Saturday, February 27, 2010

Gerakan Syahwat Merdeka Taufiq Ismail


Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail
IPB, 9 Januari 2007


Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus menderu-deru.

Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya, dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan rekening reformasi ternyata mahal sekali.

Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak 1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjasama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya, ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya.

Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?

PERTAMA adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga normal, sebagian lebih besar, tak mau menampakkan diri.

KEDUA, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan (kue pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.

KETIGA, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat. Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial ---- ditayangkan pada jam prime time, kalau pemainnya terkenal. Remaja berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmen pasar penting tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan keluhan pada saya. "Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas, kurang pergaulan dan memalukan." Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata 170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.

KEEMPAT, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100,000 (seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Francisco, Timbuktu, Rotterdam mau pun Klaten.

Pornografi gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog Amerika Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di negaranya bagaikan "gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua telapak tangan."

Di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs porno diblokir pemerintah untuk terutama melindungi anak-anak dan remaja. Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.

KELIMA, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat ¼ sastra dan ½ sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia berkata: "Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu, ya?" Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH TERKIKIS, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s. (sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak bagian dari bangsa.

KEENAM, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan terbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah saja, tapi ada pula kadar ideologinya. Ideologinya adalah anjuran perlawanan pada otoritas orangtua dan guru, yang banyak aturan ini-itu, termasuk terhadap seks bebas. Dalam salah satu komik itu saya baca kecaman yang paling sengit adalah pada Menteri Pendidikan Jepang. Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri Pendidikan Nasional kita.

KETUJUH, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD biru. Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta - 20 juta keping setahun. Harga yang dulu Rp 30.000 sekeping, kini turun menjadi Rp 3.000, bahkan
lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru dengan pelaku kulit putih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa murah. Anak SD kita bisa membelinya tanpa risi tanpa larangan peraturan pemerintah.

Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid laki-laki yang kumpul dua sore seminggu di rumah salah seorang dari mereka, lalu menayangkan VCD-DVD porno. Sesudah selesai mereka onani bersama-sama. Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD, kelas lima. Tak diceritakan apa ekses selanjutnya.
KEDELAPAN, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di Amerika dan Eropa batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa.

KESEMBILAN, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat keterlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.

KESEPULUH, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun nikotin 57.000 orang / tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati, atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan pajak 15 trilyun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit akibatnya 30 trilyun rupiah.

Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam kategori kontributor arus syahwat merdeka ini? Karena sifat addiktifnya, kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses pembentukan ketiga addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat manusia. Dalam masyarakat permissif, interaksi antara seks dengan alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan. Interaksi ini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap hari berita semacam ini dapat dibaca di koran-koran.

KESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam masyarakat permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang diperlukan.

KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi berfungsi.

KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan meningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD, satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada di rumah dan pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab dia/mereka
memperkosa, selalu dijawab 'karena terangsang sesudah menonton VCD/DVD biru dan ingin mencobakannya. ' Praktisi aborsi gelap menjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi.

Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yang diakibatkannya.

Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi pro-kontra RUU APP.

Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di dalamnya.

Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnakan adalah perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap kekerasan pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar pornografi, situs porno di internet naik lebih sepuluh kali lipat, lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks pra-nikah. Sementara anak-anak di Amerika Serikat dilindungi oleh 6 Undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti menolak melindungi anak-cucu kita sendiri.

Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi bahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, disokong kapitalisme jagat raya.

Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, "Kalau cerpen saya itu dianggap pornografis, wah, sedihlah saya." Saya waktu itu belum sempat membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai pornografi. Begini.

Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu, tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi.

Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak dan jijik, maka karya saya itu pornografis.

Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa.

Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal.

Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan internet, sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan situs porno internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentuk eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa pasarnya luarbiasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderet antri masuk lagi majalah
anti-tekstil di tubuh perempuan dan fundamentalis- syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX Teens dan seterusnya.

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy Indonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan, yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuan mereka sendiri. Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelak suatu hari ketika Playboy Indonesia keluar perilaku aslinya dalam masalah ketelanjangan model yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu kucing. Sesudah dibuat dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10 saluran televisi dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?

Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirak an-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin, apalagi kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akan terangsang.

Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka terangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.

Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.

Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis

Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis cerpen-puisi- novelis erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novel pasca reformasi sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh melakukan apa yang disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengan segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?

Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu, beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan produsen-pengedar- pembajak- pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan) sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya Rp 30.000 sekeping, kini Rp 3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama dengan produsen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktif serba-boleh- apa-saja- genjot, yang dengan bersemangat melabrak apa yang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh-lantakkan moralitas anak bangsa.

Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang

Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri, yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa isteri di kampung. Di akhir cerita mereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja.

Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada hubungan pernikahan atau perzinaan, kabur adanya.

Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah. Pezina melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai. Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa. Penggunaan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suci adanya.

Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga pernikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang tokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Mereka maling tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling, karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi mereka glorifikasi, dan penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan maling.

Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama dan alamat tempat berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan.

Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia pengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan. Beberapa di antaranya mungkin memang nymphomania atau gila syahwat, hingga ada kritikus sastra sampai hati menyebutnya "vagina yang haus sperma". Mestinya ini sudah menjadi kasus
psikiatri yang baik disigi, tentang kemungkinannya jadi epidemi, dan harus dikasihani.

Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi Selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau Ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini sejumlah perempuan Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok permissif dan addiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang aromanya jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari. Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing Program, Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya gelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya sampai ke Indonesia. Kaum feminis Amerika waktu itu sedang gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran, majalah, buku dan televisi.

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya. Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablas itu.

Di setasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-laki korban HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar matanya kosong, suaranya parau.

Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di tahun 1970-an, tulis seorang esais, bagaikan kematian di medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di New York, anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karena kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu. Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa bangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya sangat heran. Sungguh memuakkan.

Kalimat bersayap mereka adalah, "This is my body. I'll do whatever I like with my body." "Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan tubuhku ini." Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit mencicil dari Tuhan, Cuma satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan Cina yang diobral di iklan koran-koran.

Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur masyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan dalam urusan. Percuma bicara tentang moral dengan mereka. Dengan ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini merupakan riak-riak gelombang dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan semangat dan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang selalu meniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu.

Penutup

Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah budaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan rohani mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan kelamin orang lain yang disabet-dicopet- dikorupsi dengan entengnya. Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka adalah maling dan garong genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan aborsi, bersuluh bulan dan matahari.***

DOWNLOAD pidato ini KLIK di sini

Wednesday, February 24, 2010

Komedi Putar Seno Gumira


Komidi Putar
Cerpen Seno Gumira Ajidarma

DA-DA, kuda*, engkau berlari dengan mulut berdarah, da-da, kuda, melintasi padang rumput, melompati jurang, menyeberangi sungai, menyusuri pantai, menembus hutan, melewati kota, mengarungi benua, memburu cakrawala, da-da, kuda, berderap di bawah langit dengan surai gemulai yang berkilat keemas-emasan di bawah cahaya senja tiada pernah bertanya akan berakhir sampai di mana. Da-da, kuda, mereka semua berderap seperti sepakat tiada saling membalap, berderap seperti menari, berderap seperti melayang, berlari, dan mencongklang seperti terbang, da-da, kuda, dan hanya kuda-kuda mengerti apa artinya menderap di padang terbuka, hamparan permadani, sajadah dunia, dalam derap secepat angin, namun suaranya seperti bisikan dari kejauhan, sejauh-jauh mata memandang, da-da, kuda, yang masih berlari ke arah matahari jingga yang separuh tenggelam.

Tiada pernah kukira kuda bisa berlari di atas air. Kulihat kuda-kuda berderap di lautan membentang, tanpa sayap dan tanpa tanduk, berderap melaju dengan bunyi percik memercik-mercik, di kejauhan, melintasi kapalku. Da-da, kuda, ke manakah kamu, begitu cepat kamu, begitu lambat kamu, berlari atau menari, wahai kuda, segala kuda berlari di antara cahaya, berkelebatan, seperti mimpi tapi bukan mimpi, seperti kuda tapi memang kuda, cahayakah atau nyata, gambar bergerakkah atau kuda, tapi memang kuda, dan hanya kuda. Da-da, kuda, seluruh kuda dari seluruh dunia bergerak dan berlari, terbang dan memimpi ke seluruh penjuru bumi ketika semua orang tertidur lelap nyenyak dalam labirin mimpinya sendiri-sendiri sehingga tiada seorang pun memang akan mengerti betapa ada begitu banyak kuda, beratus-ratus kuda, beribu-ribu kuda, berjuta-juta kuda menderap tanpa suara dan tanpa kepulan debu melaju sepanjang padang dengan gerak yang begitu lambat seperti gerak lambat seekor ulat tapi yang berpindah tempat begitu cepat secepat cahaya yang melesat.

Da-da, kuda, tak seorang pun melihatnya, ada tapi tiada, melintasi cahaya gemilang, sekian banyak kuda, begitu banyak kuda, akan seberapa banyak lagikah kuda? Begitu banyak rahasia terbentang selama manusia tertidur, begitu banyak cerita di balik tabir kegelapan malam, tapi bagaimanakah cara mengetahuinya? Manusia yang telah begitu lelah dengan begitu banyak pikiran di kepalanya sendiri tak akan pernah mengerti rahasia di balik matanya sendiri yang terpejam diam-diam tak terbuka selama ratusan tahun. Begitulah manusia selalu merasa telah tidur nyenyak dan lelap dalam satu malam tanpa pernah terbangun satu detik pun seperti kena sihir pencuri yang menyebarkan tanah pekuburan, padahal dalam semalam waktu telah lewat berabad-abad….

Namun, seribu kuda tak pernah menjadi tua meski telah berlari selama beratus-ratus tahun. Seribu kuda, beribu-ribu kuda, berjuta-juta kuda, menderap dan melaju menembus segala macam cuaca. Bagaimana mungkin manusia mengarungi seribu mimpi sementara sesuatu yang lebih indah dari mimpi lewat menderap di depan hidung mereka sendiri? Itulah masalahnya. Apalah yang bisa diketahui manusia? Tidak tentang berjuta-juta kuda yang berlari seperti penari, melaju seperti puisi, dengan kertap cahaya yang berkeredapan dari balik surainya, tidak juga tentang apa saja yang berada di luar jangkauannya. Da-da, kuda, tidak ada yang meringkik, tapi tidak berarti mereka tidak tertawa, karena mereka bisa mengikuti mimpi-mimpi manusia yang tertidur. Mereka terus berlari dengan pikiran yang bisa membaca dunia. Berlari dan berlari, dengan mata yang sayu.

Tidak ada makhluk lain tampak di mana pun berjuta-juta kuda itu berlari. Tiada gemuruh dan kepulan debu, tiada ringkik dan getaran bumi, namun makhluk-makhluk tiada pernah tampak — tiada burung elang yang melayang-layang, tiada monyet yang menjerit-jerit, tiada semut di lubang mana pun di padang rumput. Hanya kuda-kuda, tanpa sayap dan tanpa tanduk, kuda-kuda biasa, berjuta-juta, muncul dari balik cakrawala dengan matahari di belakang mereka, menghitam seperti bayang-bayang, berjuta-juta bayang-bayang kuda berkelebat, begitu cepat dan begitu lambat, seperti gerakan para dewa di layar dunia. Lewatlah kuda-kuda tanpa suara, tiada seorang pun tahu dari mana mereka dan menuju ke mana. Da-da, kuda, dari balik matahari mereka seperti muncul begitu saja, menimbulkan pertanyaan tentang dunia seperti apa, yang membiarkan manusia tidur begitu lama, seperti hanya
semalam tapi sudah kehilangan segalanya.

Alangkah mahalnya mimpi-mimpi dalam semalam, yang begitu membuai tapi sama sekali tidak nyata. Kuda-kuda ini nyata, berderap tanpa suara, tapi mengapa mulutmu berdarah, da-da, kuda? Kuda-kuda berderap bersama di padang alang-alang sampai bertemu sebuah sungai, di sungai itu mereka berenang dalam kelompok-kelompok sampai ke seberang, dan mereka berbaris satu per satu dan berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan setapak di tepi jurang. Tentu saja itu jalan setapak manusia, tetapi untunglah tidak pernah ada seorang manusia pun yang barangkali sedang berburu kebetulan berpapasan dengan kuda-kuda itu, karena berapa lamakah seseorang harus menunggu sampai berjuta-juta kuda itu lewat begitu pelan karena begitu hati-hati berjalan di jalan setapak di tepi kemiringan jurang?

Berjuta-juta kuda berjalan menembus hutan yang berembun melewati jalan setapak di tepi jurang tanpa suara. Kuda-kuda berjalan di tepi jurang dengan kepala menunduk, melangkah satu per satu dalam kecuraman jurang yang menggiriskan. Jalan setapak itu begitu panjang dan jurang itu begitu dalam dan entah berapa lama akhirnya suatu malam kuda-kuda itu keluar dari hutan dan melangkah di tepi sungai yang dangkal dan gemericik airnya begitu jernih dan begitu menyegarkan. Hanya, setelah berminggu-minggu jutaan kuda itu akhirnya melewati hutan berjurang dengan hanya jalan setapak untuk berjalan. Di tepi sungai mereka minum sebentar lantas melanjutkan perjalanan.

Da-da, kuda, begitu banyak kuda dan tiada satu manusia pun menungganginya, tapi siapa bilang kuda diciptakan hanya untuk menjadi tunggangan? Kuda-kuda tanpa pelana, berkilat dalam usapan cahaya, melangkah dengan anggun di tepi yang gemercik keperakan, sesekali berhenti minum, berjalan dengan mata sayu, beriringan sepanjang sungai yang kadang lurus kadang berkelok dan suatu ketika menyeberang berdua-dua, bertiga-tiga, berlima-lima, berombongan, membuat gemercik aliran sungai tiba-tiba berbeda karena kaki-kaki kuda yang berjuta-juta menyeberangi sungai yang tentu saja berlangsung lama….

Seorang anak terbangun di malam hari.

“Ibu, ke mana kuda kita?”

Kali ini tidak ada manusia yang mempunyai kuda, berjuta-juta kuda melepaskan diri dari kepemilikan dan kekuasaan manusia. Kuda telah melepaskan diri dari kebudayaan, bahkan tidak seorang pun bisa bermimpi tentang kuda-kuda lagi. Kuda-kuda itu sudah tidak terjangkau. Mereka menyusuri sungai sampai ke tepi pantai. Menggoyangkan ekor dan mendengus seperti tidak peduli dengan ombak. Mereka mencari rerumputan di tepi sungai, dan saling berbicara dengan cara saling memandang dan saling menyentuh.

Da-da, kuda, mereka bisa berlari di atas permukaan laut, tapi mereka tetap tinggal di tepi pantai dan saling mendengus serta bersentuhan di bawah rembulan. Berjuta-juta kuda memenuhi pantai, dengan hempasan ombak yang bernyanyi, tiupan angin yang merintih, serta permukaan laut yang berkilat keperak-perakan. Tiada satu kuda menengok rembulan, kepala mereka tertunduk dan mata mereka masih sayu. Hanya ekornya terkadang bergoyang pelan.

Di antara kuda-kuda itu terdapat kuda anak yang terbangun di malam hari itu. Ia berjalan, mendengus, dan mendongak di antara banyak kuda yang menunduk.

“Hanya kuda, dan tiada lain selain kuda,” pikirnya.

Ia teringat anak kecil itu, yang setiap pagi mengelus-elus kepalanya. Berbisik-bisik dan bercerita, menyampaikan segala rahasia. Meski tidak bisa berbicara dalam bahasa manusia, ia bisa mengerti setiap kata yang diucapkan anak itu. Jika ia bisa berbicara, banyak juga yang akan diceritakannya, seperti juga ia ingin bicara tentang betapa suatu hari ia akan meninggalkannya. Setiap kuda yang ditemuinya dan pernah dipelihara manusia mengalami hal yang sama, mereka tidak mengetahui cara yang terbaik untuk memberitahukan perpisahan dengan dunia manusia untuk selama-lamanya.

Tidak ada yang bisa dilakukannya selain pergi keluar dari kandangnya suatu malam. Pergi begitu saja mengikuti bisikan yang menuntunnya, bisikan yang tidak terdengar di telinga melainkan menancap langsung ke dalam otaknya dan menggerakkan seluruh tubuhnya. Ia bertemu dengan begitu banyak kuda yang keluar dari kandang dan istalnya, melangkah begitu saja seperti sudah saling mengerti, menuju ke suatu keadaan yang belum tentu akan bisa dimengerti. Ia hanya tahu bahwa setiap kuda harus bergabung dengan semua kuda, untuk melakukan pencarian bersama yang belum lagi diketahui akan ketemu di mana.

Maka ia ikut mencongklang bersama kuda-kuda itu, berlari dan berlari, dan merasakan betapa bumi bagai tiada diinjaknya. Kuda-kuda itu seperti terbang bersama tapi bukan terbang, berlari tapi bukan berlari, melesat dan melaju tapi bukan melesat, dan melaju karena meskipun sungguh cepat tetapi juga sangat lambat. Bagaimanakah semua
ini bisa ia jelaskan?

“Aku hanya seekor kuda,” pikirnya.

Da-da, kuda, di tepi pantai, bersama berjuta-juta kuda lainnya, mereka berdiri berjajar-jajar menghadap ke laut. Rembulan bagaikan piring keperakan raksasa yang membuat laut juga serba keperak-perakan nyaris seperti cairan logam. Seluruh kuda yang berjuta-juta itu melangkah ke laut. Mereka tidak berlari, tapi berjalan saja pelan-pelan. Lautan tidak bergelombang dan ombak tidak menghempas, seluruh kuda itu berjalan perlahan menuju cakrawala. Namun, kuda yang dimiliki anak kecil itu tidak menggerakkan kakinya. Ia mendengus, menggerakkan ekor, tapi tidak melangkah. Ditatapnya kuda-kuda bergerak pelan menuju cakrawala, makin lama makin jauh dan akhirnya menghilang….

“Aku seekor kuda yang hanya sendiri saja di dunia,” pikirnya,

“Kalau aku mati nanti tak akan ada kuda lagi di muka bumi.”

Untuk beberapa saat ia masih memandang lautan yang kosong. Tiada lagi pemandangan berjuta-juta kuda.

Ia belum juga tahu betapa mulutnya berdarah.

Ketika anak itu bangun, waktu sudah lewat berabad-abad. Ia langsung mendekati kuda itu di kandangnya, memeluk dan mengusap-usap kepalanya.

“Da-da, kuda, engkau pergi ke mana? Waktu aku bangun semalam engkau tak ada.”

Dari jendela dapur, ibunya memandang anak di kandang kuda yang kosong itu dengan sedih.

“Lagi-lagi anak itu bicara dengan dirinya sendiri,” gumamnya.

Di dinding dapur itu tergantung potret seekor kuda. Entah siapa mencoret-coret bagian mulutnya dengan spidol merah, sehingga mulut itu seperti meneteskan darah….

Pondok Aren, Kamis 2 Januari 2003. 07:36.

Catatan:
* Dari sajak Wing Karjo, “A/Z”, bagian 7 : Da-da, kuda, diamlah /benda ajaib …/ mainanmu, nak, Putih / terlalu jinak. Lembut / dari dunia mimpi., dalam Perumahan (1975), h. 44.

Sumber: Media Indonesia, Minggu 16 Februari 2003.

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Sunday, February 21, 2010

Contoh Analisis / Kritik Novel


Pabrik: Konflik Antara Buruh dan Majikan


Novel ini menceritakan kehidupan dalam sebuah pabrik. Pabrik yang didirikan di tanah bekas sebuah perkampungan yang terbakar itu dipimpin Tirtoatmojo. Bekas penghuni perkampungan tersebut dibujuk untuk pindah ke dekat kompleks pelacuran denganjanji diberi saham. Merekajuga ditampung sebagai buruh biasa.

Akan tetapi, Tirto ternyata belum memenuhijanjinya. Lagi pula kesejahteraan para karyawan sangatjelek. Hal tersebut menyebabkan buruh-buruh tidak puas sehingga Dringgo kalap dan membakar pabrik. Api dapat dikuasai, Dringgo masuk penjara. Sementara itu, pimpinan pabrik diganti Joni - anak tiri Tirto yang pernah diusir - karena sesudah peristiwa kebakaran, kesehatan Tirto sangat mundur.

Mula-mula keadaan pabrik agak membaik sesudah pergantian pimpinan. Namun, kemudian ternyata justru lebih parah. Sesudah kematian Tirto, Joni mengumpulkan orang-orangyang dapat dipercaya, dan menjelaskan bahwa berdasarkan wasiat ayahnya ia akan membagi saham. Di samping itu, ia akan merawat Maret yang bisu kalau benar Maret adalah anak Tirto dengan saudara kandungnya. Juga ia akan mengajak Susi yang dahulu pemah menggantikan kedudukan ibu Joni yang meninggal, untuk tinggal serumah. Sayang sebelum semua itu terlaksana, pabrik habis dimakan api.

Pada dasarnya, struktur Pabrik masih menggunakan struktur sastra realis, tetapi memiliki beberapa penyimpangan. Dari segi alur, susunan peristiwanya tidak mengikuti pola: awal, tikaian, gawatan, puncak, leraian, dan akhir, melainkan berakhir pada "puncak". Selain itu, pada bagian "tikaian" mengalami perulangan, yaitu tikaian pada masa pabrik dipimpin Tirto dan Joni. Jenis tikaiannya pun sama: masalah pemimpin pabrik yang kurang memperhatikan kesejahteraan karyawan.

Sesudah pabrik dipimpin Joni memang tampak ada pengendoran sedikit, atau bahkan barangkali pembaca menduga "leraian", tetapi sebenamya ada ketegangan terselubung. Sebab meskipun pendapatan karyawan bertambah baik, pendapatan tersebut temyata mengalir ke perjudian dan pelacuran. Selain itu, Joni ternyata lebih keras bertindak dibanding Tirto, meskipun semua dilakukan dengan lemah lembut. Munculnya peraturan-peraturan yang menggiring karyawan pada keadaan yang lebih genting membuat "gawatan" yang sudah bermula sejak pabrik dipimpin Tirtoatmojo semakin menggawat lagi. Masalah-masalah terpendam yang dahulu dicetuskan dengan berani oleh Dringgo, tidak ikut terpendam dengan dimasukkannya Dringgo ke dalam penjara karena membakar pabrik. Sebab semangat Dringgo mengalir kepada Robin, Eko, dan Zubaedi. Ditambah dendam orang-orang yang tersingkir, yaitu Paman - orang kepercayaan Tirto - yang bukan saja tersingkir tetapi juga sempat ditahan untuk masalah pencurian surat-surat penting. Dalam keadaan mabok, ia termakan hasutan orang-orang yang mempermainkannya, sehingga ia menantang Joni dengan membawa granat. Pembaca pasti menyangka bahwa peristiwa tersebutlah yang membawa alur ke "puncak". Akan tetapi, dugaan pembaca lagi-lagi keliru karena tiba-tiba ketegangan di rumah Joni-lah yang siap membawa ke "puncak" peristiwa: pabrik itu dimakan api.

Kemusnahan pabrik itu justru terjadi ketika Joni sudah membuka rahasia keluarga dan bermaksud memperbaiki semuanya: saham yang akan segera dibagi bulan berikutnya, dan juga kesanggupannya untuk mengajak saudara tirinya - yaitu Maret, dan ibu tirinya - yaitu Susi yang kurang waras - untuk hidup bersama-sama dalam rumah peninggalan almarhum ayah tirinya. Dengan demikian, akhir yang akan bahagia itu tiba-tiba secara tak terduga dihancurkan dengan kebakaran pabrik itu. Bayangan happy end diputar menjadi tragedi.

Akhir yang tak terduga itu merupakan salah satu keunggulan pengaluran. Juga pencerita yang diciptakan oleh pengarang pandai menjaga kerahasiaan cerita dengan cara yang lebih kaya dan tak terduga, menunjukkan keunggulan teknik menampilkan alur. Disamping masih tersimpan tanda tanya di hati pembaca: siapakah yang membakar pabrik itu?

Untuk merunut hal tersebut tidak terlalu sulit kalau diikuti jalur Dringgo yang selalu ingin menyelesaikan masalah dengan membakar pabrik. Apalagi ia juga telah melakukan hal itu sebelumnya, yang mengakibatkan proses pergantian pimpinan dipercepat karena Tirtoatmojo sangat terpukul dan kemudian sakit berat. Maka ketika Dringgo dilepas dari penjara tetapi sadar bahwa ia diperlakukan sebagai umpan untuk menangkap pencuri yang mencuri surat-surat penting dari rumah Tirto, disusul dengan terpukulnya atas meninggalnya anaknya karena pimpinan pabrik tidak mau tahu, ia kalap. Sebab ia sama sekali tidak terlibat dalam pencurian itu. Lebih-lebih ketika Robin secara tak sengaja memanasi dengan mengatakan bahwa Joni menuduh Dringgo lari, maka Dringgo berkata,

"Baik, itu berarti menantang aku," jawab Dringgo. Ia duduk di samping anaknya lama-lama. Kemudian ia berdiri hendak pergi. Waktu Robin hendak menyusulnya ia mencegah. "Kaujangan ikut. Biar aku saja yang masuk penjara. Kau bisa tolong mengurus biniku"
(Pabrik, 1975:113)

Keunggulan teknik penampilan alur tersebut erat kaitannya dengan penokohan. Kerahasiaan tokoh-tokoh yang kelihatannya tidak berarti, yaitu tokoh Maret yang bisu dan dikenal sebagai orang hanyut, disimpan hingga akhir cerita. Demikian pula ketulusan tokoh setengah gila seperti Susi, dan hubungan Jegug - yang bertubuh raksasa dan juga bisu - dengan Maret. Temyata Maret adalah anak Tirto dengan saudara kandungnya sendiri yang kemudian dititipkan kepada orang bisu bemama Jegug. Ibu Maret sendiri meninggal karena tidak kuat menanggung malu.

Dengan demikian, dalam novel ini sudah dimunculkan masalah incest, dan tampaknya juga masalah kompleks Oidipus, yaitu hubungan Maret dengan Jegug. Meskipun bukan sebagai masalah pokok, tetapi hal tersebut semakin menunjukkan keruwetan latar belakang sang pemimpin pabrik, Tirtoatmojo, ditambah oleh kenyataan bahwa ia keturunan Cina, lebih-lebih dengan nama aslinya: Robert Lee. Lee menunjukkan nama keluarga Cina, sedang Robert mungkin saja menunjuk pada nama Kristiani. Akan tetapi, dilihat dari kata-kata yang biasa ia gunakan, seperti ikke, vaarwel, God verdom, nama Robert lebih menunjuk bahwa ia mempunyai darah Barat. Penggunaan struktur kalimat ketika ia berbicara sekaligus menunjukkan bahwa ia mempunyai darah Cina. Misalnya,

"Kenapa ikke bikin pabrik? Kenapa ikke bikin susah banyak orang? Kenapa ikke tidak peduli janji-janji? Kenapa ikke usir banyak orang? Kenapa ikke.......tanya tanya terus-menerus. Ikke jadi marah. Mana dia orang punya mata, mana dia orang punya telinga. Ikke tidak suka omong besar. Ikke mau kerja. Apa anak negeri ini tidak boleh jadi tuan besar? Apa kita orang mesti terus ngemis dan hidup satu gobang satu hari? Kita mau bikin mewah kita punya negeri sendiri. Tapi mereka algojo. Mereka mau bakar ini pabrik ... apa yang ikke cita-citakan bertahun-tahun mau mereka makan satu hari."
(Pabrik, 1975: 40)

Pencerita sendiri menyatakan bahwa berdasarkan tanda-tanda tubuhnya, Tirtoatmojo merupakan campuran macam-macam keturunan (h. 33).

Bagaimana dengan tokoh-tokoh yang kelihatannya kurang beres, yaitu Susi dan Maret? Oleh pencerita, Susi diibaratkan "beras yang tercecer dari karung yang dilarikan truk" (h. 39). la tidak tahan menerima kenyataan itu, sehingga menjadi agak kurang beres. Kepahitan hatinya terungkap dalam keluhannya yang ibarat menunggu Godot.

Terus terang saja, aku sudah tua, benar. Ke mana harus kutawarkan bangkai ini. Lihat tangan ini, sudah kendor semua. Kalau terlampau lama berdiri mataku berkunang-kunang. Katakan saja terus terang, apa gunanya aku menunggu. Kalau memang ada, baiklah aku tunggu terus. Kalau tidak biar aku mati lebih dulu. Aku rela, meskipun aku tidak diacuhkan, padahal.......
(Pabrik, 1975: 38)

Meskipun ia selalu berceloteh tentang warisan, ketika Tirto sakit keras menjelang ajal, tampaklah ketulusan hatinya: ia ingin menengok Tirto bukan karena soal warisan, melainkan semata-mata karena kangen. Demikian pula meskipun ia setengah gila, naluri-naluri kemanusiaannya justru masih berkembang baik. Terbukti ia merawat Maret dengan tulus sebagai seorang ibu, dan berlaku sebagai ibu bagi pasangan Maret - Dargo yang bercinta.

Tentang Maret, sekaligus pencerita memang tampak tak pernah mengungkapkan "kehidupan dalam"-nya. Akan tetapi, sebenamya ia melakukannya sesuai dengan tingkat kemampuan batiniah Maret, dan hal tersebut merupakan teknik tersendiri bagi orang yang kemampuan rohaninya terbatas seperti Maret, sebab Maret lahir dari hubungan saudara sekandung, ditambah ia hidup dalam asuhan orang bisu. Namun, keterbatasan Maret justru membuat ia mencuat sebagai bunga yang sederhana, sehingga pencerita melukiskannya: cantik, bersahaja, memandang penuh kata (h. 74). Bahwa Maret dapat merasakan kepahitan hati, terungkap dalam lukisan fisik yang mencerminkan keadaan hatinya ketika ia berjalan sendiri dengan kandungannya yang tua ke luar kota.

...Mukanya pahit. la berjalan tak menoleh-noleh. Lurus ke depan. Langkahnya tetap dan pasti. Mulutnya tak henti-henti komat-kamit menggumamkan sesuatu. Dengan perut buncit dan rambut terurai, ia seperti dituntun oleh suatu suara yang tak didengar orang lain. Ke situ, ke sebuah tempat yang aman dan menyenangkan.
(Pabrik, 1975: 108)

Hubungan Maret dan ayah angkatnya tetap merupakan sebuah misteri, sebab bagaimana sebenarnya hubungan itu tidak pernah dibukakan sepenuhnya. Memang jelas bahwa Jegug yang memelihara Maret, tetapi perbuatan-perbuatan mereka di gardu menyarankan bahwa hubungan mereka bukan hanya sekadar ayah dan anak angkat, melainkan seperti yang diduga orang-orang: pacar. Dengan demikian, masalah kompleks Oidipus juga sudah mulai muncul dalam novel ini.

Berbeda dengan Bila Malam Bertambah Malam, latar tempat dalam Pabrik ini luput dicari, meskipun jelas bahwa pabrik itu berada di Indonesia. Sebab hadiah hari raya - yang maksudnya hari raya Idul Fitri – selalu tampil sebagai masalah hangat. Keluputan penangkapan latar dalam peta Indonesia itu menyarankan bahwa ia bisa berada di mana saja di Indonesia, bahkan di dunia. Itulah sebabnya pabrik itu juga tak pernah disebut pabrik apa, meskipun ada petunjuk "bagian pengepakan". Latar waktu yang juga luput ditangkap menyarankan bahwa peristiwa yang terjadi dalam novel ini dapat terjadi kapan saja.

Meskipun luput ditangkap di mana dan kapan terjadinya peristiwa, bukan berarti tidak ada sama sekali latar tempat dan waktu. Latar tempat itu mengacu khusus pada latar sosial manusia-manusia pabrik, sehingga yang paling sering tampil adalah kantin yang merupakan bagian penting dari pabrik. Dari kantin tersebut akan tercermin sifat-sifat pengunjungnya, yaitu orang-orang pabrik. Dari kantinlah pembaca mengenal karyawan pabrik yang suka berjudi, Paman yang suka mabok, Dargo penjaga kantin yang dilukiskan sebagai "anak kambing yang lucu dan jujur", bahkan sifat pimpinan pabrik itu sendiri, yaitu Tirto dan kemudian Joni. Dari kantin itulah bisa didengarkan denyut nadi pabrik.

Denyut lain yang lebih tegang dapat disaksikan di rumah Muginah - bagian pengepakan - karena di sanalah tempat mereka berkumpul untuk rapat. Di sanalah pembaca dapat mengenal Dringgo yang keras kata-katanya, tetapi benar, misalnya:

"Dengar!" teriaknya di tengah-tengah orang yang mulai ribut. "Ini sudah melewati batas. Bertahun-tahun kita percaya omongannya. Kita dijanjikan jaminan hidup, lihat sekarang! Kita mau dikubur!
Berapa banyak tunjangan Hari Raya itu kalau dilipatkan dibanding dengan pendapatan pabrik ini.
Dia maju terus, kita mau dikuburnya di sarang pelacuran itu! Dia sengaja membiarkan kita main judi, Paman dilepaskan supaya kita jadi penjudi, miskin dan selalu hutang. Kalau sudah hutang, kita akan lupa tanah ini kepunyaan kita, tanah ini kita sewakan kepadanya. Kita sudah lupa mengusut siapa yang sudah membakar kampung kita ini dulu. Banyak orang tahu dia ....
(Pabrik, 1975: 55)

Secara tidak langsung dapat pula diketahui keadaan tempat tinggal para buruh yang dekat dengan kompleks pelacuran. Maka lukisan ketika istri Dringgo sibuk mendiamkan tangis bayinya yang kelaparan, berdempetan pula dengan penyajian Tatang yang tidur dengan wantunas Ares. Bagaimana keberadaan mereka dalam kamar, sekaligus terwakili oleh penggambaran "Di sangkutan kawat di atas dipan, celana blue jeans Tatang berjuntai berpelukan dengan kutang Ares." (h. 29).

Situasi lain yang tampil dalam teknik penampilan latar adalah situasi hari hujan, hari mendung, yang tidak secara konvensional. Untuk menunjukkan hari hujan misalnya, ditandai dengan kucing hitam yang basah menyelinap masuk kantin, atau langit yang seakan sedang bertempur (h. 5). Alam yang cenderung dilukiskan basah karena hujan, tampaknya berkaitan erat dengan keadaan para tokoh, terutama para karyawan pabrik
yang nasibnya selalu tidak cerah.

Berbeda dengan Bila Malam Bertambah Malam, Tirto mengingkari wajahnya di cermin: ia tidak pernah memberikan kesempatan bagi superego-nya untuk berbicara. Ingatan-ingatannya pada masa lalunya sebenarnya adalah jembatan untuk pencarian diri, sehingga ia bisa mengambil tindakan yang layak, misalnya merawat Maret dan Susi. Kenyataannya, kalau ia melihat anak kandungnya sendiri dalam kantin, bukannya ia merasa kasihan dan berbuat sesuai dengan harkatnya sebagai manusia, melainkan mengumpat: "Bawa pigi itu orang. Sekarang! Cepat! God verdom ! (h. 33). Ucapan kasar tersebut menunjukkan bahwa ia ingin mengubur masa lalunya yang memalukan. la bahkan siap menghancurkan dirinya sendiri, kemuakan pada kejadian yang sudah terlanjur, tangisnya yang pahit, ia tenggelamkan ke dalam minuman keras.

Pengingkaran terhadap wajah di cermin juga tampak dalam sikapnya kepada Susi. Meskipun Susi dibuang, alam bawah sadamya menunjukkan bahwa sebenamya ia pun mencintai Susi. Terbukti secara tidak sengaja ia menyiulkan lagu yang baru saja dinyanyikan Susi. Pencerita pun melukiskan secara sangat tersirat dalam peristiwa ketika keduanya terjebak di tempat yang sama dalam kantin, dilukiskan bahwa "Kedua orang yang pemah hidup bersama itu seakan-akan sedang melewatkan saat-saat yang mesra." (h. 38).

Tirto luput mencari dirinya. Ia tidak cukup jantan untuk melakukan penambalan terhadap luka-lukanya di masa lalu. Tugas tersebut hanya dihibahkan kepada Joni dalam surat wasiatnya, agar Joni merawat Maret dan menerima Susi kalau Susi ingin tinggal di rumah keluarga untuk hari tuanya.

Joni juga luput mencari dirinya. Panggilan dirinya sebenarnya adalah menjadi penyair. Namun, kemudian ia melupakan panggilan itu dengan alasan sudah terlalu banyak penyair. Kalau bukan menjadi yang terbaik, ia memilih melupakan panggilannya. Hal tersebut menunjukkan keluputan pencarian diri, sebab ambisinya untuk berada di puncak mengalahkan nuraninya yang penyair.

Th. Sri Rahayu Prihatmi dalam
Karya-Karya Putu Wijaya: Perjalanan Pencarian Diri.

DOWNLOAD tulisan ini KLIK di sini

Saturday, February 20, 2010

Contoh Hikayat: Mashudulhakk

PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG

Mashudulhakk arif bijaksana dan pandai memutuskan perkara-perkara yang sulit sebagai ternyata dari contoh yang di bawah ini:
Hatta maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai. Maka dicaharinya perahu hendak menyeberang, tiada dapat perahu itu. Maka ditantinya 1) kalau-kalau ada orang lalu berperahu. Itu pun tiada juga ada lalu perahu orang. Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya. Sebermula adapun istri orang itu terlalu baik parasnya. Syahdan maka akan suami perempuan itu sudah tua, lagi bungkuk belakangnya. Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga. Katanya, "Apa upayaku hendak menyeberang sungai ini?"

Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu. Maka kata orang itu, "Hai tuan hamba, seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat berenang; sungai ini tidak hamba tahu dalam dangkalnya." Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, "Untunglah sekali ini!"

Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang tua itu, "Tuan hamba seberangkan apalah 2) hamba kedua ini. Maka kata Bedawi itu, "Sebagaimana 3) hamba hendak bawa tuan hamba kedua ini? Melainkan seorang juga dahulu maka boleh, karena air ini dalam."

Maka kata orang tua itu kepada istrinya, "Pergilah diri dahulu." Setelah itu maka turunlah perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Arkian maka kata Bedawi itu, "Berilah barang-barang bekal-bekal tuan hamba dahulu, hamba seberangkan." Maka diberi oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu diseberangkan oleh Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya dikata 4) oleh si Bungkuk air itu dalam. Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu, "Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba, hamba ambit, hamba jadikan istri hamba." Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan itu.

Maka kata perempuan itu kepadanya, "Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu."

Maka apabila sampailah ia ke seberang sungai itu, maka keduanya pun mandilah, setelah sudah maka makanlah ia keduanya segala perbekalan itu. Maka segala kelakuan itu semuanya dilihat oleh orang tua bungkuk itu dan segala hal perempuan itu dengan Bedawi itu.

Kalakian maka heranlah orang tua itu. Setelah sudah ia makan, maka ia pun berjalanlah keduanya. Setelah dilihat oleh orang tua itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka ia pun berkata-kata dalam hatinya, "Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati."

Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. Maka heranlah ia, karena dilihatnya sungai itu aimya tiada dalam, maka mengarunglah ia ke seberang lalu diikutnya Bedawi itu. Dengan hal yang demikian itu maka sampailah ia kepada dusun tempat Masyhudulhakk itu.

Maka orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun datanglah dengan perempuan itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Istri siapa perempuan ini?"

Maka kata Bedawi itu, "Istri hamba perempuan ini. Dari kecil lagi ibu hamba pinangkan; sudah besar dinikahkan dengan hamba."

Maka kata orang tua itu, "Istri hamba, dari kecil nikah dengan hamba."

Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. Syahdan maka gemparlah. Maka orang pun berhimpun, datang melihat hal mereka itu ketiga. Maka bertanyalah Masyhudulhakk kepada perempuan itu, "Berkata benarlah engkau, siapa suamimu antara dua orang laki-laki ini?"

Maka kata perempuan celaka itu, "Si Panjang inilah suami hamba."

Maka pikirlah 5) Masyhudulhakk, "Baik kepada seorang-seorang aku bertanya, supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu.

Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya. Arkian maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, "Si Panjang itulah suami hamba."

Maka kata Masyhudulhakk, "Jika sungguh ia suamimu siapa mentuamu laki-laki dan siapa mentuamu perempuan dan di mana tempat duduknya?"

Maka tiada terjawab oleh perempuan celaka itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk perjauhkan. Setelah itu maka dibawa pula si Panjang itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Berkata benarlah engkau ini. Sungguhkah perempuan itu istrimu?"

Maka kata Bedawi itu, "Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba; lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan hamba ini tentulah suaminya."

Syahdan maka Masyhudulhakk pun tertawa, seraya berkata, “Jika sungguh istrimu perempuan ini, siapa nama mentuamu laki-laki dan mentuamu perempuan, dan di mana kampung tempat ia duduk?"

Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula orang tua itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Hai orang tua, sungguhlah perempuan itu istrimu sebenar-benamya?"

Maka kata orang tua itu, "Daripada mula awalnya." Kemudian maka dikatakannya, siapa mentuanya laki-laki dan perempuan dan di mana tempat duduknya

Maka Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu. Maka hendaklah disakiti oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali. Kemudian maka disuruhnya tobat Bedawi itu, jangan lagi ia berbuat pekerjaan demikian itu.

Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.

Catatan:
Asal hikayat ini cerita dalam bahasa Sangsekerta, yang bernama Mahaummagajataka. Cerita itu disalin misalnya ke bahasa Singgala (Sailan) dan Tibet. Dalam bahasa Aceh terkenal dengan nama Medehaka.

Nama Mahasyodhak Masyhudhak atau Masyhudu'lhakk asalnya kata India Mahosyadha, yaitu maha dan usyadha (obat besar).

Kutipan ini dari salah satu naskah lama (Collectie v.d. Wall) dengan diubah di sana-sini setelah dibandingkan dengan buku yang diterbitkan oleh A.F. v.d. Wall (menurut naskah yang lain dalam kumpulan yang tersebut).

Dalam Volksalmanak Melayu 1931 (Balai Pustaka) isi naskah yang dipakai v.d. Wall itu diringkaskan dan sambungannya dimuat pula, dengan alamat "Masyudhak".
1. Dinantinya.
2. Atau: apalah kiranya.
3. Biasanya: bagaimana.
4. Lebih baik: dikatakan.
5. Maka pikir Masyhudu'lhakk atau maka berpikirlah Masyhudu'lhakk

Download hikayat ini KLIK di sini

Thursday, February 18, 2010

Bila Malam Bertambah Malam-nya Putu Wijaya

Bila Malam Bertambah Malam: Lepasnya Topeng Kemunafikan



Novel Bila Malam Bertambah Malam (BMBM) ini menceritakan seorang janda yang begitu membanggakan kebangsawanannya. Ia hidup di rumah peninggalan suaminya dengan dilayani dua pembantu: seorang lelaki tua bernama Wayan, dan seorang wanita muda bemama Nyoman Niti. Pada puncak pertengkaran dengan majikan, Wayan meninggalkan tempat ia mengabdi, setelah Nyoman pergi mendahuluinya. Akan tetapi, kepergiannya terhalang mendengar pertengkaran janda bangsawan itu dengan anaknya yang baru dating dari Pulau Jawa, Ngurah. Karena persoalan bedil yang dibawa Wayan, terbukalah rahasia keluarga itu. Wayan sebenarnya adalah ayah Ngurah, karena suami Gusti Biang, yaitu Gusti Ngurah Ketut Mantri, bukanlah lelaki sejati. Bahkan suami yang selalu dibanggakan sebagai pahlawan itu sebenarnya seorang pengkhianat, sebab ia adalah mata-mata Nica.

Dari segi konvensi sastra realis, novel ini dikemas dalam struktur yang kokoh rapi. Teknik menampilkan rangkaian peristiwa atau pengaluran, menggunakan alur lurus, bagian-bagiannya tersusun sempurna: awal, tikaian, gawatan, puncak, leraian, dan akhir, memiliki padanan yang kokoh. Mula-mula pembaca dikenalkan dengan kebanggaan seorang janda bangsawan yang sedang menanti putranya datang dari Pulau Jawa. Bagi penduduk luar Pulau Jawa, lebih-lebih pada saat karya ini ditulis - yaitu pada tahun 1964 - Pulau Jawa mempunyai konotasi tersendiri bagi sebuah kebanggaan ilmiah, karena Pulau Jawa dianggap pusat orang menimba ilmu. Oleh karena itu, meskipun dikatakan bahwa anak janda itu tidak berhasil menyelesaikan pelajarannya, seseorang yang pernah menginjakkan kakinya di universitas di Pulau Jawa tetap dianggap hebat. Gusti Biang pun tak luput dari pandangan tersebut, terbukti dari kata-katanya kepada Wayan:

"Sekarang ia pasti sudah sebesar ayahnya dan sekuat sapi jantan. Dan jauh di sana mempelajari buku-buku tebal yang tidak sembarang orang bisa baca."
(BMBM, 1971: 12)

Sebelum itu, dengan manisnya pencerita menyisipkan pembayangan dalam lukisan Wayan yang sedang menembang.

Sayup-sayup terdengar suara lelaki tua menerbangkan (sic! — menembangkan?) tembang Semarandhana dari arah gudang. Tembang yang mengisahkan cinta yang tak sampai, yang telah menjadi luka sarat.
(BMBM, 1971: 7)

Luka sarat akibat cinta tak sampai yang ditembangkan Wayan itu akan menyinggahi hati pembaca dengan pertanyaan: adakah kisah di balik tembang itu, ataukah suatu kebetulan saja Wayan menembangkan cinta tak sampai? Dugaan pada adanya kisah di balik tembang semakin tajam dalam kalimat selanjutnya:"Dinyanyikan dengan suara serak dan sumbang, tetapi penuh pendaman perasaan." (h.7).

Pembayangan itu disambung dengan pembayangan lain dalam jarak dekat, tetapi tidak terlalu mencurigakan. Sebab sambungan tersebut terwujud dalam bentakan Gusti Biang yang seolah menghina tampang Wayan yang tua bangka dan kepura-puralinglungan Wayan yang disambung komentar pencerita.

Wayan paham akan kelinglungannya, berbalik kembali dengan kemalu-maluan. Hanya dia yang tahu apakah polahnya itu dibuatnya karena memang sudah linglung atau kepura-puraan orang tua yang saling memanjakan.
(BMBM, 1971: 13)

Jelaslah bahwa kepura-puralinglungan Wayan sebenarnya adalah untuk memanjakan Gusti Biang. Mengapa? Penafsiran biasa akan mengatakan: karena merasa senasib, sama-sama tua. Akan tetapi, ternyata semua pembayangan itu bukan tanpa maksud meskipun dengan pandainya pencerita segera menutupnya kembali dengan kerewelan-kerewelan, kenyinyiran, dan kekerasan hati janda tersebut. Kebawelan seorang tua yang dijiwai oleh semangat kebangsawanan, sangat menonjol ketika ia dibujuk oleh Nyoman untuk meminum jamu dan obat-obatan.

"Aku tidak peduli!" tukas Gusti Biang kembali.
"Apa kerjamu di sini?"
Dengan merendahkan diri, berkata sehalus mungkin, Nyoman menjelaskan:
"Bukankah sekarang sudah saatnya Gusti Biang minum obat?"
"Hari ini aku tak mau minum obat!" teriak Gusti Biang dengan beringas.
(BMBM, 1971:23)

"Tikaian" itu sendiri disisipkan sedikit demi sedikit bersama "awal"-nya ketika Nyoman bertanya pada Wayan, "Icang dengar banyak orang pulang dari Jawa. Benar?", yang dijawab oleh Wayan "Ah? Siapa?" Tanya Wayan lebih heran. Tapi, setelah berpikir kemudian menyesali kebodohannya, mengeluh dengan tersenyum. "Oh, Ratu Ngurah?" (h.9), dan disusul lukisan pipi Nyoman yang kemerahan. Hal tersebut sudah membayangkan persoalan: kalau seorang pembantu tampak mempunyai "rasa" kepada anak majikan, maka selain status sosial, sebuah novel yang berlatar Bali pasti akan menghadapi masalah kasta. Lebih-lebih karena cinta pembantu itu bukan cinta sepihak, terbukti ketika Nyoman akan pergi dari rumah itu karena diusir oleh Gusti Biang, Wayan bertanya, "Apa yang mesti Bapa katakan, kalau dia datang dan menanyakan: Di mana Nyoman, Bapa, apa yang akan Bapa jawab?" (h. 49).

"Tikaian" itu menjadi nyata dalam pertengkaran antara ibu dan anak. Ngurah bermaksud meminta restu untuk menikahi Nyoman, tetapi sang ibu menolak kecuali kalau hanya diambil sebagai selir. "Tikaian" bergerak ke arah "gawatan" ketika si ibu menantang Ngurah untuk mengikuti dua pembantu yang telah diusirnya. "Gawatan" semakin menanjak dalam persoalan bedil: Gusti Biang meminta Wayan meninggalkan bedil yang dibawanya pergi, karena bedil itu diberikan dokter yang mengambil peluru yang bersarang di tubuh I Gusti Ngurah Ketut - suami Gusti Biang - sedang Wayan menganggap bahwa itu bedilnya. Dari masalah bedil itu keadaan menjadi gawat karena perasaan Ngurah menjadi tidak senang terhadap Wayan yang mula-mula tertawa sinis ketika Gusti Biang mengatakan bahwa suaminya ditembak Nica. Bedil itulah yang digunakan untuk menembak; karena itu suaminya dianggap sebagai pahlawan sejati. Dari perasaan tidak senang, Ngurah menjadi terbanting ketika Wayan berkata,

"Semua pahlawan mati karena tertembak Nica. Tetapi dia tidak! Dia I Gusti Ngurah Ketut Mantri, bukan seorang pahlawan. Dia mati ditembak gerilya sebagai pengkhianat!"
(BMBM, 1971: 96)

"Gawatan" terus menanjak ketika Wayan mengungkapkan bahwa "ayah" Ngurah adalah mata-mata Nica. Oleh karena itu, Ngurah menganggap Wayan sebagai musuh dalam selimut, dan meminta Wayan mencabut kata-katanya.

Dalam "gawatan" ini, pencerita sangat mahir merentang dan mengendorkan benang ketegangan. Sebentar keadaan seperti akan kendor dengan kepatahan semangat Wayan: ia menuruni undakan sebagai rajawali tua yang kalah. Akan tetapi, kemudian ia tertegun, dan mulailah benang ditegangkan kembali: Wayan tetap meminta bedil itu, sebab bedil itu miliknya. Namun, Ngurah tetap memegang bedil itu erat-erat dan meminta bukti bahwa ayahnya memang pengkhianat.

Penyelesaian masalah tidak mudah, sebab berat bagi Wayan mengemukakan kenyataan yang sebenar-nya. Ia dilanda konflik batin. Ternyata ia sendirilah "suami" Gusti Biang. Pengakuan tersebut sudah barang tentu menimbulkan ketegangan lagi karena Gusti Biang menjadi kalap. "Gawatan" mencapai titik "puncak" ketika Wayan membuka rahasia keberadaan Ngurah: Wayanlah ayah kandung Ngurah, sebab suami Gusti Biang wangdu. Wayanlah yang selalu memenuhi tugas sebagai suami bagi istri-istri I Gusti Ngurah Ketut Mantri yang berjumlah lima belas.

Cerita berakhir dengan kebahagiaan bagi semua: pasangan Ngurah - Nyoman, dan pasangan tersembunyi Mirah - Wayan. Tenyata motivasi pengabdian dalam keluarga itu adalah agar ia selalu dapat menjaga orang yang dikasihinya, demikian pula motivasi Nyoman. Tanpa motivasi tersebut, mereka sudah lama tidak kuat berdiam di puri tua itu.

Di samping alur yang rapi, penokohan pun juga demikian. Dialog yang ada disusun cermat, menunjukkan watak tokoh masing-masing dan menyiratkan sifat atau watak tokoh lawan bicara. Dialog antara Gusti Biang dan Wayan, juga Gusti Biang dan Nyoman Niti, menunjukkan betapa nyinyir dan angkuhnya janda bangsawan itu, demikian pula dialognya dengan anaknya, Ngurah. Sebaliknya, dari dialog tersebut juga tercermin sifat lawan bicara Gusti Biang: Wayan yang penyabar, demikian pula Nyoman Niti, juga Ngurah yang memiliki kepribadian yang kokoh namun tetap rendah hati dan hormat kepada orang tua, walaupun orang tuanya sangat menjengkelkan. Dari dialog Ngurah dan Wayan, tercermin kasih anak muda itu kepada lelaki tua yang ada di rumah itu, dan sebaliknya. Kedua hal itu tetap tercermin walau dalam dialog yang panas.

"Kenapa Bapa bilang Ayah saya pengkhianat?" tanyanya dengan panas. "Kenapa, Bapa Wayan? Membeo kata orang-orang yang iri hati? Alangkah piciknya kalau Bapa yang telah bertahun-tahun di sini sampai ikut merusak nama keluarga kami! Kenapa Bapa?"
(BMBM, 1971: 97)

"Tariklah kata-kata itu, Bapa. Demi jasa-jasa Bapa yang telah bekerja di sini selama bertahun-tahun, saya akan bersedia melupakannya. Minta maaflah atas kekeliruan itu kepada Ibu."
(BMBM, 1971: 99)

Kaitan latar dengan unsur-unsur struktur lain juga kokoh, lebih-lebih karena latar pun seolah bernyawa: ia seolah-olah juga tokoh yang ikut mengekspresikan perasaannya terhadap tokoh. Tembok tua puri misalnya, bukan saja sebagai tembok yang secara fisik tua, tetapi sekaligus juga melambangkan batas antara dunia kepurian dan dunia luar, antara kasta yang lebih tinggi dengan kasta yang lebih rendah. Gusti Biang mempertahankan mati-matian tembok tua itu karena baginya tembok itu adalah lambang kewibawaan, sisa-sisa masa mudanya yang bermartabat. Dengan tembok itu ia merasa aman dalam dunia lapuknya meskipun ia sadar bahwa tembok itu seperti "pengawal tua yang sebentar lagi tak mampu menjalankan tugasnya". Banyak perbandingan dan metafora yang digunakan untuk menunjukkan keadaan dan fungsi tembok itu. Bahwa ia tua, dilukiskan "seperti seekor binatang kelesuan yang tersengal menantikan tenaganya bangkit" (h. 19). Bahwa ia membatasi dunia puri yang lapuk dengan dunia luar, dilukiskan "seperti cadar yang menutupi air muka seorang gadis" (h. 19). Bahwa tembok itu seolah bernyawa sehingga ia mengekspresikan perasaannya untuk seorang tokoh terhadap suatu kejadian, tampak ketika Gusti Biang mengeluh tentang kelakuan Wayan yang menghina suaminya dan menghasut anaknya, tembok tua itu seolah mengejeknya "Sekarang dalam kesuramannya tembok tua seolah tersenyum" (h. 70). Bahkan pada suatu saat, ketika jelas bahwa anaknya bermaksud menikahi pembantunya, maka "tembok itu tidak saja tersenyum mengejeknya, tetapi terbahak meludahi mukanya" (h. 80).

Bukan saja kepada janda tua tembok itu tersenyum sinis, melainkan juga kepada Ngurah. Ketika ia ditantang ibunya untuk mengikuti Nyoman dan Wayan, tembok tua itu juga tersenyum kepadanya (h. 86). Tembok itu sekaligus juga penonton drama rumah tangga itu. Penonton yang tampaknya kadang-kadang plinplan, karena ia pun juga bersorak ketika Wayan menuruni undakan setelah diusir Ngurah dengan bentakan, "Pergi!"

Sebenamya, tersenyum tidaknya tembok itu, bersorak tidaknya, tergantung dari mata si pemandang. Tembok itu sebenarnya hanya menggemakan situasi hati tokoh: ia kelihatan tersenyum mengejek ketika si tokoh merasakan kepahitan dalam kesendirian, terpencil dengan keadaan hatinya. Atau ia sekaligus menggemakan hati tokoh, terbukti ia kelihatan bersorak karena waktu itu hati tokoh juga sedang bersorak: tembok itu bersorak ketika hati janda bangsawan itu sedang bersorak penuh kemenangan melihat Wayan dengan punggungnya yang tua semakin membungkuk menuruni undakan. Ketika rahasia Gusti Biang hendak diungkapkan Wayan, pandangannya pun juga lari ke tembok yang pada perasaannya banyak tersenyum itu. Ketika topeng Gusti Biang terbuka dan ia "kembali" sebagai Sagung Mirah yang masih belia dan cantik meratapi cintanya yang tak sampai, temyata tembok itu dilukiskan "tak berani lagi tersenyum kepada siapa saja" (h. 105). Mengapa? Karena tembok keangkuhan Gusti Biang sudah runtuh, sehingga tembok tua itu pun harus runtuh pula. Kaitan tokoh dengan latar juga tampak dalam pelukisan: ketika manusia tidur, alam pun dilukiskan tidur. Sore hari, pohon sawo yang kekar dilukiskan "tampak mengantuk" (h. 3), dan malam hari ia tampak "sebagai raksasa tidur" (h. 47).

Lukisan atas latar tempat - yaitu Tabanan— teliti, termasuk latar sosialnya. Dilukiskan kebiasaan penduduk kota kecil itu: lebih senang tinggal di rumah pada waktu malam hari, atau nongkrong di perempatan mengerumuni perawan-perawan penjual rujak. Pada malam kedatangan Ngurah, anak-anak mencuri kapur untuk membuat garis-garis plaksodor, pemuda-pemuda bergerombol keluar memakai sarung menyusuri jalan kota dan kemudian berkerumun di sekitar I Seruni penjual rujak, atau I Simpen penjual kolak. Dari latar sosial itu muncul tembang yang sayup-sayup ditembangkan seseorang, berkaitan dengan judul cerita.

Bila malam bertambah malam
dan kau bercinta di tilam pengantinmu.
Di kolong tidurku hanya jengkerik mendering.
Wahai, bagai menyindir kepapaanku.
Ke mana raibnya Dewi peruntungan.
Pergi di tengah malam membawa cintaku.
(BMBM, 1971: 72)

Tembang itu kemudian disambung temannya:
Bila malam bertambah malam,
tiada madu lagi dalam impianku Nyoman,
Gusti! Perawan berdada gempal meratapi untungnya.
Wahai, teringat buah hatiku, buah hatiku.
Telah beranak satu lusin nun di sana.
Entah kapan datangjodoh lagi untukku seorang
(BMBM, 1971: 72 - 3)

Isi tembang yang selalu diawali dengan bans yang sesuai dengan judul itu juga sesuai dengan isi novel itu sendiri: seseorang yang ditinggal menikah kekasihnya, seseorang yang patah cinta, seperti yang dialami Wayan ketika muda dahulu. Dengan demikian, latar sosial pun tidak lepas dari judul cerita. Bedanya, malam yang semakin bertambah malam dalam novel ini berakhir dengan teriepasnya topeng-topeng yang membuat para pelakunya menemukan kebahagiaan. Gusti Biang berhasil menemukan dirinya kembali.


Dilihat dari segi psikoanalisa, kepura-puraannya selama itu, yaitu sikap garangnya kepada Wayan sebenarnya adalah bentuk ekspresi cintanya yang tertindas karena perbedaan kasta. Sebab meskipun Ngurah adalah anaknya dengan lelaki yang dicintainya, dalam bercinta pun ia tetap memasang topengnya: pura- pura tidak tahu siapa lelaki yang selalu tidur dengan dia. Dengan demikian, cinta Gusti Biang yang tidak dapat disalurkan dalam kehidupan sehari-hari, mengejawantah ke dalam bentuk bentakan-bentakan kepada orang yang dicintainya. Lebih jauh, kerelaan untuk menikahkan anaknya dengan orang yang berbeda kasta bukan semata-mata karena hatinya telah terbuka, melainkan sekaligus sebagai penyalur keinginan-keinginannya sendiri yang tidak sampai.

Diambil dari
Karya-Karya Putu Wijaya: Perjalanan Pencarian Diri,
Th. Sri Rahayu Prihatmi

DOWNLOAD tulisan ini?

Monday, February 15, 2010

Kirdjomuljo dalam Lagu Seriosa


Puisi-puisi Kirdjomuljo dalam Lagu Seriosa

Puisi-puisi Kirdjomuljo berikut ini adalah lirik lagu seriosa yang di aransir oleh FX Soetopo. “Puisi Rumah Bambu” adalah juga sebuah drama musik yang pernah dipentaskan di Malang tahun 1959
PUISI RUMAH BAMBU

Disini aku temukan kau
Disini aku temukan daku
Disini aku temukan hati
Terasa tiada sendiri

Pandanglah aku, pandanglah aku
Aku bicara dengan jiwaku
Dan taruh tiada sendiri

Disini aku temukan hati
Terasa tiada sendiri


ELEGIE

Kemana kau pergi, sunyilah malamku
Tak bisaku tahu kemana cintamu
Malam kutidur dalam diri
Senja kunari dalam hati
Indahnya tiada berarti
Indahnya tiada arti

Kemana kau pergi. sunyilah malamku
Tak bisa ku tahu kemana cintamu
Alangkah jauhnya hari
Alangkah jauhnya hari

Thursday, February 11, 2010

Konsep Berkesenian Kirdjomuljo


Konsep Kesenian Kirdjomuljo


Bagi Kirdjomuljo, karya seni dikerjakan atas dorongan daya cipta, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perhitungan akal, perhitungan apakah pekerjaan itu akan berguna atau tidak, yang langsung menggerakkan perasaan dan pikirannya yang dijelmakan oleh alat-alat kecakapannya, dan jadilah itu sebuah hasil kerja seni, yang disebut buah seni. Mencipta adalah suatu kerja, suatu pelepasan kehidupan yang tak bisa ditahan, dan hidup sendiri dalam bentuk apapun juga. Ketekunan dan kesungguhan dan keberanian. akan membentuk ukuran-ukuran baru yang lebih hidup dan tidak berpaling.

Menulis puisi, cerpen, dan sebagainya, bagi Kirdjomuljo adalah suatu yang mudah dalam penggalian ide. Observasi merupakan suatu yang senantiasa merangsang pemikiran yang menggolakkan batin dan menghasilkan sikap dan pandangan pribadi. Pengalamannya dalam perjalanan tidak sekedar penghimpunan impresi tetapi pengolahan dan pengayaan batin (Yassin, 1985: 18).

Dalam menulis lakon, Kirdjomuljo berpedoman bahwa naskah drama itu harus menyenangkan, kalaupun dialognya berurutan tapi yang menyegarkan harus ada. Waktu membuat naskah ia banyak mempelajari orang-orang serta teman-teman yang ada di sekelilingnya. Demikianlah yang terjadi pada naskah “Penggali Intan”. Menurut Tati Maliyati (Dosen Institut Kesenian Jakarta dan Pimpinan Badan Sensor Film Jakarta) yang diwawancarai penulis pada bulan Desember 2000, naskah ini sampai sekarang masih dipakai oleh para mahasiswa drama, dikarenakan naskah tersebut sangat realistis dan sangat dekat dengan kehidupan Indonesia, dengan cerita yang manusiawi. Ceritanya bersifat universal seperti tentang harga diri, dendam, dan cinta.

Karya lain dari Kirdjomuljo adalah puisi di atas kanvas. Menurutnya puisi-puisi tersebut merupakan ungkapan tentang apa yang ditangkapnya dari kejadian-kejadian di tengah masyarakat. Masyarakat kita sekarang sedang mengalami satu perubahan yang belum jelas ke mana arah muaranya.

Dalam keadaan yang bagaimana pun, manusia selalu masih mempunyai harapan. Ide yang melatarbelakangi karya-karya tersebut, menurut Kirdjo bermula dari ketekunannya mencermati tempat-tempat bersejarah hampir di seluruh pelosok pulau Jawa. Di tempat tersebut, ia menangkap makna grafis yang mengandung kode sandi, lalu dicoba untuk diungkapkannya melalui puisi yang ditulis pada lukisan.

Melalui puisi-puisi yang ia goreskan di atas latar lukisan. Kirdjomuljo mengakui bahwa apa yang ia kerjakan itu bukan sebuah lompatan kreatif yang baru, apalagi luar biasa. Pada masa kejayaan keraton dahulu seniman sudah mengerjakannya. Hanya kode sandinya yang berbeda. Dari sanalah ilham itu datang. Sesuai kemampuannya maka bait-bait syairlah yang kemudian menjadi objek ornamen lukisannya.

Sumber: Jejak-jejak Kirdjomuljo, Ika Yuni Purnama, h. 76-81

DOWNLOAD tulisan ini KLIK di sini

Monday, February 08, 2010

Mengenal Kirdjomuljo

KIRDJOMULJO

Sosok Kirdjomuljo adalah sosok seniman srubutan. Perjalanan hidupnya selama 70 tahun banyak sekali menghasilkan berbagai macam karya sastra dan seni rupa. Dari banyaknya karya seni yang ia hasilkan. tampaknya karya sastra adalah pilihan utamanya. Hal ini terbukti dengan banyaknya karya sastra yang telah ditulisnya. baik puisi, lakon, film, dan novel. Keterampilan Kirdjomuljo dalam berolah kata serta kecintaannya pada kesenian, ketekunan, dan kesungguhan dalam menciptakan karya
sastra, telah mendudukkan dirinya sebagai seniman cukup produktif pada masanya.

Dalam buku Kesusastraan Indonesia Modern dulam Kritik Dan Esei,. H.B. Jassin menyebut Kirdjomuljo sebagai penyair alam. Kirdjo adalah seorang penyair yang menyatakan perasaannya dengan mempergunakan alam sebagai gambaran jiwanya. Puisi Kirdjomuljo kaya akan bunyi, demikian kayanya hingga kita seakan ditayang di atas lagunya yang mempesona, tanpa bertanya-tanya apa maknanya dan ke mana kita mau dibawanya. Seperti halnya himne, lagu puja yang dinyanyikan, tanpa dimengerti isinya tapi punya daya magis yang menyeret mengayunkan. Akan tetapi, di sini kita tidak berhadapan dengan lagu puja terhadap Tuhan atau dewa-dewa, tapi terhadap alam, terhadap hidup, dan terhadap ciptaan Yang Maha. Observasi Kirdjo tidak hanya sampai pada pemantulan belaka. tapi senantiasa merangsang pemikiran yang terutama menggolakkan batin. Baginya kenyataan hidup adalah pertentangan adanya kehadiran, dan itulah kebenaran. Seperti yang ia sampaikan kepada H.B. Jassin melalui puisi yang terangkum dalam buku kumpulan puisi Romansa Perjalanan yang terbit tahun 1955 berjudul "Buat H.B. Jassin"

Dalam kemenangan keselip kekalahan
siapa terlalu memilih
akan datang di tanah pasir

Dalam kekalahan keselip kemenangan
siapa terlalu memilih
akan datang di tanah batu

Kita lahir dan menerima sekali waktu
alam, cinta, tangis, dan harap

Kita hadir dan menerima sekali saat
Kemenangan dan kekalahannya

Hanya dalam sadar dan yakin
Dari keduanya, lahirlah mesra

Dalam sikapnya Kirdjomuljo adalah seorang pengembara yang senantiasa didesak oleh keinginan menjelajah peristiwa demi peristiwa, daerah demi daerah, dan dalam hal ini ia adalah seorang pencari yang romantis, pencari hakikat yang tak kunjung temu. Kirdjo adalah manusia pencari yang panteistis dalam tanggapan dunianya, epikuristis dalam sikap hidupnya. Dalam keluasan hati kepenyairannya ia merasa sekeluarga dengan manusia di luar tanah air dengan siapa ia bercerita tentang alam dan kotanya, tentang manusia dan hidupnya. Demikian dalam "April", kenangan buat Lorca, penyair Spanyol yang telah dahulu pulang:

Bila waktunya kumenyusul kau
dari alam hijau ke alam biru
kubawakan kotaku dalam puisi
seperti kau meninggalkan ladangmu
……………………………..
…………………………….

Kau pemah lahir dan dewasa
pernah mendapatkan sayu musim
yang jauh, dalam dan hijau
memberat, percaya, dan kuat
Seakan lahirnya satu kejadian besar
hatinya sebagian dan bumi
cintanya sebagian dari waktu
bila mati bukanlah satu kematian
Dirinya kembali berpusar menjauh
kembali semua yang telah gugur
membentuk diri bulat-bulat
serupa kelahiran baru
Dalam bentuk lebih dalam
dengan wajah
berpancar alam sendiri
…………………………..
…………………………….

Aku tak pernah berkata tentang esok
apa yang berlangsung
itulah aku
itulah waktu
……………………………..
…………………………….

Mungkin kau pernah berfikir demikian
menerima alam tidak sebagai milik
sekalipun hari-hari ridunya mendesak
membuat kerinduan jauh

Akupun tidak menerimanya
Sekalipun hari-hari cintaku berpinta
aku tidak mengaku
sekalipun terasa sebagian dari diri

Karena pada satu saat
akan sampai saatnya berpisah
pudar segala itu
dari bentuk dan ujudnya

Kalau tinggal, hati dan puisi
Tinggal arti dan cinta
Dan salam yang terakhir

(Jassin, 1985:15-49)

Linus Suryadi AG mengatakan dalam buku Romansa Perjalanan yang terbit pada 2001, menilai bahwa Kirdjomuljo tidak mengidentifikasikan dirinya dengan suatu kelompok partai atau golongan. Dia pun tidak berpihak pada suatu rejim penguasa bangsanya. Selaku penyair. Kirdjomuljo berpribadi merdeka dan berprinsip kebangsaan, dia memandang konflik sosial dan politik pada tataran tragedi. baik 1945, 1948, atau 1965, dengan mata dan hati manusia yang berwarga Negara Indonesia. Prinsip kebangsaan pribadi merdeka Kirdjomuljo tidak berhenti pada sikap dan visi keindonesiaan. Dari titik itu dia pun mengarahkan pandangan dunia kepenyairannya kepada alam semesta. Oleh karena pandangan dunia kepenyairan tidak hanya monopoli Kirdjomuljo yang berkebangsaan Indonesia tapi juga penyair berkebangsaan lain dari negara lain maka terdapat pula salah satu sajaknya merupakan gambaran yang tidak jauh dari cita-cita pandangan kepenyairan Kirdjomuljo yang mendunia itu.


TIDAK ADA JALAN LAIN

Bila akhirnya harus terjadi ajalku yang terhina
Ujung tikaman sampai ke ujung usiaku

Tidak aku memilih jalan lain. Datang yang hendak datang
Mati seorang lewat seribu jalan

Tetapi jalan menuju kemurnian kemerdekaan'?
Jalan menuju kemurnian kebangsaan? Hanya Satu

Dan aku yakin cahaya itu memancar dari berjuta jiwa
Di tanah airku dan di dalam jiwa di dunia
1967

Pada salah satu bentuk pengucapan seni sastra lakon menurut pendapat Boen Sri Oemaijati dalam buku yang berjudul Bentuk Lakon Dalam Sastra Indonesia, Kirdjomuljo merupakan tokoh yang unik. Kegiatan teaternya di Yogyakarta sudah diakui. Kegiatan syairpun sudah tenar. Melalui "Penggali Intan" dan "Penggali kapur" yang diawali oleh "Nona Mariam", orang menilai Kirdjo sebagai seniman yang aktif menceburi dan membangun berbagai bidang kegiatan seni. Aktif dan menguasainya dengan pengendapan dan penghayatan. Jumlah 27 lakon membuktikan suatu prestasi yang bukan sembarangan.

Menurut Butet Kartaredjasa, seorang seniman Yogyakarta, Kirdjomuljo adalah seorang idealis yang mempunyai sikap dan keyakinan kokoh, yang oleh masyarakat acapkali dilihat dengan mata terpincing. Ia dianggap aneh, atau bahkan sinting. Ketika orang beramai-ramai berjalan ke utara, ia justru ke selatan; ketika ada kesempatan menjadi orang kaya, ia memilih miskin. Manakala orang ribut, ia malah diam. Ibarat permukaan telaga, ia adalah letupan-letupan kecil di permukaannya. Ia seorang idealis yang mempunyai rel sendiri ketika menempuh kehidupan dan kesenimannya

Pernyataan tersebut di atas dipertegas kembali oleh seniman Yogyakarta, Sri Harjanto Sahid, yang mengatakan bahwa Kirdjomuljo adalah pribadi yang sederhana, jujur, rendah hati, dan terbuka. Siapa pun yang mengenalnya secara dekat pasti tak akan lagi merasakan keanehan padanya. Mungkin ia menjadi tampak aneh justru karena kejujurannya yang luar biasa.

Dalam wawancara untuk acara Profil Budayawan yang diproduksi oleh TVRI stasiun Yogyakarta tahun 1991, pengamat seni dan budaya Bakdi Soemanto mengatakan bahwa Kirdjomuljo adalah seorang penulis puisi dan penulis lakon, seorang yang menulis dan berkarya dengan bersih, dan karyanya memberikan sentuhan-sentuhan yang lebih dalam tidak hanya terhadap perasaan tetapi juga pada pencerahan pikir.

Kirdjomuljo sangat menyukai penyair Spanyol Federico Garcia Lorca dan juga Khalil Gibran. Puisi-puisinya memiliki Romantismenya Lorca. Menurut Fred Wibowo ketika ditemui penulis pada 20 Januari 2000, kekagumannya itu ia tunjukkan dengan membaptis teman-teman seniman seperti Wibowo dengan nama Fred (Fred Wibowo) dan kepada Winarto ia baptis dengan nama Jasso (Jasso Winarto). "Kirdjomuljo seorang impresario" demikian Motinggo Busye mengatakannya. Artinya, problem-problem kesenian mendatang, pagi-pagi telah berhasil ia rumuskan. Seperti misalnya, dahulu ketika sastrawan belum memikirkan dan mensiasati dunia film, Kirdjomuljo sudah menulis skenario film. 1000 Kenangan adalah film yang membuat ia dikenal dalam dunia film. Ia mengawali, dan tiba-tiba berhenti ketika sastrawan beramai-ramai menggarap ladang baru itu (Kertaredjasa, 1988:45).

Kesabaran, kesederhanaan, dan ketekunan yang dimiliki Kirdjomuljo tampaknya telah tertanam sejak ia masih remaja. Kemampuannya yang demikian tentu tidak lepas dari bakat dan kreativitas yang dimilikinya, yang menurut Primadi Tabrani, bakat menunjukkan keahlian yang cocok bagi seseorang. Kreativitas adalah salah satu kemampuan manusia yang dapat membantu kemampuan-kemampuannya yang lain, hingga sebagai keseluruhan dapat mengintegrasikan stimuli-luar (apa yang melanda dari luar sekarang) dengan stimuli-dalam (apa yang telah dimiliki sebelumnya-memori) hingga tercipta suatu kebulatan yang baru.

Selain bakat dan kreativitas yang telah ada pada Kirdjomuljo, tentu faktor-faktor lain yang ada di luar dirinya sangat menentukan, seperti lingkungan pertemanannya dengan berbagai seniman terutama di Yogyakarta, beberapa pengalamannya dalam mencermati berbagai tempat bersejarah dan kesenian daerah. Lingkungan keluarga yang berkesenian serta profesinya sebagai pegawai kantor kesenian dan redaktur majalah. Pergaulan dan pengalaman hidup banyak sekali memberikan andil dalam hal penguasaan teknik menulis, melukis, semangat, serta kekayaan idenya.

Sumber: Jejak-jejak Kirdjomuljo, Ika Yuni Purnama, h. 65-75

DOWNLOAD tulisan ini KLIK di sini

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook