Friday, October 24, 2008

Keberadaan Kritikus Sastra

Menyoal "Keberadaan" Kritik(us) Sastra


Dalam buku The Sacred Word (Metheun & Co Ltd., New York, 1960) TS Eliot menulis, we might remind ourselves that criticism is an inevitable as breathing. Ya kita selalu menghormati, membutuhkan dan tidak dapat melepaskan diri dari kritik (sastra). Syukurlah, kritik sastra masih terus ditulis, meski memang telah kehilangan legitimasinya.

Legitimasi atau kehidupan kritik(us) sastra, ya, itulah yang kerap membuncahkan jagat sastra Indonesia. Banyak kajian berupa esai atau artikel yang intinya menyiratkan keresahan, kekecewaan dan keprihatinan kita menghadapi degradasi keberadaan kritik(us) sastra.

Ketika kebudayaan industri atau kebudayaan massa koran begitu berkuasa, tradisi romantik yang cenderung ke detail dan melahirkan kritik sastra buku dan majalah ala Jassin dianggap sudah tidak relevan. Persoalannya adalah, kehadiran kritik(us) sastra koran dirasa masih sangat jauh dari memuaskan.

Asumsi di atas seakan beroleh pembenaran dari beberapa figur sastra kita. Faruk HT, melalui tulisan berjudul "Situasi Kritik Sastra Dewasa Ini" mengatakan kritik sastra sekarang telah dikuasai media massa koran. Karena itu, sesuai orientasi serta kaidah jurnalistik media bersangkutan, kritiknya cenderung abstrak, mengambang, bertutur tentang soal-soal yang umum sehingga kehilangan kemampuan bicara menyangkut detail.



Dengan nada lain Agus Noor mengungkapkan, kritik maupun kritikus tidak lebih dari semacam mitra dialog(is), yang membuka dan memberi peluang cara pandang mendekati serta mengapresiasi karya sastra. Iwan Gunadi menilai kritikus tak memiliki perangkat yang memadai -selain teori-teori yang terlalu memBarat- untuk menguliti sebuah karya. Nirwan Dewanto mengemukakan "kemalu-maluan" serta ketidakberanian kritik(us) sastra menegakkan kepala.

Telaah(an) para figur sastra kita itu secara tidak langsung menyiratkan bahwa kritik(us) sastra, seiring zaman, terlihat mencari bentuk dan mediumnya. Dengan kata lain, kritik sastra ternyata begitu fleksibel, bisa menyesuaikan diri dengan zaman: buku, majalah, pengantar-buku dan koran. Akan tetapi keabsahan kritik sastra bukan ditentukan oleh medium kritik(us) melainkan oleh kebernasan atau "sesuatu" yang ada pada kritik itu. Artinya adalah, seekstrem apa pun orang menolak kehadiran seorang kritikus, tapi jika di antara kita ada yang sanggup memformulasikan kritiknya sebagai sebuah kritik maka akan jadi dan di"dikritikus"kan khalayaklah dia.

Sesuai sifat dan fungsinya, kritik sastra niscaya menjadi penghubung antara pembaca dan (pengarang) karya sastra. Kecuali itu, kritik dengan segala konsekuensinya mungkin sangat diperlukan sastra(wan), sebagai tolok ukur yang, ironisnya, bukan tidak mustahil justru akan membunuh atau sebaliknya melambungkan karya sastra -termasuk pengarang.

Sekaitan ini, dalam konteks relasi kritik dengan karya dan masyarakatnya Gus tf mengatakan sublimitas seorang seniman adalah kehidupan sedang sublimitas seorang kritikus adalah karya seni. Ketimbang menyerahkan dan menghadapkan diri pada "keangkuhan" sebuah karya, kritikus menempuh jalan tersendiri yang sebetulnya ironi: mengritik dengan bahasa yang karena keharusannya bermain dalam gugus pengertian.

Tersebab "intervensi" pemikiran filsafat, korelasi dan relevansi dikotomi kritik jadi lebih bersifat konseptual. Lebih spesifik, seni (baca: karya sastra) yang diposisikan sebagai sarana penyampaian masalah-masalah sosial ditempatkan kritik(us) sebagai subordinat suatu kepentingan politik. Karya yang dipandang sebagai "alat" pencapaian ide-ide besar tentang seni ditempatkan sebagai sesuatu yang sangat individualistik. Karya yang cenderung memanifestasikan tingkah-laku sehari-hari akan ditempatkan sebagai sesuatu yang agung, tinggi, didaktik dan karenanya akan terbebani oleh berbagai tuntutan dan harapan. Karya (dunia simbolik) yang selalu berinteraksi dengan dunia sosial dan material, tidak saja akan membuat karya kehilangan otonomi tetapi juga akan direduksi kritik(us) dengan banyak aspek kepentingan yang menyertai karya tersebut.

Hemat kita, di sinilah permasalahan yang sesungguhnya. Karya sastra bisa dimasuki kritik(us) dari segala sudut pandang. Dan keberhasilan kritik sastra bukan bergantung kepada siapa yang membuat atau apa dan di mana ia dipublikasikan. Kemangkusannya berkaitan erat dengan kearifan kritikus menjaga penetrasi porsi tulisan yang mengacu pada sifat serta fungsi kritik, di samping kepiawaian kritikus menyiasati medium (buku, majalah, pengantar-buku, koran) yang hendak dimanfaatkannya.

Namun kearifan dan kelihaian kritikus memahami maksud, kiat, style berikut gaya bahasa (yang pas) yang akan digunakan mengulas karya sastra jelas tak berarti andaikata ia tidak bijak dan jeli menangkap keindahan atau kelemahan yang terkandung dalam karya. Ini ditengarai bertali-temali dengan kejujuran dan obyektivitas kritikus sewaktu menimbang karya yang dikupas. Sebagai ilustrasi, konon di sinilah keunggulan HB Jassin. Sejarah membuktikan, Chairil Anwar yang (selamanya) ia sanjung langsung dikecam begitu menyadari penyair besar itu "mencuri" sajak A Song of the Sea Hsu Chih-Mo.

Barangkali inilah diskursus atau problem yang melatarbelakangi kegamangan Taufiq Ismail. Dalam "Kongres Kesenian Indonesia I" tempo hari penyair kondang itu mengungkapkan, semenjak HB Jassin "pensiun" menulis kritik dunia sastra kita merasa sangat kehilangan. Keadaan itu diperburuk karena beberapa kritikus yang bilangannya bisa dihitung dengan jari tangan sudah memasuki "masa persiapan pensiun" pula. Sementara FSUI yang pada masa jayanya punya sebarisan jago kayak Boen Sri Oemarjati, MS Hutagalung, Lukman Ali, Saleh Saad, seakan dilanda degenerasi alias tak melakukan regenerasi.

Sedikit berbeda dengan Taufiq, Sapardi Djoko Damono justru melontar sinyalemen yang lebih menjurus ke sebab-musabab "keterpinggiran" atau stagnasi keberadaan kritik(us) sastra itu sendiri. Dalam "Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia" di Denpasar, Bali, beberapa tahun yang lalu, Guru Besar FSUI itu mengatakan bahwa untuk bisa membicarakan karya sastra secara baik, kritikus harus lebih pintar atau minimal sama cerdasnya dengan pengarang. Selain itu tiap generasi harus memiliki juru bicara, karena tiap zaman punya keunikan dan problematikanya sendiri.

Ya, orang bilang pengarang mencipta berdasarkan kekuatan imajinasinya sedang kritikus bicara dengan keluasan (ilmu) pengetahuannya. Maka idealnya, seyogyanya seorang kritikus menguasai seluk-beluk sastra yang maksimal sembari terus mempelajari puspa-ragam informasi yang beredar di tengah masyarakat. Bermodal pengetahuan yang memadailah seorang kritikus leluasa menggeluti karya sastra. Tapi memang, kritikus yang (akan) berhasil dengan misi dan visi maupun citranya adalah kritikus yang cerdas memanfaatkan peluang zaman lewat medium yang dimasukinya.***
Nelson Alwi, pencinta sastra-budaya, tinggal di Padang
diambil dari Suara Karya online, Sabtu 19 April 2008

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook