Sunday, April 01, 2012

Cerpen Iwan Simatupang: Aduh....

Aduh .... Jangan Terlalu Maju, Atuh!

Sebuah sekolah dasar, di suatu desa kaki Gunung Pangrango, Jawa Barat. Lagi jam istirahat. Di pe­karangan anak-anak bermain. Pak guru berdiri lesu di muka pintu kelas, menguap karena terik matahari.
Tiba-tiba seorang anak berteriak. Seperti digigit kala­jengking, murid-murid dan para guru lari ke sumber suara. Cari punya cari, suara ternyata datang dari kakus.
"Ada apa?" teriak anak-anak, mengerumuni seorang yang masih saja melengking seperti kesakitan. Telunjuk tangan kanannya menuding-nuding ke celananya. Tegasnya ke jendela kencingnya.
"Ada apa?" sengat pak guru kelas V, yang masuk menyerbu ke kakus kecil itu.
Dia hanya berteriak terus. Telunjuknya seperti kaki-kaki roda lokomotif, secara berirama menuding-nuding ke jendela celananya yang terbuka.
Pak Guru tak sabar. Si murid dia rengutkan keluar, sambil sebelah tangannya menutup kedua lubang hidung­nya. Memang, bau kakus itu kelewat sengit di siang terik itu.
Setelah di luar, barulah oleh semua hadirin dilihat jelas apa persoalan dia yang sebenarnya. Jendela celananya terbuka setengah. Artinya, ritsluiting sudah naik ke atas setengah, dan tiba-tiba macet di situ, karena kecantel daging dari alat vitalnya. Dan dalam usahanya menaikkan atau menurunkan ritsluiting itu daging dari alat vitalnya itu makin terjepit. Tentu saja dia kesakitan!
"O-alaaaa! Bagaimana sampai terjadi begini?" sentak sang Guru. Tetapi wajahnya sudah tak 100% marah lagi. Tepi-tepi dari suatu senyum geli, yang keburu ditekannya memperlihatkan dirinya di sekujur mukanya.
Begitu pula murid-murid lainnya. Malah ada dari mereka yang tertawa terbahak-bahak, menari-nari dalam lingkaran.
"Hussyy!" bentak Guru Kepala, yang juga sudah sulit dapat mengekang tawannya.
"Lalu bagaimana?" tanya guru-guru lainnya.
"Ke Poliklinik!" putus Guru Kepala. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tak punya alat, dan kita tidak tahu bagaimana caranya.
Mendengar 'ke poliklinik', murid-murid lainnya ber­sorak.
"Horeee! Disunat sekali lagi. Apa masih ada yang sisa?"
Guru wanita sudah tak mampu lagi menekan tawanya. Tetapi karena malu dilihat oleh murid-muridnya, dia buru-­buru lari masuk ke kelasnya.
Delman tiba di poliklinik. Yang turut dalam delman: Guru Kepala, guru kelas anak itu dan dua murid temannya. Akan tetapi mereka punya pengiring yang banyak sekali: seluruh sekolah yang datang lari-lari.
Pak manteri termenung sebentar memikirkan cara ter­baik mana yang akan dipraktekkannya untuk menolong.
"Nah! Mau tak mau, kau mesti mengalami sakit sekali lagi. Mungkin kelewat sakit! Tetapi, jalan lain tidak ada."
"Apa tidak sebaiknya dibius dulu?" bisik Guru Kepala.
"Saya tidak punya alat pembius. Bapak Guru jangan lupa, ini cuma poliklinik desa saja, yang alat-alatnya dan obat-obatannya sudah lama tidak beres ...."
"Baik! Baik! Terserah Bapak Mantri saja!" kata Guru Kepala. Dengan itu ia menghindarkan suatu pidato panjang dari sang mantri tentang salah satu kekurangan lagi dari Republik kita ini kini.
"Ini, gigitlah karet ini sekuatmu. Mengerti?"
Dia menyerahkan sepotong karet merah pada sang korban. Setelah masuk dalam mulut karet itu digigit sekuatnya.
"Lagi! Kurang kuat!" bentak Pak Mantri.
Dia menggigit lebih kuat lagi, dan tiba-tiba: "Syrrk! Ritsluiting yang gigi-giginya sudah digemukinya dengan zalf terlebih dahulu disentaknya ke bawah. Dan lepaslah sang alat vital dari cengkraman ritsluitingnya.
Semua lega. Setelah menaruh salep atas cedera pada alat vital, gara-gara diserempet gigi-gigi ritsluiting itu, pulanglah delman itu ke sekolah diiringi oleh gerombolan besar yang tak putus-putusnya menyorakkan pekik kemenangan.
Sampai di sekolah, Guru kepala bertanya, "Apa kau tak biasa pakai celana dengan kancing begituan?"
Dia menggelengkan kepalanya.
"Ini celana baru, Pak. Kata tukang jahit, sebaiknya pakai ritsluiting saja, sebab ini zaman modern. Dalam zaman modern, tidak dipakai lagi kancing tulang."
Maka nyeletuklah Guru Kepala, yang sebelumnya sem­pat ikut mendengar ceramah Pak Wedana.
"Apa ini juga gara-gara modernisasi desa?"
(Tegak Lurus dengan Langit, 2004)

1 comments:

Unik cerpen nya...like this..!

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook