Friday, March 23, 2012

Musyawarah Ngengat

Cerpen Geger Riyanto

Banyak hal yang tak diketahui manusia dari kami.Yang terutama, manusia tak tahu bahwa kami mewariskan ingatan ke anak-anak kami.Bukan sekadar memaktubkan ingatan badani tentang bagaimana menggunakan senjatasenjata yang tersedia di tubuh kami,tapi adalah ingatan tentang pengalaman hidup kami.
Ingatan akan betapa kami membenci manusia. Hanya karena anak-anak kami menggerogoti setitik–dua titik kain yang dikenakannya—karena kodratnya untuk bertahan hidup—mereka membantai jutaan dari kami dengan cara-cara yang mengenaskan.
Pernah aku lolos dari maut hanya untuk melihat bagaimana kawan-kawanku terbujur kaku dengan wajah yang membiru. Maut yang berwujud gumpalan awan—yang anehnya terbang jauh lebih rendah dari ketinggian langit itu—ternyata berasal dari tongkat ajaib yang dipegang seorang manusia.
Namun, di antara kawan-kawanku yang berhamburan bagai dedaunan yang akan menyerah kepada terpaan angin, kekasihku—kekasih pertamaku itu—mengangkat kepalanya melawan kematian.Kemudian, sayapnya berangsur meninggi dan bergerakgerak, berusaha mengepak.
Jikalau kau ada di situ,menyandarkan daun telingamu ke keheningan yang mengikuti rombongan kematian itu, kau akan mendengar jantungku kembali berderap segiat kepak sayap di saatsaat aku menjalin kasih dengannya: aku gembira. Hatiku yang remuk kembali utuh.
Namun, saat ia hendak mendongak, sepertinya untuk membalas tatapanku— dan tentunya menyempurnakan kebahagiaanku—seorang manusia merenggutnya. Dan dengan wajah yang sediam batang pohon, ia merobek kekasihku seperti merobek daun, seperti merobek jantungku di saat yang sama.
Lalu dilepasnya kekasihku ke rengkuhan angin yang menerpa. Kekasihku, dalam kepingankepingan, hanyut ke samudra kematian untuk selamanya. Seandainya aku bisa memilih, aku tak ingin mewariskan ingatan getir ini kepada anak-anakku.Namun,aku tak bisa menentang ketetapan Sang Pemberi, entah apa maksudnya,namun kurasa baik.
Lagi pula, ingatan ini akan mengajar anak-anakku kewaspadaan akan betapa bengisnya manusia. Maka, suatu hari kami semua bermusyawarah, merundingkan bagaimana caranya membalas manusia, mamalia pemegang gelar pembantai terbesar selama abad-abad yang berjalan.
”Apakah kita harus menyerang mereka secara bergerombol seperti yang dilakukan para belalang dahulu, waktu diperintahkan oleh Tuhan untuk menelanjangi kebobrokan Firaun?” usul salah seekor saudara kami. ”Tidak, saudaraku. Senjata yang manusia gunakan sudah berbeda dengan zaman Firaun.
Seandainya pun belalang-belalang itu menyerbu Firaun hari ini, mereka akan segera dilumat dengan awan maut manusia,” jawab tetua kami. ”Tapi,bukankah ada Tuhan?” ”Percuma saja tanpa manusia nabi.
Sebab, bila Tuhan datang sendiri tanpa melalui perantaraan manusia nabi, dunia yang terbatas ini dapat luluh lantak dalam sekejap.” ”Lantas,mengapa tak ada ngengat nabi,tetua?” ”Sudahlah.
Sudah sepanjang sejarah, bangsa ngengat merenungkan pertanyaan itu.Tentu musyawarah yang bagai setitik embun dalam sejarah bangsa ngengat ini tak muat untuk merenungkan pertanyaan tersebut.” ”Baik,tetua.Lagi pula,kita sedang mau bertindak,bukan mengeluh.”
Tiba-tiba aku ingat, suatu waktu aku pernah melihat seorang manusia dewasa meronta-ronta, meraungraung selayaknya manusia anak, dan menampar manusia-manusia dewasa lainnya yang, entah mengapa, tertunduk diam di hadapannya. Lantas, dengan tangannya yang gemulai ia menunjuk-nunjuk ke lubang di bahu baju yang dipakaikan pada sesosok patung manusia.
Mengapa sebegitu gegarnya? Kutelusuri dengan waspada pakaian itu,namun tak kutemukan sesuatu yang berbeda kecuali di bagian leher pakaian itu tertempel tulisan ”Guess”. Mengapa manusia dapat kembali menjadi kera hanya karena itu? Sama sekali aku tak mampu mencernanya.
Namun, menyenangkan sekali melihat manusia derajatnya merosot jauh, bahkan di bawah bangsa lintah yang berbangga walau menyeret alat reproduksinya di atas lumpur. Saling menyakiti satu sama lain hanya karena sepotong benda tak bernyawa— yang bahkan tak bisa meruang dalam perut yang lapar.
Dan menurut ingatan nenek moyangku, hanya karena itu pun mereka tega saling mencincang dan mengeluarkan isi perut sesamanya. Kalau begini, nampaknya kami para ngengat pun bisa memicu perang dunia manusia ketiga. ”Kurasa aku tahu apa yang bisa kita lakukan, saudara-saudariku,” ujarku dengan tenang.
Akhirnya kami semua menetapkan bahwa siapa pun yang dapat mendaratkan telurnya di pakaian manusia yang berbubuh tulisan ”Guess”, ”Gucci”, ”Etienne Aigner”,”Marks & Spencer”, ”Boss”, ”Giorgio Armani”, dan lain-lain yang sejenisnya, akan kami angkat sebagai seekor pahlawan dalam ingatan kami.
Itu adalah penghargaan tertinggi yang bisa diterima seekor ngengat. Kata manusia, hidup kami sangat Shakespearian karena harus memilih antara bercinta atau bertahan hidup. Benar bahwa lelaki kami mati setelah bercinta dan wanita kami meninggalkan hidup setelah mendaratkan telur.
Tapi mereka,manusia, sungguh tolol dalam mengartikannya.Apakah yang ada di benak mereka hanya bercinta? Kendati pun tak bercinta, darah dan daging kami hanya seusia sekali pergantian musim.Namun, dalam almari kelabu kepala anak-anak kami— manusia menyebutnya otak, tak berselera sekali?—kami menjadi abadi.
Dan dia, yang diangkat sebagai pahlawan dalam ingatan kami,akan terus hidup dalam palungan ingatan semua ngengat sepanjang jutaan tahun yang melintang.Kendati tongkat kekuasaan bumi telah berpindah-pindah tangan.
***
Ingatan yang diwariskan oleh seluruh nenek moyang kami menyatakan diri secara sekaligus dalam benak kami seperti pasar. Dalam lorong ingatan yang berjejalan itu, kami menyaksikan masa-masa surga bagi para ngengat yang datang setelah dinosaurus tiba-tiba punah dari muka bumi.
Dunia benar-benar menjadi milik para ngengat seutuhnya. Betapa indahnya kehidupan saat itu. Namun,masa-masa surga itu dalam sekejap pula musnah karena mamalia tiba-tiba muncul dan tak lama kemudian menjadi penguasa dunia. Dalam sekejap berikutnya, ingatan kami tersambung ke ingatan terakhir yang diwariskan kepada kami: bagaimana ibu kami meninggal.
Ia dilumat dengan sapu oleh mamalia yang menjadi penguasa dunia hari ini. Untunglah, sekilas, sebelum dipukul oleh makhluk yang lebih dingin dari zaman es itu,ibu berhasil mendaratkan kami sebagai telur-telur di atas gaun yang membungkus rapat tubuh patung manusia dan bertuliskan ”Marks & Spencer” di lehernya.
Saat itu kami langsung tahu bahwa ibu kami menjadi pahlawan bagi para ngengat. Ingatan-ingatan nenek moyang kami terus berjejalan, membuat perasaan kami terbuai di satu waktu, namun terbanting hingga remuk di detik berikut yang menjalin ingatan getir.Kami ingin bisa mengendalikannya, tapi tak bisa, sebab kami sendiri tak mempunyai ingatan.
Di antara litani ingatan nenek moyang yang riuh menyesaki benak kami, kami tak memiliki ingatan yang berasal dari pengalaman kami sendiri. Sejak kami menetas dari telur, kami tak menyapa apa pun, kecuali kegelapan. Tapi, di sekeliling kami tersedia banyak sekali makanan dan semuanya melelehkan wewangian dunia dalam mulut kami: wol, katun, sutra, kasmir, bahkan bulu beruang.
Maka, kerja kami hanyalah makan atau mendengarkan suara kami sendiri mengunyah dan mencerna, memecah kesunyian sepanjang hayat ini. Kesenangan kecil itu harus berakhir, sebab mulut kami dengan sendirinya tiba-tiba memuncratkan berhelai- helai serabut yang memintal tubuh kami,lalu membungkusnya rapatrapat.
Rupanya kami masuk ke masa kepompong, masa yang membunuh kami dengan kebosanan. Dan kalau bukan kebosanan yang menambatkan belenggunya di pikiran kami,tentu tak lain adalah ingatan nenek moyang yang merobek-robek hati kami, namun kemudian menjahitnya kembali, namun lantas merobeknya lagi.
Namun, akan tiba saatnya untuk mengakhiri semua ini. Saat di mana sayap kami tumbuh,membelah udara hening yang sedari awal menyelimuti punggung kami.Saat bagi kami untuk melawan gaya tarik bumi yang menindih kami dalam ketidakberdayaan, dan kemudian terbang membelah kesunyian. Menerabas kegelapan ini. Merayakan keabadian ibu kami bersama saudara-saudari ngengat yang menanti kami di luar kegelapan ini.

***
Seandainya usia ngengat-ngengat itu mencapai satu tahun, barulah mereka akan menyapa cahaya, kebisingan, dan dunia luar—barulah mereka akan mengalami hidupnya sendiri sebagaimana yang mereka impi-impikan sepanjang hayat. Namun tidak. Ngengat terakhir mati pada hari keseratus sepuluh.
Menyisakan sekitar dua ratus empat puluhan hari lagi sebelum Natal selanjutnya, sebelum lemari kayu oak yang kokoh dan bergaya khas Yunani itu dibuka untuk menyimpan gaun-gaun baru bertuliskan ”Gucci”dan ”Giorgio Armani”. Dan cahaya yang akhirnya menyelisik masuk ke lemari yang rapat itu, menyapa ngengat-ngengat yang sudah berhamburan bagaikan daun.
Menyapa busana-busana berkelas yang sudah berlubang dan compangcamping tak karuan bagaikan medan perang. Menyapa kesunyian yang sejenak pernah diisi oleh kepak sayap para ngengat yang bernafsu membelah kegelapan, tapi tak bisa: apa daya makhluk setipis daun dan tiga senti melawan kayu oak raksasa nan kokoh?
Namun, apa yang direncanakan dalam musyawarah ngengat tak pernah berhasil—kendati martir telah berguguran.Sebab sang nyonya besar melemparkan gaun barunya ke dalam almarinya dan langsung menutupnya, tanpa sepintas pun menoleh ke gaungaun lamanya yang sudah dibabat oleh sepasukan ngengat muda yang semusim lalu menetas di atasnya.
Lantas,ia melanjutkan hidupnya yang ganjil, tanpa kekurangan sesuatu apa pun. Para ngengat yang bertugas mematamatai istana sang nyonya besar kian tidak mampu memahami perilaku makhluk bernama manusia ini. Mereka pun berpikir, siapa pula ngengat yang mampu.
Maka, peristiwa ini sepatutnya menjadi persoalan baru untuk dipecahkan dalam musyawarah besar ngengat selanjutnya. Dan mungkin ngengat yang dapat benar-benar memecahkannya kali ini patut diganjar Nobel Perdamaian Ngengat. ***

Depok, 2008
Seputar Indonesia, Edisi 14 Desember 2008)

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook