Friday, May 21, 2010

Galuh Candera Kirana (4)

Tunduk Tanpa Syarat
(Hikayat Panji Semirang Bagian 4)


AWAN HITAM lamban bergerak ditiup sang Bayu. Bertebaran bergumpal-gumpal, mengalang-alangi sinar sang Surya. Burung elang melayang-layang di udara mengintai mangsa; suaranya melengking mengiris hati, menjerit-jerit mengikis langit. Pohon beringin di alun-alun tampak alum, dedaunan kelihatan layu lemah lunglai tanpa daya. Binatang-binatang buas di hutan rimba seperti segan berburu mangsa. Orang-orang seperti enggan meninggalkan rumah, karena merasa aman diam di tengah-tengah keluarga. Anak-anak remaja, pria dan gadis segan bersenda gurau, seolah-olah lupa akan masa keremajaannya.

Apa gerangan yang caembuat suasana demikian ? Apa nian yang menekan jiwa ? Seorang pun tiada yang sanggup menerangkan, kecuali orang-orang kudus yang pandai menerawang dinding alam nyata, pandai meramalkan apa yang akan terjadi.

Keraton Daha menghadapi masa depan yang sangat suram. Sang Dewata yang maha mulia menghendaki demikian. Makhluk-makhluk di mayapada hanya merupakan pelaku-pelaku sejarah; hanya menurut kehendak Ki Dalang di kayangan. Dan Ki Dalang pulalah yang menghendaki agar supaya alam sekitar keraton Daha merasai suasana kesuraman itu.

Puspa Ningrat, permaisuri Raja Daha, yang pada waktu itu sedang duduk-duduk di balai peranginan, sangat berlainan kelihatannya. Air mukanya pudar. Cahaya matanya, senyumnya, pendek kata segala gerak geriknya seperti lain dari pada biasanya, seperti mengandung arti yang sukar diduga orang.

Ketika seorang dayang berdatang sembah, permaisuri tiba-tiba teringat akan tapai persembahan Paduka Liku, lalu menyuruh dayang itu mengambilnya.

Dayang segera mematuhi perintah dan mempersembahkan santapan itu di hadapan permaisuri. Kini kain sutera tutup santapan itu dibuka permaisuri ayu Puspa Ningrat.

Dilihatnya sebentar. Tangannya yang halus itu hendak menjamah tapai tetapi tidak jadi oleh karena perhatiannya beralih pada burung-burung yang bertengger di dahan pohon dan ramai berkicau. Binatang-binatang itu seolah-olah memperingatkan permaisuri agar supaya jangan mau makan tapai beracun itu. Akan tetapi sayang! Permaisuri tak mengerti bahasa burung. Ia hanya tersenyum melihat kepada burung-burung yang sedang mengoceh itu. Tiba-tiba cecak jatuh dari loteng di pundak permaisuri, sehingga tangan permaisuri tak jadi menyentuh
tapai celaka itu. Seandainya permaisuri mengerti akan maksud cecak niscaya ia selamat.

Akan tetapi sayang! Kehendak Dewata tak dapat ditawar-tawar. Waktu sudah tiba bagi Puspa Ningrat ayu untuk menyerah kalah kepada kekuatan dan kekuasaan yang bukan tandingan untuk dilawan.

Begitu permaisuri makan sedikit tapai, begitu ia menghempaskan diri. Pucat pasi muka permaisuri. Bola matanya seperti terbalik, sehingga matanya putih belaka kelihatan. Mulutnya terkatup rapat, tangannya terkepalkan keras, selaku orang menahan sakit yang sangat hebat.

Rambut dan badannya bersimbah keringat.

Gemparlah isi istana! Dayang dan inang pengasuh menangis, meratap, berlari-lari ke sana kemari tanpa tujuan; hati berdebar-debar kaki tangan gemetar, karena takut dimurkai Sri Baginda Raja. Suara orang-orang yang meratap dan menangis bersimpang siur; atas mengatasi yang satu dengan yang lain. Sri Baginda segera menitahkan orang memanggil dukun. Semua dukun, pendeta dan ajar yang sakti dikerahkan datang di istana untuk menolong permaisuri. Segala mentera dan obat dicobakan. Namun ajal permaisuri tak dapat dielakkan. Keadaan menjadi bertambah gempar, karena Sri Baginda dan Galuh Cendera Kirana jatuh pingsan. Mahadewi seperti hendak berobah ingatan karena sangat bingung, tak tahu apa yang harus diperbuat. Demikian juga tingkah laku dayang-dayang dan inang pengasuh. Hanya orang yang tabah hati yang masih sanggup menguasai keadaan kalut seperti itu. Beberapa orang menolong Sri Baginda. Beberapa orang lagi menolong Galuh Cendera Kirana. Untung, keduanya lekas sadar.

Mahadewi menangis sambil meratapi dan mencium tangan mayat Puspa Ningrat. Hatinya ngeri, pedih serasa disayat sembilu karena ingat akan kebaikan hati permaisuri. Dan karena ingat akan penderitaan Galuh Cendera Kirana nanti di bawah tindasan Paduka Liku dan Galuh Ajeng. Mahadewi merangkul dan menciumi Galuh Cendera Kirana. Membujuk-bujuk supaya tabah hati dan menerima akan nasib hidup.

Permaisuri mengakhiri hidupnya di dunia yang fana. Rohnya pulang kembali ke tempat asal untuk terus hidup di alam baka. Kurungan permaisuri Puspa Ningrat kejang; terbaring di tempat pembaringan mayat, diselimuti kain sutera dewangga.

Sementara itu Galuh Cendera Kirana tak mau melepaskan tangannya dari kaki jenazah ibunya. Air matanya berderai-derai membasahi pipi dan haribaannya. Tiada hentinya ia menangis bersedu-sedan; memilukan hati orang-orang yang melihat.

Setelah keadaan menjadi agak reda, Sri Baginda menanyakan asal mula kematian permaisuri kepada dayang-dayang dan inang pengasuh. Dayang yang tertua bersembah dengan suara gembira, sembahnya, "Ya Tuanku ! Hamba mohon beribu-ribu kali ampun ke bawah Duli Yang Dipertuan. Hamba sekali-kali tidak tahu sebab yang sebenarnya hingga permaisuri menjadi demikian. Hamba hanya melihat permaisuri tadi bersantap tapai."

"Bersantap tapai!" titah Baginda penuh curiga. Mukanya mendadak menjadi merah padam karena amarah. Seperti orang disengat lebah, tiba-tiba Sri Baginda membelalak menjadi sangat murka dan menyuruh dayang-dayang mengambil tapai itu. Sambil menunjuk kepada makan an itu, Baginda bertitah dengan murka, "Hai dayang-dayang! Ini gerangan yang menyebabkan permaisuri mati ! Dari mana ia memperoleh santapan tapai ?"

"Persembahan tuan putri Paduka Liku, Gusti," sembah dayang-dayang dengan gugup; badannya menggigil. "Hanya itulah yang hamba tahu. Gusti," sembahnya pula.

Sri Baginda melihat keheran-heranan. Hatinya menjadi bertambah curiga, lalu melemparkan tapai itu ke hadapan anjing dan ayam. Binatang-binatang yang memakan tapai, mati seketika itu juga. Keadaan menjadi gempar karena Galuh Cendera Kirana jatuh pingsan lagi.

Bukan alang kepalang murka Baginda Raja! Tingkahnya seperti orang mabuk tuak. Dipeluknya Galuh Cendera Kirana yang sedang pingsan itu, digendong lalu diletakkannya lagi di lantai. Kemudian berjalan mondar-mandir, tiada tentu yang dikerjakan.

Tiba-tiba Baginda mengambil pedang. Segera dihunusnya ! Baginda terus ke luar istana, menuju puri Paduka Liku.

"Sekalian orang dalam istana gemetar ketakutan. Sangat ngeri melihat tingkah Baginda Raja, berjalan, mengacungkan pedang terhunus. Mukanya merah padam, matanya menyala laksana api.

Dengan suara menggelegar seperti suara Dasamuka (raksasa bermuka sepuluh) menantang musuh Baginda Raja bertitah, "Hari ini juga kuhabiskan nyawa Paduka
Liku! Kupenggal batang lehernya! Kupotong tiga badannya! Baru puas hatiku !"

Api amarah membara, membakar dada Baginda. Darah panas menggelegak; deras naik ke kepala; menggeletarkan kaki dan tangan. Mata terbelalak, liar menatap. Napas berdengus, laksana dengus banteng ketaton (terluka). Kaki melangkah, tiada peduli apa yang dipijak. Sri Baginda langsung masuk puri selir yang hendak dipancung kepalanya itu.

Sementara itu kabar tentang meninggalnya permaisuri sudah sampai pula ke telinga Paduka Liku. Tampak senyum puas di bibir Paduka Liku. Tetapi bukan senyum manis bidadari, melainkan senyum iblis.

"Syukur ! Mampuslah!" kata Paduka Liku dalam hati. Tetapi serta mendengar Baginda Raja murka dan mengancam, segera Paduka Liku bersiap-siap. Sekarang tibalah saatnya bagi Paduka Liku untuk menguji sampai di mana mujizat guna-guna sang Pertapa sakti.

Baginda Raja dengan sengitnya memburu. Paduka Liku lari ! Terus masuk ke dalam puri. Pintu-pintu tiada yang tertutup terkunci, tiada apa pun yang mengalang-alangi Sri Baginda.

Paduka Liku masuk bilik; terus naik peraduan tempat menyembunyikan bungkusan sepah sirih si guna-guna. Paduka Liku menahan napas beberapa saat, membulatkan pikiran dan perasaan, menyatukan pandangan mata pada satu titik pertemuan kedua belah mata Sri Baginda, sambil berkata dalam batin, "Tunduk ! Tunduk !' Dengan senyum semanis madu ia menyilakan Sri Baginda duduk. Sikap dan senyunmya menggiurkan hati Baginda. Kecantikan dan gerak-gerik Paduka Liku bertambah kuat merangsang, menggoncangkan iman Baginda Raja, berkat hikmat sepah sirih si guna-guna. Senyum simpulnya manis, selegit senyum bidadari yang baru turun dari kayangan; melumat-lembutkan hati Sri Baginda.

Api mati karena bertemu air, dedaunan layu karena daya terik matahari. Api amarah Baginda lenyap karena daya hikmat si guna-guna.
Sinar mata yang semula liar dan galak, kini menjadi redup mengharapkan rindu. Tangan jantan sekeras baja menjadi lemah-lunglai tanpa tenaga. Dan lepaslah pedang terhunus itu dari tangan Baginda Raja.

Suara Baginda yang semula garang, kini menjadi lembah-lembut, merdu seperti suara kumbang mencucup sari bunga.

"O, adindaku manis ! Mana gerangan anakanda Galuh Ajeng? Sehari kakanda tak melihat dia, serasa berbulan-bulan lamanya," titah Baginda.

Mendengar suara Sri Baginda demikian lemah-lembutnya, Paduka Liku bukan alang kepalang sukacitanya lalu katanya, "Ya, kakanda junjungan hati hamba, silakan kakanda melepaskan lelah dahulu. Anakda Galuh Ajeng boleh jadi sedang main dengan dayang-dayang."

Hilang lenyap ingar-bingar dalam puri. Yang kedengaran hanya kata-kata cumbuan Baginda Raja; silih berganti dengan ketawa-ketawa genit si gundik Paduka Liku.

Setelah puas Baginda Raja bersenda gurau dengan Paduka Liku. barulah Baginda meninggalkan puri untuk menyelesaikan upacara pembakaran jenazah permaisuri.

Langit mendung, hujan gerimis. Hujan rintik-rintik membasahi bumi, seolah-olah alam menangis, bersedih hati. Margasatwa berdukacita; beberapa pasang mata insan sembab, basah, tanpa cahaya; sedu-sedan tangis sedih, menyaksikan upacara pembakaran jenazah permaisuri Puspa Ningrat.***

Download hikayat ini KLIK di sini

1 comments:

terima kasih ya postingannya. Sangat bermanfaat

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook