Friday, July 22, 2011

Umar Kayam: Para Priyayi (Sebuah Novel)

Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru Sastrodarsono yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali ia pulang dari pertemuan pagi. Pada waktu hari semakin terang iring-iringan penjual berbagai dagangan semakin ramai menuju pasar, suara “cring-cring-cring” dari dokar yang ditarik kuda semakin sering dan bising pertemuan para pensiunan itu akan bubar, masing-masing akan pulang ke rumah untuk menyeropot kopi panas, mengganyang pisang goreng dan ubi rebus untuk kemudian disusul dengan mandi pagi dengan air hangat dan istirahat tidur atau duduk di kursi goyang.

Lantip, nama aslinya adalah Wage karena lahir pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu adalah sebuah nama pemberian dari keluarga Sastrodarsono saat Lantip tinggal di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama Emboknya Desa Wanalawas yang hanya beberapa kilometer dari kota Wanagalih. Hubungan Embok Lantip dengan keluarga Sastrodarsono itu dimulai dari penjualan tempe. Rupanya tempe buatan Embok Lantip itu berkenan di hati keluarga Sastrodarsono. Buktinya kemudian tempe Embok itu jadi langganan keluarga tersebut.

Lantip selalu ikut membantu menyiapkan dagangan tempe, dan ikut menjajakan nya berjalan di samping atau di belakang Mboknya menyelusuri jalan dan lorong kota. Lantip ingat bahwa dalam perjalan itu sengatan terik matahari Wanagalih. Wanagalih memang terkenal sangat panas dan rasa haus yang benar-benar mengeringkan tengorokan. Sekali waktu Lantip pernah merengek kepada Emboknya untuk dibelikan jajanan. Dengan ketus Emboknya menjawab dengan “Hesy! Ora usah”, dan Lantip pun terdiam. Lantip tahu Emboknya, meskipun murah hati juga sangat hemat dan tegas. Dia akan lebih senang bila kami melepas haus di sumur pojok alun-alun atau bila beruntung dapat sekedar air teh di rumah langganan Emboknya. Salah satu langganan Emboknya yang murah hati itu adalah keluarga Sastrodarsono. Mereka dipanggil oleh keluarga Sastrodarsono. Mereka menyebutnya dengan “Ndoro Guru” dan “Ndoro Guru Putri”. Waktu mereka melihat Embok datang membawa Lantip, Ndoro Guru menanyakan dengan nada suara sangatlah ulem-nya dan penuh wibawa.

“Lho, Yu, kok anakmu kamu bawa?”

“Inggih, Ndoro. Di rumah tidak ada orang yang menjaga tole.”

“Lha, kasian begitu. Anak sekecil itu kamu eteng-eteng ke mana-mana.”

“Habis bagaimana lagi, Ndoro.”

Lantip ingat bagaimana kedua suami-istri itu memandang mereka lama-lama. Lantip hanya menundukkan kepala saat percakapan berlangsung. Untuk seorang anak desa yang baru berumur enam tahun, dan anak bakul tempe yang sederhana, tidak mungkin ada keberanian baginya untuk mendongak ke atas, menatap muka priyayi-priyayi itu.

Sejak itu rumah keluarga Sastrodarsono menjadi tempat persinggahan mereka, hubungan mereka dengan keluarga itu menjadi akrab, bahkan lama-lama rumah itu menjadi semacam rumah kedua bagi mereka. Tetapi sangatlah tidak pantas rumah gebyok itu terlalu besar dan bagus untuk dikatakan rumah kedua mereka bila disejajarkan dengan rumah mereka yang terbuat dari gedek atau anyaman bambu di desa Wanalawas. Juga bila diingat bahwa rumah itu adalah rumah milik seorang priyayi, seorang mantri guru sekolah desa, yang pada zaman itu mempunyai kedudukan cukup tinggi di mata masyarakat seperti Wanagalih. Mantri guru sudah jelas didudukan masyarakat dan pemerintah sebagai priyayi, ia punya jabatan dan juga punya gaji.

Dalam rumah tangga Ndoro guru, di samping harus membesarkan anak-anaknya, juga menampung beberapa kemenakan. Dengan kata lain rumah tangga Ndoro guru adalah rumah tangga khas priyayi jawa. Sang priyayi adalah juga soko guru keluarga besar yang berkewajiban menampung sebanyak mungkin anggota keluarga –jaringan itu ke dalam rumah tangganya. Rezeki dan pangkat itu jangan dimakan sendiri, tidak pantas, saru, bila ada seseorang anggota keluarga besar priyayi sampai kleleran, terbengkalai, jadi gelandangan, tidak menikmati pendidikan. Begitu sering saya dengar Ndoro guru menasehati anak-anaknya dan siapa saja.

Pada suatu sore sesudah persinggahan rutin mereka di jalan Setenan, mereka duduk di amben di depan rumah mereka di Wanalas. Emboknya kemudian mendudukan Lantip dihadapannya.

“Wage, Le, anakku yo, engger. Kamu sekarang sudah besar sudah enam tahun. Sudah waktunya kamu pergi dari desa yang kecil dan sumpek ini.”

“Pergi, Embok? Kita akan pergi?”

“Bukan kita. Kamu sendiri, Le.”

“Saya harus pergi ka mana, Embok?”

“Kamu akan nderek, ikut Ndoro Guru di Setenan, Le.”

“Kamu nderek Ndoro Guru supaya lekas pinter, lekas sekolah.”

Suatu hari sesudah Lantip tinggal bersama keluarga Sastrodarsono, Mbok berkunjung untuk menengok Lantip. Trdengar Ndoro Guru kakung menyatakan keinginannya agar Lantip disekolahkan karena waktu itu Lantip sudah berusia hampir tujuh tahun. Mereka juga mengusulkan agar mengganti nama Wage menjadi Lantip yang artinya cerdas, tajam otaknya.

Tidak terasa Lantip sudah duduk di kelas lima dan sudah membayangkan setahun lagi akan tamat sekolah Desa Karangdompol. Setamat sekolah akan banyak kesempatan meneruskan sekolah ke sekakel, schakel school kata orang Belanda, yaitu sekolah peralihan yang tujuh tahun lamanya. Lantip membayangkan setelah tamat sekolah akan bekerja dan dapat membalas budi Emboknya dan keluarga Ndoro Guru Sastrodarsono. Tapi, tiba-tiba datang kegoncangan itu! Pak dukuh datang dari Wanalawas dengan tergopoh-gopoh mengabarkan Emboknya meninggal karena keracunan jamur. Saat itu bagaimana hancur dan sedihnya hati Lantip.

Sastrodarsono, adalah anak tunggal Mas Atmokasan seorang anak petani desa Kedung Simo. Sebelumya ia hanya bekerja sebagai guru bantu di Ploso. Dengan janbatan guru bantu itu, berarti Sastrodarsono adalah orang pertama dalam keluarganya yang berhasil menjadi priyayi. Sastrodarsono dijodohkan dengan Ngaisah yang nama aslinya Aisah putri tunggalnya seorang mantri candu di Jogorogo. Dik Ngaisah, begitu ia memanggil istrinya, ia seorang istri yang mumpunyai lengkap akan kecakapan dan keprigelannya bukan hanya pandai mamasak ia juga memimpin para pembantu di dapur, karena memang sejak lahir ia sudah menjadi anak priyayi dibandingkan dengan Sastrodarsono yang baru akan menjadi priyayi.

Mereka tinggal setahun di Ploso yang kemudian membeli rumah kecil di jalan Satenan. Segera setelah mereka menempati rumah itu, Mereka dengan para pembantunya mulai mengembangkan tempat tinggal itu sebagaimana rumah tangga yang mereka inginkan yaitu rumah tangga priyayi. Akan tetapi bagaimanapun, naluri petani Sastrodarsono, dan juga Dik Ngaisah masih hadir juga dalam tubuh mereka. Mereka memilih untuk menggaji para buruh-buruh sawah untuk mengolah tegalan dan sawah yang ada di belakang rumahnya berbagai macam tanaman. Walaupun rumah tangga priyayi, mereka tidak boleh tergantung pada gaji. Jadi priyayi itu adalah menjadi orang terpandang kedudukannya di masyarakat bukan jadi orang kaya, tapi karena kepinterannya.

Anak-anak mereka lahir dalam jarak dua tahun antara seorang dengan yang lain. Noegroho anak yang paling tua, kemudian menyusul kelahiran adik-adik Noegroho, Hardojo dan Soemini. Anak-anaknya mereka masukan ke sekolah HIS, sekolah dasar untuk anak-anak priyayi, kemudian meneruskan pelajaran ke sekolah menengah atas priyayi, seperti MULO, AMS atau sekolah-sekolah guru menengah, seperti Sekolah Normaal, Kweek Sekul dan sebagainya. Menurut meneer Soetardjo dan meneer Soerojo di sekolahnya anak-anak mereka itu rata-rata bagus dalam bahasa Belanda dan berhitung, anak-anak meraka maju dan pintar di sekolah. Noegroho sangat senang dan kuat dalam sejarah dan ilmu bumi, Hardojo kuat dalam bahasa Belanda, mengarang dan berhitung, Soemini sangat fasih dalam bahasa Belandanya.

Dalam perkembangan pembangunan keluarganya, mereka tidak hanya membatasi mengurus keluarga mereka saja, mereka juga sangat memperhatikan anggota keluarga yang jauh baik dari Sastrodarsono maupun dari keluarga Dik Ngaisah. Ngadiman, anak dari sepupu Sastrodarsono dititipkan pada keluarganya untuk disekolahkan di HIS dan berhasil menjadi priyayi walaupun hanya priyayi rendahan yaitu bekerja sebagai juru tulis di kabupaten. Begitu juga dengan kemenakan lain seperti Soenandar, Sri dan Darmin, semuanya mereka sekolahkan di HIS.

Soenandar, yang masih kemenakan Dik Ngaisah mempunyai sifat yang sangat buruk walaupun berkali-kali sering dipukuli oleh Sastrodarsono dengan bambu agar kapok akan perbuatannya yang sering mencuri, dia juga sering mengganggu Sri dan Darmin saat mereka sedang sembahyang.

Soenandar yang jatuh cinta pada Ngadiyem ternyata adalah ayah Lantip, tetapi ia tidak mau mengakui kahamilan Ngadiyem Emboknya Lantip, bahkan ia minggat meninggalkan rumah Sastrodarsono yang akhirnya dapat diketahui dari laporan mantri polisi, Soenandar bergabung dengan gerombolan perampok yang dipimpin oleh Samin Genjik yang markasnya telah dibakar termasuk Seonandar yang dititipkan keluarganya kepada Sastrodarsono untuk menjadi priyayi juga hangus terbakar.

Semenjak Lantip mengetahui perihal ayahnya, ia merasa kecewa dan malu karena ia hanya anak jadah dan haram meskipun jelas bapaknya tetapi tidak mau menikah dengan Emboknya. Ternyata bapaknya adalah gerombolan perampok. Selain itu juga sekarang Lantip mengerti mengapa keluarga Sastrodarsono sangat memperhatikan kehidupannya dan Ngadiyem Emboknya, karena Soenandar, yang ayahnya Lantip itu, adalah masih tergolong keluarga dari Sastrodarsono.

Dalam mendidik dan membesarkan keponakan-keponakannya Sastrodarsono merasa tidak berhasil bila dibandingkan dengan anak-anak kandungnya, mereka mandapat pendidikan dan pekerjaan serta kedudukan yang baik.

Soemini yang sudah berumur dua belas tahun dan baru duduk di kelas lima. Dua tahun lagi dia sudah kelas tujuh umurnya empat balas tahun, dan sesudah tamat umurnya sudah dekat dengan lima belas tahun. Maka sudah sepantasnya dicarikan jodoh yang pantas buat Soemini. Soemini menikah dengan Raden Harjono, seorang mantri polisi, anak tunggal Kamas Soemodiwongso. Keluarga Sastrodarsono sangat terkesan dengan perilaku Raden Harjono yang sopan, luwes, ngganteng, baik hati, dan cerdas.

Dalam rumah tangganya Soemini mendapat goncangan karena mengetahui suaminya Harjono selingkuh dengan perempuan yang bekerja sebagai penyanyi keroncong Sri Asih. Ia mengadu kepada Sastrodarsono. Tetapi akhirnya dapat terselesaikan.

Hardojo anak kedua Sastrodarsono, anak yang paling cerdas dan yang paling banyak disenangi orang. Sekarang seperti adiknya, Soemini, sudah mapan mau membangun rumah tangga di tempatnya ia mengajar di Yogya dengan seorang guru tamatan kweekschool tetapi beragama Katholik. Orang tuanya, orang baik-baik, priyayi, guru di sekolah HIS katolik di Solo. Tetapi keinginan menikah dengan Dik Nunuk yang nama lengkapnya adalah Maria Magdalena Sri Moerniati begitu nama calon istri Nugroho, guru sekolah dasar khusus untuk anak perempuan di kampung Beskalan ditolak oleh keluarga Sastrodarsono yang keluarganya beragama Islam.

Setelah kegagalan menikah dengan Dik Nunuk hidup Nugroho merasa tidak bergairah lagi. Prilaku dan sifat Dik Nunuk selalu membayangi kehidupannya dan apabila ia teringat dengan Nunuk ia selalu mampir kepada Bude Suminah di Penumping, sekedar membicarakan masa lalunya dengan Nunuk, karena berkat Bude Suminah itulah kedekatannya dengan Nunuk.

Pada suatu sore Nugroho sedang memimpin murid-murid kelas tujuh bermain kasti. Seperti biasa mereka bermain dengan gembira dan penuh gurauan. Kemudian giliran Soemarti yang memukul bola, tetapi saat berlari menuju hong kakinya terporosok dan jatuh. Soemarti mengaduh kesakitan dan cepat mendapat pertolongan Noegroho. Sejak kejadian itu Nugroho lebih sering berkunjung ke rumah Soemarti anak tunggal keluarga priyayi Brotodinomo seorang pensiunan panewu, kira-kira sederajat dengan asisten wedana di Wonogiri. Yang akhirnya mereka menikah dan mempunyai seorang anak tunggal laki-laki yang bernama Harimurti.

Sesudah Noegroho kembali ke Wanagalih untuk menghibur bapaknya yang merasa sangat terpukul oleh tempelengan tuan Nippon, hal ini dikarena bapaknya dituduh mendirikan sekolah liar, padahal Sastrodarsono mendirikan sekolah hanya untuk menolong orang-orang desa yang tidak bisa membaca dan menulis, “yang disebut sekolah di Wanalas itu usaha kami sekeluarga. Kami pengagum Raden Adjeng Kartini, Ndoro. Kami Cuma meniru beliau, Ndoro.” Begitu ucapan bapaknya masih terngiang di telinga Noegroho saat beralasan pada tuan Nippon.

Seperti biasa Noegroho kembali bekerja di Sekolah Rakyat Sempurna di Jetis sekolah pada jaman Jepang gouverment’s HIS Jetis. Tetapi tanpa di duga Noegroho mendapat panggilan terpilih untuk ikut tentara peta atau Pembela tanah Air, dan segera berangkat ke Bogor untuk menjalani latihan dan saringan yang nantinya dapat ditempatkan di daidan-daidan atau batalyon-batalyon di Jawa.

Dalam mengurus rumah tangganya Noegroho tidak berhasil seperti kedudukannya yang priyayi yang terhormat dikalangan masyarakat seperti yang diharapkan oleh Sastrodarsono, karena Marie anak perempuan Noegroho hamil sebelum menikah. Maridjan, laki-laki yang menghamilinya, adalah laki-laki miskin, orang desa, kehidupannya pun cukup dengan mengontrak. Yang lebih parahnya lagi Maridjan itu pernah memperkosa pembantu rumah kost-nya sampai akhirnya menikah dan pada saat kenal dengan Marie, Maridjan dalam kasus perceraian. Tetapi berkat bantuan Lantip dan Hari akhirnya Maridjan menikahi Marie.

Persiapan pernikahan Marie dikalutkan dengan meninggalnya Mbah Putri. Saat pernikahan Marie, Sastrodarsono tidak dapat menghadirnya karena masih terlihat lemas (mengurusi meninggalknya Mbah Putri).

***

Gus Hari anak tunggalnya Hardojo sudah diduga sejak kecil tumbuh sebagai pemuda yang peka, gampang menaruh belas kepada penderitaan orang. Dia sangat cerdas dan banyak menaruh perhatian pada bidang kesenian. Tetapi walaupun ia keluaran dari suatu perguruan tinggi dalam kehidupannya tidak memanfaatkan hasil kuliahnya itu tetapi ia bergabung dengan lekra kesenian wayang.

Dalam kesempatan itulah Hari pun berkenalan dengan Gadis seorang penulis nama aslinya Retno Dumilah yang menjadi pacarnya, karena kedekatannya itu sampai mereka pun melakukan perbuatan yang dilarang agama sampai akhirnya Gadis pun hamil. Mengetahui hal itu Hari sangat ingin segera menikahi Gadis. Pada waktu pertunangan Lantip dengan Halimah kesempatan itu dipergunakan Hari untuk memperkenalkan calon istrinya itu pada keluarga besar Sastrodarsono.

Pada suatu waktu mereka mengadakan pawai yang meneriakan dukungannya kepada Dewan Revolusi, Hari bersama Gadis yang sama-sama tergabung dalam kesenian terperangkap, karena pada saat itu ABRI sedang mengambil alih mengadakan pembersihan terhadap semua anggota PKI dan ormas-ormasnya.

“Hari, kamu dalam bahaya. Sebaiknya kamu jangan lari. Nanti kita cari jalan yang sebaiknya agar kau bisa selamat.”

“Saya memang tidak akan lari. Saya akan jelaskan semuanya jika ditangkap, saya kan bukan anggota PKI?”

Dalam keadaan gawat seperti itu Lantip memberikan saran agar sebaiknya Hari meyerahkan dirinya, dan nanti bisa meminta bantuan pada Pakde Nugroho untuk pembebasannya.

Sementara Gadis pun tertangkap dan dianggapnya sebagai gerwani, ia hamil dalam penjara sampai akhirnya meninggal saat akan melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan.

Sepeninggalannya Mbah putri kesehatan Eyang kakung semakin memburuk yang aampai akhirnya ia meninggal dunia. Dalam upacara sambutan selamat tinggal untuk Mbah kakung Sastrodarsono semua anggota keluarga Sastrodarsono tidak ada yang berani memberikan pidato kata-kata terakhir, pada akhirnya Lantip yang dijadikan wakil dari keluarga besar Sastrodarsono yang menyampaikan pidato selamat jalan kepada Embah kakung di makam itu.

Lantip teringat akan Mboknya dan ia pun menggandeng Halimah untuk pergi ke Wanalawas untuk berziarah ke makam Mboknya.

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook