Friday, March 30, 2012

Kritikus dan Peneliti Sastra

KELANGKAAN KRITIKUS DAN PENELITI SASTRA


TAK terbantahkan, dengan tulisan berjudul 30 Tahun Terakhir Tak Ada Novel Bermutu dari Sumatera Barat (Haluan, Minggu 23/1) Darman Moenir berhasil meng­gu­gah gairah sejumlah intelek­tual untuk penulis esai sastra sekaligus mempublikasikannya di harian kesayangan ini. Semangat mereka semoga dapat dipelihara dan semakin menya­la-nyala, menyinari aktivitas berkesusastraan, terutama di daerah tercinta ini.

Dan kini, pada gilirannya masalah langkanya kritikus (baca: kritikus dan peneliti) sastra di daerah ini pun ditaja menjadi tema yang seyogianya dibahas. Sebab, menurut redak­tur “Kultur” Harian Haluan: “... karya-karya yang lahir dari rahim sastrawan Sumatera Barat —baik berupa cerpen, puisi maupun novel— tak terpindai secara cermat dan hanya menghuni rak-rak buku tanpa perbincangan yang dialek­tis dan dalam”.

Artinya apa? Perkemba­ngan dan identitas keberadaan kesusastraan tak bisa lepas dari peran serta kritikus sastra. Karenanya, legitimasi, degrada­si ataupun kelangkaan kritikus, kapan dan di manapun, selalu membuncahkan jagat sastra —menjadi persoalan klasik yang tetap aktual, relevan dan menantang.

Dan ketika (ke)budaya(an) massa koran serta yang terakhir media maya alias internet menjadi begitu berkuasa, tradi­si romantik yang cenderung ke detail dan melahirkan kritik sastra buku dan majalah ala Jassin dianggap sudah tidak relevan. Persoalannya adalah, kehadiran kritik(us) sastra (di) koran semakin (men)jauh dari yang diharapkan, sementara yang di internet —kalaulah boleh disebut kritik(us)— tak dan atau belum “terkendali” sama sekali. Hal ini dapat ditelusuri dari hangat dan rancunya silang pendapat yang difasilitasi sebuah harian ibu kota antara Arif Bagus Praset­yo, Damhuri Muhammad, Wicaksono Adi, Binhad Nur­roh­mat dan Budiarto Danujaya. Relatif senada dengan mereka, Muhammad Subhan dalam Biarkan Pembaca yang Menjadi “Hakim” (Haluan, Minggu 13/2) pun terkesan sangat ber­sahaja dan absurd.

Ke depan figur-figur sastra kita mungkin harus lebih berhati-hati menyitir vonis “kritik(us) sastra sudah mati”. Atau menyangkutpautkan “kelarismanisan” sebutlah novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi dengan mutunya, dan sebaliknya mengklaim “kekuranglarismanisan” taruh­lah novel-novel pemenang Sayembara Menulis Roman Dewan Kesenian Jakarya (DKJ) sebagai tidak dan atau kurang bermutu.

***

Kritikus yang juga dikenal sebagai peneliti sastra ter­kemuka seperti Faruk HT, Maman S Mahayana atau Budiarto Danujaya mensinyalir bahwa kritikus sastra, seiring zaman, terlihat mencari bentuk dan mediumnya. Dengan kata lain, kritik sastra ternyata begitu fleksibel, bisa menye­suaikan diri dengan zaman: buku, majalah, pengantar-buku, koran dan atau internet.

Akan tetapi perlu diga­risbawahi, keberhasilan atau keabsahan kritik sastra bukan bergantung kepada siapa yang membuat atau apa dan di mana ia dipublikasikan, melainkan oleh kebernasan atau “sesuatu” yang ada pada kritik itu. Dengan demikian, seekstrem apa pun kita menolak keha­diran seorang kritikus, tapi jika orang itu sanggup memformu­lasikan kritiknya sebagai sebu­ah kritik yang qualified maka akan jadi dan di”dikritikus”kan khalayaklah dia.

Dan menurut hemat kita di sinilah pokok permasalahan yang sesungguhnya. Nyaris senapas dengan sinyalemenen yang dilontarkan Sapardi Djoko Damono dalam “Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia” di Denpasar, Bali, beberapa tahun yang lalu. Guru Besar (emeritus) FSUI itu mengisyaratkan sebab-musabab “keterpinggiran” atau stagnasi keberadaan kritik(us) sastra dengan kalimat, bahwa untuk bisa membicarakan karya sastra secara baik kritikus harus lebih pintar atau minimal sama cerdasnya dengan pengarang.

(Maka idealnya, seyogia­nyalah seorang kritikus mengu­asai seluk-beluk sastra yang maksimal sembari terus mem­pe­lajari puspa-ragam informasi yang beredar di tengah masya­rakat. Bermodal pengetahuan yang memadailah seorang kritikus leluasa mengulas karya sastra. Tapi memang, kritikus yang akan berhasil dengan misi dan visi maupun citranya adalah kritikus yang cerdas meman­faatkan peluang zaman lewat medium yang dimasukinya).

Suatu keniscayaan, tiap generasi harus memiliki juru bicara, karena tiap zaman punya keunikan dan proble­matikanya sendiri. Sesuai sifat serta fungsinya sang juru bicara alias kritik(us) akan berperan menjembatani pembaca dan (pengarang) karya sastra. Kecu­ali itu, kritik dengan segala konsekuensinya sangat boleh jadi diperlukan sastrawan, sebagai tolok ukur —yang ironisnya, bukan tidak mustahil justru menyesatkan dan mem­bunuh atau sebaliknya melam­bungkan karya sastra(wan).

Terkait relasi kritik dengan karya dan masyarakatnya pe­nyair merangkap prosais terke­nal Gus tf Sakai pernah menu­lis, bahwa sublimitas seorang seniman adalah kehidupan sedang sublimitas seorang kritikus adalah karya seni. Ketimbang menyerahkan dan menghadapkan diri pada “ke­ang­kuhan” sebuah karya, kri­tikus menempuh jalan tersen­diri yang sebetulnya ironi: mengritik dengan bahasa yang karena keharusannya bermain dalam gugus pengertian.

Lebih jauh dari itu, tersebab filsafat dikotomi kritik jadi lebih bersifat konseptual. Karya sastra yang diposisikan sebagai sarana penyampaian masalah sosial ditempatkan kritik(us) sebagai subordinat suatu kepen­tingan. Karya sastra sebagai “alat” pencapaian ide-ide besar tentang seni mengambil tempat yang sangat individualistik. Karya sastra yang cenderung memanifestasikan tingkah-laku keseharian akan ditempatkan sebagai sesuatu yang agung, tinggi, didaktik dan karenanya akan terbebani oleh berbagai tuntutan dan harapan. Karya sastra (dunia simbolik) yang selalu berinteraksi dengan dunia sosial dan material, tidak saja akan membuat karya kehila­ngan otonomi tetapi juga akan direduksi kritik(us) dengan banyak aspek kepentingan yang menyertai karya tersebut.

***

Kemangkusan kritik sastra berkaitan erat dengan kearifan kritikus menjaga penetrasi porsi tulisan yang mengacu pada sifat serta fungsi kritik, di samping kepiawaian kritikus menyiasati medium (buku, majalah, peng­an­tar-buku, koran, internet) yang hendak dimanfaatkannya.

Namun kearifan dan keli­haian kritikus memahami maksud, kiat, style berikut gaya bahasa (yang pas) yang akan digunakan mengupas karya sastra jelas tak berarti andaikata ia tidak bijak dan jeli menang­kap keindahan atau kelemahan yang terkandung dalam sebuah karya. Ini ditengarai bertali-temali dengan keseriusan, ketekunan, kejujuran dan objektivitas kritikus sewaktu menimbang karya yang dihada­pinya. Sebagai ilustrasi, konon di sinilah keunggulan HB Jassin. Sejarah membuktikan, Chairil Anwar yang (selama­nya) ia sanjung langsung dike­cam begitu menyadari penyair besar itu “mencuri” sajak A Song of the Sea Hsu Chih-Mo.

Tak heran, di ajang “Kong­res Kesenian Indonesia I” tempo hari penyair kondang Taufiq Ismail mengungkapkan unek-uneknya dengan menga­takan bahwa semenjak HB Jassin “pensiun” menulis kritik dunia sastra kita merasa sangat kehilangan. Keadaan itu diper­buruk karena beberapa kritikus yang bilangannya bisa dihitung dengan jari tangan sudah memasuki “masa persiapan pensiun” pula. Sementara FSUI yang pada masa jayanya punya sebarisan jago seakan dilanda degenerasi.

Sementara lewat salah satu esainya Darman Moenir secara spesifik mempertanyakan eksis­tensi serta regenerasi kritikus sastra di daerah ini: “..., adakah atau mungkinkah lahir (lagi) kritikus sastra dan ilmuwan sastra seandal, sekeras, sehebat dan seproduktif Umar Yunus?”. Dan sehabis mencatat beberapa nama kritikus sastra papan atas dari “luar” sana novelis ini pun menulis: “Dari Sumatera Barat? Ada Mursal Esten, dulu. Seka­rang? Sayup-sayup pernah terdengar nama Hasanuddin W.S., Ivan Adilla, Adriyetti Amir, M. Yusuf, Atmazaki, Wannofri Samry, Fadlillah Malin Sutan, Nelson Alwi, Dasril Ahmad, Hermawan”.

Pendek kata, sekian banyak pembicaraan, perdebatan atau kajian menyangkut keberadaan kritik(us) selama ini selalu menyiratkan keresahan, keke­cewaan serta keprihatinan para pencinta sastra. Mengapa kelahiran maupun kehidupan pengarang dan karyanya seolah-olah tak terikuti sedikit juga oleh kritik(us) sastra. Sangat mungkin karena, bak kata orang, pengarang mencipta berdasarkan kekuatan imajina­sinya sedangkan kritikus bicara dengan keluasan (ilmu) penge­tahuannya.

NELSON ALWI
(Budayawan tinggal di Padang)

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook