buku itu sudah menerangkan selaku isyarat lebih jauh kapan kita membaca puisi-puisi yang terpacak di dalamnya. Kalau dalam buku Pariksit, penyair ini masih berhati-hati memakai mitos dan kosakata asing, mungkin karena trend perjalanan puisi Indonesia yang gencar pada tahun 1960-an ialah "pembebasan dan penemuan kembali" puisi lirik-meminjam idiom penyairnya manakala dia menulis kritik terhadap buku Dukamu Abadi karya Sapardi Djoko Damono - dari jargon massa politik dan sosial di pertengahan tahun 1960-an, maka dalam buku Interlude, penyair ini sudah leluasa dan bebas memakai mitos dan kosakata asing. Singkat kata, ekspresi citarasa keindahan poetiknya memungkinkan penjelajahan kreatif dengan memungut sumber-sumber simbol dan bahasa cendekia sehari-hari.

Sumber-sumber simbol etnik Jawa ini tampak dalam pemakaian mitos sejarah tak tertulis sebelum kerajaan Mataram kuno berdiri — kisah prabu Anglingdarma dan Setiowati; karya sastra mistik Jawa Gatoloco, episode Damarwulan dan Anjasmara di zaman Majapahit (sajak Dongeng Sebelum Tidur, Gatoloco, dan Asmaradana). Dari sejarah kontemporer asing: perang Vietnam (Potret Taman Untuk Allen Ginsberg) atau konflik rasial hitam-putih (Afrika Selatan). Demikian juga secara tersamar permainan simbol mengenai dongeng kita jumpai dalam Di Sebuah Pantai: Interlude.

Pemakaian bahasa cendekia sehari-hari tampak di dalam ekspresi artistik manakala dia dengan enak dan luwes bisa mengungkapkan diri dengan bahasa berkosakata campuran: Indonesia dan asing. Selain di situ dia memperlihatkan bahwa, pada dasamya penyair Indonesia adalah seorang cendekiawan dalam sisinya yang lain, maka diapun menjadi seorang marginal. Istilah yang juga dia kerap pakai dalam menulis esai sastra, tidak lain menunjuk kepada posisi dan peran Goenawan Mohamad sendiri, sebagai seorang "modernis".

Sebagai manusia marginal alias modernis Indonesia, mustahil dia berbicara lisan dan berbicara tertulis tanpa memakai idiom-idiom modern. Mustahil pula akhirnya, dia mengekspresikan daya ciptanya dengan modal kosakata 40.000 jumlahnya. Sudah jamaknya dia menerobos perbatasan konvensi bahasa Indonesia yang berwatak boros suku kata, tanpa pembagian tenses, kekaburan kata ganti orang ketiga untuk pria dan wanita, miskin diftong dan konsonan, tanpa stress yang jelas, sangat terbatasnya kosakata alam fauna dan alam flora. Semua itu juga menunjukkan batas-batas potensi bahasa Indonesia murni bagi pengucapan artistik para penyair Indonesia. Penerobosan kreatif di lapangan bahasa oleh para penyair kita ini pada hakikatnya sudah menjelaskan satu hal: pengalaman intelektual dan pengalaman spiritualnya menjangkau atmosphere lain, di luar batas-batas ilmu pengetahuan yang terhantar bahasa Indonesia.

KWATRIN TENTANG SEBUAH POCI
Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol, temyata:
untuk sesuatu yang tak ada
Apa yang berharga pada tanatdiat ini
selain sebuah ilusi?
Sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi

Pemakaian kata ilusi di bait ke 2 baris ke 2 sajak itu, terang menunjukkan padat ekspresi dan tepat citraan. Dia tidak memakai kata khayal—misalnya — karena mungkin dapat berani lebih dangkal. Mungkin ilusi punya arti lebih dari hanya khayal, mungkin ilusi punya konotasi lain bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Yang jelas, penyair ini punya pengalaman bahasa ganda; dalam hal ini bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Demikian pun pada sajak Rekes, dia mamakai kosakata eksekusi, amnesti:: satu terminologi asing yang tak dipunyai dalam bahasa Indonesia asli tahun 1982-an. Tidak ada yang salah di situ. Pemakaian kosakata asing — Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Arab, dan sebagainya; atau Jawa, Batak, Bali, Minang, Bugis, Aceh, Ngada, Madura. Sunda dan sebagainya — sebanyak etnik penghuni tanah air Indonesia; pada dasarnya absah sebagai ekspresi intelektual dan spiritual manusia Indonesia. Pertanyaan yang lebih pokok ialah, ekspresi intelektual dan spiritual tersebut sudah muncul dalam ungkapan berbobot artistik atau belum. Setiap pemakaian kosakata dan bahasa tertentu dalam sebuah puisi, penyair yang bersangkutan tentulah berhadapan dengan proses baca ulang dan restropeksi kreatif, sebelum sampai pada usaha terakhir: menyerahkan buah karyanya kepada sidang pembaca yang hendak memanfaatkannya untuk multifungsi dan kepentingan.

Rangkaian semua ini hanya akan menunjuk satu premis: sebuah pendirian kesenian seorang penyair yang menegakkan idea keseniannya sendiri, apalagi yang menyangkut problem pemakaian kosakata campuran—untuk tidak setuju dan menolak—pada dasarnya tidak berdiri di atas anggapan objektif terhadap keberadaan bahasa Indonesia itu sendiri. Sandaran demikian hanya menunjukkan sebuah idola paling utopis, karena diapun menolak proses sinthesa pemakaian bahasa Indonesia, pada gilirannya menolak proses perkembangan bahasa itu pula. Kalau memang seorang penyair Indonesia modern (baca: cendekiawan) hanya mungkin sanggup berkembang dan meningkatkan prestasi kreatifnya lewat proses sinthesa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dari Barat (baca: Dunia Pertama), mungkin memang trend zaman kita di abad 20 untuk bertindak demikian. Seperti halnya kita pun tidak mungkin menolaki transformasi kretif terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tradisional, yang sudah ada berabad-abad yang lalu di bumi Indonesia. Dua belahan peradaban ini merupakan warisan umat manusia, tergantung apa akan dimengerti dan dimuliakan atau akan diremehkan dan diacuhkan. Karena. dengan idiom cerdas Goenawan Mohamad sendiri:

Kita memang bersandar pada apa yang mungkin
kekal, mungkin pula tak kekal
Kita memang bersandar pada mungkin
Kita bersandar pada angin
Dan tak pemah bertanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa
(Pada Sebuah Pantai: Interlude), 1973.

Agaknya Goenawan pun bilang: And sorry I could not travel both.

Yogya, 5 April 1976 -1987
Linus Suryadi, Ag. Di Balik Sejumlah Nama
Sebuah Tinjauan Puisi-puisi Indonesia Modern
Hal. 125-131
Download esai ini? Silakan KLIK di sini

Wednesday, June 16, 2010

Memahami Mahabarata

Memahami Mahabarata

Cerita Mahabharata merupakan sebuah epos atau sering disebut juga dengan wiracarita, yaitu cerita yang bersifat kepahlawanan. Umumnya orang berpendapat bahwa Mahabarata adalah karya seorang pengarang Indina bernama Wiyasa. Tapi ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa Wiyasa hanya penyusun saja. Wiyasa hanya menyusun dari bahan yang sudah ada. Dua alasan yang sering dikemukakan oleh orang-orang tersebut, yaitu (1) Perkembangan cerita ini meliputi masa 800 tahun, yaitu dari 400 tahun sebelum Masehi sampai 400 tahun sesudah Masehi, sementara ceritanya tersusun atas 100.000 seloka. Jadi sangat panjang. (2) Gaya bahasa dalam cerita Mahabarata bermacam-macam, sehingga tidak menunjukkan dikarang oleh seseorang.

Cerita Mahabharata mula-mula dituturkan oleh Rsi Waisampayana dalam upacara kurban yang diadakan oleh raja Janamejaya (cucu Abimanyu). Upacara itu dihadiri para Brahmana, di antaranya Brahmana Ugraisrawa. Brahmana inilah yang meneruskan cerita ini kepada para Rsi dan para pendeta yang berhimpun di hutan Naimisa.

Isi Mahabharata tidak saja merupakan wiracarita, tetapi juga bersifat keagamaan. Beberapa bukti yang menunjukkan hal ini ialah (a) Mahabarata menceritakan pertempuran para ksatria, yakni antara keluarga Pandawa dengan keluarga Korawa, (b) Mahabarata lebih merupakan puisi keagamaan yang isinya memuja kasta Brahmana.

Cerita Mahabharata terdiri atas 18 bagian. Bagian-bagian itu disebut parwa. Selain itu ada lagi tambahannya yang disebut harvamsyah. Kedelapan belas parwa tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Adiparwa : ini adalah bagian yang pertama dari keseluruhan cerita Mahabarata.
  2. Sabhaparwa : bagian ini berisi cerita tentang perjudian Yudhistira.
  3. Wanaparwa: bagian ini bercerita tentang kehidupan kelima Pandawa dalam hutan selama 12 tahun.
  4. Wiratparwa : bagian ini bercerita tentang kelima Pandawa di istana Wirata.
  5. Udyogaparwa : bercerita tentang perundingan Kresna dengan Korawa.
  6. Bhismaparwa : cerita tentang pertempuran selama 10 hari. Dalam pertempuran ini, Bhisma sebagai panglima perang gugur.
  7. Dronaparwa : berisi tentang peperangan hari ke-11 sampai hari ke-15.
  8. Karnaparwa : bagian ini berkisah tentang gugurnya Karna (anak Dewa Surya) oleh panah Arjuna.
  9. Salyaparwa : berisi cerita tentang pertempuran hari terakhir (hari ke-18)
  10. Sauptikaparwa: bercerita tentang serangan malam terhadap Pandawa. Dalam bagian ini kKeluarga Pandawa terbunuh, kecuali kelima Pandawa, Kresna, dan Dropadi.
  11. Striparwa : berisi kisah tentang ratap tangis kaum wanita pada waktu malapetaka terjadi.
  12. Santiparwa{ berisi cerita sisipan, tak ada hubungannya dengan cerita sebelumnya.
  13. Anusasanaparwa : berisi cerita sisipan dari buku kaum Brahmana.
  14. Aswamedhikaparwa : berisi lanjutan cerita ke-11, Yudhistira mengadakan kurban kuda setelah selesai pertempuran.
  15. Asramawasikaparwa : berisi tentang Destarastra mengundurkan diri dan bertapa di hutan, karena kecewa.
  16. Mausalaparwa : bercerita tentang binasanya keluarga Kresna dan kembalinya Kresna sebagai Wisnu.
  17. Mahaprastanikaparwa: bercerita tentang Yudhistira dan Pandawa lainnya masuk ke surga.
  18. Swagarohanaparwa : bercerita terakhir tentang Pandawa di Surgaloka.


Di Indonesia cerita Mahabharata mendapat perhatian penuh pada zaman kerajaan Hindu. Pada tahun 1000 raja DarmawangsB menyuruh salin cerita ini ke dalam bahasa Jawa Kuno. Pada pertengahan abad ke-12 terbit buku Bratayuda dalam bahasa Jawa Kuno disusun oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Isinya menceritakan tentang perang besar di Kuru Ksetra.

Pada zaman kerajaan Airlangga Mpu Kanwa menyusun kakawin Arjuna Wiwaha (1019-1042). Kakawin ini dikenal pula deng&n nama Lakon Mintaraga. Buky ini diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka, dan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sanusi Pane.

Isi cerita Gatotkacasraya juga mengambil bahan dari cerita Mahabharata. Cerita-cerita tersebut menjadi hasil kesusastraan Jawa Kuno dan kemudian masuk dan menjadi sastra Indonesia. Dalam kesusastraan Indonesia kita kenal berbagai judul yang mengandung cerita Mahabharata, yaitu: (1) Hikayat Pandawa Lima, (2) Hikayat Pandawa Jaya, (3) Hikayat Sang Boma, (4) Maharaja Boma, (5) Hikayat Perang Pandawa Jaya, dan 6) Lang-lang Buana

Disarikan dari beberapa sumber

Download postingan ini

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook