Tuesday, October 18, 2011

Resensi: Isyarat-Esai Sutadji Calzoum Bachri

AKROBAT KATA-KATA SANG RAJA MANTRA

Sutardji Calzoum Bachri, Isyarat (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2007), xix + 505 halaman

“Menulis bagi saya adalah upaya untuk mengucap, suatu kata kerja yang memiliki makna khusus dalam kebudayaan Melayu” (hlm. vii). Begitulah Sutardji Calzoum Bachri (SCB) mengawali pengantar buku kumpulan esainya, Isyarat (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2007, xix + 505 halaman). Selepas itu, kita disodori esai pembuka (hlm. xv—xvii) yang menegaskan pentingnyasastrawan mewartakan sikap kepengarangan, wawasan estetik, bahkan juga dasar filosofinya tentang seni. Kredo Puisi SCB dan pengantar Kapak yang fenomenal dan monumental itu, ditempatkan sebagai pintu gerbang memasuki lautan pikiran buku ini, dan kita dibawa berenang dalam dinamika ombak kata-kata.
Jika ditarik ke belakang dan dicantelkan dalam wilayah kesusastraan dunia, apa yang dilakukan SCB, bukanlah hal yang baru. Para maestro macam John Milton, William Wordsworth, Milan Kundera, T.S. Eliot—dan para sastrawan pemenang Nobel— menyampaikan sikap, wawasan, dan filosofi seninya, dalam bentuk esai. Bahkan, konsep puisi yang ditawarkan Eliot justru menjadi rujukan penting kaum New Criticism. Jadi, esaiitu semacam terjemahan, pendedah, pintu masuk untuk mengungkap makna yang melekat dan menyebar dalam keseluruhan bangunan estetik karya sastra.

Ignas Kleden dalam Pidato Kebudayaan Pekan Presiden Penyair (19 Juli 2007; Kompas, 4 Agustus 2007) menyoroti masalah itu dalam konteks puisi SCB yang kredonya ditempatkan sebagai “rencana kerja seorang penyair… sebagai suatu program, desain, dan bahkan tekad. Pertanyaannya: apakah penyairnya sanggup mewujudkan apa yang telah dia deklarasikan?” Para penyair Pujangga Baru yang dipelopori Sutan Takdir Alisjahbana, panjang-lebar melontarkan teori puisi dan penolakannya atas estetika puitik persajakan sebelumnya. Tetapi sejumlah besar puisi Pujangga Baru, masih menampakkan jejak syair dan pantun. Hal yang sama, juga dilakukan Chairil Anwar dan sastrawan Angkatan 45 lainnya perihal wawasan estetik dan usahanya “Menguak Takdir” dan menolak konsepsi estetik Pujangga Baru. Chairil Anwar pun baru mencapai taraf yang menjadi cita-cita Alisjahbana.
Kredo Puisi SCB semangatnya tak sekadar penolakan, melainkan juga pembongkaran, perumusan kembali, dan sekaligus proklamasi estetik atas karyanya. “… sudah datang waktu untuk memberi warisan pada dunia, dan bukan seperti generasi sastrawan Surat Kepercayaan Gelanggang yang minta-minta warisan dari kebudayaan dunia.” (hlm. 18—19). Kredo itu juga menjadi penting lantaran di situlah kebesaran seorang penyairteruji kesadarannya tentang pemberontakan meraih capaian estetik. Bukankah penyair besar mengetahui persis apa yang ditulisnya dan bukan cuma menderetkan larik kata-kata yang asal beda. Di sana, penyair tidak sekadar menulis puisi, melainkan menyimpan filosofi seninya, estetika, wawasan, elan, bahkan ideologinya tentang kesenian, kemanusiaan, dan kehidupan. “Ia adalah ruh, semangat, mimpi, obsesi, dan igauan dan kelakar batin yang menjasad dalam bunyi yang diucapkan dan sering dituliskan dalam kata-kata” (hlm. 10).
Popo Iskandar, Dami N. Toda, Abdul Hadi WM, dan Danarto termasuk SCB sendiri kemudian coba menjelaskan wawasan estetik dan ruh kultural yang mendasarinya. Dengan begitu, Kredo Puisi itu bisa digunakan sebagai lanjaran untuk memahami dan mengungkap puisi-puisi SCB, terutama yang terhimpun dalam antologi O, Amuk, Kapak (1981). Lalu, apa pula signifikansi antologi esai SCB yang terhimpun dalam buku Isyaratini bagi jagat kesusastraan Indonesia?
***
Tidak banyak penyair Indonesia yang coba mengungkapkan pandangannya tentang puisi dan sikap kepenyairannya. Dari yang sedikit itu, Alisjahbana gencar menyebarkannya dalam majalah Pujangga Baru. Pengantarnya dalam Puisi Baru (1946) merupakan bentuk legitimasi gagasannya tentang konsep puisi baru. Abdul Hadi WM tegas mengungkap wawasan estetiknya tentang tasawuf dan filsafat Timur yang ikut mempengaruhinya. Penyair lain seperti malu-malu, padahal sesungguhnya itu penting sebagai bentuk komunikasi lain dengan pembacanya, bahkan juga sebagai dasar kritikus membuat analisis—penafsiran dan tak asal comot teori Barat yang belum tentu sesuai dengan semangat jiwa karya bersangkutan.
Dalam konteks kepenyairan SCB, tidak dapat lain, Isyarat sungguh melengkapi pemahaman kita tentang filsafat seni yang mengeram dalam benak SCB. Di sana, SCB menyadari benar potensi kata yang bebas dari beban makna. Maka, setiap kata dalam rangkaian kalimat menjadi begitu cerdas. Kadangkala diperlakukan bagai bola; melompat-lompat, berkejaran. Ia menggiringnya, menendang, dan tiba-tiba memantul, membentur kepala. Di bagian lain, ia sengaja telentang membiarkan diri diserbu, digerayangi, dan digelitik kata-kata. Secara piawai SCB menyuguhkan sebuah tontonan yang menyihir: akrobat kata-kata!
Secara keseluruhan, buku ini terdiri dari empat bagian: (1) tentang Tardji yang memusat pada perkara sikap kepenyairan, (2) tentang puisi yang coba menegaskan konsep estetik puisi, (3) tentang sastra, seni, dan budaya yang mengungkap persoalan sastra secara lebih luas, dan (4) tentang perbincangan karya-karya penyair (sastrawan) lain dari Rumi hingga Djenar Maesa Ayu. Seluruhnya memuat 107 esai yang dihasilkannya selama 34 tahun.
Sebagaimana lazimnya usaha menghimpun tulisan yang berserak-serak, pembagian secara tematik itu, kerap bermasalah, hingga tidak dapat dibuat garis tegas. Selalu ada kesan tumpang-tindih dan tak terhindarkan dalam beberapa esai terjadi perulangan gagasan. Tetapi, letak signifikansi buku ini memang bukan hanya menyangkut persoalan tema, melainkan juga upaya penyair mempertanggungjawabkan sikap kepenyairannya dan estetika puitik yang ditawarkannya. Dengan begitu, puisi tidak sekadar deretan kata metaforis atau simbolik, tetapi lebih dari itu, menjelma menjadi ekspresi kreatif yang kokoh berpribadi, bermarwah kebudayaan, dan berjiwa kemanusiaan. Setidak-tidaknya, itulah yang ditawarkan SCB.
Secara tematik, Isyarat membincangkan berbagai hal seputar puisi—sastra—seni—budaya yang disampaikan dengan ringan dan terkadang terkesan main-main. Tetapi sesungguhnya, itu merupakan perenungan yang intens, menukik—mengorek ke inti kata. Melalui penemuan sampai ke inti kata itulah, SCB meneroka makna kepenyairan yang hidup, yang melampaui vitalitas, yang tak mendurhaka pada Mak Budayanya, dan tentang puisi yang memberi pemaknaan manusia dan kehidupan. Di tangan SCB, manusia dan kehidupan dengan segala tetek-bengek dan remah-remahnya, bisa menjadi puisi, cerpen, esai, filsafat, atau apa pun. Segalanya adalah kata yang bebas, dan kata itulah yang bisa berkisah tentang apa pun. Kuncinya sederhana: bebaskan kata dari beban makna. Maka, dalam keseluruhan esai ini, kita akan banyak menjumpai kata-kata bersayap, dan lebih banyak lagi penciptaan sayap kata-kata. Dan lebih penting dari itu, ungkapan, istilah, dan konsepsi yang ditawarkan SCB, sungguh orisinal, khas trademark Tardji.
Simaklah –sekadar menyebut beberapa— esai “Menulis di Atas Atap,” “Hijau Kelon,” “Penyair dan Telurnya,” “Puisi Estafet,” “Kisah Rumi dan Kezaliman ‘Uskup’ Bahasa” atau buka secara sembarang buku itu, dan cermati esai yang terdapat di sana, maka sejak kalimat pertama, kita akan dibawa sayap kata-kata yang tiba-tiba seperti menyergap begitu saja. Narasinya cantik, jernih, meski isinya pedas mengiris, menusuk, menukik.
Jika banyak kalangan berkeluh-kesah tentang miskinnya bahasa Indonesia, seketika SCB telah menghancurkan pandangan itu. Maka tidak berlebihan menempatkan buku ini sebagai kitab utama pelajaran memperkaya bahasa. Bahkan, bagi mereka yang masih mencari kata, gagu membuat kalimat, mualaf mengarang, penulis puisi yang belum jadi penyair, guru bahasa (Indonesia) yang cemas berdiri di depan kelas, gagap bikinesai, kerap gagal menulis cerpen, atau segala aktivitas yang berkaitan dengan tulis-menulis, buku ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan yang menjanjikan. Sungguh!
Keseluruhan esai dalam buku ini seperti berdesakan memamerkan kecantikannya, dan kita (: pembaca) kerap gagal menghindar auranya: cerdas, inspiring, menyihir! Sedap, asyik, mengalir, meski dengan tetap menampilkan wawasan yang luas. Benarlah kiranya pemeo ini: Penyair yang baik adalah penulis esai yang baik. SCB telah membuktikannya dengan sangat kreatif.

(Maman S Mahayana, pengajar FIB-UI, Depok
SUMBER: Mahayana-mahadewa.com

DOWNLOAD silakan KLIK di sini

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook