Saturday, December 13, 2008

Novel Melati van Java

Dari Boedak Sampe Djadi Radja

Nama Untung Surapati tentu tidak asing lagi bagi kebanyakan orang. Meski mungkin tidak mengetahui persis secara detail siapa gerangan Untung Surapati, bagi mereka yang pernah mengecap bangku pendidikan formal, dipastikan pernah mendengar nama tersebut dari ilmu sejarah.

Kisah tentang Untung Surapati tidak hanya bisa ditemukan dalam buku-buku tentang sejarah Indonesia saja. Di dalam naskah kuno, setidaknya telah ditemukan tiga kisah kepahlawan Surapati, yaitu babad Surapati dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan Balambangan. Dan, dibandingkan dengan kisah-kisah peperangan "semasa" lainnya, sepak terjang Untung Surapati memiliki suatu keunikan. Kisah diwarnai berbagai tragedi dalam kehidupan pribadi Untung Surapati.

Seorang penulis bernama Melati van Java mengangkat kisah Untung Surapati dalam sebuah roman berbahasa Belanda. Roman tersebut berjudul Van Slaaf Tot Vorst, terbit pada tahun 1887. Melati van Java adalah nama samaran dari Nicolina Maria Sloot, seorang Belanda yang dilahirkan dan pernah menetap selama 18 tahun di Semarang. Selain Melati van Java, penulis lokal, Abdoel Moeis, juga mengangkat kisah tentang Untung Surapati dalam bentuk roman. Karya Melati van Java pada tahun 1898 terbit di tanah Hindia, diterjemahkan oleh FH Wiggers. Wiggers dikenal sebagai jurnalis peranakan Eropa yang memelopori produksi karya-karya sastra di negeri ini. Terjemahan dari Van Slaaf Tot Vorst, yaitu Dari Boedak Sampe Djadi Radja disebut-sebut sebagai karya terpenting dari FH Wiggers.

Kisah dimulai dengan tugas Oentoeng atau Soerapati pada tahun 1684 mencari pangeran Banten yang melarikan diri ke hutan di kawasan Gunung Gede, di tanah Preangan. Oentong adalah seorang budak pelarian yang ingin mengabdi kepada pemerintahan Belanda. Penyebabnya adalah ia telah jatuh cinta pada seorang nona Belanda bernama Suzanna (pada buku, nama ini memang tertulis Suzanna).

Akibat perbedaan status sosial, hubungan asmara Oentoeng dan Suzanna tidak mendapat restu. Ayah dari nona Suzanna, setelah mengetahui pernikahan diam-diam kedua sejoli tersebut, berusaha keras memisahkan. Suzanna dibuang ke sebuah pulau dekat Batawi, dan Oentoeng masuk bui. Kemudian, Oentoeng melarikan diri dari penjara dan sempat menjadi perampok sebelum akhirnya bekerja pada Belanda. Hanya satu keinginan Oentong, yaitu bisa diterima dengan layak di kalangan Belanda dan hidup bahagia bersama istri dan anaknya tercinta.

Setelah berhasil menemukan Pangeran Poerbaija dari Kerajaan Banten, jalan hidup Oentoeng berubah. Salah seorang istri Poerbaija, Raden Goesik Koesoema, jatuh cinta pada Oentoeng Soerapati. Berbeda dengan Oentoeng, Raden Goesik, putri Mangkoeboemi Amirang Koesoema dari kerajaan Karta-Soera, begitu membenci Belanda. Ia begitu kecewa ketika tahu Oentoeng begitu tunduk dan pasrah ketika dihina salah seorang serdadu rendahan Belanda. Akhirnya, setelah bersekongkol dengan Kiai Hemboong, orang tua kepercayaan Oentoeng, Raden Goesik berhasil memisahkan Oentoeng dan Suzanna. Ia pun akhirnya menjadi istri Oentoeng Soerapati. Raden Goesik jugalah yang akhirnya mengantar sang suami menjadi seorang raja.

Suzanna diceritakan mati muda. Anaknya dengan Oentoeng Soerapati, yaitu Robert, dipungut oleh keluarga Jacob van Reijn. Robert diceritakan jatuh cinta pada Digna yang ternyata adalah puteri dari Commissaris Toewan Tak yang tewas dibunuh Oentoeng Soerapati. Tak beda dengan kisah cinta Oentoeng dan Suzanna, Robert dan Digna juga sempat terpisah. Robert melarikan diri setelah mengetahui bahwa dirinya hanya anak pungut dan menjadi serdadu Belanda di tanah Hindia.

Intrik seputar peperangan dan politik juga mewarnai roman dua jilid ini, meski kalah bobotnya dengan kisah tragedi asmara maupun kehidupan Oentoeng Soerapati. Pemerintahan Kolonial Belanda diceritakan begitu berambisi untuk menguasai kerajaan-kerajaan besar. Kerajaan Mataram, Cirebon, dan Banten berhasil dikuasai ataupun dipecah Belanda. Kerajaan-kerajaan tersebut akhirnya menjadi boneka yang sedikit-banyak menguntungkan Belanda. Awalnya, Kerajaan Karta-Soera (pecahan dari Mataram) merupakan kerajaan yang anti-Belanda. Namun, dikisahkan kelemahan Soenan Karta-Soera, perempuan muda dan cantik, menjadi "senjata" ampuh Belanda dalam menguasai kerajaan tersebut. Oentoeng Soerapati, setelah dikhianati oleh sang Soenan, akhirnya mendirikan kerajaan sendiri bersama sang istri, Raden Goesik, dan pengikut- pengikut yang setia.

Pada beberapa edisi sebelumnya, dua roman sastra berbahasa non-Melayu Tinggi, yaitu Student Hidjo (Mas Marco Kartodikromo) dan Siti Akbari (Lie Kim Hok) pernah diulas sebagai buku yang juga "dilupakan". Kedua roman ini, termasuk Dari Boedak Sampe Djadi Radja, oleh beberapa kalangan disebut sebagai bacaan liar. Salah satu penyebab tergolong sebagai bacaan liar- seperti telah disinggung sebelumnya-karena bahasa yang digunakan dalam menuturkan cerita.

Kini, beberapa buku yang tegrolong bacaan liar tersebut bisa dinikmati dalam sebuah buku berjudul Antologi Sastra Pra-Indonesia yang disusun Pramoedya Ananta Toer. Kisah Dari Boedak Sampe Djadi Radja pun ada dalam buku ini, meski hanya berupa cuplikan. Dalam mengutip cerita, Pramoedya tidak mengubah bahasa yang digunakan sehingga pembaca tetap bisa menikmati bahasa Melayu Rendah. Setidaknya, kini ada upaya menyelamatkan roman sejenis Dari Boedak Sampe Djadi Radja yang telah sekian lama "tenggelam".

diambil dari http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0308/16/pustaka/493021.htm

Download? Silakan klik di sini

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook