Friday, September 30, 2011

Hikayat Meudeuhak: Cerita Jenaka

Cerita jenaka atau cerita lucu diisaratkan yang dapat membangkitkan tawa, kocak, lucu dan menggelikan. Dapat juga sesuatu yang cerdik, berakal dan faham ilmu siasat. Ya cerita jenaka merupakan cerita tentang tokoh yang lucu, menggelikan dan licik atau licin. Dalam kesusastraan Melayu Klassik cerita jenaka dikenal dengan, Pak Kaduk, Lebai Malang, Si Luncai, Pak Pandir, Pak Belalang dan Hikayat Meudeuhak. Nama Hikayat Meudeuhak dikenal sebutan di Aceh. Bagi orang Aceh, Meudeuhak, yang merupakan tokoh utama dalam cerita jenaka ini, adalah seorang pemimpin yang diidamkan.

Hikayat Meudeuhak merupakan karya sastra yang tidak diketahui pengarangnya. Dr. Snouck Hurgrunje mengklarifikasi Hikayat Meudeuhak versi Aceh, berasal dari hikayat Melayu yang berjudul Masyhudulhak yang pernah diterbitkan oleh G.A. Koff pada tahun 1882. HikayatMeudeuhak ini ditulis dalam huruf Arab-Melayu dengan bahasa Aceh. Pada halaman akhir hikayat setebal 342 halaman ini, dicantumkan nama pemiliknya, yaitu Teungku Akob Gampong Blang Panyang Meunasah Baro. Tidak diketahui siapa penyalin hikayat versi Aceh ini, namun dicantumkan tanggal penyalinannya, yaitu hari Sabtu tanggal 15 Zulkaedah 1333 H atau 25 September 1915. Adapun beberapa cerita telah diubah-suai dengan ditambah oleh penyalin ke dalam Bahasa Aceh. Adapun ringkasan cerita hikayat ini adalah sebagai berikut:

Bermula dari seorang raja di negeri Wutu bernama Sultan Wadihara yang mempunyai seorang kadi bernama Bangka Sakti. Kadi ini mempunyai istri yang bernama Rakna Kasan. Dari perkawinannya tersebut lahirlah seorang putra yang diberi nama Meudeuhak. Sejak kecil Meudeuhak telah memperlihatkan kecerdasannya. Hal ini terbukti dengan mampu menyelesaikan beberapa perkara dengan bijaksana; diantaranya Si Bangkok dengan pencuri, dua orang ibu memperebutkan anak, dan setan mencuri pedati.

Pada umur tujuh tahun kepintarannya diuji oleh raja dan empat orang guru ahli. Meudeuhak dapat menjawab semua persoalan yang diajukan dengan benar. Suatu ketika raja meminta Meudeuhak untuk memindahkan gunung ke istana. Dengan kecerdasannya ia menyang¬gupi permintaan raja tersebut, asalkan raja bisa menyediakan tali yang kuat untuk menarik gunung. Setelah melihat kecerdasan Meudeuhak, maka raja mengangkatnya menjadi penasihat pribadi. Hal ini membuat keempat orang guru menjadi iri, dan selalu berusaha untuk menjatuhkan Meudeuhak, namun selalu gagal berkat kecerdikannya. Kaseumi Diwi ditinggalkan oleh suaminya yang jahat, lalu dijadikan istri oleh Raja Wadiharah. Sedangkan Meudeuhak menyunting gadis yang bernama Amrak. Keempat guru tersebut terus menyebarkan fitnah, namun berkat kecerdikan Amrak dapat dibuktikan Meudeuhak tidak bersalah. Akhirnya keempat guru tersebut dihukum oleh raja. Raja Wadihirah diuji oleh jin yang menjelma menjadi seorang laki-laki bernama Diwatu. Dengan bantuan Meudeuhak semua pertanyaan Diwatu dapat dijawab dengan benar oleh raja. Diwatu menyarankan seorang raja bisa bermega-mega apabila mempunyai orang tua yang bijaksana sebagai penasihat, seorang hartawan sebagai teman dekat, dan raja harus cinta kepada alim ulama. Akhirnya semua urusan pemerintahan diserahkan raja kepada Meudeuhak. Negeri pun menjadi makmur dan maju.

Pada akhir hikayat ini diceritakan Raja Sumbang Hiran yang kalah berperang dengan Meudeuhak mengatur siasat baru. Raja Wadiharah dipancing dengan gadis-gadis cantik dan putrinya yang bernama Rak Keubandi. Raja Wadiharah pun tertarik terhadap Rak Keubandi. Maka raja pergi ke negeri Panca Lara, namun Raja Sumbang Hiran sudah merencanakan pembunuhan, tetapi diketahui dan digagalkan oleh Meudeuhak. Akhirnya raja selamat dan dapat mempersunting Rak Keubandi. Raja Sumbang Hiran pun menyerah dan dinasihati oleh Meudeuhak. Pemerintahan negeri Panca Larah diserahkan kepada Meudeuhak, kemudian diatur sebagai mana mestinya. Setelah itu, Meudeuhak dan Raja Wadiharah pulang ke negeri Wutu. (Ensiklopedi Aceh)

Kearifan Lokal

Sebagai jerita jenaka Hik Meudeuhak juga mengandung kearifan lokal. Dikisahkan ada seorang perempuan muda pergi bermain ke sebuah padang. Perempuan muda itu membawa seorang bayi laki-laki. Ketika sampai di sebuah kolam, bayi itu diletakkan di pinggir kolam lalu ia menimba air. Sementara itu datang seorang perempuan cantik seusia dengan perempuan muda tadi. Perempuan cantik itu mengambil bayi lalu membawa pergi. Melihat bayinya dibawa pergi, perempuan muda itu mengejar karena ingin mengambil bayinya. Sambil bertanya kenapa bayinya dibawa. Namun wanita cantik itu mengatakan bahwa bayi itu adalah anaknya. Pertengkaran antara kedua perempuan itu semakin meruncing karena saling mengaku bayi yang satu itu anak mereka. Akhirnya orang-orang meminta kedua perempuan itu membawa persoalannya ke Meudeuhak.
Dihadapan Meudeuhak kedua perempuan itu menjelaskan bahwa bayi yang satu adalah anak mereka. Kedua perempuan itu meminta agar Meudeuhak dapat memutuskan secara adil.

Meudeuhak mulai bertanya kepada perempuan cantik itu, anak siapakah bayi itu. Ini segera dijawab dan ia menjelaskan bahwa bayi itu adalah anaknya.

Kemudian Meudeuhak bertanya pula kepada perempuan muda itu bayi itu sebenarnya anak siapa. Perempuan muda itupun menjawab bahwa bayi itulah adalah anaknya. Orang-orang yang mendengar merasa heran; dua orang perempuan mengaku anak pada seorang bayi.

Meudeuhak mulai berpikir. Seorang anak dua ibunya. Tak lama kemudian Meudeuhak menemukan cara. Bayi itu diletakkan pada sebuah tempat. Kedua perempuan yang mengaku ibu bayi disuruh berjalan yang satu ke timur yang satu ke barat dengan jarak masing-masing 100 depa. Ketika gong yang dipalu nanti berbunyi keduanya berlari adu cepat untuk mendapatkan si bayi. Siapa yang lebih cepat dialah ibu bayi itu.

Cara seperti ini disetujui oleh kedua perempuan itu dan mulailah dilaksanakan. Gong dibunyikan dan kedua perempuan berlari cepat mendapatkan si bayi. Perempuan cantik itu sangat cepat larinya segera mengambil bayi dan menggendongnya. Perempuan muda terlambat namun mengejar ingin merebut si bayi. Nampaklah kedua perempuan itu saling berebut bayi. Melihat kejadian itu Meudeuhak mencegah. Lalu Meudeuhak meminta agar bayi diberikan padanya. Sambil berkata:
Siblah sapo ta meutueng-tueng
Bah meubulueung jinoe sigra
(Ambil oleh kalian masing-masing sebelah
Biar kubelah sekarang juga)
Mendengar usul itu perempuan cantik segera setuju. Sedang perempuan muda tidak. Perempuan muda itu berucap: (terjemahan T.A.Sakti)
Aneuk diulon teu bek taplahDiulon sah nyo aneukdaTajot keujih nyang ban sabohBek cit tapoh aneuk hamba(Anakku jangan tuan belahDia sungguh anakku sendiriBerikan saja untuk diaJangan di bunuh anak hamba)
Lalu perempuan muda itu berserah diri pada Tuhan. Mendengar tutur kata perempuan muda itu, Meudeuhak percaya bahwa benarlah ia ibu bayi itu. Dan tak mungkin bayi itu anak perempuan cantik yang tak punya kasih sayang sehingga rela anaknya dibelah. Hewan saja tidak akan memangsa anaknya.

Sementara itu perempuan cantik masih bersitegang mengaku dialah ibu bayi itu. Bukankah sesuai aturan perjanjian yang menye¬butkan siapa yang duluan mendapatkan anak dialah ibu sang bayi. Mengapa memungkiri perjanjian itu.

Meudeuhak menyebutkan perempuan cantik itu jelmaan setan oleh karena itu ia cepat berlari. Setan juga suka mengacau dan suka bersilat lidah. Lalu Meudeuhak memerintahkan setan perempuan cantik itu pergi dan jangan mengganggu dan mengkhianati manusia lagi. Setelah disumpah ia pun pergi.

Masih banyak kearifan lokal yang dapat ditemukan dalam hikayat Meudeuhak yang terdiri dari 2600 bait itu. Coba kita ikuti satu kisah lainnya lagi.

Raja memerintahkan kepada seorang bujang membawa sepotong kayu. Kayu itu disampaikan kepada Meudeuhak dan minta ditentukan mana yang ujung dan mana yang pangkal. Bila jawaban Meudeuhak salah ia akan didenda dengan membayar 1000 dinar.

Bujang cepat pergi menemui Meudeuhak dengan penuh rasa takut. Bagamana tidak takut kayu itu diraut sama besar pangkal dan ujung sehingga sukar ditebak. Dengan rasa takut yang amat sangat karena kawatir Meudeuhak tak bisa menjawab dan harus membayar mahal kayu itu dibawa ke Meudeuhak. Sambil memberikan kayu, disampaikan pertanyaan Raja kepada Meudeuhak. (terjemahan T.A. Sakti)
Ujong ngon uram ta peumeuriMeueng han tabri siribee dinaMasa neukheuen Sakeuti neumoeMeuteu taloe ro ie mata(Yang mana pangkal yang mana ujungJika tidak harus kita bayar 1000 dinarBerkati sakti sambil menangisBercucuran air matanya)
Meudeuhak memperhatikan kayu dan mengatakan, janganlah kita gundah, nanti Allah akan menolong. Dimasukkan kayu ke dalam air nanti akan nampak mana ujung dan mana pangkal. Yang tenggelam adalah pangkal dan yang timbul adalah ujung. Lalu kayu itu diberi tanda. Bujang menghadap raja dan menyampaikan jawaban yang diberikan Meudeuhak. Mendengar jawaban Meudeuhak yang tepat Raja terkagum-kagum.

Kearifan lokal diatas dapat kita lihat yang pertama menyentuh batin manusia sedang yang kedua menguji akal pikiran. Semakin banyak kearifan lokal kita temukan niscaya semakin kenal kita betapa nenek moyang telah membekali kita dengan kearifan yang diwariskan yang tersimpan dalam berbagai bentuk budaya. Tinggal lagi bagaimana upaya kita memungutnya.

LK Ara
Download  tulisan ini KLIK di sini

Tuesday, September 27, 2011

Rumah Kawin: Cerpen Zen Hae

LAGU Cente Manis baru saja berakhir dari mulut Gwat Nio. Para wayang cokek sudah mengosongkan kalangan. Para panjak mulai membereskan alat musiknya masing-masing. Tetapi Mamat Jago masih saja berdiri sambil memeluk Sarti di tengah kalangan. Tangannya terus meremasi pantat Sarti dan menyorongkan mulut monyongnya ke mulut wayang bermata burung hantu itu. Sarti melengos dan berusaha mendorong tubuh Mamat Jago sekuat tenaga, tetapi dengan cepat Mamat Jago meraih tangan Sarti dan melipatkannya ke pinggangnya. Kali ini Mamat Jago menggoyang-goyangkan pinggangnya sambil terus menekan pantat Sarti. "Aih, jangan tinggalkan abang, manis. Jangan pampat kawah yang mau meledak ini. Ooohh ….Heh, panjak, gesekin gua lagu Ayam Jago. Gua mau ngibing lagi."

TUKANG teh yan celingukan, juga pemain musik lainnya. Ini sudah jam dua pagi. Sudah waktunya rombongan Gambang Kromong Mustika Tanjung pimpinan Tan Eng Djin dari Teluk Naga berhenti main. Izin keramaian yang mereka dapatkan dari keamanan setempat hanya sampai pukul satu. Sudah lewat satu jam.

"Heh, budek lu. Gua masih banyak duit. Gua mau nyawer lagi," teriak Mamat Jago sambil menuding-nuding para panjak yang masih saling bersambut pandang.

Sarti kembali mengibaskan tangannya. Menarik tubuhnya dari pelukan Mamat Jago yang kian sempoyongan. Terlepas. Sebagai gantinya satu tamparan Mamat Jago mendarat di pipinya. "Sundal lu!" maki Mamat Jago sambil melempar cukin merah hati ke wajah Sarti. Sambil meringis dan meme-

PEGANGI pipinya Sarti berlari ke arah wayang lain yang sejak tadi hanya bisa memandanginya dengan cemas.

Ini sudah kelewatan, pikir Eng Djin. Anak buahnya memang boleh dipeluk, dicium, atau dibawa ke mana saja, tetapi pantang disakiti. Ia pun keluar dari sela-sela gong dan menghampiri pengibing mabuk itu. Merendengnya. "Maaf, kami harus berhenti, Bang. Kalau tidak cokek ini bisa digerebek polisi."

"Jangan takut, Koh. Mereka semua teman saya. Ayo, main lagi. Saya akan mati kalau gambang berhenti. Ayo, panjak…"

Bang Minan mulai menggesek teh yan-nya, tetapi segera Eng Djin menggoyang-goyangkan tangan kirinya. Sepi. "Mendingan abang pulang saja. Jangan bikin perkara…"

"Sial dangkalan lu," maki Mamat Jago. Dengan sisa tenaganya disodoknya perut Eng Djin, tetapi ia menepiskan tangan itu. Mamat Jago balas menyerang dengan pukulan siku yang diruncingkan-gentus tubruk. Eng Djin jatuh terduduk. "Engkoh jangan melecehkan saya. Saya juwara kampung. Jago berantem. Semua orang bisa saya bikin takluk."

Eng Djin bangkit dan mundur selangkah. Dipandanginya kepalan tangan Mamat Jago yang padat berisi. Empat belas jurus ilmu pukul memang masih dikuasainya, tetapi ia sadar, tidak mungkin menandingi kemahiran pukulan jawara kampung Rawa Lingi ini. Namun, ia akan melawan sebisanya kalau Mamat Jago melancarkan pukulan lagi. Itulah cara ia mempertahankan harga dirinya di depan anak buahnya. Ternyata, tidak. Mamat Jago hanya memasang jurus. Kuda-kudanya kelihatan goyah. Tubuhnya sedikit goyang.

Tiba-tiba, dua orang berjaket kulit hitam, si gondrong dan si cepak, masuk ke kalangan. Eit, Mamat Jago mengalihkan kuda-kudanya ke arah dua orang asing itu. Mencoba lebih awas, ia kibas-kibaskan kepalanya. Si gondrong lantas mencabut revolver dari balik jaketnya dan mengacungkannya ke udara. Orang-orang terkesiap. "Bapak-ibu saya minta berhenti. Bubar!" perintahnya. Dengan sigap si cepak mencekal tangan Mamat Jago, memitingnya, memborgolnya, dan menyeretnya seperti sekarung tahi ayam.

Entah sudah berapa Lebaran lewat setelah penangkapan itu. Sudah lama sekali, gumam Mamat Jago. Saat itu dengan mudah ia masuk-keluar sel. Ditangkap malam keluar pagi, ditangkap pagi keluar sore, ditangkap sore keluar malam. Anak-anak buahnya akan mengantarkan uang tebusan, tak lama setelah ia digelandang polisi. "Polisi teman abang," katanya berkali-kali kepada anak buahnya. Setelah itu ia akan dengan leluasa datang lagi ke rumah kawin, ngibing dan minum, membuat keributan bila perlu.

Tetapi, itu dulu. Ketika kekayaan dan kehormatan didekapnya dengan dua tangan. Ketika bisnis penjualan kebun dan sawah di kampungnya sedang ramai-ramainya. Setiap saat orang datang dan pergi dari rumahnya. Membawa dan mengambil uang. Pekerjaannya sebagai calo tanah sangat sibuk kala itu. Pernah suatu ketika anak buahnya harus memanggul berkarung-karung uang ke rumahnya untuk membebaskan berhektar-hektar sawah yang kini menjadi bandar udara itu. Orang-orang kampungnya pernah berkata, ia tidur bukan di atas kasur kapuk, tetapi di atas kasur uang.

Sekarang ini semuanya sudah lain. Kekayaan dan kehormatannya rontok sudah, seperti pohon kelapa disambar petir. Meranggas dan mati. Tanahnya yang dulu hektaran kini hanya tinggal sepekarangan saja, menciut bagai kelaras terbakar. Di atasnya berdiri rumah yang dulu pernah menjadi rumah termegah dan termahal di kampungnya-kini sudah menjadi sarang kumbang, ngengat, dan laba-laba. Kosong, kusam, sepi. Mobil, motor, dan kerbaunya sirna tak berbekas. Anak buahnya yang berjumlah puluhan sudah pergi meninggalkannya, entah ke mana. Masroh, istri yang tak pernah lagi disentuhnya sejak terkena TBC, wafat dua tahun lalu. Tiga anak perempuannya sudah dibawa suami mereka ke kota lain. Menjadi orang rantau. Satu anak lelakinya menjadi pengojek untuk menghidupi istri dan empat anaknya. Hanya ia dan si bungsu yang tinggal di situ.

Ah, betapa perihnya kehilangan ini, keluhnya. "Apa ada obatnya?"

Pekerjaan sebagai calo tanah sudah tidak dilakoninya lagi. Tidak ada lagi orang yang mau menjual kebun dan sawahnya. Tanah warisan mereka sudah habis terjual, tinggal yang kini mereka tempati. Dan itu tak mungkin mereka jual, kecuali kalau mereka mau menjadi gelandangan di kampung sendiri. Lahan-lahan yang tadinya menjadi sumber penghidupan mereka kini sudah berubah fungsi. Ratusan hektar sawah itu sudah dibikin rata tanpa pematang dan diberi pagar besi setinggi dua meter di tepinya. Di tengahnya membujur dua jalur landasan beton, dari barat ke timur. Ia dan orang kampungnya hanya bisa memandangi pesawat terbang yang lepas landas dan mendarat, hanya mereka yang pernah naik haji mampu menaikinya. Di malam hari pesawat-pesawat itu berubah menjadi kunang-kunang raksasa yang tubuhnya tetap berkelap-kelip meski melayang di batas langit terjauh.

Pabrik-pabrik juga sudah beroperasi, siang dan malam. Siapa pun orang terkaya di kampungnya tidak mungkin membangun dan memiliki pabrik-pabrik itu. Mereka hanya petani penggarap dan pedagang kecil, tidak mungkin menguasai bisnis dan teknologi perpabrik- an secanggih itu. Tapi, anak-anak mereka, lelaki dan perempuan, si bungsu juga, senantiasa berbondong-bondong, keluar masuk pabrik, dengan seragam yang sama. Mereka sudah menjadi manusia pabrik yang mau tidak mau dibayar murah oleh tauke-tauke dari Korea, Jepang, dan Taiwan.

Rumah-rumah mewah juga sudah dibangun dan ditempati orang-orang yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya. Mereka memang tidak mampu membeli dan menempati rumah mahal itu, tetapi mereka masih bisa menjadi pengojek di perumahan itu dengan motor yang dibeli dari hasil menjual tanah warisan mereka. Mereka masih bisa menikmati jalan aspalnya yang lurus-menyiku, sungai kecil yang jernih dan dibeton tepinya, taman yang indah, sambil memandangi rumah-rumah besar dengan pintu dan jendela yang melengkung. Ya, gonggong anjing, tentu saja.

Ah, betapa menyesakkan kekalahan ini, keluhnya. "Aku butuh obat."

Ia menarik napas dalam-dalam. Aroma tanah basah dibawa angin selatan melintasi padang ilalang setinggi pinggang. Hujan akan segera turun. Musim penghujan sudah tiba dan akan makin tinggi curahnya menjelang Tahun Baru Imlek! Ya, musim kawin orang Cina akan tiba juga. Rumah-rumah kawin di Kampung Melayu, Kosambi, Salembaran, dan Sewan akan ramai lagi. Ia rindukan semua itu.

Ia datangi lagi rumah kawin "Teratai Putih". Semuanya masih seperti dulu. Orang-orang menyingkir begitu ia melintas. Dipasangnya langkap tegap seorang jawara kampung. Hanya di sinilah aku bisa menikmati lagi seluruh kesenangan dan kehormatan hidupku, pikirnya. Bukankah sudah bertahun-tahun belakangan ini ia tidak menikmati dua hal itu lagi. Ya, di sinilah orang akan memuji kelihaiannya ngibing yang dipadu dengan keindahan jurus-jurus pukulnya, kekuatannya menenggak berbotol-botol bir campur anggur, keroyalannya nyawer. Dan tubuh wayang yang panas dan memabukkan! Liukan dan goyangan yang membangkitkan syahwat! Aih, lelaki mana yang bisa tahan.

Cukin merah hati sudah dikalungkan tukang cukin ke lehernya, tanda ia harus turun ke kalangan, memilih wayang mana yang ia suka. Ditatapnya Sarti yang sejak tadi duduk di pojok. Kali ini ia memakai kaus biru bergambar matahari di dadanya dan celana capri krem. Dengan pakaian itu ia tampak lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Sedikit gemuk membuat lekukan-lekukan tubuhnya tampak nyata dibalut pakaian yang serba ketat itu. Darahnya berdesir. Ditariknya tangan wayang langganannya itu. Pengibing dan wayang lain sengaja hanya menonton, memberi penghormatan atas kembalinya si raja ngibing dari Rawa Lingi itu. Mamat Jago tersenyum bangga. "Ayo, panjak, gesekin gua lagu Ayam Jago. Gua mau ngibing lagi."

Teh yan digesek, disusul gambang, kecrek, gong, suling, dan kempul. Susul-menyusul. Jalin-menjalin. Gwat Nio sudah melantunkan suaranya yang garing-melengking seperti suara burung titutit. Tapi Sarti tidak juga menggoyangkan tubuhnya. Tangannya dibiarkan terkulai. Mamat Jago meraihnya, melipatkannya ke pinggangnya, merapatkan pelukannya. Tubuh perempuan itu terasa dingin, seperti daun dadap pengusir demam anak-anak. Wajahnya membiru, bibirnya terkatup, matanya terpejam. Ayo, Sarti, jangan kaugoda aku seperti malam-malam dulu! Digoyang-goyangkannya tubuh Sarti, tetap dingin dan biru. Ditepuk-tepuknya pipinya, tak ada reaksi sedikit pun. Dipandanginya para panjak. Sepi. Tak ada yang bergerak. Semua dingin dan biru. Seperti keramik Cina.

Rumah kawin ini sudah menjadi rumah mayat, pikirnya. Ia bopong Sarti keluar. Ia tinggalkan rumah kawin itu. Menerobos hujan senja yang turun bagaikan lapis-lapis kelambu. Sepanjang jalan tak ada orang. Pohon-pohon meliuk-mabuk, rumah-rumah bisu-merunduk. Ia susuri jalan aspal, memotong sungai, membelah padang ilalang. "Kau tidak boleh mati, sayang. Hiduplah bersama abang. Di rumahku kau akan hangat." Dikecupnya bibir Sarti. Air liurnya yang bercampur air hujan masuk ke mulut Sarti. Si mata burung hantu itu tersedak. Tubuhnya menggeliat. Tangannya meraih leher Mamat Jago. Ia tersenyum dan mempercepat langkahnya.

Malam dan hujan pertama benar-benar telah mengepung kampungnya. Dari kejauhan rumahnya yang terletak di tepi sawah bera dengan pematang yang lurus memanjang tampak bagaikan lukisan yang luntur. Namun, satu dua lampunya membangkitkan keriangan masa mudanya. Bukankah dulu ketika masih berpacaran ia dan Masroh selalu berlarian di atas pematang sawah begitu hujan pertama turun. Setelah basah kuyup oleh air hujan barulah mereka mandi di sumur senggot yang airnya terasa lebih hangat daripada air hujan. Buatnya, laku itu semacam perayaan untuk datangnya musim penghujan.

Sesampainya di rumah dibaringkannya Sarti di ranjang. Di situlah dulu istrinya mengembuskan napas terakhirnya dengan tubuh kurus kering. Mamat Jago melucuti seluruh pakaian basah dari tubuh Sarti dan menyelimutinya dengan kain batik yang dulu pernah dipakai untuk menyelimuti mayat istrinya. Dipandangi wajah Sarti yang tertidur pulas. Dalam keremangan wajah itu berganti-ganti dengan wajah istrinya.

"Pacarku, biniku…."

Dikecupnya bibir Sarti. Bibir itu terasa bergerak. Balas melumat. Tangannya perlahan mendekap. Napasnya mulai satu-dua. Hangat, panas, gemuruh. Mamat Jago mendekapnya lebih erat lagi. Kini kehangatan menjalari tubuh mereka berdua. Dalam sekejap mereka telah bergumul. Memagut-mematuk-mengecup-merenggut- mencakar-mengular…terbakar. Tiba-tiba, brak! Mamat Jago kaget dan melepaskan pelukannya. Eng Djin, si gondrong, dan si cepak sudah berdiri di pelangkahan pintu. Buru-buru Mamat Jago meraih dan mengenakan celana kolornya.

"Sadarlah, Bang. Sarti sudah mati," kata Eng Djin.

Mamat Jago menoleh. Sarti terbaring telanjang kaku dengan sisa-sisa keringat yang meleleh di sela-sela payudaranya. Tak percaya Mamat Jago menepuk-nepuk pipi Sarti. "Ayo, manis…bangun. Ada Koh Eng Djin dan teman abang datang," bisiknya ke telinga Sarti.

"Relakan kepergiannya… Nyebut, Bang."

Mamat Jago masih tak percaya. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Sarti. Kaku, dingin, biru seperti keramik Cina. Tangisan pilu meledak dari mulutnya. Eng Djin tertegun menyaksikan lelaki malang itu. Tanpa buang waktu si gondrong dan si cepak langsung membekuk Mamat Jago. Dengan mudah mereka menggelandang Mamat Jago dan memasukkannya ke mobil jip.

Sepanjang jalan kedua polisi yang diakui sebagai temannya itu tak mencoba mengajaknya bicara. Semuanya membisu. Pikiran Mamat Jago kembali pada Sarti. Benarkan Sarti sudah mati? Mungkinkah aku menyenggamai mayat, ia membatin. Bukankah barusan Sarti membalas kecupan dan pelukannya dan mereka bergumul hebat seperti di malam-malam dulu?

"Keluar lu!" Bentakan si gondrong membuatnya ternganga. Mamat Jago tak punya lagi kuasa untuk menolak.

Si gondrong dan si cepak menggiringnya ke sebuah tempat gelap. Kakinya menjejak pasir. Ada debur ombak. Kersik daun. Serbuk garam yang menempeli bibirnya. Ia menduga-duga pantai apa ini. Mungkin Tanjung Kait, Rawa Saban, Kamal, atau pantai yang belum pernah ia kunjungi. Dorongan keras membuatnya tersandung akar bakau dan tersungkur. Butiran pasir asin memenuhi mulutnya.

"Sejujurnya, Mat, kami tidak pernah benar-benar berteman denganmu. Tugas kami adalah membasmi orang-orang yang meresahkan masyarakat semacam kau. Dan kau sudah terlalu sering melakukannya. Malam ini kami akan membuat hidupmu tamat," suara si cepak mengalahkan deru ombak.

Dor! Dor! Dor!

Mamat Jago mengusap kepalanya. Tak ada darah. Hanya air hujan! "Mimpi apa lagi ini?" katanya, heran. Ia bangkit dan duduk di tepi balai bambu. Ditajamkan pendengarannya, rentetan tembakan itu masih terdengar. Ah, ia tersenyum, rupanya hanya suara petasan dari rumah kawin! Ia keluar. Hujan sudah mulai berhenti, tetapi air masih menggenang di pelataran rumahnya. Begitu juga kenangannya pada Sarti, Eng Djin, si cepak, dan si gondrong yang barusan hadir dalam mimpinya. Dan Sarti! Mengapa kau muncul dalam mimpiku dengan cara seaneh itu, ia membatin lagi. Lama ia menafsir-nafsir makna mimpinya itu.

"Ya, aku harus kembali ke rumah kawin itu." Ia pun mengetuk-ngetukkan tumit kanannya ke lantai teraso, tiga kali. Hatinya mantap. "Aku harus dapatkan lagi Sartiku, kesenangan, dan kehormatanku.

Kembangan Selatan, Desember 2002
CATATAN:
COKEK: Tari pergaulan masyarakat Betawi peranakan Cina.
WAYANG (Cokek): penari Cokek
PANJAK: pemain musik Gambang Kromong, pengiring Cokek.
CUKIN: selendang untuk menarik para pengibing
NGIBING: menari
KALANGAN: tempat ngibing
TEH yan Betawi: instrumen gesek tradisional berdawai dua
Sumber: Kompas, Edisi 04/06/2003
DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Saturday, September 24, 2011

Cerpen Mohammad Fudoli: Kakek dan Burung Dara

SI KAKEK DAN BURUNG DARA
Mohammad Fudoli

SI KAKEK berdiri di ambang pintu. Ia sedang menunggu menantunya datang dari pasar membeli kembang. Sudah dari tadi ia berdiri di situ dan menantunya belum juga datang-datang. Sekarang hari Jumat, pagi sekira jam delapan dan si kakek akan pergi ke kuburan. Di sebelah utara di atas kaki sebuah bukit, di situ istrinya terbaring di dalam bumi. Itu satu setengah bulan yang lalu sebagai satu permulaan, dan permulaan itu tak akan berakhir hingga Tuhan membangkitkan kembali manusia-manusia dari liang kubur. Si kakek memang percaya pada Tuhan, sebab ia yakin bahwa Ialah yang menghidupkan dan mematikan segenap makhluk yang ada di alam ini. Sebab itu ia harus tidak menyesali atau setidak-tidaknya harus tidak teramat sedih atas kematian istrinya. Kehilangan adalah sesuatu yang memang mesti terjadi, dan setiap manusia memang harus benar-benar menyadarinya.
Si kakek memandang ke timur. Matanya kini melampaui pagar halaman, melintasi ladang jagung, dan melalui sela-sela rumpun bambu ia menampak seorang perempuan berjalan tergesa-gesa. Itu dia sudah datang, pikir si kakek. Kembang yang dibelinya tentulah kembang yang harum, dan biar cuma sedikit ia akan menaburkannya di atas pusara istrinya. Si kakek mengelus-elus jenggot pendeknya yang sudah putih, lalu masuk sebentar ke dalam dan kemudian kembali berdiri lagi di ambang pintu itu.
Perempuan yang sedang berjalan di pematang ladang itu adalah menantunya. Perempuan itu adalah istri anak lelakinya. Adalah sesuatu yang memang merawankan hati, bahwa anaknya yang cuma satu itu telah pergi mendahuluinya. Setahun yang lalu perempuan itu harus menjadi seorang janda. Setahun yang lalu si kakek mesti mencatat dalam hatinya sebuah kehilangan yang sudah tidak dapat dielakkannya lagi. Anaknya yang laki-laki itu telah meninggal dalam suatu perlombaan karapan sapi, dan sekarang istrinya pun telah menyusulnya pula.

Si kakek masih berdiri di ambang pintu, lalu melangkah ke halaman dan tatkala dilihatnya perempuan itu muncul di situ, ia segera menyapanya.
— Kenapa lama? —
— Penjualnya belum datang — sahut si perempuan.
Perempuan itu membawa sebuah bungkusan daun, di dalamnya terdapat beraneka macam kembang dan bungkusan itu diberikannya kepada si kakek.
— Si buyung ke mana? — tanya si kakek.
Si buyung adalah cucunya yang laki-laki, anak perempuan itu.
— Mungkin sedang pergi mengaji — jawab si perempuan.
— Sekarang hari Jumat. Anak-anak tidak mengaji —
— Mungkin sedang bermain —
Perempuan itu masuk ke dalam rumah, dan si kakek memanggil-manggil:
— Buyung! Buyung! —
Tapi tak seorang pun yang ada menyahuti panggilannya itu. Si kakek merasa amat kesal. Pada hari Jumat seperti ini ia biasa membawa cucunya itu ikut bersama dia berziarah ke kuburan.
Tiba-tiba dari arah samping rumah muncul seorang anak kecil sambil tertawa-tawa. Si kakek membalikkan tubuhnya.
— Dari mana sejak tadi? — tanyanya.
— Dari ladang — jawab anak kecil itu.
— Ladang mana? —
Anak itu mengacungkan tangannya dan memperlihatkan beberapa tongkol buah jagung.
— Dapat mana? — tanya si kakek.
— Pak Gopar —
— Engkau minta? —
— Aku diberi —
— Awas, jangan engkau minta-minta —
Anak itu mendekat sambil mengupas jagungnya sebuah, dan kulitnya dilemparkannya di pinggir halaman itu.
— Buat apa? — tanya si kakek.
— Buat makan burungdara — jawab anak itu.
— Nanti saja. Sekarang kita ke kuburan —
— Burungdara itu mungkin lapar —
— Tadi sudah kuberi makan semua —
Sambil tersenyun-senyum dipegangnya bahu anak itu, lalu si kakek mengajaknya ke luar halaman. Anak itu berbalik.
— Aku ingin memberi makan burungdara itu dulu — katanya.
— Burung itu tidak lapar — tukas si kakek.
— Tapi si kelabu harus kuat. Harus bisa cepat terbang dan menukik. Nanti sore kakek akan mengadunya —
— Tidak nanti sore, tapi besok —
Anak itu rupanya merasa agak tidak puas sebab kakeknya baru akan mengadu si kelabu — burung dara kesayangannya itu — besok. Padahal sudah beberapa hari burung itu tidak pernah-pernah diadu. Namun anak itu cuma diam saja. Dan ketika si kakek menyuruh ia menaruh jagungnya dulu di dalam, ia pun segera lari dan tak seberapa lama kemudian muncul lagi dengan wajah yang bersinar-sinar.
— Ketepilmu jangan lupa! — seru si kakek.
— Tidak! — anak itu menunjukkan ketepilnya.

Mau membaca kelanjutan ceritanya?
atau download cerpen ini? silakan KLIK di sini

Wednesday, September 21, 2011

Mengenal Joko Pinurbo

JokPin: Saat Ini Puisi Bukan Hanya Milik Penyair


“RASANYA saya pernah baca puisi di sini,” ujar Joko Pinurbo perlahan. Pandangan matanya lalu mengembara, menjelajah menembus remang malam, seperti ingin mencocokkan apa yang sedang dilihatnya itu dengan sekeping kenangan: tembok yang beberapa bagiannya mengelupas, halaman terbuka yang dirawat seadanya, dan sejarah panjang rumah itu: kantor majalah kampus Balairung, Universitas Gajah Mada, yang terletak di kawasan perumahan dosen Bulaksumur B-21.

Di langit, bulan seperti menua dengan cepat. Puluhan mahasiswa pengelola majalah duduk lesehan di depan Jokpin, nama panggilan penyair berusia 44 tahun ini. Wajah-wajah antusias mereka membentuk cuplikan siluet yang dihasilkan dari pendar kerlip lentera yang berserakan di atas tikar. Dengan sigaret yang seolah tak putus-putus menghuni bibir, suara lembutnya kembali terdengar seolah berzikir. “Ya, benar. Saya pernah baca puisi di sini bareng Wiji Thukul,” ujar peraih Khatulistiwa Literary Award 2005 ini seperti ingin meyakinkan diri sendiri.

Reporter Ruang Baca Akmal Nasery Basral yang hadir di antara hadirin Sabtu malam, 13 Januari itu, menyarikan diskusi yang berlangsung, ditambah dengan obrolan Jokpin sebelumnya dengan sejumlah peminat sastra di toko buku Toga Mas, Gejayan, beberapa saat sebelumnya, serta korespondensi dengan surat elektronik.

Apakah akan ada buku Anda yang direncanakan terbit tahun ini? Dan kemana arah licencia poetica yang ingin dituju?
Saya memang sedang menyiapkan buku kumpulan puisi terbaru. Saya masih belum tahu ke mana arahnya, mengalir saja. Tugas saya menulis, pembaca yang bersukacita, he, he, he … Masih dengan langgam yang konon sudah dianggap pembaca sebagai ciri saya. Namun saya tetap berusaha menyajikan sejumlah kisah baru, citraan baru, metafor baru, aforisma baru, dan sensasi-sensasi baru. Baru dalam arti belum ada dalam puisi-puisi saya sebelumnya.

Maksudnya Anda mengucapkan “selamat tinggal celana”?
Tidak juga. Masih ada makhluk bernama celana, tapi dengan sentuhan baru. Mungkin juga ada cerita mengenai “kesepian individual” dan “kesepian sosial”. Tapi tenanglah, tak ada kecap nomor satu. He, he, he ...
Kesulitan apa yang Anda rasakan dalam penggarapan buku kali ini?
Secara makro boleh dibilang saat ini puisi bukan hanya milik para penyair. Para penulis novel dan cerpen pun semakin banyak yang bereksplorasi serius dengan diksi. Beberapa orang menurut saya bahkan meraih pencapaian estetika puisi yang cukup berhasil. Dunia industri pun menunjukkan kecenderungan serupa. Kalau kita lihat iklan sekarang ini, banyak sekali kalimat iklan yang menunjukkan kadar puitik yang tinggi, dan benar-benar diolah dengan rasa bahasa yang bagus. Ini tantangan bagi para penyair, terutama bagi saya sendiri. Sebab kalau kualitas sajak-sajak saya di bawah kualitas bahasa iklan, apa tidak sebaiknya saya berhenti sebagai penyair?

Bagaimana caranya mengolah peristiwa-peristiwa yang bersliweran sehari-sehari menjadi puisi?
Pertama saya punya ini (Jokpin mengeluarkan buku kecil dari saku celananya –red). Semua hal penting yang saya saksikan saya catat. Dan kalau sudah masuk buku ini, harus saya tuntaskan jadi puisi. Kalau sudah sampai rumah, saya pindahkan ke dalam komputer. Saya punya beberapa folder dari puisi yang belum jadi. Setelah jam 11 malam, biasanya saya olah lagi beberapa ide dalamfolder itu. Kalau mandek di satu ide, saya pindah dulu ke ide yang lain. Itu salah satu enaknya mengolah puisi. Saya tidak tahu bagaimana dalam prosa, tapi di puisi berpindah-pindah dalam pengolahan ide itu cukup mengasyikkan.

Sekarang Anda dipandang sudah mempunyai gaya pengucapan sendiri yang berbeda dengan penyair-penyair sebelum Anda. Bagaimana proses pencariannya?
Saya sudah lebih dari 20 tahun menulis puisi. Artinya menulis secara serius. Saya pelajari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, Sitor Situmorang, dan sebagainya. Saya pelajari betul-betul sampai saya tahu ciri masing-masing penyair. Dengan begitu lebih mudah bagi saya untuk menghindari gaya pengucapan yang pernah mereka lakukan. Tapi ternyata dalam perjalanannya ya tetap sulit juga. Boleh dibilang baru pada tahun 1996 itulah ketika saya menggunakan ungkapan-ungkapan celana, saya merasa menemukan gaya yang selama ini saya cari-cari.

(Serangkaian penjelajahan kreatif Jokpin yang menggunakan celana sebagai identitas puisinya, dimulai dari sajak berjudul “Celana, 1” di bawah ini.
CELANA, 1
Ia ingin membeli celana baru buat pergi ke pesta supaya tampak lebih tampan dan meyakinkan.
Ia telah mencoba seratus model celana di berbagai toko busana namun tak menemukan satu pun yang cocok untuknya.
Bahkan di depan pramuniaga yang merubung dan membujuk-bujuknya ia malah mencopot celananya sendiri dan mencampakkannya.
“Kalian tidak tahu ya, aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan.”
Lalu ia ngacir tanpa celana dan berkelana mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan,“Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?”
(1996)
Sejak itu, berbagai macam “versi celana” sudah dihasilkan Jokpin dengan ciri-ciri: pilihan kata dan bentuk yang bersahaja, suasana yang segar cenderung lucu, namun tetap menyimpan tema-tema esensial, bahkan dengan kedalaman religiositas, seperti pada “Celana Ibu” yang ditulisnya pada 2004,

CELANA IBU
Maria sangat sedih menyaksikan anaknya mati di kayu salib tanpa celana dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah.
Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya itu, membawakan celana yang dijahitnya sendiri.
“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.
Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga).
Jika Mei 1998 dijadikan salah satu tonggak sejarah Indonesia modern, adakah ciri-ciri signifikan yang membedakan puisi pra-reformasi, dan puisi-puisi pasca-reformasi?
Menurut saya tidak ada perbedaan mendasar. Tidak terjadi semacam patahan dan gempa, misalnya, yang membuat keadaan benar-benar berubah. Perbedaannya, sekarang ini tampak semakin banyak orang keranjingan puisi. Keranjingan menulis maupun sekadar menikmati puisi. Juga ruang untuk publikasi dan sosialisasi puisi semakin luas dan beragam, baik melalui media cetak maupun media cyber. Namun situasi ini, sekali lagi, belum melahirkan terjadinya perubahan mendasar atau radikal dalam khasanah perpuisian Indonesia jika yang dimaksud adalah perubahan yang, katakanlah, bersifat ideologis.

Apakah hal itu membuat anda kecewa dan risau?
Saya tidak gusar dan risau mengenai hal ini. Bagi saya, dengan terus berjalan dan berkembang sambil melakukan eksplorasi di sana-sini -- inilah yang sepengamatan saya terjadi dalam dunia penulisan puisi kita sekarang -- jauh lebih penting dari sekadar menciptakan sensasi besar yang sifatnya sesaat dan artifisial. Kenyataan ini menunjukkan bahwa dunia sastra, khususnya puisi, tidak mudah dikooptasi atau menjadi subordinasi dari dunia politik. Dan sesungguhnya, tanpa ada perubahan politik pun, dari dirinya sendiri sastra, dalam hal ini puisi, dituntut untuk terus berkembang, melakukan eskplorasi, menciptakan kesegaran-kesegaran. Jika tidak, dunia puisi akan stagnan dan membosankan.

Jika peristiwa sosial politik sebesar Peristiwa Mei 1998 yang mengakhiri dominasi rezim yang berkuasa puluhan tahun masih gagal menjadi inspirasi para penyair, lantas bagaimana Anda melihat pokok masalahnya?
Ada dua kemungkinan. Pertama, para penyair tidak tergiur lagi oleh kepalsuan-kepalsuan dan kesemuan-kesemuan dalam dunia politik. Memang pernah pada awal-awal masa "reformasi" kita kebanjiran sajak-sajak "reformasi", tapi sebagian besar segera menguap karena mutu sastranya tak seberapa kuat dan lebih banyak ditulis dalam suasana euforia semata. Kedua, mereka tidak lagi terpukau pada metanarasi atau narasi-narasi besar. Banyak di antara mereka yang berusaha menghidupkan daya puitik dengan menggali dan menjelajah yang hal-hal yang (tampak) kecil dan sederhana untuk menyentuh esensi yang lebih dalam dan kompleks. Untuk mengungkap liku-liku pergulatan jiwa manusia. Saya teringat apa yang pernah dikemukakan W.S. Rendra dalam sebuah esainya di tahun 1982 tentang apakah ada faedahnya seniman menggarap peristiwa-peristiwa kecil. Menurut Rendra "…gagasan besar sering justru suka meminjam peristiwa kecil. Tidak semua gagasan besar harus punya wadah peristiwa besar…. Ironisnya justru gagasan-gagasan remehlah yang sering meminjam peristiwa-peristiwa yang dramatis atau eksentrik. Ironis pula bahwa seniman yang 'sok seni' hanya sampai pada 'tipu seni' dan bukan 'daya seni'."

Siapa saja tokoh-tokoh penyair yang menonjol pasca-reformasi, dan apa ciri utama karya-karya mereka?
Saya belum ingin menggunakan paradigma ketokohan. Kita masih perlu waktu untuk melihat dan menguji bobot "ketokohan" para penyair kita. Namun saya gembira melihat penyair-penyair muda berbakat kelahiran tahun 1970-an dan 1980-an yang muncul dan tumbuh berkembang setelah "gerakan reformasi". Mereka itu antara lain Hasan Aspahani, Inggit Putria Marga, Raudal Tanjung Banua, Wayan "Jengki" Sunarta, Ricky Damparan Putra, Nur Zen Hae, Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Binhad Nurrohmat, Putu Vivi Lestari, Dina Oktaviani, Ira Komang Puspitaningsih, Aida Idris, S. Yoga, TS Pinang, Nanang Suryadi, Urip Herdiman Kambali, Firman Venayaksa, Pranita Dewi, Aurelia Tiara. Itu yang sempat saya amati, di luar itu saya kira masih banyak nama-nama lain.

Ada pengamatan khusus?
Baru sekarang saya menyaksikan munculnya generasi penyair yang jumlah penyair perempuannya agak sebanding dengan jumlah penyair pria. Mereka itu anak-anak muda yang pintar dan cerdas, memiliki wawasan intelektual yang luas, mungkin karena dukungan kemajuan teknologi informasi juga. Terus terang saya belum bisa merumuskan apa ciri utama karya mereka karena saya sendiri tengah menikmati mereka. Mungkin belum tampak ciri tertentu yang benar-benar dominan. Syukur jika malah beragam. Yang jelas, karya-karya mereka menunjukkan adanya upaya untuk menjelajahi sumber-sumber penciptaan yang beraneka warna, mulai dari tradisi sampai budaya pop. Juga ada usaha untuk menjajaki berbagai kemungkinan bentuk atau cara pengucapan. Kalau mau bekerja lebih keras, saya kira mereka memiliki potensi hebat untuk memberikan sumbangan berarti bagi perkembangan dunia puisi Indonesia.

Apakah sepengamatan Anda para penyair “baru” ini adalah mereka yang berusia muda, dalam arti masih berusia di bawah 40 tahun?
Oh ya, saya juga senang dan terharu melihat mereka yang sudah cukup umur ikut terjun ke gelanggang penulisan puisi dengan kegairahan yang mengagumkan. Sebutlah misalnya Mas Yohannes Sugiyanto dan Mas Slamet Widodo. Memang kreativitas tidak mengenal usia. Yang tua belum tentu kalah semangat dengan yang muda, dan yang muda silakan "bertarung" dengan yang tua. Dalam hal kerja kreatif dan pencapaian estetik, sebenarnya saya tidak suka menggunakan paradigma tua-muda, senior-yunior dan semacamnya. Kata seorang penyair, usia adalah "sebongkah harta yang tak terduga batasnya".

Forum pertemuan para penyair kerap sekali diadakan, baik antar daerah, maupun pada tingkat fora internasional di berbagai kota di Indonesia. Jumlahnya bahkan lebih banyak dibandingkan forum-forum sejenis bagi prosais. Tapi mengapa kuantitas output berupa buku-buku puisi terlihat tak sederas karya-karya prosais?
Betul. Bahkan tampaknya semakin banyak orang ingin menjadi penyair. Artis ingin menjadi penyair. Pengusaha ingin menjadi penyair. Bahkan penulis prosa yang sudah sukses pun ingin menjadi penyair. Hahaha…. Tapi mengapa kuantitas produksi buku-buku puisi tak segencar buku-buku prosa? Saya kira ini karena pertimbangan bisnis saja. Bagi penerbit, buku puisi dianggap belum merupakan komoditas layak jual. Tetapi bisa juga yang terjadi adalah buku-buku puisi itu sendiri yang terkesan terlalu "angkuh", seakan-akan ditulis untuk dinikmati penyairnya sendiri plus lingkaran kecil pertemanannya. Padahal dalam kenyataannya, bahkan para penyair pun belum tentu membeli buku puisi karya penyair lain, ha, ha, ha. Di sisi lain, bukankah buku-buku puisi karya artis malah lebih "mudah" diterbitkan dan lebih laku pula? Nah!

(Di akhir pertemuan malam itu, para mahasiswa meminta Jokpin membacakan salah satu puisi. Dia memilih Terompet Tahun Baru. “Ini sajak yang baru, dan karenanya saya masih hafal,” katanya.
Terompet Tahun Baru
Aku dan Ibu pergi jalan-jalan ke pusat kota untuk meramaikan malam tahun baru.
Ayah pilih menyepi di rumah saja sebab beliau harus menemani kalender pada saat-saat terakhirnya.
Hai, aku menemukan sebuah terompet ungu tergeletak di pinggir jalan.
Aku segera memungutnya dan membersihkannya dengan ujung bajuku.
Kutiup berkali-kali, tidak juga berbunyi.
Mengapa terompet ini bisu, Ibu?
Mungkin karena terbuat dari kertas kalender, anakku.
Para mahasiswa memberikan aplaus meriah atas pembacaan spontan itu. Dalam remang cahaya, terlihat mata penyair bertubuh ringkih itu memerah. Dia mencoba sekuat tenaga menahan agar butir-butir air di sudut matanya tak pecah).

Joko Pinurbo
Lahir: 11 Mei 1962
Pendidikan: Jurusan Sastra Indonesia IKIP (Sekarang Universitas) Sanata Dharma, Yogyakarta.
Antologi Puisi:
  • Celana (1999)
  • Di Bawah Kibaran Sarung (2001)
  • Pacar Kecilku (2002)
  • Telepon Genggam (2003)
  • Kekasihku (2004)
  • Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005)

Penghargaan:
Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2002, untuk Di Bawah Kibaran Sarung).
Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001)

Sumber: Koran Tempo, 31 Januari 2007 
DOWNLOAD tulisan ini KLIK di sini

Sunday, September 18, 2011

Rindu di Pengujung Petang

Cerpen Rama Dira

Sumber: Suara Merdeka, 27 Maret 2011 & Suara Pembaruan, 27 Maret 2011

DI pengujung petang itu, lidah-lidah api jingga berkeretap liar, memangsa cepat sejengkal demi sejengkal badan kapal dongfengberbahan kayu milik Hosni Mubaroq. Dari kejauhan, orang-orang pulau yang bergegas mendekat belum bisa memastikan apakah juragan ikan itu ada dalam dongfeng yang tengah sandar di dermaga itu.
Hanya Hanafi yang mengetahui keberadaan Hosni Mubaroq di sana sebab dialah yang melemparkan dua botol bensin yang sudah tersulut sumbunya ke geladak kapal dongfeng itu, setelah ia melihat Hosni Mubaroq bergegas masuk ke sana, sehabis membeli sekantung makanan ringan dan sebotol topi miring dari warung kelontong Koh Jun sebagai kebiasaan yang selalu ia lakukan sehabis memborong ikan dari para nelayan, sebelum membawa ikan-ikan itu menyeberang ke kota.
Hanafi yakin, tak ada lagi celah bagi Hosni Mubaroq untuk selamat. Dalam bayangannya, Hosni Mubaroq sudah tamat, mungkin hanya tersisa abu kini. Hanafi menyeringai bangga. Ia puas telah menuntaskan misinya. Ia telah melenyapkan lelaki yang sudah berani mengganggu cinta murni Mak yang baru dua tahun ini ditinggal pergi Pak Hanafi, yang hilang setelah tergulung ombak lima meter di lautan lepas.
Bocah Hanafi tidak pernah menyalahkan Mak. Ia selalu yakin, jika Hosni Mubaroq yang telah beristri empat itu tak datang menggoda, Mak tak akan berani menistakan diri, mengkhianati cinta sehidup semati dengan Pak Hanafi. Hal yang semakin menguatkan keyakinan Hanafi untuk tak pernah menyalahkan Mak adalah kenyataan betapa berbagai cara telah dilakukan Hosni Mubaroq demi menundukkan hati dan cinta Mak Hanafi, termasuk mendatangi Mbah Juling, dukun yang terkenal dengan ilmu-ilmu hitam, terutama yang berkaitan dengan permasalahan kegagalan cinta.

Sebenarnya, tragedi pembakaran ini adalah puncak dari semuanya. Adalah sebuah kunjungan mencurigakan yang menjadi awal mula. Tak seperti biasa, di pengujung petang pada hari itu, Hosni Mubaroq, tidak langsung membawa dongfeng menyeberang ke kota. Dari dermaga, ia datang bertamu ke rumah Mak Hanafi. Tentu bukan pemandangan biasa itu. Meski sejak kedatangan pertama itu Hanafi sudah mengetahui ada gelagat tidak baik yang ditunjukkan oleh Hosni Mubaroq, Mak justru tidak memunculkan pikiran curiga.
Baru pada kunjungan kedua kali, Mak Hanafi mulai menaruh curiga setelah mengetahui Hosni Mubaroq datang tidak dengan tangan yang hampa. Ia membawa sekarung beras lima kilo, sebungkus gula, dan sebungkus kopi, serta selembar baju Sanghai bermotif bunga-bunga cantik. Sebagai janda beranak satu yang rentan menjadi gunjingan orang pulau, Mak Hanafi dengan tegas menolak pemberian itu hingga pemberian-pemberian selanjutnya yang semakin hari semakin mewah saja, sampai-sampai amarah Mak Hanafi memuncak hingga berujung pada pengusiran dengan sebilah golok di tangan. Betapa girang Hanafi melihat Hosni Mubaroq lari terbirit-birit. Ia pun bangga memiliki seorang Mak yang berprinsip teguh, sanggup mempertahankan cinta hanya pada seorang lelaki, dan menutup rapat-rapat kemungkinan celah yang bisa dimasuki laki-laki lain, meski dengan cara yang termasuk berlebihan sekalipun, dalam hitung-hitungan jika itu dilakukan oleh seorang perempuan.
Namun, sebuah kunjungan paling mencurigakan pada suatu petang yang lain, ditanggapi dengan begitu berbeda oleh Mak Hanafi. Dengan jelas, bocah Hanafi bisa melihat, Mak sama sekali tak merasa terganggu mengetahui Hosni Mubaroq yang ada di depan pintu. Dengan senyuman paling aneh yang pernah terpampang di wajahnya, Mak Hanafi mempersilakan lelaki itu masuk dan membuatkan segelas kopi manis serta menerima dengan suka cita semua oleh-oleh yang diberikan oleh Hosni Mubaroq untuknya.
Melihat kejadian paling aneh itu, Hanafi tak bisa berpikir jernih. Ia tidak segera bisa menemukan alasan masuk akal mengapa Mak berubah suka pada Hosni Mubaroq setelah sebelumnya berhasrat membunuh lelaki yang berencana ingin mengusik kemurnian cinta itu.
Terhitung lama, Hanafi mencoba menemukan sebab, mengapa Mak semakin lengket saja dengan Hosni Mubaroq. Sampai pada suatu pagi, bermaksud meminta sangu jajan untuk di sekolahan, bocah Hanafi justru menemukan Hosni Mubaroq dan Mak masih tertidur pulas dalam satu selimut di atas ranjang. Hatinya hancur melihat pemandangan menyakitkan itu. Hari itulah bocah Hanafi memutuskan berhenti sekolah. Menanggapi itu, Mak tak ambil pusing. Ini pula yang membuat Hanafi semakin tersiksa.
Tak berselang lama, Hanafi mendapatkan jawaban atas keanehan-keanehan yang menimpa Mak akhir-akhir ini. Melalui desas desus penuh aroma dan warna, Hanafi mendengar cerita mengenai adanya sihir cinta yang dikirim Hosni Mubaroq melalui jasa Mbah Juling. Karena tak begitu yakin dengan kebenaran desas desus itu, Hanafi menemui Mbah Juling dan segera menemukan kebenaran dari mulutnya bahwa memang Hosni Mubaroq telah meminta jasanya untuk menundukkan hati dan cinta Mak Hanafi. Detik itulah Hanafi tahu semata, bahwa seorang laki-laki telah merusak Mak. Sebagai pengganti bapaknya yang sudah tiada, Hanafi merasa wajib menyelamatkan Mak dari cengkeraman lelaki iblis itu. Mulailah ia dalam petualangan mencari cara untuk membuat Hosni Mubaroq tak lagi ada di sekitar mereka.
Mula-mula, ia selalu mengajak empat orang teman sepermainan dalam melakukan aksi-aksi jahil dengan misi membuat jera Hosni Mubaroq. Kali pertama, mereka segera mempersiapkan ketapel sebagai senjata andalan ketika melihat Hosni Mubaroq sudah mendekati kediaman mereka. Dari balik belukar bambu, masing-masing mereka membidikkan biji-biji rambutan sebagai peluru. Dalam sekali tarikan lewat aba-aba Hanafi, meluncurlah lima biji rambutan yang langsung saja mengenai badan tambun milik Hosni Mubaroq. Hosni Mubaroq tentu kesakitan. Karena serangan biji-biji rambutan itu tak henti-henti, ia tak jadi memastikan siapa yang berada di belukar bambu, yang usil mengarahkan biji-biji rambutan itu. Ia memutuskan untuk lari terbirit-birit, segera kembali ke kapaldongfeng. Tak bisa tidak, Hanafi dan kawan-kawan girang seketika itu juga, terbuai dalam aroma kemenangan, telah berhasil mengusir Hosni Mubaroq.
Aksi itu terus mereka lakukan selama beberapa hari kemudian, namun di beberapa hari lanjutannya, sepertinya Hosni Mubaroq sudah kebal dengan serangan biji-biji rambutan. Ia tetap melintas di jalan setapak depan belukar bambu itu hingga mencapai kediaman Mak Hanafi meski serangan biji rambutan terus bertubi-tubi. Rupanya, ia lari terbiritbirit kembali ke dongfeng pada hari pertama hanyalah sebagai pengaruh keterkejutan semata.
Selanjutnya, karena biji rambutan seperti tak lagi mempan, Hanafi dan kawan-kawannya memutuskan untuk mengganti peluru mereka dengan kerikil-kerikil tajam pada hari lain. Ketika sebuah kerikil tajam membuat bocor jidat Hosni Mubaroq dan menyebabkan darah mengucur deras keluar dari situ, Hosni Mubaroq tak lagi bisa menahan. Ia berlari geram menuju belukar bambu, bermaksud menangkap siapa yang melakukan aksi brutal itu. Bocah-bocah itu berlari berhamburan dan dalam hitungan tak berapa lama, Hosni Mubaroq bisa meraih salah satu dari mereka. Tak disangka, itu adalah Hanafi. Dan Hosni Mubaroq bukannya tidak tahu siapa dia. Kemuliaan sikapnya dengan tidak menyalahkan Hanafi, melepaskannya pergi dan tidak melaporkan aksi itu kepada Mak Hanafi adalah taktik setan belaka. Tentu Hanafi tahu, itu dimaksudkan Hosni Mubaroq tidak lain dan tidak bukan supaya Hanafi luluh hatinya dan mau mengaggap Hosni Mubaroq layak sebagai pengganti ayahnya. Tapi, tetap saja, semua itu tak ada pengaruhnya pada bocah Hanafi. Hanafi abadi dalam kebencian pada Hosni Mubaroq dan tak akan berhenti menemukan cara bagaimana mengusirnya.
Dalam rangkaian kunjungan pada hari yang lain, Hosni Mubaroq tak datang waktu petang. Namun, ia datang kala malam, usai mengantarkan ikan ke seberang. Pada malam yang bergerimis itu, Hanafi dan kawan-kawannya telah mempersiapkan aksi yang lain untuk mengganggu Hosni Mubaroq. Mereka menyiapkan selembar kain putih panjang dan memberinya kerangka ranting sehingga jika dipampang di atas pohon akan terlihat sebagai sosok hantu putih, jenis hantu yang paling ditakuti di pulau nelayan itu. Sebagaimana yang mereka harapkan, ketika melihat itu, Hosni Mubaroq yang berjalan seorang diri menuju ke rumah Mak Hanafi memang ketakutan setengah mati. Ia langsung berlari sambil berteriak meski teriakannya tak didengar oleh siapa pun, karena pulau nelayan memang sedang sunyi, karena kaum lelakinya sedang melaut pada musim banyak ikan. Sesuatu yang kemudian menimpa Hosni Mubaroq itu memang memberikan sensasi kesenangan pada Hanafi dan kawan-kawan. Namun, mereka tak pernah mengira yang terjadi kemudian, yakni ketika Hosni Mubaroq datang kembali ke lokasi tergantungnya sosok hantu putih buatan. Kali ini Hosni Mubaroq berlindung di belakang Mak Hanafi. Mengira-ngira kalau itu pasti ulah jahil si bocah Hanafi, Mak Hanafi percaya utuh bahwa apa yang dilakukan oleh anaknya pada Hosni Mubaroq sampai saat itu, tak lagi bisa ditoleransi. Mak Hanafi pun murka dan meneriaki Hanafi yang tetap bersembunyi di dalam belukar bersama kawan-kawan.
Teriakan Mak memang sangat menyakitkan. Ia katakan bahwa ia tahu semua itu adalah ulah Hanafi. Ia juga mengatakan apa pun dan bagaimana pun upaya yang dilakukan oleh Hanafi untuk menghalangi, dia dan Hosni Mubaroq akan tetap menjalin hubungan cinta suka sama suka, sehidup semati. Ia pun menegaskan, demi mempertahankan Hosni Mubaroq, ia rela kehilangan Hanafi sebagai anaknya.
Bocah Hanafi tak mampu membendung tumpahan air matanya mendengar itu. Sepeninggalan Mak dan Hosni Mubaroq serta kawan-kawan yang tak sanggup menenangkan, Hanafi tetap tinggal di dalam belukar, sehari semalam hingga petang pada hari berikutnya, dilanda kegalauan, kesedihan yang bercampur kegetiran. Meski demikian, otaknya terus berjalan menemukan cara untuk mengakhiri semua kerusakan yang telah menghampiri kehidupanya bersama Mak. Dalam hatinya, ia pun yakin, ayahnya yang sudah berada jauh entah di mana juga mendukung upaya terakhir sebagai pemungkas misinya menyelamatkan Mak dari cengkeraman Hosni Mubaroq.
Petang itu juga ia bergegas membawa dua botol bensin dan sekotak korek api. Dua botol bensin itu ia berikan sumbat dari kain dan ia langsung melangkah mantap menuju dermaga.
Setiba di dermaga, ia tidak langsung menuju ke dongfeng Hosni Mubaroq sebab lelaki itu belum terlihat ada di dalam dongfengmiliknya. Sejenak kemudian barulah matanya menangkap lelaki itu datang, tampaknya sehabis berbelanja dari warung kelontong Koh Jun dengan membawa sekantong makanan dan sebotol topi miring. Setelah yakin Hosni Mubaroq sudah masuk dalam dongfeng-nya, dan memastikan tak ada orang lain di dermaga petang itu, Hanafi langsung mendekat dan melemparkan dua botol bensin yang sudah disulutnya itu.
Blep!!! Api langsung menjalar melahap dongfeng itu. Api semakin mejadi-jadi sebab ada begitu banyak angin. Sehabis itu, Hanafi langsung berlari lagi, masuk ke dalam belukar, memperhatikan dari kejauhan.
Tak ada reaksi sama sekali dari dalam kapal. Itu membuatnya senang. Hosni Mubaroq pasti tak lagi berdaya dan dengan begitu, misinya menyelamatkan Mak sudah berhasil ia rampungkan. Beberapa lama setelah itu, barulah ia melihat orang-orang pulau mulai berdatangan panik, melakukan cara apa pun demi mengakhiri amukan api yang menggila pada dongfeng Hosni Mubaroq. Hanafi bergegas pergi dengan maksud mengaburkan keberadaannya di sana.
Ia terus berlari, tak sabar untuk segera mendapati Mak sebab tiba-tiba saja ia merasakan rindu yang teramat pada perempuan itu. (*)

Wednesday, September 14, 2011

Masih tentang Orang Gila (sebuah cerpen)

Orang Gila
Cerpen Muhammad Ali Fakih 

SUDAH sekitar tiga bulan orang gila itu tinggal di kampung kami. Tidak ada yang tahu asal usulnya, seperti juga tidak ada yang tahu mengapa dia menjadi gila. Orang-orang hanya merasa kasihan dan bertanya-tanya, mengapa sanak keluarganya tidak mencarinya? Apakah dia tidak punya keluarga? Mengapa dia begitu betahnya di kampung kami?

Tak seorang pun yang peduli padanya. Barangkali pikir orang-orang, siapa pula yang mau peduli sama orang gila. Paling-paling kalau diajak bicara dia hanya ketawa-ketawa atau nyerocos tidak jelas. Tidak nyambung. Mending kalau tidak ngamuk, tapi kalau ngamuk? Tambah rumit urusannya.

Kerjaannya tiap hari hanya duduk-duduk di bawah pohon asam tua dekat pasar. Pagi-pagi ketika aku mengantar ibu ke pasar, pasti aku melihat dia duduk bersila menghadap ke barat, memejamkan mata sambil memutar-mutar tasbih dan mulutnya berkomat-kamit. Entah apa yang dibacanya, aku tidak tahu. Pikirku, mungkin dia baca mantra atau semacam zikiran yang dia sendiri tidak paham.

Biasanya aku ikut masuk ke dalam pasar bersama ibu. Tetapi, semenjak orang gila itu datang, aku kerap menunggu ibu di luar, di parkiran, kecuali jika ibu membutuhkan tenagaku. Hanya satu alasanku: ingin tahu lebih jauh tentang orang gila itu. Sebab, dia tampak lain dari orang gila lainnya. Dia pendiam, tidak nyerocos yang tidak jelas, dan tidak ngamuk-ngamuk seperti yang dipikirkan orang-orang.

Awalnya aku dimarahi oleh ibu karena alasan itu sehingga aku tidak mau ikut masuk ke pasar. Tetapi, aku ngeyel dan sedikit memaksa. Akhirnya, ibu mengerti. Malah beliau tersenyum tipis, menggeleng-gelengkan kepala, seperti menganggapku anak yang aneh. Kerap ketika sudah sampai di parkiran pasar, ibu menggodaku, “Sana tuhtemenin pacarmu,” sambil menunjuk orang gila itu. Ah, ibu!

Tentu, aku memperhatikan orang gila itu dari jauh, berusaha mengalihkan pandangan ketika dilihat oleh orang. Aku takutdigojlokin macam-macam. Dan, aku tidak menceritakan apa pun kepada siapa pun tentang sesuatu yang kutangkap dari orang gila itu, bahkan kepada ibu. Kalau ibuku bertanya, aku berusaha tidak menjawab yang semestinya, lalu cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. Dan, ibu—sekali lagi—hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Orang gila itu betul-betul aneh.

Pakaiannya serba hitam, kotor, dan kumal. Rambutnya panjang tak keruan. Tetapi, dia pakai songkok haji sehingga kelihatan agak rapi. Aku pikir dia tidak pernah mandi dan itu jelas dari wajahnya yangbelepotan tanah. Yang bikin aku heran, dia itu tidak bau. Sama sekali tidak. Awalnya aku menduga mungkin hidungku tidak normal. Tetapi, setelah berkali-kali aku mendekatinya—tentu dengan cara yang sekiranya tidak norak—aku kemudian menjadi maklum.

Aku semakin bergairah ketika orang-orang bercerita bahwa dia sering wudhu ke kolam depan masjid selatan pasar, lalu kembali ke pohon asam yang sudah seperti rumahnya itu, dan shalat. Alih-alih shalat fardhu, dia shalat tak putus-putusnya. Selagi di “rumahnya” itu, dia shalat terus-menerus, seperti tidak kenal lelah. Atau kalau tidak, dia berkomat-kamit dan memutar-mutar tasbihnya, mungkin berzikir.

Yang membuatnya dianggap gila oleh orang-orang adalah bahwa dia tiap hari berjalan memutari desa dan memungut sampah-sampah di jalanan untuk hiasan di baju, celana, kaki, dan tangannya. Kadang juga sampah-sampah itu diwadahi plastik, dijinjing, dan dibawanya ke “rumahnya” itu. Sehingga pohon asam tua dekat pasar itu jadi seperti tempat penampungan sampah. Dan, gubuk kecil di dekatnya dibuat dari rakitan-rakitan sampah pula. Di jalan-jalan dia tersenyum-senyum dan kerap pula menangis tanpa ada sebab musababnya.

Kalau sedang lewat di rumah warga, orang-orang sering mencegahnya. Menjadikannya tontonan. Mengolok-oloknya. Mempermainkannya. Pernah suatu kali dia disekap oleh sekelompok pemuda dan kedua tangan dan kakinya diikatkan pada sebatang pohon. Lalu, mereka memanggil orang-orang. Bersama-sama dia digelitik, dipecut, dikasih makan sepat kelapa. Pokoknya diperlakukan tidak manusiawi.

Aku yang kebetulan lewat tempat itu, menyaksikan penyiksaan itu menjadi marah luar biasa. Darahku panas. Aku marahi mereka semua, tak pandang bulu, bahkan pun bapak-bapak dan ibu-ibu. Setiap yang mencegahku atau mengataiku yang tidak-tidak, aku tantang dia berkelahi.

“Dasar manusia-manusia bejat. Kalian lebih rendah dari anjing. Harusnya menolong, malah memperlakukannya begini. Sungguh kalian ini manusia-manusia busuk,” kataku keras-keras sambilkupendeliki mereka. Lalu, mereka pergi satu per satu sambil mengataiku macam-macam. Ada juga yang menggerutu, tetapi aku biarkan.

Orang gila itu hanya diam ketika kulepaskan ikatan tampar di tangan dan kakinya. Matanya yang sayu meneteskan air mata. Rupanya dia tidak beringas seperti yang kukira. Kutuntun dia dan kubawa ke rumah. Ibu kaget melihat aku membawa dia. Beliau memarahiku. Aku meminta maaf. Kuceritakan kejadian tadi. Aku berkata pada ibu, barangkali dia lapar. Kasihan. Ibu pun akhirnya memaklumi.

Kusuguhi dia makanan. Tetapi, dia menolak. Katanya, dia sedang puasa. Mendengar jawaban itu aku dan ibu terperangah. Dia pasti bukan orang sembarangan, pikirku.

“Asal bapak mana?” tanya ibu.

“Asal saya dari langit dan mau kembali ke langit,” jawabnya serius.

Ibu menoleh kepadaku. Aku mengerutkan dahi.

“Maksud bapak?” timpalku.

“Kita sebenarnya lahir dari tanah yang sama, yaitu keabadian. Cuma karena dibutakan oleh kehidupan dunia, kita menjadi tidak saling kenal. Bahkan, banyak orang lupa asal-usulnya.”

Kami kian tidak mengerti maksud orang gila ini. Sekali lagi ibu menoleh kepadaku.

“Mengapa bapak sampai gila begini?”

“Aku tidak gila. Kalianlah yang sesungguhnya gila.”

“Tapi, mengapa bapak bertingkah seperti orang gila, memungut sampah dan menempelkannya pada baju dan tubuh bapak? Bapak juga sering tersenyum dan menangis tidak jelas.”

“Sekarang saya balik tanya, tidakkah lebih gila orang yang sedih kehilangan barangnya ketimbang shalatnya? Tidakkah lebih gila orang yang membicarakan kejelekan tetangganya dari pada tingkahku itu?”

Aku dan ibu terdiam. Ibu, seperti juga aku, mengerutkan dahi, seperti tidak percaya pada kata-kata yang keluar dari mulut si bapak ini.

“Orang-orang sibuk dengan dunianya sendiri. Bekerja terus-menerus, tidak pernah ingat pada tujuannya hidup di dunia. Katanya mereka memburu kebahagiaan, padahal sesungguhnya kesenangan. Tahukah kalian bahwa kesenangan dan kebahagiaan itu beda? Kesenangan muncul dari nafsu, sementara kebahagiaan dari hati. Kesenangan tidak pernah membuat kita puas, sementara kebahagian sebaliknya.”

“Menurut bapak, apa tujuan kita hidup di dunia?”

Belum sempat menjawab pertanyaanku, si bapak oleng. Tiba-tiba dia kejang-kejang. Aku dan ibu kaget bukan main. Kami sama-sama berteriak memanggil para tetangga. Tak berapa lama kemudian orang-orang berdatangan ke rumah, menanyakan ihwal kami memanggil-manggil mereka. Tetapi, tanpa kami jawab mereka pun paham. Lalu, mereka berusaha dengan berbagai cara menyadarkan si bapak. Tetapi si bapak tetap kejang-kejang. Akhirnya kuambil secebok air dan kusiramkan ke muka dan tubuh si bapak. Barulah si bapak sadar. Badannya terlihat lemas. Matanya setengah terbuka, setengah tertutup. Sayu. Dengus napasnya sedikit demi sedikit normal.

“Tujuan kita hidup di dunia adalah menjadi sufi. Seorang sufi itu membiarkan tangannya sibuk dengan tugas-tugas dunianya dan membiarkan hatinya sibuk dengan Tuhannya. Seorang sufi itu hanya tahu tentang kewajiban, dan tidak tentang hak. Berbuat baiklah, atau paling tidak jangan berbuat jahat. Niatilah segala perbuatan kalian atas nama Tuhan,” katanya dengan suara yang sudah sangat lemah.

Lambat laun mata si bapak mengatup. Napasnya tinggal sepenggal-sepenggal. Malaikat maut menemuinya—aku rasa—dengan mesra dan penuh cinta. Titik demi titik air mataku menetes. Ibu pun demikian. Kami merasa kehilangan. Kehilangan orang gila yang tidak kami kenal. (*)

Yogyakarta, 1 Januari 2010
Sumber: Republika, 19 Juni 2011

Sunday, September 11, 2011

2 Sajak ORGIL Joko Pinurbo

RUMAH KONTRAKAN
untuk ulang tahun SPD

Tubuhku adalah rumah kontrakan yang sudah sekian waktu
aku diami sampai aku lupa bahwa itu bukan rumahku.
Tiap malam aku berdoa semogalah aku lekas kaya supaya bisa
membangun rumah sendiri yang lebih besar dan nyaman,
syukur dilengkapi taman dan kolam renang.

Tadi malam si empunya rumah datang dan marah-marah.
"Orgil, kau belum juga membereskan uang sewa, sementara
aku butuh biaya untuk memperbaiki rumah ini."
"Maaf Bu," aku menjawab malu, "uang saya baru saja habis
buat bayar utang. Sabarlah sebentar, bulan depan pasti
sudah saya lunasi. Kita kan sudah seperti keluarga sendiri."

Pada hari yang dijanjikan si empunya rumah datang lagi.
Ia marah besar melihat rumahnya makin rusak dan berantakan.
"Orgil, kau belum juga membereskan uang sewa, sementara
aku butuh biaya untuk merobohkan rumah ini."

Dengan susah payah akhirnya aku bisa melunasi uang kontrak.
Bahkan diam-diam si rumah sumpek ini kupugar-kurombak.
Saat si empunya datang, ia terharu mendapatkan rumahnya
sudah jadi baru. Sayang si penghuninya sudah tak ada di sana.
Ia sudah pulang kampung, kata seorang tetangga.
Dan si empunya rumah tersedu: "Orgil, aku tak akan pernah
merobohkan rumah ini. Aku akan tinggal di rumahmu ini."

(2001)

RONDA

Beberapa hari terakhir ini kampung kami sering dilanda
gangguan keamanan. Pencurian mulai merajalela, bahkan telah
terjadi perampokan disertai penganiayaan. Kepala kampung
memerintahkan agar kegiatan ronda digalakkan karena
tidak mungkin berharap sepenuhnya kepada petugas keamanan.

Malam itu Pak Orgil hendak melaksanakan tugas ronda.
Ia warga kampung yang rajin dan setia, meskipun tubuhnya
yang kurus dan tua kurang mendukung gelora semangatnya.
Kalau ronda ia suka memakai topi ninja berwarna hitam,
mungkin untuk sekadar gagah-gagahan. Tapi malam itu
ia tidak mengenakannya karena topi kebanggaannya itu hilang
dicuri orang ketika sedang dijemur di depan rumahnya.
Nah, ia memukul-mukul tiang listrik, memanggil-manggil
teman-temannya, namun yang dipanggil-panggil tidak juga
menampakkan batang hidungnya.

Sambil bersiul-siul Pak Orgil berjalan gagah ke gardu ronda.
Ia terperangah melihat di gardu ronda sudah ada beberapa
orang pencoleng sedang bermain kartu sambil terbahak-bahak
dan meneriakkan kata-kata yang bukan main kasarnya.
Bahkan ia jelas-jelas melihat salah seorang pencoleng
dengan enaknya mengenakan topi ninja kesayangannya.
"Ada musuh!" seru seorang pencoleng dan kawanan pencoleng
segera bersiaga untuk meringkusnya. Secepat kilat Pak Orgil
melompat dan bersembunyi di sebuah rumpun bambu.
Tubuhnya menggigil demi melihat wajah sangar
para pencoleng sampai ia terkencing-kencing di celana.

Tidak lama kemudian muncul serombongan petugas patroli,
hendak memeriksa keadaan. "Bagaimana situasi malam ini?"
tanya seorang petugas.'Aman!" seru orang-orang
di gardu ronda yang sebenarnya adalah para baiingan.

Meskipun ketakutan, Pak Orgil tidak kehilangan akal'
Ia punya keahlian menirukan suara binatang, dan ia paling fasih
menirukan suara anjing. Maka mulailah ia menggongong
dan melolong. Para pencoleng yang merasa sangat terganggu
oleh suara anjing serempak mengumpat:'Asu!"
Tapi gonggongan dan lolongan itu makin menjadi-jadi
sampai beberapa orang kampung mulai berhamburan keluar.
Menyadari ada ancaman, kawanan pencoleng yang sedang
menguasai gardu ronda segera lari tunggang langgang.
Dengan terkekeh-kekeh Pak Orgil keluar dari tempat
persembunyian dan teman-temannya yang sudah hafal
dengan kelakuannya serempak berseru: 'Asu!"

(2001)

Thursday, September 08, 2011

Mengenal Gerson Poyk

Gerson Poyk, Puisi Menjadi Energi Spiritual


Ada pepatah bijak mengatakan, “Salah satu cara memecahkan masalah adalah jangan memulai dengan mempersoalkan bagaimana masalah itu terjadi, tetapi mulailah dengan bagaimana masalah itu dapat terselesaikan.” Tampaknya pepatah dari sumber yang anonim tersebut digunakan sastrawan Gerson Poyk untuk bangkit dari kemiskinan yang melanda keluarganya pada masa kecil. Dengan berbekal semangat untuk belajar dan bangkit dari keterpurukan, pria kelahiran Namodele, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931 ini berhasil membuktikan bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika kita mau berusaha.

“Keluarga saya dulu hidup dalam garis kemiskinan, ayah saya pada jaman perang juga pernah dipenjara pemerintah kolonial Belanda waktu itu. Jadi kehidupan kami saat itu selalu dipenuhi dengan ketidakpastian,” ujar Gerson kepada SP saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, baru-baru ini.

Gerson kecil yang ketika itu telah putus sekolah sejak kelas tiga SD selalu bertugas membantu keluarganya dengan bekerja di kebun. Di sela-sela kegiatan bekerja itulah Gerson yang telah pandai membaca melibas habis buku-buku dari sejumlah karya sastrawan dalam dan luar negeri.

“Saya ingat waktu itu hujan deras seusai mencangkul di kebun sambil menunggu hujan reda saya membaca buku-buku tersebut sambil memakan jagung yang digoreng kering,” ujar pria yang telah meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Keliling Indonesia dari era Bung Karno sampai SBY ini.

Selepas masa kecil, putera dari pasangan Johanes Laurens Poyk dan Juliana Manu ini melanjutkan studinya di Sekolah Guru Atas (SGA) Surabaya dan bekerja menjadi guru SMP Negeri serta SGA Negeri di Ternate pada tahun 1956 sampai dengan 1958. Setelah itu pada tahun 1958 sampai 1963, Gerson pindah mengajar di SMP dan SGA Negeri di Bima. Perjuangan panjang hidup Gerson tidak berhenti di situ.

Pada tahun 1963 ia menjadi wartawan Sinar Harapan hingga 1970. Gerson yang semenjak itu menjadi penulis lepas hingga kini telah menciptakan ratusan karya novel, cerpen, dan puisi. Beberapa karya yang telah dipublikasikan seperti Sang Guru, Nyoman Sulastri, Doa Perkabungan, Requiem untuk Seorang Perempuan, Di Bawah Matahari Bali, Mutiara di Tengah Sawah, dan Surat-surat Cinta Alexander Rajaguguk.

Beberapa karyanya juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti bahasa Inggris, Jerman, Rusia, Belanda, Jepang dan Turki. Bahkan, banyak mahasiswa dalam dan luar negeri memperoleh gelar S1, S2 dan S3 dengan skripsi dan tesis mengenai karya-karyanya.

“Karya-karya yang telah saya tulis banyak terinspirasi dengan latar belakang kehidupan saya pada masa lalu, batin dan alam bawah sadar saya selalu bergejolak. Energi inilah yang selalu membuat saya bergerak untuk mulai menuliskan puisi dan puisi telah menjadi energi spiritual bagi saya,” ujar Gerson yang baru saja menerima penghargaan Anugerah Kebudayaan tahun 2011 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kerja keras dan usahanya telah membuahkan hasil yang luar biasa, beberapa penghargaan sastra dari dalam dan luar negeri seperti Hadiah Sastra Asia Tenggara “Sea Write Award”, Lifetime Achivement Award dari Harian Kompas, dan Adinegoro Award pada tahun 1985 dan 1986 pun berhasil diraihnya. Selain itu Gerson juga kerap diundang dan mengikuti berbagai acara pertemuan seperti International Creative Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat dan pertemuan sastrawan Asia-Afrika di New Delhi, India.

Dalam kesempatan ini Gerson Poyk mengatakan, saat ini dunia telah dipenuhi tantangan dan kontradiksi serta kemustahilan tetapi untuk mengatasi hal tersebut jangan pernah mengutamakan jalan kekerasan dengan membunuh satu sama lain. Gerson juga berharap karya sastra dapat menjadi jalan tengah untuk menyelesaikan berbagai konflik masalah yang terjadi di dunia dan tetap berpegang pada Tuhan bahwa Ia mampukan kita menyelesaikan masalah tersebut.

“Mengutip pidato Indra Gani pada pertemuan sastrawan ia mengatakan bahwa, sastrawan harus turut bertanggung jawab atas perdamaian dunia, jika ada kekerasan absurdritisme sosial, ekonomi dan politik, sastrawan harus bangkit melawan itu dan menjadi jalan tengah yang bagus, moderat, dan dituntun oleh hati nurani,” ujar Gerson menutup pembicaraan.


Sumber: Suara Pembaruan

Sunday, September 04, 2011

Kritik Mangir Pramoedya Ananta Toer

"Mangir, salah satu dari rangkaian pemikiran Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Arus Balik (Arus Balik, Arok Dedes, --satu karya belum ditemukan-- dan drama Mangir). Tetralogi Arus Balik tersebut mewakili masa sebelum wacana kebangsaan lahir pada awal abad ke-20, yang dipaparkan melalui tetralogi Bumi Manusia (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah). Bila dihubungkan, dalam kedua tetralogi (Arus Balik dan Bumi Manusia) akan tergambar garis-garis merah yang memperlihatkan grand design sikap dan pemikiran Pramoedya Ananta Toer"
M. Yoesoef, M.Hum. (Universitas Indonesia)

Tidak ada yang meragukan vitalitas dan kreativitas kepengarangan Pramoedya Ananta Toer sejak tahun 1950-an hingga kini. Kegigihan dan keproduktifan dia dalam berkarya telah menempatkannya di barisan terdepan sastrawan sezamannya. Sejak tahun 1950-an hingga kini ia telah menghasilkan sekurang-kurangnya delapan belas novel, enam kumpulan cerpen, dan satu drama. Selain menulis karya fiksi, Pramoedya juga menulis esai dan biografi.

Banyak sudah pemerhati dan kritikus sastra membahas dan membedah karya-karya Pramoedya Ananta Toer sehingga seakan tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan dari sastrawan kelahiran Blora itu. Namun, pada karya besar biasanya terdapat hal baru setiap kali dibaca ulang. Pernyataan itu, saya kira, berlaku untuk karya-karya Pramoedya.

Dalam tulisan ini saya akan membahas Mangir (2000), sebuah kisah tragis tentang Ki Ageng Mangir Wanabaya yang menjadi sebuah bagian dari perjalanan panjang wacana pemikiran Pramoedya. Drama Mangir merupakan salah satu dari rangkaian pemikiran Pramoedya Ananta Toer yang dituangkannya dalam tetralogi Arus Balik, yang terdiri dari novel Arus Balik, Arok Dedes, (satu karya belum ditemukan), dan drama Mangir. Tetralogi Arus Balik tersebut dapat dikatakan mewakili masa sebelum wacana kebangsaan lahir pada awal abad ke-20, yang dipaparkan melalui tetralogi Bumi Manusia, yang terdiri atas Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah. Bila dihubungkan, dalam kedua tetralogi (Arus Balik dan Bumi Manusia) akan tergambar garis-garis merah yang memperlihatkan grand design sikap dan pemikiran Pramoedya Ananta Toer selama menjalani hukuman di Pulau Buru. Bahkan, untuk memperlihatkan kesinambungan gagasan dasar itu, sejumlah karya yang pernah ditulisnya pada tahun ‘50-an ditulis kembali, dalam arti karya-karya itu disesuaikan dengan perkembangan pemikiran Pramoedya, terutama selama berada di Pulau Buru.

Apa sebenarnya yang diungkapkan Pramoedya dalam tetralogi Arus Balik, yang salah satu bagiannya dibicarakan dalam makalah ini? Untuk itu, ada baiknya disimak terlebih dahulu gagasan yang tersirat dalam novel Arok Dedes, Arus Balik, dan baru kemudian masuk ke drama Mangir.

Arok Dedes

Buku Arok Dedes merekonstruksi sejarah kudeta Ken Arok atas Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Latar sejarah masa Singasari (1222) dipilih Pram bukan tanpa alasan, karena di situlah ia melihat bagaimana seorang Ken Arok muncul ke panggung kekuasaan Tumapel dengan cara-cara yang kotor. Legenda Ken Arok dan Ken Dedes yang hidup dalam masyarakat melalui novel ini ditafsirkan sebagai sebuah cermin konspirasi antara Ken Arok, yang bukan bagian dari elite politik, dengan elite politik di kalangan istana untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Penafsiran ini tentu menghadirkan sebuah wacana alternatif terhadap sejarah dan legenda Tumapel yang selama ini kita kenal. Dalam cerita Ken Arok yang kita kenal, untuk mewujudkan kehendak berkuasanya, Ken Arok seolah-olah melaksanakannya dengan kekuatan sendiri, apalagi setelah ia dengan tidak sengaja melihat kain yang dikenakan Ken Dedes tersingkap. Dalam pandangan Pramoedya, Ken Arok dapat berkuasa berkat konspirasinya dengan elite politik. Melalui Arok Dedes, Pram melukiskan bagaimana keberhasilan penggulingan kekuasaan seorang Akuwu Tumapel bisa terjadi tanpa menyandarkan diri pada daya-daya magis yang dimiliki seorang Ken Arok seperti dikenal dalam legendanya. Di sini Pramoedya berusaha membebaskan kisah Ken Arok dan Ken Dedes dari kerangkeng legenda.

Kekuatan utama yang menjadi dasar keberhasilan kudeta Ken Arok, yang disebut sebagai kudeta pertama dalam sejarah bangsa kita, adalah dukungan yang kuat dari kaum Brahmana, yang pada masa itu telah tersingkirkan dalam peta politik tanah Jawa, seperti dituliskan Simbolon (1995:19—20) dalam kutipan berikut.
Di Kabupaten Singasari itu muncul seorang pemuda yang dianggap jagoan dan pintar merebut tempat di tengah masyarakat kalangan atas. Ia bernama Ken Arok dan bekerja sebagai karyawan Tunggul Ametung. Tidak hanya itu, rupanya para pendeta, khususnya Lohgawe, terkesan sekali dengan kepribadian Ken Arok yang keras itu, sehingga ia dianggap sebagai reinkarnasi dewa. Setelah menyadari nasibnya tersebut, Ken Arok terdorong untuk meraih kedudukan lebih tinggi. [...] ia berhasil membunuh Tunggul Ametung [....] Tidak lama kemudian, pecah pertengkaran di Kediri antara Raja Kertajaya dan para pendeta, baik Hindu maupun Budha. Raja menghendaki para pendeta agar memberi sembah kepadanya sebagai penjelmaan Batara Guru, bukan sebaliknya [...] Para pendeta menolak. Atas prakarsa Lohgawe mereka mendatangi Ken Arok, mengakuinya sebagai raja Tumapel-Singasari dengan gelar Sri Rajasa. Dengan gelar itulah ia berangkat bersama pasukannya menyerang Kediri. Dalam serangan itu Kertajaya melarikan diri, lalu Ken Arok menjadi raja pada tahun 1222 dengan kedudukan di Tumapel.

Hal inilah yang dilihat Pramoedya Ananta Toer dalam menggarap karyanya ini. Konspirasi politik yang tergambar dalam Arok Dedes agaknya bersinggungan pula dengan apa yang dipercaya oleh Pram mengenai kudeta yang mengiringi peristiwa G-30-S pada akhir September 1965.

Pesan moral yang disampaikan dalam novel ini, yang digarapnya kembali sewaktu ditahan di Pulau Buru, adalah betapa kompleks sebenarnya sebuah kudeta terjadi, dan betapa licik para aktornya untuk bersegera mengambil kesempatan, memenangkannya, dan mengaburkan peristiwa sejarah yang sesungguhnya terjadi. Dalam Arok Dedes ditunjukkan ketidakjelasan peranan tiap-tiap orang dalam tragedi pembunuhan Ametung. Siapa pembunuh Tunggul Ametung sebenarnya, karena Kebo Ijo yang juga menjadi tertuduh menyanggah telah membunuhnya. Apa yang terlukis dalam Arok Dedes, bagi Pramoedya, paralel dengan geger politik pada 1965. Demikianlah, Pramoedya menafsirkan peristiwa sejarah (Ken Arok vs Tunggul Ametung) sebagai ragangan untuk menyampaikan sikap dan gagasan dia tentang konspirasi kudeta pada 1965 yang tetap meninggalkan misteri sampai hari ini.

Arus Balik

Pramoedya melihat pelbagai peristiwa pada abad ke-15 dan 16 sebagai satu masa yang menjadi titik tolak perubahan cara berpikir manusia Nusantara dari lokal ke cara berpikir global. Hal itu tercermin melalui tekad menyatukan kawasan Nusantara dalam kekuasaan Majapahit sebagai titik awal lahirnya kesatuan wilayah. Hadirlah pada masa itu kekuatan asing, seperti Portugis, dan kemudian Belanda yang membangun imperium maritim di Nusantara melalui VOC-nya. Kenyataan itu menumbuhkan satu kesadaran pada Pramoedya tentang pentingnya kekuatan Indonesia sebagai negara kepulauan (dan maritim). Sudah selayaknya bangsa Indonesia mengembangkan dan memberdayakan kekuatan geografis itu dalam segala hal, termasuk di dalamnya sistem pertahanan laut. 

Melalui Arus Balik: Sebuah Epik Maritim Nusantara, Pramoedya berusaha menumbuhkan kembali kesadaran kita bahwa ada hal yang selama ini telah diabaikan, seperti dikemukakan Pramoedya (2001:105) berikut ini.
Pertahanan Hindia Belanda itu didasarkan pada pertahanan darat. Dan pertahanan darat dipertahankan sistemnya hingga sekarang ini. Padahal sistem pertahanan Indonesia harusnya pertahanan laut. Salah satu bukti kelemahan pertahanan darat untuk negara maritim, pada tahun 1812, waktu Hindia Belanda dikurung Inggris dari laut, dalam beberapa hari angkat tangan. Waktu diserang Jepang pada 1942 dalam beberapa hari juga angkat tangan. Jadi, kalau itu diteruskan sampai sekarang, itu bukan lagi kekeliruan, tetapi kesalahan. Persoalannya adalah keberanian untuk mengkoreksi kesalahan. Berani tidaknya itu terserah kepada angkatan muda yang belum terpakukan pada sebuah sistem.
Proses koreksi ke arah jalur yang benar itu harus digambarkan melalui sebuah perjalanan lain, yaitu melalui kisah tentang berbagai watak, kebesaran, kearifan, kemunafikan, dan kehalusan manusia secara umum dalam sepak-terjang tokoh-tokoh dalam Arus Balik. Selain itu, pesan moral—yang menurut hemat saya patut dikemukakan—adalah Pramoedya memandang peperangan sebagai usaha mengalahkan musuh, bukan membunuhnya. Setidaknya itulah yang diyakini tokoh Wiranggaleng dalam Arus Balik. Pemikiran ini sudah barang tentu merupakan refleksi dari kegeraman Pramoedya kepada rezim Orde Baru yang memperlakukannya semena-mena.

Novel ini dapat juga dipandang sebagai tesis Pramoedya mengenai bagaimana seharusnya bangsa Indonesia mengenali kekuatan-kekuatan di masa lalu. Belajar dari sejarah merupakan satu hal yang hakiki bagi Pram. Tapi justru ada kecenderungan kuat pada kita, sebagai bangsa dan sebagai masyarakat, untuk mudah melupakan sejarah. Ingatan kesejarahan kita sangat pendek.

Mangir

Karya sastra drama ini melukiskan upaya Panembahan Senapati, raja Mataram, mempertahankan kedaulatan dan kewibawaannya di hadapan musuh besarnya, Ki Ageng Mangir Wanabaya. Kisah Mangir ini di tangan Pramoedya menjelma menjadi kisah yang kritis sehingga mampu menghadirkan wacana-wacana yang patut disimak, terutama yang berkaitan dengan sikap pengarang dalam memperlakukan kisah tersebut untuk pembaca. Tawaran yang diajukan Pram melalui karyanya ini mengarahkan pembaca untuk menjejaki kembali kisah Mangir yang beredar di kalangan masyarakat, yang di dalamnya penuh mitos dan sanepa-sanepa (kias). Kisah semacam itu dianggap Pramoedya tidak rasional. Karena itu, pembaca masa kini perlu dibangkitkan kesadaran mereka untuk menafsirkan kembali kisah Mangir. Dalam bagian pertanggung jawaban, Pramoedya (hlm. xxii) mengemukakan sebagai berikut.

[...]Cerita tentang Mangir merupakan permata dalam kesusastraan Jawa setelah masuknya Islam, bukan karena bentuk sastranya, tetapi karena makna sejarahnya [...] Penulisannya dalam bahasa Jawa, atau tepatnya dalam Babad Tanah Jawi, terpaut seratus lima puluh sampai dua ratus tahun setelah kejadian yang sesungguhnya, sehingga melahirkan cerita-cerita lisan dengan berbagai macam versi, versi Mataram dan versi Mangir, versi istana dan versi desa [...] Selain itu, ditambah dengan tradisi Jawa yang terlalu hati-hati dalam menuliskan raja-raja atau  inastinya yang masih berkuasa, pujangga-pujangga Jawa terpaksa menempuh jalan sanepa atau kias.  Sebaliknya, pembaca berabad kemudian juga terpaksa harus dapat membuka kunci-kunci sanepa itu untuk dapat memahami maksud-maksud mereka.

Dari kutipan singkat itu terlihat betapa dalam kisah Mangir terdapat sejumlah sanepa yang mengandung maksud tertentu. Melalui Mangir, Pramoedya mencoba membongkar sanepa-sanepa itu.

Sanepa yang dibahas Pram adalah menyangkut nama Baru Klinting. Dalam versi Babad Mangir (dan juga cerita lisan) Baru Klinting berwujud ular yang kelahirannya diawali dengan kejadian yang spektakuler saat Kiai Ageng Mangir (tua) mengadakan upacara tingkeban untuk istrinya yang hamil tua, seperti tergambar berikut ini.

Ada seorang tamu perempuan dari desa Jlegong yang parasnya cukup cantik. Ia adalah anak Demang Jlegong. Anak perempuan itu memang sudah dewasa, tetapi belum bersuami. Ia sebenarnya ingin membantu membuat basung, tetapi ia tidak mendapat pisau. Oleh karena ia melihat Kiai Ageng Mangir Wanabaya memegang sebuah pisau, ia meminjam pisau tersebut, akan dipergunakan untuk membuat basung. Sambil memberikan pisau Kiai Ageng Mangir Wanabaya berpesan jika sudah tidak dipergunakan, pisau itu tidak diperbolehkan diletakkan di sembarang tempat apalagi sampai terlangkahi oleh seorang perempuan [...] Setelah basung tadi jadi, pisau tersebut diletakkan di bawah tikar. Kelupaan gadis tersebut kiranya memang sudah dikehendaki Yang Mahakuasa. Dengan tidak sengaja pisau tersebut diduduki oleh gadis desa Jlegong. Tiba-tiba pisau itu lenyap, masuk ke dalam perutnya. Hal itu menyebabkan kehamilannya.
(Balai Penelitian Bahasa, 1990: 69—70)

Pada bagian lain babad ini dikisahkan gadis Jlegong yang melahirkan di sebuah telaga, seperti terlukis pada kutipan berikut.

Oleh karena hari sangat panas, ia merendam diri dalam sebuah telaga yang bernama Rawa Jembangan, sudah sampai waktunya, maka ia melahirkan anaknya di telaga tersebut. Anaknya berujud seekor ular. Ni Rara Jlegong jatuh pingsan, maka ia lupa sebab musababnya. Ia tidak dapat menyaksikan bahwa anaknya berujud seekor ular. Ular itu sangat besar dan sangat panjang berada dalam telaga itu. Melihat ibunya hampir mati, ia menaruh belas kasihan terhadap ibunya. Oleh karena ular itu dapat berkata seperti halnya manusia, ia menangisi ibunya [...] Kemudian ia menanyakan siapa ayahnya. Dengan badannya menggigil ketakutan, Ni Rara Jlegong mengatakan bahwa ia tidak mengetahui ayah anaknya [...] Kemudian Ni Rara Jlegong menyuruh anaknya agar bertanya kepada Kiai Ageng Mangir, tentunya ia mau memberi tahu.
(Balai Penelitian Bahasa, 1990: 71)

Dari kutipan Babad Mangir tersebut, Baru Klinting adalah seekor ular. Pramoedya berusaha meluruskan ketidaklogisan ini. Ia mengajukan bahwa mitos ular tersebut adalah upaya pujangga istana untuk menghilangkan jejak seorang tokoh dalam sejarah yang bernama Baru Klinting. Argumen yang diajukan Pram (hlm. xxv—xxviii) adalah sebagai berikut.
Berhadapan dengan sanepa adalah berhadapan dengan teka-teki dua muka: historis dan daya imajinasi pujangga [...] Dalam lakon yang dituliskan ini, semua tokoh dilucuti dari pakaian dongeng dan ditampilkan sebagai manusia biasa, dijauhkan dari tanggapan-tangapan mistik [...] Sebagaimana nama Jawa, Baru Klinting terdengar janggal. Kata baru adalah asing dalam Jawa [...] kata baru ini juga menimbulkan teka-teki yang misterius [...] Baru adalah kata Melayu yang dalam Jawa berbunyi waru (nama pohon). Tetapi Mataram terlalu jauh dari pengaruh Melayu [...] Baru bisa jadi berasal dari pengubahan kata beri, yakni gong besar dengan cembung rendah [...] berbunyi sember dan merupakan kelengkapan perang di samping gurduang (canang) dan gurdnita, untuk memanggil atau memberanikan pasukan [...] Klinting bisa berarti giring-giring atau bunyinya. Bila demikian Baru Klinting bisa berarti beri yang berbunyi kecil menggerincing.
Baru bisa juga suatu kata rusak dari bahu. Dalam Jawa terdapat istilah bahuning praja (pelaksana perintah negara), yang mendekati kata Melayu panglima [...] Dalam Jawa terdapat juga istilah bahu desa yang berarti pelaksana keamanan desa atau tangan kanan kepala desa.
Baru itu berasal dari beri dan bahu (-ning praja), dua-duanya punya persangkutan dengan kekuasaan dan pelaksanaannya. Suatu pendapat bahwa baru adalah perusakan dari kata bahu, perusakan yang dilakukan dengan sengaja, juga masuk akal. Dan bila demikian, klinting bisa berarti mengerut karena kering, atau mengelupas karena kering. Maka Baru Klinting berarti seorang punggawa Perdikan Mangir yang kulitnya mengelupas (karena penyakit kulit). Dari kerusakan kulit seorang pujangga Jawa, yang sengaja hendak menyandikan, dalam pada itu berpihak pada Mataram, mendapat bahan untuk melebih-lebihkan penggambaran, bahwa si bahu perdikan itu berkulit sisik, dan kulit bersisik ia menyamakan dengan ular, dan dari persamaan ular menjadi ular sungguhan.
Selanjutnya dari penelusuran kata baru dan kemungkinan pemaknaannya itu, Pramoedya menjelaskan makna kisah itu sebagai berikut.

Setelah Baru Klinting berbentuk ular, seorang pujangga bisa menebah dada karena hasil sanepa yang gilang-gemilang. Tetapi itu tidak bisa lama, karena Baru Klinting seorang anggota masyarakat dan menyertai hampir dalam segala peristiwa. Seekor ular tidak mungkin bisa ditampilkan dalam kehidupan manusia yang bermasyarakat secara terus-menerus. Oleh pujangganya ia diubah menjadi tombak pusaka [...] Ayah Baru Klinting, kepala Perdikan Mangir sebelum Wanabaya, melihat bahwa ular itu kurang sejengkal melingkari Gunung Merapi dan menjulurkan lidahnya untuk menutup kekurangan yang tinggal sejengkal, telah memotong lidah itu dengan keris pusaka. Lidah itulah yang kemudian menjadi tombak pusaka di tangan Wanabaya, Ki Ageng Mangir yang menggantikannya. [...] Dalam pertunjukan-pertunjukan, Baru Klinting selalu ditampilkan sebagai ular atau tombak pusaka, setia pada karya pujangga yang menuliskannya.

Lebih lanjut, Pramoedya (hlm. xxv) menunjukkan adanya kecenderungan umum dalam sejumlah cerita rakyat, legenda, atau mitos di Nusantara bahwa musuh atau tokoh yang tidak disukai oleh pujangganya atau dinasti yang berkuasa diwujudkan dalam bentuk bukan sepenuhnya manusia, tetapi dalam wujud hewan atau manusia yang cacat fisik. Penggambaran si Tumang dalam legenda Sangkuriang, misalnya. Berdasarkan hal itu, dapat dipahami mengapa Baru Klinting bisa ditampilkan sebagai ular, kemudian sebagai tombak pusaka.

Hal yang sangat kontroversial yang ditawarkan Pramoedya Ananta Toer melalui drama ini adalah pada cara Ki Ageng Mangir Wanabaya menemui ajalnya. Dalam cerita lisan dan Babad Mangir, kematian Ki Ageng Mangir Wanabaya sangat tragis, yaitu kepalanya dibenturkan ke Watu Gilang oleh Panembahan Senapati saat Wanabaya memberi sembah. Untuk menambah ketragisan posisi Wanabaya, ia dikuburkan dengan posisi separuh badan berada di dalam pagar istana dan separuh lainnya di luar pagar istana. Dengan ungkapan lain Wanabaya “dari pusat ke kaki diakui dia menantu raja, dari pusat ke kepala dia dianggap musuh Mataram.”

Dalam versi Pramoedya, Wanabaya, Baru Klinting, dan rombongannya disergap di dalam istana Mataram. Dalam penyergapan itu, Wanabaya dan Baru Klinting terpojok. Dalam pertempuran itu Ki Ageng Mangir Wanabaya ditikam oleh Pangeran Purbaya, sedangkan Baru Klinting ditombak dari belakang oleh Panembahan Senapati. Mereka tewas dalam pertarungan yang tidak seimbang karena posisi mereka tersudut sebagai hasil siasat jebakan yang dirancang Tumenggung Mandaraka alias Juru Martani, penasihat istana.

Tetralogi Arus Balik dan Bumi Manusia: Sebuah Grand Design Pemikiran Pramoedya Ananta Toer

Sebuah karya sastra selain berisi cerita juga mengandung sebuah perjalanan pemikiran pengarangnya atau dapat juga pemikiran kelompok sosial dari mana pengarang itu berasal, atau dapat juga merupakan gambaran pemikiran zamannya. Demikian dikemukakan oleh Swingewood (dalam Damono,1979:3) ketika menjelaskan posisi karya sastra dalam konteks lingkungan sosialnya. Di pihak lain, karya sastra juga menunjukkan sebuah refleksi kehidupan masyarakat yang mengacu pada segala sistem masyarakat serta perubahannya (Luxemburg, 1984:23).

Empat karya Pramoedya Ananta Toer yang kemudian disebut sebagai tetralogi—kendati karya-karya itu dapat berdiri sendiri sebagai karya mandiri—mengandung sebuah garis merah pemikiran pengarangnya. Tetralogi Arus Balik (novel Arus Balik, Arok Dedes, (satu naskah belum ditemukan), dan Mangir) mengungkapkan sejumlah hal yang terlupakan atau sengaja dilupakan yang berkaitan dengan ingatan sejarah bangsa. Kemudian, pada tetralogi Bumi Manusia, Pramoedya mengingatkan kita semua pada sosok Raden Mas Tirto Adhisurjo, seorang yang tampil dalam novel itu sebagai Minke. Di samping itu, pada tetralogi ini Pramoedya lagi-lagi mengemukakan pentingnya ingatan sejarah bangsa tentang terbentuknya Nasionalisme pada masa-masa awal Kebangkitan Nasional. Ia menghadirkan tokoh-tokoh yang tidak tampil dalam catatan sejarah yang resmi.

Melalui kedua tetraloginya itu, Pram telah menggambarkan situasi Nusantara mulai dari kudeta Arok-Dedes tahun 1222, kehebatan kekuatan maritim Nusantara, terutama pada masa kejayaan Majapahit, lalu tentang kejatuhan Majapahit, Malaka ke tangan Portugis sampai dengan maraknya imperialisme, kolonialisme, dan kapitalisme seiring dengan kejatuhan raja-raja Jawa pada abad ke-15 dan 16. Kemudian, melalui tetralogi Bumi Manusia, digambarkan dinamika masyarakat pada tahap awal perkembangan nasionalisme pada permulaan abad ke-20.

Dalam karya-karya itu ditampilkan bermacam watak manusia yang memiliki nilai kemanusiaan maupun manusia yang tidak memiliki nilai kemanusiaan; manusia berstatus dan tanpa status; manusia yang jadi korban maupun yang dikorbankan. Tokoh-tokoh itu hadir ke hadapan kita dan berbicara secara langsung kepada kita. Tokoh-tokoh itu hadir sebagai tokoh yang kontroversial sekaligus marjinal (Ken Arok dan Ki Ageng Mangir Wanabaya). Dari sana kita pun nampaknya—mau tidak mau—kemudian ditantang untuk merenungkan bahwa sebuah sudut pandang telah terpampang di hadapan mata sebagai koreksi dan alternatif dari pandangan yang kita miliki atau yakini selama ini. Di situlah, pada hemat saya, Pramoedya Ananta Toer berusaha membuat grand design pemikiran untuk merekonstruksi pemikiran kita yang telah lama terkonstruksi.

Acuan

Ananta Toer, Pramoedya. 1995. Arus Balik: Sebuah Epik Maritim Nusantara. Jakarta:
Hasta Mitra.
_____. 1999. Arok Dedes. Jakarta: Hasta Mitra
_____. 2000. Drama Mangir. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
_____. 2001. Perahu yang Setia dalam Badai. Yogyakarta: Penerbit Bukulaela.
Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta. 1980. Babad Mangir 1 dan 2 Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah).
Damono, Sapardi Djoko. 1979. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Luxemburg, Jan van. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Penerbit Gramedia.
Simbolon, Parakitri T. 1995. Menjadi Indonesia (Buku I Akar-akar Kebangsaan Indonesia). Jakarta: Kompas.
Utusan Malaysia. 1996. “Arus Balik imbau sejarah Nusantara,” (edisi13 Feb 1996) artikel pada http://www.asiaconnect.com.my/utusan/archives/2-13-96/seni_hiburan/story_5/


Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook