Sunday, February 06, 2011

Contoh Analisis Cerpen Sederhana

Analisis Struktural Terhadap Cerpen Gerson Poyk

Maman S Mahayana

Analisis struktural, pendekatan instrinsik, atau pendekatan objektif termasuk penelitian, telaah, atau pengkajian terhadap karya sastra sendiri. Perbedaan istilah itu lebih disebabkan oleh perbedaan cara pandang peneliti menempatkan dan memberi pengertian terhadap karya sastra. Dalam analisis struktural misalnya, karya sastra dianggap sebagai sebuah struktur: ia hadir dan dibangun oleh sejumlah unsur yang berperan secara fungsional. Analisis struktural mencoba menguraikan keterkaitan dan fungsi masing-masing unsur tersebut sebagai kesatuan struktural. Pusat perhatian analisis struktural adalah hubungan fungsional antarunsur itu sebagai suatu keutuhan. Kesatuan unsur-unsur itu bukan cuma kumpulan atau tumpukan hal-hl tertentu yang berdiri sendiri, namun saling berkaitan, terikat, bergantung satu sama lain.

Pendekatan instrinsik pun pada dasarnya sama dengan analisis struktural. Karya sastra dianggap di dalamnya mempunyai sejumlah elemen atau peralaatn yang saling berkaitan dan masing-masing mempunyai fungsinya sendiri. Pendekatan intrinsik mencoba menjelaskan fungsi dan keterkaitan elemen (unsur) atau peralatan itu tanpa menghubungkannya dengan faktor di luar itu, seperti biografi pengarang, latar belakang penciptaan, atau keadaan dan pengaruh karya sastra kepada pembacanya.

Adapun pendekatan objektif menempatkan karya sastra yang akan diteliti atau dianalisis itu sebagai objeknya. Mengingat karya sastra yang menjadi objeknya mempunyai unsur-unsurnya yang satu dengan lainnya tidak dapat dilepaskan, maka unsur-unsur itulah yang hendak diuraikan dalam pendekatan objektif. Masalah subjektivitas peneliti, seperti perasaan suka atau tidak suka terhadap pengarangnya, temanya, atau gaya bahasanya, disisihkan. Lalu apa yang dimaksud unsur-unsur bahasa itu dan bagaimana melihat fungsinya masing-masing? Dalam puisi, larik, bait, diksi, atau majas, citraan, dan sarana retorika lain, dianggap sebagai unsur-unsur pembangunnya. Dalam drama, unsur-unsur itu, antara lain, dialog, latar, tokoh, alur, dan tema. Unsur novel, antara lain, tokoh, alur, latar, tema, sudut pandang, dan pencerita.

Sebagai bahan apresiasi, berikut ini akan dibicarakan sebuah cerpen Gerson Poyk, “Pak Begouwan” (Horison, Desember 1993, hlm. 56—60) berdasarkan analisis struktural. Betapapun analisisnya masih sangat sederhana, diharapkan dapat memberi gambaran lebih jelas, bagaimana mestinya analisis struktural dilakukan.

***

Cerpen “Pak Begouwan” menampilkan tokoh Pak Begouwan, pensiunan ABRI yang tunadaksa; cacat kaki karena kecelakaan sehingga terpaksa hidup bergantung pada kursi roda bermesin listrik. Pembantunya yang banci, tiap malam pergi begadang bersama teman sejenisnya. Jadi, jika malam, Pak Begouwan tinggal sendiri da menghabiskan waktunya dengan menonton televisi. Dalam keadaan begitu, ia kedatangan tamu bernama Bambang Hertawan yang mengaku direktur perusahaan percetakan; mengaku juga masih sekerabat. Ternyata tamu itu tidak lebih dari seorang penipu. Beruntung, pembantu Pak Begouwan yang banci, memergoki si penipu saat kursi roda seharga 5.000 dolar hendak dijualnya. Berkat bantuan temannya sesama banci, tertangkaplah penipu itu. Namun, Pak Begouwan sendiri tidak mau melaporkannya kepada polisi.

***

Dari ringkasan cerpen itu kita melihat keadaan fisik tokoh Pak Begouwan; pensiunan yang cacat kaki menyiratkan sosok manusia yang tercampakkan. Keadaan ini didukung oleh latar suasana dan latar fisik; kursi roda, lingkungan yang jauh dari keramaian kota, kesepian, acara televisi yang membosankan, tinggal sendiri, dan pembantunya yang banci pergi, maka lengkaplah kesepian dan ketakberdayaan Pak Begouwan. Dalam hal ini, gambaran latar yang demikian, mendukung keadaan fisik dan mental si tokoh. Soalnya akan berbeda dan menjadi tidak fungsional jika latar digambarkan sebaliknya: Pak Begouwan hidup bersama kedua anaknya, berada di lingkungan yang ramai, acara TV yang meanrik, pembantunya setiap saat berada di sisinya, atau hidup dengan berbagai kegiatan. Jadi, dengan latar yang mendukung ketidakberdayaan Pak Begouwan, kita (pembaca) “digiring” untuk prihatin pada nsib tokoh itu.

Guna memperkuat ketakberdayaan tokoh itu, pengarang juga menampilkan tokoh lain: tetangga yang agresif. Saat tetangganya marah dan sengaja ngeledek dengan mengirim sekarung daun nangka ke halaman rumahnya,”Pak Begouwan tak dapat berbuat apa kecuali diam.” Diam karena tidak berdaya, tidak punya kemampuan untuk melawan! Sebelum kakinya cacat karena ditabrak motor polisi, ia pernah pula ditipu oleh pembantu rumah tangganya. Terakhir, tamunya yang mengaku bernama Bambang Hartawan, melengkapi ketakberdayaan Pak Begouwan. Jadi, kehadiran tokoh-tokoh lain bagi Pak Begouwan, menempatkannya sebagai tokoh yang malang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang sudah tidak berguna lagi. Kemudian, apakah ini semacam ironi bagi pensiunan ABRI?

Gambaran Pak Begouwan yang diliputi ketakberdayaan, latar suasana yang sepi—sendiri—latar sosial yang tidak dinamis, dan tampilnya tokoh-tokoh lain yang justru malah menambah derita tokoh pensiunan itu menunjukkan bahwa unsur-unsur itu hadir secara fungsional. Ada hubungan yang erat antar-unsurnya. Lalu bagaimana kaitannya dengan tema cerpen ini?

Tema sebagai pokok persoalan dalam sebuah wacana (discourse) kehadirannya tidak terlepas dari motif-motif sebagai tema yang lebih kecil. Motif-motif itulah yang kemudian membangun sebuah tema cerita. Sementara tema sendiri sebagai salah satu unsur dalam struktur itu kedudukannya sama seperti unsur yang lain. Ia terkait erat dengan unsur lainnya. Lalu bersama unsur-unsur lain itulah, sebuah wacana dalam kesatuan struktur naratif dibangun.

Dalam cerpen “Pak Begouwan”, kita dapat mencermati motif-motif yang melingkari tokoh Pak Begouwan. Kesepian, kesendirian, kemalangan, ketuaan, dan ketakberdayaan telah menyeret diri tokoh itu merasakan betul ketakberdayaannya. Dengan demikian, masalah itulah yang menjadi tema cerpen ini: ketakberdayaan Pak Begouwan sebagai purnawirawan tunadaksa. Perhatikan kutipan berikut ini:

Pagi itu, dengan kaki yang sudah agak sehat walaupun masih terbungkus gips, Pak Begouwan diantar oleh pembantunya dengan mengendarai taksi ke tempat yang disebut pembantunya. Pak Begouwan terkejut melihat Drs. Bambang Hertawan Direktur P.T. Grafika Putra gadungan itu tidur di atas plastik bersama sahabat kentalnya, orang yang punya anak mahasiswa gadungan yang menipu adiknya di Bali. Keduanya menimbulkan kesan kelelahan kepercumaan, keterdamparan dua bongkah manusia tak berharga dibanding struktur raksasa jalan layang itu….

Di luar di depan mata kepala manusia, jawaban diberikan oleh seekor kecoa yang melintasi wajah doktorandus di SD, karena seekor kucing mendekati ketiak doktorandus gadungan itu lalu menyemprotkan kencingnya keras-keras, tetapi tidak disadari oleh yang dikencingi.

Dalam peristiwa tersebut, Pak Begouwan dihadapkan pada sosok manusia (Bambang Hartawan) dan temannya—yang juga penipu—yang diliputi kelelahan, kepercumaan, dan keterdamparan. Kesan itu menjadi sangat kuat dengan penggambaran latar struktur raksasa jalan layang. Lalu secara sinis, kepercumaan dua manusia itu disimpulkan kewat seekor kecoa yang melintasi wajah sarjana dan mahasiswa gadungan itu, serta seekor kucing yang mengencingi keduanya. Dalam hal ketakberdayaan Pak Begouwan dan ketidaknormalan para banci, ternyata masih lebih bermakna dibandingkan kedua penipu itu.

***

Sekedar catatan kecil, beberapa kelemahan cerpen ini perlu juga disinggung untuk menunjukkan betapa keterkaitan antarunsur yang membangun struktur naratif cerpen ini mesti berperan secara fungsional. Peristiwa kecelakaan yang menimpa Pak Begouwan di awal cerita, misalnya, tampak kurang didukung oleh kehadiran tokoh lain. Polisi menabraknya sambil berseru, “Mampus kau! Arwah pahlawan lebih penting darikakimu!” Seakan-akan hadir hanya untuk menjadikan kaki Pak Begouwan cacat. Lalu mengapa mesti polisi? Begitu pun kehadiran Menteri Penerangan Korea Utara dan Indonesia, tampak hanya sekedar untuk memberi kursi roda. Jika polisi dan kedua pejabat tinggi negara itu, berperan dalam peristiwa selanjutnya, kehadiran tokoh-tokoh itu menjadi fungsional. Misalnya, polisi itu yang kemudian menangkap penipu; atau pejabat tinggi itu pernah pula ditipu oleh si doktorandus dan mahasiswa gadungan. Jadi polisi dan kedua pejabat tinggi itu, tidak hanya berperan sebagai pnyebab semata-mata.

Peristiwa lain yang juga mengganggu dapat kita perhatikan dari kutipan ini: “Mendengar itu, kepalanya melepaskan diri dari badannya dan mengejar polisi itu….” Sebagai cerpen konvensional yang peristiwanya dibangun oleh hubungan sebagai akibat, pernyataan itu, jelas tidak logis. Ketidaklogisan ini juga terjadi pada negeri baru sebagaimana dipaparkan di awal cerita. Sebab belakangan Pak Begouwan diketahui tinggal di sebuah kampung di pinggiran kota Jakarta. Ada kesan, dalam bagian ini, pengarang sekedar bermaksud membuka cerita. Tetapi akibatnya, bagian ini tidak ada kaitannya dengan peristiwa berikutnya.

Tokoh lain yang juga kehadirannya mengganggu keseluruhan cerita adalah tokoh tetangga Pak Begouwan yang beternak ayam. Bagaimana peternak ayam digambarkan mempunyai watak seperti ini:

Kadang-kadang, kalau dia marah mengejar anak ayam yang terlepas dari kandang, ia menangkapnya dan langsung meremas anak ayam itu sampai mati dan terpuaskanlah dendam dan amarahnya. Padahal, sebelumnya ia berkata begini, “Tega benar orang Jakarta ini. Ayam orang masuk halaman orang lain, langsung digoreng….”

Watak tokoh Pak Begouwan sendiri, dalam beberapa hal, juga digambarkan secara kurang wajar. Bagaimana seorang pensiunan ABRI dapat berperilaku lemah dan pasrah tak berdaya. Mungkinkah kecelakaan kaki yang menimpa Pak Begouwan secara keseluruhan mengubah wataknya yang sudah dibentuk semasa ia masih dinas? Masalahnya akan menjadi lain, jika Pak Begouwan bukan mantan ABRI, misalnya, pensiunan guru atau pegawai sipil lainnya.

Begitulah, contoh analisis struktural (sederhana) terhadap cerpen “Pak Begouwan” karya Gerson Poyk.***

Sumber: MAHAYANA-MAHADEWA.COM

1 comments:

mengunjungi blog yang bagus dan penuh dengan informasi yang menarik adalah merupakan kebahagiaan tersendiri.... teruslah berbagi informasi

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook