Tuesday, April 13, 2010

Drama Kapai-Kapai Arifin C.Noer

Lakon Lima Babak
Kapai-Kapai
Arifin C. Noer (1970)

DRAMATIC PERSONAE

Abu
Iyem
Emak
Yang Kelam
Bulan
Majikan
Kakek
Jin
Putri
Pangeran
Bel
Pasukan Yang Kelam
Kelompok Kakek
Seribu Bulan Yang Goyang-Goyang
Gelandangan
Tanjidor dll

BAGIAN PERTAMA

DONGENG EMAK

Satu

EMAK
Ketika prajurit-prajurit dengan tombak-tombaknya mengepung istana cahaya itu, sang Pangeran Rupawan menyelinap diantara pokok-pokok puspa, sementara air dalam kolam berkilau mengandung cahaya purnama. Adapun sang Putri Jelita, dengan debaran jantung dalam dadanya yang baru tumbuh, melambaikan setangan sutranya dibalik tirai merjan, dijendela yang sedang mulai ditutup oleh dayang-dayangnya. Melentik air dari matanya bagai butir-butir mutiara.
ABU
Dan sang Pangeran, Mak ?

EMAK
Dan Sang Pangeran, Nak ? Duhai, seratus ujung tombak yang tajam berkilat membidik pada satu arah ; purnama di angkasa berkerut wajahnya lantaran cemas, air kolam pun seketika membeku, segala bunga pucat lesu mengatupkan kelopaknya, dan...

ABU
Dan Sang Pangeran selamat, Mak ?

EMAK
Selalu selamat. Selalu selamat.

ABU
Dan bahagia dia, Mak ?

EMAK
Selalu bahagia. Selalu bahagia.

ABU
Dan sang Putri, Mak ?

EMAK
Dan sang Putri, Nak ? Malam itu merasa lega hatinya dari tindihan kecemasan. Ia pun berguling-guling bersama Sang Pangeran dalam mimpi yang sangat panjang, diaman seribu bulan menyelimuti kedua tubuh yang indah itu penuh cahaya.

ABU
Dan bahagia, Mak ?

EMAK
Selalu bahagia. Selalu bahagia.

MAJIKAN
Abu !

EMAK
Sekarang kau harus tidur. Anak yang ganteng mesti tidur sore-sore.

ABU
Sang Pangeran juga tidur sore-sore, Mak ?

EMAK
Tentu. Sang Pangeran juga tidur sore-sore karena dia anak yang ganteng. Kau seperti Sang Pangeran Rupawan.

MAJIKAN
Abu !

ABU
Mak ?

MAJIKAN
Abu !

ABU
Bagaimana keduanya bisa senantiasa selamat ?

MAJIKAN
Abu !

EMAK
Berkat cermin tipu daya.

ABU
Berkat Cermin Tipu Daya, Mak ?

MAJIKAN
Abu !

EMAK
Semuanya berkat Cermin Tipu Daya.

ABU
Cuma berkat itu ?

MAJIKAN
Abu !

EMAK
Cuma berkat itu.

ABU
Cuma.

MAJIKAN
Abu ! Abu !

ABU
.... di mana cermin itu dapat diperoleh, Mak ?

EMAK
Jauh nun di sana kala semuanya belum ada (KELUAR)

MAJIKAN
Bangsat ! Tuli kamu ?

ABU
Mak ?

Dua

YANG KELAM
Ini adalah tahun 1930 dan bukan tahun 1919. Kau harus segera mengenakan pakaian pesuruhmu (Keluar)

Tiga

SETELAH IA MENGENAKAN PAKAIANNYA SEBAGAI PESURUH KANTOR TERDENGAR GEMURUH SUARA PABRIK

MAJIKAN
Abu !

ABU
Hamba, Tuan.

MAJIKAN
Abu !

ABU
Hamba, Tuan.

MAJIKAN
Abu !

ABU
Hamba, Tuan.

MAJIKAN
Abu !

ABU
Hamba, Tuan.

MAJIKAN
Abu !

ABU
Hamba, Tuan.

MAJIKAN
Abu !

ABU
Hamba, Tuan.

MAJIKAN
Abu !

ABU
Hamba, Tuan.

MAJIKAN
Bangsat kamu ! Kerja sudah hampir tiga tahun masih saja kamu melakukan kesalahan yang sama. Lebih bodoh kamu dari pada kerbau.

Empat

EMAK
Anak yang ganteng tidak boleh menangis. Apakah kau tidak malu kepada Sang Putri Rupawan ? Setelah mencuci kaki, kau harus mengenakan pakaianmu yang kotor, nanti emak akan mendongeng lagi. Sudah bersih kakimu ? Ketika Sang Pangeran turun dari kudanya yang putih bersinar, ia melihat gua itu dikejauhan. Namanya gua cahaya tapi lebih sering disebut gua hantu.


ABU (Ketakutan)

EMAK
Tidak usah takut. Ada Emak. Telah beratus-ratus ksatria dan raja-raja dan pangeran-pangeran yang mencoba menerobos gua itu, semuanya musnah dibunuh oleh hantu-hantu penjaga harta karun itu. Di angkasa serombongan mendung yang maha hebat membendung sang surya, sehingga alam yang siang menjadi gelap gulita. Sayup-sayup kelihatan pintu gua itu bagaikan mulut raksasa dengan sinar yang memancar dari dalam. Sang Pangeran menggeleng-gelengkan kepala kagum karena tahu sinar itu adalah sinar permata-permata yang tertimbun disana. Tatkala angin pun sirna, Sang Pangeran telah memacu kudanya ke arah mulut gua. Tak ada suara kecuali derap kuda dengan ringkiknya. Ketika kuda itu berada didepan pintu gua, sekonyong-konyong serombongan mendung yang tebal tadi menyerang mengepung Sang Pangeran. Tahulah kini Sang Pangeran bahwa mendung itu adalah hantu-hantu.

ABU
Dan Sang Pangeran, Mak ?

EMAK
Dan Sang Pangeran, Nak ?Amboi, berjuta kuku dan taring lancip bagai ujung-ujung belati rapat mengancam Sang Pangeran ; dari atas dari bawah, dari kiri dari kanan, dari muka dari belakang. Rupanya hantu- hantu itu berdengus sehingga seketika erjadi topan dasyat yang amat bacin baunya.

ABU
Dan Sang Pangeran, Mak ?

EMAK
Dan Sang Pangeran, Nak ? Dengan Cermin Tipu Daya, kuku-kuku dan taring-taring yang berjuta-juta itu seketika mencair sehingga hujan deraslah yang kini ada. Maka dalam kehujanan itu pun, Sang Pangeran mengacungkan cerminnya dan terbukalah pintu gua dengan sendirinya. Langit telah kembali sebagai wajarnya, yang penuh cahaya surya ketika Sang Pangeran memboyong harta permata itu ke Istana Cahaya dimana Sang Putri menanti dipelaminan.

ABU
Dan bahagia, Mak ?

EMAK
Selalu bahagia. Selalu bahagia.

ABU
Dan Sang Putri, Mak ?

EMAK
Sang Putri berdebar menanti dipelaminan, sementara rakyat seluruh kerajaan berpesta. Dan ketika Sang Pangeran muncul di gerbang Istana Cahaya dengan di iringi kuda-kuda yang mengangkut peti-peti harta, seketika bergetarlah dada Sang Putri yang baru tumbuh itu dan sekalian rakyat bersorak-sorak mengelu-elukan. Kedua mempelai itu telah berpadu dalam lautan permata yang sangat menyilaukan. Lautan harta seharga berjuta-juta nyawa manusia.

ABU
Keduanya bahagia, Mak ?

EMAK
Selalu bahagia. Selalu bahagia.

ABU
Berkat Cermin Tipu Daya, Mak ?

EMAK
Berkat Cermin Tipu Daya.

ABU
Dimana Cermin itu dapat dibeli, Mak ?

EMAK
Jauh nun di ujung dunia... disebuah toko milik Nabi Sulaiman...

ABU
Dan harganya, Mak ?

EMAK
Nanti kau sendiri pasti tahu. Nanti. Pasti.

ABU
Bahagia, Mak ?

EMAK
Pasti bahagia. Selalu bahagia. Sekarang bayangkan bagaimana kalau kau menjadi Sang Pangeran Rupawan. Kau niscaya dapat merasakan dengan lebih nyata apabila kau lelap tidur. Nah, sekarang pejamkan kedua matamu. Tidur. Burung-burung pun sudah tidur. Tidur. Matahari pun sudah tidur. Tidur. Pohon-pohon pun sudah tidur. Tidur seantero alam telah mendengkur. Tidur.

Lima

EMAK
Bulan !

BULAN
Ya, Mak.

EMAK
Selimuti keduanya.

BULAN
Kalau dia terbangun.

EMAK
Tidurkan lagi.

BULAN
Kalau dia terjaga lagi ?

EMAK
Mabukkan dia.

BULAN
Kalau sadar lagi ?

EMAK
Pingsankan dia.

BULAN
Kalau dia siuman lagi ?

EMAK
Itu urusan Yang Kelam. Sekarang Emak akan menyelesaikan karangan Emak yang terakhir. Aneh sekali dalam roman Emak kali ini Abu telah mulai menemukan kunci teka-teki kita. Ia semakin menginsyafi bagaimana selama ini ia kita perdayakan. Namun bagaimana pun, Emak tetap berharap ia akan tetap patuh kepada kita. Sudah menjadi kodratnya bagaimana pun ia memerlukan hiburan dan hanya kitalah yang mampu memenuhi kebutuhan itu. Tetapi juga ini tidak berarti bahwa kita bisa bekerja secara improvisasi seperti yang sudah-sudah. Di manakah Yang kelam ?

YANG KELAM
Saya di sini, Mak.

EMAK
Kau dengar apa yang baru Emak katakan ?

YANG KELAM
Tak satu kata pun lewat dari telingaku, Mak.

EMAK
Satu hal lagi; kita harus sistematik. Selama kita masing-masing tetap pada pos kita, Emak yakin tak satu pun pekerjaan kita yang meleset.

YANG KELAM
Dia tidur ?

EMAK
Tidur, tidak. Tidak tidur, tidak. Seperti yang sudah-sudah, seperti yang lain-lain juga, ia sudah mati tapi ia tidak tahu.

YANG KELAM
Saya beritahu dia ?

EMAK
Belum waktunya. Berapa umur kau ?

YANG KELAM
Dua puluh satu.

EMAK
Kita perpanjang amat panjang. Pada usiamu yang ke 70 beritahulah dia. Ingat jangan ulang cara yang usang.

BULAN
Beritahu sekarang saja dia.

EMAK
Kau selalu punya belas, Bulan.

BULAN
Dia orang miskin.

EMAK
Justru akan kita perkaya. Ah, sudahlah. Kau dapat menolongnya dengan cara yang menghiburnya. Waktu Emak habis. Emak harus mengarang.

Enam

BULAN (Menyanyi)
Andai kau tergoda jangan salahkan daku. Cahayaku memancar pun bukan milikku. Kecantikkanku pun bukan milikku.

YANG KELAM
Jangan nyanyikan nyanyian itu lagi nanti Emak marah lagi.

BULAN
Kau yang salah.

YANG KELAM
Tak ada yang salah.

BULAN
Kau yang salah. Kalau kau tak ada.

YANG KELAM
Adaku bukan minatku. Tapi kalau aku tak ada kau pun dan segala pun tak ada.

BULAN
Kenapa kau tidak memilih tidak ada ?

YANG KELAM
Karena kita ada. Dan begitu saja ada.

BULAN
Karena ada mula, karena ada mula.

YANG KELAM
Maka ada akhir dan akulah itu. Dia dan aku.

BULAN
Karena ada, itulah kesalahannya.

YANG KELAM
Kita hanya menjalani kodrat. Jalanilah kodrat maka kita akan selamat.

BULAN (Menyanyi)
Andai kau tergoda jangan salahkan daku. Cahayaku memancar pun bukan milikku.

YANG KELAM
Jangan menyanyi. Mengeramlah kalau bisa atau diam.

BULAN
Aku hanya bisa menyanyi. Pun begitu nyanyian buakn pula milikku.

YANG KELAM
Perempuan cengeng.

BULAN
Lelaki kejam. Kembalikan Cermin Tipu Daya itu.

YANG KELAM
Kau tak akan memilikinya lagi.

BULAN
Sudah satu abad kau pinjam.

YANG KELAM
Dan aku tak akan pernah mengembalikan kepadamu. Ya, sejak satu abad yang lalu Abu sudah mulai menginsyafi bahwa puncak bahagia ada pada diriku, tatkala ia melihat pada cerminku.

BULAN
Cerminku ! Cerminku !

YANG KELAM
Dulu. Sekarang milikku.

BULAN
Kau kejam. Kau tak punya kasihan. Kalau dia bercermin pada kau hanya malam yang kau tampilkan.

YANG KELAM
Memang dia hanya punya malam. Akulah dia. Ini pun kodrat. Ia tak dapat melepaskan diri dari kodrat ini.

BULAN
Konyolnya.

YANG KELAM
Itulah jawaban dari segalanya. Konyol.

ABU BANGUN, MENGIGAU. BULAN DAN YANG KELAM KELUAR.

BULAN (Menyanyi)
Kalau kau tergoda jangan salahkan daku. Cahayaku memancar pun bukan milikku. Andai kau mabuk jangan salahkan daku. Kecantikkanku pun bukan milikku.

Tujuh

IYEM
Monyong lu ! Lelaki macam lu ? Kerbau ? Babi ?

ABU (Bingung)
Jam berapa, Yem ?

IYEM
Jam berapa ? Beduk sampai coblos dipalu orang juga kau masih enak- enak ngorok. Apa kamu tidak mau kerja ?

ABU
Bukan begitu.

IYEM
Baik kalau kamu mau enak-enak ngorok biar saya yang kerja. Apa dikira tidak bisa ? Saya kira saya masih cukup montok untuk melipat seribu lelaki hidung belang di ketiak saya.

ABU
Kau jangan bicara sekasar itu.

IYEM
Kamu lebih kasar lagi. Tidur sama istri kamu masih mimpi yang tidak-tidak. Tuh lihat tikar basah begitu. Kalau kau sudah bosan dengan saya bilang saja terus terang. Jangan sembunyi-sembunyi. Ayo, kau mimpi dengan siapa ? Dengan si Ijah yang pantat gede itu ? Bangsat !

ABU
Mimpi ?

IYEM
Jangan main lenong (Menangis) Memang saya sudah peot. Habis manis sepah dibuang.

ABU
Jangan bicara begitu.

IYEM
Memang begitu.

ABU
Tidak seperti yang kau bayangkan.

IYEM
Memang begitu.

ABU
Diamlah, Yem.

IYEM
Memang begitu.

ABU
Iyem.

IYEM
Saya bunting kau tidak tahu.

ABU
Bunting ? Kau bunting ?

IYEM
Kata Emak.

ABU
Kau bunting ?

IYEM
Kalau tidak apa namanya ?

ABU
Iyemku. Iyemku (Keduanya Menari)

IYEM
Pepaya bunting isinya setan.
Dimakan dukun dari Sumedang.
Perut aye bunting isinya intan.
Ditimang sayang anak disayang.

ABU
Pohon pisang tidak berduri.
Pagar disusun oleh rembulan.
Mohon abang lahir si putri.
Biar disayang setiap kenalan.
Iyemku. Iyemku.

IYEM
Abuku. Abuku (Keduanya Berpelukan) Kau masih cinta pada Iyem ?

ABU
Selalu cinta. Selalu cinta.

IYEM
Kau masih sayang pada Iyem ?

ABU
Selalu sayang. Selalu sayang.

IYEM
Iyem minta anu.

ABU
Minta apa, Yem ?

IYEM
Minta anu.

ABU
Anu apa ?

IYEM
Iyem ngidam.

ABU
Minta rujak asam, Yem ?

IYEM
Bukan.

ABU
Apa Iyem ?

IYEM
Kerupuk.

ABU
Kerupuk udang, Yem ?

IYEM
Bukan.

ABU
Kerupuk terigu, Yem ?

IYEM
Bukan.

ABU
Kerupuk plastik, Iyem ?

IYEM
Bukan. Iyem, bilang !

ABU
Iyem.

IYEM
Kepingin.

ABU
Kepingin.

IYEM
Kerupuk.

ABU
Kerupuk.

IYEM
Apa yo ?

ABU
Apa yo ?

IYEM
Apa ?

ABU
Apa ?

IYEM
Kerupuk.

ABU
Kerupuk.

IYEM
Kerbau !

ABU
Kerbau !

IYEM
Horee !

ABU
Berapa kilo, Iyem ?

IYEM
Satu biji.

ABU
Lainnya, Yem ?

IYEM
Anu.

ABU
Anu apa, Iyem ?

IYEM
Cium.

ABU
Berapa kali, Iyem ?

IYEM
Seribu kali (Mereka Berciuman)

ABU
Bau pete. Kau makan pete ?

IYEM
tadi di rumah si Ipoh. (Mereka Pun Berciuman)


Delapan

YANG KELAM BERSAMA PASUKANNYA MEMUKUL LONCENG EMAS KERAS SEKALI. ARUS WAKTU DERAS MELANDA KEDUANYA. IYEM MELAHIRKAN DAN SETERUSNYA. ABU TERPUTAR DALAM RODA KERJA RUTINNYA.

MAJIKAN
Abu !

ABU
Ya, Tuan.

MAJIKAN
Abu !

ABU
Ya, Tuan.

MAJIKAN
Abu !

ABU
Ya, Tuan.


SERIBU MAJIKAN MEMRINTAH ABU. MENJERAT LEHER ABU MENJERIT. SERIBU TANGAN MAJIKAN DI KEPALA ABU.

Sembilan

YANG KELAM
Ini adalah tahun 1941. Ini bukan tahun 1919. Dia dilahirkan di Salam, 6 km dari kota Solo. Dia dibesarkan di Semarang. Kemudian ia pindah ke Tegal. Kemudian ia pindah ke Cirebon. Kemudian ia pindah ke Jakarta. Kemudian ia akan mati pada tahun 1980.

IYEM
Tidak. Abu jangan hiraukan. Hidup saja hidup. Habis perkara. Terlalu banyak pertanyaan untuk terlalu sedikit waktu.


LAYAR

(mau baca lengkap bagian 2 sampai 5, KLIK di sini)

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook