Thursday, October 06, 2011

Amir Hamzah - ‘Raja’ Penyair Melayu

Nama Amir Hamzah cukup terkenal sebagai nama seorang penyair yang besar dalam sastra Indonesia abad kedua puluh tetapi penyair ini yang berasal keturunan bangsawan dan julukannya sebagai ‘raja’ penyair Pujangga Baru yang diberikan kepada Amir Hamzah oleh H. B. Jassin (1986) ternyata mengakibatkan bahwa puisi Amir Hamzah sering dianggap terlalu ‘Melayu’ dan dengan demikian, kurang modern dan kurang maju jika dibandingkan dengan penyair-penyair Indonesia yang lain seperti misalnya Chairil Anwar yang bahasanya dianggap lebih ‘berbunyi Indonesia’. Julukan Teeuw kepada Amir Hamzah sebagai ‘penutup tradisi Melayu’ tidak membantu dari segi prestasi Amir Hamzah sebagai seorang penyair modern. Namun harus dikatakan bahwa Teeuw mengakui pula keberhasilan Amir Hamzah dan telah membahas secara mendetail beberapa aspek dari bahasa dan gaya bahasa puisinya yang modern. Teeuw pula (1979:103) yang mengutip tanggapan Chairil Anwar sendiri (Anwar: 1945) yang sangat mengagumi puisi Amir Hamzah dan agaknya tidak melihat ‘Melayunya’ bahasa puisi Amir Hamzah sebagai kekurangan melainkan sebagai kelebihan dan kekuatan penyair. Kata Chairil Anwar:

“Puncaknya dalam gerakan Pujangga Baru selama 9 tahun adalah Amir Hamzah dengan prosa lyris, sajak-sajak lepas, 2 ikatan sajak: “Buah Rindu”, “Nyanyi Sunyi”, salinan dari beberapa sastrawan-sastrawan Timur yang ternama, disatukan dalam “Setanggi Timur”. Kata kawan-kawan seangkatannya Amir Hamzah dapat pengaruh dari pujangga-pujangga Sufi dan Parsi. Tetapi yang perlu diperhatikan bagi saya ialah, bahwa Amir dalam “Nyanyi Sunyi” dengan murninya menerakan sajak-sajak yang selain oleh “kemerdekaan penyair” memberi gaya baru pada bahasa Indonesia, kalimat-kalimat yang pedat dalam seruannya, tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata-kata Amir bisa dikatakan destruktif terhadap bahasa lama, tetapi suatu sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru!” (Anwar 1945:143)

‘KeMelayuan’ Amir Hamzah dibicarakan dengan peka dan secara mendetail pula oleh A. H. Johns (1964) dalam sebuah karangan yang berjudul Amir Hamzah, Malay prince, Indonesian poet. Sumbangan Johns sangat berarti oleh karena Johns dengan tegas membedakan antara manusia Amir Hamzah yang keturunan Melayu dan penyair Amir Hamzah yang berbahasa Melayu Indonesia:



“Amir Hamzah may have been a conservative in many things, but he was not, on the whole, in his poetry, his fondness for oriental rather than western literature notwithstanding. Both in form and content he was far more of a revolutionary than any of his contemporaries. In his mature verse he shows clearly that he has no further need to rely on any traditional verse form. The intensity of his theme fashions its own form, and his mastery of word choice and construction of phrase is magnificent.” (Johns 1964: 316)



Johns teruskan:



“It should now be clear that the conventional picture of Amir Hamzah needs considerable modification. He was not merely the poet who gave a temporary new life to the traditional forms and diction of Malay verse. One might say that the more he wrote, the less Malay, the more Indonesian he became. For the Malay influence so clearly manifest in his early work, is scarcely in evidence in that of his maturity, where very little trace of traditional diction remains.” (Johns 1964:315).





Mulai dari Chairil Anwar, pengamat puisi Amir Hamzah menyadari pula betapa dalamnya perasaan individu dan kepekaan batin penyair yang beragama itu. Johns misalnya menyiasati juga sifat keagamaan pemikiran dan penulisan Amir Hamzah secara mendalam.

Aspek keagamaan puisi Amir Hamzah merupakan pula fokus utama sebuah buku baru yang disusun oleh Md. Salleh Yaapar (1995) yang, dengan pendekatan hermeneutik, membahas karya Amir Hamzah. Md. Salleh Yaapar terutama ingin menemukan unsur-unsur Sufi dalam karya dan pikirannya. Di samping itu Salleh Yaapar berminat pula meneliti pengaruh Amir Hamzah atas Chairil Anwar dan relevansi puisi dan kepercayaan Amir Hamzah untuk zaman sekarang, baik di Indonesia mau pun di Malaysia. Sudah tentu, tafsiran Salleh Yaapar mengenai hubungan Amir Hamzah dengan tasawuf harus dilihat pula dalam konteks sejarah semasa dan setempat penyusun buku itu seperti pengarang sendiri katakan: “interpretation is also historically rooted” (Salleh Yaapar 1995:10), dan tetap patut dihargai hasil dan sumbangan penelitian sebelumnya seperti yang dikerjakan oleh Jassin dan Johns yang prestasinya besar dalam penelitian berbagai aspek puisi Amir Hamzah, termasuk aspek agama.

Salleh Yaapar pula kurang menyinggung dan kurang berhasil menyelesaikan konflik antara penganut dan penentang hipotesa Sutan Takdir Alisjahbana (1979) yang menolak secara mutlak pendapat Johns bahwa hubungan manusia dengan Tuhan merupakan unsur yang paling kuat dalam puisi Amir Hamzah dan mengatakan bahwa sebagian terbesar puisi Amir Hamzah merupakan puisi percintaan ‘duniawi’ dan bukan unkapan percintaan seorang Sufi pada Tuhan. Lepas dari itu, pertanyaan apakah pemisahan dan pembedaan antara yang fana dan yang baka ini wajar dan dichotomi ini dapat dipertahankan atas dasar penafsiran hermeneutik yang menyeluruh dan sesuai dengan definisi yang diberikan oleh Md. Salleh Yaapar sendiri “that a text manifests itself within history” (Salleh Yaapar 1995:10), belum dipermasalahkan.

Penelitian Md. Salleh Yaapar ini juga tidak memerhatikan karya Amir Hamzah dalam keseluruhannya oleh karena penyusun mengambil-alih pernyataan H.B. Jassin dan beberapa penulis yang lain bahwa karya Amir Hamzah baru mulai terbit pada tahun 1932. Di samping itu Md. Salleh Yaapar mendukung pula tanggapan bahwa kumpulan puisi Buah Rindu seperti diterbitkan dalam majalah Poedjangga Baroe merupakan hasil upaya Amir Hamzah yang awal. Tetapi tanggapan ini sejak beberapa tahun sudah tidak dapat diterima lagi dengan begitu saja, oleh karena puisi Amir Hamzah ternyata sudah mulai diterbitkan pada tahun 1930 (Kratz 1980, 1989; Dolk 1987). Nyanyi Sunyi, yang riwayatnya dijelaskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana (Alisjahbana 1979: 12), ditulis dan diterbitkan semula pada tahun 1937, sedangkan sajak-sajak Buah Rindu ditulis dan diterbitkan secara lepas untuk pertama kali pada awal tahun tiga puluhan mulai, setahu saya, pada tahun 1930. Baru pada tahun 1941 sajak-sajak lepas ini dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk koleksi dan, dalam kumpulan Buah Rindu ini ternyata ada juga puisi yang diubah oleh pengarang sendiri sebelum diterbitkan kembali. Dengan demikian Buah Rindu tidak bisa diterima dengan begitu saja sebagai koleksi dalam bentuk yang awal.

Contoh yang paling menonjol di antara sajak dalam Buah Rindu yang diubah oleh pengarang, adalah sajak Teluk Jayakatera (Hamzah 1941) yang mempunyai persamaan dengan sebuah sajak yang lain dengan judul Di tepi pantai dan yang pernah diterbitkan sebelas tahun sebelumnya dalam majalah Pandji Poestaka (Hamzah 1930). Kedua sajak ini bukan saja menunjukkan dengan sempurna perkembangan dan kemahiran Amir Hamzah sebagai penyair melainkan juga keterikatan puisinya dengan riwayat hidup sang penyair. Berikut ini sajak yang umum diketahui dan yang lazim merupakan dasar pertimbangan orang:





Teluk Jayakatera



Ombak memecah di tepi pantai

angin berhembus lemah-lembut

Puncak kelapa melambai-lambai

di ruang angkasa awan bergelut.



Burung terbang melayang-layang

serunai berseru "adikku sayang"

perikan bernyanyi berimbang-imbang

laut harungan hijau terbentang.



Asap kapal bergumpal-gumpal

melayari tasik lautan Jawa

beta duduk berhati kesal

melihat perahu menuju Semudera.



Musyafir tinggal di tanah Jawa

seorang diri sebatang kara

hati susah tiada terkata

tidur sekali haram cendera.



Pikiranku melayang entah ke mana

sekali ke timur sekali ke utara

Mataku memandang jauh ke sana

di pertemuan air dengan angkasa.



di hadapanku hutan umurnya muda

tempat asyik bertemu mata

tempat ma'syuk melagukan cinta

tempat bibir menyatukan anggota.



Pikiran lampau datang kembali

menggoda kalbu menyusahkan hati

mengingatkan untung tiada seperti

Yayi lalu membawa diri.



Ombak mengempas ke atas batu

bayu merayu menjauhkan hati

gelak gadis membawaku rindu

terkenangkan tuan ayuhai yayi.



Teja ningsun buah hatiku

lihatlah limbur mengusap gelombang

ingatlah tuan masa dahulu

adik guring di pangkuan abang?

(Hamzah 1941)



Md. Salleh Yaapar tafsirkan sajak itu seperti berikut:



“ In this work the poet depicts a beautiful but melancholic scene at the Bay of Jakarta. Being alone at the bay, the poet watches in deep grief the ships moving towards Sumatra, and indulges in stray thoughts about his unfortunate situation. () The poet especially laments the fact that he has been left by his beloved, whom he refers to as tedja ningsun (my light beam). However, the contemptuous tone so characteristic of the previous poems is no longer present.” (Md. Salleh Yaapar 1995:91-92)



Kata Teeuw:



The memory of Sumatra is still fresh; some poems are a kind of leave-taking from his home-land, his mother, and his beloved girl at home, others a “report” on his first meeting with the new island (Teluk Djajakatera, Bay of Djakarta). (Teeuw 1979: 92)



Implikasi kutipan-kutipan ini jelas bahwa yang dimaksudkan dengan gadis yang dipanggil penyair adik, yayi, dan Tuan adalah cintanya yang pertama yang pernah dia tinggalkan di Langkat sewaktu Amir Hamzah berangkat ke Jawa untuk meneruskan pendidikannya pada tahun 1928. Berlainan pula dengan Nyanyi Sunyi yang menyanyikan cintanya kepada seorang gadis Jawa, Ilik Sundari. Kata Jassin:



“Menjadi terkenal dalam kesusastraan dunia beberapa wanita yang jadi sumber ilham bagi pengarang,() maka timbul keinginan kita untuk mengetahui siapakah gerangan “Teja”, “Sendari Dewi” yang konon sumber ilham Amir Hamzah? Apakah Teja dan Sendari-Dewi dalam Buah Rindu sama dengan yang dimaksud dalam Nyanyi Sunyi, ataukah orangnya berlain-lainan? Empat kali Teja disebut dalam Buah Rindu yang ditulis tahun-tahun 1928-1935 di Jakarta-Solo-Jakarta. Dalam sajak yang bernama “Buah Rindu” III timbul dugaan bahwa “adinda” yang dimaksud berada di seberang lautan dan kalau kita berpegang pada keterangan penyair bahwa sajak-sajak ini terjadi di pulau Jawa, mestinya di seberang Pulau Jawa dan logisnya di Pulau Sumatera.” (Jassin1986: 35)

Download / Baca Tulisan ini secara lengkap

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook