Friday, September 26, 2008

Kritik Puisi Joko Pinurbo

Joko Pinurbo, Surealisme Ranjang, Celana dan Boneka
Oleh Cecep Syamsul Hari


Antara 1999-2004, Joko Pinurbo telah menerbitkan empat kumpulan puisi yang menarik perhatian, yaitu: Celana, Di Bawah Kibaran Sarung, Sajak-sajak 2001, dan Telefon Genggam.[12] Akan tetapi, sejauh yang dapat saya amati, hingga saat ini kumpulan puisi Celana Joko Pinurbo-lah yang meninggalkan kesan lebih kuat di dalam benak kebanyakan pembaca dibandingkan kumpulan sajaknya yang lain. Trilogi sajak Joko, “Celana 1”, “Celana 2”, dan “Celana 3” misalnya, meraih Sih Award (Anugerah Jeihan) 2001, dan kumpulan puisi Celana itu sendiri memenangkan Hadiah Sastra Lontar 2001. Celana Joko bahkan pergi berkelana jauh keluar dari habitatnya dan pengaruhnya sampai hingga ke pedalaman negeri kanguru. Seorang penyair Australia yang juga peneliti, Ian Campbell, menulis puisi tentang celana yang didasarkan pada Celana Joko Pinurbo.

Membaca kembali puisi-puisi dalam Celana Joko Pinurbo, mengingatkan kita pada manifesto yang diterbitkan André Breton yang menyatakan bahwa kesenian harus berasal dari alam bawah sadar dan oleh karena itu seniman harus mendapatkan ilham sebebas-bebasnya dari imaji-imaji impiannya dan berusaha mencapai “super-realisme” tempat antara batas-batas mimpi (dunia di dalam bawah sadar) dan kenyataan (dunia di dalam kesadaran) melebur. Seniman pun diasumsikan sebagai seseorang yang memiliki kapabilitas untuk menembus sensor dari kesadaran dan membiarkan kata-kata dan imaji-imaji itu bermain dengan bebas.

Sebagaimana kita ketahui, André Breton adalah penyair dan esais Perancis yang memelopori gerakan Surealisme. Di bawah bayang-bayang puisi Simbolis dan psikiatris, pada 1924 ia menerbitkan Manifeste du surréalisme, dari mana kata “surealisme” berasal.

Dalam konteks pemikiran Bretonian itulah dapat dikatakan bahwa imaji-imaji mimpi adalah nafas puisi-puisi Joko Pinurbo. Di tangannya imaji-imaji mimpi itu dengan lentur telah dibentuknya menjadi sistem simbolik, dan dalam kumpulan puisinya, Celana (1999), dapat ditemukan pada simbol-simbol kunci (key symbols): ranjang, celana, dan boneka.


Di tangan Joko Pinurbo, ranjang muncul sebagai sistem simbolik dari suatu bentangan perjalanan makna “aku dalam puisi”, dalam suatu kenyataan lateral dan jungkir-balik: kelahiran dan kematian, profan dan spiritualitas, bayangan diri dan bayangan Tuhan, dunia kini-di-sini dan dunia kelak-di-sana. Seluruh kenyataan itu ditarik Joko ke dalam bawah sadar, tempat ia memposisikan dirinya sebagai penafsir tunggal atas mimpi yang menjadi bahasa bawah sadar itu sendiri: Beginilah jika ada yang lancang mengusik, jagad mimpiku yang tenteram. Hanya aku penguasa di wilayah ranjang (“Ranjang 7”).

Dalam sistem simbolik Joko Pinurbo, ranjang bukan semata-mata benda mati (yang selain berfungsi sebagai tempat orang tidur juga kadang-kadang menjadi tempat orang mati) tetapi menjadi bayangan diri (psike) dari suatu referensi eskatologis asal-muasal manusia: Pada suatu petang ia datang ke taman yang terhampar hijau di atas ranjang…. Ia perempuan gila, dulu pernah memperkosa Adam dan menghabisinya di atas ranjang (“Ranjang 10”). Ranjang adalah tempat “aku dalam puisi” bukan saja melakukan refleksi atas relasi intersubjektivitas: Waktu itu tengah malam. Kau menangis. Tapi ranjang mendengarkan suaramu sebagai nyanyian (“Ranjang 1”); melainkan juga refleksi atas relasi gender: Ranjang bergoyang sepanjang malam. Mungkin sepasang nyawa, sepasang singa sedang bertempur. Atau sepasang maut sedang perang…. Padahal cuma ada sepasang celana terongok putih di bantal hitam (“Ranjang 9”); Memang ada yang masih bermukim di ranjang: merawat ketiak, mengurus lemak, dan dengan membelalak ia membentak, “Pergi. Tak ada seks di sini.” (“Ranjang 11”).

Ranjang juga adalah ibu (muasal) dari maut, waktu dan usia: Ranjang meminta kembali tubuh yang pernah dilahirkan dan diasuhnya dengan sepenuh cinta (“Ranjang 6”); Demikianlah di subuh yang hening itu kami pergi ke pelabuhan, melepas ranjang kami yang tua berangkat berlayar ke laut yang luas dan terang. Waktu dan usia seperti perjalanan sebuah doa ketika ranjang kami yang reyot dan renta bergoyang-goyang bagai tongkang, bagai keranda, terhuyung-huyung dan terbata-bata, mencari tanah pusaka yang jauh di seberang sana (“Ranjang 8”).

Di dalam sistem simbolik Joko Pinurbo, ranjang juga adalah fase dari suatu perjalanan menuju kematian: Jauh nian perjalanan di atas ranjang.... Kau mengambang, melayang, seperti bayi terlelap dalam ayunan ranjang (“Ranjang 3”). Bahkan, bukan hanya perjalanan menuju kematian melainkan juga dunia di seberang kematian: Kaulah perahu ke teluk persinggahan. Sampai di seberang tubuhmu tinggal tulang belulang dan perahumu tertatih-tatih sendirian pulang ke haribaan ranjang (“Ranjang 4). Dunia di seberang kematian itu sesuatu yang hanya dapat kita fantasikan: Ranjang kami telah dipenuhi semak-semak berduri. Orang-orang menyebutnya firdaus yang dicipta kembali oleh keturunan orang mati. Tapi kami sendiri lebih suka menyebutnya dunia fantasi (“Ranjang 2”). Dan perjalanan terakhir ke dunia fantasi kita itu barangkali adalah perjalanan dalam bayangan Tuhan atau Imago Dei sendiri: Maut sudah kosong ketika mereka hendak menculik mayatnya. Hanya ada seorang perempuan sedang membersihkan salib di sudut ranjang. “Ia sudah pergi ke kota,” katanya, “dan kalian tak akan bisa lagi menangkapnya.” (“Ranjang 12”).

Di tangan Joko Pinurbo pula boneka dan celana berubah menjadi sistem simbolik yang cerdas untuk mengungkapkan dengan cara surealistis karakter-karakter kontradiktif, situasi batas, absurditas, dan hipokritas manusia di dalam dirinya maupun di dalam relasinya dengan orang lain. Jika selama ini karakter-karakter tersebut direpresi ke bawah sadar dan tinggal dalam kegelapan serta sesekali muncul sebagai mimpi, maka Joko terjun ke dalam kegelapan itu untuk mengeluarkan kembali karakter-karakter itu ke tempat yang terang.

Pengungkapan kontradiksi, situasi batas, absurditas dan hipokritas manusia ini lewat sistem simbolik boneka diungkapkan Joko dalam sajak “Boneka 1-3” sebagai berikut: Setelah terusir dari negerinya sendiri, pelarian itu akhirnya diterima oleh sebuah keluarga boneka…. “Saya dari negeri yang pemimpin dan rakyatnya telah menyerupai boneka. Saya tidak betah lagi tinggal di sana karena saya tetap ingin menjadi manusia.” (“Boneka 1”); Rumah itu sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Ia minggat begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun kepada boneka-boneka kesayangannya…. Pemilik rumah itu akhirnya pulang juga. Ia masuk begitu saja, namun boneka macan yang perkasa dan menyeramkan itu menyergahnya. “Maaf, Anda siapa, ya?” (“Boneka 2”); Kami pun berpotret bersama. Monyetku menyuruhku berdiri paling tengah. “Kau yang paling ganteng di antara kami,” siamang berkata. “Siapa yang paling lucu di antara kita?” monyet bercanda. “Yang di tengah,” lutung berkata. “Ia tampak kusut dan murung karena bersikeras hidup di alam nyata,” gorila berkata. Mereka semua tertawa (“Boneka 3”).

Lebih jauh, lewat sistem simbolik celana semua unsur hipokritas manusia ditelanjangi Joko habis-habisan dalam trilogi “Celana”. Untuk melukiskan hal itu salah satu dari trilogi itu, yaitu “Celana 1” dipetik utuh sebagai berikut: Ia ingin membeli celana baru buat pergi ke pesta supaya tampak lebih tampan dan meyakinkan. Ia telah mencoba seratus model celana di berbagai toko busana namun tak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Bahkan di depan pramuniaga yang merubung dan membujuk-bujuknya ia malah mencopot celananya sendiri dan mencampakkannya. “Kalian tidak tahu ya, aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan.” Lalu ia ngacir tanpa celana dan berkelana mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan, “Ibu. Kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?”

Perjalanan pulang-pergi mimpi dan kenyataan, under-consciousness dan consciousness, tampaknya bukanlah perjalanan yang menegangkan bagi Joko Pinurbo. Ini dimungkinkan karena kemampuan cara berpikir deduktifnya untuk menjungkir-balikkan logika didampingi kemampuan artistiknya menggunakan pendekatan parodi yang memunculkan suasana dari suatu wacana estetik surealisme yang satir tetapi cerah.

Seorang penyair Inggris kontemporer, D.J. Enright[13], pernah mengatakan bahwa parodi sangat sulit untuk tidak ditulis tetapi menulisnya lebih sulit lagi. Itulah sebabnya kenapa hanya sedikit penyair yang menggunakan pendekatan ini dalam menulis puisi. Puisi parodi yang berhasil akan mengendap dalam benak pembacanya seraya tetap membiarkan puisi itu sebagai ruang bagi berbagai-bagai kemungkinan pemaknaan dan penafsiran. Sebaliknya, puisi parodi yang gagal, apabila nasibnya masih cukup baik, akan dianggap sebagai black-comedy, dan apabila nasibnya jauh lebih buruk, akan diingat sebagai semata-mata puisi bertendensi humor dan menutup ruang bagi pemaknaan dan penafsiran lebih jauh.

Pada sisi yang lain, wacana estetik puisi-puisi Joko Pinurbo dapat dikatakan sebagai hasil dari suatu proses amplifikasi[14], yaitu suatu proses mengolah dan menjelaskan imaji mimpi melalui penggunaan asosiasi yang terarah dengan merangkaikan ide-ide, penglihatan-penglihatan, dan lain-lain, menurut kemiripan, hukum kebersamaan, perlawanan, dan ketergantungan sebab-akibat. Sistem simbolik yang dibangun dari tradisi berpikir yang ketat dan wacana estetik yang didasarkan pada proses amplifikasi itu melapangkan jalan bagi pendekatan parodi yang dipilih Joko Pinurbo dalam proses kreatifnya. Humor dan kelucuan tetap dipelihara sebagai efek, dan tidak dijadikan sebagai substansi puisi-puisinya. Itulah yang menyebabkan kenapa, misalnya, makhluk boneka dan makhluk manusia, celana dan Columbus, burung dan Stephen Hawking, dapat hidup berdampingan secara harmonis dan damai dalam wilayah estetika puisi-puisinya. ***
(Kompas, 12 Juni 2005)


Ingin download tulisan ini, silakan klik di sini

Thursday, September 25, 2008

Poligami

Poligami
Cerpen PUTU WIJAYA


Di akhir 2006, sebuah SMS muncul di HP hampir semua orang:

"Banyak jalan untuk mencari pahala, kenapa harus berpoligami. Karena pasti ada yang tersakiti. Dan adil hanyalah milik Allah serta para nabi. Hilang sudah teladan suami yang setia di mata ibu-ibu. Masih pantaskah kita mendengar ceramahnya tentang keluarga sakinah? (Gerakan ibu-ibu antipoligami, tolong sebarkan lagi pada ibu-ibu yang lain)."

Ami buru-buru meneruskan pesan itu ke teman-temannya. Pernikahan dai kondang Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dengan Alfarini Eridani (37 tahun) memang telah menjadi badai di kalangan perempuan. Kaum ibu marah, beringas, ngomel dari pagi sampai malam hingga para suami kebingungan.

Pernikahan itu seakan-akan mengguncang semua rumah tangga, karena bisa jadi lampu hijau bagi suami mereka. Sebelum kena getahnya, mereka pun berteriak.

"Kalau itu terjadi, aku benar-benar tak siap, Kang!"

"Lebih baik aku mati daripada dimadu, Bang!" kata seorang istri sambil melotot kepada suaminya.

Memang konon Teh Ninih, istri Aa Gym yang pertama menerima peristiwa itu dengan lapang dada. Sebuah koran ibu kota mengutip komentarnya:

"Ternyata setelah Aa Gym menikah... luar biasa, tidak seperti yang selama ini ditakutkan orang."


Istri beranak 7 yang dimadu itu pun konon menambahkan bahwa ia telah menerima banyak sekali SMS yang isinya sebagian besar mendoakan agar dia sebagai istri bisa bersikap ikhlas atas perkawinan kedua suaminya. "Yang berat dirasakan sejak lima tahun yang lalu itu, ternyata tidak terjadi," katanya sambil tertawa kecil.

Ami kemudian menunjukkan SMS itu kepada bapaknya.

"Apa komentar Bapak?" tanya Ami.

Amat, bapak Ami, membaca SMS itu berulang-ulang.

"Kok mikir Pak?"

Amat tersenyum.

"Lho kok senyum?"

Amat tertawa.

"Bapak ketawa melihat nasib perempuan diperlakukan semena-mena seperti itu? Terlalu!"

Amat cepat-cepat memotong.

"Ami, aku berpikir, tersenyum, dan, kemudian, tertawa karena aku prihatin."

"Prihatin terhadap nasib perempuan di negeri kita ini? Atau bersimpati pada kedudukan perempuan di seluruh dunia? Bagus!"

Amat kembali mesem.

"Prihatin terhadap nasib manusia di negeri ini. Karena semakin jelas bahwa kita tidak mampu berpikir yang jernih. Tidak bisa berpikir proposional!"

"Maksud Bapak?"

"Maksudku, coba dengarkan baik-baik, Ami. Renungkan dengan mendalam dan tenang, jangan pakai emosi. Kita ini 'kan masih dikepung oleh berbagai bencana dahsyat. Lumpur Lapindo belum beres, di Kalimantan ada lagi lumpur panas muncrat. Masalah pajak, kebakaran hutan, sejumlah menteri memberikan jaminan terhadap bekas menteri yang ditahan karena diduga korupsi. Masalah RUU APP yang juga tak jelas bagaimana penyelesaiannya. Begitu banyak soal. Kenapa ada orang kawin saja kita kok sudah ribut tidak ketulungan? Memangnya enggak ada soal lain? Itu 'kan soal tempat tidur orang lain? Masalah pribadi? Kok kita jadi ikut sewot?"

Ami ternganga.

"O, jadi Bapak setuju?!"

Amat cepat senyum lagi.

"Rasanya kamu belum menangkap apa yang Bapak katakan!"

"Ah, apaan! Ami menangkap! Bahkan mengerti semua yang belum Bapak katakan! Itu semua memang reaksi rata-rata laki-laki yang menganggap semua penderitaan perempuan adalah lelucon!"

"Sabar, Ami."

"Sabar apa! Bagaimana bisa sabar kalau bapakku sendiri setuju dengan poligami!? Ya? Bapak setuju?!"

"Bukan begitu Ami. Coba tenang dulu. Coba baca dengan pikiran waras beritanya. Yang kawin lagi itu 'kan nampaknya sudah lama memikirkan hal itu bersama keluarganya. Dan setelah kawin lagi, dia berjanji akan bersikap adil. Lagipula istrinya 'kan sudah menerima dengan lapang dada. Di samping itu, banyak SMS yang bukannya menghujat tetapi malah mengajak istri yang dimadu itu berjiwa besar! Jadi...."

"Nah betul dugaan Ami, Bapak setuju poligami!"

"Bukan soal setuju atau tidak, kamu keliru Ami. Ini 'kan persoalan pribadi mereka yang kawin itu. Tidak bisa kemudian kebahagiaan kita yang dijadikan ukuran. Kalau orangnya senang-senang saja, kenapa jadi kita yang repot?"

"Karena ini bukan hanya persoalan mereka, ini adalah juga persoalan kita. Persoalan dunia! Dan persoalan Ibu!"

Amat terkejut.

"Ibu?"

"Ya! Ibu menangis ketika membaca berita ini. Bapak tidak tahu?"

"Ibu kamu menangis?"

"Bercucuran air mata!"

Amat nampak bingung.

"Masak Bapak tidak tahu?"

Amat menggeleng lemah.

"Lho, kenapa sampai tidak tahu?"

"Kenapa? Ya, Bapak 'kan tidak mau kawin lagi?!"

"Memang! Tapi jangan lupa, kalau yang berbuat itu adalah tokoh masyarakat, figur publik, maka seluruh tindakannya akan secara langsung menyangkut perasaan kita semua. Itu bedanya antara orang biasa dan pemimpin. Orang biasa bebas berbuat apa saja, sebab dia tidak merupakan panutan. Tapi seorang tokoh masyarakat, salah ngomong saja dia bisa bikin sakit hati semua orang. Itu presiden Bush pernah salah ngomong waktu menara kembar rontok, langsung dunia marah dan menghardik, sampai dia bilang maaf. Benar tidak?"

Amat mengangguk.

"Makanya! Kalau mau seenak perut sendiri, jangan menjadi tokoh masyarakat. Kalau mau jadi tokoh masyarakat, harus berani memikul perasaan seluruh rakyat, jangan seenak udel sendiri! Itu pelajaran SD, masak seorang panutan masyarakat tidak tahu?"

Amat termenung, lalu menjawab lirih.

"Tapi, itu berarti tidak manusiawi, Ami?"

"Apa?!"

"Aku bilang tidak manusiawi."

"Maksud Bapak?"

"Seorang pemimpin 'kan juga manusia, manusia biasa seperti penyanyi rock itu?"

Ami langsung meledak.

"Tidak! Siapa bilang!"

"Lho, berarti kamu sendiri sudah tidak manusiawi lagi Ami. Apa hak kamu menghukum pemimpin itu bukan manusia biasa?"

Ami tambah jengkel.

"Bapak jangan debat kusir! Takaran kemanusiaan seorang pemimpin beda dengan ukuran kemanusiaan rakyat jelata yang tak punya tanggung jawab! Kalau rakyat ukurannya hanya satu digit, pemimpin bisa seratus digit atau seribu bahkan sejuta digit. Kalau rakyat tidak boleh bicara kasar, pemimpin pun jangankan bicara kasar, berperasaan kasar yang tidak diucapkan pun salah!"

"Wah itu diskriminatif namanya Ami!"

"Memang! Karena itu susah jadi pemimpin. Tidak sembarang orang bisa memimpin. Yang tidak memenuhi syarat langsung rontok karena proses seleksi alam."

"Itu tidak adil Ami."

"Keadilan itu berlapis-lapis sesuai dengan kapasitas manusia, Pak. Itu dia yang tidak dipahami oleh para pemimpin kita. Sebab kualitas mereka hanya rata-rata. Para pemimpin kita semua masih terlalu sayang sama perasaan-perasaannya sendiri, padahal dia sudah menjadi idola. Kalau begini caranya, seorang pemimpin besar seperti Gandhi tidak akan pernah lahir di Indonesia. Kita akan terus menjadi anak ayam yang kehilangan induk!"

Amat mau menjawab lagi, tapi Ami langsung membentak.

"Sudah! Ami sudah tahu apa yang Bapak simpan dalam hati. Dan Ibu juga tahu!"

Ami berbalik dan pergi.

Amat terkesima. Kata-kata Ami itu sangat menggetarkan. Badannya gemetar. Ia cepat menoleh kanan dan kiri lalu diam-diam mengeluarkan dompetnya. Sambil membalikkan badan ke arah tembok, ia lalu memeriksa dengan teliti.

Muka Amat pucat-pasi setelah mengetahui yang dicarinya tak ada lagi di situ. Keringat dingin segera berleleran. Seperti cacing kepanasan Amat memeriksa lagi dengan lebih teliti. Ia menumpahkan seluruh isi dompetnya. Tapi yang dicari sudah hilang.

Tengkuk Amat basah. Ia melirik ke arah dapur. Terdengar bunyi air mendidih di teko. Amat segera berbalik hendak pergi ke kamar. Tetapi begitu hendak melangkah, Bu Amat sudah menghadang di depannya.

"Aduh, jantungku!" teriak Amat terkejut.

Bu Amat tersenyum.

"Kalau dibiasakan terkejut, memang nanti jantung lama-lama bisa kuat, Pak," kata Bu Amat sambil tertawa kecil.

Amat takjub memandang istrinya.

"Ibu kok ketawa?"

"Habis, apa lagi yang bisa dilakukan oleh seorang istri yang mencintai suami dan anaknya, kalau suaminya memang menghendaki itu? Perempuan 'kan hanya akan bisa tersenyum dan tertawa."

Peluh dingin tambah deras mengucur, telapak tangan Amat ikut basah. Apalagi ketika Bu Amat mengulurkan foto janda kembang genit di samping rumah yang telah menggoda Pak Amat. Tangan Amat gemetar menerima foto itu.

"Fotoku dan Ami tidak pernah Bapak simpan di dompet seperti ini. Ya 'kan Pak? Kalau sebelum dinikahi saja tak mampu berbuat adil, apalagi kalau sudah dinikahi!"

Bu Amat tersenyum, menepuk pundak suaminya, lalu kembali ke dapur.

Amat menatap kelu. Foto di tangannya terasa membakar. Lalu ia melihat seakan sekujur tubuh istrinya basah oleh air mata karena hatinya luluh.

Ami menghampiri bapaknya.

"Jadi Bapak akan mengikuti jejak?"

Amat menyabarkan perasaannya.

"Ini tidak adil Ami."

"Tidak adil bagaimana? Sudah jelas foto janda itu ada di dompet Bapak."

"Tapi, foto ibu kamu juga bertahun-tahun aku taruh di dompetku dulu, sebelum kami menikah."

"O ya?"

"Ya. Bahkan bukan hanya satu foto. Sampai sepuluh foto. Zaman dulu dompet itu besar-besar. Foto ibu kamu yang bapak simpan itu juga semua ukuran kartu pos."

Ami mengangguk.

"Ya kalau 22 tahun yang lalu saja 10 foto Ibu Bapak simpan di dompet dengan ukuran kartu pos, sekarang 'kan mestinya sudah ratusan bahkan ribuan. Kok masih ada tempat buat foto janda itu?"

Amat tak bisa menjawab. Ami pun tak perlu jawaban. Ia tersenyum lalu meninggalkan Amat. Lelaki itu jadi salah tingkah. Seakan-akan mata istrinya mengintip dari dapur, Amat lalu membuang foto janda itu ke tempat sampah.

Malam hari di meja makan, Amat mencoba memperbaiki kesalahannya. Ia mulai hendak berkicau memberikan alasan kuat, mengapa foto janda itu tersesat ke dompetnya. Itu adalah ulah salah seorang koleganya yang memang mau bikin lelucon yang tidak lucu.

Tapi belum sempat ngomong, Ami sudah mendahului memukul.

"Ami tadi sudah riset satu harian di lingkungan kita ini," kata Ami sambil tertawa kecil. "Jadi di samping janda yang cantik itu, masih ada lagi janda lain yang beranak tujuh. Hidupnya sangat susah. Ia benar-benar memerlukan perlindungan, karena usianya sudah manula. Ada juga yang masih perawan, tapi kurang diurus keluarganya karena tergolong autis, jadi hidupnya pasti akan merana. Barangkali Bapak bisa memasukkannya ke dalam nominasi. Tinggal pilih mau perawan tapi autis, atau yang beranak tujuh tapi manula, atau tetap janda cantik yang sebenarnya hidupnya sudah makmur itu, biar kita ikut makmur?"

Amat terpaksa tertawa lebar untuk menutupi malu.

"Sudahlah, lupakan soal foto itu, itu 'kan olok-olok kawan bapak yang mau bercanda. Nih lihat apa yang ada di dompet bapak sekarang," kata Amat sambil menunjukkan dompetnya yang berisi foto Bu Amat dan Ami.

Tapi begitu Amat menggeber dompetnya, Bu Amat berteriak.

"Aduh kenapa dibuang ke tong sampah orang cantik begini!"

Bu Amat muncul sambil membawa foto janda yang tadi dibuang Amat.

"Kenapa dibuang ke tong sampah Pak? Kasihan, apa salahnya orang cantik. Kecantikan itu 'kan karunia yang harus disyukuri? Mbok simpan di dompet lagi. 'Kan sudah bagus di situ."

"Tidak bisa!"

"Kenapa?

Amat menggeber dompetnya ke arah istrinya.

"Karena di sini sudah ada kamu dan Ami!"

Bu Amat tertegun. Ia memandangi potret itu. Amat tersenyum lebar, berharap akan dapat pujian. Tetapi tiba-tiba di luar perhitungannya, muka istrinya berubah. Merah padam dan menyemprot.

"Potretku hanya kebagian tempat di dalam dompet? Ih! Puluhan tahun aku hidup menemani Bapak, mengurus rumah, mengurus anak. Hadiahnya hanya jadi pajangan di dompet! Itu tidak adil!"

Amat terkejut.

Bu Amat merebut dompet itu dari tangan Amat. Sebelum sempat dicegah, tangan wanita itu sudah merenggutkan foto itu, lalu membentak dengan suara keras.

"Ini tidak adil! Harusnya tempatku sudah ada di dalam sini!"

Bu Amat meletakkan foto itu di dada Amat.

"Jauh di dalam sana sehingga tidak bisa dijangkau lagi!!!"

Sambil menghentakkan kaki, Bu Amat kemudian melangkah ke ruang tengah dengan kesal. Ami mengambil foto janda itu dan kemudian memasukkannya ke dompet Amat.

"Berarti Ibu tidak berkeberatan kalau tempatnya di sini, hanya saja harus ada jaminan foto Ibu dan fotoku ada di ruang dalam dada Bapak!"

Ami kemudian membanting foto itu ke meja, lalu mengikuti ibunya. Amat tak mampu mengatakan apa-apa. Tak lama kemudian dia mendengar televisi disetel keras-keras. Lagu dangdut menghempas keras seperti hendak meletupkan ruangan.

Amat berpikir keras. Perlahan-lahan kemudian ia menyusul ke ruang tengah. Istri dan anaknya duduk bersebelahan, memandang ke layar televisi. Tetapi Amat tahu pikiran mereka tertuju ke arahnya.

Amat mendekati pesawat tv lalu mematikannya. Setelah menarik nafas panjang, ia menatap anak istrinya dan berkata lirih.

"Aku bersyukur. Anak istriku marah dan menentang, hanya gara-gara sebuah foto. Apalagi kalau aku benar-benar mau poligami. Itu berarti aku sangat berharga. Masih cukup berharga dan berguna. Aku terharu dan bangga karena dipertahankan. Aku merasa diriku sekarang berarti lagi dan dicintai. Terimakasih. Memang kalianlah, istri dan anak yang harusnya bertindak tegas, sebelum seorang lelaki tersesat."***
Jakarta, 14 Desember 2006

Source: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/122006/16/khazanah/index.html

Tuesday, September 23, 2008

Naskah Monolog Theo: Patung Penjaga

Patung Penjaga

Naskah Monolog karya Theo Adimas
Kelas XII Bahasa



Patung penjaga yang merupakan simbol dari keadilan dan keamanan berdiri tegak di tengah dengan tulisan “INI ADALAH PERLAMBANGAN DARI NIAT KAMI UNTUK MENJALANKAN TUGAS SEJUJUR – JUJURNYA DALAM MENJAGA HUKUM DAN KEAMANAN”.

(suara angin dan hewan-hewan yang menunjukkan suasana malam hari)

Patung penjaga perlahan-lahan bergerak dan turun dari tempatnya. Mulai berjalan. Melihat sekelilingnya kemudian duduk ditempatnya tadi berdiri.

Patung penjaga : Huaah, akhirnya sudah malam lagi! (melihat keatas sambil menggerak-gerakkan tubuh dan tangannya)

Patung penjaga : hari ini benar-benar hari yang aneh. Yah, sesungguhnya sudah tidak aneh lagi sih untukku. Sudah cukup sering terjadi di sini (terlihat tidak suka)

Patung penjaga : orang minta keringanan hukuman, minta dibebaskan, minta jaminan keamanan, dan bahkan memaksa bebas dengan caranya pun ada (mulai berdiri dan berjalan-jalan)

Patung penjaga : Padahal jelas mereka menempatkan aku disini sebagai simbol. “Inilah perlambangan dari niat kami untuk menjalankan tugas sejujur-jujurnya dalam menjaga hukum dan keamanan.” Itu yang mereka katakan saat meletakkanku disini (terlihat mengenang dan kemudian tampak kecewa)

Patung penjaga : huh, niat!? Niat apa? Niat yang mana? (tampak kesal dan duduk kembali)

Patung penjaga : Keadilan dan keamanan, memang aku ada untuk melambangkan hal itu. Yah, terkadang memang aku bisa dibuat bangga. Seperti yang terjadi di pagi hari tadi.
(musik berbunyi)

Berganti pakaian dengan jas. Berjalan dengan tegap dan tampak meyakinkan sebagai pengusaha dan pejabat yang baik.

Berhenti di depan tempat patung berdiri dan berbicara dengan pejabat pelaksana kantor tersebut .
Pejabat Luar : Selamat pagi, Pak! (mengulurkan tangan)

Pejabat Luar : Bagaimana kabar kau?

Pejabat Luar : Ya, ya! Aku dan keluargaku cukup baik. Kecuali anakku yang satu itu. Tentu kau tau kan masalah ini.

Pejabat Luar : untuk itulah aku menyempatkan diri untuk bertemu denganmu dan aku yakin kau pun pasti mengerti.

Pejabat Luar : Ya aku tahu memang ada anakku di pengeroyokan itu tapi belum tentukan dia dalangnya.

Pejabat Luar : Ayolah kita kan sudah lama kenal dan kau cukup mengenal anakku juga kan.
(tampak bingung dan melihat kearah patung)

Pejabat Luar : ah, kenapa kau ini?

(melihat kearah patung lagi)

Pejabat Luar : Ayolah! Tak perlu kau kawatir seperti itu, itu hanya patung.

Pejabat Luar : benar, memang itu symbol kantormu tapi dia tak bisa gebuk kepalamu! Tenanglah!

Pejabat Luar : aku tau tindakannya memang mengganggu keamanan tapi kau bantulah aku.
(bingung dan melihat ke patung lagi)

Pejabat Luar : Ah! Jadi kau memang tak mau bantu aku!

(suara angin dan hewan-hewan yang menunjukkan suasana malam hari)

Patung Penjaga : ya! Kadang-kadang aku dibuat bangga dengan petugas yang seperti itu.

Patung Penjaga : Memang keadilan itu mutlak dan karena itulah ada hukum di negara ini.(berdiri)

Patung Penjaga : dengan begitu maka keamanan pun akan terjamin.
(kembali duduk)

Patung Penjaga : Tapi… benarkah aku bisa bangga berdiri di sini?

Patung Penjaga : hari ini saja… baru pagi hari aku dibuat bangga lalu sore ini….

(Musik berbunyi)
Berganti pakaian dan membawa tas kerja berjalan ke dalam panggung kemudian berhenti di depan patung.
Pejabat Pelaksana : Huahh, akhirnya pulang juga!

Pejabat Pelaksana : benar-benar hari yang melelahkan!

Pejabat Pelaksana : Waduh, kok bapak balik lagi? (terkejut)

Pejabat Pelaksana : kan sudah saya bilangin tadi pagi, pak! saya tidak bisa membantu anak anda karena urusanya rumit.

Pejabat Luar : tapi aku percaya kau pasti bisa bantu aku.

Pejabat Pelaksana : Bantu gimana? Kan sudah saya terangkan kalau untuk mengurus itu prosedurnya rumit.

Pejabat Luar : dan prosedur itu kau yang menjalankan kan? Jadi pasti bisa kau atur!

Pejabat Pelaksana : administrasi yang harus diurus sangatlah rumit pak! anda harus mengerti itu.

Pejabat Pelaksana : berbagai macam administrasi harus diselesaikan. Lagi pula…. (melihat ke arah patung)

Pejabat Luar : Kalau begitu kau uruslah! Kenapa kau tampak takut pada patung itu? Itu cuma patung.

Pejabat Pelaksana : dan itu sebuah lambang!

Pejabat Luar : kesini kau (meminta pejabat pelaksana mendekat)

Pejabat luar : kau bilang tadi masalah administrasi kan? Bagaimana dengan ini? (menyerahkan bungkusan pada pejabat pelaksana)

Pejabat Pelaksana : ini…ini….ini untuk saya? (setelah melihat isi bungkusan sambil terus melirik ke patung)

Pejabat Pelaksana : Tidak.

Pejabat Pelaksana : eh…maksud saya tidak kurang. Ya, ini cukup untuk administrasi. (kembali melirik ke patung)

Pejabat Pelaksana : ya, memang hanya sebuah patung.

Pejabat Pelaksana : mitos patung itu mengawasi paling cuma untuk menakut-nakuti saja.

(suara angin dan hewan-hewan yang menunjukkan suasana malam hari)

Patung penjaga : Cuh! Niat apa? Niat yang mana? (marah)

Patung penjaga : Sampah semua! Untuk apa aku diletakkan disini kalau begitu.

Patung penjaga : Benar-benar memalukan!

Patung penjaga : sejujur-jujurnya dalam menjaga hukum dan keamanan?

Patung penjaga : Omong kosong!

(suara ayam berkokok)

Patung penjaga tampak kaget dan bingung. Naik kembali ke tempat patung dan tampak ragu untuk tetap berdiri tegap seperti biasanya. Memunggut spidol yang tergeletak di depanya dan menambahkan tulisan “dahulu” di tempatnya berdiri menjadi “DAHULU INI ADALAH PERLAMBANGAN DARI NIAT KAMI UNTUK MENJALANKAN TUGAS SEJUJUR – JUJURNYA DALAM MENJAGA HUKUM DAN KEAMANAN”. Kemudian patung terdiam dalam posisi tampak malu.

Download naskah ini KLIK di sini
Naskah drama yang lain? Klik di sini

Sunday, September 21, 2008

Kritik Puisi Subagio Sastrowardoyo

Subagio Sastrowardoyo, Menulis Sepi pada Tepi yang Tak Mungkin Lagi Kembali

Oleh Cecep Syamsul Hari

Apakah tujuan pokok seorang seniman? Seperti yang ditulisnya dalam Mengapa Saya Harus Menulis Sajak,[8] Subagio Sastrowardoyo memberi jawaban seperti ini: Menciptakan nilai-nilai seni yang kekal yang sanggup bertahan menghadapi pertimbangan-pertimbangan estetik yang berubah-ubah menurut perbedaan waktu.

Ada dua frase kunci dalam pernyataan Subagio itu; yang pertama nilai seni, dan yang kedua adalah pertimbangan-pertimbangan estetik. Apakah yang dimaksud nilai seni dan apakah yang dimaksud pertimbangan estetik itu? Membaca sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo, tampaknya, memahami dua frase kunci dari pernyataannya itu menjadi sangat penting untuk mengungkap, membongkar, dan melibatkan diri kita dengan sajak-sajaknya.

Nilai merupakan seperangkat rujukan yang dijadikan dasar bagi pertimbangan, standar atau prinsip yang menjadi ukuran (kebenaran, kebaikan, keindahan) cipta, karya, karsa dan perilaku manusia pada umumnya. Nilai agama menjadikan kitab suci sebagai rujukan, nilai moral merujuk pada filsafat dan ideologi, nilai hukum merujuk pada undang-undang, sementara nilai seni menjadikan kaidah-kaidah estetika sebagai rujukan. Kaidah-kaidah estetika dalam kesenian meliputi keutuhan, keseimbangan, harmoni, kesatuan dan keragaman dan penekanan yang tepat yang mesti ada dalam karya seni itu. Tinggi rendahnya perhatian seorang seniman terhadap kaidah-kaidah estetika akan menentukan tinggi-rendahnya kualitas estetik dari karya seni yang diciptakannya. Subagio, sebagai seorang penyair, menulis sajak dengan kesadaran yang konsisten terhadap kaidah-kaidah estetika itu.



Kaidah-kaidah estetika inilah yang menjadikan rujukan utama pertimbangan estetik untuk dijadikan bahan penilaian dalam menentukan apakah suatu karya sastra dapat dikatakan berhasil atau gagal, prematur atau matang. Namun demikian, pertimbangan estetik kuat dipengaruhi oleh spirit zaman, kira-kira seperti mode pakaian. Seragam serdadu anak buah Adolf Hitler (pemimpin partai Nazi Jerman) tentu ganjil dan berlebihan jika digunakan serdadu-serdadu Kopassus saat ini. Namun, ada juga seragam tentara dari zaman monarki absolut Eropa abad pertengahan yang tetap sedap dipandang mata, modis, lentur mengikuti kecenderungan-kecenderungan zaman yang berubah, jika digunakan di tempat yang tepat, misalnya pakaian pengawal istana Buckingham, Inggris. Begitu pun pakaian abdi dalem di Kraton Yogyakarta. Para hakim di negara-negara Anglo-Saxon berabad-abad bersidang memakai wig dan jubah yang itu-itu juga. Selama ratusan tahun para pendeta Budha dari Tibet hingga Burma menggunakan jubah warna kuning. Dimulai pada zaman dinasti Abbasiyah para rektor perguruan tinggi memakai jubah hitam (toga) dan hingga kini mode berpakaian seperti itu menjadi bagian dari tradisi akademik di berbagai perguruan tinggi di seluruh dunia. Seperti mode pakaian, pertimbangan estetik ditentukan pula oleh selera (taste). Dan seperti halnya selera, pertimbangan estetik selain mengandung unsur-unsur kesementaraan dan lokalitas juga mengandung unsur-unsur kelanggengan dan keuniversalan.

Begitu pula dalam puisi. Menulis puisi yang mendayu-dayu seperti zaman Romantik Eropa atau Pujangga Baru pada tahun 1990-an yang jauh lebih banyak menawarkan diksi yang baru, aneh dan berlimpah, menjadi terasa lamban dan ketinggalan zaman (kosa kata seperti donat dan tiang listrik pada puisi Afrizal Malna, buldozer dan Puskesmas pada puisi Agus R. Sarjono, bagi penyair Pujangga Baru tentu asing dan janggal). Akan tetapi, bukan berarti karya-karya Amir Hamzah kemudian menjadi usang. Dalam banyak hal kekuatan diksiologinya bahkan masih tetap memberi inspirasi bagi karya-karya penyair lain di zaman berikutnya, seperti kancing dan kerah lurus seragam Napoleon Bonaparte yang masih menjadi sumber ilham sebagian perancang mode terkenal dunia saat ini. Kekuatan diksiologi Amir Hamzah itu, misalnya, masih dapat ditemukan jejak pengaruhnya pada puisi-pusi Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan Goenawan Mohamad.

Jadi, selalu ada “sesuatu” yang tahan menerima gempuran ukuran-ukuran zaman yang berubah. Sesuatu yang memiliki daya kekekalan dalam kefanaannya. Kenyataan tentang adanya kelanggengan dalam kefanaan inilah yang menjadi spirit Subagio Sastrowardoyo dalam menulis puisi. Kelanggengan, bagi Subagio, bahkan meniadakan batas “yang nyata” dengan “yang mati”. Semangat itu dapat kita rasakan dalam sajaknya “Dan Kematian Makin Akrab”. Bagi Subagio, kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi. Bahwa dalam perpisahan—dan tiada perpisahan paling menyedihkan dalam kehidupan manusia kecuali maut—tak ada yang hilang.

Sulit dipungkiri bahwa persoalan maut menjadi perhatian utama sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo. Namun, jika kita telusuri lebih jauh, maut dalam sajak-sajaknya sebenarnya lebih merupakan angkasa semesta raya yang lambat-laun akan ditelan lubang hitam (black-hole) “rahasia keabadian”. Manusia yang paling rendah diri sekalipun, bukan hanya selebritis mahakaya seperti Michael Jackson, pasti pernah memiliki impian menjadi “abadi”; itulah yang membuat keberadaan industri cat rambut, kosmetik, jamu awet muda, dan dokter bedah plastik senantiasa diperlukan. Impian menjadi abadi itu pula yang melahirkan tokoh-tokoh fiksi seperti Peter Pan (yang seumur hidupnya tetap kanak-kanak kecuali dalam film Hook ketika ia dipaksa seorang penulis sekenario menjadi dewasa dan tua dalam tubuh Robin Williams), Sleeping Beauty dan Dayang Sumbi. Kesadaran akan keinginan tersembunyi manusia menjadi abadi itu pulalah yang menyebabkan film seperti Witches of Eastwick (diadaptasi dari karya seorang novelis Amerika dan antara lain dibintangi Jack Nicholson dan Uma Thurman) dibuat dan dibanjiri penonton.

Tak banyak, barangkali tak ada, orang yang mengakui terus-terang keinginan (yang mengerikan) menjadi abadi itu sebagai kepengecutan seperti Subagio mengakuinya dengan transparan, sebab baginya sajak-sajaknya yang menaruh perhatian besar pada persoalan maut itu bolehlah dipandang, sebagaimana dikatakannya sendiri, “karangan seorang pengecut yang menyaksikan kegagalan diri hendak mencapai keabadian”. Mari kita baca sajaknya, “Di Ujung Ranjang” dan mari kita rasakan bagaimana ia dengan kesinisan yang lembut menulis kengerian itu: waktu tidur tak ada yang menjamin kau bisa bangun lagi… tidur adalah persiapan buat tidur lebih lelap. Dan, adakah yang lebih lelap dari tidur kecuali maut?

Maut adalah batas yang tegas yang memisahkan kefanaan dan keabadian. Bagi Subagio maut menjadi “Daerah Perbatasan”, yang dengan elok dan dengan “nada rendah”, meminjam istilah Goenawan Mohamad (Horison, Nomor 2, Th. II, Februari 1967), menjadi tema dari sajaknya yang berjudul sama. Kita selalu berada di daerah perbatasan antara menang dan mati. Tak boleh ada kebimbangan memilih keputusan: Adakah kita mau merdeka atau dijajah lagi, tulis Subagio yang melukiskan pertarungan antara kefanaan dan keabadian itu dengan meminjam suasana dan latar medan peperangan.

Dan ketika dalam kehidupan ini kita menemukan manusia yang seketika menyerah dan sumarah pada kematian yang dipaksakan, oleh penguasa atau penjarah yang lalim, dan membiarkan hidup yang berharga itu lepas begitu saja, tanpa kekenyalan yang keras kepala untuk mempertahankannya, kembali dengan sinisme yang lembut, Subagio, dalam sajak “Pidato di Kubur Orang”, menyebut manusia seperti itu sebagai “manusia yang terlalu baik buat dunia ini”. Bagi Subagio, penghormatan yang besar terhadap maut sebagai pintu menuju rahasia kelanggengan mestilah sepadan dengan penghormatan terhadap hidup. Keduanya berada dalam lingkaran harmoni yang saling memunculkan dan meniadakan sekaligus. Tidak ada lubang hitam tanpa galaksi, begitu pun sebaliknya. Suatu seisei hatten (kelahiran, pertumbuhan, perkembangan dan transformasi) dalam pemikiran filsuf Jepang, Konosuke Matsushita.

Dari segi proses kreatif, ketika menulis puisi Subagio memanfaatkan betul kekuatan kreatif yang dalam sejumlah esainya ia sebut sebagai “daya angan”. Bagi Subagio, seperti juga bagi Samuel Taylor Coleridge (penyair dan filsuf Inggris abad ke-8 M.), daya angan merupakan nyawa penciptaan seorang penyair. Daya angan akan membawa penyair pada kemampuan menghayati dan memiliki pengetahuan tentang kehidupan di luar dirinya. Ia akan menjadi seseorang yang terbuka bagi segala kemungkinan mengetahui, mencoba, menolak, menerima, atau memberi makna baru terhadap sesuatu.

Daya angan itulah yang menjadi kekuatan Subagio ketika ia terjerat dalam tarik-menarik antara rahasia yang fana dan yang langgeng itu. Daya angan itu pulalah yang membuat ia menjelajah dan menemui tokoh-tokoh alam mitologi (dongeng), pewayangan dan biblikal (kitab suci), seperti terlihat dalam sajak-sajaknya yang berjudul “Nawang Wulan”, “Bima”, “Abil dan Kabil”, “Adam” dan pada sajak-sajaknya yang lain, seperti “Matinya Pandawa yang Saleh”, “Nuh”, “Yudas”, “Mikraj”, “Genesis”, “Kayal Angin” (tentang Arjuna), “Asmaradana” (tentang Sita, salah seorang tokoh dalam Ramayana).

Nawang Wulan adalah bidadari yang dipaksa nasib menikah dengan manusia biasa di bumi. Pada suatu ketika ia menemukan selendangnya yang tersembunyi dan kembali ke tempat asalnya seraya berjanji sewaktu-waktu akan kembali ke bumi dan mengasuh anaknya. Bima adalah satu dari lima Pandawa yang mengembara mencari rahasia jati diri hingga ke dasar samudera. Nawang Wulan dan Bima yang menjadi citra (image) dan lambang (symbol) dari cinta dan petualangan, yang menjadi pokok pikiran kedua sajak itu, didekati Subagio dengan takzim dan agung: Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia/ Sambut aku dengan bunga/ Aku dari sorga/ jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa/ Aku dari sorga// Sambut aku dengan bunga/ Itu darah dari duka dan cinta… (“Nawang Wulan”); Maka diputuskannya/ untuk meninggalkan tanah kapur/ dan tidur dengan naga/ (yang tak jadi dibunuhnya)/ di samudera angan-angan// Di sana ia bisa bertatap dengan sunyi/ makhluk kecil itu berhuni di lubuk hati/ Matanya cerah seperti punya bocah yang hidup abadi (“Bima”).

Menurut kitab suci, Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Ia dihukum Tuhan harus turun ke bumi, derajat kemanusiaannya jatuh dari yang langgeng menjadi yang fana, karena melanggar larangan Tuhannya. Dalam Perjanjian Lama (Genesis, 4:1-6) diceritakan bahwa Abil (Abel) adalah anak kedua Adam yang dibunuh saudaranya, Kabil (Cain). Abil, seorang penggembala, megurbankan dombanya yang terbaik kepada Tuhannya. Tuhan menerima kurban Abil dan menolak kurban Kabil. Dibakar rasa dengki dan cemburu, Kabil membunuh Abil. Kedua tokoh biblikal ini muncul dalam karya sastra sejumlah pengarang dunia seperti Samuel Taylor Coleridge (yang pemikiran-pemikiran sastrawinya banyak dirujuk Subagio), Byron, William Blake, Miguel de Unanumo dan John Steinbeck.

Kejatuhan Adam ke dunia dan kisah Abil dan Kabil adalah puncak-puncak tragik dalam kehidupan manusia. Adam kehilangan peluang untuk hidup abadi di sorga dan Kabil terpaksa dicatat sejarah kemanusiaan sebagai nenek-moyang para pendengki dan pembunuh manusia di muka bumi. Subagio mengangkat tokoh-tokoh biblikal itu menjadi citra dan lambang dari kehidupan tragik manusia dengan sepenuhnya melankolik: Karena terkutuk/ manusia pertama yang terdampar di pantai/ matanya buta… waktu ditanya dari mana ia berasal/ dan mengapa bintang berlayangan di langit/ ia hanya menggeleng tak mengerti (“Adam”); Tersesat di belantara/ ia dikejar tanya:/ Di mana saudaramu?/ Mengapa kaukucilkan dari dada/ dan biarkan ia terkapar di pantai/ Ia kawan paling setia/ yang mengisi senyummu dengan doa (“Abil dan Kabil”).

Kesadaran terhadap sepi pulalah, selain hasrat kelanggengan, yang mendorong Subagio menulis puisi. “Di dalam keadaan jiwa saya yang hening dan bening,” tulisnya dalam Mengapa Saya Harus Menulis Sajak, “saya telah menulis sajak-sajak saya yang bersemangat keagamaan dan keruhanian.” Bukan suatu kebetulan jika semangat keagamaan dan keruhanian itu pula yang dominan dalam hampir seluruh sajak Subagio kecuali beberapa sajak cintanya, seperti “Keroncong Motinggo” atau “Maafkan Kalau Aku Lekas Lupa pada Nama”.

Jika maut adalah galaksi dan keabadian merupakan lubang hitam, maka sepi bagi Subagio adalah sebuah tempat di antara maut dan keabadian itu, suatu alam ruhani yang dapat dibayangkan, barangkali bisa dirasakan, tetapi jelas tak dapat dihindarkan sebab akan menjadi bagian dari pengalaman manusia dalam perjalanan menuju rahasia keabadian, sebuah daerah perbatasan lain—angkasa yang jauh dari bumi yang kukasih. Maka dalam “Manusia Pertama di Angkasa Luar”, ia pun menulis dengan kemurungan luar biasa, seperti ini: Angkasa ini bisu/ Angkasa ini sepi/ tetapi aku telah sampai pada tepi/ Darimana aku tak mungkin lagi kembali/ Ciumku kepada istriku, kepada anak dan ibuku/ Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang/ Jagat begitu dalam, jagat begitu diam/ Aku makin jauh, makin jauh/ Dari bumi yang kukasih….

Suatu ketika kita akan sampai pula pada tepi yang bisu itu. Seperti Subagio Sastrowardoyo, dari tempat itu kita tak mungkin lagi kembali ke bumi yang kita kasihi. ***
(Majalah Sastra HORISON, Februari 1999)

Friday, September 19, 2008

Nyanyian Angsa Rendra

NYANYIAN ANGSA


WS. Rendra

Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya
“Sudah dua minggu kamu berbaring,
sakitmu makin menjadi.
Kamu tak lagi hasilkan uang
malahan padaku kamu berhutang.
Ini biaya melulu. Aku tak kuat lagi.
Hari ini kamu mesti pergi.”

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya tegas dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku
maka darahku terus beku.
Maria Zaitun namaku
pelacur yang sengsara
kurang cantik dan agak tua)

Jam dua belas siang hari
matahari terik di tengah langit.
Tak ada angin. Tak ada mega
Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran
tanpa koper. Tak ada lagi miliknya.
Teman-temannya membuang muka
sempoyongan ia berjalan
Badannya demam
Sipilis membakar tubuhnya
Penuh borok di kelangkang
di leher, di ketiak, dan di susunya

Matanya merah. Bibirnya kering
Gusinya berdarah
Sakit jantungnya kambuh pula

Ia pergi kepada dokter
Banyak pasien lebih dulu menunggu
Ia duduk di antara mereka.
Tiba-tiba orang-orang menyingkir
dan menutup hidung mereka
Ia meledak marah
tapi buru-buru juru rawat menariknya
Ia diberi giliran lebih dulu
dan tak ada orang memprotesnya.
“Maria Zaitun, hutangmu sudah
banyak padaku,” kata dokter.
“Ya,” jawabnya
“Sekarang uangmu berapa?”
“Tak ada”
Dokter geleng kepala dan
menyuruhnya telanjang.
Ia kesakitan waktu membuka baju
sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.
“Cukup,” kata dokter
dan ia tak jadi mriksa
Lalu ia berbisik kepada juru rawat
“Kasih ia injeksi vitamin C”
Dengan kaget juru rawat berbisik kembali
“Vitamin C? Dokter, paling tidak
ia perlu salvarsan!”
“Untuk apa? Ia tak bisa bayar
dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
Kenapa harus dikasih obat mahal
yang diimport dari luar negeri?”

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya iri dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku gemetar ketakutan.
Hilang rasa. Hilang pikirku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang takut dan celaka)

Jam satu siang
matahari masih di puncak.
Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
Dan aspal jalan yang jelek mutunya,
lumer di bawah kakinya.
Ia berjalan menuju gereja.
Pintu gereja telah dikunci
karena khawatir akan pencuri.
Ia menuju pastori dan menekan bel pintu.
Koster keluar dan berkata
“Kamu mau apa?
Pastor sedang makan siang
dan ini bukan jam bicara.”
“Maaf, saya sakit. Ini perlu.”
Koster meneliti tubuhnya yang kotor
dan berbau lalu berkata

“Asal tinggal di luar,
kamu boleh tunggu.
Aku lihat, apa pastor mau terima kamu.
Lalu koster pergi menutup pintu.
Ia menunggu sambil blingsatan kepanasan.
Ada satu jam
baru pastor datang kepadanya.

Setelah mengorek sisa makanan dari giginya,
Ia nyalakan cerutu, lalu bertanya
“Kamu perlu apa?”
Bau anggur dari mulutnya
Selopnya dari kulit buaya
Maria Zaitun menjawabnya.
“Mau mengaku dosa.”
Tapi ini bukan jam bicara
Ini waktu saya untuk berdoa.”
“Saya mau mati”
“Kamu sakit?”
“Ya, saya kena rajasinga.”
Mendengar ini pastor mundur dua tindak
Mukanya mungkret
Akhirnya, agak keder ia kembali bersuara
“Apa kamu –mm-- kupu-kupu malam?”
“Saya pelacur, ya.”
“Santo Petrus! Tapi kamu Katolik?”
“Ya”
“Santo Petrus”
Tiga detik tanpa suara
Matahari terus menyala
Lalu pastor kembali bersuara
“Kamu telah tergoda dosa.”
“Tidak tergoda, tapi melulu berdosa.”
“Kamu telah terbujuk setan.”
“Tidak. Saya terdesak kemiskinan
dan gagal mencari kerja.”
“Santo Petrus!”
“Santo Petrus! Pater dengarkan saya.
Saya tak butuh tahu asal-usul dosa saya.
Yang nyata hidup saya sudah gagal.
Jiwa saya kalut. Dan saya mau mati.
Sekarang saya takut sekali.
Saya perlu Tuhan, atau apa saja
Untuk menemani jiwa saya”.
Dan muka pastor menjadi merah padam
Ia menuding Maria Zaitun
“Kamu galak seperti macan betina!
Barangkali kamu akan gila,
tapi tak akan mati.
Kamu tak perlu pastor.
Kamu perlu dokter jiwa!”

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya sombong dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku lesu tak berdaya
Tak bisa nangis, tak bisa bersuara
Maria Zaitun namaku,
Pelacur yang lapar dan dahaga)

Jam tiga siang
Matahari terus menyala
Dan angin tetap tak ada
Maria Zaitun bersijingkat
di atas jalan yang terbakar.
Tiba-tiba ketika nyeberang jalan,
ia kepleset kotoran anjing
Ia tak jatuh tapi darah keluar dari borok
di kelangkangnya dan meleleh ke kakinya.
Seperti sapi tengah melahirkan
Ia berjalan sambil mengangkang.

Di dekat pasar ia berhenti
Pandangnya berkunang-kunang
Napasnya pendek-pendek
Ia merasa lapar
Orang-orang pergi menghindar.
Lalu, ia berjalan ke belakang satu restoran
Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan
Kemudian ia bungkus hati-hati dengan daun pisang
Lalu berjalan menuju ke luar kota.

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku
Yang Mulya, dengarkanlah aku.
Maria Zaitun namaku
Pelacur lemah, gemetar ketakutan.

Jam empat siang
Seperti siput ia berjalan
Bungkusan sisa makanan masih di tangan
Belum lagi dimakan
Keringat bercucuran
Rambutnya jadi tipis
Mukanya kurus dan hijau
Seperti jeruk yang kering
Lalu jam lima
Ia sampai di luar kota
Jalan tak lagi beraspal
tapi debu melulu
Ia memandang matahari
dan pelan berkata “bedebah!”
Sesudah berjalan satu kilo lagi
Ia tinggalkan jalan raya
Dan berbelok masuk sawah
Berjalan di pematang.

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya tampan dan dengki
dengan pedang yang menyala
mengusirku pergi.
Dan dengan rasa jijik, ia tusukkan
Pedangnya perkasa
Di antara kelangkangku
Dengarkan Yang Mulia
Maria Zaitun namaku
Pelacur yang kalah
Pelacur terhina)

Jam enam sore
Maria Zaitun sampai ke kali
Angin bertiup. Matahari turun,
Hari pun senja.
Dengan lega ia rebah di pinggir kali.
Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya
Lalu ia makan pelan-pelan
Baru sedikit ia berhenti
Badanya masih lemas,
tapi nafsu makannya tak ada lagi.
Lalu ia minum air kali.

(Malaikat penjaga firdaus
Tak kau rasakah bahwa senja telah tiba
Angin turun dari gunung dan
hari merebahkan badannya?
Malaikat penjaga firdaus
dengan tegas mengusirku
Bagai patung ia berdiri
dan pedangnya menyala)

Jam tujuh
dan malam tiba
Serangga bersuiran
Air kali terantuk batu-batu
Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang
Dan mengkilat di bawah sinar bulan.
Maria Zaitun tak takut lagi.
Ia terngat masa kanak-kanak dan remajanya
Mandi di kali dengan ibunya
Memanjat pohonan dan memancing
ikan dengan pacarnya.
Ia tak lagi merasa sepi dan takutnya pergi
Ia merasa bertemu sobat lama
Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya
Lantaran itu, ia sadar lagi kegagalan hidupnya
Ia jadi berduka dan mengadu pada sobatnya
Sembari menangis tersedu-sedu
Ini tak baik buat penyakit jantungnya.

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki
Ia tak mau mendengar jawabku
Ia tak mau melihat mataku
Sia-sia coba bicara padanya
Dengan angkuh ia berdiri
Dan pedangnya menyala)

Waktu
Bulan
Pohonan
Kali
Borok
Sipilis
Perempuan
Bagai kaca
Kali mentulkan cahaya gemilang
Rumput ilalang berkilauan
Bulan

Seorang lelaki datang dari seberang kali
Ia berseru “Maria Zaitun, engkaukah itu?”
“Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan. Lelaki itu menyebrang kali
Ia tegap dan elok wajahnya
Rambutnya ikal dan matanya lebar
Maria Zaitun berdebar hatinya
Ia seperti pernah kenal lelaki itu. Entah di mana
Yang terang tidak di ranjang, itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
“Jadi, kita ketemu di sini.” Kata lelaki itu.
Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
Sedang sementara ia keheranan, lelaki tu membungkuk mencium mulutnya
Ia merasa seperti minum air kelapa
Belum pernah ia merasa ciuman seperti
Lalu lelaki itu membuka kutangnya
Ia tak berdaya dan memang suka.
Ia menyerah dengan mata terpejam
Ia merasa berlayar ke samudra yang belum pernah dikenalnya.

Dan setelah selesai, ia berkata kasmaran.
“Semula, kusangka hanya impian, bahwa hal ini bisa kualami. Semula tak berani kuharapkan bahwa lelaki tampan seperti kau bakal lewat dalam hidupku.”
Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya
Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.
“Siapa namamu?” Maria Zaitun bertanya.
“Mempelai,” jawabnya
“Lihatlah, engkau melucu.”
Dan sambil berkata begitu
Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.
Tiba-tiba ia terhenti
Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
Di lambung kiri
Di dua tapak tangan
Di dua tapak kaki
Maria Zaitun pelan berkata
“Aku tuhu siapa kamu.”
Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.
Lelaki itu menganggukkan kepala
“Betul, ya.”

(Malaikat penjaga firdaus
wajahnya jahat dan dengki
dengan pedang yang menyala
tak bisa apa-apa
Dengan kaku ia beku
Tak berani lagi menuding kepadaku. Aku tak takut lagi
Sepi dan duka telah sirna.
Sambil menari kumasuki taman firdaus dan kumakan apel sepuasku
Maria Zaitun namaku
Pelacur dan pengantin adalah saya)

Suka dengan puisi ini? Ingin download. Silakan klik di sini

Thursday, September 18, 2008

Legenda Sangkuriang

Sangkuriang


Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu.

Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.

Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan.

Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembara.

Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan memiliki kecantikan abadi.

Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang melamarnya. Oleh karena pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya.

Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan.

Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.

Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.
Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.

Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu."***

Wednesday, September 17, 2008

Trilogi Bumi Manusia

Dunia Melayu Yang Tersirat Dalam Tetralogi Bumi Manusia Pramoedya
Koh Young Hun


Bumi Manusia-Satu Tonggak Baru

Pramoedya merupakan seorang novelis Indonesia yang terkemuka dan sering dibicarakan oleh pengkritik sastera dalam dan luar negara Indonesia. A. Teeuw pula pernah mengungkapkan bahawa Pramoedya adalah penulis yang muncul hanya sekali dalam satu generasi, atau malah dalam satu abad (1980: 242). Di antara hasil-hasil karya sastera Indonesia, barangkali karya-karya sastera yang dihasilkan oleh Pramoedya merupakan karya yang paling banyak diterjemahkan dalam bahasa-bahasa asing di luar Indonesia. Justeru hakikat inilah yang membuat Pramoedya sebagai novelis Indonesia yang terkenal dalam arena sastera internasional. Di samping itu, jejak kehidupannya yang bersengsara pada masa yang lalu pula mengambil perhatian golongan pembaca di luar negara. Akan tetapi sebagaimana yang diketahui di Indonesia nama Pramoedya semakin terlupa dalam kalangan pembaca, khususnya para pembaca muda, kerana karya-karyanya dilarang beredar.

Pramoedya menerbitkan novel Bumi Manusia pada bulan Ogos 1980, iaitu lapan bulan selepasnya dari tarikh pembebasan dari pengasingan Pulau Buru. Novel ini merupakan bahagian pertama dari tetraloginya yang tersusul, iaitu Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca (1988). Tetralogi ini dapat dianggap sebagai karya novel sejarah Indonesia yang mengandungi wawasan baru. Ini kerana Pramoedya memaparkan amanat yang istimewa dalam karya novel tersebut.

Sejarah adalah merupakan satu fakta, atau sesuatu yang dapat dibuktikan dengan fakta. Sejarawan mahu tidak mahu terikat pada fakta-fakta yang pernah terjadi: dia tidak bebas dalam penggarapan bahan-bahan sejarah itu. Akan tetapi, seorang penulis novel sejarah dapat lebih bebas menciptakan ceritanya sendiri. Menurut Georg Lukacs, novel sejarah yang sebenar ialah novel yang membawa masa lampau kepada kita dan membuat kita mengalami hakikat masa silam yang sebenar (1962: 53).


Dalam menganalisis seri novel sejarah Bumi Manusia ini eloklah perhatian lebih utama diberikan kepada penyorotan pemikiran Pramoedya sendiri. Dengan perkataan lain, apa yang dimaksudkan oleh Pramoedya sendiri lebih penting daripada penjelasan fakta sejarah yang berkenaan. Ini kerana, seorang penulis novel sejarah tidaklah berhajat untuk mendedahkan sifat hakiki masa yang silam saja, melainkan dia lebih berkecenderungan untuk memaparkan pemikirannya sendiri dengan berpandukan kepada fahaman masa lalu. Dalam konteks ini, sebagai seorang sasterawan yang juga pengamat sejarah bangsanya yang serius, Pramoedya menciptakan tidak lain sebuah karya sastera. Menurut pandangan Jakob Sumardjo, sejarah merupakan harta karun budaya yang dapat digali, ditimba, ditafsirkan dalam kaitan membicarakan masalah masa kini. Di sana penuh dengan lambang, kejadian yang tidak jelas dan kerananya menentang imaginasi bentuk mengembangkannya. Sejarah sebenarnya adalah wilayah bagi sasterawan yang serba berkemungkinan (1985). Jadi, sebagai seorang sasterawan, beliau amat beruntung kerana boleh melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan disiplin sejarah yang amat terikat pada fakta, bukti dan ketepatan peristiwa itu. Pramoedya, justeru itu, secara bebas mencipta dan membentuk watak-watak historis mengikut kemahuannya. Maka, hasilnya lahirlah watak Minke alias R. M. Tirto Adhisoerjo, bapa kewartawanan berbahasa Melayu di Jawa dan perintis pergerakan yang telah menubuhkan Syarikat Priyayi dalam tahun 1906, yang agak lebih romantis dan lebih bersih daripada hakikatnya (Ahmat Adam 1989: 32).

Berhubungan dengan ini, dapat dikatakan bahawa, walaupun ada banyak kemiripan antara watak utama Minke dengan R. M. Tirto Adhisoerjo, mereka tidak keseluruhannya identik. Pramoedya sendiri menegaskan bahawa novel-novelnya tetap harus dibaca sebagai karya fiksi, bukan sebagai buku sejarah (dalam wawancara 17 Jun 1991). Oleh sebab itu watak utama dalam tetralogi ini bukan Tirto, melainkan Minke sebagai seorang tokoh buatan yang bersumberkan dari tokoh sejarah itu. Mengenai pengambilan tokoh Tirto, beliau menjelaskan sebagai berikut:

R. M. Tirto bukan saya maksudkan ditampilkan sebagai hero, tapi sebagai individu yang telah melepaskan diri dari kebersamaan tradisional, yang berabad lamanya jadi penghambat progres. Ini nilai kultural yang telah dicapai oleh R. M. Tirto (surat kepada Marjanne Termorshuizen Arts, 6 Feb. 1987).


Perlu diingatkan bahawa sastera yang baik dapat menciptakan kembali rasa kehidupan, bobot, dan susunannya. Menciptakan kembali keseluruhan hidup yang dihayati, kehidupan emosi, kehidupan budi, individu mahupun sosial, dunia yang penuh mengandungi objek. Hal ini diciptakannya bersama-sama dan secara saling berjalinan, seperti yang terjadi dalam kehidupan yang kita hayati sendiri. Sastera yang baik menciptakan kembali kemendesakan hidup (Richard Hoggart 1966: 226-227). Pramoedya pula berpendapat bahawa seorang pengarang juga mengedepankan ideanya tentang masa tertentu dalam hasil karya, dan dia bukan hanya memotret peristiwa sejarah, tetapi juga menghidupkan sejarah dengan pendapat peribadi (dalam wawancara 17 Jun 1991).

Dalam karya ini Pramoedya menyentuh beberapa hal yang belum pernah dibicarakan oleh para sasterawan Indonesia yang lain. Beliau dengan terus terang memaparkan pandangan mengenai imej pemberontakan terhadap kuasa kolonial, warisan kebudayaan bangsa, pergerakan kebangkitan bangsa di tanahairnya, peranan wanita dalam peralihan zaman dan humanisme. Dalam sebahagian besar karya-karya sasteranya yang terdahulu, Pramoedya menceritakan masalah perseorangan manusia yang diilhami oleh peristiwa-peristiwa yang dialaminya sendiri. Sedangkan dalam tetralogi ini beliau mengolah masalah manusia sebagai warga dunia, masalah warisan kebudayaan, yang berkaitan dengan hari depan bangsa sendiri (Koh Young Hun, 1993: 131). Hakikat ini membuktikan bahawa pemikiran Pramoedya dalam karya ini adalah lebih matang daripada masa yang dulu, dan cakerawala pemikiran pula sudah diperluaskan. Dalam pada itu, pemikiran kebangkitan nasional (nasionalisme) yang dipaparkan dalam karya ini dapatlah dikaitkan dengan dunia Melayu.
Bahasa dan Agama sebagai Faktor Penyatuan Bangsa

Terdapat bermacam-macam definisi tentang nasionalisme dengan sudut pandangan masing-masing. Antara lain, nasionalisme dihuraikan sebagai suatu keadaan akal atau fikiran yang mengembangkan keyakinan bahawa kesetiaan terbesar harus diberikan kepada negara (Hans Kohn 1965: 6);gabungan rasa kesetianegaraan dengan kesedaran kerakyatan (Carlton J. H. Hayes 1931: 6) dan lain-lain. Akan tetapi, dari apa yang ada ini dapat dikatakan bahawa suatu definisi atau konsep nasionalisme yang khusus tidak dapat diterapkan untuk semua negara bagi digunakan untuk menghuraikan gerakan nasionalisme masing-masing. Ini kerana pengalaman hidup yang menumbuhkan gerak kesedaran sesuatu masyarakat ke arah penentuan nasib tidaklah sama pada semua negara.

Tanggapan Pramoedya mengenai penyatuan bangsa, yang dipaparkan dalam karya ini perlu ditekankan. Ini kerana beliau memberi tanggapannya dengan tafsiran tersendiri. Misalnya, beliau berpendapat bahawa selepas kerajaan Majapahit sampai awal abad ke-20, bangsanya belum pernah dipersatukan. Maka, bangsa baru yang mencakupi kepulauan yang jauh lebih besar daripada Majapahit ini dapat dipersatukan dengan beberapa faktor yang sedikit sebanyak memiliki persamaan dan sarana moden yang diperlukan. Faktor-faktor tersebut, antara lain, adalah bahasa Melayu yang sudah menjadi lingua franca di seluruh kepulauan Nusantara pada masa itu dan agama Islam sebagai kepercayaannya.

Tanggapan ini bertepatan dengan penjelasan Ben Anderson yang menegaskan bahawa “nationalism has to be understood by aligning it, not with self-conciously held political ideologies, but with the large cultural systems that preceded it, out of which - as well as against which - it came into being” (1986: 19). Sistem kebudayaan yang sesuai untuk memenuhi matlamat itu, menurut Ben Anderson, adalah komuniti agama dan alam dinasti (dynastic realm). Dengan demikian anggota-anggota masyarakat dapat menganggap bahawa, walaupun saling tidak kenal-mengenal, mereka adalah berada di bawah satu naungan, iaitu komuniti bayangan (imagined community) (ibid. : 15-16). Maka, beliau memberi definisi mengenai bangsa sebagai suatu komuniti politik yang dibayangkan sebagai terhad dan berdaulat. Beliau seterusnya menerangkan bahawa karya novel dan suratkhabar boleh memberi sarana teknikal untuk menubuh semula suatu komuniti bayangan, iaitu suatu bangsa. Ini kerana para pembaca novel dan suratkhabar, walaupun berada secarara berasingan, dapat mengambil imej yang sama, iaitu imej bayangan (ibid. : 30-34).

Kalau ditinjau dari segi ini, pandangan Pramoedya yang menganggap peranan suratkhabar berbahasa Melayu sebagai pemimpin fikiran masyarakat pembaca untuk membangkitkan kesedaran dalam karya ini dapat dikatakan sesuai dan masuk akal. Sokongan penuh terhadap pemilihan bahasa Melayu sebagai penentu “Bangsa Melayu Besar” (Pramoedya 1985: 450), walaupun bukan bahasa ibunda (mother tongue)nya, menunjukkan sikapnya yang lebih mengutamakan faktor-faktor yang praktikal untuk penyatuan bangsa. Hakikat ini menunjukkan hasrat pengarang yang ingin menyatukan sebuah bangsa yang sebenar, iaitu bangsa yang sudah sedia bersatu dalam bahasa dan agama. Pramoedya menunjukkan pendapatnya melalui watak Minke seperti berikut:

Tidak sebagaimana diimpikan Douwager, tetapi berdasarkan bahan-bahan yang telah disediakan oleh nenek-moyang, bukan yang diambil dari angan-angan satu dua orang. Dan dasar-dasar itu adalah golongan tengah Pribumi yang menentukan kehidupan di Hindia, agama Islam sebagai dasar persaudaraan, usaha merdeka dan perdagangan sebagai dasar hidup bersama. Bahwa persatuan yang dapat melahir-kan nasionalisme Hindia bukan semata-mata Jawa, bukan semata-mata Hindia, tetapi di mana saja ada bangsa yang berbahasa Melayu, Islam dan merdeka (Pramoedya 1985: 447-448).


Adalah tepat kalau dikatakan bahawa penentunya dunia atau tamadun Melayu adalah bahasa Melayu dan agama Islam. Kepentingan bahasa Melayu untuk dunia Melayu amat muktamad, seperti dijelaskan oleh Ben Anderson. Agama Islam pula sudah menjadi rantai pengikat bagi bangsa Melayu. Ada pendapat bahawa “tamadun Melayu adalah tamadun Islam dari Asia Barat dan tamadun Islam itu sendiri telah pun mencapai kedudukan yang gemilang jauh terdahulu daripada tamadun Eropah moden” (Harun Mat Piah 1989: 433). Aziz Deraman pula menjelaskan bahawa perlembagaan yang memperuntukkan Islam sebagai agama persekutuan, kedudukan bahasa Melayu sebagai bahasa rasmi negara dan institusi raja berperlembagaan tidak lain sebagai hakikat sejarah dan kesinambungan budaya yang tidak terkeluar begitu saja (1992: 18). Dan bahasa Melayu serta agama Islam di dunia Melayu tidak dapat dipisahkan. Ini kerana antara lain bahasa dan khazanah sastera Melayu sebagian besarnya ditulis dengan nafas Islam. Jadi, kedua faktor, iaitu bahasa Melayu dan agama Islam dapat dianggap sebagai unsur penyata kesatuan bangsa Melayu.
Bahasa Melayu

Pramoedya menekankan pentingnya penggunaan bahasa Melayu sebagai salah satu faktor penyatuan bangsanya dalam tetralogi ini. Beliau mengutarakan pandangan ini melaui watak-watak yang muncul dalam karya ini, khususnya watak utama Minke. Pada awal ceritanya Minke sebenarnya digambarkan lebih bijak menulis makalah untuk suratkhabar dalam bahasa Belanda daripada bahasa Jawa dan bahasa Melayu, kerana dia menerima pendidikan di HBS (Hogere Burger School) yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa perantaraannya. Akan tetapi, apabila golongan bukan peribumi menerbitkan suratkhabar dalam bahasa Melayu dan bahasa Jawa, watak-watak seperti Marais dan Kommer, sebagai orang-orang yang memupuk semangat nasionalisme kepada Minke, mula mendesaknya supaya menulis makalah dalam bahasa Melayu. Ini kerana pada waktu ini bahasa Melayu sudah menjadi lingua franca di kepulauan Indonesia. Watak-watak tersebut menganggap bahawa dengan berbuat demikian, Minke dapat mempersoalkan isu-isu yang menyangkut kepentingan pembaca peribumi sendiri secara lebih berkesan dan menyeluruh. Mereka menuntut seperti berikut:

“Sekali Tuan mulai menulis Melayu, Tuan akan cepat dapat menemukan kunci. Bahwa Tuan mahir berbahasa Belanda memang mengagumkan. Tetapi bahwa Tuan menulis Melayu, bahasa negeri Tuan sendiri, itulah tanda kecintaan Tuan pada negeri dan bangsa sendiri - - - - Siapa yang mengajak bangsa-bangsa pribumi bicara kalau bukan pengarang-pengarangnya sendiri seperti Tuan?” (Pramoedya 1980b: 104).


Seperti yang dijelaskan di atas, Minke dituntut untuk menyuluhi bangsanya sendiri yang tenggelam dalam kegelapan melalui tulisan dalam suratkhabar. Untuk itu dia harus mendalami bahasa Melayu yang sudah tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Pada permulaan abad ke-20, yang merupakan latar belakang waktu karya novel ini, bahasa Jawa hanya digunakan secara terbatas dalam lingkungan orang-orang Jawa, begitu juga bahasa Sunda, dan bahasa-bahasa suku yang lain, kecuali bahasa Melayu. Di samping itu, kaum intelek Indonesia yang sejak tahun 1908 dengan pelbagai cara telah berusaha untuk mendirikan organisasi-organisasi bagi mempengaruhi rakyat agar mereka bangun dan maju, lambat laun sedar bahawa mereka tidak akan dapat berhubungan rapat dengan seluruh rakyat melalui perantaraan hahasa Belanda. Ini kerana bahasa Belanda itu untuk selama-lamanya hanya akan dapat difahami oleh sejumlah yang kecil dari bangsa Indonesia. Berdasarkan kepada keyakinan bahawa hanya penyatuan bangsa Indonesia seluruhnya yang dapat suatu tenaga besar untuk menentang kekuasaan penjajahan, maka dengan sendirinya mereka berusaha mencari suatu bahasa yang dapat difahami oleh bahagian rakyat yang terbesar, iaitu bahasa Melayu (S. T. Alisjahbana 1956: 14-15).

Menurut John Hoffman, bahasa Melayu telah pun diperkenalkan di daerah Ambon mulai pertengahan abad ke-15 oleh para pedagang yang datang dari Melaka ; dan, pada awal abad ke-17 dapat dikatakan bahasa ini digunakan secara meluas di daerah tersebut. Di daerah Batavia pula, mulai tahun 1620, bahasa Melayu sudah merupakan salah satu bahasa agama pembaharuan (reformed religion). Dan pada awal abad ke-18 pihak VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) lebih memihak untuk menggunakan bahasa Melayu dalam urusan-urusan perdagangan dan pentadbiran (1979: 66-77). Sebenarnya, sudah dijelaskan oleh ahli-ahli bahasa bahawa jauh lebih sebelumnya, iaitu mulai abad ke-8, bahasa Melayu sudah lama berfungsi sebagai alat komunikasi dalam masyarakat yang sudah mencapai keberaksaraan dan segala ciri kebudayaan canggih yang lain. Dengan demikian bahasa Melayu dapat mengambil peranan yang penting di kepulauan Nusantara ini. George Mac T. Kahin pula menegaskan habawa satu faktor penyatuan Hindia adalah perkembangan satu lingua franca lama di kepulauan itu, iaitu bahasa Melayu, sebagai bahasa kebangsaan, yang bersama-sama dengan agama Islam telah berjaya melenyapkan fahaman sempit mengenai nasionalisme Indonesia (1980: 50).

Pramoedya dalam karya ini memberi penjelasan kenapa bahasa Melayu harus digunakan untuk membentuk persatuan bangsa. Tanggapannya ialah selain dari sudah menjadi lingua franca di kepulauan itu, bahasa Melayu mempunyai ciri-ciri khas, iaitu sangat praktikal kerana tidak mengandungi tingkatan-tingkatan pertuturan bahasa. Dalam pandangan ini tersirat keinginan beliau hendak melepaskan ciri-ciri warisan yang feudal, kerana tingkatan-tingaktan dalam suatu penggunaan bahasa sebenarnya hanya digunakan oleh golongan masyarakat feudal sahaja, yang memang berhasrat mewujudkan tingkatan itu.

Watak utama Minke sebetulnya mengalami perubahan fikiran selepas dia menangani kes Trunodongso di Tulangan. Kes Trunodongso ini memberikan rangsangan besar kepada Minke untuk mengenal bangsanya sendiri dengan lebih mendalam. Dalam pada itu, Minke mula merasakan suatu konflik telah timbul dari dalam hati nuraninya. Ini kerana, walaupun dia menganggap dirinya sebagai seorang pengagum Revolusi Perancis, yang meletakkan harga diri manusia pada tempatnya yang tepat, namun jiwa dan semboyan revolusi itu belum dapat mengubah sikapnya dalam kehidupan sehari-hari. Maksudnya gagasan revolusi itu hanya tinggal jadi pengetahuan atau hiasan sahaja dalam fikirannya. Buktinya ialah, Minke merasa tersinggung juga kalau seorang petani, seperti Trunodongso bertegur dengan bahasa Jawa ngoko kepadanya. Maka, dia bercakap seorang diri: “Kau belum mampu melepaskan keenakan-keenakan yang Kau dapatkan dari leluhurmu sebagai penguasa atas pribumi bangsamu sendiri. Kau curang! Mata semboyan kebangsaan, persamaan dan persaudaraan Revolusi Perancis itu Kau pungkiri, demi keenakan warisan itu”. Seperti yang dapat dilihat dalam adegan ini, satu saat perubahan penting (turning point) berlaku dalam dirinya, kerana pemikiran Minke mengalami perubahan dari saat itu. Berbanding dengan sebelumnya, Minke dengan aktif melibatkan diri dalam pembelaan kaum marhaen melalui tulisan berbahasa Melayu dalam suratkhabar. Oleh yang demikian, dapat dikatakan bahawa soal penggunaan bahasa Melayu membuka jalan yang luas untuk mencapai cita-citanya.

Dengan demikian Minke memilih bahasa Melayu sebagai salah satu faktor bagi mengelakkan dunia yang bemasalah. Dari itu watak utama Minke akhirnya digambarkan sebagai seorang pelopor yang amat menghargai bahasa Melayu sebagai bahasa yang digunakan dalam suratkhabar dan organisasi-organisasi baru. Maka, apabila bertemu dengan ketua cawangan Palembang Syarikat Dagang Islamiah dalam perjalanan yang diadakan untuk melihat perkembangan organisasi itu dari dekat, dia menjelaskan perlunya menggunakan bahasa Melayu seperti ini:

“Dik,” panggilnya, “mengapa kita mesti menggunakan Melayu?”
“Dalam rapat-rapat cabang yang tahu bahasa Jawa tentu tak diharuskan berbahasa Melayu. Tetapi kalau tingkatnya sudah kongres atau tingkat pusat, atau berhubungan dengan pusat, tak bisa tidak harus dipergunakan Melayu. ”
“Mengapa Jawa harus dikalahkan oleh Melayu?”
“Diambiul praktisnya, Mas. Sekarang, yang tidak praktis akan ter- singkir. Bahasa Jawa tidak praktis. Tingkat-tingkat di dalamnya adalah bahasa pretensi untuk menyatakan kedudukan diri. Semua anggota sama, tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah - - - - Waktu bangsa-bangsa asing menguasai Nusantara, bukan Jawa lagi bahasa diplomasi. Melayu. Organisasi bukan organisasi Jawa, tapi Hindia - - - -“
“Tapi orang Jawa lebih banyak. ”
“Orang Jawa tak perlu bersusah-payah mempelajari Melayu, sebaliknya bangsa-bangsa lain membutuhkan tahunan untuk bisa menggunakan Jawa. Kita ambil praktisnya. Apa salahnya orang Jawa mengalah, melepaskan kebesaran dan kekayaannya yang tidak tepat lagi untuk jamannya yang juga tidak tepat? Demi persatuan Hindia?” (Pramoedya 1985: 373-374).


Denzel Carr pula berpendapat bahawa bahasa Melayu lebih demokratik daripada bahasa Jawa, dan lebih sederhana dalam bentuk tatabahasa, pengucapan dan paling utama dalam kekayaan kata-kata (1959). Memandangkan definisi bahasa sebagai ucapan fikiran dan perasaan manusia, maka segala usaha Pramoedya untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa perantaraan, yang dipaparkan dalam karya ini patut diberi perhatian.

Dengan itu Minke sendiri berusaha untuk mempraktikkan sifat bukan feudal bahasa Melayu dalam pembicaraan sehari-hari. Ini diketahui dari hakikat bahawa dia menasihati Krio, seorang calon anggota Syarikat Dagang Islamiah supaya menggunakan istilah “sudara”, dan bukan “ndoro” lagi kepada Minke, apabila dia mengunjungi cawangan Solo organisasi itu. Alasannya ialah, menurut Minke, sebutan “sudara” berasal dari “se-dara”, “se-susu”, “se-penyusuan” yang mengandungi makna kesamarataan (Pramoedya 1985: 369). Selain dari itu, Minke menganggap bahawa hanya dengan bahasa Melayu organisasi umum di Hindia Belanda akan dapat menjadi besar dan subur. Maka, dia mendesak Samadi, ketua cawangan Solo yang lebih menghendaki bahasa Jawa, supaya memberikan keyakinan kepada bahasa Melayu dengan alasan bahawa bahasa Melayu semakin jauh dari pengajaran pihak penjajah, semakin jauh dari orang-orang feudal, semakin demokratik dan menjadi alat perhubungan yang nyaman, dan lebih-lebih lagi ianya memang bahasa bebas. Ini kerana, menurutnya hanya golongan bebas yang akan menentukan nasib bangsa-bangsa Hindia, dan salah satu syarat untuk persatuan bagi bangsa-bangsa majmuk itu adalah dekat-mendekati dasar demokrasi (ibid. : 169).

Perlu ditegaskan bahawa skala pemikiran Minke terhadap konsep bangsanya amat besar. Minke menganggap bahawa bangsa yang dimaksudkan olehnya adalah seluruh bangsa-bangsa yang berbahasa Melayu di dalam dan luar Hindia. Ini bererti selain dari Hindia, termasuklah Melayu seluruhnya kecuali yang berbahasa Cina, serta orang-orang yang berbahasa di Siam, Singapura dan Filifina. Aziz Deraman pula pernah menerangkan bahawa alam Melayu atau dunia Melayu telah ditafsirkan sebagai suatu kawasan budaya yang kaya dan luas melingkungi rantau geografi yang meliputi Malaysia, Indonesia, Filifina, Brnei, Singapura, Selatan Thai, Indo-China dan berkembang ke kepulauan Pasifik di bahagian timur dan mencecah Malagasi di barat sehingga ke Taiwan di bahagian utara. Mereka itu terdiri daripada beberapa kumpulan dialek atau pengucapan bahasa yang mempunyai asas-asas keserumpunan (1992: 13). Dalam karya ini nama bangsa yang Minke sebutkan adalah tidak lain “Bangsa Melayu Besar”. Satu hal yang tidak dapat dilupakan adalah bahawa di sini juga justeru bahasa Melayu yang menjadi dasar bagi pandangan ini. Gagasan ini jelas bertepatan dengan pendapat bahawa suatu bangsa dapat wujud kerana kebudayaan dan bahasa kebangsaan (Ben Anderson 1986: 66), dan “the new middle-class intelligentsia of nationalism had to invite the masses into history: and the invitation-card had to be written in a language they understood” (Tom Nairn 1977: 340).

Selain dari itu, pentingnya menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa penyatuan di kepulauan Hindia banyak lagi ditekankan dalam tetralogi ini. Apabila seorang watak peranakan Haji Moeloek menerangkan jasa golongannya untuk Hindia kepada Minke, ditampilkannya pula peranan golongan peranakan dalam mempelopori penerbitan suratkhabar berbahasa Melayu. Dalam situasi begini dia memberikan pandangan bahawa:

“Pribumi mengisi perbendaharaan kata-katanya melalui golongan Indo, dan nama-nama alat kerja yang tadinya tidak dikenal Pribumi. Yang lebih penting, Tuan, juga bahasa Melayu tertulis, tertulis dalam Latin, golongan Indo juga yang memulai. Juga penerbitan koran dan majalah dalam Melayu. - - - - Hanya karena kecintaannya saja pada bahasa Melayu, Tuan. Seperti aku sendiri ini, Melayu lebih sedap dari bahasa apa pun yang aku kenal, dan dapat aku ucapkan. Bahasa yang luarbiasa bebasnya, bisa dipergunakan dalam keadaan apapun, dalam suasana bagaimana pun, tanpa diri merasa kehilangan kehormatan (Pramoedya 1985: 277-278).


Pendapat ini menunjukkan bahawa golongan peranakan lebih dahulu menguasai bahasa Melayu daripada peribumi Hindia (lihat Ahmat Adam 1985: 32-50). Hakikat ini berkaitan dengan pandangan Pramoedya yang mementingkan khazanah sastera yang dihasilkan sebagian besarnya oleh golongan peranakan dan Cina pada perlintasan abad 19 ke 20. Sebenarnya hasil-hasil karya sastera seperti ini tidak diberi perhatian yang istimewa oleh para pengkritik sastera Indonesia. Akan tetapi, justeru Pramoedya yang menganggapnya penting sebagai sebahagian khazanah sastera Indonesia dengan memberi istilah “Sastra Melayu Lingua Franca”, “Sastra Assimilatif” atau “Sastra Pra-Indonesia”. Perlu diambil perhatian terhadapnya, kerana sastera pada masa itu sebagai cerminan keadaan zamannya mengandungi gagasan-gagasan yang mengawali kesedaran nasional. Pramoedya sendiri menjelaskan bahawa Melayu lingua franca merupakan fenomena tunggal di Asia Tenggara, kerana dipergunakan dan dikembangkan oleh orang-orang asing sewaktu memasuki Nusantara dari Melaka sebagai pangkalan. Mula-mula dipergunakan oleh para mubalig asing, juga dari pangkalan Melaka, untuk menyebarkan Islam. Maka tidak mengherankan bila naskhah-naskhah tua Tafsir Al-Quran yang didapatkan di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa berbahasa Melayu. Bahkan raja Islam pertama di Demak diperkirakan tidak berbahasa Jawa, tetapi Melayu (1982: 9).

Seperti dijelaskan di atas soal penggunaan bahasa amat penting dalam karya ini. Pramoedya sendiri telah pun berusaha menggunakan kata-kata Melayu untuk menggambarkan pemikirannya, yang sudah tidak biasa digunakan lagi pada masa kini di Indonesia, misalnya antara lain “cik’gu”, “emak”, “kelmarin”, “encik” dan “cawan”. Ini bererti bahawa sebagai seorang sasterawan Pramoedya menyedari ketepatan bahasanya dengan zaman yang dijadikan latar belatang karya, dan penyelidikan yang dilakukan untuk penulisan karyanya amat mendalam. Dalam konteks ini Keith Foulcher memberi pendapat bahwa:

The question of language is, in fact, of crucial importance in Bumi Manusia. Suffice it to say that the wider concerns of the narrative are constantly reflected through references in the text to the relationship between language and consciousness. In one of the exchanges with his mother, as Minke struggles to articulate his rejection of Javanese values, the degree of alienation between his consciousness and his environmemt is expressed at its most poignant through the issue of language (1981: 4).


Dengan demikian Pramoedya menunjukkan sikapnya yang mementingkan penggunaan bahasa Melayu dalam tetralogi ini. Sikap ini sebenarnya berpunca dari pandangan yang menghargai sikap demokratik, praktikal dan anti-feudal, yang justeru merupakan sifat-sifat bahasa Melayu juga.

Agama Islam

Tanggapan Pramoedya terhadap agama Islam juga dapat dilihat dalam karya ini. Sebagaimana yang tersebut di atas agama Islam merupakan salah satu faktor penting untuk penyatuan bangsa Melayu. Dan tidaklah berlebihan jika dikatakan tamadun Melayu adalah sebenarnya tamadun Islam. Dalam karya ini juga Islam dianggap penting sebagai rantai pengikat Bangsa Melayu Besar yang diistilahkan oleh watak utama Minke. Ini kerana dianggap olehnya bahawa satu faktor yang menimbulkan semangat nasionalisme yang padu adalah persamaan agama yang tinggi darjatnya yang terdapat di kepulauan Indonesia. Agama Islam dianggap “bukan saja boleh menjadi rantai pengikat, malah sebenarnya ia menjadi semacam lambang persaudaraan yang dapat mengawal atau mempertahankan diri daripada anasir-anasir pengacau asing dan tekanan dari agama-agama lain (George Mac T. Kahin 1980: 49).

Dalam karya ini watak utama Minke tidak digambarkan sebagai seorang Jawa yang termasuk dalam kalangan santri asli yang mempunyai orientasi yang lebih kuat dan lebih asli terhadap agama Islam berbanding dengan penduduk-penduduk lainnya, melainkan dia dapat dikatakan termasuk golongan abangan (lihat Clifford Geertz 1989). Namun begitu, tidak dapat dinafikan bahawa Minke adalah seorang muslim yang tetap menggantungkan harapan kepada kepercayaan agamanya, iaitu Islam. Ini terlihat pada sikap Minke yang bersandarkan kepada Allah apabila dia mengalami kesulitan seperti berikut:

Ya, Allah, juga kenelangsaan bisa menghasilkan sesuatu tentang ummatMu sendiri. Kau jugalah yang perintahkan ummat untuk berbangsa- bangsa dan berbiak. - - - - Aku berpaling kepadaMu, karena orang-orang yang dekat denganMu pun tidak pernah menjawab. Kaulah yang men- jawab sekarang. Aku hanya menulis tentang yang kuketahui dan yang kuanggap aku ketahui. Bukankah segala ilmu dan pengetahuan juga berasal tidak lain dari Kau sendiri? (Pramoedya 1980a: 186).


Selain itu, Minke sedaya upaya berusaha memperluaskan organisasi peribumi yang bercirikan kepada agama Islam,iaitu melalui gerakan Syarikat Dagang Islamiah. Maka, watak Pangemanann sebagai seorang pegawai peribumi yang berpangkat tinggi, dan juga sebagai seorang pengagum Minke, yang mengintip juga gerak-geri Minke untuk mencegah perluasan gerakan kebangkitan nasional itu, menilainya bahawa “beribu-ribu pengikutnya, terdiri dari muslim putih dan terutama abangan dari golongan mardika. Dia sendiri dari golongan priyayi, kadar keislamannya mudah ditukar. Islam baginya unsur pemersatu yang tersedia di Hindia” (Pramoedya 1988: 7). Dan, apabila Minke berbincang dengan Douwager, seorang peranakan yang membantu Minke di pejabat redaksi majalah Medan, dia memberi pendapatnya mengenai Islam sebagai berikut:

Dan, Islam, kataku selanjutnya, yang secara tradisional melawan penjajah sejak semula Eropa datang ke Hindia, dan akan terus melawan selama penjajah berkuasa. Bentuknya yang paling lunak: menolak kerjasama, jadi pedagang. Tradisi itu patut dihidupkan, dipimpin, tidak boleh mengamuk tanpa tujuan. Tradisi sehebat dan seperkasa itu adalah modal yang bisa menciptakan segala kebajikan untuk segala bangsa Hindia (Pramoedya 1985: 339).


Perlu disebut juga segala usaha Minke yang dipaparkan dalam karya ini adalah berpunca dari pemikiran kemanusiaan Pramoedya sendiri, yang menjadi salah satu asas tamadum Islam. Pada dasarnya tamadun Islam yang dibentuk dalam berbagai corak dan rupa itu mempunyai asas-asas yang kukuh. Asas-asasnya adalah antara lain: keagungan dan keluhuran nilai kemanusiaan berbanding dengan nilai benda ; dan, berfungsinya nilai kemanusiaan yang menyebabkan berkembangnya sifat kemanusiaan manusia bukannya sifat kebintangan. Dengan perkataan lain, apabila kemanusiaan manusia itu menjadi nilai tertinggi dalam sebuah masyarakat dan apabila sifat kemanusiaan di dalam masyarakat itu menjadi tumpuan penilaian ketika itulah masyarakat itu menjadi sebuah masyarakat yang bertamadun (Azam Hamzah 1990: 25-26).

Kemanusiaan adalah merupakan satu dasar pemikiran Pramoedya, kerana sebahagian besar karya sasteranya mengandungi ciri-ciri tersebut sebagai landasan penciptaannya. Rasa kemanusiaan ini terdedah dalam karyanya sebagai pancaran dari penderitaan yang dialaminya sendiri. Memandangkan kehidupan Pramoedya yang selalu didampingi dengan penderitaan manusia secara langsung atau tidak langsung, wajarlah beliau membawa ciri-ciri kemanusiaan yang ditimbulkan daripada lenturan penderitaan itu dalam karyanya sendiri. Pemikiran kemanusiaan yang dipaparkan oleh Pramoedya dalam karya ini adalah berpunca dari satu anggapan bahawa manusia manghayati kehidupannya sebagai manusia sebenar dengan melapaskan diri dari segala belenggu, umpamanya warisan kebudayaan yang kolot dan ketidakadilan dari kuasa kolonial. Dalam konteks ini Minke sangat bersimpati dengan nasib watak Nyai dan Surati yang dijual oleh ayah mereka sendiri untuk kenaikan pangkat ayahnya masing-masing.

Pramoedya memperlihatkan aspek kemanusiaan dalam karya tetraloginya ini dengan memberatkan juga soal penggunaan kekerasan dalam satu tindakbalas. Ini dapat dilihat apabila Trunodongso cedera parah kerana tertikam pedang Kompeni dalam suatu rusuhan. Minke menasihatinya bahawa tidak semua permasalahan dapat diselesaikan dengan senjata dan amarah. Di samping itu, Minke merasa sangat gelisah apabila isterinya, Prinses Kasiruta, menembak mati orang-orang yang hendak membunuh Minke. Semua ini berlaku kerana, seperti yang tersebut di atas, dia menangapi bahawa penggunaan kekerasan untuk tujuan apa pun tidak dapat merupakan penyeselaian masalah. Rasa kegelisahan Minke terhadap tindakan isterinya ditunjukkan seperti berikut:

Dia tidak mau tahu betapa gelisah suaminya tidur di samping seorang pembunuh.
“Kau menembak orang yang tidak siap untuk melawan. ”
“Aku hanya punya seorang suami. Suamiku bekerja untuk banyak urusan. Pekerjaanku terutama mengurus suamiku. Mereka dalam keadaan hendak menyerang waktu kutembak - - - -. ”
Ia sama sekali tak terganggu setelah melakukan perbuatannya. Tenang- tenang seperti tak ada terjadi sesuatu. Barangkali ia pernah melaku- kan pembunuhan-pembunuhan sebelumnya. Bulu romaku menggermang. Benar- kah selama ini aku beristrikan seorang pembunuh? Dan aku tidak tahu? (Pramoedya 1985: 436-437).


Seperti yang dijelaskan di atas Pramoedya membuat soal kemanusaian tertonjol dan hidup melalui peranan dan tindakan watak-watak dalam karya ini. Dengan demikian pemikiran Pramoedya yang mementingakan bahasa Melayu dan agama Islam ini bertepatan dengan asas-asas alam Melayu yang memang bersifat demikian.

Mengkaji seorang pengarang sesungguhnya adalah bermaksud mengikuti tanggapan diri pengarangnya terhadap dunia luar, yang terpancar dalam karyanya. Mengikuti pertumbuhan dan perkembangan karya sastera Pramoedya bererti membicara dan menganalisis dunia dan alam pemikirannya sendiri. Seorang novelis tidak hanya menyajikan kehidupan, tetapi juag intuisi dan tafsiran tentang kehidupan. Oleh yang demikian lahir batin yang didedahkan dalam karyanya dapat dirasakan juga sebagai pengalaman manusia umumnya. Dan pengalaman demikian menjadi dasar terpenting dalam menumbuhkan pemikiran Pramoedya, kerana sesuatu pemikiran tidak dapat langsung diwujudkan dari keadaan vakum. Semua ini bermakna pula apabila karya-karya yang mempersoalkannya itu dikaji atau dikritik tanpa sesuatu prasangka terhadap pengarangnya.

__________________
Bibliografi

Ahmat Adam, 1985, “The Bintang Hindia and the Pursuit of Kemajuan for Indonesians” dalam Jurnal Antropologi dan Sosiologi, vol. 13, UKM: 3-14.
____________, 1989, “Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca” dalam Dewan Sastera, Jun: 29-33.
Anderson, Benedict, 1986, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, London: Verso.
Azam Hamzah, 1990, Tamadun Islam: Konsep dan Pencapaiannya, Shah Alam: Hizbi.
Aziz Deraman, 1992, Tamadun Melayu dan Pembinaan Bangsa Malaysia, KL: Arena Ilmu.
Carr, Denzel, 1959, “Sampai Ke mana Memurnikan Bahasa?” dalam Siasat, 21 Januari.
Foulcher, Keith, 1981, “Bumi Manusia and Anak Semua Bangsa: Pramoedya Ananta Toer Enters the 1980s” dalam Indonesia, no. 32: 1-15.
Geertz, Clifford, 1989, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Jakarta: Pustaka Jaya.
Harun Mat Piah, 1989, “Tamadun Melayu Sebagai Kebudayaan Kebangsaan: Satu Tinjauan Dan Justifikasi” dalam Aziz Deraman et al. (ed. ), Tamadun Melayu, Jilid Dua, KL: DBP.
Hayes, Carlyon, J. H. , 1931, The Historical Evolutuin of Modern Nationalism, New York: Richard R. Smith.
Hoffman, John, 1979, “A Foreign Investment: Indies Malay to 1901” dalam Indonesia, no. 27: 65-92.
Hoggart, Richard, 1966, “Literature and Society” dalam Mckenzie (ed. ), A guide to the Social Sciences.
Jakob Sumardjo, 1985, “Novel Sejarah Kita” dalam Kompas, 15 Oktober.
Kahin, George Mac T. , 1980, Nasionalisme Dan Revolusi di Indonesia, KL: DBP.
Koh Young Hun, 1996, Pemikiran Pramoedya Ananta Toer dalam Novel-Novel Mutakhirnya, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Kohn, Hans, 1965, Nationalism: Its Meaning and History, Toronto: Van Nostrand.
Lukacs, Georg, 1962, The Historical Novel, London: Merlin Press.
Nairn, Tom, 1977, The Break-Up of Britain, London: New Left Books.
Pramoedya Ananta Toer, 1980a, Bumi Manusia, Jakarta: Hasta Mitra.
____________, 1980b, Anak Semua Bangsa, Jakarta: Hasta Mitra.
____________, 1982, Tempo Doeloe, Jakarta: Hasta Mitra.
____________, 1985, Jejak Langkah, Jakarta: Hasta Mitra.
____________, 1988, Rumah Kaca, Jakarta: Hasta Mitra.
Sutan Takdir Alisjahbana, 1956, Sejarah Bahasa Indonesia, Jakarta: Pustaka Rakyat.
Teeuw, A. , 1980, Sastra Baru Indonesia, Ende: Nusa Indah.

Tuesday, September 16, 2008

Soeharto dalam Cerpen

Mengabadikan Soeharto dalam Cerita Pendek

Judul: Soeharto dalam Cerpen Indonesia, Editor: M Shoim Anwar, Penerbit: Bentang, 2001, Jumlah halaman: xlvi + 184 halaman


SOEHARTO adalah tokoh yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Seorang yang mampu berkuasa dalam sebuah negeri yang berpenduduk 200-an juta jiwa selama 32 tahun tentulah manusia yang memiliki kekuatan dan kemampuan memimpin yang luar biasa. Seorang yang dapat "mempersatukan" sekian ratus kelompok etnik dan kebudayaan menjadi suatu republik yang disegani, dan yang pada suatu saat pernah diperhitungkan sebagai salah satu macan ekonomi Asia, pastilah manusia yang memiliki strategi pengaturan kekuasaan yang juga luar biasa baiknya. Situasi yang diciptakannya itu tentu saja telah menimbulkan korban, sebab tidak pernah dan tidak akan pernah ada keadaan yang tidak memakan korban. Dalam zaman-zaman sebelumnya di negeri kita ini juga banyak yang dikorbankan demi berlangsungnya kekuasaan. Jika yang menjadi korban itu mampu menyusun kekuatan, dan jumlahnya semakin besar, kecenderungan yang kemudian muncul adalah penumbangan kekuasaan.

Kekuasaan sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang terbentuk selama pemerintahan Soeharto tidak hanya terasa di lapisan atas, tetapi sampai ke lapisan masyarakat yang paling bawah. Seperti juga zaman sebelumnya, yang oleh Soeharto disebut sebagai Orde Lama, yang oleh Soekarno sendiri disebut sebagai sistem demokrasi terpimpin, lapisan-lapisan masyarakat kita meniru segala sesuatu yang dilakukan oleh lapisan teratas di sekeliling Soeharto. Sebab, jika tidak mereka akan disebut pembangkang, yang dalam pemerintahan Soekarno disebut kontrarevolusioner, dalam pemerintahan Soeharto digambarkan sebagai tidak Pancasilais. Mereka inilah korban, ditindas oleh kelompok-kelompok yang di zaman Soekarno menyebut dirinya progresif revolusioner, yang dalam masa pemerintahan Soeharto mencap dirinya sebagai Pancasilais.

Sejarah, konon, akan terus berulang sehingga ada baiknya jika kita belajar dari sejarah. Sejarah, kata para sejarawan, ditulis oleh pihak yang menang. Dan sastrawan ternyata bukan sejarawan yang mengikuti keyakinan itu. Sastrawan "hanya" memberikan tanggapan terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, sekaligus memberikan penilaian pribadinya. Dan seperti yang terjadi di mana pun, meskipun sebagian tidak termasuk yang menjadi korban penindasan, para sastrawan memiliki kecenderungan yang sangat kuat untuk memberikan simpati kepada yang tertindas. Itulah, menurut keyakinan sementara orang, hakikat kesusastraan. Sikap ini universal, meskipun pada kenyataannya, setidaknya di masa lampau ketika sistem pengayoman jauh berbeda, sastrawan berada dalam pengayoman penguasa dan oleh karena itu menciptakan karya sastra yang kebanyakan menyanjung-nyanjung pengayomnya. Menciptakan fiksi yang disulap menjadi fakta. Kita tahu, dalam banyak karya sastra klasik para sastrawan bahkan menciptakan fiksi mengenai asal-usul raja yang kemudian oleh takyat banyak dianggap sebagai fakta.

ITU semua terjadi pada Soeharto ternyata. Kulit depan buku yang kita bicarakan ini, Soeharto dalam Cerpen Indonesia, menggambarkan Soeharto sebagai seorang raja Jawa lengkap dengan atribut kebesarannya, duduk di atas singgasana, dalam pose strereotip yang memancarkan kekuasaan. Di zaman yang meyakini sastra sebagai salah satu barang dagangan, kulit depan adalah alat utama untuk memancing perhatian pembaca. Yang harus eye-catching. Yang sebaiknya mewakili apa yang tercantum di dalam buku, meskipun hal ini sangat sering tergusur oleh ciri yang pertama itu. Kulit depan buku ini memberikan kesan kebesaran Soeharto, seorang Jawa yang menjadi "raja Jawa" di Indonesia, yang sekaligus juga memberikan konotasi kekuasaan dan kesewenang-wenangan. Yang terakhir itu terutama muncul pada akhir pemerintahan Soeharto, ketika semakin banyak yang (merasa) tertindas dan semakin luas kekuatan yang menentangnya.

Dalam masyarakat di mana pun sastra mempunyai fungsi yang tidak pernah tunggal. Jika pantun boleh dipergunakan untuk mewakilinya, sastra boleh dipergunakan untuk menyebarluaskan agama, menggambarkan cinta kasih, mengungkapkan perasaan remaja, menggoda kita untuk tertawa, bahkan sekadar mengajak kita bermain-main. Dan, tentu saja, juga untuk menyampaikan kritik dan kemarahan terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekeliling kita. Fungsi yang disebut terakhir itulah terutama yang dipilih oleh sejumlah penulis cerpen yang karyanya dihimpun dalam buku ini. YB Mangunwijaya, Seno Gumira Ajidarma, Taufiq Ikram Jamil, F Rahardi, Joni Ariadinata, Indra Tranggono, M Fudoli Zaini, Jujur Prananto, Agus Noor, Sunaryono Basuki KS, Bonari Nabobenar, Moes Loindong, dan Triyanto Triwikromo, mengambil sikap untuk melihat Soeharto dari suatu sisi, yang sampai pada taraf tertentu seragam. Antara lain tentu karena keyakinan bahwa sastra memiliki fungsi untuk membela kaum tertindas. Atau bisa juga dikatakan bahwa strategi Soeharto dalam mempertahankan kekuasaannya berhasil, anrara lain dengan cara memaksakan cara berpikir seragam. Perlu dicatat juga bahwa penulis cerpen ini berasal dari berbagai kelompok etnis, meskipun dominasi Jawa sangat terasa.

MUNGKIN sekali para penulis itu tidak secara langsung menciptakan fiksi tentang Soeharto, dan oleh karena itu judul buku ini bisa saja menjadi tidak tepat. Tetapi, itulah kesan yang bisa tertangkap. Dalam pengantar bagus yang ditulis oleh M Shoim Anwar, antara lain dikatakan bahwa "rimba persilatan Indonesia menemukan jurus-jurus untuk menghadapi publiknya." Dikatakan juga bahwa "habitat" utama cerpen kita adalah koran dan majalah. sehingga, kata Shoim Anwar, "Cerita pendek kita akhirnya mengikuti tradisi jurnalistik memburu keaktualan." Mungkin yang dimaksudkannya adalah sensasi. Terutama jika disadari bahwa begitu banyaknya media massa cetak bersaing di negeri kita ini sehingga salah satu "jurus" yang dianggap mujarab adalah menciptakan sensasi. Dan sensasi tidak hanya harus ada dalam fakta, ia bisa saja berupa fiksi. Bahkan, karena kemampuan berkhayal sastrawan dianggap agak lebih tinggi dari rata-rata orang, sensasi dalam cerita bisa menjadi lebih dahsyat dari sensasi dalam berita. Setidaknya dalam kumpulan cerpen ini muncul kesan bahwa segala sesuatu yang terjadi di Indonesia ini, untuk meminjam kata pengantar editor, "Soeharto-lah yang harus bertanggung jawab."

Apa yang diciptakan oleh para penulis cerpen dalam kumpulan ini tentu saja bisa ditujukan terhadap rezim jenis apa saja, di sini maupun di negeri lain. Kekuasan bisa menjadi tanpa batas dan merepotkan banyak pihak. Ini universal. Kemudian muncul kecenderungan di kalangan sastrawan untuk membela para korban kekuasaan. Ini juga, tentu saja, universal. Selama kekuasaan itu masih belum tergoyahkan, para sastrawan mencari berbagai cara untuk menyiratkan atau "menyembunyikan" kemarahan dan kejengkelannya dalam bebagai bentuk, simbolik maupun metaforik. Itulah hakikat yang membedakan fiksi dan fakta. Itulah sebabnya, meskipun judul kumpulan cerpen ini menyebut "Soeharto," kita tidak usah kecewa jika di dalam cerpen-cerpen itu kita tidak menemukan nama mantan presiden kita itu.

Dalam sejumlah cerpen yang umumnya sudah mencapai taraf komposisi yang menarik, kita menyaksikan proses pengabadian suatu rezim yang oleh judul buku ini dinamakan Soeharto. Dan, antara lain karena hakikat sastra (dan judul buku ini), Soeharto pun menjadi abadi.

Sapardi Djoko Damono, Penyair

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook