Monday, April 30, 2012

Tiga Cerita di Batang Pisang

Cerpen Hermawan Aksan

Diaduk-aduknya isi kotak wayang, siapa tahu ia lupa belum mengeluarkan keempat wayang berwajah lucu itu meskipun, seingatnya, ia sudah melakukannya sejak sore menjelang pentas. Ia hafal bahwa Ki Dalang tak pernah menunggu puncak malam untuk menggelar gara-gara para punakawan.
Cerita Satu: Kurusetra
MAKA berceritalah Ki Dalang. Kocap kacarita...
Baratayuda akhirnya pecah juga meskipun sudah dilakukan berbagai upaya untuk mencegahnya. Bahkan seorang Kresna, titisan Wisnu yang sangat dihormati dan dipuja, tak mampu membendung gejolak saling menumpah darah antarsaudara.
Begitu sabda sang raja kedua kubu membahana, kedua pasukan pun saling berhadapan langsung di arena Kurusetra, dengan tameng di depan dada, pedang dan tombak di genggaman, dan tanda tanya di kepala: untuk apa? Toh mereka tinggal menunggu auman sangkakala. O, gelar pasukan yang alangkah indah! Bukan kuda-kuda yang bersiap tawur dalam perang campuh, bukan pula pameran kekuatan yang hanya mengandalkan kegagahan diri berlebihan, melainkan langkah tegap dan sikap tengadah untuk bersiap memulai tarung secara ksatria. Masing-masing akan berhadapan dengan lawan yang setara.
Tak ada perwira yang sedia beradu pedang dengan tamtama. Tak ada ksatria yang sudi membasahi tangannya dengan darah para sudra. Sebaliknya, tak ada tamtama yang memberanikan diri menghadapi perwira. Kemenangan akan ditentukan oleh gelar pasukan, tapi juga oleh satu per satu kedigdayaan.
(Tapi, oh, apakah kemenangan juga ditentukan oleh takdir? Siapa yang menentukan takdir? Kalau takdir sudah menentukan siapa yang bakal menang, buat apa harus terjadi perang?)
Ketika sangkakala meraung di fajar yang mencekam, kedua kubu melaju dengan derap langkah yang mantap dan kecepatan yang niscaya. Genderang dan tambur berdebum. Dan ujung-ujung pedang yang saling membentur, disertai sorak-sorai yang menggema, lebih menggairahkan ketimbang gamelan istana.
Lalu, tatkala tajam tombak menembus dada, dan menyemburkan darah dari lubang seberang, jiwa pun melayang menuju arah yang benderang. Tiada sesal ketika ujung-ujung senjata menembus tubuh mereka karena tiap jiwa terbang menuju nirwana.
Sangkakala kembali berkemandang pada saat sang surya menyelinap ke balik gunung dan langit tinggal garis-garis semburat merah. Tombak dan pedang kembali tersarung dan sorak-sorai surut ditelan remang petang. Semua prajurit menarik langkah ke kemah, menghimpun lagi tenaga dan menyusun gelar baru, mempersiapkan episode berikutnya esok hari.
Esoknya, dan hari-hari berikutnya, bersiaga para ksatria, yang selama ini memenuhi halaman kitab-kitab sastra. Para putra Pandawa dan Kurawa saling berlaga beradu senjata. Masing-masing sudah punya lawan. Pancawala, Angkawijaya, dan tentu saja Gatotkaca, bertarung sebagai perisai Amarta, beradu jiwa dan raga dengan Burisrawa, Lesmana, dan Jayadrata dari Hastina.
Dan, setelah para putra mereka perlaya, lalu Duryudana, Dursasana, dan kesembilan puluh delapan adiknya, dibantu para waskita seperti Karna, Durna, Bisma, dan Salya tampil satu demi satu mendarmabaktikan jiwa-raga mereka untuk negeri yang mereka bela, Arjuna dan Bima maju menjadi penentu...
“Ki Dalang!”
Ki Dalang memandang arah suara datang.
“Mengapa para putra Pandawa harus gugur meskipun demi kejayaan negeri mereka? Bukankah mereka adalah generasi yang lebih muda, yang mestinya berkesempatan menghirup udara kehidupan lebih lama?”
Ki Dalang terdiam. Perang terhenti.
“Jawablah, kami ingin kejelasan. Bagaimana logika yang mendasarinya? Bagaimana kita menarik moral dari cerita yang memutus sebuah generasi?”
“Saya tak bisa menjawab pertanyaan ini. Kisah Baratayuda sudah digelar beribu kali dan tak pernah ada perubahan cerita.”
“Bukankah Ki Dalang punya kewenangan membikin cerita yang baru yang berbeda?”
“Kalau berubah, bukan lagi Baratayuda namanya.”
Penonton bungkam. Perang masih terhenti. Dan angin mati.
Cerita Dua: Astrajingga
KI Dalang kalang kabut ketika ia tak menemukan Semar dan anak-anaknya di kotak wayang. Padahal, tiba saatnya para punakawan naik pentas, melepas ketegangan di antara dentang pedang dan jerit kematian di Kurusetra.
“Tadi ada,” kata pembantu dalang, dengan suara bergetar oleh rasa gentar. Ia bertugas menyodorkan wayang yang diminta Ki Dalang.
“Coba cari lagi, siapa tahu keselip di antara para buta,” ucap Ki Dalang.
Pembantu dalang meneliti satu demi satu deretan wayang yang sudah terpasang, baik yang berjajar di sebelah kiri maupun di sebelah kanan batang pisang. Namun ia tak menemukan Astrajingga, Udawala, Nalagareng, dan ayah mereka.
Diaduk-aduknya isi kotak wayang, siapa tahu ia lupa belum mengeluarkan keempat wayang berwajah lucu itu meskipun, seingatnya, ia sudah melakukannya sejak sore menjelang pentas. Ia hafal bahwa Ki Dalang tak pernah menunggu puncak malam untuk menggelar gara-gara para punakawan.
Semua isi kotak sudah dikeluarkan, tapi para punakawan itu tak juga ditemukan. Ke mana mereka? Apakah ada yang mencuri? Buat apa? Bahkan dalam bentuk ukiran kayu, harga punakawan tak lebih dari para raksasa buruk rupa.
Lengking merdu Nyi Sinden sudah lewat setengah kawih. Mestinya, Astrajingga langsung muncul dari awal dan berjaipongan.
“Mana, nih, Cepotnya!” teriak penonton.
Ki Dalang kian gelagapan. Dengan matanya ia bertanya. Namun si pembantu, yang sudah bermandi peluh, karena lelah dan takut, hanya bisa mengangkat bahu.
Dan, bahkan hingga lengking kawih pudar di langit malam, entakan-entakan kendang hanya mengiringi pentas batang pisang yang hampa.
Akhirnya, Ki Dalang meneruskan pentasnya tanpa kehadiran punakawan, tanpa selingan humor-humor segar yang menertawakan. O, bisa saja ia memainkan para buta untuk bercanda, tapi tentu tak akan bebas seperti senda-gurau Astrajingga dan Udawala. Dan yang pasti, tak mungkin Yudistira bersabda sekaligus bercanda.
Ketika pentas tuntas, dan Ki Dalang membereskan wayang-wayangnya, ia mendapati keempat punakawan mengintip dari balik kotak. Ki Dalang terperangah.
“Nah, ini ada! Di mana tadi menyimpannya?” tanya Ki Dalang kepada pembantunya.
Sebelum pembantu dalang menjawab, sekonyong-konyong Astrajingga tertawa. Ki Dalang terkesiap. Bagaimana mungkin wayang tertawa sendiri?
“Jangan terkejut, Ki Dalang,” kata Astrajingga. “Kami memang memutuskan untuk istirahat dulu. Di negara yang sudah makin lucu ini, buat apa kami tampil kalau tak lagi membuat penonton tertawa?”
Cerita Tiga: Indraprasta
KIAN panik Ki Dalang bukan kepalang. Ia tak bisa lagi menemukan wayang-wayang dengan cepat. Wayang-wayang seakan-akan berebut tempat di sebelah kanan batang pisang. Para raksasa, siluman, dan denawa buruk rupa berdesakan dengan para ksatria tampan. Batas memudar antara pembela kebenaran dan pengusung kejahatan.
Mengapa bisa begitu, Ki Dalang tak tahu. Ketika menyusun wayang-wayang, ia dan pembantunya yakin bahwa para ksatria semua berjajar di sebelah kanan dan para raksasa berbaris di sebelah kiri batang pisang.
Karena itu pergelaran menjadi tersendat-sendat seperti laju kura-kura. Ia yakin sudah meraih Prabu Yudistira, eh, yang terpegang malah Dursasana. Nyaris ia memainkan tokoh Hastina itu ketika ia membuka adegan pasowanan di Keraton Indraprasta. Ia juga sudah siap menarikan Astrajingga dalam entakan kendang yang mulai menggila, tapi yang terpegang di tangannya adalah Dewi Supraba. Sungguh memalukan kalau sampai sang dewi swargaloka berjaipongan sambil bercanda....
Yang lebih ganjil, Ki Dalang tak mampu lagi mengendalikan cerita. Alur mengalir liar di luar kehendaknya. Ia sudah mempersiapkan cerita tentang pengukuhan Yudistira sebagai raja Indraprasta, sesuai dengan permintaan si empunya hajat, yakni seorang bupati yang baru terpilih.
Namun cerita berkembang tak jelas arah ketika tiba-tiba saja Bima menolak pengangkatan itu. Bima beralasan kakak sulungnya berkubang dosa yang mustahil terampunkan, yakni bermain dadu dengan mempertaruhkan Kerajaan Hastina, bahkan istrinya sendiri, Dewi Drupadi. Bima pun mengajukan diri untuk menjadi calon penguasa alternatif. Alasannya, dialah yang selama ini menjadi tulang punggung perjuangan Pandawa. Ia siap bersaing dengan kakaknya sendiri untuk berebut takhta.
Bima tidak sendiri. Sang panengah, Arjuna, pun mendadak berteriak macam pelantang. Ia juga merasa berhak untuk bersaing dengan kedua kakaknya guna berebut mahkota kebesaran. Arjuna berkilah, karena memiliki rupa bak Kamajaya, dialah yang paling pantas menjadi raja. Bahkan Nakula dan Sadewa, yang biasanya tak pernah bicara, kali itu juga turut mengajukan diri bersaing seba¨gai pasangan raja dan menteri perdana.
Kisah menjadi makin runyam ketika tokoh-tokoh golongan kiri —mereka yang biasanya berbaris di sebelah kiri batang pisang— berbondong-bondong mengajukan diri untuk menjadi raja di Indraprasta. Dari Jayadrata, Citrayuda, Dadungawuk, Padasgempal, hingga Sarpakenaka beramai-ramai mendatangi istana.
“Setop! Setop!” Pak Bupati berteriak-teriak dari barisan terdepan para tamu. Mukanya merah, malu tak terperi, karena ia berdampingan dengan tokoh-tokoh terhormat dari provinsi.
“Ki Dalang, kenapa cerita tak keruan begitu?” semburnya.
“Saya juga tak mengerti,” sahut Ki Dalang.
“Bagaimana mungkin?”
“Lihat saja sendiri apa yang terjadi.”
Di pentas batang pisang, wayang-wayang berjalan, menari, dan berbicara sendiri!
Tutup lawang sigotaka.

Bumiayu, Oktober 2010

Hermawan Aksan lahir di Brebes. Kumpulan cerpennya berjudul Sang Jelata dan Ketika Bulan Pucat, Dia Pergi Seperti Angin. Novelnya Dyah Pitaloka, Senja di Langit Majapahit, Niskala , dan Cincin Cinta Miss Titin.

Thursday, April 26, 2012

Setangkai Bunga Buat Ibu Guru TK

Puisi-puisi Imam Budhi Santosa

Setangkai Bunga buat Ibu Guru TK   

Dengan mulut mawar hati melati, ia mengajak
anak-anak berdiri, berbaris, menggambar
dan menyanyi. menyelipkan merpati dan kupu-kupu
ke dalam buku, bersama angka-angka
bilangan demi bilangan yang membuat dunia
terbuka. "Bintang memang jauh, anakku.
Tapi, engkau punya kaki untuk berlari
mata untuk mencari dan tangan untuk menggapai."
Seperti sinar matahari, ia menguak jeruji
menerobos kisi-kisi. Langkahnya seringan angin
dadanya serupa permadi atau padang rumput
(tak ada kabut, lengkung cakrawala berpaut).
Ia tak menjual madu, janji-janji beledu
ia hanya patut disebut ibu. Ibuku ibumu
karena ribuan anak telah melesat ke angkasa
lewat pundaknya. Tapi, ia tetap di sini
seperti jembatan, menunggu jejak-tapak anak
berlari dan menginjak, yang membuat wangi
nama dan kuburnya kelak

2000
Isyarat Bulan

Lewat genting kaca, bulan itu
menjenguk kembali dan bertanya
"Sudahkah engkau merasa tua?"

Mungkin, ia tak melihat. Di atas bantal
rambutmu rambutku selesai terpintal
ketika sama-sama menari
melepas rumbai-rumbai aksesori

Purnama berikutnya, bulan hanya lewat
dan senyumnya seperti menyimpan
ribuan isyarat, membuatmu tiba-tiba bergumam
seperti menggoda, memancing air mata

"Bulan tak pernah merasa tua
karena sendirian di angkasa..."

1997

Sunday, April 15, 2012

Putu Wijaya: Pemimpin

Pemimpin
Cerpen Putu Wijaya

Cemas karena anak-anak sekarang mulai apatis, tidak punya cita-cita, saya bertanya kepada cucu saya.
"Agus, nanti kalau sudah besar kau mau jadi apa?"
Cucu saya dengan tegas menjawab, "Mau jadi pemimpin."
Saya tertegun. Bangga karena penerus saya punya cita-cita besar. Perkara bisa kejadian atau hanya sekadar mengkhayal, tidak apa. Punya impian paling tidak membuat ada arah yang pasti di tengah kebingungan dunia yang edan ini.
"Jadi pemimpin?"
"Ya! Memang kenapa?"
"Tidak apa-apa. Semua cita-cita itu baik. Tapi kenapa kamu mau jadi pemimpin?"
Agus kontan menjawab seakan-akan pertanyaan itu sudah lama ditunggunya.
"Karena aku sudah bosan diperintah. Disuruh bangun pagi. Disuruh sekolah. Disuruh belajar. Disuruh nganterin pergi belanja. Disuruh ikut arisan. Disuruh nemenin kalau ada resepsi pernikahan. Disuruh jaga rumah. Disuruh anteng kalau ada tamu. Capek ah! Sekarang aku mau memerintah!"
"O jadi kamu pikir pemimpin itu tukang ngasih perintah?"
"Bukan tukang perintah doang, tukang larang juga! Tidak boleh begadang, tidak boleh keluar malam! Tidak boleh ngomong jorok! Tidak boleh main motor. Tidak boleh cemberut kalau ada tamu! Tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh! Ini tidak boleh, itu tidak boleh, semuanya tidak boleh! Capek deh!"
"Itu artinya kamu mau bebas?!"
"Persis!"
Saya bengong.
"Kamu pikir pemimpin itu raja bebas?"
"Ya dong! Kalau tidak bebas itu bukan pemimpin."
"Salah! Pemimpin itu justru orang yang paling tidak bebas. Buat seorang pemimpin tidak ada hari Minggu, tidak ada hari libur, semua hari adalah kerja!"
"Itu pemimpin yang goblok!"
"Agus … "
"Kalau rakyat antre beli minyak tanah, pemimpin tinggal makan saja, yang masak kan rakyat. Masak pemimpin masak sendiri. Kalau rakyat tidak boleh masuk jalan bebas kendaraan bermotor, pemimpin bablas saja nggak ada yang berani larang. Kalau rakyat dibakar karena maling ayam, pemimpin yang makan uang rakyat triliunan diampuni dan dijadikan pahlawan. Kalau rakyat ketiduran waktu kerja dipecat, tapi pemimpin main SMS dan ngorok, yang selingkuh pada jam kerja, malah jadi selebriti! Masak Kakek tidak tahu?"
Saya mau menjawab tapi Agus langsung angkat tangan.
"Stop jangan ceramah, aku ada pekerjaan yang lebih penting!"
"Apa?"
Cucu saya langsung meloncat ke dekat TV. Sebab jam menunjukkan pukul 5. Itu jatahnya untuk main PS2 sampai pukul 6.
Saya hanya bisa mengurut dada. Berdebat dengan cucu tidak mungkin. Saya kira kunci konsleting itu pada orang tuanya. Anak saya dan mantu saya hampir tak pernah ada di rumah. Keduanya sibuk. Saya hampir tidak mengerti, apa gunanya rumah kalau mereka lebih banyak tidur di hotel karena ikut seminar dan rapat-rapat yang tidak satu pun yang tidak penting.
Saya kira mereka sudah jarang tidur bersama. Mungkin itu sebabnya Agus tidak punya adik lagi. Kalau sudah sampai di situ, saya tambah bingung. Pernikahan sekarang memang beda dengan zaman saya dulu. Dulu pernikahan adalah mencari teman tidur. Untuk berbagi suka-duka bersama. Sekarang perkawinan seperti mendirikan PT, untuk mengumpulkan duit.
Memang cucu saya jadi tidak kekurangan apa pun. Segala fasilitas yang dia butuhkan ada, karena penghasilan anak saya dan istrinya berkelebihan. Sekolah cucu saya juga lebih mahal dari sekolah kedokteran. Tapi begitulah, keduanya tidak pernah ada waktu mendampingi anaknya berkembang. Akibatnya cucu saya menderita kemiskinan jiwa.
Lalu saya minta waktu untuk bicara pada anak saya. Saya jelaskan bagaimana bahayanya membiarkan anak berkembang sendirian. Sekolah mahal, segala fasilitas melimpah, tidak cukup untuk menggantikan kasih-sayang yang hilang, karena anak tidak bisa tumbuh tanpa doping kasih-sayang orang tua.
"Kurangi sedikit aktivitas kalian. Beri waktu sedikit saja buat Agus," kata saya.
Anak saya, juga mantu saya, paham apa yang saya katakan. Mereka kemudian mencoba untuk menyediakan waktu buat Agus. Tapi apa yang terjadi. Pertengkaran.
Agus merasa tersiksa. Gerak-geriknya yang diawasi dengan berbagai halangan, membuat dia senewen. Rumah dirasanya menjadi neraka. Orang tuanya juga kaget dan merasa Agus tidak mampu untuk mempergunakan kebebasan. Lalu Agus dimasukkan ke dalam asrama.
Sejak itu saya yang kehilangan. Buat lelaki tua yang tak punya rencana lagi, cucu adalah segala-galanya. Memiliki cucu lebih dari memiliki anak, kebahagiaannya bertumpuk. Kehadiran seorang cucu adalah jaminan dada lapang, karena tahu riwayat kita akan berkelanjutan, walaupun nanti kita sudah tak hadir lagi.
Saya mencoba untuk bertahan. Rasa sepi itu saya injak. Pagi hari, saya kehilangan burung yang menyanyi. Siang hari, berjam-jam waktu lambat berjalan, sehingga saya jadi kelimpungan. Tidur bosan. Nonton televisi menyebalkan. Ngobrol sama istri, nenek cucu saya, menjengkelkan. Semua omongannya sudah saya tahu, seperti juga sudah saya hapal seluruh lekuk tubuhnya termasuk jumlah tai lalatnya.
Malam hari saya tak bisa tidur. Saya coba jalan-jalan keluar rumah. Tapi baru satu kali, saya langsung masuk angin. Istri saya marah-marah dan menuduh saya sedang memasuki puber keempat. Nggak akan ada artis yang mau sama tua bangka seperti kamu lagi, biar pun duit kamu segepok, katanya, sehingga saya malu.
Akhirnya saya mulai menghibur diri dengan ngomong sendiri. Dan ini membuat saya dibawa ke seorang psikolog. Untung dokter lulusan Jerman itu pintar. Dia tidak memberikan nasehat supaya saya kawin lagi. Dia hanya minta cucu saya ditarik dari asrama. Karena dia menyimpulkan bahwa jiwa saya sudah terganggu kehilangan sebuah cahaya hati.
Tapi anak saya tidak peduli. Buat dia lebih penting anaknya aman. Saya, bapaknya, mungkin dianggap sepeda tua, karatan juga biarin saja. Cucu saya tetap di asrama. Hanya sebulan sekali boleh pulang untuk mengobati rindu saya. Apa boleh buat. Negosiasi yang tidak terlalu menguntungkan itu terpaksa saya terima juga.
Ketika cucu saya pulang pertama kali, saya limpahi dia dengan seluruh kerinduan. Saya berikan dia hadiah yang selalu dirindukannya, tapi tak pernah dikabulkan oleh orang tuanya. Sebuah motor balap.
Agus senang sekali. Dia memeluk saya, sehingga saya merasa hidup lagi. Dipeluk oleh cucu seribu kali lebih nikmat dari dipeluk oleh istri yang memeluk karena tugas. Agus langsung terbang ke sana-kemari dengan motor itu. Hati saya rasanya pecah karena melihat kegembiraannya. Rumah kembali nyaman. Dan saya ingin hari lebih panjang. Makanan yang selalu saya kutuk saya kecap. Tidur pun jadi asyik.
Tapi itu hanya satu hari. Motor cucu saya ditemukan ringsek diinjak truk. Untung truk itu sedang berhenti. Rupanya ada yang mencoba untuk meniru kelakuan jagoan dalam film yang nyerosot menerobos bawah truk sambil memiringkan kendaraannya.
"Untung Agus tidak apa-apa, hanya motornya saja yang hancur!" kata istri saya menyumpahi perbuatan saya yang dianggapnya sebagai dosa tak berampun itu.
Saya tidak bisa memberikan pembelaan. Meskipun yang mengendarai motor itu bukan Agus tapi kawannya. Artinya peristiwa itu tidak bisa dianggap sebagai kesalahan Agus. Juga tidak bisa dianggap sebagai contoh bahwa Agus memang tidak pantas naik motor. Contoh itu justru penting untuk menjelaskan pada Agus bahwa naik motor itu berbahaya bagi orang yang tidak terlatih. Jadi dia tidak akan naik motor karena dilarang, tapi karena memang dia mengerti dia tidak siap.
Sejak itu Agus tidak pulang lagi. Kalau liburan, orang tuanya menjemput. Lalu mereka keluar kota berlibur. Saya tidak diberi kesempatan dekat lagi dengan cucu karena dianggap berbahaya. Itu berlangsung cukup lama. Tapi untunglah saya tidak jadi gila karena itu. Karena perlahan-lahan kemudian saya mengalihkan perhatian saya pada istri saya.
"Ternyata manusia itu bukan besi tua, tapi tape yang makin matang makin menendang," kata saya.
"Maksudmu siapa?"
"Kamu!"
Meskipun itu hanya rayuan gombal, ternyata istri saya senang. Dan itu memperbaiki hubungan kami menjadi segar lagi setelah bertahun-tahun terasa hambar. Aneh, meskipun dia sudah tua, tapi kalau diperhatikan sebenarnya dia masih menarik. Bahkan kemudian saya tahu bahwa dia masih tetap romantis.


***
Beberapa tahun kemudian, ketika cucu saya lulus SMA saya kembali bertanya-tanya. Saya cemas, karena di depannya sekarang terbentang banyak jalan yang harus dipilih dengan tepat. Salah pilih resikonya berat.
"Sebelum memastikan kamu mau melanjutkan ke mana, kamu harus tentukan dulu sebenarnya kamu mau jadi apa, Agus?"
Cucu saya yang sudah mulai pakai kumis menjawab tanpa ragu-ragu.
"Aku ingin jadi pemimpin."
”Lho, itu kan cita-citamu yang dulu?"
"Memang!"
"Kenapa?"
"Sebab pemimpin itu punya banyak fasilitas yang tidak dimiliki orang biasa!"
"Fasilitas?"
"Ya! Kemudahan-kemudahan. Rumah, kendaraan, keamanan, kesejahteraan, semuanya dicukupi. Tidak perlu memikirkan apa-apa, semuanya sudah ada. Masak pemimpin naik angkot? Paling sedikit Mercy. Ngapain naik bus, pasti naik kapal terbang dan mesti kelas satu. Masak pemimpin ngontrak rumah, pasti rumah bertingkat dengan taman dan penjaga dan pengawalan kalau lagi jalan. Masak pemimpin makan nasi kucing, pasti steak sirloan. Masak pemimpin gajinya sama dengan tukang ojek, paling sedikit 45 juta satu bulan, belum lagi uang sidang dan berbagai fasilitas plus kemudahan lain. Belum lagi hadiah-hadiah, sumbangan, kado, bingkisan dari masyarakat dan para konglomerat yang mendukung,. Paling sedikit kunci mobil yang harganya 3 miliar."
Saya tercengang.
"Lho kamu pikir pemimpin itu seperti itu?"
"Lebih dari itu, Kek!"
"Masak?"
"Ya! Lihat saja pemimpin-pemimpin itu. Pasti kaya. Mobilnya paling sedikit 5. Rumahnya di mana-mana. Padahal gajinya kecil. Berapa sih? Tapi kenapa bisa punya hotel, perkebunan, saham, pabrik, puluhan perusahaan?"
Saya mulai marah. Jelek-jelek saya juga pernah jadi pemimpin. Minimal saya menjabat RT selama 30 tahun di pemukiman kami dulu.
"Pemimpin itu tidak begitu!"
"Memang tidak! Pemimpin itu abdi masyarakat. Aturannya dia orang kelas dua, karena dia hanya mewakili rakyat. Wakil kan orang suruhan. Tapi kalau orang datang maksa-maksa ngasih kunci mobil, kunci rumah, ngasih duit segepok bahkan ngasih perempuan, bagaimana bisa menolak? Orang bisa tersinggung, terhina, marah kalau ditolak mentah-mentah. Jadi pemimpin harus bisa memuaskan hati rakyat. Bukan hanya rakyat yang memerlukan sandang-pangan, juga rakyat yang kelebihan dan ingin memberi. Ya kan, Kek?"
Saya mau membantah. Tiba-tiba cucu saya mengulurkan sebuah kotak kecil.
"Apa itu?"
"Hadiah buat ulang pernikahan Kakek dan Nenek. Agus beli dengan uang tabungan Agus sendiri."
Cucu saya kemudian membuka kotak itu. Istri saya yang nyamperin ketika melihat cucunya mengulurkan sebuah kotak, menjerit.
"Berlian!"
"Ya. Ini kalung berlian untuk Nenek dan jam tangan untuk Kakek!"
Sebelum saya bisa menjawab, istri saya sudah langsung menyambut kotak itu dan memeluk cucunya. Lalu ia terbang ke tetangga untuk menyiarkan kebanggaannya mendapat hadiah berlian dari cucu, walaupun saya yakin berlian itu palsu.
"Kakek boleh menolak kalau berani," kata Agus.
Saya tidak bisa menjawab. Saya mengerti apa yang hendak dikatakan oleh cucu saya. Bagaimana saya akan bisa menolak, kalau istri saya, neneknya itu, begitu bangga dengan pemberian itu.
Saya lupakan saja soal berlian itu. Kalau Agus memang mau jadi pemimpin, ya sudah jadiin saja. Saya mendukungnya. Siapa tahu dia akan menjadi pemimpin yang lain. Pemimpin yang berbeda dari pemimpin-pemimpin yang selama ini kita sesali.

Dengan sungguh-sungguh saya ikuti sepak terjang Agus dari jauh. Sekolahnya melaju dengan bagus. Akibat tempaan asrama yang ketat, dia menjadi gigih dan berdisiplin. Tidak jauh dari target yang sudah tersedia, dia bisa menyelesaikan pendidikan tingginya dengan baik. Tidak istimewa, tetapi dia lulus tepat pada waktunya.
Agus langsung bekerja. Di samping itu seperti juga orang tuanya, ia aktip berorganisasi. Dalam waktu yang pendek, karirnya menanjak. Kemudian dengan tidak terasa, ia mulai mendapat jabatan penting. Lalu akhirnya pegang pucuk pimpinan.
Agus yang nakal itu kini sudah jadi orang. Ia menikah dengan seorang bekas Ratu Dangdut. Kehidupan keluarganya serasi. Anaknya sudah dua. Namanya bagus. Masyakat mencintainya. Dia benar-benar memenuhi hasratnya untuk menjadi seorang pemimpin.
Itulah saatnya saya kembali bertanya. Lalu saya mencari kesempatan baik dan bicara dari hati ke hati.
"Agus," kata saya dengan blak-blakan, "sebagai lelaki dengan lelaki, Kakek ingin bicara terus-terang kepada kamu sekarang."
"Apa yang bisa saya bantu, Kek?"
"Tidak. Kakek tidak minta dibantu. Kakek hanya mau bertanya. Sekarang kamu sudah jadi pemimpin."
"Ya lebih kurang begitu kata orang."
"Itu berarti kamu sudah mencapai cita-citamu."
"Ya, bisa dikatakan begitu."
"Jangan menjawab dengan: bisa dikatakan begitu. Yang tegas saja. Memang kamu sudah mencapai cita-citamu jadi pemimpin. Betul tidak?"
"Ya, betul tapi mungkin tidak seperti Kakek bayangkan."
"Maksudmu?"
"Saya memang seorang pemimpin sekarang."
"Dengan segala fasilitas dan kemudahan yang pernah kamu rindukan dulu kan?!"
Agus tersenyum.
"Betul."
"Tidak ada yang memerintah kamu lagi. Karena kamulah yang memberikan perintah?!"
"Ya memang."
"Kamu dapatkan banyak fasilitas yang tidak dimiliki oleh rakyat biasa. Orang antre mau beli karcis Java Jazz, nabung untuk beli karcis Lionel Richie, setumpukan karcis diantarkan kepada kamu dengan jemputan mobilnya sekalian. Betul?"
Agus ketawa.
"Betul."
"Orang kepingin punya perusahaan untuk jaminan masa tua, tapi pengusaha malah datang kepada kamu dan minta kamu jadi Presdir perusahaan penerbangan baru. Betul?"
Agus mengangguk.
"Betul."
Saya tertawa, karena si Agus cucu saya tidak bisa membantah. Saya juga bangga, sebab apa yang dilamunkannya sudah jadi kenyataan. Itu tidak akan terjadi kalau dia tidak ampuh dan hebat.
"Kakek bangga karena kamu tidak hanya mimpi dan melamun tapi bekerja nyata!"
Agus ketawa.
"Terima kasih, Kek. Memang betul apa yang Kakek bilang. Tapi terus-terang, cara Kakek melihat itu tidak adil."
"Maksudmu?"
"Ya Kakek menceritakan semua itu seperti menceritakan tentang orang yang mendaki Gunung Himalaya, lalu menancapkan bendera di puncaknya."
"Tapi memang begitu kan? Kamu seorang pendaki gunung yang sukses!"
Muka Agus tiba-tiba murung.
"Seorang pemimpin tidak sama dengan pendaki gunung yang sukses, Kek. Kelihatannya memang sama, tapi beda. Pendaki gunung setelah sukses tinggal menikmati prestasinya. Tapi seorang pemimpin?"
"Sama kan?"
"Tidak. Sesudah menjadi pemimpin, aku tidak bisa lagi menjadi Agus, cucu Kakek. Aku harus memimpin. Aku harus bertanggung jawab terhadap segala hal. Bahkan terhadap semua kekeliruan dan dosa-dosa orang lain yang menjadi tanggung jawabku. Aku harus mengurus banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan aku. Aku tidak punya hak untuk tertawa, tersenyum, apalagi tidur seperti manusia biasa. Aku sudah jadi mesin, robot, bulan-bulanan dan tong sampah. Ada ayam mati juga aku yang ditoleh dan ditanya kenapa? Ada orang kejepit juga aku yang disalahkan, sebab di puncak segala-galanya aku yang harus bertanggung jawab."
Agus berhenti bicara dan menahan dirinya, sebab kelihatannya semua mau tumpah. Aku belum pernah melihat dia curhat dan menderita seperti itu.
"Aku sudah mati, Kek."
Saya tercengang. Ketika ingin menjawab untuk menghiburnya, tiba-tiba HP dan telepon bunyi bareng. Agus cepat menggapai. Mukanya langsung pucat. Lalu ia berdiri.
"Maaf Kek, aku terpaksa pergi. Anak buahku ada yang tertangkap oleh KPK, kasus penyuapan uang negara puluhan miliar. Nanti kita lanjutkan!"
Saya tidak bisa bilang apa-apa. Tiba-tiba segala kebanggaan saya rontok. Hati saya terenyuh melihat cucu saya sudah dijadikan mayat seperti itu. Pasti itu kesalahan anak buahnya, tetapi kalau ada apa-apa dia yang akan diseret, karena dialah puncak yang tertinggi.
Di tempat tidur, saya sampaikan semua itu pada istri saya. Perempuan tua itu tak jadi ngorok. Matanya nyap-nyap sepanjang malam. Kami terkenang pada masa lalu. Teringat Agus yang nakal, tetapi ceria dan hidup. Kini cucu kami sudah begitu jauh di awang-awang dan menggelepar tak berdaya karena terikat oleh begitu banyak tanggung jawab.
"Kita tidak bisa membiarkan cucu kita mati," kata istri saya.
"Ya. Untuk apa jadi pemimpin, kalau harus mati."
"Kalau begitu suruh dia berhenti dan jadi orang biasa saja. Yang penting dalam hidup ini kan kebahagiaan. Buat apa mendapat fasilitas dan bisa memerintah kalau tidak bahagia?"
"Betul sekali!"
Kemudian saya mencari kesempatan yang tepat untuk bicara hati ke hati lagi dengan Agus. Lama sekali baru kesampaian. Walaupun dia cucu saya, tapi sejak jadi pemimpin, dia memang sudah seperti orang lain yang jaraknya ribuan kilometer.
"Agus, Kakek sudah berembuk dengan Nenek. Setelah kami pertimbangkan masak-masak, melihat keadaanmu serta mendengarkan semua penderitaan yang harus kamu tanggung sebagai pemimpin, kami mendesak, lebih baik kamu berhenti. Kami lebih senang kamu tetap hidup daripada menjadi pemimpin, tapi mati."
Agus tersenyum.
"Terima kasih, Kek. Aku juga sudah berusaha, tapi tidak bisa."
"Tidak bisa? Apa susahnya berhenti?"
"Tidak bisa, Kek."
"Ah, jangan bilang, tidak ada yang tidak bisa mengganti. Lihat di sekitarmu, mereka antre seabrek-abrek bahkan gontok-gontokan untuk mengganti, kalau kamu mau mundur."
"Itu betul."
"Makanya berhenti saja!"
"Tidak bisa, Kek!"
"Kenapa?"
Agus tersenyum pahit.
"Kenapa?"
"Karena, meskipun mati, jadi pemimpin itu ternyata enak, Kek." ***
Astya Puri, 30 April 2008
(Sumber: Jawa Pos 4 Mei 2008)

Wednesday, April 11, 2012

Taufiq Ismail: Bangsa Pengemis

KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS,
LALU KALIAN PAKSA KAMI
MASUK MASA PENJAJAHAN BARU,
Kata Si Toni

Puisi Taufiq Ismail

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tepergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama
Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami
Kalian lah yang membuat kami jadi begini
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini

1998

Saturday, April 07, 2012

Iwan Simatupang: Prasarana, Apa Itu, Anakku?

Prasarana, Apa Itu, Anakku?


Suatu desa di lereng Gunung Salak, Jawa Barat. Lewat tengah hari. Seorang yang tampangnya menyerupai pengantar pos, mampir ke rumah Lurah. Oleh sebab desa itu cuma satu kali sebulan saja menerima kiriman pos, itu pun bila ada truk perkebunan yang suka rela mau meng­antarkan surat-surat itu dari Kantor Pos Bogor ke sana. Dapat dibayangkan betapa penerimaan pos ini bagi desa merupakan peristiwa yang sangat penting. Begitu pen­tingnya hingga Lurah selalu memukul kentong untuk memberitahukan semua penghuni desa bahwa pos datang.
Kali ini pun. Lurah memukul kentong. Dan penghuni desa bermunculan dari mana-mana menyerbu ke rumah Lurah. Gambarannya tak banyak beda dari penerimaan pos oleh prajurit-prajurit di medan perang.
Rumah Lurah telah sepi kembali. Yang menerima surat atau kiriman paket, sudah membaca suratnya masing-­masing di rumahnya.
Seorang wanita setengah baya, duduk lesu bersandar pada salah satu tiang emper rumah Lurah. Di tangannya secarik telegram yang telah dibuka, Di sampingnya, juru tulis muda, juga lesu. Mata wanita itu berkaca-kaca.
"Sudahlah, Bu. Tak ada gunanya ditangisi lagi. Dia toh telah hampir sebulan yang lalu meninggal. Saya kira, dia tentulah telah dikubur. Bahwa ibu baru hari ini menerima telegram pemberitahuan dia meninggal, ini patut di­sesalkan. Siapa yang harus disalahkan? Mau menyalahkan jawatan pos, wah, syusyaaah!"
"Kenapa susah? Bukankah tugas mereka harus meng­antarkan surat-surat, terlebih telegram-telegram penting seperti ini, tepat pada waktunya?"
Carik muda tersenyum getir. Bagaimana ia akan me­nerangkannya secara jelas dan sederhana pada ibu tua ini? Akankah dia harus berpidato panjang lebar mengenai 1001 kesukaran dan kekurangan yang dihadapi oleh Jawatan Postel kita? Masih untung ada truk perkebunan swasta yang mau secara sukarela mengantarkan pos dari Kantor Pos Bogor kemari, dan juga mengantarkan surat-surat dari desa ini ke Kantor Pos Bogor. Apa ibu tua ini tak pernah dengar tentang surat yang baru tiba setelah lewat satu tahun lebih di Samarinda dan dikirim dari Jakarta?
Sambil melangkah pelan-pelan, carik muda menemani ibu tua itu pulang ke gubuknya. Dia ini masih saja sesenggukan, sesekali menghapuskan air matanya.
"Coba pikirkan, anakku satu-satunya ... sampai hatilah negara ini memperlakukan dia dan aku dengan cara begini. Apa kami ini bukan warga negara yang baik? Apakah aku tidak berhak mengetahui pada waktunya anakku meninggal agar aku masih bisa menghadiri setidaknya penguburan­nya??"
Dan dia sesenggukan terus. Carik muda kita makin bingung. Membujuk dan menghibur seseorang yang ditim­pa kemalangan, sudah susah. Apalagi bila yang ditimpa kemalangan itu memperlihatkan suatu sikap yang sama sekali tidak mau tahu dengan segala persoalan dan kesulitan negara yang masih berkembang, seperti negeri kita sendiri.
Dan dalam briefing Pak Bupati terakhir yang dihadirinya di Kabupaten Bogor tentang pelaksanaan Repelita, soal kemacetan prasarana seperti yang dialami ibu tua ini, tidak ada disinggung-singgung. Mau melengkapinya sendiri de­ngan pandangan-pandangan pribadinya sendiri, eh, takut, kalau nanti malah tidak cocok dengan semangat dan jiwa Repelita sama sekali. Maklumlah dia cuma sampai kelas dua SGB saja, berhenti karena ayahnya meninggal, tidak mam­pu melanjutkan sekolahnya dan terpaksa kerja, kini sebagai carik muda, karena carik tua baru-baru ini meninggal.
"Inilah, Bu, persoalan prasarana...."
Ibu tua itu mendelik, Matanya bundar menoleh pada­nya.
Sesenggukannya terhenti.
"Apa, Nak?"
Carik muda kita kaget. Wah! Keluhan dalamnya rupa­-rupanya terlompat keluar dan terdengar oleh ibu tua itu.
"Anak bilang apa tadi?"
"Prasarana, Bu!"
"Apa itu, Nak?"
Panik betul carik muda kita. Dia sendiri tak tahu apa arti kata itu seluruhnya. Dari briefing Bupati Bogor terakhir, dia cuma duga arti "prasarana" adalah kira-kira sama dengan antar-hubungan. Tetapi, bagaimana menerangkan pada ibu tua ini? Akankah seluruh briefing Pak Bupati itu harus diulanginya kembali bagi dia?
"Prasana, apa itu, Nak?"
Carik muda lesu menggelengkan kepalanya. Biarlah ibu tua ini menganggapnya kurang sopan, tetapi dia tidak akan coba-coba menerangkannya.
Sambil memalingkan dirinya ke matahari senja di balik Gunung Salak, dia menarik napas panjang. Langkahnya panjang-panjang mengantarnya pulang ke pondoknya. Dan dalam hatinya, dia tak putus-putusnya bertanya terus, “Prasarana, apa itu?”

(Tegak Lurus dengan Langit, 2004)

Sunday, April 01, 2012

Cerpen Iwan Simatupang: Aduh....

Aduh .... Jangan Terlalu Maju, Atuh!

Sebuah sekolah dasar, di suatu desa kaki Gunung Pangrango, Jawa Barat. Lagi jam istirahat. Di pe­karangan anak-anak bermain. Pak guru berdiri lesu di muka pintu kelas, menguap karena terik matahari.
Tiba-tiba seorang anak berteriak. Seperti digigit kala­jengking, murid-murid dan para guru lari ke sumber suara. Cari punya cari, suara ternyata datang dari kakus.
"Ada apa?" teriak anak-anak, mengerumuni seorang yang masih saja melengking seperti kesakitan. Telunjuk tangan kanannya menuding-nuding ke celananya. Tegasnya ke jendela kencingnya.
"Ada apa?" sengat pak guru kelas V, yang masuk menyerbu ke kakus kecil itu.
Dia hanya berteriak terus. Telunjuknya seperti kaki-kaki roda lokomotif, secara berirama menuding-nuding ke jendela celananya yang terbuka.
Pak Guru tak sabar. Si murid dia rengutkan keluar, sambil sebelah tangannya menutup kedua lubang hidung­nya. Memang, bau kakus itu kelewat sengit di siang terik itu.
Setelah di luar, barulah oleh semua hadirin dilihat jelas apa persoalan dia yang sebenarnya. Jendela celananya terbuka setengah. Artinya, ritsluiting sudah naik ke atas setengah, dan tiba-tiba macet di situ, karena kecantel daging dari alat vitalnya. Dan dalam usahanya menaikkan atau menurunkan ritsluiting itu daging dari alat vitalnya itu makin terjepit. Tentu saja dia kesakitan!
"O-alaaaa! Bagaimana sampai terjadi begini?" sentak sang Guru. Tetapi wajahnya sudah tak 100% marah lagi. Tepi-tepi dari suatu senyum geli, yang keburu ditekannya memperlihatkan dirinya di sekujur mukanya.
Begitu pula murid-murid lainnya. Malah ada dari mereka yang tertawa terbahak-bahak, menari-nari dalam lingkaran.
"Hussyy!" bentak Guru Kepala, yang juga sudah sulit dapat mengekang tawannya.
"Lalu bagaimana?" tanya guru-guru lainnya.
"Ke Poliklinik!" putus Guru Kepala. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tak punya alat, dan kita tidak tahu bagaimana caranya.
Mendengar 'ke poliklinik', murid-murid lainnya ber­sorak.
"Horeee! Disunat sekali lagi. Apa masih ada yang sisa?"
Guru wanita sudah tak mampu lagi menekan tawanya. Tetapi karena malu dilihat oleh murid-muridnya, dia buru-­buru lari masuk ke kelasnya.
Delman tiba di poliklinik. Yang turut dalam delman: Guru Kepala, guru kelas anak itu dan dua murid temannya. Akan tetapi mereka punya pengiring yang banyak sekali: seluruh sekolah yang datang lari-lari.
Pak manteri termenung sebentar memikirkan cara ter­baik mana yang akan dipraktekkannya untuk menolong.
"Nah! Mau tak mau, kau mesti mengalami sakit sekali lagi. Mungkin kelewat sakit! Tetapi, jalan lain tidak ada."
"Apa tidak sebaiknya dibius dulu?" bisik Guru Kepala.
"Saya tidak punya alat pembius. Bapak Guru jangan lupa, ini cuma poliklinik desa saja, yang alat-alatnya dan obat-obatannya sudah lama tidak beres ...."
"Baik! Baik! Terserah Bapak Mantri saja!" kata Guru Kepala. Dengan itu ia menghindarkan suatu pidato panjang dari sang mantri tentang salah satu kekurangan lagi dari Republik kita ini kini.
"Ini, gigitlah karet ini sekuatmu. Mengerti?"
Dia menyerahkan sepotong karet merah pada sang korban. Setelah masuk dalam mulut karet itu digigit sekuatnya.
"Lagi! Kurang kuat!" bentak Pak Mantri.
Dia menggigit lebih kuat lagi, dan tiba-tiba: "Syrrk! Ritsluiting yang gigi-giginya sudah digemukinya dengan zalf terlebih dahulu disentaknya ke bawah. Dan lepaslah sang alat vital dari cengkraman ritsluitingnya.
Semua lega. Setelah menaruh salep atas cedera pada alat vital, gara-gara diserempet gigi-gigi ritsluiting itu, pulanglah delman itu ke sekolah diiringi oleh gerombolan besar yang tak putus-putusnya menyorakkan pekik kemenangan.
Sampai di sekolah, Guru kepala bertanya, "Apa kau tak biasa pakai celana dengan kancing begituan?"
Dia menggelengkan kepalanya.
"Ini celana baru, Pak. Kata tukang jahit, sebaiknya pakai ritsluiting saja, sebab ini zaman modern. Dalam zaman modern, tidak dipakai lagi kancing tulang."
Maka nyeletuklah Guru Kepala, yang sebelumnya sem­pat ikut mendengar ceramah Pak Wedana.
"Apa ini juga gara-gara modernisasi desa?"
(Tegak Lurus dengan Langit, 2004)

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook