Friday, February 29, 2008

Perempuan dalam Novel

CITRA PEREMPUAN INDONESIA DALAM SASTRA:
TELAAH ISI NOVEL-NOVEL INDONESIA

 
Abstrak: Tulisan ini memaparkan penelitian tentang citra perempuan Indonesia dalam isi novel-novel Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks-teks novel Indonesia (1) mencitrakan perempuan-perempuan yang berasal dari golongan bawah, menengah, dan menengah-atas, (2) menampilkan tingkat pendidikan dan keterpelajaran sebagai parameter ketradisionalan dan kemodernan perempuan, (3) mencitrakan perempuan tradisional cenderung melakukan integrasi kultural dengan tradisi, sedangkan perempuan modern melakukan resistensi kultural terhadap tradisi pada satu pihak dan pada pihak lain melakukan integrasi kultural dengan kemodernan, dan (4) mencitrakan perempuan-perempuan yang mengalami ketidakadilan relasi jender dan – sebaliknya – mengalami atau menikmati keadilan relasi jender. Ini mengimplikasikan adanya kemajemukan atau keanekaan citra perempuan Indonesia dalam novel-novel Indonesia.
Kata kunci: Citra manusia, perempuan Indonesia, novel Indonesia

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993), citra (image) adalah gambar atau gambaran mental. Secara teknis, citra berarti gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tentang sesuatu. Sesuatu di sini dapat berupa manusia, masyarakat, organisasi, barang, dan lain-lain. Sebagai contoh, citra barang-barang konsumtif adalah gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tentang barang-barang konsumtif, antara lain busana, kosmetika, dan penganan (snack) di pusat jajanan (food centre) (Featherstone, 1988). Citra tentang adibusana, sebagai contoh lain, merupakan gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang – misalnya, golongan menengah atas –tentang pakaian-pakaian atau model-model pakaian yang dianggap luhur, adiluhur, dan tidak ada duanya.

Sejalan dengan itu, citra manusia berarti gambar atau gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tentang manusia. Orang Barat (Eropa) khususnya para kolonialis atau orientalis, misalnya, memiliki citra tentang masyarakat Melayu, Filipina, dan Jawa yang malas bekerja atau mengidap kemalasan (Alatas, 1988). Dalam gambaran mental orang Barat, masyarakat Melayu, Filipina, dan Jawa adalah orang-orang yang tidak dapat diajak maju seperti orang Barat. Demikian juga pada umumnya orang Barat modern memiliki citra tentang Islam atau agama Islam yang fundamentalis, teroris, dan "senantiasa membuat onar dunia". Sebaliknya, pada umumnya orang Islam atau Timur pun memiliki citra tentang orang Barat yang agresif, sekularistis-ateis, "kafir", dan "serakah" (Huntington, 1993;Prasetyo, 1995). Hal ini menunjukkan bahwa citra merupakan bagian sangat penting dari persepsi, resepsi, dan kesadaran manusia. Dengan demikian, citra tentang manu-sia menjadi bagian sangat penting dari persepsi, resepsi, dan kesadaran manusia tentang manusia lain. Tidak mengherankan, seseorang atau sekelompok orang selalu berusaha membangun atau membentuk citra dirinya dan manusia lain. Untuk membangun atau membentuk citra diri dan manusia lain dipergunakan berbagai unsur atau bidang.

Pendidikan, pekerjaan, kepribadian, kehidupan keluarga, kehidupan sosial, dan gaya hidup merupakan unsur penting yang lazim dipergunakan untuk membangun atau membentuk citra diri dan manusia lain. Misalnya, citra perempuan yang modern, maju, dan tidak rendah diri (inferior) selalu ditandai oleh pendidikan yang tinggi, pekerjaan di sektor publik, berkepribadian mandiri, berkedudukan setara dengan laki-laki di dalam rumah tangga, kebebasan bergaul dengan orang lain, dan gaya penampilan yang selalu mutakhir (trendy dan up to date). Demikian juga citra tentang laki-laki yang menjadi idaman perempuan ditandai oleh kegagahan, kejantanan, keperkasaan, dan kelengkapan lahiriah yang serba mutakhir [serba trendy dan up to date] (Sjahrir, 1985; Murniati, 1992;Megawangi, 1994; Hafidz, 1994; Bhasin dan Khan, 1994; Edriana, 1995). Jadi, bangunan citra manusia itu ditegakkan berdasarkan unsur-unsur yang selalu dipandang penting sebagai penopang keberadaan manusia. Dan, bangunan citra ini dianggap sebagai penanda keberadaan manusia yang dapat difungsikan untuk pemandu, rujukan, tolok ukur ucapan, tindakan, dan perilaku manusia.

selengkapnya? KLIK DI SINI

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook