Monday, March 31, 2008

Budi Darma

Potret Itu, Gelas Itu, Pakaian Itu
Oleh: Budi Darma


Sungguh menakjubkan, bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan, perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. Alis perempuan itu hitam tebal, melindungi matanya, dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan, mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri.

Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini, kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman, pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi.

Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Dengan tangan gemetar, perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati, dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar.

Lampu di dalam kamar sudah menyala, tapi sangat samar. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu, perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Di bawah potret ada sebuah gelas, terletak di sebuah rak buku kecil. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku, dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar.

Laki-laki itu mengangguk mengerti. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu, kemudian gelas, dan kemudian beberapa buku. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak.

Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya, perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. Dan tahulah dia sekarang, bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil.

Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah, mengapa di dekat tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki, misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. Tapi laki-laki itu tidak bertanya, karena perempuan itu sudah menjelaskan:

"Dia tidak mau potretnya dipasang di sini."

Belum sempat bertanya apa-apa, laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. Dan ketika perempuan itu membuka almari, terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat, beberapa pakaian laki-laki di dalam almari.

Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari. Meskipun demikian, laki-laki itu agak terkejut, ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu.

Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur, perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik, dan mematikan lampu bercahaya lemah itu.

"Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu.

"Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. Sungguh agung dia. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa."

"Apa lagi?"

"Apa lagi? Ya, apa lagi? Tentu saja saya mengagumi dia. Matanya sungguh menakjubkan. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya."

"Apa lagi?"

"Apa lagi? Ya, apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah, kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. Dia pasti laki-laki ramah."

"Apa lagi?"

"Apa lagi? Ya, apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. Dia pasti mempunyai wibawa besar, wibawa tinggi. Saya mengaguminya."

"Hanya itu?"

Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. Maka berbicaralah dia asal berbicara, tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya:

"Tentu saja tidak. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. Heran. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang, untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat, martabat, dan derajat sesamanya."

"Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?"

Laki-laki itu diam. Dia ingat, pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. Kalau tidak keliru, dia dipotret sekitar tiga bulan lalu, di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya, kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. Akhirnya laki-laki itu tahu, bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu, pertemuan dinyatakan bubar. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya, perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya.

"Laki-laki itulah yang saya cintai," kata perempuan itu. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. Dan setiap kali saya merindukannya, selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya, seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Begitu gemar dia membuka-bukanya, segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan."

Laki-laki itu diam. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya, beberapa bawahannya, dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya, tidak seorang pun tahu. Laki- laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor, laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu, kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor, laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu, laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun.

Surat itulah, yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu, yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam.

"Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal, dialah laki-laki yang saya cintai," kata perempuan itu lagi. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi, mengenai buku-buku itu lagi, dan akhirnya mengenai payudaranya.

"Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. Senang sekali dia membanding-bandingkan payudara saya dengan payudara mereka, dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka, dengan nada sangat melecehkan mereka, dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. Betul yang kau katakan tadi, dia laki-laki mengagumkan, sangat mengagumkan. Bagi saya, mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. Ingat, Nabi Yusuf tidak suka merayu, sementara dia suka merayu, yaitu merayu sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.'

Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya."

"Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?"

"Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu."

Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya.

"Ulangilah pertanyaanmu tadi."

"Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?"

"Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret."

"Mengapa?"

"Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang."

"Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung.

Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki."

Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya.

"Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya.

Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman.
Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu.

Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah.

Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuk-nyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu.
Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi.

Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku.

Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar.

Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum?

"Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia.

"Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?"

Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangan-tangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor.

"Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi.
Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat.

Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan.

Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata:

"Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya."

Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika laki-laki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas.

Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu.

Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat.

Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan.

Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri.

Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

Dengan tenang, laki-laki mencurigakan menggumam:

"Ketahuilah, masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat, Memang saya sering berkelahi, tapi perkelahian-perkelahian itu, sekali lagi, bukan apa-apa bagi saya. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. Saya hanya menikmati satu hal, yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. Kamu pun sebenarnya iblis. Ketahuilah, sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. Sesama iblis bisa saling mengganyang. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu, saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. Dan setiap kali merasa takut, pasti saya bertindak terlebih dahulu, tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang."

Dia menggumam dengan kesadaran penuh, bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Meskipun demikian, laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa kata-kata perempuan tadi:

"Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah."

Bulan tetap berputar-putar di atas sana.***


(Dimuat dalam Horison, Juli 1990)

Sunday, March 30, 2008

Sengsara Membawa Nikmat

SENGSARA MEMBAWA NIKMAT
Tulis Sutan Sati


Roman karya Tulis Sutan Sati ini berkisah tentang dua orang pemuda, Midun dan Kacak yang saling bermusuhan. Midun anak miskin, berbudi baik, sopan, sabar, dan taat menjalankan perintah agama. Midun juga sangat pandai bermain silat. Sementara Kacak adalah anak seorang kaya, mamaknya menjadi penghulu Laras di daerah itu sehingga tak heran jika Kacak menjadi sombong dan bangga dengan kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya. Kacak juga selalu ingin menang sendiri dan tidak senang melihat orang lain yang melebihi dirinya. Melihat perbedaan dua karakter itu, wajarlah jika masyarakat lebih senang dan menghormati Midun dari pada Kacak.

Karena Midun lebih disukai orang, Kacak menjadi sangat iri. Pangkal dari permusuhan di antara mereka, adalah karena Midun sangat disukai masyarakat sedangkan Kacak tidak. Sebaliknya, Kacak justru beranggapan bahwa penyebab ia tidak disukai dirinya oleh masyarakat adalah akibat hasutan Midun kepada masyarakat supaya membenci dirinya. Maka pertengkaran-pertengkaran pun tak dapat dielakkan.

Pada suatu hari Midun memukul roboh seorang laki-laki gila yang mengacau di pasar. Kesempatan itu dipergunakan oleh Kacak untuk mengadu kepada Tuanku Laras supaya Midun dihukum. Karena orang gila itu masih sekeluarga dengan Tuanku Laras, maka pengaduan Kacak itu diterima. Dan Midun pun dihukumlah.

Hukuman yang diterima Midun tidak membuat Kacak berhenti. Kacak masih sangat membenci Midun dan selalu mencari kesempatan untuk mencelakainya. Tidak jarang pula Kacak selalu mencari gara-gara untuk memancing agar Midun emosi dan menantangnya berkelahi. Berkat kesabaran Midun-lah semua pancingan Kacak tidak pernah ditanggapinya. Midun selalu ingat nasihat Haji Abbas guru mengajinya dan Pendekar Sutan seorang jagoan silat di Kampungnya. Midun beranggapa bahwa ilmu silat yang dimilikinya tidak untuk berkelahi dan mencari musuh, tetapi untuk membela diri dan mencari teman.

Suatu hari, istri Kacak terjatuh ke dalam sungai dan ia hampir terbawa arus. Pada saat itu, Midun yang sedang berada di dekat tempat kejadian berusaha menyelamatkan wanita itu. Namun pertolongan Midun ditanggapi oleh Kacak. Ia bahkan menuduh Midun akan memperkosa istrinya, sehingga Kacak justru menantang Midun untuk berkelahi.


Dalam perkelahian itu Midun berhasil mengalahkan Kacak. Kekalahan membuat Kacak semakin menyimpan dendam. Kacak melaporkan kejadian itu kepada Tuanku Laras. Ia memfitnah bahwa Midun hendak memperkosa istrinya. Tuanku laras percaya dengan laporan Kacak sehingga Midun mendapat hukuman bekerja di rumah Tuanku Laras tanpa upah.

Selama Midun menjalani hukuman itu, Kacak ditugaskan oleh Tuanku Laras untuk mengawasi Midun. Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kacak. Kacak memiliki kesempatan yang besar untuk mencelakai Midun. Tiap hari Kacak menghina dan berlaku kasar terhadap Midun. Midun menerima semua itu dengan tabah.

Hingga di sini Kacak belum juga puas. Ia tidak rela jika Midun masih berada di kampung itu. Keberadaan Midun menjadi penghalang bagi kacak untuk berbuat sesuka hati di kampung mereka. Karena itulah Kacak terus berusaha melenyapkan Midun untuk selama-lamanya. Untuk itu, Kacak menyewa seorang pembunuh bayaran bernama Lenggang untuk melenyapkan jiwa Midun. Kesempatan terbuka bagi Kacak untuk melampiaskan nafsunya itu. Ketika Midun dan Maun sahabatnya sedang menonton pacuan kuda di Bukittinggi, secara tiba-tiba mereka diserang oleh Lenggang, perkelahian pun terjadi. Mereka kemudian ditangkap oleh tentara kompeni dengan tuduhan membuat huru-hara. Midun dan Lenggang dijatuhi hukuman penjara di Padang. Sedangkan Maun bebas dari tuduhan karena sengaja tidak dilibatkan oleh Midun dalam perkara itu.

Di dalam penjara Midun mendapatkan perlakuan yang tidak wajar. Begitu masuk ia sudah diadukan dengan Si Ganjil jagoan di penjara itu. Tetapi untung Midun dapat mengalahkannya. Sehingga seisi penjara menjadi segan terhadapnya. Walaupun begitu ia masih saja menerima perlakuan yang menyakitkan dari sipir-sipir penjara. Berkat nasihat-nasihat dari Gempa Alam sipir yang membawanya ke penjara itu, Midun akhirnya tabah juga menghadapi cobaan-cobaan hidup itu.

Ketika Midun sedang melakukan pekerjaan sehari-harinya yaitu menyapu jalan, ia menemukan seuntai kalung berlian. Temyata kalung itu milik seorang gadis bemama Halimah yang rumahnya tidak jauh dari penjara. Perkenalanpun terjadilah di antara mereka. Dan begitu Midun sudah selesai menjalani masa hukumannya, Halimah meminta kepada Midun supaya melarikan dirinya dari rumah. Karena dia hendak dipaksa oleh ayah tirinya seorang laki-laki Belanda yang sejak dahulu mengurus dirinya dan ibunya. Hasrat laki-laki Belanda itu dikemukakan setelah ibu Halimah meninggal dunia ketika Midun masih di dalam penjara.

Atas pertolongan Pak Karto petugas bagian dapur penjara, mereka berhasil melarikan diri ke Jawa dan kemudian pergi ke Bogor menemui ayah Halimah seorang bekas pensiunan Wedana. Di sana mereka diterima dengan baik. Midun diminta tinggal di rumah itu. Namun lama kelamaan, Midun merasa malu tinggal di rumah itu bila hanya untuk menumpang makan dan tidur saja. Maka Midun memutuskan untuk pergi dari rumah itu mencari pekerjaan.

Midun mencoba mencari pekerjaan ke Jakarta. Dalam perjalanan ke Jakarta, Midun berkenalan dengan seorang saudagar Arab yang kaya raya, yang sebenarnya adalah seorang rentenir. Tanpa berprasangka buruk, Midun menerima tawaran Syekh itu yang akan meminjami uang sebagai modal. Dengan modal hasil pinjaman dari orang Arab itu, Midun membuka usaha dagang. Berkat ketekunannya, usaha Midun berkembang pesat sehingga membuat syekh Arab itu iri. Ia pun menagih hutang Midun dengan jumlah melebihi besarnya pinjaman Midun. Midun menolak karena hutangnya telah dihitung berlipat ganda. Gagal menagih Syekh menagih dengan cara lain, ia bersedia Midun tidak membayar hutang (dianggap lunas) jika Midun menyerahkan Halimah kepadanya. Tentu saja ini membuat Midun dan halimah marah. Akhirnya orang Arab itu mengadukannya ke Kompeni, dan Midun ditahan.

Selepas dari tahanan, suatu ketika Midun sedang beralan-jalan di pasar baru. Di sana ia melihat seorang pribumi yang mengamuk dan menyerang Sinyo Belanda. Ketika melihat Sinyo Belanda terdesak, Midun menolongnya. Sinyo Belanda selamat. Ternyata kemudian diketahui bahwa orang tua sinyo itu adalah Hoofscommissaris di Betawi. Dan sebagai tanda terima kasih, Midun ditawari kerja di sana sebagai sekretaris. Tak lama kemudian Midun mempersunting Halimah. Kerja Midun dipindahkan menjadi Menteri Polisi di Tanjung Priok.

Ketika Midun sedang melaksanakan tugasnya ke Medan untuk melacak gerombolan pengedar candu, Midun bertemu dengan Manjau adiknya. Lewat adiknya Midun mengetahui bahwa ayahnya sudah meninggal, harta kekayaan peninggalannya sudah habis. Selain dipakai untuk hidup sehari-hari juga karena diambil oleh keponakan ayahnya yang merasa hak mendapatkan waris. Juga tingkah laku Kacak yang kini sudah menjadi Tuanku Laras menggantikan mamaknya, semakin menjadi-jadi. Manjau dan Miun yang kini sudah kawin dengan adik Midun selalu menjadi sasaran kekejaman Kacak.

Sekembalinya ke Betawi, Midun mendatangi Hoofd-commissaris untuk mengutarakan keinginannya pindah ke Bukittinggi, dengan alasan mau bekerja di tanah kelahirannya. Pejabat itu mngijinkan. Maka kemudian Midun sekeluarga pindah ke Bukittinggi. Kebetulan oleh Assisten Resident Bukittinggi ia ditempatkan sebagai Assisten Demang di daerahnya. Tentu saja hal ini membuat kalang kabut Kacak musuhnya. Karena malu dan takut, kecurangannya menggelapkan uang negara terbongkar oleh Midun, akhirnya Kacak pergi meninggalkan daerah itu, dan tak pemah kembali lagi.

Setelah berkumpul kembali dengan seluruh keluarga dan para sahabatnya, mulailah Midun memerintah negeri itu dengan gelar Datuk Paduka Raja.***

Download sinopsis novel ini di sini
Baca sinopsis novel yang lain? Klik di sini

Friday, March 28, 2008

Rangkuman (2)






Puisi Lama















Pada posting terdahulu pernah saya paparkan Puisi Indonesia Lama secara terurai (baca uraian puisi lama di sini), berikut ini lebih ingin saya sampaikan rangkuman dalam bentuk diagram dan tabel supaya lebih mudah dipahami.

Bidal adalah salah satu bentuk puisi lama. Menurut pemakaiannya, bidal dapat dibedakan menjadi peribahasa, ungkapan, perumpamaan, pepatah, ibarat, tamsil, amsal, dan pemeo.

Secara ringkas dapat dilihat dalam gambar berikut.



Berikut ini disajikan persamaan dan perbedaan perumpamaan, ibarat, dan tamsil.






Bentuk puisi lama yang lain adalah PANTUN. Pada postingan terdahulu juga sudah saya paparkan tentang pantun. Jika Anda ingin membaca kembali, silakan lihat di sini. Secara ringkas, pembagian pantun dapat digambarkan dengan gambar berikut.
.................

Pantun sering dibandingkan dengan S Y A I R. Persamaan dan dan perbedaan antara pantun dengan syair dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
.................

Gurindam adalah salah satu bentuk pusi lama yang lain. Dalam uraian terdahulu juga sudah dibahas tentang gurindam. Juga pantun kilat atau sering disebut KARMINA. Berikut ini saya paparkan persamaan sekaligus perbedaan antara gurindam dengan karmina.
..................

(bersambung ke rangkuman 3)

Bentuk-bentuk karya sastra

Bentuk-Bentuk Karya Sastra dan Catatan Lainnya (1)


Genre sastra Indonesia menurut jamannya secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga, yakni sastra Indonesia lama (Melayu), sastra peralihan atau lebih sering dikenal dengan istilah sastra jaman Abdullah, dan sastra Indonesia baru. Sedangkan ditilik dari bentuknya (sebagaimana genre sastra menurut Rene Wellek dan Austin Warrent), sastra bisa dibagi menjadi puisi, prosa, dan drama. Sementara antara prosa dan puisi dikenal bentuk lain yaitu prosa lirik.

Secara singkat, uraian di atas dapat disederhanakan dalam gambar berikut ini.








Genre puisi Indonesia menurut jamannya dapat dibedakan dalam dua kelompok besar, yakni puisi lama (Melayu) dan puisi baru (Indonesia). Jenis puisi lama antara lain: mantra, bidal, pantun, seloka, gurindam, syair, dan puisi Arab atau Parsi. Sedangkan puisi Indonesia baru dapat dirinci menjadi: (a) jenis puisi sesuai dengan banyaknya baris, (b) jenis puisi sesuai isinya, dan (c) puisi bebas atau sering disebut puisi modern.

Gambar berikut dapat memperjelas keterangan di atas


(bersambung ke Rangkuman 2)

Wednesday, March 26, 2008

Legenda Malin Kundang

Legenda Malin Kundang


Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.

Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah berganti tahun, ayah Malin Kundang tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin Kundang untuk mencari nafkah.

Malin Kundang termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin Kundang sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka tergores batu. Luka tersebut berbekas di lengannya. Luka inilah salah satu tanda fisik yang tampak pada Malin Kundang.

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang bekerja keras membanting tulang mencari nafkah untuk menghidupi dirinya. Ia pun berkeinginan mencari nafkah di negeri seberang. Ia berharap ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya. Malin Kundang tertarik dengan ajakan seorang nahkoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi kaya raya. Malin Kundang mengutarakan keinginan itu kepada ibunya. Semula ibunya kurang setuju, tetapi karena Malin Kundang terus mendesak, akhirnya Ibu Malin Kundang menyetujuinya walau dengan berat hati.

Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapannya, Malin Kundang segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya.

“Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa akan ibu dan kampung halamanmu ini, nak”, ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang ditumpangi Malin Kundang diserang bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut tewas dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika terjadi peristiwa itu terjadi, ia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa terdekat. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat desa itu. Masyarakat desa kasihan kepadanya setelah ia menceritakan apan yang dialaminya.

Desa tempat Malin Kundang terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya, Malin Kundang akhirnya berhasil menjadi kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk dijadikan istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga ke telingan Malin Kundang. Ibu Malin Kundang sangat bersyukur karena anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, setiap hari Ibu Malin Kundang pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin akan pulang ke kampung halamannya.

Suatu ketika Malin Kundang dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta para pengawalnya. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang dan istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka di lengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang, anaknya.

“Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian?

Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.
“Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku”, kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.

“Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang.

“Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan hartaku”, sahut Malin Kundang kepada istrinya.

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin Kundang menengadahkan tangannya sambil berkata “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.

Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan menjadi sebuah batu karang

Download legenda ini KLIK di sini.

Hikayat Indra Bangsawan

HIKAYAT INDRA BANGSAWAN


Alkisah, raja Kobat Syahril mendapatkan dua anak kembar. Anak pertama lahir dengan sebuah anak panah, sedang yang kedua lahir dengan sebilah pedang. Anak pertama dinamai Syah Pri, dan anak kedua bernama Indra Bangsawan.

Kedua anak yang sangat dikasihi raja ini sejak kecil sudah dididik dengan baik dan banyak belajar kesaktian dari guru mereka.

Indra sebagai anak bungsu selalu menduga-duga, siapakah nanti di antara mereka berdua yang akan menggantikan ayahnya menjadi raja.

Suatu malam baginda raja Kobat Syahril bermimpi tentang buluh perindu. Ia sangat terpesona dengan buluh (bambu) yang bersuara sangat merdu sebagai alat musik itu. Maka siang harinya, ia menceritakan mimpi itu kepada kedua putranya. Ia pun membuat sebuah sayembara untuk dua puteranya, barangsiapa yang bisa mendapat buluh, dialah yang akan menggantikan dirinya menjadi raja.

Syah Pri sampai di sebuah taman. Ia menemukan gendang. Di dalam gendang itu tersembunyi puteri Ratna Sari. Putri Ratna Sari bersembunyi di dalam gendang karena ia takut. Betapa tidak? Negerinya telah dibinasakan oleh garuda. Karena kasihnya akan puteri itu, maka Syah Pri pun membunuh garuda itu dan mengambil Puteri Ratna Sari sebagai istrinya.

Adapun Indra Bangsawan berkelana pula mencari buluh perindu dan sampailah ia di sebuah gua. Di dalam gua itu ia bertemu dengan seorang raksasa perempuan. Berbagai pengalaman baik di dalam gua maupun di luar gua dialami Indra. Berkat persahabatannya dengan raksasa itulah, akhirnya Indra berhasil mendapatkan buluh perindu.

Singkat cerita, Indra Bangsawanlah yang kemudian mendapatkan buluh perindu. Ketika ia hendak kembali pulang, Indra tiba-tiba jatuh sakit. Sakitnya Indra disebabkan oleh perbuatan saudara perempuan Buraksa yang dibunuh Indra.

Syah Pri, kakak Indra suatu malam bermimpi bahwa saudaranya (Indra Bangsawan) sakit keras. Keesokan harinya ia berupaya mencari dan menemukan Indra bersama istrinya. Akhirnya, Indra dan istrinya berhasil ditemukan dan berhasil disembuhkannya. Mereka segera kembali ke kerajaan menemui ayahanda raja.

Dengan ditemukannya buluh perindu oleh Indra, maka Indralah yang kemudian dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahanda. Untuk membalas kebaikan kakaknya, Syah Pri, Indra memberinya sebiji batu hikmat. Dengan batu hikmat tersebut Syah Pri bisa mendirikan sebuah kerajaan, lengkap dengan abdi-abdi kerajaan, rakyat, dan alat-alat kebesaran (perlengkapan sebuah kerajaan).

Di akhir hikayat dikisahkan, kedua kerajaan ini bahu-membahu, saling menjaga sehingga seluruh rakyatnya hidup dalam kerukunan dan kemakmuran.***

Download KLIK di sini

Hikayat Hang Tuah

Hikayat Hang Tuah


Raja-raja dari keinderan turun di Bukit Siguntang. Sang Maniaka menjadi raja di Bintan. Hang Tuah pindah dari Sungai Duyung ke Bintan. Hang Tuah dan teman-temannya sewaktu masih elia telah mengalahkan perompak-perompak. Hang Tuah juga membunuh ular Cinta Mani. Hang Tuah dan teman-teman mengabdi kepada raja. Saat itu, patih Krama Wijaya dari Jawa dan Wira Nantaja dari Daha juga datang ke Bintan dan disambut dengan hangat , Wira Nantaja malah diberi gelar Ratu Melayu. Selanjutnya raja berpindah dari Bintan ke Malaka.

Raja Malaka meminang Tun Teja, anak bendahara dari Indrapura. Pinangan ini ditolak. Tidak lama kemudian utusan dikirim ke Jawa untuk meminang putri Majapahit. Pinangan diterima, tetapi raja Malaka harus pergi sendiri ke Majapahit untuk menjemputnya. Maka pergilah rombongan Raja Malaka. Hang Tuah ikut serta menjaga keselamatan raja di tanah Jawa. Hang Tuah berkali kali memperlihatkan keperkasaannya di Jawa. Hang Tuah dikaruniai gelar Laksamana oleh Batara Majapahit. Hang Tuah sempat pula belajar ilmu kebatinan di Jawa. Raja Malaka kembali lagi ke Malaka.

Hang Tuah difitnah telah melakukan perbuatan selingkuh dengan dayang istana. Raja Malaka murka dan Hang Tuah dihukum mati. Tetapi Hang Tuah diselamatkan oleh Bendahara dan dilarikan ke Indrapura. Hang Jebat, sahabatnya tidak terima dengan keadaan ini sehingga dia mengamuk dan menodai dayang-dayang di istana. Karena yang bisa meredakan amarah Hang Jebat hanya Hang Tuah, maka atas usul bendahara Hang Tuah pun dipanggil kembali. Terjadilah perkelahian antara Hang Tuah dan Hang Jebat dan akhirnya Hang Jebat berhasil dibunuh oleh Hang Tuah sebagai wujud kesetiaan Hang Tuah kepada raja.

Secara ringkas, hikayat ini bercerita tentang kehebatan-kehebatan Hang Tuah. Berbagai macam rintangan dan halangan selalu berhasil diatasi Hang Tuah.

Download KLIK di sini

Tuesday, March 25, 2008

Matematika dalam sajak

ARITHMETIK SEDERHANA


Menyimak Adham Arsyad
Selama ini kita selalu
Ragu-ragu

Dan berkata:
Dua tambah dua
Mudah-mudahan sama dengan empat.
1996
Dari Tirani dan Benteng, Taufik Ismail, hal. 97

GEOMETRI


Dari titik ini
Sedang kita tarik garis lurus
Ke titik berikutnya

Segala komponen
Telah jelas. Dalam soal
Yang sederhana.

1966
Dari Tirani dan Benteng, Taufik Ismail, hal. 91

Wednesday, March 19, 2008

Azab dan Sengsara

AZAB DAN SENGSARA


Roman karya Merari Siregar ini oleh para pakar sejarah sastra Indonesia sering disebut-sebut sebagai roman pertama Indonesia. Bahkan ada yang mengatakan bahwa penerbitan roman ini dijadikan tonggak awal perjalanan sastra Indonesia baru.

Roman atau novel ini berkisah tentang sebuah keluarga yang sangat kaya dan tinggal di kota Sipirok, Sumatra Utara. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak laki-laki itu bernama Sutan Baringin.

Cerita berawal pada anak laki-laki itu. Sejak kecil, Sutan Baringin selalu dimanja oleh ibunya, sehingga ketika dewasa Sutan Baringin berperangai buruk. Sutan Baringin sangat suka hidup mewah, suka berpesta dan menghamburkan kekayaan orang tuanya. Sutan Baringin sangat gemar berjudi. Hal ini juga terus terjadi meski ia sudah menikah.

Sutan Baringin menikah dengan Nuria, wanita sederhana dan baik pilihan ibunya. Meski Nuria mendampingi Sutan dengan baik, tetap sajalah kelakuan Sutan tidak berubah. Tiap hari ia berjudi dengan temannya Marah Sait.

Melihat perilaku anaknya, ayah Sutan tidak kuasa lagi, hingga akhirnya meninggal. Harta warisan ayahnya yang kaya raya itupun dihabiskannya di meja judi. Akhirnya, Sutan Baringin jatuh miskin dan dililit banyak hutang.

Sutan Baringin dan Nuria punya dua orang anak, yang perempuan bernama Mariamin

Seluruh tingkah polah Sutan Baringin di masa lalu berdampak pada anaknya, Mariamin. Meski ia gadis yang berbudi pekerti baik, tetapi selalu dihina oleh orang-orang kampung karena perbuatan ayahnya di masa lalu. Mariamin menjalin hubungan dengan seorang pemuda bernama Aminuddin.Pemuda itu anak seorang bangsawan yang sangat terhormat di Sipirok. Maka bukan hal aneh jika perjalanan cinta mereka berdua tidak direstui oleh Baginda Diatas, orang tua Aminuddin.

Sebenarnya, ayah Baginda Diatas kakak beradik dengan ayah Sutan Baringin. Sehingga sejak kecil, Aminuddin dan Mariamin sudah bersahabat. Tetapi karena perilaku Sutan Baringinlah yang menyebabkan hubungan cinta kedua anak mereka tidak direstui.

Karena cinta mereka sudah terpupuk sejak kecil dan meski tanpa restu orang tua, Aminuddin tetap berkeinginan melamar Mariamin. Ibu Mariamin sebenarnya merestui hubungan itu karena Aminuddin adalah seorang anak yang baik budinya lagi pula Nuria ingin agar puterinya dapat hidup bahagia dan tidak lagi menderita karena kemiskinan mereka, lebih-lebih setelah Sutan Baringin meninggal dunia.

Di pihak Mariamin, ia merasa berhutang budi pada Aminuddin ketika suatu hari ia tergelincir dari sebuah jembatan bambu. Aminu'ddin menyelamatkan jiwa Mariamin dengan terjun ke sungai. Mariamin selamatkan dan merasa amat berhutang budi pada sepupunya sekaligus kekasihnya itu.

Aminu'ddin meninggalkan Sipirok dan pergi ke Deli (Medan) untuk bekerja setelah sebelumnya berjanji pada kekasihnya untuk kawin pada saat dia mampu menghidupi calon isterinya. Sepeninggal Aminu'ddin, Mariamin merasa amat sedih. Di sinilah kesetiian Mariamin diuji. la selalu menolak lamaran yang datang untuk meminangnya.

Setelah mendapat pekerjaan di Medan Aminu'ddin berkirim surat pada Mariamin untuk segera menyusulnya ke Medan. Aminuddin ingin mereka menikah di Medan. Kabar itu juga disampaikan kepada orang tua Aminuddin sendiri. Ibu Aminuddin menyetujui rencana anaknya, akan tetapi Baginda Diatas tidak. Maka supaya tidak menyakitkan hati isterinya diam-diam ia pergi ke dukun menanyakan siapakah jodoh Aminu'din sebenarnya. Tentu saja karena Baginda Diatas tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Mariamin, maka dikatakannya pada isterinya bahwa menurut dukun, jodoh Aminu'ddin bukanlah Mariamin, melainkan seorang puteri kepala kampung lain yang cantik dan kaya.

Tanpa sepengetahuan Aminuddin, Baginda Diatas membawa calon menantunya hendak dijodohkan dengan Aminu'ddin di Medan. Aminuddin amat kecewa mendapat jodoh yang bukan pilihan hatinya, akan tetapi ia tidak dapat menolak keinginan ayahnya serta adat istiadat yang kuat dianut masyarakat. Aminuddin kemudian berkirim surat kepada Mariamin tentang perkawinannya yang tidak berdasarkan cinta, dan kepada Mariamin, ia minta sudi memaafkan dan berlaku sabar menerima cobaan.

Mariamin jatuh sakit karena cintanya yang terhalang. Suatu hari Baginda Diatas datang ke rumah Mariamin hendak meminta maaf dan menyesali segala perbuatannya setelah
melihat sifat-sifat Mariamin yang baik.

Beberapa bulan kemudian Mariamin dikawinkan dengan seorang kerani yang belum dikenalnya, bernama Kasibun. Ternyata kemudian diketahui, suaminya baru saja menceraikan isterinya di Medan untuk mengawini Mariamin. Bersama Kasibun, Mariaminpun tinggal di Medan.

Suatu ketika Aminuddin mengunjungi Mariamin di rumahnya. Pertemuan itu membuat Mariamin pingsan hingga menyebabkan kecurigaan dan rasa cemburu yang besar dalam diri Kasibun. Kasibun kemudian menyiksanya tanpa belas kasihan. Akibat siksaan itu Mariamin merasa tidak tahan hidup bersama suaminya. la kemudian lapor kepada polisi dan mengadukan perkaranya. Kasibun kalah perkara. Dengan membayar denda sebesarduapuluh lima rupiah Kasibun harus mengaku bersalah dan merelakan Mariamin bercerai darinya. Mariamin amat sedih. la pulang ke rumah ibunya di Sipirok. Badannya kurus dan sakit-sakitan, hingga akhirnya ia meninggal dunia dalam kesengsaraan.***


Download sinopsis ini di sini
Sinopsis novel yang lain? Klik di sini

Friday, March 14, 2008

Lagu di atas bus

Lagu di Atas Bus
Cerpen Hamsad Rangkuti


Sebuah bus malam jarak jauh meluncur dalam kecepatan sedang-sedang saja. Para penumpang baru saja makan malam di rumah makan tempat persinggahan bus malam itu di pertengahan perjalanannya Di luar, dalam kegelapan malam, tumbuh menyungkup di sisi kiri dan kanan jalan pepohonan. Lampu kendaraan itu menyorot di sepanjang jalan, tidak ubahnya satu per satu mereka memegang senter, berlarian di antara dua deretan pohon. Dan celah kegelapan sesekali muncul percik cahaya menandakan ada kehidupan di luar. Lampu bus itu tidak ubahnya sepotong kapur yang ditorehkan di atas papan tulis.Garis putih itu setiap saat dilahap kegelapan yang bersembunyi di bawah kolong, sementara itu garis yang baru terus tercipta. Begitu terus-menerus.

Orang-orang di dalam bus itu tidak tertidur. Mereka merasa segar. Sopir menghidupkan tape recorder. Para penumpang mendengarkan lagu yang berkumandang sambil berlena-lena. Namun, tiba-tiba terdengar orang berteriak:

"Bolehkah lagu itu ditukar? Saya ingin mendengarkan lagu jazz!" kata penumpang yang berteriak itu.

"Tolong Pak Sopir. Lagunya ditukar saja dengan irama jazz," kata penumpang yang lain memperkuat.

”Tetapi, saya tidak punya kaset jazz!" kata sopir.

"Aku membawa kaset lagu yang aku minta!" kata orang yang meminta lagu jazz. Sambil dia mengeluarkan kaset jazz yang dia maksud dari dalam saku bajunya. Kemudian berkumandanglah lagu jazz.

Tetapi, baru saja lagu jazz itu berkumandang, baru beberapa detik saja, terdengar pula orang berteriak:

"Bolehkah lagu itu ditukar?" teriakan itu ditujukan kepada orang yang meminta lagu jazz.

"Boleh!" kata orang yang meminta lagu jazz.

"Saya ingin irama disko,” kata orang yang meminta supaya lagu jazz itu diganti.

"Tolong Pak Sopir," kata orang yang meminta lagu jazz, "Bapak ini tidak suka dengan lagu kesenangan saya. Dia minta ditukar dengan irama disko."

“Tetapi, saya tidak punya kaset berirama disko," kata sopir.

"Saya punya. Saya membawa kaset lagu kesenangan saya,” kata orang itu. Dia pun mengeluarkan kaset dari dalam sakunya, sekejap kemudian berkumandanglah lagu berirama disko.

Para penumpang mendengar lagu itu hanya beberapa detik saja, sebab terdengar pula orang berteriak dari bangku yang lain.

"Bolehkah lagu itu ditukar?" isi teriakan itu, yang ditujukan kepada orang yang meminta lagu berirama disko.

“Boleh!” Kata orang yang meminta lagu berirama disko.

“Saya ingin lagu keroncong.”

“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka dengan lagu disko kesenangan saya. Dia minta lagu keroncong."

"Tetapi, saya tidak punya kaset keroncong," kata sopir.

"Saya punya. Saya membawa kaset kesenangan saya "
Orang itu mengambil kaset dari dalam saku bajunya. Kemudian mengumandang lagu irama keroncong.

Para penumpang mendengar lagu itu hanya beberapa saat saja. Seseorang berteriak pula dari bangku yang lain.

"Bolehkah lagu itu ditukar?"

“Boleh!" kata orang yang meminta lagu keroncong.

"Saya ingin lagu dangdut."

"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka dengan lagu keroncong, lagu kesenangan saya. Dia minta lagu dangdut”.

”Tetapi, saya tidak punya kaset dangdut," kata sopir.

"Saya punya. Saya membawa kaset kesenangan saya "

Orang itu mengambil kaset dari dalam saku bajunya. Ia menyerahkannya kepada sopir, dan berkumandanglah lagu dangdut.

Para penumpang mendengar lagu itu. Tetapi, beberapa saat kemudian, terdengar pula orang berteriak:

"Bolehkah lagu itu ditukar?"

"Boleh!"

"Saya ingin lagu pop Indonesia."

"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu dangdut kesenangan saya. Dia minta ditukar dengan lagu pop indonesia."

"Tetapi, saya tidak punya kaset pop Indonesia," kata sopir.

"Saya punya. Saya selalu membawa kaset lagu kesenangan saya."

Orang itu mengambil kaset dari dalam saku bajunya, Kemudian mengumandang lagu pop Indonesia. Tetapi, baru saja lagu itu mengumandang, terdengar pula orang berteriak:

"Bolehkah lagu itu ditukar?"

"Boleh”, kata orang yang meminta lagu pop Indonesia

"Saya ingin lagu gending Jawa."

"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar dengan gending Jawa."

"Tetapi, saya tidak punya kaset gending Jawa," kata sopir.

"Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa, kesenangan saya, setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa! Katanya sambil menyerahkan kaset itu kepada sopir.

Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi, beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak:

"Bolehkah lagu itu ditukar?"

"Boleh!" kata orang yang meminta lagu gending Jawa.

"Saya ingin lagu kecapi Sunda!"

“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka gending Jawa, padahal saya paling suka gending Jawa. Dia minta kecapi Sunda!"

"Tetapi, saya tidak punya kaset kecapi Sunda," kata sopir.

"Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset kecapi Sunda, kesukaan saya. Ini kaset kesenangan saya. Saya selalu membawanya ke mana pun saya pergi!"

Orang itu mengeluarkan kaset dan saku bajunya. Dan, berkumandanglah lagu kecapi Sunda.

Para penumpang mendengar lagu itu. Tetapi, orang berteriak pula sebelum kaset kecapi Sunda berkumandang tiga puluh detik.

"Bolehkah lagu itu ditukar?"

"Boleh!" kata orang yang meminta lagu kecapi Sunda.

"Saya ingin irama Minang, saluang."

"Tetapi, saya tidak punya kaset irama Minang, saluang," kata sopir

"Den punya! Aden selalu membawa lagu kampuang den, saluang"

Orang itu menyerahkan kaset dari dalam saku bajunya. Dan, berkumandanglah lagu irama Minang, saluang. Dan, seperti tadi, orang pun berteriak pula beberapa saat kemudian.

"Bolehkah lagu itu ditukar?"

"Boleh!" kata orang yang meminta lagu saluang.

"Saya ingin lagu Tapanuli modern."

"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu saluang, lagu kesenangan saya. Dia minta lagu itu ditukar dengan lagu Batak!"

"Batak katamu? Kamu menyinggung, ya?!" orang itu memegang leher baju orang yang meminta lagu saluang.

"Oh, tidak. Maksud den, Tapanuli modern."

"Untung kita sama-sama dari Sumatera. Kalau tidak, Saudara telah saya pukul."

"Saya juga berpikir begitu, kita sama-sama dari Sumatera. Kalau tidak, Saudara telah saya pukul. Siapa yang bisa menahan kesabaran kalau leher baju kita direntap orang.
Maaf! Tolong Pak Sopir. Bapak ini minta lagu Tapanuli modern."

"Tetapi, saya tidak punya lagu Tapanuli modern."

"Aku punya! Aku selalu membawa lagu kesenanganku. Aku suka lagu daerahku sendiri. Putar Pak Sopir!"

Orang itu menyerahkan kaset dari dalam saku bajunya. Kemudian, mengumandang lagu Tapanuli modern. Tetapi, orang berteriak pula meminta lagu itu diganti.

"Bolehkah lagu itu ditukar?"

"Boleh saja! Mengapa? Kamu tidak suka lagu Tapanuli modern?"

"Saya minta lagu mars perjuangan!" kata orang berseragam hijau. Dia membawa pistol.
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu Tapanuli modern, padahal lagu itu lagu kesenangan saya. Bapak ini minta diputarkan lagu mars perjuangan."

"Tetapi, saya tidak punya lagu mars perjuangan," kata sopir.

"Saya punya! Saya selalu membawa ke mana pun saya pergi lagu-lagu kesenangan saya. Mars perjuangan. Ayo putar! Sampai selesai! Tidak boleh diputus sebelum selesai! Aku membawa pistol."

Tetapi, baru saja lagu mars perjuangan itu mengumandang, terdengar pula orang berteriak meminta lagu itu ditukar.

"Bolehkah lagu itu ditukar?" kata orang yang berseragam hijau pula. Dia membawa dua
pistol.

Orang yang meminta lagu mars perjuangan melihat kepadanya. Dia melihat dua pistol di pinggang orang itu. Akhirnya dia berkata:

"Boleh! Mengapa tidak? Boleh! Lagu itu boleh ditukar."

"Saya ingin diputar lagu Indonesia Raya!" katanya membentak.

"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu mars perjuangan. Padahal, lagu itu membangkitkan semangat perjuangan pada diri saya. Bapak ini minta diputar lagu Indonesia Raya."

"Tetapi, saya tidak punya kaset lagu Indonesia Raya."

"Kaset lagu apa saja yang kau punya?" kata orang yang berseragam hijau lengkap dengan dua pistol di pinggangnya.

Sopir itu gugup. Dia membuka laci tempat penyimpan kaset. Tetapi, dia tidak menemukan yang dia cari.

"Kau harus punya kaset lagu Indonesia Raya. Cari! Dan, mesti kau dapatkan!"
Sopir terus membongkar tempat penyimpan kaset. Dia tiba-tiba tersentak. Dia seperti mengingat sesuatu.

"Saya pernah punya kaset lagu Indonesia Raya itu! Tetapi, di mana kaset Indonesia Raya itu sekarang? Oh, biarkan aku mengingat-ingatnya sejenak. Ya, sekarang aku baru ingat. Tujuh belas Agustus yang lalu, pernah serombongan Veteran Perang Kemerdekaan menyarter bus ini. Mereka merayakan Hari Kemerdekaan itu di atas bus ini. Mereka menyusuri rute perjuangan mereka. Rute Jenderal Sudirman. Mereka memutar lagu-lagu mars perjuangan. Dan, memutar lagu Indonesia Raya. Suatu saat, di tengah perjalanan menyusuri rute Jenderal Sudirman itu, mereka meminta aku menghentikan kendaraan. Mereka kulihat mengheningkan cipta. Aku terharu melihat mereka. Mereka menitikkan air mata. Kurasa mereka mengenang rekan-rekan mereka yang gugur dalam pertempuran melawan penjajah. Mereka meminta aku memutar ulang lagu Indonesia Raya itu. Di mana, ya, sekarang kaset lagu Indonesia Raya itu. Aku ingat betul, mereka tidak meminta kaset lagu Indonesia Raya itu waktu mereka kuantar kembali ke Gedung Veteran Empat Lima sepulang dari menyusuri rute Jenderal Sudirman itu. Kuingat apa pesan mereka saat menyerahkan kaset lagu Indonesia Raya itu. 'Sekali-sekali, di tengah perjalananmu, setiap tanggal tujuh belas Agustus, tolong kau putar lagu Indonesia Raya ini untuk didengar para penumpangmu.' Ya, sekarang aku ingat. Mereka berkata begitu sambil menyerahkan kaset lagu Indonesia Raya itu. Tetapi, di mana kaset lagu Indonesia Raya itu sekarang? 0 iya... Mungkin mereka. Kenek-kenekku selalu bertukar-tukar. Mereka suka memutar lagu-lagu kegemaran mereka. Apa mungkin mereka...? Mungkin! Itu mungkin! Mereka umumnya datang dan daerah. Ya! Itu mungkin!"

Sopir itu menghentikan mobil itu. Di luar tampak lampu mobil itu diam di atas aspal. Kapur tulis itu terhenti menconteng papan hitam di depan kelas. Sopir itu beranjak dari balik lingkaran kemudi. Orang-orang memperhatikannya. Dua orang yang mengenakan uniform hijau terpaku memperhatikannya. Sopir itu mengais-ngais tong sampah. Mengangkat keranjang sampah itu dan menuang-kannya di atas lantai. Dikais-kaisnya sesaat. Mereka akhirnya melihat sopir itu mengangkat sepotong kutang, celana dalam, pembalut wanita, serenteng bekas teh celup, sobekan kain, kertas bernoda, daun pisang bekas pembungkus dan sebuah kaset.

"Aku menemukannya! Apa kataku! Mereka membuangnya!" teriak sopir itu.

"Putar! Putar segera!" kata orang berseragam hijau lengkap dengan dua pistol di pinggangnya.

Sopir itu kembali duduk di belakang kemudi. Dia memasukkan kaset itu ke dalam tape recorder. Lagu Indonesia Raya itu terdengar mengumandang, dan bus malam itu kembali bergerak. Tetapi, baru beberapa detik saja lagu Indonesia Raya itu mengumandang, terdengar pula orang berteriak:

"Bolehkah lagu itu ditukar?" kata teriakan itu. Orang itu berseragam hijau. Dia membawa tiga pistol. Satu teracung di tangan kanannya, dua tergantung di pinggang sebelah kiri dan kanan.

Orang yang meminta lagu Indonesia Raya itu memandang orang dengan tiga pistol. Sejenak kemudian dia memandang orang yang membawa satu pistol. Dia kemudian beralih memandang orang dengan tiga pistol. Lalu dengan tegas dia berkata:

"Tidak! Lagu Indonesia Raya itu tidak boleh ditukar. Kita harus mendengarnya sampai selesai!"

"Tetapi, telingaku sakit mendengarnya!" kata orang yang berseragam hijau dengan tiga pistol di pinggangnya.

"Apa katamu? Sakit telingamu mendengarnya? Itu artinya kau tidak cinta pada Tanah Airmu!"

"Tetapi, tidak saatnya lagu kebangsaan itu diputar sekarang!"

"Sekarang adalah saat yang tepat! Tidak kau lihat mereka sudah mulai berkelahi. Masing-masing telah meminta lagu daerah mereka sendiri-sendiri."

"Tetapi, telingaku sakit mendengar lagu Indonesia Raya itu."

"Berarti kau dari jenis para pengkhianat! Sebaiknya kau keluar dan dalam bus ini!"

"Tetapi...," kata orang berseragam hijau dengan tiga pucuk pistol.

"Tetapi, kau sudah membayar ongkos? Itu yang mau kau katakan," kata orang yang berseragam hijau dengan dua pistol di pinggangnya.

"Saya akan ganti uang sisa ongkos perjalananmu. Lagu Indonesia Raya ini harus mengumandang sampai tujuan akhir. Kalau kau tidak suka, kau boleh keluar dari dalam bus ini! Tak ada tempat bagi yang tidak suka lagu kebangsaannya sendiri. Siapa yang tidak suka dengan lagu kebangsaannya sendiri?"

"Saya suka!" kata orang yang berseragam hijau dengan sebuah pistol di pinggangnya. Dia bergeser ke dekat orang yang membawa dua pistol. Mereka berdua memiliki tiga pistol.

Orang yang memakai seragam hijau dengan dua pistol di pinggangnya berdiri di atas tempat duduk. Dia diikuti orang yang berseragam dengan satu pucuk pistol di pinggangnya.

"Cepat katakan! Siapa yang tidak suka dengan lagu kebangsaannya sendiri?!"

"Kami suka!" teriak para penumpang bergemuruh

"Tidak ada tempat untuk orang yang tidak suka dengan lagu kebangsaannya sendiri, di sini!"

"Saya suka!" kata sopir.

Kapur putih di atas papan hitam terus menconteng di sepanjang jalan beraspal. Kegelapan di bawah lantai terus juga melahapnya. Begitu terus-menerus. ***

Thursday, March 13, 2008

Dodong Djiwapradja


Dodong Djiwapradja lahir 28 September 1928 di Garut, jawa Barat. Pendidikan: tamat Perguruan Tinggi Hukum Militer.
Ia pernah bekerja di AURI dan menjadi guru SMA IPI Jakarta (1953-1958), dosen estetika di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1962-1964). Pernah menjadi anggota Komisi Istilah Seksi Penerangan (1951-1960), Anggota pengurus Pleno BMKN (1960), dan mengikuti Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Tashkent, Uni Soviet (1958).
Dodong menulis banyak puisi dan menerjemahkan karya sastra asing. Ia mulai menulis sekitar tahun 1948.


PUISI

Kun fayakun
Saat penciptaan kedua adalah puisi
Tertimba dari kehidupan yang kautangisi

Bumi yang kaudiami, laut yang kaulayari
adalah puisi

Udara yang kauhirupi, air yang kauteguki
adalah puisi

Kebun yang kautanami, bukit yang kaugunduli
adalah puisi

Gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali
adalah puisi

Dan dari setiap tanah yang kaupijak
sawah-sawah yang kaubajak
katakanlah: sajak

Puisi adalah manisan
yang terbuat dari butir-butir kepahitan

Puisi adalah gedung yang megah
yang terbuat dari butir hati yang gelisah


TERLALU BANYAK KITA KEHILANGAN

Inilah sebagian dan mimpi
yang mestinya teriadi
dulu waktu sekolah,
ketika seorang dari kita
membiarkan rambutnya terurai
membaringkan tubuh
di atas pasir,
atau berenang ke tengah
tatkala seorang dari kita
mengejarnya sambil terengah-engah

Inilah sebagian dari mimpi
yang mestinya terjadi
semasa antara kita ada janji,
ketika berangkat dewasa
lalu pergi ke Jakarta

Inilah sebagian derita kita — sayang
Bencana perang datang
Terlalu banyak kita kehilangan:
aku telah kehilangan kau
dan kau sia-sia menungguku

Hari ini mari kita bayangkan, kenangkan
dan hapuskan noda-noda karena perang
Buatlah seakan langit pernah menyaksikan
adanya kegembiraan — antara kita
dulu, andaikan pernah jalan bersama
di pantai Pangandaran
Pangandaran, Januari 73
PANGANDARAN

Kutegur wajahku
Yakinlah: ini bukan lukisan Nashar

Perahu bergerak
berlayar

Mengabur tepi — damailah kegaduhan
Anginpun lewat, berdesir
Dan sepi atas pasir

Pantai
Laut
Ombak
Cagaralam
Inilah Pangandaran
Siapa berani berenang
sampai Cijulang?

Debur ombak — mengamuklah sepi
Jejak-jejak kaki yang basah
Telah lama musnah
Pangandaran, Januari 73
ANAK KECIL DI TENGAH LAUTAN

Kita tidak pernah belajar
bagaimana para nelayan beriayar
Ketika ombak datang
didorongnya ke muka
perahu kecil yang terbuka
Kita pun tak berani mengeringkan tubuh
di tengah lautan:
menantang angin
mengelantang din
di terik matahari

Ah, betapa malunya!

Hati kita ciut
ketika perahu oleng
kitalah orang-orang cengeng

Dan betapa malunya
ketika terlihat seorang anak kecil
sendirian dalam perahu
sementara orang-orang dewasa
terjun
merentang jaring

Dan betapa malunya
Ketika punggung-punggung ombak mengangkat perahu
sementara si anak duduk anggun
bagai kupu-kupu dalam kebun

Ombak-ombak
tunduk dan jinak
bagai kerbau dungu
yang di punggungnya
duduk penggembalanya:
seorang anak kecil
dengan cambuknya yang mungil
Kita tidak pernah belajar
tentang keberanian
Padahal seorang anak kecil
duduk sendirian:
dalam perahu
di tengah lautan
Cijulang, Januari 73
SEBUAH PERTUNJUKAN
Theater terbuka
di pinggir jalan
sepintas adegan;

Percakapan para gelandangan:
— Jika sebentar malam
tiba-tiba turun hujan, lebat
tapi dari ketupat
Bagaimana sikap kita?

— Baiknya, datang angin sate
wanginya!
wanginya!

Paduan suara para peminta-minta:
— Ketupat dan sate
soto dan gule
dua sejoli
makanan abadi

Ketupat dan sate
soto dan gule
empat serangkai
bagai mempelai

Suara pengemis tua:
— Cita-cita!
barang khayal tak berguna
mimpi anak-anak muda
Pendeta tua bangka, turun dari beca:
— Jika Tuhan memberkahi kita
Tidak di dunia, mungkin di sorga
1972
PRAHARA
Renik-renik dan ikan-ikan kecil
meletik, menyentil
permukaan air: plastik dan kaca
langit, alam terbuka —
Dawai-dawai alam menyimpan bunyi
dan suara lembut
hampir tertutup
gemetar, syahdu dan sayup

Apa yang terjadi nanti
jika awan bergulung
singgah di punggung gunung?

Benar saja, bagai direncanakan semula
oleh tangan gaib sutradara
7 divisi angin, telah menempatkan pasukannya
di hutan-hutan sekitarnya
sebentar malam operasi badai!

Ikan-ikan kecil
genangan air
kali kecil
plastik dan kaca
pasukan mana yang membela?

Dan, seperti selalu
sejak dulu
adat sediakala
permainan yang mengerikan ini
serta merta segala
dengan hidangan terakhir: malapetaka

Maka seperti biasa
korban-korban bergelimpangan
yang sebagian besar:
makhluk tak berdosa


MANCING DI KALI CIMANUK

Sehabis naik bukit ini, pohon loa,
Belok kanan, lalu lembah. Akhirnya air
Batu dan pasir begini melulu dari dulu
Dan air terus saja mengalir
Tak peduli sudah berapa kali
Penduduk sini mati berganti
Anak-anak masih juga suka bermain
Di sini, telanjang bulat, berkelahi
menggali pasir, nyemplung di air
Hanya bukan yang dulu lagi!
Mereka telah lama pergi
dari kampungnya, mengembara
entah ke mana
Lalu dunia mulai terdiam:
ujung joran bergerak-gerak!
Seakan tak ada lagi yang tampak
selain joran, tali pancing, nafas sesak
serta air riuh bergelucak
Jika dunia hanya begini saja
Alangkah damainya!
Hanyalah takut
kaki sebawah kutut
lama-lama akan membatu
dan berlumut

MENGAJI

Mengapa tidak basa jawa
atau sunda
supaya nenek bisa membaca?
Tapi,
bukankah tiap baris puisi
kalau terialu jelas mengerti
rasanya basi, kurang patri?
Keindahan, kata orang
menyelinap
merayap
lalu mengendap
Serta bayang-bayang ajaib, mengintip
naik ke bukit
di mana Nabi
bagai bertubi-tubi
ketiban wahyu Ilahi
Dalam kitab suci semua orang disayangi
. Pelacur, penjahat dan para penjudi
termasuk tentara dan polisi
Sifat yang keji
itulah mesti dijauhi
tenung dan sihir
bukan penyair


PENYAIR, YANG LAHIR DI TANAH AIR
Inilah aku,
Burung unta dari seberang
Bulu-bulunya terbuat
Dari pantun, sajak dan tembang
(Vladimir Mayakovski)

Di balik puncak segala kemegahan
Meringkiklah aneka behcana, duka nestapa
Bangsa yang primitif menari-nari
Di atas kepala-kepala kurbannya
Maka nabi pun berkata:
"tunjukkanlah jalan kepada mereka"
II
Semarak warna api pada senja, saat-saat ajal tiba
Tumbuhnya kerajaan gelap, seorang pun tak tahu
Unsur demi unsur lenyap, tiada gejala
Tak ada yang berteriak, tak ada buka suara
Melalui tubuhnya yang dingin, tergeletak
Tergores sejenak:
"dari asal pulang ke asal"
III
Di jalan-jalan yang sesat, di pojok-pojok ketololan
Perempuan-perempuan centil dan genit
Memasang jerat, menghimpun maknit
Dan tak tahulah kita, apa ini sorga atau neraka
1001 macam impian dalam 1001 macam permainan
Usialah yang menandainya, sudah cukup tuakah
kita?
Ketika bayang-bayang maut merangkak pada
tengkuk dan pundak
Semuanya baru ingat, semuanya baru tahu

Juga para dewa, kecuali yang satu
Bahwa sebenarnya bukan begitu
Maka mereka pun berdoa, buat kesekian kalinya:
"ampunilah segala dosa"

IV
Kuasa tanpa senjata, panglima tanpa tentara
Itulah nasib, mendadak menyapa kita
Memberi perintah buat menyerah

Hanya para mertua yang penuh curiga
Atas menantunya yang banyak bicara
Melihat pada keping-keping kebodohannya
Tersembunyi pada hati yang kurang teliti
Dan batuk mendeham, sekedar menutup
kepalsuannya
Masam rasa yang menari di atas kemanisan muka

"Jam dua belas malam, bangun tersentak
Kulihat istriku dan anak-anak
Nyenyak tertidur, barangkali sedang mimpi
Di sini, tak ada mistik
Demikianpun politik
Hanya selimut buat mereka, dan nyamuk pada pipi
Hams kujentik"

Melalui celah-celah tembok, langkah-langkah mata
Menyusuri bayang-bayang masa, abad demi abad
Dan tumpukan waktu, hingga zaman jahiliyah
Di rnana bayi-bayi yang rnurni dan perempuan-
perempuan tak berdosa
Mestikah teljadi, berkali-kali, justru pada abad ini?
Sentuhlah dahi, bahwa semua itu pernah selalu
terjadi

VI
Umpan-umpan pada kail mata pancing
Ikan-ikan yang malang
Kebutaan demi kebutaan terhuyung, dipapah oleh
kedunguan
Tersaruk-saruk, di lorong-lorong kepicikan
Penyair yang lahir hari ini
Pulang pergi dicaci-maki, sia-sia kata
Tanpa banyak ambil perduli, atau dicurigai
Bikin pusing bapa menteri, dan jawatan imigrasi
Duhai penyair, yang lahir di tanah air
Lorca dan Ltimumba, Hafiz dan Tagore
O Ronggowarsito, bilanglah pada Hasan Mustafa
Inilah aku,
Tempat asal Indonesia

PIDATO SEORANG PETANI
MENJELANG AKHIR HAYATNYA


Teman-teman setetangga
Akhirnya kita berpisah juga,
domba-domba pulang ke kandang
burung-burung pulang ke sarang
cuma, inilah bedanya:
aku tidak akan kembali
ke ladang seperti biasa
karena jagung punya umur
kacang punya usia
dan akulah padi
yang tidak berbenih lagi.
Semua karena tiba waktunya
jalan sudah sampai di batas
sungai sudah tiba di muara
begitulah usia, begitulah manusia
apalagi aku
petani yang ketiban penyakit.
Kuucapkan terima kasih
kepada kalian, teman seperiuangan
yang telah berjalan bersama
bekeija bersama, menggarap tanah
bukan punya kita.
Namun demikian kita fetap gembira
atau seakan-akan gembira
demi terlihat oleh anak cucu kita
yang juga akan seperti kita
ataukah lebih dari kita?
Namun sebagai orang tua mengharap
supaya kata-kata lebih
tidak dalam arti lebih buruk
kuharap mereka lebih baik dari kita.
Sekali lagi kuucapkan
terima kasih
kepada teman-teman
yang sudi menengok waktu sakit
meski tak punya duit.
Hanya, dalam pada itu
maafkan jika keterlaluari
bukan tidak tahu aturan
cuma karena desakan hati
yang tak tertahankan.
Maaf, bila kuberkata:
apakah maknanya ini
upacara setengah keramat
atau puji-pujian mengantar mayat?
Bila ada yang menangis
silahkanlah, menangis
sepuas suka —
karena malaikat, datang bagaikan kuat
tidak seperti penarik pajak
yang dengan teliti cermat
menagih rakyat melarat...

(Ketika jam tiga lewat
maka, setelah kakinya tersentak
sejenak
lalu mata pun tertutup
dan nafasnya berhentilah)

Amir Hamzah(2)


Tengku Amir Hamzah adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Amir Hamzah bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur pada tanggal 28 Februari 1911. Ia lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu dan banyak berkecimpung dalam alam sastra dan kebudayaan Melayu dimana kemampuannya dalam bidang ini tumbuh dan berkembang.

Amir Hamzah bersekolah menengah dan tinggal di Pulau Jawa pada saat pergerakan kemerdekaan dan rasa kebangsaan Indonesia bangkit. Di saat-saat ini ia memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain.

Dalam kumpulan sajak Buah Rindu yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935, terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern.

Amir Hamzah dibunuh dalam kekacauan revolusi sosial yang terjadi di Sumatera Timur, di awal-awal tahun Indonesia merdeka. Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada jaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang. Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang. Beliau wafat di Kuala Begumit pada 20 Maret 1946 dan dimakamkan di pemakaman mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat.


HANYA SATU

Timbul niat dalam kalbumi;
Terban hujan, ungkai badai
Terendam karam
Runtuh ripuk tamanmu rampak

Manusia kecil lintang pukang
Lari terbang jatuh duduk
Air naik tetap terus
Tumbang bungkar pokok purba

Teriak riuh redam terbelam
Dalam gegap gempita guruh
Kilau kilat membelah gelap
Lidah api menjulang tinggi

Terapung naik jung bertudung
Tempat berteduh nuh kekasihmu
Bebas lepas lelang lapang
Di tengah gelisah, swara sentosa

Bersemayam sempana di jemala gembala
Juriat julita bapaku iberahim
Keturunan intan dua cahaya
Pancaran putera berlainan bunda

Kini kami bertikai pangkai
Di antara dua, mana mutiara
Jauhari ahli lalai menilai
Lengah langsung melewat abad

Aduh kekasihku
Padaku semua tiada berguna
Hanya satu kutunggu hasrat
Merasa dikau dekat rapat
Serupa musa di puncak tursina


DOA

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samara sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalau panas payah terik.

Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa menayang piker, membawa angan ke bawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyirak kelopak.
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu!

SEBAB DIKAU

Kasihkan hidup sebab dikau
Segala kuntum mengoyak kepak
Membungan cinta dalam hatiku
Mewangi sari dalam jantungku

Hidup seperti mimpi
Laku lakon di layar terkelar
Aku pemimpi lagi penari
Sedar siumanbertukar-tukar

Maka merupa di datar layer
Wayang warna menayang rasa
Kalbu rindu turut mengikuti
Dua sukma esa –mesra-

Aklu boneka engkau boneka
Penghibur dalang mengatur tembang
Di layer kembang bertukar pandang
Hanya selagu, sepanjang dendang

Golek gemilang ditukarnya pula
Aku engkau di kotak terletak
Aku boneka engkau boneka
Penyenang dalang mengarak sajak

BARANGKALI

Engkau yang lena dalam hatiku
Akasa swarga nipis-tipis
Yang besar terangkum dunia
Kecil terlindung alis

Kujunjung di atas hulu
Kupuji di pucuk lidah
Kupangku di lengan lagu
Kudaduhkan di selendang dendang

Bangkit Gunung
Buka mata-mutiara-mu
Sentuh kecapi firdusi
Dengan jarimu menirus halus

Biar siuman dewi-nyanyi
Gembuh asmara lurus lampai
Lemah ramping melidah api
Halus harum mengasap keramat

Mari menari dara asmara
Biar terdengar swara swarna
Barangkali mati di pantai hati
Gelombang kenang membanting diri

ASTANA RELA

Tiada bersua dalam dunia
Tiada mengapa hatiku sayang
Tiada dunia tempat selama
Layangkan angan meninggi awan

Jangan percaya hembusan cedera
Berkata tiada hanya dunia
Tilikkan tajam mata kepala
Sungkumkan sujud hati sanubari

Mula segala tiada ada
Pertengahan masa kita bersua
Ketika tiga bercerai ramai
Di waktu tertentu berpandang terang

Kalau kasihmu hasratkan dikau
Restu sempana memangku daku
Tiba masa kita berdua
Berkaca bahagia di air mengalir

Bersama kita mematah buah
Sempana kerja di muka dunia
Bunga cerca melayu pilu
Hanya bahagia tersenyum harum

Di situ baru kita berdua
Sama merasa, sama membaca
Tulisan cuaca rangkaian mutiara
Di mahkota gapura astana rela


BERDIRI AKU

Puisi Asrul Sani


Asrul Sani (lahir di Rao, Sumatra Barat, 10 Juni 1926, meninggal di Jakarta, 11 Januari 2004) adalah seorang sastrawan dan sutradara film asal Indonesia. Menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955). Pernah mengikuti seminar internasional mengenai kebudayaan di Universitas Harvard (1954), memperdalam pengetahuan tentang dramaturgi dan sinematografi di Universitas California Selatan, Los Angeles, Amerika Serikat (1956), kemudian membantu Sticusa di Amsterdam (1957-1958).
Bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia mendirikan "Gelanggang Seniman" (1946) dan secara bersama-sama pula menjadi redaktur "Gelanggang" dalam warta sepekan Siasat. Selain itu, Asrul pun pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru, Gema Suasana (kemudian Gema), Gelanggang (1966-1967), dan terakhir sebagai pemimpin umum Citra Film (1981-1982).
Asrul pernah menjadi Direktur Akademi Teater Nasional Indonesia, Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), anggota Badan Sensor Film, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, anggota Dewan Film Indonesia, dan anggota Akademi Jakarta (seumur hidup).
Karyanya: Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Chairil Anwar dan Rivai Avin, 1950), Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen, 1972), Mantera (kumpulan sajak, 1975), Mahkamah (drama, 1988), Jenderal Nagabonar (skenario film, 1988), dan Surat-Surat Kepercayaan (kumpulan esai, 1997).
Buku mengenai Asrul: M.S. Hutagalung, Tanggapan Dunia Asrul Sani (1967) dan Ajip Rosidi dkk. (ed.), Asrul Sani 70 Tahun, Penghargaan dan Penghormatan (1997).
Di samping menulis sajak, cerpen, dan esai, Asrul juga dikenal sebagai penerjemah dan sutradara film. Terjemahannya: Laut Membisu (karya Vercors, 1949), Pangeran Muda (terjemahan bersama Siti Nuraini; karya Antoine de St-Exupery, 1952), Enam Pelajaran bagi Calon Aktor (karya Ricard Boleslavsky, 1960), Rumah Perawan (novel Yasunari Kawabata, 1977), Villa des Roses (novel Willem Elschot, 1977), Puteri Pulau (novel Maria Dermount, 1977), Kuil Kencana (novel Yukio Mishima, 1978), Pintu Tertutup (drama Jean Paul Sartre, 1979), Julius Caesar (drama William Shakespeare, 1979), Sang Anak (karya Rabindranath Tagore, 1979), Catatan dari Bawah Tanah (novel Fyodor Dostoyeski, 1979), Keindahan dan Kepiluan (novel Yasunari Kawabata, 1980), dan Inspektur Jenderal (drama Nicolai Gogol, 1986).
Film yang disutradarainya: "Pagar Kawat Berduri" (1963), "Apa yang Kau Cari, Palupi" (1970), "Salah Asuhan" (1974), "Bulan di Atas Kuburan" (1976), "Kemelut Hidup" (1978), "Di Bawah Lindungan Kaabah" (1978), dan lain-lain.
Tahun 2000 Asrul menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Pemerintah RI.

DONGENG BUAT BAYI ZUS PANDU


Sintawati datang dari Timur,
Sintawati menyusur pantai
la cium gelombang melambung tinggi
la hiasi dada dengan lumut muda,
la bernyanyi atas karang sore dan pagi,
Sintawati telah datang dengan suka sendiri

Sintawati telah lepaskan ikatan duka
Sintawati telah belai nakhoda tua,
Telah cumbu petualang berair mata
Telah hiburkan perempuan-perempuan bernantian
di pantai senja

Jika turun hujan terlahir di laut
Berkapalan elang pulang ke benua
Sintawati telah tunggu dengan wama biang-lala,
Telah bawa bunga, telah bawa dupa

Sintawati mengambang di telaga gunung,
Dan panggil orang utas yang beryakinkan kelabu
Telah menakik haruman pada batang tua,
Telah dendangkan syair dari gadis remaja

Sintawati telah menyapu debu dalam kota
Telah mendirikan menara di candi-candi tua,
Sintawati telah bawa terbang cuaca,
Karena Sintawati senantiasa bercinta

Sintawati datang dari Timur,
Sintawati telah datang ..........
.......... datang,
Sinta
datang ......!


MANTERA


Raja dari batu hitam,
Di balik rimba kelam,
Naga malam,
mari kemari!

Aku laksamana dari lautan menghentam malam hari
Aku panglima dari segala burung rajawali
Aku tutup segala kota, aku sabar segala api,
Aku jadikan belantara, jadi hutan mati


Tapi aku jaga supaya janda-janda tidak diperkosa
Budak-budak tidur di pangkuan bunda
siapa kenal daku, akan kenal bahagia
Tiada takut pada pitam,
Tiada takut pada kelam
pitam dan kelam punya aku

Raja dari batu hitam,
Di balik rimba kelam,
Naga malam,
Mari kemari!

Jaga segala gadis berhias diri,
Biar mereka pesta dan menari
Meningkah rebana
Aku akan bernyanyi,
Engkau berjaga daripada api timbul api

Mereka akan terima cintaku
Siapa bercinta dengan aku,
Akan bercinta dengan tiada akhir hari

Raja dari batu hitam,
Di balik rimba kelam,
Naga malam,
Mari kemari,
Mari ke mari,
mari!


ANAK LAUT

Sekali ia pergi tiada bertopi
Ke pantai landasan matahari
Dan bermimpi tengah hari
Akan negeri di jauhan

Pair dan air seakan
Bercampur. Awan
tiada menutup
mata dan hatinya rindu
melihat laut terbentang biru

"Sekali aku pergi
dengan perahu
ke negeri jauhan
dan menyanyi
kekasih hati
lagu merindukan
daku"

"Tenggelam matahari
Ufuk sana tiada nyata
bayang-bayang bergerak perlahan
aku kembali kepadanya”

Sekali ia pergi tiada bertopi
Ke pantai landasan matahari
Dan bermimpi tengah hari
Akan negeri di jauhan


ORANG DALAM PERAHU

Hendak ke mana angin
buritan ini membawa daku
sedang laut tawar tiada mau tahu
dan bintang, tiada
pemberi pedoman tentu
Ada perempuan di sisiku
sambil tersenyum
bermain-main air biru
memandang kepada panji-panji
di puncak tiang buritan
dan berkata
"Ada burung camar di jauhan!”

Cahaya bersama aku
Permainan mata di tepi langit
akan hilang sekejap waktu
Aku berada di bumi luas,
Laut lepas
Aku lepas
Hendak ke mana angin
buritan membawa daku


ON TEST

Engkau akan kubawa pergi
Dari candi ini
Ke tempat di mana manusia ada

Coba, coba
Di sana kata
Tidak hanya punya kita
Dan cinta mungkin kabur
Dalam kabut debu
Dan hidup menderu
Melingkungi engkau dan aku

Jalan panjang
Sampai di mana dunia terkembang?
Mata terlalu
Singkat untuk itu

Panjang jangan reka
Tujuan jangan terka
Pandang, di sana ada mereka,
Di sana ada mereka

Engkau akan kubawa pergi
Dari candi ini
Ke dunia: hidup air-dan-api

ELANGLAUT

Ada elang laut terbang
senja hari
antara jingga dan merah
surya hendak turun,
pergi ke sarangnya

Apakah ia tahu juga,
bahwa panggilan cinta
tiada ditahan kabut
yang rnenguap pagi hari?

Bunyinya menguak suram
lambat-lambat
mendekat, ke atas runyam
karang putih,
makin nyata

Sekali ini jemu dan keringat
tiada akan punya daya
tapi topan tiada mau
dan rnengembus ke alam luas

Jatuh elang laut
ke air biru, tenggelam
dan tiada tirnbul lagi
Rumahnya di gunung kelabu
akan terus sunyi, .
Satu-satu akan jatuh rnembangkai
ke bumi, bayi-bayi kecil tiada
bersuara
Hanya anjing,
malam hari meraung menyalak bulan
yang melengkung sunyi
Suaranya melandai

turun ke pantai
Jika segala
senyap pula,
berkata pemukat tua:
"Anjing meratapi orang mati!"

Elang laut telah
hilang ke lunas kelam
topan tiada bertanya
hendak ke mana dia
Dan makhluk kecil
yang membangkai di bawah
pohon eru, tiada pula akan
berkata:
"Ibu kami tiada pulang"


SURAT DARI IBU
Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"

PENGAKUAN
Akulah musafir yang mencari Tuhan
Atas runtuhan gedung dan dada yang remuk
Dalam waktu tiada kenal berdiam dan samadi
Serta kepercayaan pada cinta yang hilang bersama
kabut pagi
Akulah yang telah berperi
Tentang kerinduan akan penyelesaian yang tamat,
Dari manusia, dari dunia dan dari Tuhan

Ah, bumi yang mati,
Lazuardi yang kering
Bagaimana aku masih dapat,
Menyayangkan air mata berlinang dari kembang
kerenyam yang kering
Sedang kota-kota dan rumah-rumah bamboo lebih
rendah dari wajah lautan

Satu-satu masih terbayang antara pelupuk mata
telah hampir terkatup,
Karena murtad. karena tiada percaya
Karena lelah, karena tiada punya ingatan,
Suatu lukisan dari deru air berlayar atas lunas
berganti-ganti bentuk

Dari suatu lembah gelap dan suram
Menguapkan kabut mati dari suatu kerahasiaan,
Tuhan yang berkata
Akulah musafir yang mencari Tuhan,
Dalam negeri batu retak
Lalang dan api yang siap bertemu
Suatu kisah sedih dari sandiwara yang lucu,
Dari seorang pencari rupa,
Dari rupa yang tiada lagi dikenalmya

Perawan ringan, perawan riang J
Berlagulah dalam kebayangan
Berupawarena
Berupa wareni,

Dan berlupalah sebentar akan kehabisan umur
Marilah bermain
Marilah berjalin tangan
Jangan ingat segala yang sedih,
Biarkanlah lampu-lampu kelip
Lebih samar dari sinar surya senja
Kita akan bermain,
Dan tidur pulas, sampai
Datang lagi godaan:
"Akulah musafir yang mencari Tuhan”
Bogor, 22 Februari 1949

VARIASI ATAS SUATU TANGGAPAN-SESAAT

Petandang mendendangkan kuda kampung di jalan
sunyi
Pada malam yang jatuh kerut merut ke bumi
Serta rindu dendam dan matahari
Nanti berakhir pada burung bernyanyi, dan budak-
kecil sunyi sendiri

Lamban jatuh tali-temali
Dan berduka camar yang bertengger di tiang tinggi
Serta rindu dendam gelombang dan matahari
Nanti berakhir pada arus tiada berperi, dan pemukat
sunyi sendiri
Ambillah keluhan dan buang segala sedu-sedan
Berlupa sementara akan keliling yang mengikat
Dan kita mau berlepas untuk suatu kenyataan-
merdeka,
Selamat saat masih sibuk dengan asmara sendin

Jangan tunggu sampai kuda kampung bebas dari
bersunyi,
Burung camar tiada lagi bertengger di tiang tinggi,
Harga besar, tetapi waktu singkat
Lambai kekasih! Putar kemudi dan mari berlari

Kuda dan camar telah berlepas dari yang sementara
Dan kini larut dari lesu dan kerja
Kita juga tidak lagi mau perduli,
Ada ruang dalam kelemahan malam untuk
persiapan besok pagi!

POTRET SENDIRI AKHIR TAHUN '50


Tiada lagi, kenangan! Tiada lagi
Jalan kembali telah terkunci,
Pasir mersik beterbangan melarikan jejak kaki,
Tulang-tulang dada sampai meranggah,
Berderik merih karena cekikan
Tetapi pandangan terakhir telah terlupa

Memang kota yang kudekati,
telah kelabu tenggelam dalam peresapan
Serta perburuan si pongang telapak
pada dinding dan ruh-ruh yang telah penasaran
Jalan-jalan lengang, di lorong-lorong tiada lagi
terdengar pekikan

Toh aku mesti jalan,
Kaki berpasang-pasangan, mata ikuti sosok
tubuhku,
Tapi ini mata pun mata mati
mati dari mulut yang tiada akan bercerita lagi

Ada hati, kalau betul ada hati
la merasa kasihan dengan tiada perlu
Dalam mencari kawan baru
Aku hanya ingin menafaskan udara lain
Orang liwat jurang dan tinggalkan dataran

Jika hasil adalah: belati tadi ada di sisi
sekarang tertancap di dada sendiri
Maka kata akhir bukan lagi padaku
Hasil boleh datang kapan ia mau

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook