Wednesday, July 02, 2008

Anjing dalam Cerpen

Anjing dalam Cerpen Indonesia

Oleh Oyos Saroso H.N.


Apakah anjing memiliki kebijaksanaan dan keteladanan? Kalau pertanyaan ini dilontarkan kepada masyarakat umum, orang yang terbiasa menganggap anjing sebagai binatang yang najis dan menjijikkan, maka jawabannya sudah pasti: cuih najis! Mencari keteladanan kok kepada anjing!


Namun, kalau kita pelajari lebih jauh perkembangan cerita pendek Indonesia mutakhir, akan terhamparlah kenyataan bahwa anjing tidaklah selalu merujuk pada binatang yang menjijikkan. Para penulis cerpen Indonesia sering memakai anjing sebagai metafor. Di antara hamparan metafor itu, anjing tidak saja dipakai sebagai simbol tentang keserakahan, keganasan, kegarangan, dan sadisme. Dalam beberapa cerpen anjing justru dijadikan tokoh yang memiliki kebijaksaan dan keteladanan layaknya manusia.


Ada banyak pengarang cerpen Indonesia yang memakai anjing sebagai metafor untuk menciptakan makna simbolik, menjadikannya sebagai tokoh, maupun sekadar sebagai ’tempelan’ karakter seorang tokoh. Sebutlah, misalnya, Seno Gumira Ajidarma (”Legenda Wong Asu”), Kuntowijoyo (”Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan”), Triyanto Triwikromo (”Sayap Anjing” dan ”Sepasang Anjing Sepasang Cermin”, Teguh Winarsho AS (”Laki-Laki dan Anjing”, ”Menjadi Anjing”), Indra Tranggono (”Lagu Malam Seekor Anjing”), Kurnia Effendi (”Kamar Anjing”), Djenar Maesa Ayu (”Wong Asu”), dan Herlino Soleman (”Anjing!”). Bahkan, cerpen ”Legenda Wong Asun”-ya Seno Gumira Ajidarma kemudian mengilhami penulis prosa lain dan penyair untuk menciptakan karya sastra.

Dalam terminologi Islam, anjing masuk kategori najis. Makanya, ia harus dijauhi. Orang yang tanpa sengaja tubuhnya dijilat anjing harus segera dicuci hingga beberapa kali sehingga najisnya hilang.


Meskipun begitu, bagi sebagian kalangan masyarakat, anjing dianggap binatang yang lucu yang banyak gunanya. Tidak hanya sebagai penghias rumah dan hewan kesayangan, tetapi juga menjadi penjaga rumah, pembantu kerja polisi untuk melacak jejak pelaku tindak kriminal, bahkan sebagai ’tambang uang’ karena bisa main film. Anjing diyakini sebagai binatang yang setia kepada tuannya.


Anjing sendiri sebenarnya tidak begitu penting. Ia hanyalah binatang binatang. Jenisnya banyak. Ada yang terawat dan berharga mahal, tapi banyak pula yang liar sehingga ganas dan mengancam manusia. Anjing menjadi menarik bagi pembaca cerpen ketika ia tidak sekadar berhenti sebagai anjing atau tempelan belaka, tetapi juga menjadi unsur penentu permainan karakter, pembangun alur cerita, dan turut serta dalam penciptaan konflik. Hal itu menjadi menarik ketika anjing, binatang yang makna referensialnya menunjuk pada hal yang menjijikkan, tetapi ketika diolah dalam sebuah bangunan cerita bisa membangun horison pemaknaan baru lewat sejumlah impuls literer dunia tekstual (sense.)


Tengoklah misalnya penuturan aku-pencerita dalam cerpen ”Sayap Anjing” karya Triyanto Triwikromo (Media Indonesia, 20 April 2003): Ah, mungkin saya memang anjing kurap. Kalau bukan anjing, tak mungkin mata saya ditampar oleh seonggok tahi ketika hendak beol di toilet Bandara King Abdul Aziz. Kalau saya manusia terpuji, tak mungkin selangkangan saya sobek saat melakukan sai dari Bukit Safa ke Bukit Marwah.


Dengan mengambil “keteladanan anjing”, Triyanto membangun cerita dengan setting tempat Tanah Suci Mekkah pada saat musim ibadah haji. Di Tanah Suci itu, aku-pencerita tidak hanya melihat satu-dua anjing-anjing bersayap hijau, tetapi ribuan.Bahkan, si aku-pencerita sendiri sampai ragu apakah dirinya sendiri masih manusia atau sudah menjadi anjing.


Dalam dunia pengalaman, alangkah banyak cerita atau kisah di luar nalar akal sehat yang sering dialami jamaah haji, baik pengalaman mengesankan yang menyenangkan maupun pengalaman tragis nan memalukan. Konon, pengalaman yang dialami jamaah haji itu sebagai gambaran perilaku mereka sehari-hari.


Pengalaman serupa itulah yang dikisahkan oleh Triyanto dalam ”Sayap Anjing”. Bagi Triyanto, anjing bukanlah sekadar kata yang merujuk pada referens ”hewan berkaki empat yang bermoncong panjang dan diharamkan oleh umat Islam”. Triyanto justru memanfaatkan ”keteladanan” anjing, yang salah satunya mendapatkan referesensinya dari buku Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi berjudul Syarhu Kaasyifatus Sajaa 'alaa Safiinatin Najaa fii Ushuulid Diini Wal Fiqhi untuk membentuk alur yang berkelindan dengan metafor. Meskipun mengambil sisi lain keteladanan anjing, Triyanto tetap memosisikan ”manusia anjing” sebagai bentuk penyimpangan dari kewajaran tata hidup manusia.


Meskipun penggarapan konfliknya tidak terlampau cemerlang dan mengesankan, cerpen ”Sayap Anjing”-nya Triyanto telah berhasil membangun dunia tekstual, dunia otonom di luar makna referensial. Karena kemampuan bertutur penulisnya yang prima, pembaca cerpen menjadi tidak mempersoalkan apakah bangunan konflik dalam ”Sayap Anjing” itu kuat atau tidak. Sebagai penikmat, saya begitu terhanyut dan seolah masuk ke dalam dunia baru yang diciptakan Triyanto.


Penyimpangan dari kewajaran itu pula yang terjadi pada tokoh-tokoh yang disimbolkan dengan anjing dalam beberapa cerpen karya penulis Indonesia. Ya, bagaimana tidak menyimpang kalau seseorang yang ingin kaya harus menjalankan ”laku tapa” selama tujuh hari tujuh malam, lalu mencuri mayat di kuburan, dan akhirnya harus ”berebut” mayat dengan segerombolan anjing liar? (cerpen ”Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan”).


Bagaimana pula tidak menyimpang jika seorang bernama Sukab yang terpaksa menjadi penangkap anjing –lantaran terserimpung badai krisis ekonomi-moneter--pada akhirnya juga menjadi anjing? (cerpen ”Legenda Wong Asu”) Menjadi runyam ketika anak istri Sukab wajahnya juga sudah seperti anjing.


Dalam sejumlah cerpen karya cerpenis Indonesia, anjing memang kerap dipakai sebagai perlambang manusia rakus. Tata sosial masyarakat anjing, dengan demikian, merupakan tata sosial masyarakat yang rakus, tamak, keras, dan kejam. Gambaran manusia semacam itu terlihat dalam cerpen ”Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan” (Kuntowijoyo) dan ”Legenda Wong Asu” (Seno Gumira Ajidarma).


Dalam cerpen ”Legenda Wong Asu”, menurut saya, yang terpenting bukanlah tokoh Sukab yang ”dipaksa” oleh keadaan untuk menjadi penangkap anjing. Yang menarik justru dunia cerita yang dibangun—yang juga memiliki otonominya itu—yang membangun makna di luar makna referensialnya.


Narasi tanpa Konflik

Kalau dalam cerpen ”Sayap Anjing” aku-pencerita masih berdarah-daging-pikiran seorang manusia, lain halnya dengan cerpen ”Lagu Malam Seekor Anjing”-nya Indra Tranggono (Kompas,28/5/2006). Dalam cerpen tersebut sejak awal Indra Tranggono memosisikan anjing sebagai aku-pencerita. Dan ”gilanya”, si aku-pencerita yang notabenenanya anjing itu justru memiliki rasa kemanusiaan. Itu ditunjukkan aku-pencerita saat melihat pencuri yang hendak mengambil harta milik tuannya.


Lantaran iba dengan kondisi si pencuri, tokoh aku justru membantu si maling memuluskan rencananya. Bahkan, ketika maling itu akhirnya ditembak oleh si empunya rumah, aku-pencerita (anjing) menunjukkan kemarahannya: Kontan tuanku langsung melepas timah panas. Orang itu tumbang, rebah ke tanah. Muncrat darah merah dari dadanya. Aku menggonggong sangat keras. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. Aku menggonggong makin keras. Makin keras, hingga orang-orang pun keluar rumah. Mereka mengelu-elukan aku...


Dari sejumlah cerpen karya cerpenis Indonesia yang memakai anjing sebagai simbol, saya menemukan fakta bahwa kekuatan para cerpenis bukan pada penggarapan alur, karakter tokoh, dan konflik cerita. Kekuatan mereka pada umumnya justru pada teknik bertutur, meskipun dalam beberapa kasus terasa klise (misalnya cerita berbingkai dalam ”Legenda Wong Asu”-nya Seno).


Karena kemampuan bertutur yang baik, runtut, dan dengan deskripsi yang jelas cerpen ”Kamar Anjing”-nya Kurnia Effendi menjadi enak untuk dinikmati. Padahal, kisahnya hanyalah soal sederhana. Hal serupa terjadi dalam cerpen ”Menjadi Anjing” karya Teguh Winarsho AS. Tema yang digarap Teguh juga sederhana, yaitu tentang libido Sam dan Ros. Tak ada sekalipun dialog dalam cerpen tersebut. Yang ada adalah penuturan kisah yang dilakukan tokoh Sam dan Ros soal persepsi masing-masing tentang cinta dan hasrat seksual.


Apakah cerpen model ”Menjadi Anjing”-nya Teguh Winarso merupakan sebentuk kesederhanaan baru cerpen Indonesia. Tidak juga. Baik dalam sejarah cerpen dunia maupun Indonesia, banyak penulis cerpen yang menghasilkan karya-karya dalam bentuk yang sederhana. John Bart dan Franz Kafka, misalnya, sudah lama menulis fiksi yang sangat pendek, hanya beberapa baris.


Di Indonesia, Sapardi Djoko Damono pun baru-baru ini juga menulis cerpen yang pendek dan sederhana. Pada akhir tahun 1980-an, saya juga pernah menemukan cerpen-cerpen Remmy Novaris DM di Media Indonesia. Beberapa cerpen Sapardi yang terkumpul dalam antologi Membunuh Orang Gila lebih menyerupai ”The Litle Fabel”-nya Kafka. Sapardi sendiri pernah mengakui ketertarikannya menulis cerpen serupa itu karena dia terinspirasi oleh karya-kara Kawabata yang memang memiliki kesederhanaan bentuk itu.


Pada akhirnya, soal panjang-pendek bentuk cerpen bukanlah masalah yang terlampau perlu dirisaukan. Yang penting adalah kemampuan cerpenis membangun kisah dan bersilat di rimba kata-kata sehingga cerpennya berhasil. Dan tentu, di luar urusan itu, anjing tetap masih punya peluang tampil dalam jagad cerpen.Anjing—mungkin juga babi dan kucing garong—masih punya peluang besar untuk dieksplorasi oleh para penulis cerpen.***


Catatan: Tulisan ini pernah di muat di Lampung Post
cited from:
http://oyossaroso.blogspot.com/2007/06/anjing-dalam-cerpen-indonesia.html

2 comments:

ijin share ya, tulisanya sangat bermanfaat sekali :) pasti akan saya sertakan sumbernya :)

ijin share ya, tulisanya sangat bermanfaat sekali, pasti akan saya sertakan sumbernya, terimakasih :)

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook