Sunday, October 30, 2011

Striptease di Jendela

Cerpen Saroni Asikin

SEGALANYA bermula Jumat malam itu. AC di kamar apartemen Eva mendadak mati. Udara yang memang gerah malam itu membuat kamar serupa pendiangan penuh bara menyala. Eva baru menyadari itu ketika dari dahinya berleleran keringat dan jatuh menetes ke bagian bawah dasternya. Begitu juga, tubuhnya mendadak serasa terbakar.
Dia mengumpat-umpat dalam bahasa jorok dan segera menghentikan keasyikannya berchatting dengan seseorang yang menyebut dirinyaCreeper. Dengan jengkel, dia membawa tubuhnya yang terpanggang ke jendela. Membukanya dalam satu sentakan yang keras. Padahal jarang benar dia membuka jendela kamarnya sejak dia tinggal di apartemen itu dua tahun lalu. Buat apa? Toh tak ada yang menarik pada lanskap yang terpampang dari sebuah jendela di apartemen bertingkat 17 itu. Dia sendiri tinggal di sebuah kamar pada lantai tujuh. Dan beberapa kali membuka jendelanya, di luar lanskap yang tersaji hanya jajaran kamar-kamar pada apartemen seberang jalan. Apalagi kamar-kamar itu hampir selalu tertutup.
Jendela sudah terbuka. Itu tetap tak bisa membuat Eva sedikit lebih nyaman. Tak banyak yang bisa diharapkan dari udara gerah yang masuk ke dalam kamar. Tubuh Eva semakin berkeringat dan mendadak ada keinginan mencopot saja pakaian yang dikenakannya. Lagi pula dia tengah berada di kamarnya sendiri dan pada apartemen seberang tak satu kamar pun yang memperlihatkan jendela yang terbuka selain cahaya buram yang tampak pada kaca-kaca jendela yang tertutup.
Kenapa tidak melakukan sesuatu yang iseng ketimbang harus mengutuki AC yang mati, pikirnya. Tak mungkin dia bisa memperbaiki alat pendingin kamar, itu di luar kemampuannya. Dan ini sudah malam. Paling cepat baru besok pagi dia bisa mencari teknisi yang akan memperbaikinya.
Berpikir tentang keisengan itu, dia benar-benar mencopot daster yang dikenakannya. Lalu, hanya memakai bra dan celana dalam, Eva bergerak ke arah audio set-nya. Keras-keras dia menyetel The Doors. Sebelah tangannya menyentak pintu kulkas dan mengambil sebotol bir hitam dari jajaran botol-botol minuman lainnya. Dalam satu gerakan, tutup botol bir telah terbuka dan buncahan busa yang terkocok oleh gerakan tangannya tadi sempat meleler ke lantai.
Dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya, Eva bergerak lagi ke jendela setelah satu tenggakan bir. Mulutnya sibuk menirukan suara Jim Morisson dengan suara yang berat. Sampai di dekat jendela, liukan tubuhnya seperti sudah tak bisa dia kendalikan lagi. Lagu demi lagu telah terputar dan tubuh Eva semakin basah oleh keringat. Bir telah tandas dan dalam satu lemparan, botol itu terjatuh di atas kasur.
Eva masih meliuk-liuk dengan mata terpejam. Ketika itu, dirinya merasa sangat gembira. Dia baru berhenti ketika musik telah berhenti dan dia harus membalik kaset. Dia membuka mata dan pandangannya menatap sebuah jendela yang terbuka di sebuah kamar pada apartemen seberang. Sesosok orang tak begitu jelas tertangkap matanya dari jarak sekitar 100 meter dan lamat-lamat terlihat seperti tengah mencangkungkan dua tangannya di jendela. Eva merasa tatapan mata sosok itu menuju ke jendela kamarnya.
Dengan gemas dia mengumpat dan berpikir, orang itu pasti telah sempat menikmati tingkahnya tadi. Paling tidak sejak dia mulai memejamkan mata ketika menari hanya dengan bra dan celana dalam. Tapi dia buang segala kecanggungannya. Apa salahnya sesekali memberikan hiburan pada orang lain?
Eva bergerak lagi menuju audio set dan mulai berpikir untuk memberikan hiburan yang lebih fantantis lagi pada orang di seberang itu. Aku akan pelan-pelan mencopot bra dan celana dalamku seperti penari striptease, pikirnya. Kenapa tidak kulampiaskan saja kejengkelanku pada cuaca yang panas dengan membuat orang di seberang itu penasaran dan syukur kalau terhibur?
Eva mengambil lebih banyak botol bir hitam dari kulkas. Dia menarik ranjang dan mendekatkannya ke pinggir jendela. Dengan begitu, sekujur tubuhnya akan terlihat dalam bingkai jendela dibandingkan gerakannya barusan yang paling-paling hanya sebatas dada. The Doors segera dia ganti dengan instrumentalia musik latin yang menurutnya cocok untuk menari Salsa atau sejenis dengan itu.
Ketika semuanya sudah siap, dia memandang ke seberang dan sosok itu masih berdiri di dekat jendela dan terlihat tetap mencangkungkan dua lengannya. Eva tersenyum. Dia tahu pasti, pandangan mata orang itu tertuju ke jendela kamarnya. Ketika lebih seksama mengamatinya, dia yakin sosok itu seorang lelaki. Aha! Pikirnya, hiburan yang bakal dia sajikan serupa umpan untuk ikan yang lapar.
Maka menarilah Eva di atas kasur dalam bingkai jendela kamar di lantai tujuh sebuah apartemen. Awalnya dia meliuk-liuk perlahan sepelan tangannya yang menarik kait bra dan melukar kain tipis berenda itu sebelum dengan pelan-pelan melemparkannya ke luar jendela. Bra itu melayang turun. Biarlah esok paginya, seseorang akan menemukannya, hitung-hitung sebagai bonus hiburan bagi orang yang tak melihat aksinya malam itu. Dia mencoba membayangkan gerakan seerotis mungkin ketika mencopot celana dalam dan melemparkannya ke luar jendela.
Eva tak tahu berapa lama dia telah menari dengan gerakan-gerakan yang disangkanya sangat erotis itu. Di atas kasurnya, tujuh botol bir hitam tergeletak. Sisa-sisa bir yang tumpah membuat basah beberapa bagian atas sepreinya. Tubuh telanjangnya telah basah dan lelah sekali. Tapi sosok di seberang masih tetap dengan posisi yang sama. Seolah-olah lelaki di seberang itu sebuah patung yang sengaja diberdirikan menyandar jendela. Sebelum mengakhiri stripteasenya, Eva sempat menajamkan matanya mencoba mengamati secara lebih jelas. Dia tahu, tatapan sosok yang diyakininya seorang lelaki itu hampir selalu tertuju padanya. Tapi mengapa dia seolah-olah bergeming saja? Pertanyaan itu sempat mengganggunya sebelum dirinya yang tetap telanjang terlelap karena kelelahan di antara serakan botol-botol bir.
***
Setelah malam itu, setiap malam Eva hampir selalu tergoda untuk menari tanpa busana di dekat jendela kamarnya yang terbuka. Dirinya seolah-olah dihinggapi perasaan sangat bergairah ketika berpikir bahwa dengan menari telanjang di jendela kamar apartemennya dan dinikmati oleh orang tak dikenal di apartemen seberang, dia serupa seorang diva yang memesona. Ada perasaan puas memberikan hiburan pada orang lain.
Maka setiap malam, dengan selalu memakai kostum yang berbeda sebelum semua itu ditanggalkan dari tubuh pualamnya, Eva beraksi. Sudah bermalam-malam Eva melakukan itu. Dan meskipun, setelah sekian malam, aksinya selalu hanya ditonton satu orang saja di seberang, semua dilakukan dengan kesungguhan yang menakjubkan. Betapa tidak! Terobsesi menyajikan hiburan striptease yang bervariasi dan tentu saja sebisa mungkin memikat, dia telah meminjam banyak video yang berisi tarian erotis itu. Dia merasa telah mampu mempraktekkan hampir semua yang dilihatnya di video. Pelan tapi pasti, dia pun mulai dihinggapi perasaan bahwa dirinya seorang stripper andal.
Dan lelaki itu masih saja di jendela sana, mencangkung pada dua lengan dan tatapan mata tak bergeming ke arahnya. Dan meskipun ada pertanyaan yang menyesakkan dada Eva setiap kali melihat sikap lelaki di seberang yang bergeming itu, kelelahan di ujung tariannya selalu membuatnya terlelap tanpa impian, bahkan selalu pula tanpa sempat menyingkirkan botol-botol yang berserakan di kasurnya. Dia tertidur serupa mayat telungkup dengan satu tangan bertelekan pada jendela yang terbuka.
Hingga semuanya seolah bergerak menjadi sebuah rutinitas. Setiap malam, mati atau tidaknya AC, Eva akan membuka jendela kamar setelah menyetel musik keras-keras. Di kasur yang tak lagi dia tarik ke posisi sebelum di dekatkan ke jendela, beberapa minuman ringan dan keras telah diserakkan begitu saja di atasnya setelah diraup dari dalam kulkas. Lalu dia meliuk-liuk erotis di depan jendela setelah sekilas melihat sosok di seberang sudah mencangkung di jendela. Beberapa jam itu berlangsung hingga Eva didera kelelahan dan tidur tanpa impian.
Ketika bangun, dia sempat sebentar mengamati tubuh telanjangnya pada cermin di tempat riasnya. Dia tersenyum menyaksikan kemolekan tubuhnya sendiri meskipun sebenarnya perasaannya tak segembira dibandingkan saat menari dengan tubuh telanjang. Sebab, ketika menari telanjang itu, dirinya benar-benar merasa seperti seorang diva pencipta pesona. Semacam sebuah gairah untuk dipuja. Dan itu selalu ingin terus dilakukannya.
Dan gairah itu begitu menggubal dalam dirinya hingga Eva merasa dia begitu mencintai tubuhnya sendiri. Dia tergelak sendiri ketika menyadari dirinya tak lagi membutuhkan kencan dengan lelaki mana pun seperti yang acap dia lakukan. Bahkan, ketika bekerja di kantornya, dia seolah-olah abai pada godaan sejawat lelaki yang selama ini selalu ditanggapinya bagai seekor ayam betina yang tengah dirayu ayam jantan. Dia yakin, paling tidak meskipun dia hanya memiliki satu orang pengagum di seberang apartemennya, itu sudah mengalahkan gelora hatinya ketika berkencan dengan laki-laki mana pun.
***
Malam itu, tak seperti biasanya Eva menari tanpa gairah ketika dia tak melihat sosok yang biasa mencangkungkan lengan di jendela seberang itu. Jendelanya tertutup memperlihatkan kamar yang gelap. Tapi sebagai seorang yang telah merasa menjadi strippersejati, Eva tak urung menari. Dia tetap memainkan gerakan meliuk-liuk sembari mencopoti semua yang dikenakannya.
Tapi itu tak berlangsung selama biasanya. Dia pun hanya sempat menenggak satu botol bir dan ingin segera tidur saja. Eva mencangkung di jendela dan mencoba menghibur dirinya sendiri. Barangkali lelaki itu memang belum pulang ke kamarnya. Atau mungkin juga dia telanjur kelelahan setelah seharian bekerja keras. Tapi dugaan semacam itu pun dielakkannya sendiri. Rasanya tak mungkin itu terjadi, sebab pasti lelaki itu akan berupaya mati-matian untuk bisa menikmati gerakan tariannya. Apalagi, sajian gratisnya seolah-olah telah terjadwal. Sudah pasti lelaki itu bisa mengagendakan jadwalnya sendiri agar bisa menikmati liukan tubuh polos di seberang apartemennya.
Beberapa saat lamanya Eva berada dalam kecamuk hati seperti itu. Lalu dengan sebuah pikiran yang lebih banyak untuk menghiburnya dia mengatakan pada dirinya sendiri, “Boleh jadi lelaki itu belum pulang. Baiknya aku tunggu saja beberapa lama.”
Tapi hingga kantuknya menyerang, kamar di seberang tetap gelap. Dan ketika keesokan malamnya dan beberapa malam berikutnya, kamar di seberang itu tetap gelap ketika Eva hendak menyuguhkanstripteasenya, dia diserang frustrasi yang hebat. Jujur Eva akui, dirinya begitu membutuhkan lelaki yang tak dikenalnya itu untuk mengagumi dirinya. Dan ketika sosok itu lenyap seolah hantu terterpa cahaya fajar, dengan kesal Eva mengutuki dirinya dan membantingi botol-botol minuman yang telah dia persiapkan di atas kasur. Setelah itu, dia tidur dengan gelisah dan penuh mimpi buruk.
Sejak itu, Eva tak lagi menari. Buat apa, katanya, buat apa menari tanpa seorang pun terpesona karenanya. Setiap malamnya dia hanya membuka jendela dan berharap setidaknya ada cahaya pada kamar di seberang itu. Dan kalau bisa, jendelanya lalu terbuka dengan sebuah sosok yang mencangkungkan lengan dan menatap ke arah kamarnya. Tak pelak lagi, sejak tak menari, malam hanyalah teror bengis baginya.
Hingga suatu malam, Eva melihat ada cahaya pada kamar di seberang itu. Hatinya bertempik. Dengan cemas dia menunggu jendela kamar itu dibuka dan sosok yang diharapkannya akan muncul. Teriakan girangnya terlontar begitu saja dari mulutnya ketika dia melihat jendela pelan-pelan dibuka dan sosok itu muncul dari balik jendela yang terbuka.
“Yes!” teriak Eva sembari meloncat dari kasur untuk menyalakan musik. Ketika mulai menari, baru malam itu Eva merasakan kegembiraan yang tak pernah dirasakan selama malam-malam penuh gelora tarian telanjangnya. Bahkan ketika asyik meliuk-liukkan tubuh, tak henti-hentinya mulutnya menceracap, “Lihat! Inilahstripper sejati. Sang Diva! Lihat, betapa lelaki itu mengagumiku serupa remaja tanggung yang kali pertama melihat tubuh telanjang lawan jenisnya. Lihat, lihat!”
Ya, malam itu Eva menari seolah tanpa lelah. Dia begitu bahagia. Ketika dia harus mengganti musik pada jeda tariannya, dan sosok itu masih tetap setia mencangkung di jendela dengan tatapan seolah terpaku ke kamarnya, Eva sempat geli ketika pikirannya didera pertanyaan, jangan-jangan dia telah jatuh cinta pada sosok di seberang itu. Tapi itu ditepiskannya. Dia yakin, dia hanya membutuhkan kehadiran lelaki itu untuk melihatnya menari telanjang. Dia hanya membutuhkan orang itu untuk mengagumi tubuh dan semua gerakan yang tercipta olehnya. Tak lebih dari itu. Tapi mendadak pula dia diserang keinginan untuk setidaknya mengetahui siapa lelaki itu sebenarnya. Setidaknya nama dia.
Begitu saja dia ambil ponselnya yang tergeletak di atas meja rias. Sambil berjalan kembali menuju kasur yang menjadi arena tariannya, dia mencari tahu nomor telepon apartemen seberang ke operator. Begitu diperoleh dia pencet beberapa nomor dan jawaban ramah dari seberang terdengar. Eva sangat yakin, itu suara salah seorang penjaga apartemen.
Maka dengan tetap meliuk-liukkan tubuh, Eva menanyakan nama lelaki yang kini masih tetap setia menatap ke arah kamarnya. Suara di seberang berubah sedikit tak sabar ketika Eva tak bisa menjawab nomor kamar lelaki yang dimaksud seperti yang dikehendaki penjaga itu.
“Lho, bagaimana saya tahu nama penghuninya kalau Anda tak tahu nomor kamarnya?”
Eva tak kurang akal. Masih dengan meliuk-liuk, dia mengatakan, “Begini saja, Pak. Orang itu masih berdiri mencangkung di jendela kamarnya. Tepatnya pada lantai tujuh. Dan kalau Anda sedikit berkenan melihatnya, dengan mudah Anda akan mengenali. Sebab, setahu saya di apartemen Anda, sekarang ini hanya dia seorang yang membuka jendela dan berdiri di jendela.”
Eva menunggu dengan sabar. Ponselnya masih terus diaktifkan. Beberapa saat berikutnya, Eva melihat seorang lelaki keluar dari sebuah gerbang dan mendongakkan wajahnya ke arah sosok yang mencangkung itu. Eva sangat gembira melihat penjaga itu berlari masuk, lalu di ponselnya terdengar lagi suara si penjaga, “Hallo! Anda masih di situ? Begini, mungkin yang Anda maksud itu Manon. Tapi kamar yang disewa itu atas nama istrinya. Kalau orang buta itu yang Anda maksud, Manon namanya.”
Kalimat terakhir penjaga itu serupa sengatan lebah paling berbisa buat Eva. Seolah tak percaya dengan informasi itu, Eva berteriak, “Dia buta, Pak?”
“Ya! Kami semua mengenalnya karena dia satu-satunya yang buta di sini. Kabarnya dia memang suka menghirupi udara malam. Ada apa sebenarnya, Nona? Hallo?! Hallo, Anda masih mendengar?”
Ponsel Eva sudah jatuh ke luar jendela. Eva tak mendengar bunyi pecahnya yang menimpa aspal yang keras. Tapi dia seolah mendengar sesuatu yang pecah dalam dadanya sebelum tubuh telanjangnya lunglai tersandar ke jendela. (*)
Sumber: Jawa Pos, 2 Oktober 2011

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Tuesday, October 25, 2011

Cerpen GM Sudarta Wiro Seledri

Wiro Seledri
Cerpen GM Sudarta

Berita lelayu yang diumumkan mesjid desa sesudah shalat subuh, mengejutkan saya. Mbah Prawiro meninggal dunia, padahal 3 hari yang lalu saya masih menjumpainya saat bersama ta’ziah di tetangga dekat rumah yang meninggal.
Bergegas saya menuju tempat tinggalnya. Setibanya di gubugnya, terlihat tidak banyak orang yang melayat. Hanya ketua RT setempat, beberapa hansip, pengurus mesjid, dan seorang polisi. Mbah Prawiro terbaring di atas ranjang bambu beralaskan tikar pandan yang sudah lusuh, diselubungi selembar kain batik. Di dalam ruangan yang cuma 3×4 meter yang sekaligus sebagai rumah tinggal dan dapur, di sekelilingnya teronggok kompor minyak tanah, periuk nasi, panci aluminium, dan dua buah cangkir dan piring kaleng.
Pak Min, penjaga palang rel kereta api mengisahkan, tadi sehabis shalat subuh, mbah Wiro, begitu biasa dipanggil namanya, berjalan pulang seperti biasanya lewat sepanjang rel kereta. Waktu itu adalah saatnya kereta dari Jakarta menuju Solo Balapan akan lewat. Sementara dia menutup palang rel kereta, dari sinar lampu kereta yang datang terlihat bayangan mbah Wiro yang masih berjalan di tengah rel. Pak Min berusaha mengejar sambil berteriak memanggilnya, tetapi mbah Wiro semakin cepat melangkah sambil mengucapkan Allahu Akbar dan merentangkan tangan. Dan terjadilah, mbah Wiro terpental ke sawah di samping rel.
”Tidak banyak lukanya, hanya di dada dan kedua kaki patah” jelas pak Min.
***
Sebetulnya belumlah bisa disebut rumah karena masih berupa gubug bambu beratap rumbia tak jauh dari rel kereta, seluas tak lebih dari 12 meter persegi, dengan secuil tanah sekeliling teritisannya dipenuhi tanaman sayur seledri yang rimbun, adalah tempat tinggal mbah Wiro yang telah dihuninya lebih 10 tahun. Dengan penghuninya yang sepertinya menyimpan misteri ini, sangat menarik perhatian dan keingintahuan saya.
Konon mbah Wiro adalah eks tahanan politik yang telah belasan tahun mendekam di tanah buangan jauh di belahan timur negeri ini. Usianya mungkin hampir 80 tahun. Setiap kali, dengan tertatih-tatih berjalan sambil membawa segepok sayur seledri untuk di jual ke pasar. Inilah kemudian yang mebuatnya disebut juga mbah Wiro Seledri.
Pertama kali saya berjumpa mbah Wiro, sewaktu berta’ziah seorang kerabat yang meninggal beberapa tahun lalu. Saya perhatikan, sementara jenasah sedang dishalatkan, dia duduk menyendiri, dengan mata rapat terpejam, kedua tangan dalam sikap mau shalat, nafas hampir tak terdengar. Kemudian ketika jenasah dimasukkan ke liang lahat, dia pun berhal demikian. Ternyata beberapa kali, setiap kali ada warga yang meninggal, saya menjumpai hal yang sama, sehingga mengusik hati dan penasaran untuk ingin tahu, apa sebenarnya yang dia lakukan.
Dari pak lurah, saya dengar bahwa mbah Wiro memang rajin melayat siapapun warga yang meninggal, kenal maupun tidak kenal. Sehingga kadang orang mencibir, itu kan hanya mencari suguhan teh dan sepotong kue dari keluarga yang berduka. Tetapi warga desa kami jarang mengadakan suguhan seperti itu. Kalaupun ada saya lihat mbah Wiro tidak menyentuhnya. Ini yang mendorong saya makin ingin tahu tentang dia.
Kesempatan itu datang saat ada acara pemakaman di desa sebelah. Kami pulang bersama meniti pematang. Secara tidak langsung saya bertanya tentang doa untuk orang meninggal. Dia menatap saya agak lama, sepertinya ingin mengatakan, ”Kan kamu sendiri sudah tahu!”
”Begini nak mas, saya berdoa untuk yang meninggal dan untuk saya sendiri,” jelasnya, ”Saya berbuat seperti yang nak mas perhatikan, karena dalam kegelapan mata terpejam kita bisa lebih banyak melihat.”
Saya terperangah sejenak.
“Maksudnya mbah.”
Dia hanya tersenyum dan bergegas menuju gubugnya.
Ah, gila rasanya dengan semakin besar keingintahuan saya akan misteri orang sepuh ini. Saya pun jadi rajin mendatangi acara pemakaman siapa saja untuk bertemu mbah Wiro. Mungkin teman-teman saya sudah menganggap saya ini pengikut ajaran mbah Wiro. Waktu saya tanyakan dalam kegelapan apa yang ingin mbah Wiro lihat.
Izroil!
Wah, makin gila saya mendengar jawabannya. Malaekat maut?!
Akhirnya saya paksa diri saya pada suatu hari berkunjung ke tempat tinggalnya.
”Nak mas masih muda. Dalam usia seperti saya, yang telah menjalani perjalanan hidup yang kelewat panjang adalah saat untuk merindukan ketenangan. Saya tahu malaekat Izroil akan selalu hadir saat orang meninggal”
Saya masih belum mengerti maksudnya
”Mbah pernah melihat Izroil?”
Dia menatap saya agak lama dengan muka serius. Seakan bergumam pelan dia berkata:
”Saya rasa sudah saatnya kaum muda mengerti akan perjalanan sejarah kelam yang telah terjadi di negeri ini?”
”Sudah pernah!” ujarnya kemudian dengan tegas
”Sekitar 40 tahun lalu, pasti nak mas belum lahir, hal itu terjadi. Bersamaan dengan munculnya lintang kemukus di langit menjelang tengah malam, itu pertanda bahwa dajal menguasai kita. Oleh dendam yang tak jelas, ribuan saudara kita dimakan pedang dan clurit.”
Saya belum menangkap maknanya.
Mbah Wiro berbalik sejenak, menyiapkan teh hangat yang kemudian disodorkan ke saya. Dia sulut rokok kawungnya, diisapnya dalam-dalam. Asapnya menyembur ke seluruh ruangan, membuat saya sedikit terbatuk-batuk. Dia ucapkan maaf dan menyilakan saya minum. Saya agak mengernyit menghirup teh yang pahit benar di lidah saya.
”Nak mas, kepahitan hidup bisa menjadi permulaan kemanisan hidup. Juga kemanisan hidup bisa juga menjadi permulaan kepahitan hidup.”
”Maksudnya?”
”Semasa muda saya hidup senang sebagai petani dengan sawah warisan orangtua yang luas. Hidup sangat kecukupan. Tapi kita manusia suka lupa diri, kurang mensyukuri nikmat Allah. Sawah ludes dalam judi sabung ayam. Jatuh ke tangan orang kaya yang banyak orang menyebutnya seorang tuan tanah. Akhirnya jadilah saya cuma sebagai petani penggarap. Dalam kesulitan hidup ini, sebuah organisasi persatuan para petani datang sebagai dewa penolong, paling tidak menolong saya lebih bersemangat dalam menghadapi hidup. Organisasi ini menjanjikan perjuangan untuk memperbaiki kehidupan petani, dengan melawan apa yang disebut setan desa, seperti rentenir, tengkulak ijon, dan apa saja yang merugikan kaum tani, termasuk melawan tuan tanah. Saya aktif di dalamnya sebagai ketua ranting desa…Yang baru kemudian saya tahu, bahwa organisasi ini mendapat julukan onderbow partai terlarang, oleh pemerintah!”
Mbah Wiro menghentikan ceritanya sejenak. Menarik nafas panjang, kemudian meneruskan:
”Dan pertanda lintang kemukus malam itu terbukti. Petaka besar terjadi. Hanya dengan tudingan terindikasi partai terlarang saja, saudara-saudara kita dibantai oleh sesama saudara. Perburuan telah membuat desa ini banjir darah. Nyawa manusia lebih murah dari nyawa ayam. Pak lurah memang menasehatkan saya untuk melarikan diri, karena menurut dia saya sudah masuk daftar. Tapi saya enggan. Sampai suatu tengah malam segerombolan orang berseragam membawa senjata laras panjang dan beberapa warga menyandang pedang dan clurit terdengar bergerak menuju tempat tinggal saya. Istri saya suruh sembunyi di semak-semak kebun belakang, sedang saya di ladang jagung, tak jauh dari depan rumah.
Setelah mereka menggeledah rumah ternyata kosong. Seorang dari mereka berteriak: Ladang jagung! Jadilah tanpa pikir lagi saya lari. Terus saja lari, meskipun dari jauh terdengar jeritan dan tangisan minta ampun istri saya. Lari menerabas apa saja, sampai nafas hampir habis, sampai jatuh terjerembab di bantalan rel kereta di pinggir desa.
Kemudian dengan sisa tenaga yang ada, saya susuri rel hingga sampai stasiun di batas kota. Saya mungkin pingsan. Setelah sadar saya sudah terbaring di tengah beberapa pemuda berbaju loreng seperti aparat. Saya dibawa ke suatu rumah besar yang penuh pemuda berseragam sama, tetapi saya rasa mereka bukan ABRI, karena hanya menyandang pedang dan clurit. Di sana saya benar-benar merasa akan dihabisi oleh sesama saudara!”
Sampai di sini, saya berpikir mana hubungannya dengan Izroil? Yang saya tahu hanyalah cerita guru tentang pemberontakan G30S sewaktu di sekolah menengah.
”Setelah disekap satu hari, tengah malam saya dinaikkan truk bersama banyak orang tangkapan lain,” lanjut mbah Wiro. ”Dengan tangan terikat dan mata tertutup kain hitam kami dibawa entah ke mana. Kami diturunkan di tempat yang saya pikir pasti hutan karena saya mendengar suara gemerisik dedaunan yang kami lewati. Kami dibariskan satu-satu disertai tendangan dan makian. Sebentar-sebentar kami disuruh maju selangkah. Dan sebentar-sebentar terdengar jeritan mohon ampun serta suara benda berat jatuh ke air. Saya semakin pasti bahwa saya akan dibantai. Ya Tuhan ampunilah segala dosa kami, tolonglah kami. Giliran saya tinggal maju setapak lagi. Saya tengadahkan muka sambil menangis, doa saya tak henti-henti. Dalam kegelapan mata tertutup, saya melihat seorang berjubah hitam mengendarai kuda di angkasa dan menoleh, sekejap tersenyum kepada saya….
Tiba-tiba terdengar tembakan gencar dan langkah-langkah berat berdatangan. Tembak-menembak terjadi. Tanpa komando kami tiarap. Teriakan kematian bersahutan. Sesaat kemudian berhenti.
Ternyata yang datang benar-benar anggota ABRI yang melepaskan tutup mata dan tali ikatan kami. Terdapat ada beberapa orang pemuda sedang sekarat dan seorang benar-benar meninggal tergeletak dengan sebuah kapak besar masih di tangan. Dan ya Allah, sebuah gubug pembantaian itu terletak di bibir sungai besar di mana menurut kisah lama Joko Tingkir telah mengalahkan 40 ekor buaya di sungai itu!
Itulah permulaan jalan panjang saya menuju tanah pengasingan di sebuah pulau yang jauh di sebelah timur sana”
Badan saya merinding membayangkan kisahnya. Saya jadi ragu dan bingung, apa yang sebenarnya terjadi dengan kengerian yang digambarkan film Pengkhianatan G30S/PKI yang diwajibkan oleh pemerintah untuk semua warga sampai anak sekolah harus menonton.
Melihat wajah mbah Wiro yang tampak letih, saya mencoba mengalihkan pembicaraan:
”Wah hebat. Sayur seledrinya subur amat mbah.”
”Darah dan daging saya seorang petani,” ujar mbah Wiro manggut-manggut, ”Tuhan menganugerahi setiap umat, kemampuan untuk bertahan hidup dalam keadaan apa pun.”
”Termasuk semaktu di tanah pengasingan mbah?”
”Benar nak mas. 12 tahun memendam perasaan kesendirian, kesepian, kengerian keadaan ribuan tahanan yang tak lepas dari kekerasan petugas, jaminan hidup tak memadai, harga diri sebagai manusia dihabisi, dan segala yang rasanya membikin hilang harapan. Tetapi ternyata itu semua makin memperkuat ketahanan kita untuk hidup. Meskipun kami ditempatkan di daerah perbukitan yang gersang. Tanaman yang tumbuh banyak hanya pohon kayu putih.
Semula memang tidak tahu apa yang akan saya buat, tapi akhirnya sadar bahwa kami dibuang di sini, mungkin demi mengurangi beban pemerintah untuk memberi makan kami. Itulah yang membuat kami semua merasa mempunyai satu ikatan kekeluargan yang erat. Kami mencoba bercocok tanam padi, tebu, jagung, ubi, dan kacang, Hasilnya kami konsumsi bersama. Meski kekurangan pupuk, tanaman kami cukup memuaskan.”
”Lalu dengan pupuk apa mbah” tanyaku asal-asalan.
”Sedikit ZA dicampur air tinja!” jawabnya serius. Saya tersenyum mendengar jawabannya. Tetapi wajahnya berubah sedih seperti hampir menangis.
”Tinja memang kita anggap barang paling hina dan menjadi santapan enak bagi babi.
Tapi benda itu yang membuat saya bisa bertemu Izroil lagi!”
Mbah Wiro tercenung beberapa saat, kemudian mendekatkan wajahnya padaku, sambil ujarnya pelan:
”Suatu hari, selepas menyiangi tanaman, perut saya berontak, yang membuat saya tak tahan buang air besar di sungai yang tak jauh dari barak. Tiba-tiba sebuah bedil menyalak, pelurunya hampir menembus kepala saya. Segera saya lari menuju barak, ternyata petugas bersenapan tadi sudah menunggu saya. Dengan tendangan saya dipaksa mengambil tinja yang sudah terapung di sungai. Dan di depan teman-teman dia paksa saya merangkak, dengan tendangan bertubi-tubi serta ancaman senjata, saya harus melahap tinja bagaikan seekor babi.
Selama seminggu hati saya menangis. Ketabahan saya selama ini runtuh. Betapa hinanya harga diri saya sebagai manusia. Sehingga tak tahan saya untuk tidak menyiapkan tali. Sewaktu jeratan tali mencekik leher dan sudah tak sadarkan diri sekilas seorang berjubah hitam mengendarai kuda di angkasa menoleh dan tersenyum kepada saya. Tiba-tiba teman-teman menolong menurunkan saya!”
Mbah Wiro diam sejenak, berkata pelan seperti pada dirinya sendiri:
”Ya sebetulnya dijadikan babi tidaklah seberat ketika telah dipulangkan dari sana. Saya menerima kenyataan tidak lagi bisa menjumpai rumah dan istri serta sanak keluarga saya.”
Seakan ada sesuatu yang menyesaki dada saya mendengar kisah terakhir ini. Lama kami terdiam. Mbah Wiro melepas nafas panjang dan memandang jauh ke depan, ke arah rel kereta di depan rumah. Sambil menunjuk sepasang rel kereta yang lurus sampai ujungnya tak terlihat, ujarnya:
”Lihat nak mas! Perjalanan hidup ini ibarat dalam kereta di atas rel lurus dengan tujuan yang sudah pasti di ujungnya. Kita tidak bisa membelokkan sendiri ke arah lain!”
Kami ngobrol apa saja sampai menjelang magrib. Sebelum meninggalkan rumahnya, saya sempat bertanya setengah bercanda:
”Omong-omong bagamana wajah malaekat itu, mbah?”
”Itu rahasia Tuhan!” jawabnya tegas.
Sesampai di depan rumahnya, saya memperhatikan tanaman seledrinya yang nampak benar sangat subur, saya bertanya pula:
”Pupuknya apa mbah?”
Dia hanya tersenyum kecil, sambil berbalik ke rumahnya.
Sehabis pertemuan itu, sekian lama saya tidak menjumpainya, sehubungan dengan tugas saya ke ibu kota. Hingga suatu hari secara kebetulan saya bertemu mbah Wiro sedang berjalan ke pasar sambil membawa segepok sayur seledri. Basa basi saya menyapa dengan bertanya apa kabar.
”Semalam saya bertemu dengan malaekat Izroil, dan dia telah mengabulkan permohonan saya tentang kerinduan yang selama ini saya dambakan” jawabnya sambil tersenyum. Tapi senyum itu! Senyum itu terasa sangat aneh.
***
Sehabis dzuhur jenasah mbah Wiro diberangkatkan ke pemakaman di pinggir desa. Pelayatnya hanya bisa dihitung dengan jari. Saya ikut mengusung kerandanya.
Sewaktu jenasah diturunkan ke liang lahat dan ketika kain kafan di wajahnya dibuka, saya sempat melihat wajahnya. Wajah yang tenang dan nampak tersenyum. Saya rasa mbah Wiro Seledri telah bersama malaekat Izroil ikut menunggang kuda di angkasa!
Klaten, 2011

Friday, October 21, 2011

Catatan Kecil Cermin Merah Riantiarno

CATATAN KECIL ATAS CERMIN MERAH NANO RIANTIARNO
Maman S Mahayana


“Cermin Merah seperti saluran air yang mampat. Ia menyimpan kepedihan psikis anak manusia yang gelisah: mempertanyakan sang ayah yang hilang diterkam politik tahun 1965, kakak yang tewas dalam pendakian gunung, menggelandang di ibukota atau menikmati percintaan yang tak lazim. Novel yang sangat filmis ini seperti sengaja berakhir tak selesai. Sejumlah pertanyaan menggantung tak berjawab.” Itulah kesimpulan yang dapat saya tangkap selepas membaca (naskah) novel ini. Sebuah kesimpulan yang sangat umum dan tentu saja belum menjelaskan apa-apa.
Sesungguhnya banyak aspek yang dapat kita angkat dari novel ini. Secara struktural, setidaknya ada tiga anasir yang menonjol, yaitu (1) penokohan yang dalam proses karakterisasinya –memakai ungkapan Nano—membrodol sejumlah pertanyaan tak berjawab, (2) tema penyimpangan yang menciptakan semacam labirin yang terus berputar entah sampai kapan. Semua seperti dihadirkan begitu saja sebagai pengejawantahan kemarahan yang tak terucapkan; kepedihan yang tak perlu ditangisi, tetapi tokh kerap mencuat dan mengganjal; atau harapan-harapan yang kandas, tetapi coba dibangun kembali lewat bayang-bayang, dan (3) alur cerita yang tampaknya sengaja disusun bolak-balik, bertumpuk-tumpuk antara masa lalu dan masa kini. Sementara, bagian awal yang semula digunakan sebagai sintesis tentang kehidupan tokoh utama, kini menjadi bingkai yang mengawali dan menutup rangkaian semua peristiwa dalam novel ini.
Kisahnya sendiri disajikan secara konvensional, meski pengarang mengolah kembali bangunan ceritanya dengan memanfaatkan serangkaian peristiwa kilas-balik.

Arsena –tokoh aku—berasal dari lingkungan keluarga sederhana. Semasa SMA, ia masuk dalam pesona teman sebangkunya, Anto –yang wandu. Itulah pengalamanan pertamanya “bercinta”. Dalam keluarga dan lingkungan sosial, sang Kakak, Herman, menjadi pusat orientasi. Ketika masa pembentukan pribadi sedang dalam proses, sang Kakak tewas dalam pendakian gunung. Anto, bersama ibunya, juga tewas dalam sebuah kecelakaan. Belum lepas dari kedua tragedi itu, Ayah yang diyakininya tak pernah bermasalah, tiba-tiba diculik dan dinyatakan terlibat G 30 S PKI. Sebuah vonis yang berimplikasi sangat dahsyat dan sisi negatifnya menepel terus jauh ke depan.
Lulus SMA, Arsena merasakan, vonis itu menjelma kuburan. Ia lalu hijrah ke Jakarta. Berkat bantuan Hilman, kawan kakaknya, ia mulai menata hidupnya. Mulai lahir kegairahan. Berkenalan dengan Nancy yang kemudian menjadi kekasih abadi. Juga berkenalan dengan Edu –yang dalam bayangan Arsena sebagai “reinkarnasi” dua sosok manusia: Herman –kakaknya dan Anto “cinta pertamanya”. Ternyata magnet Edu terlalu kuat. Arsena tak dapat melepaskan diri dari gerayang si gay itu. Ia lupa segalanya, lupa pula pada Nancy yang belakangan tewas lantaran abortus.
Segalanya seperti berantakan. Ia ingin lepas dari Edu, sekaligus juga tak hendak keluar dari ketiaknya. Sikap ambivalensi itu seperti terus-menerus lengket menempel mengganggu batin-pikirannya. Dan pada saat tertentu, tumpah semua dalam wujud bayangan Ayah, Nancy, Anto, Herman, hingga ia memutuskan masuk ke dalam “Lubang Putih Bercahaya”. Pertanyaannya: bagaimana nasib Arsena, si tokoh aku itu? Matikah atau masih sempat natal bersama Ibu dan adiknya?
***
Ringkasan tadi niscaya tidak mewakili keseluruhan isi teks Cermin Merah. Meski begitu, setidak-tidaknya, ia dapat digunakan sebagai alat untuk membentangkan benang merah kisah Arsena –Aku—yang menjadi tokoh utama novel ini.
Dalam konteks mengusung inovasi, Cermin Merah tak menawarkan gebrakan estetik. Meski demikian, gaya berceritanya yang filmis, lincah dan jernih, menunjukkan bahwa pengarangnya masih menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya ditumpahkan dalam novel ini. Periksa saja, misalnya, deskripsi tentang malam perdana pentas sandiwara yang mengawali karier kesenimanan tokoh Aku. Selama 30 menit menunggu layar dibuka, pengarang berhasil mengungkapkan banyak hal (hlm. 114—129) yang mengingatkan kita pada gaya Pramoedya Ananta Toer dalam Keluarga Gerilya, Alexandre Solzhinitsin dalam Sehari dalam Hidup Ivan Denisovitch, atau Gustave Flaubert dalam Madame Bovary ketika tokoh Emma menghadapi proses kematian ia setelah menenggak racun. Jadi, dalam soal penyajian cerita, Nano Riantiarno tampak sangat matang dan peduli pada detail.
Sebagaimana disinggung tadi, setidaknya ada tiga anasir yang menonjol dalam novel ini, yaitu penokohan, tema, dan penyajian alur cerita. Mari kita periksa:
(1) Dilihat dari aspek penokohan, pengarang tampaknya masih banyak menyimpan kegelisahan subjektifnya dalam memandang dan menempatkan tragedi G 30 S PKI. Tokoh Aku –Arsena— dan Ibunya, jelas merupakan korban tak bersalah dari ratusan ribu korban lain yang sangat mungkin mengalami peristiwa yang lebih dahsyat lagi –seperti yang dialami tokoh tukang beca. Tetapi, korban utamanya, Ayah, seperti sengaja dibiarkan sebagai misteri: apakah benar terlibat atau sekadar fitnah. Jika di bagian awal, tokoh Aku gigih membela Ibu dan tetap berkeyakinan bahwa Ayah tak bersalah, lalu mengapa ia dipersalahkan hanya lantaran Ayah tak (sempat) memberi penjelasan. Apakah ini bentuk pemaafan –atau kompromi— utnuk melupakan masa lalu yang kelam dan menatap masa depan yang lebih rekonsiliatif?
Ke mana pula “lenyapnya” tokoh Johari –teman sekelas tokoh Aku—dan terutama Ayah Johari yang menjadi salah sebuah sekrup dari mesin raksasa yang bernama Aparat Keamanan (: Penguasa)? Keengganan pengarang untuk menghadirkan kembali kedua tokoh itu sangat mungkin pula sebagai bentuk pemaafan itu.
Peranan tokoh-tokoh itu memang berbeda dengan Herman—Sang Kakak, Anto, Hilman –sutradara, Edu, dan Nancy yang secara psikologis menjadi bagian penting bagi pembentukan karakter tokoh Aku. Dari sudut itu, novel ini jelas menyajikan sebuah problem psikologis yang kompleks. Penyimpangan yang dilakoni tokoh Aku dengan nyaman dan kadang kala dirasakannya menjijikkan itu, terbangun dari kenangan indah masa lalu (nostalgia) dan sekaligus juga sebagai pelarian dari sebuah trauma kehilangan (Kakak dan Anto yang tiba-tiba tewas). Demikian juga kenikmatan bersebadan dengan Nancy, di satu pihak menghadirkan rasa bersalah, dan di pihak lain menyedot tokoh Aku lebih jauh dalam ketiak Edu.
Problem psikologis yang disajikan sedemikian rupa lewat kegelisahan, letupan-letupan hasrat terpendam, dan kemenduaan cinta Arsena –Edu yang gay dan Nancy— di satu pihak seperti hendak membiaskan kisah tragedi G 30 S PKI, dan di pihak lain, justru hendak memperkuat, betapa tragedi itu berimplikasi jauh lebih dahsyat dari sekadar kehilangan ayah atau sanak keluarga. Trauma psikologis yang tak gampang disembuhkan dan menempel terus selama hidup. Kasus yang dialami Arsena adalah salah satu contoh. Contoh lain, sangat mungkin lebih dahsyat lagi.
Cara “mematikan” tokoh-tokohnya (Herman, Anto, Nancy) yang terkesan begitu gampang itu, di satu pihak, pengarang terkesan terlalu memokuskan diri pada tema cerita, dan di pihak lain, justru sengaja untuk memperkuat problem psikologis tokoh aku. Dengan kematian, rasa kagum, cinta, benci, dan bersalah, jauh lebih kuat dibandingkan jika tokoh-tokohnya masih hidup.
Tokoh-tokoh lain sesungguhnya masih mengundang problem tersendiri. Tokoh Hilman, Sang Sutradara, misalnya, seperti dilenyapkan begitu saja, padahal ia juga salah satu tokoh yang memungkinkan tokoh Arsena makin terpuruk oleh rasa bersalah.
(2) Tema penyimpangan yang menciptakan semacam labirin yang terus berputar itu seperti sebuah selimut yang menutupi subjektivitas pengarangnya dalam mencemooh penguasa. Sumber segala penyimpangan itu, tidak lain, adalah penculikan Sang Ayah. Tak jelas kesalahannya, tak jelas keberadaannya, tak jelas pula keterangan yang diberikan pihak aparat keamanan adalah penyimpangan yang dilegitimasi atas nama negara. Penyimpangan ini menularkan pula penyimpangan lain. Satu di antaranya menyangkut hubungan janjan dan jantina. Ekses-ekses lain tentu saja dengan gampang dapat kita tunjuk berbagai penyimpangan lain yang terjadi di sekitar kita. Artinya, tindakan apapun yang menyimpang yang dilakukan penguasa, dampaknya akan sangat besar, tidak hanya bagi orang per orang, tetapi juga bagi bangsa yang bersangkutan.
Dalam kasus ini, tampak benar kehati-hatian pengarang berpengaruh pada struktur formal karyanya. Kasus penculikan Ayah seperti dibiarkan begitu saja menggantung dan menjadi misteri. Ia menjadi pertanyaan yang tak berjawab; saluran air yang mampat dan mengocor (: menyimpang) ke arah yang lain. Dan itu diselusupkan pada diri tokoh Aku yang tak banyak menggugat dan mempertanyakan keberadaan sang ayah. Ia berkutat pada persoalan dirinya sendiri, meski kemudian ia juga tidak bisa keluar dari lingkaran persoalan yang diciptakannya sendiri.
Secara tematik, percintaan menyimpang model ini boleh dikatakan sebagai hal yang baru –apalagi jika benar novel ini sudah diselesaikan tahun 1973. Jadi, jika belakangan ini bermunculan novel yang mengangkat persoalan homoseksual atau lesbianisme, Cermin Merah sudah mendahului zamannya.
(3) Alur cerita yang tampaknya sengaja disusun bolak-balik, bertumpuk-tumpuk antara masa lalu dan masa kini.
Jika disusun secara kronologis, novel ini sebenarnya dimulai dari kisah “Anto si Kenes Berbakat” (hlm. 61) dan terus berlanjut sampai “Apel Merah Gairah Terpendam” (hlm. 82—96). Bagian awal yang bertajuk “Lubang Putih Bercahaya” sesungguhnya merupakan sintesis dari keseluruhan kisah novel Cermin Merah yang kemudian dimunculkan lagi di bagian akhir. Sedangkan bagian yang bertajuk “Secangkir Kopi dan Bogenvil” (hlm. 97—104) merupakan kelanjutan dari kisah bagian yang bertajuk “Dalam Benteng Kemustahilan” (hlm. 55—60). Demikian, pengarang seperti bersengaja bolak-balik mempermainkan ingatan si tokoh aku. Dengan bentuk kilas balik seperti itu, maka pengarang sesungguhnya hendak menarik-ulur tegangan dan sekaligus juga “menguji” tingkat apresiasi pembaca.
Teknik model itu tentu saja bukan hal yang baru dalam perjalanan novel Indonesia modern. Tetapi, setidaknya pengarang tidak terjebak pada bentuk penceritaan yang teguh berpegang pada bentuk konvensional.
***
Secara keseluruhan, unsur-unsur yang membangun struktur novel Cermin Merah, harus diakui memperlihatkan kekompakan dan koherensi yang kokoh sebagai sebuah kesatuan integral. Artinya, tema penyimpangan dengan karakterisasi tokohnya yang berlatar belakang problem psikologis yang kompleks, dan didukung oleh pola penceritaan yang memanfaatkan bentuk kilas-balik, keseluruhannya menjadi sangat fungsional. Unsur yang satu tidak dapat dipisahkan begitu saja dari unsur lainnya. Jadi, segenap unsurnya itu hadir sebagai satu kesatuan.
Meskipun demikian, kecenderungan pengarang untuk memasukkan komentarnya, kadang-kadang seperti mencolot begitu saja. Justru dalam hal itulah, hubungan intim pembaca dan teks, acap kali terganggu. Komentar itu seperti menyadarkan pembaca, bahwa ada jarak yang tegas antara pembaca dan teks. Padahal, proses pembacaan bagi pembaca adalah sebuah penyatuan hubungan yang memungkinkan pembaca sampai pada apa yang disebut sentuh estetik. Sebuah kenikmatan estetik yang menyelusup –tanpa sadar—masuk ke dalam segenap rasa dan imajinasi pembaca. Perhatikan kutipan berikut:
Akan kuceritakan segera, runtut, sabarlah (hlm. 187)
Dia, yang kuceritakan sejak awal lakon ini (hlm. 220)
Dia datang. Dia, yang kukisahkan sejak awal tulisan ini. (hlm. 238) dst.
Pertanyaannya: Jika kutipan-kutipan itu dihilangkan, apakah makna keseluruhan cerita dalam novel itu akan terganggu? Jika tidak, itulah yang disebut hingar –gangguan komunikasi antara pembaca dan teks.
***
Terlepas dari apa yang diuraikan dalam catatan kecil ini, Cermin Merah jika dianalisis lebih jauh dan mendalam sesungguhnya menyimpan banyak hal yang menarik. Saya sendiri melihat, potensi pengarang belum sepenuhnya tumpah dan mengejawantah dalam novel ini. Dalam hubungan itulah, saya amat yakin, tak lama lagi novel monumental akan segera lahir dari tangan seorang Nano Riantiano. Kita tunggu saja.
(Maman S. Mahayana, Pensyarah).
Lihat komentar dalam backcover. Komentar itu didasarkan pada pembacaan saya atas naskah novel Cermin Merah yang menjadi salah satu naskah sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta. Ketika saya membaca buku ini, ada sejumlah perubahan penting yang tidak hanya mengubah struktur cerita, tetapi juga makna yang tersimpan di dalamnya. Menyesal sekali naskah aslinya saya serahkan ke penerbit Grasindo, sehingga perbandingan secara detail, tidak dapat saya lakukan. Dalam ilmu sastra, perbandingan antara teks asli dan teks yang sudah berujud cetakan (buku) termasuk ke dalam wilayah kajian teks dan pra-teks. Kajian ini akan mengungkapkan berbagai faktor eksternal di luar teks, seperti keterlibatan penerbit, editor, dan hasrat pengarang untuk menafsir ulang dan memberi makna baru pada karyanya. Bagaimanapun, bagi kritikus, setiap tanda dalam teks, mesti dicurigai menyodorkan makna tertentu. Oleh karena itu, terjadinya perubahan dari teks asli ke teks cetak menjadi sangat penting untuk membongkar berbagai faktor eksternal itu.
Seingat saya, struktur cerita dalam naskah pertama Cermin Merah yang menjadi salah satu naskah peserta Sayembara Penulisan Novel DKJ 2003, disusun secara kronologis. Dalam proses penerbitan naskah itu, pengarang agaknya melakukan banyak perubahan yang menyangkut urutan peristiwa yang mengeksploitasi bentuk kilas balik dan penambahan beberapa bagian yang menjadi penutup cerita novel ini. Bagian awal “Lubang Putih Bercahaya” misalnya, dalam buku ini seperti sengaja digunakan sebagai bingkai; peristiwa awal muncul kembali di bagian akhir –yang mengingatkan saya pada pola drama absurd. Periksa misalnya, drama Dag-Dig-Dug Putu Wijaya. Hal yang juga dilakukan Agus R. Sarjono dalam naskah drama pertamanya, Atas Nama Cinta (Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2004).
Bandingkan problem psikologis tokoh Arsena ini dengan tokoh Hasan (Atheis) atau Guru Isa (Jalan Tak Ada Ujung). Cermin Merah memperlihatkan kematangan pengarangnya dalam bidang psikologi. Bandingkan dengan novel-novel yang terbit belakangan ini yang cenderung mengabaikan persoalan itu, Cermin Merah seperti menjulang sendiri dalam konteks novel sejenis sastra Indonesia kontemporer.
Bandingkan kritik Nano Riantiarno terhadap penguasa dalam sejumlah dramanya dengan kritik yang disampaikannya dalam novel Cermin Merah.
Dalam naskah pertama yang saya baca, bagian akhir yang berjudul “Lubang Putih Bercahaya” sebenarnya tak ada. Jadi, tanpa ada penambahan bagian akhir itu, makna keseluruhan cerita dalam novel ini, tetap tidak terganggu. Penambahan itu boleh jadi sebagai penegasan kembali nasib yang dialami tokoh aku.

Maman S Mahayana, pengajar FIB-UI, Depok
SUMBER: mahayana-mahadewa.com

DOWNLOAD tulisan ini KLIK di sini

Tuesday, October 18, 2011

Resensi: Isyarat-Esai Sutadji Calzoum Bachri

AKROBAT KATA-KATA SANG RAJA MANTRA

Sutardji Calzoum Bachri, Isyarat (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2007), xix + 505 halaman

“Menulis bagi saya adalah upaya untuk mengucap, suatu kata kerja yang memiliki makna khusus dalam kebudayaan Melayu” (hlm. vii). Begitulah Sutardji Calzoum Bachri (SCB) mengawali pengantar buku kumpulan esainya, Isyarat (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2007, xix + 505 halaman). Selepas itu, kita disodori esai pembuka (hlm. xv—xvii) yang menegaskan pentingnyasastrawan mewartakan sikap kepengarangan, wawasan estetik, bahkan juga dasar filosofinya tentang seni. Kredo Puisi SCB dan pengantar Kapak yang fenomenal dan monumental itu, ditempatkan sebagai pintu gerbang memasuki lautan pikiran buku ini, dan kita dibawa berenang dalam dinamika ombak kata-kata.
Jika ditarik ke belakang dan dicantelkan dalam wilayah kesusastraan dunia, apa yang dilakukan SCB, bukanlah hal yang baru. Para maestro macam John Milton, William Wordsworth, Milan Kundera, T.S. Eliot—dan para sastrawan pemenang Nobel— menyampaikan sikap, wawasan, dan filosofi seninya, dalam bentuk esai. Bahkan, konsep puisi yang ditawarkan Eliot justru menjadi rujukan penting kaum New Criticism. Jadi, esaiitu semacam terjemahan, pendedah, pintu masuk untuk mengungkap makna yang melekat dan menyebar dalam keseluruhan bangunan estetik karya sastra.

Ignas Kleden dalam Pidato Kebudayaan Pekan Presiden Penyair (19 Juli 2007; Kompas, 4 Agustus 2007) menyoroti masalah itu dalam konteks puisi SCB yang kredonya ditempatkan sebagai “rencana kerja seorang penyair… sebagai suatu program, desain, dan bahkan tekad. Pertanyaannya: apakah penyairnya sanggup mewujudkan apa yang telah dia deklarasikan?” Para penyair Pujangga Baru yang dipelopori Sutan Takdir Alisjahbana, panjang-lebar melontarkan teori puisi dan penolakannya atas estetika puitik persajakan sebelumnya. Tetapi sejumlah besar puisi Pujangga Baru, masih menampakkan jejak syair dan pantun. Hal yang sama, juga dilakukan Chairil Anwar dan sastrawan Angkatan 45 lainnya perihal wawasan estetik dan usahanya “Menguak Takdir” dan menolak konsepsi estetik Pujangga Baru. Chairil Anwar pun baru mencapai taraf yang menjadi cita-cita Alisjahbana.
Kredo Puisi SCB semangatnya tak sekadar penolakan, melainkan juga pembongkaran, perumusan kembali, dan sekaligus proklamasi estetik atas karyanya. “… sudah datang waktu untuk memberi warisan pada dunia, dan bukan seperti generasi sastrawan Surat Kepercayaan Gelanggang yang minta-minta warisan dari kebudayaan dunia.” (hlm. 18—19). Kredo itu juga menjadi penting lantaran di situlah kebesaran seorang penyairteruji kesadarannya tentang pemberontakan meraih capaian estetik. Bukankah penyair besar mengetahui persis apa yang ditulisnya dan bukan cuma menderetkan larik kata-kata yang asal beda. Di sana, penyair tidak sekadar menulis puisi, melainkan menyimpan filosofi seninya, estetika, wawasan, elan, bahkan ideologinya tentang kesenian, kemanusiaan, dan kehidupan. “Ia adalah ruh, semangat, mimpi, obsesi, dan igauan dan kelakar batin yang menjasad dalam bunyi yang diucapkan dan sering dituliskan dalam kata-kata” (hlm. 10).
Popo Iskandar, Dami N. Toda, Abdul Hadi WM, dan Danarto termasuk SCB sendiri kemudian coba menjelaskan wawasan estetik dan ruh kultural yang mendasarinya. Dengan begitu, Kredo Puisi itu bisa digunakan sebagai lanjaran untuk memahami dan mengungkap puisi-puisi SCB, terutama yang terhimpun dalam antologi O, Amuk, Kapak (1981). Lalu, apa pula signifikansi antologi esai SCB yang terhimpun dalam buku Isyaratini bagi jagat kesusastraan Indonesia?
***
Tidak banyak penyair Indonesia yang coba mengungkapkan pandangannya tentang puisi dan sikap kepenyairannya. Dari yang sedikit itu, Alisjahbana gencar menyebarkannya dalam majalah Pujangga Baru. Pengantarnya dalam Puisi Baru (1946) merupakan bentuk legitimasi gagasannya tentang konsep puisi baru. Abdul Hadi WM tegas mengungkap wawasan estetiknya tentang tasawuf dan filsafat Timur yang ikut mempengaruhinya. Penyair lain seperti malu-malu, padahal sesungguhnya itu penting sebagai bentuk komunikasi lain dengan pembacanya, bahkan juga sebagai dasar kritikus membuat analisis—penafsiran dan tak asal comot teori Barat yang belum tentu sesuai dengan semangat jiwa karya bersangkutan.
Dalam konteks kepenyairan SCB, tidak dapat lain, Isyarat sungguh melengkapi pemahaman kita tentang filsafat seni yang mengeram dalam benak SCB. Di sana, SCB menyadari benar potensi kata yang bebas dari beban makna. Maka, setiap kata dalam rangkaian kalimat menjadi begitu cerdas. Kadangkala diperlakukan bagai bola; melompat-lompat, berkejaran. Ia menggiringnya, menendang, dan tiba-tiba memantul, membentur kepala. Di bagian lain, ia sengaja telentang membiarkan diri diserbu, digerayangi, dan digelitik kata-kata. Secara piawai SCB menyuguhkan sebuah tontonan yang menyihir: akrobat kata-kata!
Secara keseluruhan, buku ini terdiri dari empat bagian: (1) tentang Tardji yang memusat pada perkara sikap kepenyairan, (2) tentang puisi yang coba menegaskan konsep estetik puisi, (3) tentang sastra, seni, dan budaya yang mengungkap persoalan sastra secara lebih luas, dan (4) tentang perbincangan karya-karya penyair (sastrawan) lain dari Rumi hingga Djenar Maesa Ayu. Seluruhnya memuat 107 esai yang dihasilkannya selama 34 tahun.
Sebagaimana lazimnya usaha menghimpun tulisan yang berserak-serak, pembagian secara tematik itu, kerap bermasalah, hingga tidak dapat dibuat garis tegas. Selalu ada kesan tumpang-tindih dan tak terhindarkan dalam beberapa esai terjadi perulangan gagasan. Tetapi, letak signifikansi buku ini memang bukan hanya menyangkut persoalan tema, melainkan juga upaya penyair mempertanggungjawabkan sikap kepenyairannya dan estetika puitik yang ditawarkannya. Dengan begitu, puisi tidak sekadar deretan kata metaforis atau simbolik, tetapi lebih dari itu, menjelma menjadi ekspresi kreatif yang kokoh berpribadi, bermarwah kebudayaan, dan berjiwa kemanusiaan. Setidak-tidaknya, itulah yang ditawarkan SCB.
Secara tematik, Isyarat membincangkan berbagai hal seputar puisi—sastra—seni—budaya yang disampaikan dengan ringan dan terkadang terkesan main-main. Tetapi sesungguhnya, itu merupakan perenungan yang intens, menukik—mengorek ke inti kata. Melalui penemuan sampai ke inti kata itulah, SCB meneroka makna kepenyairan yang hidup, yang melampaui vitalitas, yang tak mendurhaka pada Mak Budayanya, dan tentang puisi yang memberi pemaknaan manusia dan kehidupan. Di tangan SCB, manusia dan kehidupan dengan segala tetek-bengek dan remah-remahnya, bisa menjadi puisi, cerpen, esai, filsafat, atau apa pun. Segalanya adalah kata yang bebas, dan kata itulah yang bisa berkisah tentang apa pun. Kuncinya sederhana: bebaskan kata dari beban makna. Maka, dalam keseluruhan esai ini, kita akan banyak menjumpai kata-kata bersayap, dan lebih banyak lagi penciptaan sayap kata-kata. Dan lebih penting dari itu, ungkapan, istilah, dan konsepsi yang ditawarkan SCB, sungguh orisinal, khas trademark Tardji.
Simaklah –sekadar menyebut beberapa— esai “Menulis di Atas Atap,” “Hijau Kelon,” “Penyair dan Telurnya,” “Puisi Estafet,” “Kisah Rumi dan Kezaliman ‘Uskup’ Bahasa” atau buka secara sembarang buku itu, dan cermati esai yang terdapat di sana, maka sejak kalimat pertama, kita akan dibawa sayap kata-kata yang tiba-tiba seperti menyergap begitu saja. Narasinya cantik, jernih, meski isinya pedas mengiris, menusuk, menukik.
Jika banyak kalangan berkeluh-kesah tentang miskinnya bahasa Indonesia, seketika SCB telah menghancurkan pandangan itu. Maka tidak berlebihan menempatkan buku ini sebagai kitab utama pelajaran memperkaya bahasa. Bahkan, bagi mereka yang masih mencari kata, gagu membuat kalimat, mualaf mengarang, penulis puisi yang belum jadi penyair, guru bahasa (Indonesia) yang cemas berdiri di depan kelas, gagap bikinesai, kerap gagal menulis cerpen, atau segala aktivitas yang berkaitan dengan tulis-menulis, buku ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan yang menjanjikan. Sungguh!
Keseluruhan esai dalam buku ini seperti berdesakan memamerkan kecantikannya, dan kita (: pembaca) kerap gagal menghindar auranya: cerdas, inspiring, menyihir! Sedap, asyik, mengalir, meski dengan tetap menampilkan wawasan yang luas. Benarlah kiranya pemeo ini: Penyair yang baik adalah penulis esai yang baik. SCB telah membuktikannya dengan sangat kreatif.

(Maman S Mahayana, pengajar FIB-UI, Depok
SUMBER: Mahayana-mahadewa.com

DOWNLOAD silakan KLIK di sini

Friday, October 14, 2011

Tunggu Djenar Maesa Ayu

TUNGGU
Cerpen Djenar Maesa Ayu

Waktu menunjuk pukul tujuh. Di sudut kafe ketiak saya berpeluh. Namun tak bisa mengeluh. Kecuali pada ponsel yang suaranya tak juga melenguh.
Dua belas jam yang lalu ada yang mengaku akan datang. Yang saya harapkan selalu di kafe itu senyumnya akan mengembang. Ketika melihat saya. Karena berdekatan dengan pujaan hati, katanya. Biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan percakapan. Saling bertatapan. Saling bertukar harapan. Harapan untuk bisa merapat dan berdekapan. Di suatu tempat yang jauh dari kegaduhan.
Namun, sebenarnya, hati saya selalu gaduh. Ketika di atas tubuhnya saya mengaduh. Karena setelahnya saya akan mengeluh. Bertanya, ke manakah hubungan ini akan berlabuh?
”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”
”Hah?!”
Saya bukan orang yang mengerti bahasa isyarat. Apalagi kalau itu mengandung makna filosofis berat. Saya cuma tahu karena saya merasa. Bukan karena teori-teori yang tercantum dalam buku-buku yang pemikir sepertinya biasa baca. Saya hanya mau mencinta. Apakah lewat buku-buku bermartabat itu baru cinta bisa dicerna?

Ia selalu menyebutkan nama-nama terkenal yang saya tidak kenal. Ia selalu menyebutkan nama-nama yang bahkan di dalam kepala saya pun tak akan lama mengental. Badiout? Platoy? Badut yang letoi, begitu yang selalu ada di dalam kepala saya tercantol. Bukan karena pemikiran mereka tentang kebenaran yang tidak saya pahami. Tapi lebih karena setiap kali melihat badut yang letoi, saya merasa tak sampai hati.
Saya tidak pernah habis pikir mengapa ada karakter semacam badut di sirkus. Rata-rata mereka sebenarnya berbadan kurus. Bermuka tirus. Hanya kosmetik di mukanya memberangus. Dan buntalan di perutnya yang besar membungkus. Sehingga ia kelihatan lucu dan mungkin bagus. Bagi mata orang-orang tua yang membawa anak-anaknya hanya untuk sejenak melupakan haus. Haus hiburan. Haus kebersamaan. Haus tertawa bersama dalam suasana kekeluargaan. Padahal mata anak-anak itu mungkin bisa melihat apa yang ada di balik mata badut-badut. Mata yang bersungut. Dan mulut yang merengut di balik riasan begitu lebar dan memerah di mulut.
Salah satu mata anak-anak itu, adalah mata saya. Mungkin di antara banyaknya anak-anak itu, hanya saya satu-satunya. Melihat badut yang itu-itu saja di setiap pertunjukan sirkus apa pun dan di mana pun juga. Badut yang letoi. Letoi yang adalah seperti tak bersendi dalam bahasa asli Jakarta. Dan selalu ada garis merah di bawah mata mereka seperti air mata. Jadi saya tidak pernah mengerti mengapa mereka menertawakannya. Bahkan sampai sekarang, ketika usia saya menginjak dewasa.
Menertawakan kesedihan. Menertawakan kebersamaan. Menertawakan keadaan merekakah yang terpaksa datang bersama sanak keluarga hanya atas nama kekeluargaan? Menertawakan diri mereka sendiri. Dan untuk itu ada harga yang harus mereka beli?
”Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahhahahahahahahaha.”
Akhirnya saya tertawa lepas sebelum ia menjawab reaksi saya. Sangat lepas melebihi tawa saya melihat badut-badut letoi di sirkus. Berikut binatang-binatang yang tidak seharusnya diberangus. Sangat sangat lepas melebihi tawa-tawa dengannya yang sudah hangus.
”Kenapa kamu ketawa, Sayang? Saya kan udah bilang, kalau kamu mau jadikan anak kita, sekarang saatnya. Saya tidak akan bisa kasih anak ke kamu lagi mengingat umur saya sudah lima puluh tahun sekarang. Tapi, saya tidak bisa jamin apakah saya bisa tanggung jawab secara material.”
Kupu-kupu melebarkan sayapnya tepat di depan bebungaan di mana kami duduk. Ia pun melebarkan jangkauan tangannya di mana tangan saya sedang diam merunduk. Mencoba meredam tawa saya yang sudah terdengar seperti orang mabuk. Tenang gerakannya sangat saya tahu sebenarnya memendam rasa amuk. Karena itu segera saya kibaskan tangan itu berpura-pura menghalau nyamuk.
”Kamu…”
”Hah?!”
Saya memotong kalimatnya. Persis seperti apa yang dilakukan badut-badut ketika berada di atas arena. Berteriak ketika ada yang mengolok-oloknya. Terjatuh. Mengaduh. Berlari. Tanpa berani memaki. Menghilang ke balik panggung. Disertai dengan sorak-sorai dan tawa menggunung.
Sorak-sorai itu yang mengingatkan saya atas kutipan-kutipan yang disebutkan ia dari nama-nama pemikir. Membuat saya mencibir. Karena ada letupan kembang api di kepalanya. Dan warna-warni serpihan kembang api itu jatuh ke bahunya. Ia tidak pernah mengetahuinya. Maka, ia tak merasakannya. Ketika serpihan kembang api itu melumatnya. Bahkan ketika ia berkata,
”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”
Tapi di manakah sekarang ia?
”Hah?!”
Terkejut saya ketika bahu ditepuk seseorang.
”Boleh saya ambil bangku yang tak terpakai?”
”Hah?!”
Saya tidak bisa menentukan. Saya sudah menunggu dua jam dengan perut kram akibat pengguguran. Namun ia tak juga datang. Tapi apakah saya harus menyerahkan bangku kosong di sebelah saya ke seseorang? Seseorang yang membutuhkan bangku tambahan di mejanya karena ia bersama banyak teman tak terkecuali perempuan?
”Boleh saya pakai bangkunya, Mbak?”
Saya menatapnya.
”Maaf, ada yang saya tunggu.”
”Waktu?”
Waktu menunjuk pukul tujuh.
Jakarta, 19 Agustus 2011

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Cerpen SGA: Karangan Bunga

Karangan Bunga dari Menteri
Cerpen Seno Gumira Ajidarma


Belum pernah Siti begitu empet seperti hari ini.

”Pokoknya gue empet ngerti nggak? Empeeeeeeet banget!”

”Kenape emang?” Tanya Ira, sohibnya.

”Empeeeeeeeeeetttt banget!!”

Ah elu! Empat-empet-empat-empet aje dari tadi! Empet kenape Sit?”

Di tengah pesta nikah putrinya, di gedung pertemuan termewah di Jakarta, Siti merasa perutnya mual. Tadi pun belum-belum ia sudah tampak seperti mau muntah di wastafel.

”Emang elu bunting Sit?” Ira main ceplos aje ketika melihatnya.

”Bunting pale lu botak! Gue ude limapulu, tau?”

”Yeeeeeee! Mane tau elu termasuk keajaiban dunie!”

Usia 50, hmm, 25 tahun perkawinan, seperti baru sekarang ia mengenal sisi yang membuatnya bikin muntah dari suaminya.

”Bikin muntah?”

”Yo-i! Bikin muntah….

Hueeeeeekkk!”

Perutnya mual, begitu mual, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih mual. Meski sebegitu jauh tiada sesuatu pun yang bisa dimuntahkannya.

”Bagaimana tidak bikin muntah coba!”

”Nah! Pegimane?”

***

Waktu masih SMU, Siti pernah diajari caranya menulis naskah sandiwara dalam eks-kul, jadi sedikit-sedikit ia bisa menggambarkan adegan di kantor seorang menteri seperti berikut.

Seorang sekretaris tua, seorang perempuan dengan seragam pegawai negeri yang seperti sudah waktunya pensiun, membawa tumpukan surat yang sudah dipilahnya ke ruangan menteri.

Ia belum lagi membuka mulut, ketika menteri yang rambutnya tak boleh tertiup angin itu sudah berujar dengan kesal melihat tumpukan surat tersebut.

”Hmmmhh! Lagi-lagi undangan kawin?”

”Kan musim kawin Pak,” sahut sekretaris tua itu dengan cuek. Sudah lima menteri silih berganti memanfaatkan pengalamannya, sehingga ada kalanya ia memang seperti ngelunjak.

”Musim kawin? Jaing kali’!”

Namanya juga menteri reformasi, doi sudah empet dengan basa-basi. Ia terus saja mengomel sambil menengok tumpukan kartu undangan yang diserahkan itu. Satu per satu dilemparkannya dengan kesal.

”Heran, bukan sanak bukan saudara, bukan sahabat apalagi kerabat, cuma kenal gitu-gitu aja, kite-kite disuru dateng setiap kali ada yang anaknya kawin. Ngepet bener. Mereka pikir gue kagak punya kerjaan apa ya? Memang acaranya selalu malam, tapi justru waktu malam itulah sebenarnya gue bisa ngelembur dengan agak kurang gangguan. Negeri kayak gini, kalau menteri-menterinya nggak kerja lembur, kapan bisa mengejar Jepang?”

Perempuan tua itu tersenyum dingin sembari memungut kartu-kartu undangan pernikahan yang berserakan di mana-mana.

”Ah, Bapak itu seperti pura-pura tidak tahu saja….”

Belum habis tumpukan kartu undangan itu ditengok, sang menteri menaruhnya seperti setengah melempar ke mejanya yang besar dan penuh tumpukan berkas proyek, yang tentu saja tidak bisa berjalan jika tidak ditandatanganinya.

”Tidak tahu apa?”

Menteri itu memang seperti bertanya, tapi wajahnya tak menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak diketahuinya.

”Masa’ Bapak tidak tahu?”

”Coba Ibu saja yang bilang!”

Perempuan berseragam pegawai negeri itu hanya tersenyum bijak dan menggeleng. Pengalaman melayani lima menteri sejak zaman Orde Baru, membuatnya cukup paham perilaku manusia di sekitar para menteri. Baginya, menteri reformasi ini pun tentunya tahu belaka, mengapa sebuah acara keluarga seperti pernikahan itu begitu perlunya dihadiri seorang menteri, bahkan kalau perlu bukan hanya seorang, melainkan beberapa menteri!

Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi menteri itu sudah bergegas lari ke toilet pribadinya. Dari luar perempuan berseragam pegawai negeri itu seperti mendengar suara orang muntah.

”Hueeeeeeekkkk!!!”

Perempuan itu masih tetap berada di sana ketika menteri tersebut muncul kembali dengan mata berair.

”Bapak muntah?”

Menteri yang kini rambutnya seperti baru tertiup angin kencang, meski hanya ada angin dari pendingin udara di ruangan itu, membasuh air di matanya dengan tissue.

”Sayang sekali tidak,” jawabnya, ”kok masih di sini Bu?”

”Kan Bapak belum bilang mau menghadiri undangan yang mana.”

”Hadir? Untuk apa? Cuma foto bersama terus pergi lagi begitu,” kata menteri itu seperti ngedumel lagi.

“Jadi, seperti biasanya? Kirim karangan bunga saja?”

”Iyalah.”

”Bapak tidak ingin tahu siapa-siapa saja yang mengundang?”

”Huh!”

Sekretaris tua itu segera menghilang ke balik pintu. Menteri itu menggeleng-gelengkan kepala tak habis mengerti. Kadang-kadang orang yang mengawinkan anak ini tak cukup hanya mengirim undangan, melainkan datang sendiri melalui segala saluran dan berbagai cara, demi perjuangan untuk mengundang dengan terbungkuk-bungkuk, agar bapak menteri yang terhormat sudi datang ke acara pernikahan anak mereka.

Apakah pengantin itu yang telah memohon kepada orangtuanya, agar pokoknya ada seorang menteri menghadiri pernikahan mereka?

”Jelas tidak!”

Menteri itu terkejut mendengar suaranya sendiri. Ia merasa bersyukur karena sekretaris tua yang tiba-tiba muncul lagi itu tidak mendengarnya.

”Apa lagi Bu?”

”Karangan-karangan bunga untuk semua undangan tadi….”

”Ya kenapa?”

Menteri itu melihat sekilas senyum merendahkan dari perempuan berseragam pegawai negeri tersebut.

”Mau menggunakan dana apa?”

Menteri itu menggertakkan gerahamnya.

”Pake nanya’ lagi!”

***

Seperti penulis skenario film, Siti bisa membayangkan adegan-adegan selanjutnya.

Pertama tentu pesanan kepada pembuat karangan bunga. Karangan bunga? Hmm. Maksudnya tentu bukan ikebana yang artistik karena sentuhan rasa, yang sepintas lalu sederhana, tetapi mengarahkan pembayangan secara luar biasa. Bukan. Ini karangan bunga tanpa karangan. Tetap sahih meskipun buruk rupa, karena yang penting adalah tulisan dengan aksara besar sebagai ucapan selamat dari siapa, dan dari siapa lagi jika bukan dari Menteri Negara Urusan Kemajuan Negara Bapak Sarjana Pa.B (Pokoknya Asal Bergelar), yang berbunyi SELAMAT & SUCCESS ATAS PERNIKAHAN PAIMO & TULKIYEM, putra-putri Bapak Pengoloran Sa.L (Sarjana Asal Lulus) Direktur PT Sogok bin Komisi & Co.

Lantas karangan bunga empat persegi panjang yang besar, memble, hanya mengotor-ngotori dan memakan tempat, boros sekaligus mubazir, dalam jumlah yang banyak dari segala arah, berbarengan, beriringan, maupun berurutan, akan berdatangan dengan derap langkah maju tak gentar diiringi genderang penjilatan, genderang ketakutan untuk disalahkan, dan genderang basa-basi seperti karangan bunga yang datang dari para menteri, memasuki halaman gedung pernikahan yang telah menjadi saksi segala kepalsuan, kebohongan, dan kesemuan dunia dari hari ke hari sejak berfungsi secara resmi.

Satu per satu karangan bunga itu akan diurutkan di depan atau di samping kiri dan kanan pintu masuk sesuai urutan kedatangan, agar para tamu resepsi bisa ikut mengetahui siapa sajakah kiranya yang berada dalam jaringan pergaulan sang pengundang.

”Bukan ikut mengetahui,” pikir Siti, ”tapi diarahkan untuk mengetahui. Tepatnya dipameri. Ya, pamer. Karangan bunga untuk pamer.”

Siti jadi mengerti, tak jadi soal benar jika tidak dihadiri menteri, asal para tamu melihat sendiri, bahwa memang ada karangan bunga dari menteri. Ini juga berarti para pengundang seperti berjudi, tanpa risiko kalah sama sekali, karena meski yang diundang adalah sang menteri, yang datang karangan bunganya pun jadi!

Begitulah, saat karangan-karangan bunga itu datang, Siti telah mengaturnya sesuai urutan kedatangan. Ia mencatat dari siapa saja karangan bunga itu datang, karena ia merasa sepantasnyalah kelak membalasnya dengan ucapan terima kasih, atau mengusahakan datang jika diundang pihak yang mengirim karangan bunga, atau setidaknya mengirimkan karangan bunga yang sama-sama buruk dan sama-sama mengotori seperti itu.

”Ah, dari Sinta!”

Ternyata ada juga yang tulus. Mengirim karangan bunga karena merasa dekat dan betul-betul tidak bisa datang. Sinta, sahabat Siti semasa SMU, mengirim karangan bunga seperti itu. Dengan terharu, Siti menaruh karangan bunga dari Sinta di dekat pintu, antara lain juga karena tiba paling awal. Di sana memang hanya tertulis: dari Sinta; bukan nama-nama dengan embel-embel jabatan, nama perusahaan atau kementerian dan gelar berderet.

Tiga karangan bunga dari menteri, karena datangnya cukup siang, berada jauh di urutan belakang, nyaris di dekat pintu masuk ke tempat parkir di lantai dasar. Siti tentu saja tahu suaminya telah mengundang tiga orang menteri, yang proyek-proyek kementeriannya sedang ditangani perusahaan suaminya itu. Suaminya hanya kenal baik dengan para pembantu menteri tersebut, meski hanya tanda tangan menteri dapat membuat proyeknya menggelinding. Tentu pernah juga mereka berdua berada dalam suatu rapat bersama orang-orang lain, tetapi sudah jelas bahwa menteri yang mana pun bukanlah kawan apalagi sahabat dari suaminya itu. Sama sekali bukan.

Maka, dalam pesta pernikahan putri mereka, bagi Siti pun karangan bunga dari menteri itu tidak harus lebih istimewa dari karangan bunga lainnya.

Namun ketika suaminya datang memeriksa, Siti terpana melihat perilakunya.

Itulah, setelah 25 tahun pernikahan, masih ada yang ternyata belum dikenalnya.

Suaminya, yang agak gusar melihat tiga karangan bunga dari tiga menteri saling terpencar dan berada jauh dari pintu masuk, memerintahkan sejumlah pekerja untuk mengambilnya. Ia mengawasi sendiri, agar terjamin bahwa ketika melewati pintu masuk, setiap tamu yang datang akan menyaksikan betapa terdapat kiriman karangan bunga dari tiga menteri.

”Yang ini ditaruh di mana Pak?”

Siti melihat seorang pekerja bertanya tentang karangan bunga dari Sinta, sahabatnya yang sederhana, cukup sederhana untuk mengira karangan bunga empat persegi panjang seperti itu indah, dan pasti telah menyisihkan uang belanja agar dapat mengirimkan karangan bunga itu kepadanya.

”Terserahlah di mana! Pokoknya jangan di sini!”

Siti melihat suaminya dari jauh. Suaminya juga minta dipotret di depan ketiga karangan bunga itu!

Ia merasa mau muntah.

”Hueeeeeeeeeekkkk!!!”

***

Itulah yang terjadi saat Ira bertanya.

”Emang elu bunting, Sit?”

Kampung Utan, Sabtu 3 September 2011.

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Thursday, October 06, 2011

Amir Hamzah - ‘Raja’ Penyair Melayu

Nama Amir Hamzah cukup terkenal sebagai nama seorang penyair yang besar dalam sastra Indonesia abad kedua puluh tetapi penyair ini yang berasal keturunan bangsawan dan julukannya sebagai ‘raja’ penyair Pujangga Baru yang diberikan kepada Amir Hamzah oleh H. B. Jassin (1986) ternyata mengakibatkan bahwa puisi Amir Hamzah sering dianggap terlalu ‘Melayu’ dan dengan demikian, kurang modern dan kurang maju jika dibandingkan dengan penyair-penyair Indonesia yang lain seperti misalnya Chairil Anwar yang bahasanya dianggap lebih ‘berbunyi Indonesia’. Julukan Teeuw kepada Amir Hamzah sebagai ‘penutup tradisi Melayu’ tidak membantu dari segi prestasi Amir Hamzah sebagai seorang penyair modern. Namun harus dikatakan bahwa Teeuw mengakui pula keberhasilan Amir Hamzah dan telah membahas secara mendetail beberapa aspek dari bahasa dan gaya bahasa puisinya yang modern. Teeuw pula (1979:103) yang mengutip tanggapan Chairil Anwar sendiri (Anwar: 1945) yang sangat mengagumi puisi Amir Hamzah dan agaknya tidak melihat ‘Melayunya’ bahasa puisi Amir Hamzah sebagai kekurangan melainkan sebagai kelebihan dan kekuatan penyair. Kata Chairil Anwar:

“Puncaknya dalam gerakan Pujangga Baru selama 9 tahun adalah Amir Hamzah dengan prosa lyris, sajak-sajak lepas, 2 ikatan sajak: “Buah Rindu”, “Nyanyi Sunyi”, salinan dari beberapa sastrawan-sastrawan Timur yang ternama, disatukan dalam “Setanggi Timur”. Kata kawan-kawan seangkatannya Amir Hamzah dapat pengaruh dari pujangga-pujangga Sufi dan Parsi. Tetapi yang perlu diperhatikan bagi saya ialah, bahwa Amir dalam “Nyanyi Sunyi” dengan murninya menerakan sajak-sajak yang selain oleh “kemerdekaan penyair” memberi gaya baru pada bahasa Indonesia, kalimat-kalimat yang pedat dalam seruannya, tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata-kata Amir bisa dikatakan destruktif terhadap bahasa lama, tetapi suatu sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru!” (Anwar 1945:143)

‘KeMelayuan’ Amir Hamzah dibicarakan dengan peka dan secara mendetail pula oleh A. H. Johns (1964) dalam sebuah karangan yang berjudul Amir Hamzah, Malay prince, Indonesian poet. Sumbangan Johns sangat berarti oleh karena Johns dengan tegas membedakan antara manusia Amir Hamzah yang keturunan Melayu dan penyair Amir Hamzah yang berbahasa Melayu Indonesia:



“Amir Hamzah may have been a conservative in many things, but he was not, on the whole, in his poetry, his fondness for oriental rather than western literature notwithstanding. Both in form and content he was far more of a revolutionary than any of his contemporaries. In his mature verse he shows clearly that he has no further need to rely on any traditional verse form. The intensity of his theme fashions its own form, and his mastery of word choice and construction of phrase is magnificent.” (Johns 1964: 316)



Johns teruskan:



“It should now be clear that the conventional picture of Amir Hamzah needs considerable modification. He was not merely the poet who gave a temporary new life to the traditional forms and diction of Malay verse. One might say that the more he wrote, the less Malay, the more Indonesian he became. For the Malay influence so clearly manifest in his early work, is scarcely in evidence in that of his maturity, where very little trace of traditional diction remains.” (Johns 1964:315).





Mulai dari Chairil Anwar, pengamat puisi Amir Hamzah menyadari pula betapa dalamnya perasaan individu dan kepekaan batin penyair yang beragama itu. Johns misalnya menyiasati juga sifat keagamaan pemikiran dan penulisan Amir Hamzah secara mendalam.

Aspek keagamaan puisi Amir Hamzah merupakan pula fokus utama sebuah buku baru yang disusun oleh Md. Salleh Yaapar (1995) yang, dengan pendekatan hermeneutik, membahas karya Amir Hamzah. Md. Salleh Yaapar terutama ingin menemukan unsur-unsur Sufi dalam karya dan pikirannya. Di samping itu Salleh Yaapar berminat pula meneliti pengaruh Amir Hamzah atas Chairil Anwar dan relevansi puisi dan kepercayaan Amir Hamzah untuk zaman sekarang, baik di Indonesia mau pun di Malaysia. Sudah tentu, tafsiran Salleh Yaapar mengenai hubungan Amir Hamzah dengan tasawuf harus dilihat pula dalam konteks sejarah semasa dan setempat penyusun buku itu seperti pengarang sendiri katakan: “interpretation is also historically rooted” (Salleh Yaapar 1995:10), dan tetap patut dihargai hasil dan sumbangan penelitian sebelumnya seperti yang dikerjakan oleh Jassin dan Johns yang prestasinya besar dalam penelitian berbagai aspek puisi Amir Hamzah, termasuk aspek agama.

Salleh Yaapar pula kurang menyinggung dan kurang berhasil menyelesaikan konflik antara penganut dan penentang hipotesa Sutan Takdir Alisjahbana (1979) yang menolak secara mutlak pendapat Johns bahwa hubungan manusia dengan Tuhan merupakan unsur yang paling kuat dalam puisi Amir Hamzah dan mengatakan bahwa sebagian terbesar puisi Amir Hamzah merupakan puisi percintaan ‘duniawi’ dan bukan unkapan percintaan seorang Sufi pada Tuhan. Lepas dari itu, pertanyaan apakah pemisahan dan pembedaan antara yang fana dan yang baka ini wajar dan dichotomi ini dapat dipertahankan atas dasar penafsiran hermeneutik yang menyeluruh dan sesuai dengan definisi yang diberikan oleh Md. Salleh Yaapar sendiri “that a text manifests itself within history” (Salleh Yaapar 1995:10), belum dipermasalahkan.

Penelitian Md. Salleh Yaapar ini juga tidak memerhatikan karya Amir Hamzah dalam keseluruhannya oleh karena penyusun mengambil-alih pernyataan H.B. Jassin dan beberapa penulis yang lain bahwa karya Amir Hamzah baru mulai terbit pada tahun 1932. Di samping itu Md. Salleh Yaapar mendukung pula tanggapan bahwa kumpulan puisi Buah Rindu seperti diterbitkan dalam majalah Poedjangga Baroe merupakan hasil upaya Amir Hamzah yang awal. Tetapi tanggapan ini sejak beberapa tahun sudah tidak dapat diterima lagi dengan begitu saja, oleh karena puisi Amir Hamzah ternyata sudah mulai diterbitkan pada tahun 1930 (Kratz 1980, 1989; Dolk 1987). Nyanyi Sunyi, yang riwayatnya dijelaskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana (Alisjahbana 1979: 12), ditulis dan diterbitkan semula pada tahun 1937, sedangkan sajak-sajak Buah Rindu ditulis dan diterbitkan secara lepas untuk pertama kali pada awal tahun tiga puluhan mulai, setahu saya, pada tahun 1930. Baru pada tahun 1941 sajak-sajak lepas ini dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk koleksi dan, dalam kumpulan Buah Rindu ini ternyata ada juga puisi yang diubah oleh pengarang sendiri sebelum diterbitkan kembali. Dengan demikian Buah Rindu tidak bisa diterima dengan begitu saja sebagai koleksi dalam bentuk yang awal.

Contoh yang paling menonjol di antara sajak dalam Buah Rindu yang diubah oleh pengarang, adalah sajak Teluk Jayakatera (Hamzah 1941) yang mempunyai persamaan dengan sebuah sajak yang lain dengan judul Di tepi pantai dan yang pernah diterbitkan sebelas tahun sebelumnya dalam majalah Pandji Poestaka (Hamzah 1930). Kedua sajak ini bukan saja menunjukkan dengan sempurna perkembangan dan kemahiran Amir Hamzah sebagai penyair melainkan juga keterikatan puisinya dengan riwayat hidup sang penyair. Berikut ini sajak yang umum diketahui dan yang lazim merupakan dasar pertimbangan orang:





Teluk Jayakatera



Ombak memecah di tepi pantai

angin berhembus lemah-lembut

Puncak kelapa melambai-lambai

di ruang angkasa awan bergelut.



Burung terbang melayang-layang

serunai berseru "adikku sayang"

perikan bernyanyi berimbang-imbang

laut harungan hijau terbentang.



Asap kapal bergumpal-gumpal

melayari tasik lautan Jawa

beta duduk berhati kesal

melihat perahu menuju Semudera.



Musyafir tinggal di tanah Jawa

seorang diri sebatang kara

hati susah tiada terkata

tidur sekali haram cendera.



Pikiranku melayang entah ke mana

sekali ke timur sekali ke utara

Mataku memandang jauh ke sana

di pertemuan air dengan angkasa.



di hadapanku hutan umurnya muda

tempat asyik bertemu mata

tempat ma'syuk melagukan cinta

tempat bibir menyatukan anggota.



Pikiran lampau datang kembali

menggoda kalbu menyusahkan hati

mengingatkan untung tiada seperti

Yayi lalu membawa diri.



Ombak mengempas ke atas batu

bayu merayu menjauhkan hati

gelak gadis membawaku rindu

terkenangkan tuan ayuhai yayi.



Teja ningsun buah hatiku

lihatlah limbur mengusap gelombang

ingatlah tuan masa dahulu

adik guring di pangkuan abang?

(Hamzah 1941)



Md. Salleh Yaapar tafsirkan sajak itu seperti berikut:



“ In this work the poet depicts a beautiful but melancholic scene at the Bay of Jakarta. Being alone at the bay, the poet watches in deep grief the ships moving towards Sumatra, and indulges in stray thoughts about his unfortunate situation. () The poet especially laments the fact that he has been left by his beloved, whom he refers to as tedja ningsun (my light beam). However, the contemptuous tone so characteristic of the previous poems is no longer present.” (Md. Salleh Yaapar 1995:91-92)



Kata Teeuw:



The memory of Sumatra is still fresh; some poems are a kind of leave-taking from his home-land, his mother, and his beloved girl at home, others a “report” on his first meeting with the new island (Teluk Djajakatera, Bay of Djakarta). (Teeuw 1979: 92)



Implikasi kutipan-kutipan ini jelas bahwa yang dimaksudkan dengan gadis yang dipanggil penyair adik, yayi, dan Tuan adalah cintanya yang pertama yang pernah dia tinggalkan di Langkat sewaktu Amir Hamzah berangkat ke Jawa untuk meneruskan pendidikannya pada tahun 1928. Berlainan pula dengan Nyanyi Sunyi yang menyanyikan cintanya kepada seorang gadis Jawa, Ilik Sundari. Kata Jassin:



“Menjadi terkenal dalam kesusastraan dunia beberapa wanita yang jadi sumber ilham bagi pengarang,() maka timbul keinginan kita untuk mengetahui siapakah gerangan “Teja”, “Sendari Dewi” yang konon sumber ilham Amir Hamzah? Apakah Teja dan Sendari-Dewi dalam Buah Rindu sama dengan yang dimaksud dalam Nyanyi Sunyi, ataukah orangnya berlain-lainan? Empat kali Teja disebut dalam Buah Rindu yang ditulis tahun-tahun 1928-1935 di Jakarta-Solo-Jakarta. Dalam sajak yang bernama “Buah Rindu” III timbul dugaan bahwa “adinda” yang dimaksud berada di seberang lautan dan kalau kita berpegang pada keterangan penyair bahwa sajak-sajak ini terjadi di pulau Jawa, mestinya di seberang Pulau Jawa dan logisnya di Pulau Sumatera.” (Jassin1986: 35)

Download / Baca Tulisan ini secara lengkap

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook