Monday, June 30, 2008

Hikayat Isma Yatim

HIKAYAT PENGAJARAN BAGI RAJA-RAJA


Isma Yatim gemar sekali mengarang hikayat.


Arkian telah beberapa lamanya dengan demikian, maka Isma Yatim itu pun mengaranglah pula beberapa hikayat lagi dengan tamsil ibaratnya yang memberi kegemaran dan menambahi akal serta menyukakan hati segala orang yang membacanya dan yang mendengar dia, karena banyaklah ada di dalamnya itu pengajaran yang memberi faedah pada segala mereka yang berkehendak adanya. Maka dengan membuat hikayat itulah menjadikan murah rezekinya serta Umpah makmuriah bagi kedua ibu bapanya, dikurniai Allah subhanahu wataala dengan anugerah-Nyapada tiap-tiap hari adanya.

Maka tatkala itu masyhuriah namanya pada segala daerah negeri akan kepandaian bijaksananya Isma Yatim itu dan berhimpunlah segala orang yang muda-muda kepadanya belajar ilmu dan hikmat daripada segala perintah hulubalang dan perintah laki-laki. Maka mereka itu pun berkasih-kasihanlah dengan segala menteri hulubalang. Demikianlah daripada sehari kepada sehari adanya.

Hatta maka beberapa lamanya dengan takdir Allah taala datanglah suatu pikiran pada hatinya, katanya, "Baiklah aku mengarang suatu hikayat yang boleh menjadi pengajaran akan segala raja-raja. Mudah-mudahan adalah juga kebajikan daripadanya."

Setelah demikian pikirnya, maka lalu ia pun berbuatlah ibadat kepada Tuhan yang mahatinggi darajat kebesaran dan kemuliaan-Nya memenuhi sekalian alam dunia ini serta memohonkan ampun dan meminta akan taufik 1) dan akal yang sempuma serta hemat faham yang kebajikan, supaya dapat ia mengarangkan sebuah hikayat, seperti yang diangan-angannya itu, membicarakan daripada perintah segala raja-raja, supaya dapat benar pada segala hukumnya dan adilnya pada segala perintahnya, serta dengan murah penyayang pada sekalian hamba rakyat yang di bawah hukum perintahnya, dan negeri pun jadi mulia makmur serta aman sentosa, dan raja yang adil itu pun kelak beroleh kumia Allah berkat Safaat 2) Nabi kita Muhammad s.a.w. kemudian hari.

Maka antara tiada beberapa lamanya hikayat itu pun sudahlah dengan sempumanya dan kemudian daripada itu, maka lalu dibawalah oleh Isma Yatim akan kitab hikayatnya itu kepada datuk 3) perdana menteri 4) yang arif budiman lagi setiawan itu, seraya katanya, "Ya datuk menteri, tolong apalah akan hamba hendak mempersembahkan hikayat hamba ini ke bawah duli syah alam, karena hamba ini orang miskin. Sangatlah hasrat hamba hendak berbuat kebaktian ke bawah duli yang dipertuan, tetapi suatu pun tiadalah kepada hamba, melainkan hikayat inilah kebaktian hambamu pada ke bawah duli syah alam itu. Inilah dia, tiadalah dengan sepertinya."

Maka perdana menteri itu pun mengambil serta membaca dan menilik akan dia. Maka dilihatnya ada beberapa banyak faedah di dalamnya itu. Maka perdana menteri pun sukacitalah mendengarkan hikayat itu, karena beberapa perkara yang menambah akalnya yang kebajikan pada memerintah majelis segala raja-raja dan menteri, hulubalang 5), biduanda 6), sida-sida 7) sekalian adalah tersebut di dalam hikayat itu.

Maka perdana menteri itu pun berkata, "Hai Isma Yatim, pada bicara hamba, jikalau tuan hamba mempersembahkan ke bawah duli daripada emas dan perak atau harta benda niscaya akan hilang. Tambahan pula segala jenis-jenis kekayaan daripada serba bagainya pun adalah pada duli syah alam ini, melainkan inilah yang tiada, karena hikayat ini teramat indah-indah sekali hamba lihat isinya, patutlah segala raja-raja menaruh dia."

Maka tatkala itu berpikirlah Isma Yatim, "Sesungguhnyalah perdana menteri ini orang yang bijaksana tahu ia akan faedah hikayat itu, dan haruslah raja memberi kurnia dan kebesaran akan dia."

Kemudian daripada itu kata perdana menteri itu pula, "Marilah tuan hamba, hamba bawa pergi mengadap yang dipertuan, persembahkan hikayat ini, supaya hamba pun beroleh menumpang kebaktian tuan, sebab bersama-sama membawakan persembahan tuan hamba ini."

Arkian maka Isma Yatim pun dibawa oleh perdana menteri menghadap baginda. Maka pada tatkala itu baginda pun sedang lagi dihadap oleh segala raja-raja dan menteri, hulubalang serta biduanda sekalian. Maka dilihatlah oleh baginda akan perdana menteri datang membawa seorang budak muda belia. Maka segeralah disapa oleh baginda dengan katanya, "Hai perdana menteri, orang muda manakah bersama-sama di belakang tuan hamba itu?"

Maka perdana menteri pun sujudlah seraya berdatang sembah, "Duli tuanku syah alam, inilah budak bernama Isma Yatim, Tuanku." Dan hikayat itu pun dipersembahkannya pada baginda seraya katanya, "Ya Tuanku syah alam, inilah sebuah kitab hikayat karangan Isma Yatim, ia mempersembahkan hikayat ini ke bawah duli Yang Dipertuan."

Maka titah baginda, "Hai Perdana Menteri, bacalah hikayat ini, supaya kita dengar."

Maka dibacalah oleh perdana menteri dengan nyaring suaranya dan didengar oleh baginda akan bunyinya hikayat itu terlalu amat indah-indah sekali karangannya serta dengan tertib susunannya tersangat elok dan semuanya yang diceritakan dalam hikayat itu menyatakan bagaimana adat peraturan dan kelakuan yang patut bagi raja-raja.

Maka baginda pun terlalu amat sukacita hatinya, lalu bertitah seraya memandang muka Isma Yatim, "Hai Isma Yatim, hampirlah engkau kemari!"

Maka Isma Yatim pun sujud menyembah seraya datang hampir dengan hormat takzimnya, lalu duduk dekat baginda. Maka baginda pun memandang muka Isma Yatim itu serta diamat-amatinya seraya berpikir di dalam hati baginda, "Adapun Isma Yatim ini pada pemandangan firasatku 8) orang yang bijaksana."

Maka lalu dianugerahi baginda akan Isma Yatim itu persalin pakaian yang indah-indah dan Isma Yatim pun sujud menyembah menyambut kumia baginda itu dengan sukanya. Setelah itu bertitahlah pula baginda, "Hai Isma Yatim, bahwa engkau ini janganlah pergi ke mana-mana lagi. Duduklah engkau di istana aku 9) telah jadi hambalah engkau kepada aku 10) dari hari ini."

Maka sembahnya, "Duli Tuanku syah alam, mana-mana titah perintah Tuan, patik junjunglah di atas batu kepala patik!"

Setelah itu Isma Yatim pun duduklah di bawah perintah duli baginda itu adanya. Wallahu alam bissawab.***


cited from Bunga Rampai dari Hikayat Lama, Sanusi Pane, hal. 22-25

Download Teks ini KLIK DI SINI

Keterangan:


  1. Petunjuk Allah
  2. Bantuan Nabi kemudian; sekarang banyak juga Muslimin yang berpendapat, bahwa safaat telah diberi Nabi dengan menyampaikian Quran kepada manusia, dengan Hadis-hadis dan contoh teladan dan Nabi tidak akan memberi safaat lagi.
  3. Gelar; kata penunjuk untuk menghonnati (lihat keterangan "Inder Bumaya dan Putri Mandu Ratna) dan itu (terdapat juga dalam "tuan"), yang dihormati. K ialah penutup kata yang sering dipakai; bapak, kakak, adik dan sebagainya. Perkataan datu terdapat dalam kata Jawa kedaton (istana), akan tetapi datu sendiri telah lama tidak dipakai di Jawa, terdesak oleh ratu (d dan r ganti-mengganti; bandingkan
    misalnya dengan dara (melayu) dan rara (Jawa).
  4. Menteri yang pradhana (Sangsekerta), yang pertama. Hanya dalam hikayat, kecuali di Pasai. Menteri kerajaan Melayu yang pertama disebut bendahara (Lihat "Hang Tuah diutus ke Majapahit").
  5. Hulu dan bala, kepada lasykar, opsir; raja yang kecil atau kepala negeri hanya beberapa orang hulubalangnya, sedang lasykarnya tidak ada. Di Aceh uleebalang ialah kepala negeri. Ng. pada akhir kata itu ialah penutup kata (bandingkan) dengan kakang(Jawa,kakak), inang (Bat,.ibu).
  6. Suruhan raja, yang pekerjaannya yang terpenting memelihara dan membawa alat- alat upacara.
  7. Pegawai-pegawai tinggi (bandingkan dengan kata Jawa Kuno sura = ia dengan hormat beliau).
  8. ilmu tenung, terutama tentang nasib seseorang kemudian; kiraan.
  9. biasanya dipendekkan jadi: di istanaku.
  10. biasanya dipendekkan jadi: kepadaku.

Saturday, June 28, 2008

Contoh Esai Sastra

Mencari Penyair dalam Kesusastraan Kita

Oleh Cecep Syamsul Hari


Situasi penyair di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir dalam banyak hal kelihatannya jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan situasi yang dialami para pendahulunya. Ia lebih banyak memperoleh perhatian dibanding sebelumnya dan pada saat yang bersamaan terdapat lebih banyak karya-karya puisi dari para penyair terkemudian, yaitu mereka yang rata-rata usianya saat ini berkisar antara dua puluh hingga tiga puluhan tahun

Selain Media Indonesia yang memposisikan dirinya sebagai surat kabar yang hanya mempublikasikan puisi-puisi dari para penyair yang relatif telah matang, terdapat koran seperti Republika yang membuka rubrik “Orbit” dan “Sirkuit” yang mengakomodasi puluhan penyair dari banyak tempat di Indonesia. Di Bandung, koran terbesar di Jawa Barat, Pikiran Rakyat, membuka lima rubrik yang berbeda, dari mulai “Seuntai Sajak dari Beranda” hingga sajak-sajak pilihan pada suplemen Khazanah. Konon, setiap minggu redaktur budaya koran yang disebut terakhir menerima 120 puisi termasuk dari mereka yang masih belajar menulisnya.

Bahkan, bagi penyair berusia muda dan belum lama menulis puisi, situasi sepuluh tahun terakhir ini juga terlihat jauh lebih menyenangkan. Majalah-majalah atau buletin yang mempublikasikan puisi pun relatif lebih banyak. Demikianlah misalnya, majalah sastra Horison yang terbit di Jakarta dan jurnal delapan halaman Lingkaran yang terbit di Serang dapat hidup berdampingan secara damai di atas meja pembaca puisi dan peneliti sastra.


Situasi yang menyenangkan itu ditandai pula dengan bermunculannya komunitas-komunitas sastra yang bergairah mempublikasikan puisi para penyair yang menjadi bagian atau bukan bagian dari komunitasnya. Sebagai contoh, Forum Sastra Bandung (FSB), Komunitas Sastra Indonesia (KSI, Tangerang), Lingkaran Sastra Serang (List), Cak Foundation (Bali), mempublikasikan sejumlah kumpulan puisi dari para penyair Indonesia yang berproses kreatif dalam sepuluh tahun terakhir ini. Dalam 1996-1997 saja, misalnya, FSB meluncurkan 14 kumpulan puisi tunggal. Pada 1997 KSI meluncurkan Antologi Puisi Indonesia. Sementara itu, List mengakomodasi penyair-penyair setempat untuk mempublikasikan puisi-puisinya, dan Cak Foundation pada 1997 mengundang 31 penyair dari Jawa, Sumatera, Bali dan Makassar untuk menyertakan puisi-puisi mereka dalam sebuah buku antologi puisi dwibahasa. Dalam spektrum yang lebih luas, Teater Utan Kayu (TUK, Jakarta) menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sastra dengan agenda pemikiran yang jelas dan terprogram secara baik. Kita melihat aktivitas-aktivitas serupa dilakukan dengan sejumlah komunitas sastra di Jawa dan Bali.

Pada banyak kasus kita juga sering melihat penyair yang mempublikasikan buku puisinya secara swadaya atau dengan bantuan kawan-kawan dekatnya dan tidak lagi bergantung pada kemurahan hati penerbit meskipun terdapat sejumlah penerbit yang setia menerbitkan buku puisi sebagai program नोंप्रोफित्न्य. Di Bandung hal itu antara lain dilakukan FSB dan aktifis-aktifis sastra idealis seperti Hikmat Gumelar.
Pada banyak kasus sering pula terjadi seorang penyair tidak semata-mata berperan sebagai kreator melainkan berperan pula sebagai penerbit sekaligus penjual bukunya sendiri. Dalam sejumlah esai saya menamakan situasi itu sebagai “kegairahan berpuisi” (passion for poetry) meskipun pola-pola anomali (anomaly patterns) kegairahan itu melahirkan pula puisi-puisi yang secara estetik masih dapat dikatakan banal atau prematur. Secara sosiologis, hal ini dapat dipahami karena pola-pola anomali ini selalui menyertai fenomena sosial apa pun.

**

Kita juga menemukan kenyataan bahwa puisi semakin mengkhalayak. Bertambahnya publik pembaca puisi membawa penyair pada suatu kontak langsung dengan publiknya. Sangat mudah bagi kita untuk menemukan aktivitas pembacaan puisi dalam berbagai-bagai bentuknya, termasuk pada peristiwa nonkesenian. Kerap kita temukan dalam peristiwa sosial-politis, seseorang membaca puisi. Barangkali dalam kasus seperti itu puisi dianggap medium yang tepat untuk mengungkapkan kepedihan (anguish) atau pesan (message) politis tertentu.

Pada sisi lain fenomena “musikalisasi puisi” juga membawa penyair dan karyanya bertemu dengan publik yang lebih luas. Harry Roesli melakukan interpretasi musikal terhadap sejumlah puisi penyair 1990-an. Pada September 1997, Ari Malibu dan kawan-kawan meluncurkan album Akan Kemanakah Angin? yang memusikalisasikan puisi-puisi sejumlah penyair. Terdapat kelompok-kelompok musisi serupa di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta yang bersungguh-sungguh melakukan interpretasi musikal terhadap puisi-puisi penyair 1990-an dan membuka ruang bagi munculnya publik puisi penyair yang lebih luas dan beragam.

Nama-nama seperti Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Agus R. Sarjono, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Joko Pinurbo, Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, Soni Farid Maulana, Warih Wisatsana, untuk menyebut beberapa nama, dikenal publik yang lebih luas dibandingkan dengan para pendahulunya, seperti Slamet Sukirnanto, Ikranagara, bahkan Leon Agusta. “Publik yang lebih luas” yang saya maksud adalah publik yang muncul sebagai resonansi dari fenomena kegairahan berpuisi. Dari segi pemikiran sastrawi pun kita dapat melihat bahwa sejumlah esai penyair Agus R. Sarjono, misalnya, sama kuatnya dengan, dan kadang-kadang lebih kuat dari, pemikiran sastrawi penyair Sutardji Calzoum Bachri.

Juga terdapat kenyataan kecenderungan eksplorasi estetik yang dilakukan sejumlah penyair 1990-an telah melahirkan a new kind of poetry dan juga a new kind of audience.

Acep Zamzam Noor telah sejak lama menemukan dan memapankan puisi-puisinya yang saya sebut journey poetry dengan kualitas estetik yang tinggi. Puisi-puisi yang dia tulis ketika atau setelah melakukan perjalanan di luar negeri semakin memperlihatkan kematangan estetiknya.

Ahmad Syubbanuddin Alwy melakukan pengembaraan estetik yang konsisten dengan terus-menerus mengeksplorasi wilayah makna dari suatu pengetahuan religiusitas yang luas dengan kecintaan yang kuat pada pemilihan diksi dan medan simbolik kepedihan dan kesunyian. Kumpulan puisinya, Bentangan Sunyi (1996), dapat dikatakan sebagai representasi signifikan dari pengembaraan estetiknya. Pengenalan sepintas terhadap struktur dan performansi fisikalnya yang presence di mata publik sering membuat orang mengabaikan keseriusan dan kualitas estetik puisi-puisinya.

Afrizal Malna melahirkan puisi-puisi yang pada kemunculan pertamanya secara estetik sangat mengejutkan dengan spirit menemukan sensation of newness yang melahirkan sejenis puisi yang disebut-sebut “puisi Afrizalian”. Sensation of newness adalah istilah Baudelaire yang diperluas maknanya oleh Theopile Gautier, Paul Verlaine dan Sthepane Mallarmé, yang dengan berbagai-bagai cara memutuskan hubungan dengan tradisi Romantik Eropa dan berusaha melakukan rekonstruksi bahasa yang subjektif yang di kemudian hari menjadi arus utama para pengarang modern seperti TS Eliot (puisi), Henrik Ibsen dan Luigi Pirandello (teater) dan muncul dalam novel-novel psikologis Dostoevsky yang dikemudian hari mempengaruhi karya-karya Joseph Conrad, Thomas Mann, Virginia Woolf, dan Franz Kafka.

Di Indonesia, rekonstruksi bahasa yang subjektif itu pernah dilakukan Armijn Pane (pada novel) dan Chairil Anwar (pada puisi) yang menandai penyebalan mereka berdua dari tradisi Pujangga Baru, “kaum Romantik yang terlambat”. Pada Chairil Anwar rekonstruksi itu dilakukan dengan menegakkan posisi individual dalam tradisi perpuisian modern. Tiga dekade kemudian, Sutardji Calzoum Bachri berusaha melakukan upaya yang serupa. Jika Sutardji berusaha melakukan sensation of newness itu melalui eksplorasi diksional dengan menggali khasanah mantra maka Afrizal Malna menggalinya dari psikologisme biografis manusia kosmopolit.

Agus R. Sarjono menulis puisi-puisinya dengan semangat mendamaikan gaya dan pengucapan estetik Chairil Anwar dan Goenawan Mohamad serta tradisi puisi Indonesia modern dengan tujuan menemukan bentuk pengucapan estetik baru. Kita dapat melihat upaya itu pada mukadimah kumpulan puisinya, Kenduri Airmata (1996): Di pelabuhan kecil senja hari kutemui lagi sajak Goenawan sunyi abadi dalam kristal kata. Tuhan, mengapa kita bisa bahagia pada hidup yang hanya menunda kekalahan dan Atmo Karpo yang terbunuh, meski Rendra jatuh cinta tak henti-henti pada Dik Narti. Terlalu hampir tetapi terlalu sepi tertangkap sekali terlepas kembali bagai Toto Sudarto Bachtiar menggoreskan Etsa bagi ibu kota senja dari sebuah negeri tempat matahari bersinar hanya pada malam hari dan Taufiq Ismail gelisah bermain pingpong dengan bola telur angsa…. Tuan, jangan ganggu permainan Sapardi sebab ada suatu kali tanganku akan jemu terkulai mainan cahaya hilang bentuk remuk…. Tetapi siapa yang melarang orang-orang Rangkasbitung itu bicara? Lihatlah semua seperti bunga di atas batu dibakar sepi bagai Sitor memanggil-manggil Toba dari Samarkand yang jauh hingga antara benua dan benua terbentang rindu samudera. Namun, makin menjauh dari cinta sekolah rendah….

Mukadimah ini dapat dipandang sebagai kredo atas penafsiran yang cerdas terhadap puisi Indonesia modern yang membawa Agus menemukan bentuk pengucapan estetik baru yang menjadi ciri khas puisi-puisinya di kemudian hari.

Puisi-puisi terakhir Joko Pinurbo memperlihatkan kecenderungan yang dihindari para penyair liris. Puisi-puisinya kaya dengan literasi humor yang cerdas, imajinasi yang liar, dan bersifat parodi. Membaca puisi-puisi Joko mengingatkan saya pada penyair parodi Inggris, D.J. Enright. Memasuki wilayah perpuisian seperti ini bukan sesuatu yang mudah. Enright sendiri menulis, “parodi sangat sulit untuk tidak ditulis tetapi menulisnya lebih sulit lagi.” Yang membedakan Joko dengan para penyair Indonesia terdahulu yang pernah membuat puisi-puisi serupa adalah cara berpikirnya yang ketat (rigorous). Sesuatu yang menjadi ciri khas para filosof. Waktu masih sangat panjang bagi Joko untuk mencoba memperkaya dan memperluas wilayah tematik karya-karyanya bagi suatu cara pandang estetik yang telah dipilihnya.

Soni Farid Maulana menulis puisi-puisi kritik sosial dalam cahaya pemikiran Rendra. Namun, pada puisi-puisinya yang kemudian, setidaknya dari yang terlihat dalam Impian Depan Cermin (1997), ia terlihat berusaha untuk kembali pada wilayah tematik yang benar-benar dialaminya dan dapat dikatakan bahwa ia telah menemukan bentuk dan pengucapan sendiri.

Sementara itu, puisi-puisi Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, dan Warih Wisatsana, memperkenalkan suatu cara pandang baru terhadap kosmologi dan tradisi Bali yang selama bertahun-tahun hanya dipandang sebagai entitas eksotik dan turistik. Puisi-puisi mereka memperlihatkan keseriusan yang teguh untuk menilai kembali segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan kosmologi dan tradisi Bali dengan cara yang kritis. Secara estetik, mereka juga telah menemukan bentuk pengucapan mereka sendiri.

Sembilan penyair yang disebutkan di atas merepresentasikan munculnya suatu generasi baru kepenyairan yang mencari dan menemukan pengucapan estetik mereka sendiri dan menempatkan mereka pada posisi yang menonjol (prominent) dalam kesusastraan Indonesia saat ini.

***

Kita menemukan pula kenyataan bahwa generasi baru publik pemerhati (a new kind of audience) puisi telah dilahirkan. Mereka rata-rata berusia muda dan terkadang terlihat nirkritis dalam pengertian akademis. Kita dapat menemukan mereka pada banyak peristiwa pembacaan puisi dan aktivitas kesenian pada umumnya.

Anatomi pendidikan mereka beragam, dari mulai lulusan perguruan tinggi, mahasiswa, santri, hingga pelajar sekolah menengah dan kejuruan. Begitu pula anatomi pekerjaan mereka, tersebar dari mulai artis-selebritis, eksekutif perusahaan, karyawan pabrik, guru, pegawai negeri, pemain sinetron, pedagang, atlet, dan sebagainya. Sebagian dari mereka melibatkan diri ke dalam berbagai-bagai komunitas komunitas sastra. Jumlah anggota komunitas-komunitas itu bervariasi dari hanya sekadar lima orang hingga puluhan orang. Mereka bukan saja pemerhati puisi tetapi dalam derajat tertentu telah menjadi “para pencinta puisi yang keras kepala”. Kita dapat menemukan mereka di banyak kota di Indonesia.

Tentu saja, untuk lebih jauh mengapresiasi situasi puisi dan penyair dalam kesusastraan Indonesia saat ini diperlukan suatu penelitian lebih jauh. Saya berharap tulisan ini dapat dipandang sebagai pendahuluan bagi penelitian dengan subjek yang sama. *

(Media Indonesia, 19 April 1998)

DOWNLOAD esai ini KLIK di sini

Thursday, June 26, 2008

Hikayat Marong Mahawangsa

MENDIRIKAN LANGKASUKA

Marong Mahawangsa dititahkan oleh raja Rum 1)
menemani putranya meminang putri Tiongkok. Dekat
Langka, bekas kerajaan Rawana 2), mereka itu diserang
oleh garuda, yang bermaksud dengan persetujuan Nabi
Sulaiman 3) mempertemukan anak raja Rum dan putri
Tiongkok itu di Langka.
Anak raja Rum itu hilang, diterbangkan garuda itu.
Marong Mahawangsa tidak tahu, bahwa anak raja itu
selamat, dan karena itu dicarinya.


Hatta beberapa hari lamanya raja Marong Mahawangsa mencari anak raja Rum itu dengan kemasygulan yang amat sangat, karena sultan Rum menyerahkan anakandanya itu ke dalam jaganya dan ialah harapan yang besar kepada sultan Rum itu. Maka ratalah sudah disuruh cari oleh raja Marong Mahawangsa kepada segala menteri para penggawa hulubalang, tiada juga bertemu dengan anak raja Rum itu. Maka raja Marong Mahawangsa pun berlayarlah halanya 4), pergi ke timur dengan bahteranya menyusur daratan tanah besar itu, sambil mencari-cari juga akan anak raja Rum itu, kalau-kalau bertemu.

Hatta dengan demikian itu maka sampailah kepada suatu teluk dengan suatu tanjung. Maka raja Marong Mahawangsa pun bertanya pada seorang muallim 5) yang tua di dalam bahtera itu, "Apa nama tempat itu dan apa halnya?" Maka sembah muallim itu, Bahwa 6) pulau yang besar yang baharu hendak bersuatu dengan daratan itu bernama pulau Seri dan sebuah pulau yang kecil dekatnya itu pula bernama pulau Jambul, dan yang arah ke datarannya sedikit itu bernama pulau Lada, tuanku."

Maka titah raja Marong Mahawangsa, "Jikalau demikian, singgahlah kita berlabuh ke timur teluk ujung tanjung di antara tanah besar dengan pulau yang besar itu."

Setelah itu lalu berlayarlah bahtera itu menuju tempat yang dititahkan oleh raja Marong Wangsa itu. Antara berapa ketika lamanya berlayar, maka berlabuhlah bahtera itu, Maka raja Marong Mahawangsa pun dengan segala menteri pegawai hulubalang naiklah ke darat.

Maka tatkala itu datanglah kaum gergasi, orangnya besar-besar, terlalu banyak datang menghadap 7) raja Marong Mahawangsa. Maka oleh raja Marong Mahawangsa pun sudah diketahuinya orang-orang itu bangsanya (Ia pun turunan gergasi, yaitu sebangsa raksasa), lalu ditegurnya serta dengan manis suaranya mengambil hati mereka itu. Maka segala kaum gergasi itu pun sangatlah kasih sayang serta dengan takut dan hormatnya akan raja Marong Mahawangsa itu, karena hebat sikapnya, tiada terlawan pada zaman itu, dan segala yang melihat akan dia takut dan gementar sekaliannya daripada segala bangsa.



Maka titahnya pada segala kaum gergasi yang datang itu, "Adapun beta 8) singgah ini jikalau baik bicaranya maulah beta duduk berhenti di sini dahulu, sementara menanti khabar anak raja Rum itu, kalau-kalau ada hidupnya."

Maka sembah segala kaum gergasi itu, "Patik sekalian pun lebih lagi kesukaan, karena patik-patik sekalian ini tiada menaruh raja pada tempat ini. Jikalau demikian baiklah duli tuanku coba berangkat melihat tanah yang patut tempat tuanku hendak duduk."

Maka raja Marong Mahawangsa pun berjalanlah menyusur mencari tanah tempat hendak membuat kota, parit, balai, istana itu diiringkan oleh menterinya dan segala kaum kerabatnya itu. Maka bertemulah dengan tanah bumi yang baik, terlalulah indah-indah tempatnya dan pemandangan di kelilingnya amatlah permai-permai, tanahnya pun berpasir. Maka tiadalah ia turun ke bahteranya lagi, gila dengan memungut buah-buahan dan membuat kota istana dengan balainya yang terlalu amat besar lagi dengan indahnya.

Setelah sudah kota balai itu, maka dinamai Langkasuka, karena mengerjakan itu disambilkan dengan makan minum dan bersuka-sukaan jua serta dengan beberapa binatang perburuan berjenis-jenis daripada rusa, kijang, napuh, pelanduk, sapi dan lainnya yang dimakan oleh sekalian orang bekerja itu. Maka terlalulah amat kesukaannya sekalian mereka itu dengan tepuk tarinya dan bunyi-bunyiannya karena kaum itu tiada beraja hanya ia sekalian berpenghulu saja dan lagi pun baik budi bahasanya raja Marong Mahawangsa dengan segala menteri para pegawai hulubalang rakyatnya sekalian itu.

Setelah sudah lengkap kota istana dan balai itu, baharulah raja Marong Mahawangsa menitahkan orang menyuruh punggah 9) angkat segala kalkasar 10) serta dengan istrinya sekali disuruh bawa ke istana. Kemudian segala istri hulubalang para pegawai masing-masing berbuatlah rumah dan kampung diaturnya berkeliling kota rajanya. Setelah sudah sekaliannya itu, maka masing-masing pun datanglah menghadap rajanya sehari-hari.

Maka termasyhurlah khabar raja Marong Mahawangsa sudah duduk menjadi raja kepada 11) tempat itu. Maka segala dagang senteri pun bermohonlah datang berniaga ke dalam negeri itu, dan baginda dengan segala menterinya makinlah bertambah-tambah baik budi bahasanya kepada segala isi negeri, dan kesenanganlah segala rakyat mencari makan pergi mari ke negeri itu, tiada pernah teraniaya. Maka banyaklah orang yang berpindah dari luar negeri membawa anak istrinya pergi duduk bersama-sama raja Marong Mahawangsa itu, hingga makin bertambah-tambah rakyatnya daripada sebulan kepada sebulan, daripada setahun kepada setahun, dan makin banyak orang berpindah itu. Maka tetaplah raja Marong Mahawangsa di atas takhta kerajaan dengan adil murahnya. Demikianlah diperintahkan oleh baginda itu tiada lagi berubah melainkan daripada sehari kepada sehari bertambah-tambah kebijakan sahaja di dalam negeri itu.***

cited from Bunga Rampai dari Hikayat Lama, Sanusi Pane hal. 19-21

Download Teks Hikayat ini KLIK DI SINI

CATATAN:

Hikayat yang terutama menceritakan riwayat kerajaan Kedah ini, diterbitkan dengan huruf Latin oleh A.J. Sturrock dalam "Journal of the Straits Branch of the Royal Asiatic Society", Nr. 72,1916. Dalam "Chanai Bachaan", yang diusahakan oleh "Pejabatan karang-mengarang di Sulthan Idris Training College", Tanjung Malin, dimuat sebahagian (dengan huruf Arab), akan tetapi ada bedanya di sana sini dengan penerbitan yang tersebut di atas itu.
Kutipan ini dari "Chanai Bachaan" itu.

  1. Biasanya Rum Timur, Byzantium.
  2. Lihat "Sri Rama mencari Sita Dewi".
  3. Hewan pun tunduk kepadanya.
  4. Arahnya; haluannya.
  5. Orang pandai di sini; juru mudi.
  6. Perkataan orang kadang-kadang mulai dengan "bahwa" dalam cerita Melayu sedang sebenarnya "bahwa" harus hanya dipakai kalau perkataan orang itu tidak dikutip, melainkan diberitahukan dalam kalimat sendiri.
  7. Ditulis demikian dalam naskah. Sering juga ditulis: menghadap.
  8. Dari bahasa Hindustan; hamba sahaya, budak. Tidak dipakai sehari-hari, kecuali antara orang Ambon.
  9. Bongkar.
  10. Kalkausar, kalikausar, kulakasar, kalangkasar = muatan. Asal katanya kauthai (bahasa Arab), sungai atau telaga di surga, yang lehih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu, di tepinya beridiri mahligai-mahligai manikam. Kal di muka kata itu rupa-rupanya kata Arab ka (Malayu: mu) dan al (kata penunjuk). Dikira orang kedua kata itu pun bahagian nama sungai,atau telaga itu, karena dalam ayat
    Quran tentang kauthar itu nama itu didahului kedua kata itu (CVIII: I). Kali barangkali kata Jawa, sungai. Sekarang banyak orang menafsirkan kauthar "bahagia".

Monday, June 23, 2008

Sapardi Djoko D Surat

Cerpen Sapardi Djoko Damono
SURAT
Tolong sampaikan kepada Seno bahwa suratnya sudah kuterima. Lengkap dengan potongan langit yang diselipkan dengan sangat hati-hati di lipatan kertas suratnya yang berwama merah jambu. Menakjubkan. Langit itu, maksudku. Dan warna surat itu mengingatkanku pada masa remajaku ketika kami suka menghubung-hubungkan wama dengan maksud tertentu yang disembunyikan di balik surat itu. Sepotong langit, serpihan mega yang mengambang, sedikit ujung bukit yang kena gunting, dan beberapa ekor burung yang kebetulan melintas dan tidak bisa menghidarkan diri dari guntingnya itu.

Sambil terus melihat lembaran potongan langit itu, aku melongok kejendela dan kusaksikan - sungguh! - bahwa langit yang di luar sana masih tetap seperti biasa. Utuh. Lengkap dengan awan putihnya, sempuma dengan wama kebiruannya, dan sesekali dilintasi juga oleh beberapa ekor burung - entah apa namanya. Aku hampir tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan langitnya, setelah sebagian digunting untuk diselipkan dalam surat yang dikirimkannya kepadaku ini. Aku membayangkan rasa sakit yang tak ada batasnya yang telah menimpa langit itu, sementara sebagian pesonanya diambil hanya untuk menyiratkan cintanya padaku. Aku masih perawan, namun sering mendengar dari ibu betapa sakitnya ketika melahirkanku. Itulah yang kubayangkan dirasakan langitnya ketika dimanfaatkannya untuk melahirkan cintanya padaku.


Katakan padanya, apa begitu periu menggunting seserpih langit itu, kalau sekedar untuk membujuk - katakanlah, memaksa - seorang gadis seperti aku ini agar yakin bahwa cintanya seperti langit itu. Langitnya pasti menderita, tidak seperti langit di sini yang utuh dan entah sampai kapan tak habis-habisnya memandang dengan penuh kebahagiaan segala tindakan kita. Tolong tanyakan padanya, apakah langit itu merintih dan mengeluarkan darah ketika diguntingnya? Apakah langit itu kejang-kejang karena menahan sakit yang tak ada batasnya? Apakah langit itu mengeras menahan air mata? Aku tidak berani membayangkan penderitaannya.

Tolong sampaikan pada Seno bahwa aku sudah menghayati cintanya, tanpa potongan langit itu pun. Sudah. Hanya saja aku harus menghancurkan serpihan langitnya itu agar tidak memburu-buru bayanganku tentangnya. Tapi apakah itu sopan? Apakah itu tidak berarti mengkhianati cintanya padaku? Aku bingung, tapi bagaimanapun aku harus segera membakamya, bersama suratnya yang berwama merahjambu itu. Aku tidak tahan lagi membayangkan rasa sakit langit itu.

Malam ini kubawa surat dan gambar itu ke pekarangan sebelah; tak ada seorang pun saksi. Kurobek-robek surat itu. Kunyalakan korek api, tetapi kemudian aku tiba-tiba jadi ragu-ragu. Kukumpulkan kembali robekan-robekan surat dan gambar itu, kususun seperti teka-teki potongan gambar, lalu kuperhatikan - dan seketika rasa sakitku bergolak, seperti apa yang kubayangkan tentang langitnya itu. Aku harus tabah. Harus. Tak ada pilihan lain. Harus membakar surat itu agar langitnya yang indah itu kembali seperti sedia kala. Maka kunyalakan korek api itu lagi.

Nyala apinya seperti bianglala: merah, oren, kuning, biru, hijau, indigo, violet. Tidak melengkung tetapi membumbung ke atas. Tetapi tiba-tiba saja aku merasa telah menjadi pengkhianat. Telah memusnahkan cinta, keindahan, harapan, dan masa depan. Telah menjadi manusia yang seburuk-buruknya di dunia, yang sejahat-jahatnya, yang entah apa. Aku tiba-tiba berharap agar dari asap itu muncul bayangannya, bagaikan burung punik yang dengan perkasa melesat dari kobaran api. Aku satukan jari-jari tanganku, kutengadahkan kepalaku. Kutatap tajam langitku yang dulu itu juga, yang tidak pernah mengkhianati harapanku. Tetapi api itu tetap membumbung, semakin mirip bianglala. Dan aku terns menunggu.

Sampaikan kepada Seno bahwa aku akan terns menunggu kobaran itu sampai diriku menjelma asap, menyatu dengan bianglala itu, membumbung ke langit yang setia, yang tidak pemah meninggalkanku.***

Saturday, June 21, 2008

Jalan Tak Ada Ujung

Sinopsis Novel Jalan Tak Ada Ujung
Novel karya Mochtar Lubis ini pertama kali diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka tahun 1952. Novel ini berkisah tentang ketakutan seorang guru bernama Isa. Guru Isa adalah tamatan HIK dan menjadi guru Sekolah Rakyat di Tanah Abang. Selain dikenal dengan kebaikannya, guru Isa juga memiliki sifat yang lembut, Ia sangat gemar bermain musik dan sepak bola. Meski begitu, guru Isa memiliki kelemahan yakni: ia sering mengalami ketakutan. Secara ringkas, kisah novel ini adalah sebagai berikut.

Guru Isa sudah lama menikah dengan Fatimah, namun mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Hal ini disebabkan Guru Isa menderita impoten. Maka atas persetujuan bersama, mereka memungut Salim sebagai anak. Keadaan lemah tenaga itu membuat Guru Isa sangat terganggu dan menjadi minder.

Waktu itu masa revolusi. Seorang pejuang yang cukup gigih, bernama Hazil, akhimya dapat berkenalan dengan Guru Isa, karena mereka mempunyai kegemaran yang sama, yaitu bermain biola. Pergaulannya semakin akrab, sehingga Guru Isa diajak ikut berjuang. Namun karena penyakitnya, Guru Isa tidak berani. Ia paling tidak suka kekerasan dan paling benci melihat orang berkelahi.

Karena ia seorang guru yang tak bakal dicurigai, maka Hazil memberi tugas kepadanya untuk menjadi kurir, yang mengantar senjata dan surat-surat kepada rekan seperjuangannya. Ketakutan Guru Isa bukanlah merupakan alasan untuk menolaknya. Setelah didorong oleh banyak pihak, dan juga isterinya, maka dengan berat hati tugas itu pun diterimanya.

Persahabatan yang kontras itu dirasakan ganjil oleh Guru Isa. Hazil yang kurus, penuh semangat perjuangan, sedangkan dirinya lemah, selalu ragu-ragu dan takut. Ia merasa ngeri menyaksikan pertumpahan darah di medan laga. Maka mimpi-mimpi buruk selalu menghantuinya. Meskipun ia ingin menampakkan cintanya terhadap isterinya, namun tugas sebagai agen rahasia itu dirasanya cukup berat.

Dalam tugas itu Guru Isa dan Hazil mendapat bantuan dari Tuan Hamidi. Mereka harus membawa senjata-senjata yang sangat diperlukan. Bertiga dengan sopir, mereka menuju Manggarai. Di sana senjata tersebut ditunggu oleh Rahmat, Ontong dan kawan-kawan. Guru Isa menyaksikan sendiri, bahwa di sana Ontong bersama 2 teman lainnya melakukan pembunuhan yang keji terhadap dua orang Tionghoa yang dianggap sebagai mata-mata musuh. Ketakutan dan kengerian sangat mengganggu jiwa Guru Isa. Maka Guru Isa mengusulkan kepada Hazil agar Ontong dan kawannya diberantas saja, sebab ia berpendapat tak baik mencampuradukan perjuangan dan pembunuhan. Hazil tak dapat berbuat apa-apa.

Pada bulan Januari Rahmat mengantarkan surat Hazil untuk Guru Isa. Saat membaca surat dari Karawang itu, Guru Saleh, teman Guru Isa datang. Guru Saleh mengabarkan bahwa dia akan mengungsi, karena tak betah dengan kerusuhan dan kekacauan di daerah tempat tinggalnya. Mendengar hal itu Guru Isa ikut bergembira, sebab ternyata temannya sendiri juga takut kepada revolusi. Ia pun timbul niat untuk mengungsi.

Dalam suratnya Hasil mengatakan bahwa banyak orang melakukan pembunuhan dengan kedok perjuangan hanya untuk mencari keuntungan sendiri. Pembunuhan kejam dan tak beralasan banyak dilakukan laskar rakyat. Selama sebulan Hazil menghilang, karena dicari oleh Nefis dan Vield, sekutu Inggris. Kebimbangan dalam hati Hazil muncul. Namun segera ditetapkan hatinya, Jalan yang tak ada ujung, yang telah dipilihnya harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Ia kembali ke Jakarta.

Guru Isa harus menerima tugas baru sebagai pemegang dana untuk Jakarta. Meskipun dengan susah payah ia menolaknya, namun karena didesak, ia pun tak kuasa, Penggeladahan oleh Serdadu-serdadu Nica di daerah itu semakin gencar. Penduduk semakin gelisah. Mereka pun mengungsi, termasuk Tuan Hamidi. Guru Isa pun ingin mengungsi. Ia mengajak Fatimah, namun istrinya menolaknya. Karena kegelisahan jiwa yang terus beruntun, maka Guru Isa pun jatuh sakit. Hazil sering berkunjung ke rumah Guru Isa. Maka terjadilah hubungan asmara antara Hazil dan Fatimah. Akhimya perbuatan itu pun diketahui Guru Isa, ketika ia menemukan pipa rokok Hasil di bawah bantal. Guru Isa sangat marah, namun ia tak dapat berbuat apa-apa.

Hazil, Rahmat dan kawan-kawan semakin berani melakukan penyerangan kepada Belanda. Mereka merencanakan akan melempar granat. Guru Isa perlu ikut untuk menyaksikan apakah mereka berhasil tertangkap ataukah tertembak mati di tempat itu, lalu ia harus melaporkan hasilnya. Bila mereka tidak berhasil, maka Guru Isa akan terus pulang, dan menunggu hingga salah seorang dari mereka datang padanya. Jika dalam tempo dua hari Guru Isa tidak mendapat kabar, maka itu berarti bahwa mereka tertangkap. Guru Isa harus melaporkannya ke markas di Krawang.

Guru Isa semakin renggang dengan Fatimah. Kebenciannya sering muncul, namun sering juga luluh kembali Ketakutan demi ketakutan semakin menghantuinya. Hidup dan tidurnya selalu diganggu oleh mimpi-mimpi buruk yang mengerikan.

Seminggu setelah penyerangan itu, Guru Isa membaca koran bahwa salah seorang pelempar granat tangan tertangkap. Guru Isa panik. Tubuhnya kaku dan dingin, kemudian ia pingsan. Setelah siumam ia berpikir, siapakah sebenarnya yang tertangkap: Hazil ataukah Rahmat. Apakah dia juga akan tertangkap? Hari ketiga setelah peristiwa itu datang polisi militer menangkapnya. Ia pun dijebloskan ke dalam penjara. Di dalam tahanan itu ia bertemu dengan Hazil yang telah rusak tersiksa. Betapa kecewanya Guru Isa ketika mengetahui Hazil telah berkhianat hanya karena tidak tahan menerima siksaan. Kekaguman Isa terhadap Hazil luntur sudah. Ia bahkan kini menjadi tidak takut lagi menghadapi siksaan yang akan diterimanya. Isa mulai dapat menepis ketakutan-ketakutan yang sering menghantuinya. Di saat itu pula, kelaki-lakiannya yang selama ini mati justru muncul kembali. Ia merasakan darah mengaliri dirinya. Membuat dia percaya diri, dan impotensinya hilang. Kini ia tak lagi impoten. Pada saat-saat itu kerinduaan akan Fatimah begitu mendalam. Ia ingin menunjukkan kepada Fatimah bahwa ia sudah kembali perkasa. Ia berharap kehidupan rumah tangganya akan bahagian bersama Fatimah selepas dari penjara itu.***

Download? Klik di sini
Lihat novel lain di sini

Thursday, June 19, 2008

Piek Ardjianto Soeprijadi

Perkutut

burung perkutut di ladang berumput
nebar berkawan menelani kerikil
kami segan memasang pulut
memikat burung begitu mungil

bebaslah perkutut beterbangan
buat apa kau kujadikan piaraan
manggung di sangkar keemasan
menghabiskan makanan

perkutut-perkutut di cabang trembesi
hinggap berkawan menatap sawang
manggunglah merdu sepuas hati
menghibur kami kerja di ladang




Kutilang


burung kutilang di cabangsabrang
kicaunya nyaring menebari muka ladang
kicaunya nyaring menyambut pagi datang
kicaunya nyaring mengantar hari petang

burung kutilang mematuki nangkasabrang masak
betapa girang terbang menggelepar sejenak
anak-anak mengintai dari balik belukar
bila tertangkap dipiara dalam sangkar

kicau kutilang pagi hari
melecuti hati petani
memperbanyak hasil bumi

kicau kutilang petang hari
mengusapi hati petani
berlepas lelah di desa sepi

Download puisi ini 
KLIK di sini

Monday, June 16, 2008

Maria Amin (Tuan, Turut Merasakan)

TUAN, TURUTLAH MERASAKAN

Sudahkah pernah tuan melihat awan putih berarak-arak merupakan tumpukan benda-benda bermacam-macam bentuk, di langit biru lazwardi?

Perhatikanlah!

Sebentar saja?

Jangan, tuan. Benda putih itu berkaki, berekor, bergigi, berkumis, bergombak. Mata yang galak itu hendak menerkam. Lihatlah, dia bergerak perlahan-lahan dengan hati-hati. Terharu jiwa melihatnya.

Aduuh... janganlah, janganlah, janganlah menjadi benda yang berdarah, berdaging, berbulu dan bergigi, dan akan menjadi sebesar yang dibentukkan awan itu.

Bagaimanakah? Bagaimana?

Heningkanlah sebentar tuan, heningkanlah, sabar-sabar, sabar dahulu. Mata jangan tuan kejapkan. Pandanglah terus ke benda itu, nyata-nyata.

Jangan tuan lengah dari memandang benda itu. Jangan, jangan! Jika tuan lengah dan takut, benda tadi menjadi pokok dan sari ingatan tuan, pun 'kan jadi dasar kalbu jiwa tuan.

Tuan lihat terus kepada gerak benda tadi, ia membentuk perlahan-lahan.

Lihatlah tuan, mata singa yang menakutkan tuan menjadi mata si Bintang Timur. Gombaknya menjadi rambut mayang mengurai.

Kuku yang tajam melekat rapat pada kaki binatang itu, yang seakan-akan hendak menerkam, merupakan jari si Bulu Landak, hendak membelai rambut kekasihnya.

Ekor yang mengibas-ngibas oleh kepanasan karena hendak menerkam mangsanya, menjadi selendang sutra satin melilit tubuh Dewi juita.

Perut singa yang kempis lapar dan haus oleh daging dan darah mangsanya itu, meramping bagus tubuh Dewi. Jalannya melenggang lenggok mengayun lemah, menghauskan kita ke anggur piala asmara.

Dewi berangsur hendak terbang perlahan-lahan, hendak mengintip dunia.

Tuan, masih tuan lihat itu? Tuan pandanglah terus, pandanglah, pandanglah, nyata, nyata-nyata, pandanglah, seperti tuan memandang singa tadi.

Dan selalu tiap-tiap tuan melihat itu janganlah lupa kepada tiap-tiap bentuk yang terjadi, menjadikan gedung ingatan tuan.

Dan janganlah tuan lupa gedung itu akan tidak tinggal selama-lamanya menjadi gedung ingatan tuan.

Tahukah tuan apa yang menjadikan gedung ingatan tuan?

Tuan, gedung ingatan tuan pada bentukan yang menjadikan benda tadi, oleh dan dari alam kenyataan yang tuan lihat.

Tuhan, aku akan terus-terus melihat dan akan merasakan.

Friday, June 13, 2008

Indonesia Tumpah Darahku

Puisi Muhammad Yamim

INDONESIA, TUMPAH DARAHKU
Bersatu kita teguh
Bercerai kita jatuh


Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai,
Tampaklah pulau di lautan hijau,
Gunung gemunung bagus rupanya,
Dilingkari air mulia tampaknya:
Tumpah darahku Indonesia namanya.

Lihatlah kelapa melambai-lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-berai
Memagar daratan aman kelihatan;
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejari bumi ayah dan ibu,
Indonesia namanya, tanah airku.

Tanahku bercerai seberang-menyeberang
Merapung di air malam dan siang
Sebagai telaga dihiasi kiambang,
Sejak malam di hari kelam
Sampai purnama terang benderang;
Di sanalah bangsaku gerangan menompang
Selama berteduh di 'alam nan lapang.



Tumpah darah Nusa-India
Dalam hatiku selalu mulia
Dijunjung tinggi atas kepala
Semenjak diri lahir ke bumi
Sampai bercerai badan dan nyawa
Karena kita sedarah-sebangsa
Bertanah air di-Indonesia.

Bangsa Indonesia bagiku mulia
Terjunjung tinggi pagi dan senja,
Sejak syamsiar di langit nirmala
Sampaikan malam di hari kelam
Penuh berbintang cahaya bulan;
Mengapatah mulai, handai dan taulan,
Badan dan nyawa ia pancarkan.

Selama metari di alam beredar
Bulan dan bintang di langit berkisar
Kepada bangsaku berani berikrar;
Selama awan putih gemawan
Memayungi telaga ombak-ombakan,
Selama itu bangsaku muliawan
Kepada jiwanya kami setiawan.

Ke Indonesia kami setia
Di manakah ia di hatiku lupa,
Jikalau darah di badan dan muka
Berasal gerangan di tanah awal;
Sekiranya selasih batang kemboja
Banyak kulihat ditentang mata
Menutupi mejan ayah dan bunda?

Di batasan lautan penuh gelombang,
Mendekati pantai buih berjuang,
Terberai tanahku gewang-gemewang
Sebagai intan jatuh terberai
Dilingkari kerambil lambai-melambai
Menyanyikan lagu dan indah permai
Di sela ombak memecah ke pantai.

Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai,
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya,
Dilingkari air mulia tampaknya:
Tumpah darahku Indonesia namanya.

Memandang 'alam demikian indahnya
Ditutupi langit dengan awannya
Berbilaikan buih putih rupanya,
Rindulah badan ingin dan rewan,
Terkenangkan negeri dengan bangsanya
Berumah tangga selama-lamanya
Penuh peruntungan berbagai sejarahnya.
(oi... masih ada 78 bait lagi lho. udah capek...)
Pasundan, 26 Oktober 1928

Wednesday, June 11, 2008

Alih alih

Alih-alih

Cerpen Pipiet Senja


Tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh suara-suara keras, membentak dan menghardik. Oh, lebih dari itu, mereka pun memaki-maki, menyumpahi, menyerapah dan... Deeesss! Sebuah sikutan sangat keras telak sekali menghantam tulang iganya.

"Waaa... sakiiit!" Dia menjerit kaget.

"Cepat sereeet! Keluaaar!"

"Sebentar, sebentar... kalian siapa?"

"Keluarkan dia dari pesawaaat!"

"Iya, nanti bomnya keburu diledakkan di sini!"

Dia yakin, beberapa menit berselang dirinya ketiduran, melayang-layang di zona penerbangan antara India dengan Indonesia. Dia juga masih ingat, teman perjalanan di sebelahnya adalah seorang wanita 40-an, berwajah cantik, anggun dan terkesan perkasa. Sosoknya mengingatkan dia kepada pejuang wanita Cut Nyak Dhien.

Mereka sempat ngobrol ngalor-ngidul, dan dia langsung mengagumi retorika serta semangatnya. Siapapun yang bersinggungan secara santun dengannya, niscaya orang itu bisa ikut merasai daya juang yang dimilikinya. Dia sendiri saat itu lebih banyak mendengar, membiarkannya memegang kendali perbincangan. Sesungguhnya topik percakapan mereka telah menyentuh ke persoalan kemanusiaan, penderitaan, ketakadilan dan ketertindasan bangsa-bangsa di dunia ketiga.

Sekarang matanya benar-benar sudah melek. Tak ada lagi teman perjalanan bersahabat yang pernah dikenalnya itu. Dia mulai menghitung, ternyata ada lusinan orang berseragam mengelilinginya. Sikap lelaki-lelaki berotot itu sungguh tak bersahabat. Dan peralatan yang mereka bawa, apa itu? Mirip pasukan gegana saja. Hanya dalam hitungan menit, mereka telah menggiringnya keluar pesawat. Tak ada siapapun lagi dalam pesawat, kecuali dirinya dengan orang-orang berseragam yang berangasan itu!

Seketika dia tak dapat merasakan kakinya menjejak lagi ke bumi. Dua orang berseragam telah menyeret dan menyeretnya terus, bahkan kemudian mengangkatnya. Tepatnya, dua orang berseragam serba hitam itu tak membiarkannya menginjakkan kakinya kembali ke bumi.

Di luar malam menyambutnya dalam hening yang mencekam. Terawangannya kembali mengapung di tampuk matanya. Lihatlah di sekitar bandara ini. Bola-bola lampu bagaikan mata penonton yang berkedap-kedip, menyaksikan dirinya, teman-temannya melenggak-lenggok memamerkan kemolekan tubuh. Peragaan bikini di kolam renang, wawancara yang disorot kamera dunia, perpaduan antara kecantikan dan kecemerlangan otak. Bukankah itu suatu hal yang sangat membanggakan?

Meskipun kemudian diberi tahu oleh adiknya bahwa keberadaannya di ajang internasional diprotes berbagai kalangan. Tapi dia tenang-tenang saja, apalagi saat mendapat aliran semangat dari para seniornya. Baik melalui sms maupun telepon langsung dan imel.

"Biarkan gukguk menggonggong."

"Kamu bukan bagian dari gukguk itu."

"Maka tetaplah melangkah!"

"Ratu Sejagat... hiduuup!"

Tentu saja aku hidup, teriaknya dalam hati. Buktinya sekarang ia bisa merasai tindak kekerasan dan pelecehan. Dan ia tersentak dalam kubangan kemasygulan. Dunia glamor telah berlepasan satu per satu, repih demi repih dari tangannya. Hanya menyisakan kenangan semata dalam otaknya! Mereka menyeretnya terus, semakin cepat dan kasar, tubuhnya serasa lemas, kaki-kakinya sungguh tak menapak lagi. Dia masih bisa mendengar si komandan terus saja menyerukan perintah pengamanan, pengendalian, dan segalanya yang tak ada hubungannya dengan dirinya.

Seharusnya aku disambut meriah, gerutunya dalam hati. Bukankah panitia pernah menjanjikan gelar konferensi pers, diliput berbagai media massa. Tidak, tak ada penyambutan meriah kecuali sepasukan mengerikan dan teror! Ruang karantina imigrasi. Jelas, mereka telah salah tangkap. Memangnya siapa aku yang telah bikin pasukan keamanan Ibukota geger dan seheboh itu melakukan pengamanan seluruh kawasan Bandara Sukarno-Hatta? Sejuta tanya hanya berloncatan dalam hati. Kepalanya mulai mereka-reka, apa sesungguhnya yang mereka harapkan dari dirinya? Penghargaan, trophi dan bingkisan-bingkisan yang diberikan para sponsor? Semuanya masih di bagasi. Ia tak menemukan apapun di otaknya selain dampak kekacauan yang telah dijejakkan pasukan itu dalam sepuluh menit terakhir. Apakah dirinya harus menyerah begitu saja? Bukankah ini bukti nyata dari ketakadilan, ketertindasan tanpa hukum dan kebenaran? Tanpa bisa ditolak lagi, interegosi pun dimulai.

"Duduuuk!"

"Eeeh... ya, duduk ya duduk."

"Jangan berlagak pilon! Kami tahu benar, Saudari ini seorang intelektual yang brilian. Saudari baru pulang dari Arab Saudi, mengikuti konferensi tingkat dunia."

"Kalian salah tangkap!" serunya tertahan, dadanya mulai terasa sesak. "Kami benar! Ini coba dengar data Saudari yang ada di tangan kami. Nama Ummu Kulsum alias Al Hamasah. Umur 42 tahun, kelahiran Palestina, dibesarkan di Perancis."

"Bukan! Namaku Siti, gak pakai alias-aliasan! Nanti kujelaskan! Pokoknya nama asliku Siti binti Sarjang. Biar keren dan marketable, kata agenku, diganti menjadi Kristinasari. Umurku gak setua itu, apa kalian gak bisa lihat penampilanku?"

"Diaaam!"

"Aku ini asli orang Sunda, desaku di Tanjungkerta, rumah dan keluargaku di Gunung Halu."

"Sudaaah! Tutup mulut!"

"Aku kuliah di Bandung, lagi nyiapin skripsi waktu datang undangan ikut kontes Puteri Indonesia. Aku menang, kalian tahu kaaan? Aku ini Puteri Indonesia yang diselundupkan ke mancanegara untuk mengikuti kontes Ratu Sejagat!"

Ia menceracau tanpa henti. Ia masih berharap suaranya didengar dan dicermati oleh seseorang yang bisa memahami kondisinya. Ia juga berharap bisa melihat sosok lain yang lebih bersahabat. Tidak ada! Ruangan ini sangat tertutup. Apakah ini ruang interogasi khusus untuk para penyelundup, pendatang haram, kriminal dan buronan internasional. Bulu kuduknya seketika meremang hebat! "Percuma saja bicara dengan kalian." Ia bangkit, mengitarkan pandangnya kembali ke sekelilingnya. Lelaki-lelaki itu memiliki tatapan yang dingin, sangat dingin dan kaku sekali. Tak ada kompromi di sini!

"Duduk! Saudari mau ke mana?" perintah lelaki paling berkharisma di antara selusin lelaki berseragam dalam ruangan itu.

"Aku bukan orang yang kalian cari!" Ia berdiri tegak, meskipun dipelototi para lelaki yang siap secara maraton menginterogasinya. Seseorang kembali menghentakkan bahu-bahunya dengan kasar sekali, sehingga ia kembali terhenyak di bangku jelek yang keras.

"Kita kembali ke awal, ya. Kami harap Saudari bisa kerja sama. Nama Saudari? Kenapa nama kerennya seperti nonmuslim?"

"Sudah kubilang tadi, itu nama bikinan agenku."

"Tempat dan tanggal lahir?"

"Kalian sudah tahu itu!" ketusnya sebal sekali.

"Iya, ini biar dicocokkan!" sergah si wibawa, ia baru mencermatinya, kepala besar, kumis baplang, perawakan tinggi dan buket! Iya, bau ketek! "Tempat kelahiranku di Gunung Halu, 17 Nopember."

"Pasti tahun 1961!"

"Bukan, aku kelahiran 1981!" Ia melihat orang-orang itu saling pandang dengan tatapan sinis. Ada juga yang geleng-geleng kepala dan berdecak. Seakan-akan mereka mulai yakin ada yang tak beres di otaknya.

Menit demi menit berlalu, beranjak pula menjadi jam demi jam yang seolah-olah sangat enggan bergeming. Sepanjang sisa malam itu, akhirnya, mereka habiskan di ruang interogasi. Pertanyaan memutar-mutar, nyaris tak bergeser dari identitas dirinya, dan aktivitas yang digelutinya. Ia merasa telah menghabiskan seluruh enerjinya, tatkala menyadari malam telah merayap ke ujung dinihari. Begitu banyak pertanyaan dilontarkan, tapi tak satu pun yang bisa dijawabnya dengan benar.

"Aku gak paham dengan jalan pikiran kalian! Bagaimana mungkin aku diposisikan sebagai seorang teroris?" "Saudari memang teroris yang lagi dicari-cari dunia internasional!"

Mereka menjebloskannya ke sebuah ruangan sempit, pengap dan bau kecoa. Sejak saat itu jam demi jam berdetak-detik dengan sangat tak karuan. Kegemparan menguntit bayangnya ke mana pun dirinya bergerak. Tidak, bukan bayangan realita. Karena di ruang sempit dan pengap itu sama sekali tak ada sepotong cermin sekalipun.

Pada hari ketujuh, tatkala dia nyaris putus asa, datanglah seorang petugas yang mengeluarkannya dari ruangan pengap. banyak kecoa dan tikus yang berseliweran di situ. Di sebuah ruangan serba hijau dengan bola lampu khusus untuk interogasi, seorang lelaki berkepala plontos telah menantinya.

"Kami akan melepaskan Saudari dengan syarat Anda mengakui segalanya. Tentang identitas Anda, aktivitas.... Semuanya sudah kami konfirmasi. Mereka menyatakan tak punya sangkut-paut apapun dengan Anda. Ini surat pernyataan dari orang-orang yang Saudari sebut sebagai agen dan panitia." Lelaki itu memamerkan berkas-berkas di atas mejanya.

Dia, perempuan yang telah disekap di ruang karantina Cengkareng itu, segera mencermatinya, dua lembar surat pernyataan dengan stempel berarti resmi. "Kami akan mendeportasi Saudari ke Amerika!"

Beberapa saat kemudian segalanya berlangsung begitu superkilat. Ia dikawal ketat pasukan anti-teroris, menuju sebuah pesawat berbendera Amerika. Sia-sia ia menjeritkan protesnya, karena mulutnya kini diberangus bak seekor hyena liar yang bisa membahayakan sekitarnya. Jarak dirinya bersama para pengawalnya semakin dekat dengan pesawat itu, semakin dekat, semakin dekat.... Sebuah suara berteriak dari kejauhan!

"Alooow... Ummu Kulsum selamat jalaaan!" Ia menoleh, matanya membelalak lebar. Sosok itu, gadis cantik bertubuh ramping dengan rambut ikal mayang itu, bukankah itu dirinya? Mengapa ia berada di seberang sana bersama rombongan kecil. Bukankah itu adiknya, Asep bin Sarjang? Jay Julian dan Marcelina Gurindam?

Sebelum ia sempat bereaksi atas sensasi itu, mereka telah mengangkatnya tinggi-tinggi dan melemparkannya ke pintu pesawat. Dan di sanalah, di pintu pesawat yang ada cerminnya itu, matanya menangkap sosoknya saat ini; seorang perempuan berumur 42-an, berwajah anggun dan terkesan perkasa.***

Dimuat di Republika 11/12/2006

Tuesday, June 10, 2008

Frans Nadjira

Jendela
Geser sedikit tirai itu
agar cahaya matahari dapat langsung
masuk ke dalam kamarku sebab biasanya
ia pada saat-saat seperti ini akan
bermain-main di atas tempat tidurku
menyibakkan gaunku
dan dengan kekurangajaran yang kusukai
ia akan mengintai ke dalam
celah pahaku mungkin merenung sejenak sebelum
bertanya:
"Kehidupan bagaimanakah yang
akan lahir dari tempat ini?"

Karena itu tolong geser sedikit
tirai itu biar ia masuk sebelum
Bidan itu datang.



Sajak Kampuchea
Satu garis lagi
Selesailah gambar mata air ini.

Di mana pintu gua yang sering kumasuki ketika
masa kanakku? Jalan naik tertimbun daun sulit
membedakannya dari lumut. Tapi kuyakin getaran
lemah itu suara camar-camar haus mempertengkarkan
setetes air. Tak seekor akan kembali, sahabatku.
Muntahlah, keluarkan peluru yang ada dalam mulutmu.
Bumi panas tapi tak cukup untuk menetaskan sebutir

telur.

Satu baris lagi
Selesailah sajak air mata ini.
Cited from Horison Sastra Indonesia Jilid 1 hal. 281-282

Saturday, June 07, 2008

Mohammad Yamin

TANAH AIR
Di atas batasan Bukit Barisan
Memandang beta ke bawah memandang:
Tampaklah hutan rimba dan ngarai
Lagipun sawah, telaga nan permai:
Serta gerangan lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku
Sumatra namanya tumpah darahku.

Indah 'alam warna pualam
Tempat moyangku nyawa tertumpang;
Walau berabad sudahlah lampau
Menutupi Andalas di waktu nan silau
Masih kubaca di segenap mejan
Segala kebaktian seluruh zaman,
Serta perbuatan yang mulia-hartawan
Nan ditanam segala-ninikku
Dikorong kampung hak milikku


Rindu di gunung duduk bermenung
Terkenangkah masa yang sudah lindang;
Sesudah melihat pandang dan tilik
Timur dan Barat, hilir dan mudik,
Teringatlah pulau tempat terdidik
Dilumuri darah bertitik-titik,
Semasa pulai berpangkat naik:
O, Bangsaku, selagi tenaga
Nan dipintanya berkenan juga.

Gunung dan bukit bukan sedikit
Melengkung di taman bergelung-gelung
Memagari dataran beberapa lembah;
Di sanalah penduduk tegak dan rebah
Sejak beliung dapat merambah

Sampai ke zaman sudah berubah:
Sabas Andalas, bunga bergubah
Mari kujunjung, mari kusembah
Hatiku sedikit haram berubah!

Anak Perca kalbunya cuaca
Apabila terkenang waktu nan hilang,
Karena kami anak Andalas
Sejak dahulu sampai ke atas
Akan seia sehidup semati
Sekata sekumpul seikat sehati
Senyawa sebadan sungguh sejati
Baik di dalam bersuka raya
Ataupun diserang bala bahaya.

Hilang bangsa bergantikan bangsa
Luput masa timbullah masa...
Demikianlah pulauku mengikutkan sejarah
Sajak dunia mula tersimbah
Sampai ke zaman bagus dan indah
Atau tenggelam bersama ke lembah
Menyerikan cahaya penuh dan limpah.
Tetapi Andalas di zaman nan tiba '
Itu bergantung ke tuan dan hamba.

Awal berawal semula asal
Kami serikat berpagarkan 'adat,
Tapi pulauku yang mulia raya
Serta Subur, tanahnya kaya
Mari kupagar serta kubilai
Dengan Kemegahan sorak semarai
Lagi ketinggian berbagai nilai,
Karena di sanalah darahku tertumpah
Serta kupinta berkalangkan tanah.

Yakin pendapat akan sepakat
‘Akibat Barisan manik seikat;
Baikpun hampir jauh dan dekat,
Lamun pulauku mari kuangkat
Dengan tenaga kata mufakat
Karena, bangsaku, asal'lai Serikat
Mana yang jauh rasakan dekat
Waktu yang panjang rasakan singkat,
Dan Kemegahan tinggi tentu ditingkat.

O, tanah, wahai pulauku
Tempat bahasa mengikat bangsa,
Kuingat di hati siang dan malam
Sampai semangatku suram dan silam;
Jikalau Sumatera tanah mulia
Meminta kurban bagi bersama
Terbukalah hatiku badanku reda
Memberikan kurban segala tenaga,
Berbarang dua kuunjukkan tiga

Elok pemandangan ke sana Barisan
Ke pihak Timur pantai nan kabur,
Sela bersela tamasa nan raniai
Diselangi sungai yang amat permai:
Dengan lambatnya seperti tak'kan sampai
Menghalirlah ia hendak mencapai
Jauh di sana teluk yang lampai;
Di mana dataran sudah dibilai
Tinggallah emas tiada ternilai.
Tanah Pasundan, 9 Desember 1922

Wednesday, June 04, 2008

Kritik Sastra Apresiatif & Akademis

Kritik Sastra Apesiatif dan Kritik Sastra Akademis

Maman S. Mahayana


Secara garis besar, kritik sastra dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu kritik sastra akademis dan kritik sastra umum. Ciri yang membedakan keduanya terletak pada kejelasan metodologi dan kerangka teoretis yang digunakannya. Esai-esai sastra yang ditulis di koran-koran atau majalah, misalnya, termasuklah ke dalam kategori kritik sastra umum. Dikatakan umum, karena ia lebih bersifat publik. Ia disampaikan untuk kalangan masyarakat luas yang sangat beragam tingkat apresiasinya.

Bahwa belakangan ini, membanjir esai sastra yang didominasi oleh obrolan yang terkesan canggih, namun boleh jadi sulit dipahami—lantaran salah nalar— juga termasuk kategori kritik sastra umum. Siapapun, dengan tingkat pendidikan dan apresiasi bagaimanapun, berhak untuk menulis kritik jenis ini. Apapun macam tulisannya, sah, dan boleh-boleh saja. Tidak ada otoritas tertentu untuk melarangnya.

Meski begitu, perlulah kita camkan, bahwa kritik bukan caci-maki atau omongan melantur. Menulis kritik hakikatnya menyampaikan apresiasi; penghargaan dan pengungkapan nilai. Fungsinya tak sekadar menjembatani gagasan pengarang, lewat teks, kepada pembaca, tetapi juga memberi semacam panduan, keterangan tambahan, dan pengungkapan kekayaan teks yang mungkin belum tergali. Dengan begitu, kritik sastra seyogianya disampaikan secara jemih, sejuk, namun dengan tetap memberi rangsangan. Ia juga mestinya menerangkan kedalaman teks dengan berbagai kemungkinan dan perspektifnya.


***


Setiap pembaca karya sastra, pada dasarnya, dapat bertindak sebagai 'kritikus' jika ia menuliskan tanggapan terhadapnya. Jika tanggapan itu sekadar sebuah apresiasi, ia dapat dikatakan sebagai kritik sastra umum. Dalam kritik sastra jenis ini, kerangka teoretis dan metodologi ilmiah, sangat mungkin tidak lagi dipentingkan. Artinya pemahaman tentang teori sastra dan kriteria yang diberlakukan dalam kritik ilmiah, terpaksa ditanggalkan. Kalaupun digunakan, ia mesti disampaikan dengan bahasa yang sederhana.


Esai-esai H.B. Jassin yang kemudian dibukukan dalam Kesusastraan Indonesia dalam Kritik dan Esei, sesungguhnya termasukjenis kritik ini. Jassin, paham akan teori sastra dan metodologi ilmiah. Namun, ia terpaksa menyederhanakan pemahamannya mengenai itu, lantaran ia menulis untuk media massa yang dibaca masyarakat luas dengan tingkat apresiasi sastra yang sangat beragam. Dengan cara itu, penekanan Jassin terletak pada kritik yang apresiatif. Ia mengenalkan karya dan pengarangnya, menjelaskan teksnya, dan memberi panduan cara pemahamannya. Dengan demikian, pembaca umum terangsang untuk membaca karyanya, mencoba memahami isinya, kekayaan dan kedalamannya, dan akhimya memberikan apresiasinya. Bagi pengarangnya, apa yang ditulis Jassin, tak sekadar memberi rangsangan untuk menulis karya yang lebih baik, tetapi juga memberi masukan, bagaimana seyogianya struktur formal karya sastra dibangun, disusun penyiasatannya, dan disembunyikan amanatnya.

Apresiasi sastra yang dimuat dalam Kakilangit majalah Horison, juga sejenis dengan esai-esai Jassin. Secara akademis, rubrik "Kakilangit" majalah Horison tidak berbeda dengan materi kuliah "Pokok dan Tokoh". A. Teeuw dan R. Roolvink yang melakukan pembicaraan sejenis itu terhadap sastrawan-sastrawan Indonesia zaman Balai Pustaka, Pujangga Baru, dan Angkatan 45, misalnya, menghimpunnya sebagai buku yang berjudul Pokok dan Tokoh (Djakarta: Jajasan Pembangunan, 1953, 251 halaman). Dengan perkataan lain, membaca rubrik Kakilangit dan mencoba memahaminya secara cermat, dalam hal-hal tertentu, sesungguhnya sama halnya dengan mengikuti kuliah "Pokok dan Tokoh".

Baik H.B. Jassin maupun para penulis rubrik Kakilangit cenderung menekankan sifat apresiasinya. Mereka memberi tempat yang proporsional pada karyanya itu sendiri, pengarangnya, latar belakang proses kreatifhya, dan nilai yang terkandung dalam karya yang bersangkutan. Bentuk apresiasinya itu sendiri diwujudkan dan diungkapkan dengan sederhana. Dalam hal tersebut, pembaca akan memperoleh gambaran lengkap mengenai sosok seorang pengarang, sekaligus memahami karyanya secara sepatutnya.

Dengan cara demikian, pembaca sesungguhnya diajak melakukan apreasiasinya sendiri atas karya pengarang bersangkutan yang mungkin belum dibicarakan secara mendalam. Pembaca juga dirangsang untuk membaca karya lain yang mungkin punya nilai sejenis. Itulah-kritik sastra urnum yang sehat dan menyehatkan kehidupan kesusastraan.


***


Dalam kritik sastra akademis yang sering juga disebut kritik ilmiah, penekanan pada apresiasi, mesti didukung oleh alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, objektivitas atas nilai yang dikemukakan, menjadi landasan. Artinya, ia mesti dapat diterima berdasarkan ketentuan ilmiah; persyaratan yang di dunia akademis, mutlak perlu karena tuntutannya memang demikian.

Mengingat syarat keilmiahan tidak dapat diabaikan, maka kritik ilmiah harus jelas kerangka teoretisnya; ia merupakan alat yang digunakan untuk mengungkapkan nilai. Selain itu, jelas pula metodologinya; cara dan pendekatan yang diterapkan untuk itu. Lalu, mengapa mesti demikian dan apa perlunya?

Jawaban pertanyaan itulah yang membedakan kritik umum dengan kritik ilmiah. Pertama, tujuan kritik ilmiah bukanlah sekadar sebuah apresiasi; penghargaan atas nilai sebuah karya dan sekaligus pengakuan atas peran profesional sastrawan, namun juga pengungkapan nilai itu lewat prespektif keilmuan. Dalam hal ini, karya sastra ditempatkan tak hanya sebagai sebuah teks yang dapat memberi kenikmatan estetis, tetapijuga dapat menggugah rasa kemanusiaan dan menyadarkan emosi dan nurani kita akan berbagai persoalan kehidupan manusia.

Kedua, untuk tujuan keilmuan, kritik ilmiah tentu saja diperlukan untuk kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam disiplin ilmu apapun, hal tersebut diperlukan agar ilmu pengetahuan tidak mandeg. Jadi, lewat kritik ilmiah itulah yang memungkinkan makna baru atas karya sastra muncul dengan prespektif yang juga baru. Dengan demikian, teori sastra akan terus lahir dan berkembang sampai entah kapan. Pada gilirannya, pembicaraan mengenai teori sastra membentuk disiplin tersendiri. Perkembangan teori dan kritik sastra dari formalisme, strukturalisme, hingga kritik sosio-kultural, termasuk pendekatan multidisiplin, justru dimungkinkan oleh adanya perdebatan kritik ilmiah. Tanpa itu, ilmu sastra dan dunia sastra secara keseluruhan, mustahil sampai ke tahap seperti yang sekarang ini.

Ketiga, mengingat tingkat apresiasi dan pemahaman masyarakat atas karya sastra, sangat beragam, yang juga ditentukan oleh pendidikan dan wawasan pengetahuannya, maka dalam keadaan tertentu, tidak jarang terjadi kekacauan dalam kehidupan kesusastraan. Peristiwa tahun 1960-an, misalnya, merupakan contoh, betapa kesusastraan kita telah terjerumus ke dalam suasana yang sangat tidak sehat. Dalam kondisi itulah, kritik ilmiah diharapkan mampu menjadi panduan dan petunjuk yang dapat memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. Diadakannya Simposium Bahasa dan Sastra Indonesia, 27 Oktober 1966 dan akhir Oktober 1968, juga merupakan contoh peran dan pentingnya kritik sastra itu.


***


Begitulah, kritik ilmiah berkembang lewat jalumya sendiri. Kritik umum juga demikian. Cuma, terjadinya kengawuran dalam kritik umum, berdampak sangat luas. Gonjang-ganjing kebingungan akan melanda banyak pihak. Sastrawan tidak tahu lagi di mana kelebihan atau kelemahannya; pembaca umum dan guru-guru sastra akan makin menjauhi dunia sastra, dan kalangan akademis juga jadi bertanya-tanya: apa maksud? Jadi, kembalikanlah kritik sastra pada hakikatnya!***


Maman S. Mahayana, stafpengajar FSUI, Depok.
Kakilangit 39 / April 200, dikutip sebagai bahan ajar.

Sunday, June 01, 2008

Kriteria Penilaian Karya Sastra

Kriteria Penilaian Karya Sastra

Maman S. Mahayana


Ketika seorang pembaca berhadapan dengan karya sastra, apakah ia dapat langsung mengatakan bahwa karya itu baik atau tidak? Tentu saja penilaian dengan cara demi-kian ngawur dan tidak objektif. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah membaca karya itu dahulu. Jika sudah kita cermati benar, barulah kita dapat memberi penilaian atas karya yang bersangkutan. Tetapi persoalannya kemudian, bagaimana kita memberi penilaian terhadapnya? Atas dasar apa pula karya itu dikatakan berhasil atau tidak? Apakah kita dapat mengatakan bahwa karya itu baik, bagus atau berhasil, karena kita menyukal temanya; kagum dan terpesona terhadap tokoh-tokoh yang digambarkannya atau karena kita mengagumi pengarangnya?

Guna menghasilkan penilaian yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan, tentu saja cara penilaian yang seperti itu tidaklah tepat. Bahkan terkesan sangat subjektif. Penilaian demikian jelas sangat bergantung pada kesan dan suka atau tidak suka. Ia akan menghasilkan penilaian yang relatif karena sangat ditentukan oleh subjektivitas pembaca. Jika demikian, dasar apa yang dapat kita gunakan untuk menentukan sebuah karya sastra dikatakan baik atau buruk, berhasil atau tidak? Kritena apa yang kita gunakan untuk menentukannya sehingga ada genre sastra garda depan (avantgarde), sastra serius, dan sastra populer.

Ketika ada orang bertanya, mengapa dan atas dasar apa sebuah karya dikatakan populer atau serius, tentu saja kita tidak dapat menjawab dan menghubungkannya dengan nama pengarangnya. Hal yang sama juga berlaku untuk karya-karya Pramudya Ananta Toer atau para pengarang Lekra. Kita hanya dapat memberi penilaian terhadap karya-karyanya jika kita sudah membaca karya pengarang bersangkutan.

Sebagai contoh, sebutlah, misalnya, nama Motinggo Busje. Apakah semua karya-nya termasuk karya pomografi atau populer? Sejumlah novelnya yang dihasilkan tahun 1970-an, memang dapat dimasukkan sebagai novel populer. Tetapi karya-karya awalnya, seperti dramanya Malam Jahanam atau sebagian besar cerpennya, tidak dapat dikatakan populer. Demikian juga novel terakhirnya, Sanu Infinita Kembar (1985) dikatakan H B Jassin sebagai "novel mistik-falsafi yang mencapai kedalaman yang belum pernah kita saksikan dalam roman-romannya terdahul. Satu buku yang memerlukan kesadaran total untuk memahaminya."


Demikianlah untuk menentukan sebuah karya berhasil atau tidak, kita mesti memisahkannya dahulu dari nama pengarangnya. Oleh karena itu kita mesti menjawabnya berdasarkan karyanya itu sendiri dan bukan karena pengarangnya atau latar belakang diri pengarang bersangkutan. Untuk menghasilkan penilaian yang objektifdan dapat dipertanggungjawabkan, pusat perhatian kita mesti jatuh pada karya itu sendiri. Inilah yang disebut ergosentrisme, yaitu penilaian yang berangkat dan berpusat pada karyanya itu sendiri, dan bukan pada pengarangnya, temanya atau tokoh-tokoh yang digambarkannya. Itulah pula sebabnya, kita perlu mengetahui kriteria-kriteria apa saja yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan baik-buruknya, berhasil-tidaknya atau populer tidaknya karya sastra yang bersangkutan.

Adapun kriteria yang dapat digunakan untuk membuat penilaian terhadap keberhasilan atau kegagalan sebuah karya sastra, dapat dilakukan dengan mencermati sedikitnya enam kriteria yaitu kriteria kebaruan (inovasi), kepaduan (koherensi), kompleksitas (kerumitan), orisinalitas (keaslian), kematangan (berwawasan atau intelektualitas), dan kedalaman (eksploratif).

***

Kritena pertama adalah apakah karya sastra yang bersangkutan itu memperlihatkan adanya kebaruan (inovasi). Dalam hal ini, acuan yang dapat dijadikan sebagai dasar kriteria adalah kenyataan bahwa sastra selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi. Artinya, bahwa dalam kesusastraan modern, apakah kebebasan berkreasi sebagai hak "istimewa" pengarang, telah dimanfaatkan pengarang untuk memajukan mutu dunia sastra atau menggunakan hak istimewa itu hanya sebagai usaha untuk menghasilkan karya sastra yang biasa-biasa saja, atau bahkan untuk sekadar "main-main" agar kelihatan sebagai karya avant garde?

Untuk melihat adanya kebaruan atau inovasi dalam karya yang bersangkutan, tidak dapat lain, kita mesti mencermati semua unsur intrinsik yang melekat dalam karya tersebut.

Dalam hal ini, acuan untuk menentukannya bukan pada tema karya bersangkutan, melainkan pada semua unsur intrinsik yang terdapat pada karya-karya yang terbit sebelumnya. Sebagai contoh, apakah tema novel Sitti Nurbaya (1922) atau Salah Asuhan (1928) memperlihatkan kebaruannya atau tidak? Untuk memperoleh jawabannya, maka kita harus melihat dahulu karya yang terbit sebelumnya; Azab dan Sengsara (1920) misalnya.

Lalu dalam hal apa kebaruannya? Dalam Azab dan Sengsara, adat dan peranan kaum lelaki memperoleh kemenangan, sedangkan dalam Sitti Nurbaya, adat dan peranan kaum lelaki sama-sama kalah, meskipun Sitti Nurbaya juga mengalami nasib yang sama. Tetapi, dalam Salah Asuhan, kaum lelaki (Hanafi) kalah, karena yang dihadapi adalah perkawinan antarbangsa (Hanafi, Padang dan Corrie, Indo-Perancis).

Contoh lain yang lebih jelas dapat kita lihat dalam puisi-puisi Chairil Anwar. Bagaimana bahasa sehari-hari yang dalam zaman Pujangga Baru tidak digunakan, dimanfaatkan Chairil Anwar dengan sangat mengagumkan; bagaimana pula pola bait yang dalam puisi sebelumnya masih sangat mendominasi, tidak begitu dipentingkan lagi. Ringkasnya, makna puisi bagi Chairil Anwar tidak ditentukan oleh bait, melainkan oleh kata-kata itu sendiri, dan hanya diperlukan jika makna puisi itu sendiri memang memerlukannya.

Itulah beberapa contoh karya sastra yang memperlihatkan adanya kebaruan. Jika demikian, dari aspek kebaruannya, karya itu boleh dikatakan berhasil!

Kriteria berikutnya yang dapat kita gunakan untuk membuat penilaian adalah masalah yang menyangkut aspek kepaduan. Pada karya-karya Chairil Anwar, kepaduan itu terlihat dari pilihan kata (diksi) yang digunakannya dalam setiap larik puisi. Dan keseluruhannya membangun sebuah tema. Puisi Chairil yang berjudul "1943" atau "Aku", misalnya, mengapa larik-lariknya tidak membangun bait-bait (" 1943"), mengapa pula satu baitnya kadang kala hanya terdiri dari satu kata ("Aku")? Perhatikan beberapa larik puisi" 1943" berikut ini:

Jalan kaku-lurus. Putus
Candu
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh Terbenam
Hilang
Lumpuh,
Rata
Rata
Rata
Duma
Kau
Aku
Terpaku.


Timbul Pertanyaan: di manakah letak kepaduannya? Kepaduan dalam puisi "1943" justru tampak lantaran makna keseluruhan puisi itu memang tak memerlukan adanya pemisahan makna lewat bait-bait. Dengan cara demikan, larik yang dibangun oleh satu atau dua kata itu, justru tampak padat dan lugas yang mengesankan kegelisahan dan penderitaan luar biasa si aku lirik. Penghilangan bait memperlihatkan kepaduannya karena ia benar-benar fungsional mendukung tema.

Contoh lain dapat kita lihat pada novel Hamka, Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939). Dari segi tema, novel ini masih mengangkat persoalan adat. Tetapi ada kebaruannya dalam novel ini, yaitu adat yang dibenturkan dengan masalah keturunan dan orang dagang (perantau). Tema ini digambarkan tidak berdiri sendiri atau lepas dari unsur lainnya. Latar tempat (Minangkabau), latar social (lingkungan keluarga dan status sosial tokoh-tokohnya) serta karakter tokoh-tokohnya, menciptakan peristiwa demi peristiwa yang penuh dengan tegangan. Demikian juga bentuk surat-menyurat yang digunakan tokoh-tokohnya (Zainuddin dan Hayati), tidak hanya menciptakan serangkaian peristiwa yang berkelanjutan, tetapi juga membina tegangan demi tegangan dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Tampak di sini, tema, tokoh, latar, dan alur, saling mendukung dan menciptakan kepaduan dalam keseluruhan cerita novel itu.


Kriteria lainnya adalah kompleksitas. Puisi Chairil Anwar "1943", misalnya, memberi gambaran dan pencitraan yang sangat kompleks, rumit dan problematik yang dihadapi aku lirk yang gelisah dan meradang. Persoalan yang dihadapi tokoh Siti Nurbaya, Hanafi, atau Zainuddin, juga bukanlah persoalan yang sederhana. Mereka harus berhadapan dengan masalah sosio-kultural yang tentu hanya mungkin dapat diselesaikan melalui proses penyadaran yang juga menyangkut masalah sosio-kultural.

Dilihat dari sudut pengarang, kompleksitas itu juga sangat bergantung pada memahaman sastrawan bersangkutan mengenai masalah budaya yang melingkarinya. Pemahaman kultural itulah yang kemudian disajikan dan berusaha diselesaikan pengarang, juga melalui pendekatan budaya. Dengan begitu, penyelesaiannya juga tentu saja tidak seder hana, dan tidak mungkin dapat dilakukan secara hitam putih.

Kriteria kompleksitas atau kerumitan ini akan lebih jelas jika kita membandingkannya dengan novel populer. Di dalam novel populer, semua persoalan akan diselesaikan secara gampangan, hitam-putih. Dalam Ali Topan Anak Jalanan, misalnya, dengan mudah saja Ali Topan membawa kabur kekasihnya, tanpa proses yang rumit yang melibatkan konflik batin atau problem kultural. Kemudian, orang tua kekasihnya yang semula tidak merestui hubungan anaknya dengan Ali Topan, dengan mudah saja terpaksa merestui hubungan itu. Mereka pun akhimya memkah. Selesai, happy ending!

Dalam Sitti Nurbaya, bisa saja pengarang tidak mematikan Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri. Bisa juga dalam duel antara Datuk Maringgih dan Samsul Bahri, yang mati Datuk Maringgih. Dengan demikian, terbukalah peluang untuk Samsul Bahri untuk menikahi pujaan hatinya, Sitti Nurbaya. Ternyata penyelesaiannya tidak demikian. Ketiga tokoh itu, semuanya akhimya mati. Dengan cara penggambaran seperti itu, pembaca secara langsung diajak untuk ikut berpikir memaknai akhir cerita yang tragis itu. Dan secara tidak langsung pula, pembaca "digiring" untuk berpihak; simpati atau antipati kepada tokoh-tokoh itu. Dalam hal kriteria kompleksitas ini, seperti telah disinggung, pembaca diajak juga untuk merefleksikan atau ikut memikirkan persoalan yang dihadapi tokoh-tokoh dalam novel bersangkutan. Jadi bisa saja masalahnya sederhana, tetapi penyajiannya begitu rumit yang menyangkut masalah sosial budaya yang pada akhirnya bermuara pada masalah manusia dan kemanusian secara universal.

Kriteria beriktunya menyangkut orisinalitas. Kriteria ini tentu saja tidak harus didasarkan pada keseluruhan unsurnya yang memperlihatkan keaslian atau orisinalitasnya. Bagaimana juga tidak ada satu pun karya yang 100 persen memperlihatkan orisinalitasnya. Selalu saja ada persamaannya dengan karya-karya yang terbit sebelumnya. Oleh karena itu pula, untuk menentukan orisinalitas karya yang bersangkutan, kita harus juga melihat karya-karya yang terbit sebelumnya. Mengingat kriteria orisinalitas sangat ditentukan juga oleh keberadaan karya-karya yang terbit sebelumnya, maka di dalam pelaksanaannya kritena orisinalitas bertumpang tindih dengan kriteria kebaruan.

Banyak aspek yang dapat digunakan untuk menilai orisinalitas karya sastra. Pertama, dilihat dari salah satu unsumya yang membangun karya sastra yang bersangkutan; tema, latar, tokoh, alur, atau sudut pandang (jika novel); bait, larik, diksi, atau majas (jika puisi), atau tokoh, tema, latar, alur, bentuk dialog atau petunjuk pemanggungan (jika drama). Kedua dilihat dari cara penyajiannya; bagaimana pengarang menyampaikan kisahannya (novel), citraannya (puisi) atau dialog dan petunjuk pemanggungannya (drama).

Sebagaicontoh, perhatikan puisi "1943” karya Chairil Anwar itu. Meskipun ia menggunakan bahasa Indonesia seperti juga para penyair sebelumnya, keaslian atau orisinalitas puisi Chainl —salah satunya— terletak pada pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari yang oleh para penyair sebelumnya tidak digunakan. Demikian juga, bentuk larik yang digunakan Chairil, merupakan sesuatu yang khas dan orisinal karya Chairil. Contoh yang lebih ekstrem lagi dapat kita lihat pada beberapa puisi Sutardji Calzoum Bachri seperti "Tragedi Winka & Sihka", "Q", "Luka" yang hanya berisi satu larik: ha ha atau puisi "Kalian" yang juga berisi satu larik yang lebih pendek lagi: pun.

Ketika kita membaca puisi-puisi Sutardji seperti tersebut di atas, maka komentar yang sering kali muncul adalah pernyataan berikut: "Ah, jika itu puisi, maka kita juga dapat membuat puisi yang seperti itu." Tetapi, apakah pernyataan yang sama itu akan muncul sebelum kita tahu ada puisi yang demikian? Dalam hal ini, orisinalitas terletak pada orisinalitas gagasannya yang justru pada waktu itu tidak terpikirkan oleh penyair lain. Jadi, apakah karya yang seperti itu sebelumnya telah ada? Jika ada, apakah polanya persis sama? Dalam hal tersebut, selalu saja kita akan menemukan sesuatu yang baru, yang orisinil.

Satu contoh lagi, perhatikan sebuah puisi karya Agus R. Sarjono berjudul "Sajak Palsu". Bagaimana penyair ini memotret kehidupan masyarakat bangsa ini yang penuh kepura-puraan dan kepalsuan. Bahwa kehidupan seperti itu setiap saat kita saksikan, lalu siapa yang merefleksikan peristiwa itu ke dalam sebuah puisi yang lalu diberi judul "Sajak Palsu"? Gagasan tentang kehidupan yang penuh kepalsuan dan kemudian mengungkapkannya lewat puisi dengan penyajian yang ringan, terkesan berseloroh, tetapij ustru mengangkat sebuah persoalan besar yang menyangkut kehidupan bangsa. Dalam hal inilah "Sajak Palsu" memperlihatkan orisinalitasnya yang khas lahir dari gagasan penyaimya.

Kriteria berikutnya menyangkut kematangan pengarangnya menyajikan dan menyelesaikan persoalannya atau tidak. Ringkasnya, kriteria ini berkaitan dengan bagaimana pengarang mengolah kenyataan faktual, baik peristiwa besar atau biasa, menjadi sesuatu yang memukau, mempesona dan sekaligusjuga merangsang emosi pembaca, meskipun pengarangnya sendiri mungkin tidak mempunyai pretensi untuk itu.

"Sajak Palsu" karya Agus R. Sarjono jelas merupakan karya yang berhasil. Perhatikan beberapa larik terakhir puisi itu: ...Lalu orang-orang palsu / meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan / gagasan-gagasan palsu di tengah seminar / dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya / demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring / dan palsu.


Puisi itu mengangkat potret sosial. Dengan gaya penyajian seperti itu, Agus seolah menertawakan kehidupan sosial kita yang serba palsu dan penuh kepura-puraan. Mengingat potret sosial itu disajikan secara berseloroh, apa adanya, maka refleksi evaluatifatas peristiwa itu tidak muncul sebagai keprihatinan yang dapat merangsang emosi pembaca.

Bandingkanlah dengan cara penyapaian yang dilakukan Taufiq Ismail dalam salah satu puismya, "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia". Perhatikan bait terakhir puisi itu:
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh
Tun Razak
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam
kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu akujadi orang Indonesia


Baik Agus maupun Taufiq Ismail, secara tematis mengangkat persoalan yang sama yang menimpa moral bangsa Indonesia. Tetapi kedalaman yang dapat kita tangkap dari puisi Taufiq Ismail, yaitu refleksi evaluasinya tentang masalah yang melanda bangsanya. Larik terakhir: Malu aku jadi orang Indonesia merupakan ungkapan yang menggambarkan kepedihan mendalam atas berantakannya akhlak bangsa ini. Dengan cara begitu, meskipun Taufiq juga sekadar memotret problem sosial kita, secara langsung kita (pembaca) disentuh hati nuraninya; dirangsang emosi kebangsaannya; masih patutkah kita mengaku sebagai bangsa yang beradab, jika kehancuran akhlak terjadi di mana-mana?

Demikianlah, kriteria kematangan (wawasan dan intelektualitas) ini dapat kita gunakan sebagai salah satu alat untuk melihat kematangan seorang pengarang dalam menangkap dan menyajikan sebuah persoalan. Satu persoalan yang sama akan dimaknai secara berbeda oleh para penyair, bergantung pada tingkat kematangan masing-masing. Perhatikan juga sebait puisi Sapardi Djoko Damono, berjudul "Layang-layang" berikut ini:

Layang-layang barulah layang-layang jika ada angin
memainkannya. Sementara terikat pada benang panjang,
ia tak boleh diam -menggeleng ke kiri ke kanan, menukik,
menyambar, atau menghindar dari layang-layang lain.


Puisi di atas jelas temanya berbeda dengan puisi Agus R. Sarjono dan Taufiq Ismail. Demikian juga cara penyajiannya. Terkesan puisi itu begitu sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya itu, ada kedalaman yang tersembunyi. Bahasanya yang jernih itu justru sangat kuat menampilkan serangkaian citraan. Dalam hal inilah, emosi pembaca dibawa hanyut dalam keterpesonaan pada citraan- citraannya.

Kriteria terakhir menyangkut kedalaman makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Larik terakhir puisi Taufiq: Malu aku jadi orang Indonesia atau citraan yang ditampilkan Sapardi dalam puisi "Layang-layang" sesungguhnya memantulkan kedalaman gagasan kedua penyair itu dalam mengangkat masalah yang dihadapi umat manusia. Apa yang dikatakan Taufiq, Malu akujadi orang Indonesia, sungguh mewakili kedukaan luar biasa, kepedihan yang perih, sekaligusjuga kegeramannya pada kebejatan moral. Di balik sikap itu, ia justru sangat peduli pada nasib masa depan bangsanya.

Yang disajikan Sapardi lain lagi. Dalam puisinya yang tampak sederhana itu, ada makna simbolik yang hendak ditawarkannya. Gambaran tentang layang-layang itu, sebenamya merupakan analogi kehidupan kita. Manusia, baru jadi manusia jika ia mampunyai semangat, gairah, keinginan, elan yang membawanya hidup menjadi lebih bermakna. Semua itulah yang membentang serangkaian harapan. Dan ketika manusia berusaha meraih harapan-harapan itu, ia akan berhadapan dengan berbagai masalah yang hams dapat diselesaikannya. Termasuk konflik-konflik dengan fihak lain.

Demikianlah, kriteria kedalaman ini cenderung mempakan refleksi dari berbagai gejolak kegelisahan pengarang yang mengristal dan kemudian diejawantahkan ke dalam larik-larik dalam puisi atau narasi dalam novel atau cerpen. Semakin karya itu memperlihatkan kedalamannya, semakin terbuka peluang lahimya berbagai tafsiran dan pemaknaan. Dengan demikian, karya sastra yang demikian, akan memberi tidak saja sekadar kenikmatan estetis, tetapi juga pencerahan batin dan pemerkayaan wawasan pembacanya. Ia mengeksplorasikan serangkaian kegelisahan pengarangnya, dan sekaligusjuga mengekplorasi emosi dan wawasan pembaca untuk mencoba memahami kedalaman makna karya bersangkutan.

***

Karya-karya agung biasanya mengandung keenam kriteria tersebut di atas. Lalu bagaimana jika ada karya sastra yang hanya mengandung beberapa dari kriteria tersebut? Apakah kemudian karya tersebut dapat dikatakan berhasil atau tidak? Keenam kriteria penilaian ini sebenamya hanyalah sekadar alat. Sebagai alat, ia dapat dimanfaatkan untuk menilai karya sastra secara objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Mungkin saja ada karya yang hanya mengandung dua atau tiga kriteria. Tetapi lalu tidak berarti karya itu gagal. Tiadanya salah satu kriteria, dapatlah kita anggap sebagai salah satu kelemahan karya itu. Tetapi secara keseluruhan, kita tetap dapat mengatakannya bahwa karya itu berhasil. Dalam hal apa keberhasilannya? Penjelasannya dapat dilakukan lewat kriteria-kriteria itu.

Pemahaman mengenai keenam kriteria itu, sangat mungkin akan memudahkan kita untuk menilai karya sastra. Bagaimana juga, dengan keenam kriteria itu, kita mempunyai ukuran, parameter, atau dasar objekti vitas untuk menilai keberhasilan atau kelemahan karya bersangkutan. Paling tidak, penilaian kita terhadap karya sastra tertentu, mempunyai landasan yang dapat dipertanggungjawabkan, objektif, dan beralasan.***


Maman S. Mahayana, staf pengajar Fakultas Sastra
Universitas Indonesia, Depok.
Diambil dari Kakilangit 38 / Maret 2000 sebagai bahan pelajaran

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook