Wednesday, August 06, 2008

Tuhan Dalam Puisi

Depersonalisasi dan Tuhan dalam Puisi
Oleh Cecep Syamsul Hari


Pada umumnya terdapat dua asumsi yang berbeda dalam upaya menjelaskan berkembangnya secara pesat puisi-puisi religius (sebagian orang menyebutnya sebagai puisi-puisi sufistik), yaitu asumsi yang bernada pesimistis di satu sisi dan asumsi yang bernada optimistis di sisi yang lain. Asumsi pertama melihatnya sebagai kecenderungan aksidental dan bersifat sementara. Asumsi kedua memandangnya sebagai kecenderungan meningkatnya dimensi religiusitas dalam kehidupan sosial dan kebudayaan.

Kedua asumsi yang berbeda ini bersinggungan pada satu titik temu, yaitu pada satu kenyataan bahwa dalam proses penciptaan puisi religius diperlukan suatu pengalaman religius pula (sebagian orang menyebutnya sebagai pengalaman sufistik) yang mendasari penciptaannya. Tak jadi soal sedangkal apa pun pengalaman religius itu karena pada hakikatnya tidak ada pengalaman religius yang dangkal.

Salah satu sebab fenomenologis yang melahirkan pengalaman religius para penyair era 1980/1990-an adalah munculnya arus depersonalisasi yang meluas dalam kehidupan sosial dan berkebudayaan kita. Depersonalisasi ini muncul seiring dengan menguatnya infra struktur ekonomi dan politik setelah berakhirnya hingar-bingar politis pada paruh kedua 1960-an dan paruh pertama 1970-an.

Infra struktur ekonomi telah menjadi kekuatan raksasa yang membidani kelahiran pragmatisasi kehidupan sosial-ekonomi dan sosial-politik serta menindas kemerdekaan personal. Personalitas yang menolak untuk menjadi homo-economicus dan homo-politicon terlempar ke dalam lubang anonimitas dan tergusur ke posisi marginal. Ia tidak memiliki tempat dalam konstelasi kekuatan raksasa ekonomi dan politik. Aku rumputan/ kekasihku Tuhan/ di kota-kota disingkirkan, tulis Ahmadun Yosi Herfanda dalam sajak “Sembahyang Rumputan”.


Dalam posisi ini kelahiran puisi-puisi religius lebih merupakan upaya pelarian-esoteris, yaitu suatu upaya meloloskan diri dari arus depersonalisasi dan melakukan repersonalisasi, yaitu suatu usaha mendudukkan kembali personalitas yang tertindas melalui penyelesaian religius atau kuasi-religius. Berbaringlah di sini dan lupakan dunia, tulis Acep Zamzam Noor dalam sajak “Kini Aku Doa”.

Para penyair pun ramai-ramai “mengadukan” personalitasnya yang terenggut kepada kekuatan mutlak dan transenden. Diro Aritonang mengadukan depersonalisasi yang meluas ini dalam sajak “Ya Allah”: Ya Allah/ hari-hari begitu mencekam/ begitu banyak orang terancam/ tanpa masa depan; dan Beni R. Budiman dalam sajak “Rhapsody in Rainy Season” menulis: Kekasih, di sini pintu-pintumu dikunci rapat/ Ruang-ruangmu ditutup kuat, gedung-gedungmu/ Dijaga ketat dan cahaya-cahayamu dimatikan/ Hingga pekat/ Aku dihadang cepat oleh semua/ Yang bergerak pesat dan mengaku pemilik/ Dunia dan negerimu.
***
Sebagai sebuah pengalaman religius, pelarian-esoteris membuka peluang yang seluas-luasnya bagi “ziarah ke dalam”. Di sini pengalaman religius berlangsung dalam dialog-sunyi (munajat) aku-Engkau yang intens meskipun sering menjadi perjalanan melelahkan bagi personalitas yang gamang. Menyelami-Mu terasa lelah/ dunia kusepak bersama penguburan-penguburanku, tulis Mathori A. Elwa dalam sajak “Sembahyang Luka Dunia”; dan dengan kelelahan yang sama Ahmad Syubbanuddin Alwy menulis dalam sajak “Lirik Air Mata”: kuseberangi lautan cintamu bersama doa-doa Rumi/ dan nyanyian-nyanyian Rabi`ah. Di manakah puncakmu?

Di dalam wilayah esoteris ini pula personalitas yang berusaha meloloskan diri dari arus depersonalisasi merekonstruksi personalitasnya dalam munajat yang intens dan terus-menerus dengan kekuatan mutlak dan transenden. Mathori A. Elwa menulis dalam “Sajak Pendaki”: kudaki gemuruh doa/ di puncak-Mu aku samadi menghitung dunia/ ini aku kehausan kelaparan/ regukkan anggur-Mu/ dan kunyahkan zikir ini/ di puncak keberadaan; Miranda Risang Ayu menulis dalam sajak “Doa II”: Aku mendaki/ ke puncak batas pijakanku/ Tak ada lagi yang kucari, Tuhan/ kecuali cara untuk menghilang/ dalam bayang-bayang; dan dalam nada yang sama dengan Mathori dan Miranda, Soni Farid Maulana menulis dalam sajak “Delapan Gerak Angsa”: Pada puncak keheningan/ Aku hayati gerak semesta/ Nada dan irama/ Yang meresap ke kalbu/ Membawaku pergi/ pada gairah-Nya, abadi.

Hanya di dalam dunia-batin (esoteris) yang damai inilah kekuatan personalitas sanggup membawahkan dan menaklukkan kekuatan di luar personalitasnya, yaitu kekuatan infra struktur ekonomi dan politik yang di dalam dunia-lahir (eksoteris) telah menyingkirkannya ke lubang anonimitas dan posisi marginal. Di pembaringan-Mu kurebahkan segala keletihan/ menafasi hidup yang mengombakkan rinduku, tulis Jamal D. Rahman dalam sajak “Di Pembaringan”; dan dengan keletihan yang sama Agus R. Sajono menulis dalam sajak “Selepas Tarawih”: Bersama helai-helai air mata, kutuntun/ kembali badan dan resahku pulang/ ke bentangan sajadah. Masyuk mengetuki arasy-Mu.

Di dalam sufisme Jalal al-Din Rumi, Hamzah Fansuri dan Muhammad Iqbal, pelarian-esoteris—yang dengan beberapa catatan dapat disejajarkan dengan zuhud atau asketisme—sesungguhnya bukanlah tujuan melainkan tahapan paling awal dari latihan ruhani (riyadlah) untuk mencapai tingkatan (maqam) yang lebih tinggi (hikmah) sebelum ia kembali terjun ke dalam kehidupan sosial. Akan tetapi, tidak semua yang telah merasakan nikmatnya zuhud dapat dengan mudah kembali ke dalam kehidupan sosial yang penuh gemuruh.
***
Di awal tulisan ini telah disinggung bahwa asumsi pesimistis memandang perkembangan pesat puisi-puisi religius kontemporer ini sebagai kecenderungan yang aksidental, artifisial dan bersifat sementara. Asumsi ini lebih memandang perkembangan itu sebagai gejala sesaat atau mode. Asumsi ini mengabaikan kenyataan bahwa pengalaman religius bisa dialami siapa pun sebab pada dasarnya pengalaman religius adalah pengalaman aku-Engkau yang sangat personal.

Kita melihat dalam dekade 1980-an hingga paruh pertama 1990-an arus depersonalisasi yang meluas dalam kehidupan sosial dan berkebudayaan kita telah menjadi salah satu sebab fenomenologis lahirnya pengalaman religius para penyair angkatan 1980/1990-an yang kemudian mendasari penciptaan puisi-puisi religius mereka. Dari perspektif inilah puisi-puisi religius mereka sebenarnya merupakan kesaksian terhadap zamannya.***

Pikiran Rakyat, 21 Juli 1993)

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook