Wednesday, May 19, 2010

Galuh Ajeng, Paduka Liku, dan Sepah Sirih Beracun

Sepah Sirih Pembawa Maut


UPACARA pertunangan Galuh Cendera Kirana telah berlangsung dengan sangat meriah. Sejak saat itu pula Galuh Cendera Kirana telah sah menjadi tunangan Raden Inu Kartapati.
angel1
Peristiwa yang sangat meriah dan penting itu merupakan kenang-kenangan yang sangat berkesan. Berkesan baik kepada orang-orang yang setuju atau beruntung. Namun sebaliknya, berkesan buruk kepada pihak tertentu yang merasa dirugikan.

Sudah demikianlah keadaan di mayapada (dunia). Agaknya, agar supaya dunia tetap ramai, tetap bergerak hidup, berobah-obah dari abad ke abad. Tiada sipat dunia yang demikian, sejarah kemanusiaan kesepian isi.
Istana Sri Baginda Raja Daha kembali diliputi suasana keadaan yang wajar, setelah peristiwa pertunangan yang meriah itu berlalu.

Sesungguhnya Raja Daha ibarat seorang penderita sakit radang paru-paru. Atau seperti kayu dimakan binatang bubuk. Utuh kelihatan dari luar, akan tetapi keropos dalamnya. Sebabnya, lantaran Sri Baginda orang lemah hati, mudah sekali menuruti hawa nafsu, terutama terhadap selir kekasihnya, Paduka Liku.

Segala keinginan dan permintaan Paduka Liku atau Galuh Ajeng, selalu didengar dan diturut Sri Baginda. Tanpa berpikir masak-masak, tanpa ditimbang dengan seksama baik buruk kesudahannya. Pendek kata, selir kekasih dan anaknya itu, sedikit pun tiada bernoda, tiada bercacat dipandang Sri Baginda.

Paduka Liku bukan main sakit hatinya lantaran Galuh Cendera Kirana bertunangan dengan Raden Inu Kartapati. Iri hatinya melihat Cendera Kirana bertambah disayang oleh Sri Baginda. Setiap hari Paduka Liku tampak suram mukanya, bengkak-bengkak matanya lantaran tidak berhenti-henti menangis. Pikirannya tak mau lepas dari pada mencari akal untuk membunuh permaisuri Puspa Ningrat atau Galuh Cendera Kirana. Salah satu di antara kedua orang itu hendak dilenyapkannya dari muka bumi. Dengan cara bagaimanapun!

Pada suatu hari Paduka Liku membuat tapai yang dibubuhinya racun, kemudian ditaruhnya dalam bokor kencana. Kernyut bibir si gundik itu tiada bedanya dengan seringai serigala jahat, seringai maut.

Paduka Liku memanggil dayang-dayang dan menyuruh mereka mempersembahkan tapai itu kepada permaisuri. Bokor emas ditaruh di atas talam emas, dinaungi kain sutra indah. Seorang dayang menating talam yang amat elok itu, diiringkan dua orang dayang-dayang yang lain. Mereka berjalan menuju istana permaisuri, tanpa hati syak wasangka, bahwa mereka menating barang terkutuk, perusak keadaban manusia. Sebaliknya, mereka senang seolah-olah beroleh kehormatan karena boleh menyampaikan tanda kasih tuannya kepada permaisuri Sri Baginda.

"Siapa tahu, permaisuri berkenan hati menganugerahkan apa-apa." Boleh jadi demikianlah pikir dayang-dayang.

Sesampai di istana, ketiga dayang-dayang itu duduk bersimpuh dengan sopan santun di hadapan permaisuri.

"Hamba dititahkan tuan putri Paduka Liku mempersembahkan tanda kasih dan sembah sujud tuan putri," sembah seorang dayang.

Permaisuri Puspa Ningrat tersenyum gembira melihat dayang-dayang yang manis-manis lagi sopan santun itu, lalu menyambut persembahan Paduka Liku dengan tiada duga persangka buruk.

Dayang-dayang Paduka Liku menyembah dan mohon diri setelah menerima kembali bokor kencana kosong.

Paduka Liku tersenyum lega melihat dayang-dayangnya sudah kembali, lalu pikirnya, "Begitu permaisuri mati, begitu aku menggantikan dia menjadi permaisuri. Kekuasaan dalam istana jatuh di tanganku. Jika Cendera Kirana yang mati, kujadikan Galuh Ajeng tunangan Raden Inu Kartapati. Kerajaan Kuripan dan Daha biar dia persatukan dan dia kuasai sekali. Kekuasaanku dengan sendirinya bertambah karena kedudukan anak dan menantuku."

Paduka Liku hendak melanjutkan siasat jahatnya dan berunding dengan Galuh Ajeng. Oleh karena itu ia menyuruh dayang-dayangnya ke luar dari puri dan melarang berdatang sembah jika tidak dipanggil.

Dalam puri hanya tampak Paduka Liku, Galuh Ajeng dan seorang paman Paduka Liku. Mereka berunding dalam bilik yang tertutup, karena takut rahasianya bocor. Setelah Paduka Liku selesai menguraikan keinginan hatinya, lalu katanya, "Sekarang paman harus menolongku; mencarikan tukang tenung yang pandai membuat guna-guna untuk melembutkan hati orang; agar supaya aku jangan dimurkai sang Nata. Sebaliknya, sang Nata harus tunduk kepada segala keinginanku. Kasih sayang dan cintanya kepadaku harus tambah berlipat ganda."

Si Paman menganggukkan kepala tanda setuju dengan maksud Paduka Liku dan setuju dengan segala janji-janjinya. Setelah menerima bekal secukupnya, ia pun segera berangkat seorang diri.

Sesungguhnyalah tugas kewajiban yang dipikul si Paman sangat berat dan berbahaya. Akan tetapi ia mau juga melaksanakannya, hanya oleh karena dorongan hati sayang kepada Paduka Liku. Dan karena ia mengharapkan upah serta pangkat, jika maksudnya terlaksana serta berhasil.

Perjalanan yang harus ditempuhnya, bukanlah pekerjaan main-main. Hutan rimba, tempat berkeliaran binatang-binatang buas harus ditempuhnya. Bukit dan gunung harus didaki; sungai harus diseberangi dan lembah ataupun jurang harus dituruninya. Di mana pula tempat kediaman tukang tenung itu ? Si Paman belum lagi tahu.

Oleh karena itu ia harus menyinggahi tempat tinggal segala ajar, pertapa, yang diberitahukan orang. Siang malam ia berjalan. Ia tak hendak berhenti mencari dan pulang dengan tangan hampa. Demikian kuat tekad si Paman membela kepentingan Paduka Liku.

Berkat keuletan hati, akhirnya ia sampailah ke puncak gunung, tempat tinggal seorang pertapa yang masyhur kesaktiannya. Sang Pertapa menerima kedatangan utusan Paduka Liku dengan ramah. Sekalipun pertapa sudah tahu maksud kedatangan tamunya, namun dengan saksama ia mendengarkan juga keterangan-keterangan yang dikemukakan tamu itu.

Selesai berbicara, si Paman menyembah dan menundukkan kepala, menunggu jawab dan pesan-pesan sang Ajar.

Setelah bermenung sejenak sambil memejamkan mata, sang Ajar berkata, "Hajat kemanakan Tuan telah kusampaikan dan dikabulkan pula oleh Dewata yang maha mulia.”

Pertapa itu membuang sepah sirih dan menyuruh tamunya memungut lalu katanya, "Bungkuslah sepah sirih itu dengan kain atau sapu tangan. Berikan kepada Paduka Liku. Tuan boleh pulang."

Dengan hati berdebar-debar karena girang, si Paman menurut segala perintah sang Ajar, lalu menyembah dan mohon diri.

Betapa besar hati si Paman tiadalah terperikan. Tanpa kenal lelah ia berjalan siang malam, oleh karena ia ingin lekas sampai dan ingin lekas menyerahkan perolehannya kepada Paduka Liku. Singkatnya cerita si Paman tiba di puri Paduka Liku.

Kebetulan Paduka Liku sedang duduk seorang diri sehingga si Paman dapat berbicara leluasa. Paduka Liku dengan amat sukacita mendengarkan pesan-pesan sang Ajar dan menerima bungkusan sepah sirih itu dari tangan si Paman. Maulah ia menangis dan tertawa sekali, karena amat sangat sukacitanya. Berkali-kali Paduka Liku rnengucapkan terima kasih dan memuji-muji kesetiaan si Paman. Berkali-kali pula ia menengadahkan kepala selaku orang menyampaikan doa dan terima kasih kepada Dewata yang maha mulia.

Setelah berbisik-bisik dekat telinga si Paman sambil menyodorkan sejumlah harta sebagai upah dan setelah si Paman pulang, Paduka Liku lekas menaruh bungkusan sepah sirih itu di bawah bantal ketidurannya.

Jika andaikata, ular senduk yang sangat berbisa dan jahat itu, pandai senyum, kira-kira tiadalah beda dengan senyum Paduka Liku. Di balik kernyut bibir yang manis dan menggairahkan hati itu, kiranya tersembunyi racun yang sangat berbahaya.

Paduka Liku sebentar duduk, sebentar merebahkan diri di atas tempat ketidurannya. Sebentar berdiri bermenung, sebentar berjalan mondar-mandir dalam biliknya. Hatinya berdebar-debar. Bukan berdebar karena cemas dan takut, melainkan karena girang mengenangkan ke menangan yang bakal dicapai.

Hanya satu, hanya satulah tujuan hatinya! Yaitu kepentingan diri sendiri di atas kepentingan semua orang. Biar orang lain mampus binasa, ibarat kata, asalkan dia sendiri hidup mewah, megah, berkuasa di atas segala-galanya. Habis perkara!

Kemenangan pasti jatuh di tangannya! Dan ia pun tak perlu takut akan perlawanan dan dendam kesumat orang. Hatinya besar.

Berani laksana ular senduk, sekalipun menghadapi raja rimba.

Paduka Liku merasa aman dan kuat, berkat hikmat sepah sirih pemberian pertapa sakti. Demikian besar dan kuat kepercayaannya kepada hikmat guna-guna itu.

Sebentar pikirannya melayang ke istana permaisuri Puspa Ningrat dan Galuh Cendera Kirana. Dari sanalah ia sewaktu-waktu boleh mengharapkan kabar yang menggemparkan isi kerajaan Daha.***

Download hikayat ini KLIK di sini
Baca bagian sebelumnya di sini

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook