Friday, November 14, 2008

Contoh Esai atawa Kritik Puisi

Mencari Penyair dalam Kesusastraan Kita

Oleh Cecep Syamsul Hari


Situasi penyair di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir dalam banyak hal kelihatannya jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan situasi yang dialami para pendahulunya. Ia lebih banyak memperoleh perhatian dibanding sebelumnya dan pada saat yang bersamaan terdapat lebih banyak karya-karya puisi dari para penyair terkemudian, yaitu mereka yang rata-rata usianya saat ini berkisar antara dua puluh hingga tiga puluhan tahun.

Selain Media Indonesia yang memposisikan dirinya sebagai surat kabar yang hanya mempublikasikan puisi-puisi dari para penyair yang relatif telah matang, terdapat koran seperti Republika yang membuka rubrik “Orbit” dan “Sirkuit” yang mengakomodasi puluhan penyair dari banyak tempat di Indonesia. Di Bandung, koran terbesar di Jawa Barat, Pikiran Rakyat, membuka lima rubrik yang berbeda, dari mulai “Seuntai Sajak dari Beranda” hingga sajak-sajak pilihan pada suplemen Khazanah. Konon, setiap minggu redaktur budaya koran yang disebut terakhir menerima 120 puisi termasuk dari mereka yang masih belajar menulisnya.

Bahkan, bagi penyair berusia muda dan belum lama menulis puisi, situasi sepuluh tahun terakhir ini juga terlihat jauh lebih menyenangkan. Majalah-majalah atau buletin yang mempublikasikan puisi pun relatif lebih banyak. Demikianlah misalnya, majalah sastra Horison yang terbit di Jakarta dan jurnal delapan halaman Lingkaran yang terbit di Serang dapat hidup berdampingan secara damai di atas meja pembaca puisi dan peneliti sastra.


Situasi yang menyenangkan itu ditandai pula dengan bermunculannya komunitas-komunitas sastra yang bergairah mempublikasikan puisi para penyair yang menjadi bagian atau bukan bagian dari komunitasnya. Sebagai contoh, Forum Sastra Bandung (FSB), Komunitas Sastra Indonesia (KSI, Tangerang), Lingkaran Sastra Serang (List), Cak Foundation (Bali), mempublikasikan sejumlah kumpulan puisi dari para penyair Indonesia yang berproses kreatif dalam sepuluh tahun terakhir ini. Dalam 1996-1997 saja, misalnya, FSB meluncurkan 14 kumpulan puisi tunggal. Pada 1997 KSI meluncurkan Antologi Puisi Indonesia. Sementara itu, List mengakomodasi penyair-penyair setempat untuk mempublikasikan puisi-puisinya, dan Cak Foundation pada 1997 mengundang 31 penyair dari Jawa, Sumatera, Bali dan Makassar untuk menyertakan puisi-puisi mereka dalam sebuah buku antologi puisi dwibahasa. Dalam spektrum yang lebih luas, Teater Utan Kayu (TUK, Jakarta) menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sastra dengan agenda pemikiran yang jelas dan terprogram secara baik. Kita melihat aktivitas-aktivitas serupa dilakukan dengan sejumlah komunitas sastra di Jawa dan Bali.

Pada banyak kasus kita juga sering melihat penyair yang mempublikasikan buku puisinya secara swadaya atau dengan bantuan kawan-kawan dekatnya dan tidak lagi bergantung pada kemurahan hati penerbit meskipun terdapat sejumlah penerbit yang setia menerbitkan buku puisi sebagai program nonprofitnya. Di Bandung hal itu antara lain dilakukan FSB dan aktifis-aktifis sastra idealis seperti Hikmat Gumelar.

Pada banyak kasus sering pula terjadi seorang penyair tidak semata-mata berperan sebagai kreator melainkan berperan pula sebagai penerbit sekaligus penjual bukunya sendiri. Dalam sejumlah esai saya menamakan situasi itu sebagai “kegairahan berpuisi” (passion for poetry) meskipun pola-pola anomali (anomaly patterns) kegairahan itu melahirkan pula puisi-puisi yang secara estetik masih dapat dikatakan banal atau prematur. Secara sosiologis, hal ini dapat dipahami karena pola-pola anomali ini selalui menyertai fenomena sosial apa pun.

***

Kita juga menemukan kenyataan bahwa puisi semakin mengkhalayak. Bertambahnya publik pembaca puisi membawa penyair pada suatu kontak langsung dengan publiknya. Sangat mudah bagi kita untuk menemukan aktivitas pembacaan puisi dalam berbagai-bagai bentuknya, termasuk pada peristiwa nonkesenian. Kerap kita temukan dalam peristiwa sosial-politis, seseorang membaca puisi. Barangkali dalam kasus seperti itu puisi dianggap medium yang tepat untuk mengungkapkan kepedihan (anguish) atau pesan (message) politis tertentu.

Pada sisi lain fenomena “musikalisasi puisi” juga membawa penyair dan karyanya bertemu dengan publik yang lebih luas. Harry Roesli melakukan interpretasi musikal terhadap sejumlah puisi penyair 1990-an. Pada September 1997, Ari Malibu dan kawan-kawan meluncurkan album Akan Kemanakah Angin? yang memusikalisasikan puisi-puisi sejumlah penyair. Terdapat kelompok-kelompok musisi serupa di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta yang bersungguh-sungguh melakukan interpretasi musikal terhadap puisi-puisi penyair 1990-an dan membuka ruang bagi munculnya publik puisi penyair yang lebih luas dan beragam.

Nama-nama seperti Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Agus R. Sarjono, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Joko Pinurbo, Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, Soni Farid Maulana, Warih Wisatsana, untuk menyebut beberapa nama, dikenal publik yang lebih luas dibandingkan dengan para pendahulunya, seperti Slamet Sukirnanto, Ikranagara, bahkan Leon Agusta. “Publik yang lebih luas” yang saya maksud adalah publik yang muncul sebagai resonansi dari fenomena kegairahan berpuisi. Dari segi pemikiran sastrawi pun kita dapat melihat bahwa sejumlah esai penyair Agus R. Sarjono, misalnya, sama kuatnya dengan, dan kadang-kadang lebih kuat dari, pemikiran sastrawi penyair Sutardji Calzoum Bachri.

Juga terdapat kenyataan kecenderungan eksplorasi estetik yang dilakukan sejumlah penyair 1990-an telah melahirkan a new kind of poetry dan juga a new kind of audience.

Acep Zamzam Noor telah sejak lama menemukan dan memapankan puisi-puisinya yang saya sebut journey poetry dengan kualitas estetik yang tinggi. Puisi-puisi yang dia tulis ketika atau setelah melakukan perjalanan di luar negeri semakin memperlihatkan kematangan estetiknya.

Ahmad Syubbanuddin Alwy melakukan pengembaraan estetik yang konsisten dengan terus-menerus mengeksplorasi wilayah makna dari suatu pengetahuan religiusitas yang luas dengan kecintaan yang kuat pada pemilihan diksi dan medan simbolik kepedihan dan kesunyian. Kumpulan puisinya, Bentangan Sunyi (1996), dapat dikatakan sebagai representasi signifikan dari pengembaraan estetiknya. Pengenalan sepintas terhadap struktur dan performansi fisikalnya yang presence di mata publik sering membuat orang mengabaikan keseriusan dan kualitas estetik puisi-puisinya.

Afrizal Malna melahirkan puisi-puisi yang pada kemunculan pertamanya secara estetik sangat mengejutkan dengan spirit menemukan sensation of newness yang melahirkan sejenis puisi yang disebut-sebut “puisi Afrizalian”. Sensation of newness adalah istilah Baudelaire yang diperluas maknanya oleh Theopile Gautier, Paul Verlaine dan Sthepane Mallarm√©, yang dengan berbagai-bagai cara memutuskan hubungan dengan tradisi Romantik Eropa dan berusaha melakukan rekonstruksi bahasa yang subjektif yang di kemudian hari menjadi arus utama para pengarang modern seperti TS Eliot (puisi), Henrik Ibsen dan Luigi Pirandello (teater) dan muncul dalam novel-novel psikologis Dostoevsky yang dikemudian hari mempengaruhi karya-karya Joseph Conrad, Thomas Mann, Virginia Woolf, dan Franz Kafka.

Di Indonesia, rekonstruksi bahasa yang subjektif itu pernah dilakukan Armijn Pane (pada novel) dan Chairil Anwar (pada puisi) yang menandai penyebalan mereka berdua dari tradisi Pujangga Baru, “kaum Romantik yang terlambat”. Pada Chairil Anwar rekonstruksi itu dilakukan dengan menegakkan posisi individual dalam tradisi perpuisian modern. Tiga dekade kemudian, Sutardji Calzoum Bachri berusaha melakukan upaya yang serupa. Jika Sutardji berusaha melakukan sensation of newness itu melalui eksplorasi diksional dengan menggali khasanah mantra maka Afrizal Malna menggalinya dari psikologisme biografis manusia kosmopolit.

Agus R. Sarjono menulis puisi-puisinya dengan semangat mendamaikan gaya dan pengucapan estetik Chairil Anwar dan Goenawan Mohamad serta tradisi puisi Indonesia modern dengan tujuan menemukan bentuk pengucapan estetik baru. Kita dapat melihat upaya itu pada mukadimah kumpulan puisinya, Kenduri Airmata (1996): Di pelabuhan kecil senja hari kutemui lagi sajak Goenawan sunyi abadi dalam kristal kata. Tuhan, mengapa kita bisa bahagia pada hidup yang hanya menunda kekalahan dan Atmo Karpo yang terbunuh, meski Rendra jatuh cinta tak henti-henti pada Dik Narti. Terlalu hampir tetapi terlalu sepi tertangkap sekali terlepas kembali bagai Toto Sudarto Bachtiar menggoreskan Etsa bagi ibu kota senja dari sebuah negeri tempat matahari bersinar hanya pada malam hari dan Taufiq Ismail gelisah bermain pingpong dengan bola telur angsa…. Tuan, jangan ganggu permainan Sapardi sebab ada suatu kali tanganku akan jemu terkulai mainan cahaya hilang bentuk remuk…. Tetapi siapa yang melarang orang-orang Rangkasbitung itu bicara? Lihatlah semua seperti bunga di atas batu dibakar sepi bagai Sitor memanggil-manggil Toba dari Samarkand yang jauh hingga antara benua dan benua terbentang rindu samudera. Namun, makin menjauh dari cinta sekolah rendah….

Mukadimah ini dapat dipandang sebagai kredo atas penafsiran yang cerdas terhadap puisi Indonesia modern yang membawa Agus menemukan bentuk pengucapan estetik baru yang menjadi ciri khas puisi-puisinya di kemudian hari.

Puisi-puisi terakhir Joko Pinurbo memperlihatkan kecenderungan yang dihindari para penyair liris. Puisi-puisinya kaya dengan literasi humor yang cerdas, imajinasi yang liar, dan bersifat parodi. Membaca puisi-puisi Joko mengingatkan saya pada penyair parodi Inggris, D.J. Enright. Memasuki wilayah perpuisian seperti ini bukan sesuatu yang mudah. Enright sendiri menulis, “parodi sangat sulit untuk tidak ditulis tetapi menulisnya lebih sulit lagi.” Yang membedakan Joko dengan para penyair Indonesia terdahulu yang pernah membuat puisi-puisi serupa adalah cara berpikirnya yang ketat (rigorous). Sesuatu yang menjadi ciri khas para filosof. Waktu masih sangat panjang bagi Joko untuk mencoba memperkaya dan memperluas wilayah tematik karya-karyanya bagi suatu cara pandang estetik yang telah dipilihnya.

Soni Farid Maulana menulis puisi-puisi kritik sosial dalam cahaya pemikiran Rendra. Namun, pada puisi-puisinya yang kemudian, setidaknya dari yang terlihat dalam Impian Depan Cermin (1997), ia terlihat berusaha untuk kembali pada wilayah tematik yang benar-benar dialaminya dan dapat dikatakan bahwa ia telah menemukan bentuk dan pengucapan sendiri.

Sementara itu, puisi-puisi Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, dan Warih Wisatsana, memperkenalkan suatu cara pandang baru terhadap kosmologi dan tradisi Bali yang selama bertahun-tahun hanya dipandang sebagai entitas eksotik dan turistik. Puisi-puisi mereka memperlihatkan keseriusan yang teguh untuk menilai kembali segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan kosmologi dan tradisi Bali dengan cara yang kritis. Secara estetik, mereka juga telah menemukan bentuk pengucapan mereka sendiri.

Sembilan penyair yang disebutkan di atas merepresentasikan munculnya suatu generasi baru kepenyairan yang mencari dan menemukan pengucapan estetik mereka sendiri dan menempatkan mereka pada posisi yang menonjol (prominent) dalam kesusastraan Indonesia saat ini.

***

Kita menemukan pula kenyataan bahwa generasi baru publik pemerhati (a new kind of audience) puisi telah dilahirkan. Mereka rata-rata berusia muda dan terkadang terlihat nirkritis dalam pengertian akademis. Kita dapat menemukan mereka pada banyak peristiwa pembacaan puisi dan aktivitas kesenian pada umumnya.

Anatomi pendidikan mereka beragam, dari mulai lulusan perguruan tinggi, mahasiswa, santri, hingga pelajar sekolah menengah dan kejuruan. Begitu pula anatomi pekerjaan mereka, tersebar dari mulai artis-selebritis, eksekutif perusahaan, karyawan pabrik, guru, pegawai negeri, pemain sinetron, pedagang, atlet, dan sebagainya. Sebagian dari mereka melibatkan diri ke dalam berbagai-bagai komunitas komunitas sastra. Jumlah anggota komunitas-komunitas itu bervariasi dari hanya sekadar lima orang hingga puluhan orang. Mereka bukan saja pemerhati puisi tetapi dalam derajat tertentu telah menjadi “para pencinta puisi yang keras kepala”. Kita dapat menemukan mereka di banyak kota di Indonesia.

Tentu saja, untuk lebih jauh mengapresiasi situasi puisi dan penyair dalam kesusastraan Indonesia saat ini diperlukan suatu penelitian lebih jauh. Saya berharap tulisan ini dapat dipandang sebagai pendahuluan bagi penelitian dengan subjek yang sama. ***

(Media Indonesia, 19 April 1998)

Download postingan ini? Klik di sini

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook