Sunday, January 15, 2012

Pengakuan Pariyem: Linus Suryadi

PARIYEM, nama saya
Lahir di Wonosari Gunung Kidul pulau Jawa
Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta
Umur saya 25 tahun sekarang
-tapi nuwun sewu
tanggal lahir saya lupa
Tapi saya ingat betul weton saya
Wukunya Kuningan
di bawah lindungan bethara Indra
Jumat Wage waktunya
ketika hari bangun fajar


LINUS adalah Pariyem. Pariyem adalah Linus. Kedua nama itu bak dua sisi mata uang. Jika dibolak-balik tetap mencitrakan pribadi yang sama. Nama lengkap yang pertama adalah Linus Suryadi Agustinus, seorang penyair yang wafat pada Jumat 30 Juli lalu, dalam usia 48 tahun. Sedang nama lengkap yang kedua adalah Maria Magdalena Pariyem alias Iyem, tokoh rekaan sang penyair dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem.Bagi sastrawan Sapardi Djoko Damono, Linus tak bisa dipisahkan dari prosa liriknya yang terbit pertama kali pada 1981 itu. Menurut Sapardi, inilah satu prosa lirik paling panjang yang pernah dihasilkan sesudah zaman kemerdekaan.

Lewat tokoh Iyem pula, kita bisa melihat pribadi Linus. Keduanya mau tak mau menyandang agama Katolik di KTP, tapi Linus atau Pariyem sejatinya seorang Jawa yang hidup dalam kereligiusan kejawen. “Yesus itu sebenarnya penganut kebatinan,” kilah Linus semasa hidupnya, sebagaimana yang dikutip Ashadi Siregar dalam kata pengantar Pengakuan Pariyem. Keduanya juga pribadi yang lugu tipikal orang desa. “Cah ndeso tenan (benar-benar anak desa),” demikian komentar Umar Kayam. Tapi, di balik keluguan itu, kedua tokoh ini mampu mengekspresikan prinsip hidup yang ndakik-ndakik (rumit) bak priayi. Tak berlebihan jika Linus dan Pengakuan Pariyem pada masanya mendapat perhatian tak cuma dari kritikus sastra atau pembaca sastra, tapi juga dari antropolog dan sosiolog. Sebab, Pengakuan Pariyem adalah sebuah karya sastra yang mencoba mengungkapkan situasi kebudayaan yang ada di Jawa, yang berbenturan dengan kebudayaan lain. “Ini merupakan salah satu tonggak di dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern,” ujar Sapardi, Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Inilah puncak pencapaian seorang penyair yang tetap bertahan hidup di Yogyakarta. Sebuah lingkungan kultural yang menjadikannya seorang seniman yang hingga akhir hayatnya hanya menggunakan skuter ke mana-mana, dengan jaket jeans melilit tubuhnya dan tas yang sudah tampak kusam. Meski zaman sudah berubah, gaya hidup Linus tak jauh bergerak dari gaya hidup seniman Malioboro pada 1970-an. Saat itu, ia memutuskan keluar dari kehidupan kampus untuk bergabung dengan komunitas Umbu Landu Parangi, yang kondang dengan sebutan “presiden Malioboro”, dalam Persada Studi Klub. Ia bersama calon penyair lainnya lebih suka “bergelandangan” di Malioboro daripada suntuk di kampus mendengarkan kuliah. “Sejak itu mulailah dia membuat puisi,” tutur Ashadi Siregar, salah seorang sahabat Linus. Saat itu, pemandangan yang jamak adalah wajah cemas sejumlah anak muda–termasuk Linus–yang menunggu kedatangan sang “dewa” Umbu Landu Parangi di depan kantor mingguan Pelopor, hanya untuk mengetahui puisi siapa saja yang dimuat dalam mingguan itu.

Pada mulanya, puisi Linus mirip dengan sajak Goenawan Mohamad atau Sapardi Djoko Damono: sangat liris dan imajinatif. Tapi, menurut Bakdi Sumanto, dosen Fakultas Sastra UGM, dalam perkembangannya Linus mulai menemukan gayanya sendiri, yakni ketika ia mulai mengeksplorasi latar belakang budaya Jawa. Hal inilah yang berkembang terus sehingga melekat menjadi ciri khas Linus, yang kemudian diimbuhi dengan kekuatan liriknya. Maka, lahirlah buku kumpulan puisi maupun prosa yang sangat bercorak Jawa, semisal Langit Kelabu, Perkutut Manggung, Rumah Panggung, Regol Megal-megol, dan Tirta Kamandanu. Karyanya yang dipublikasikan paling akhir–dan belum selesai–adalah Dewi Anjani, yang dimuat jurnal Kalam.

Masalah intervensi kosakata Jawa dalam karya Linus dipersoalkan pembaca, seolah Linus tidak mampu berbahasa Indonesia. Begitu banyak kosakata Jawa yang berloncatan dalam karyanya sehingga memaksa penerbit melampirkan kamus kecil Jawa-Indonesia pada sejumlah buku Linus. Tapi, bagi Sapardi, bahasa sastra ala Linus itu sah karena kultur seperti itu memang ada dalam kenyataan sehari-hari. Apalagi, katanya, Bahasa Indonesia itu kan sangat beragam. “Yang penting adalah kejujuran Linus menggunakan bahasa yang betul-betul milik dia,” ujar Sapardi.

Linus tidak cuma mampu membuat syair, tapi juga dikenal sebagai kritikus sastra lewat tulisannya di berbagai media massa yang kemudian dibukukan, yakni Di Balik Sejumlah Nama. Meski kritik sastra Linus dianggap tidak akademis, menurut Profesor A. Teeuw, pengamat sastra Indonesia yang memberi tulisan pengantar pada buku itu, kritik sastra Linus mengandung daya pengamatan yang orisinal, pemahaman yang tajam, pengalaman membaca yang luas, dan daya cipta yang sehat dan kuat.

Kini khazanah sastra Indonesia kehilangan kontributornya yang paling bersemangat menggauli sastra dari pucuk hingga akarnya. Entah apakah masih ada seorang juri lomba penulisan puisi yang mau menyempatkan diri menyurati peserta yang dianggap potensial hanya sekadar memberi dorongan untuk mengembangkan diri. Dan mungkin hanya Linus yang bersedia melakukan itu.

Berikut ringkasan cerita prosa lirik Pengakuan Pariyem itu:

Itu adalah sepenggal prosa pembuka buku ini. Ya buku ini bertutur tentang Pariyem seorang wanita Jawa, dari desa yg bekerja sebagai “babu” di kota besar Yogyakarta. Laiknya seorang babu, kehidupan Pariyem dipenuhi dengan pengabdian terhadap tuannya. Pariyem sosok yg digambarkan lugu, sabar dan nrimo adalah potret wanita Jawa pada umumnya.

Masa kecil Pariyem boleh dibilang bahagia, bapaknya seorang pemain ketoprak dan simboknya sindhen wayang kulit. Ia kerap mengikut ibunya manggung, duduk manis di belakang dalang. Setelah dewasa ia ngenger di rumah KRT. Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman, Ngayogyakarta sebagai babu.
Istri Ndoro Kanjeng, RA. Cahya Wulaningsih biasa dipanggil nDoro Ayu, seorang yg ayu, luwes, halus tutur katanya, teduh pandangannya serta memiliki jiwa yg luhur dan mulia. Mereka mempunyai 2 orang putra, laki-laki dan perempuan. Yg laki-laki bernama RB. Aryo Atmojo, seorang mahasiswa kuliah di UGM jurusan filsafat. Yg perempuan bernama RA. Wiwit Setyowati, kuliah di Sarjana Wiyata dan sore harinya ngajar beksan di nDalem Pendopo Taman Siswa.

Pariyem betah dan krasan kerja disana, karena keluarga nDoro kanjeng tidak pernah membeda-bedakan status. Hingga pada suatu hari Pariyem dan Den Bagus Ario melakukan hubungan yg tidak seharusnya dilakukan. Pariyem pasrah dan tak kuasa menolak, malah ia menikmati dan menghayati perannya. Toh ia sudah tak perawan lagi, sudah ia berikan kepada Kliwon di sebuah gubuk kecil sepulang nonton wayang. Jadi saat Den Aryo menginginkannya, Pariyem lilo dan nrimo. Nilai-nilai luhur wanita Jawa sudah ia lupakan, harga diri dan kehormatan sudah tak tersisa.

Masalahpun muncul saat tiga bulan kemudian Den Ayu Wiwit menemukan Pariyem muntah-muntah. Malam harinya diadakan pertemuan keluarga dan semuanya setuju Pariyem dikembalikan ke rumahnya hingga melahirkan. Setelah melahirkan ia boleh kembali bekerja di nDalem Suryomentaraman. Semua kebutuhan dan biaya hidup sang bayi akan dipenuhi nDoro Kanjeng. Sekali lagi Pariyem harus pasrah saat tak ada pernikahan, tak ada upacara resmi, dan gendhing Kebo Giro.
Ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
“Iyem” panggilan sehari-harinya
di Wonosari Gunung Kidul
Tata lahirnya, saya hanya babu
tapi batinnya, saya selir baru.

Sumber:

  • R. Fadjri, L.N. Idayanie, Dwi Arjanto, Agus S. Riyanto; Sumber: Majalah Tempo (Jakarta), 9 Agustus 199
  • www.inibukukoe.wordpress.com

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook