Thursday, October 30, 2008

Cerpen Rendra

Rendra Telah Bertualang


-----------------------------------------------------------------------------------------
Judul: Ia Sudah Bertualang, Kumpulan Cerita Pendek 1954 - 1957
Penulis: Rendra
Penerbit: Burungmerak Press, Oktober 2007
Tebal: 122 halaman

Judul : Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu, Kumpulan Cerita Pendek 1954 - 1961
Penulis: Rendra
Penerbit: Burungmerak Press, Oktober 2007
Tebal: 200 halaman
-------------------------------------------------------------------------------------------


Ia masih kanak-kanak. Umurnya, mungkin, 5-6 tahun. Matanya lebar dan bening. Setelah bertengkar dengan ayahnya, ia memberontak, lalu minggat dari rumah. Ke manakah anak sekecil itu pergi bertualang?

Umur Rendra baru lewat 21 tahun ketika menulis kisah tokoh kecil tak bernama itu dalam cerpennya, "Ia Sudah Bertualang", yang sampai puluhan tahun kemudian masih diingat benar oleh para pembacanya. Perhatikan judulnya: bukan "ia sudah berpetualang", yang dalam bahasa Indonesia menjadi salah-kaprah hingga sekarang. Ini salah satu bukti bahwa Rendra punya cita rasa bahasa yang bukan hanya mengejar efek artistik, tapi juga tertib.

Semula, cerpen yang ditulis pada masa suburnya sebagai sastrawan--1950-1960-an--itu dimuat di majalah Kisah, Mei 1955. Majalah bulanan ini kala itu bisa dibilang "disakralkan" oleh penulis sastra. Bersama sejumlah cerpen lain, "Ia Sudah Bertualang" kemudian diterbitkan oleh NV Nusantara di Bukittinggi, pada 1963, sebagai buku kumpulan cerpen yang ilustrasi sampulnya digarap oleh Motinggo Boesje. Ihwal ilustrasi yang masih mengandalkan teknik gambar dua warna ini ternyata menjadi kekuatan puitik yang memikat hati Seno Gumira Ajidarma, yang membeli buku itu di sebuah toko buku di Yogyakarta pada 1979 seharga Rp 225.

Tahun itu Seno sedang getol-getolnya belajar menulis cerpen, dan secara jujur dia mengaku berkali-kali membaca Ia Sudah Bertualang, bahkan memberi kesan mendalam, juga inspirasi bagi kelahiran cerpennya yang lain. Kesan itu kemudian malah menjadi semacam "studi" yang menarik dan menggugah tentang Rendra, khususnya Tentang Ia Sudah Bertualang, yang dijadikan kritik dalam buku baru, Ia Sudah Bertualang, Kumpulan Cerita Pendek Rendra 1954-1957 (berisi sembilan cerpen) ini. Buku satu lagi yang diterbitkan bersamaan, Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu, Kumpulan Cerita Pendek Rendra 1954-1961 (berisi 18 cerpen).


Sebuah cerpen, yang oleh pembaca awam umumnya diapresiasi hanya sebagai pengisi waktu luang, ternyata memunculkan kekuatan yang dikandungnya--baik pada teknik penceritaannya, citraan, nuansa, maupun dimensinya--di mata penelaah semacam Seno, yang oleh pembaca sastra kita juga dikenal sebagai cerpenis garda depan dewasa ini. Soal teknik pemunculan tokoh cerita pada Ia Sudah Bertualang itu, misalnya, menyadarkan kita pada salah satu kekuatan Rendra sebagai dramawan yang tergolong tertib mambangun suasana, menciptakan mood yang sekaligus menekankan karakter tokohnya.

Dalam cerpen lain, "Nafas Malam", yang dimuat Kisah, Februari 1956, Rendra memamerkan kepiawaiannya menggaet perhatian pembaca dengan ungkapan puitik yang suasananya amat dikenal oleh pembaca puisi-puisinya. "Memasuki rumah merjan, bulan menarik pahanya. Hamil perutnya bundar. Sehembus nafas angkuh dan alang-alang bergoyang. Bergoyang pucuk-pucuk gelinggang. Bergoyang. Bulan hamil pun bergoyang."

Di antara 27 cerpen dalam dua kumpulan cerpen ini, "Nafas Malam" satu-satunya karya yang lebih memberat pada kekuatannya sebagai penyair dibanding lainnya yang, meminjam ungkapan Binhad Nurrohmat dalam kata pengantarnya, bergaya realis. Kiranya menarik ditengok kembali bagaimana realisme cerpen-cerpen Rendra yang terhindar dari stereotipe cinta remaja dalam cerpen yang lekas menguap oleh perubahan angin zaman.

Dalam Pacar Seorang Seniman (apa masih ada cerpenis sekarang yang "tega" membuat judul begini?), umpamanya, ada kesucian cinta yang dipertahankan secara tulus dan kukuh oleh seorang gadis justru setelah ia ditinggal mati pacarnya yang seniman bertampang kotor dan berbulu seperti kera itu. Hanya orang yang menghayati keindahan pewayangan yang, agaknya, mampu menggambarkan kesucian cinta dewa-dewi itu.

Latar belakang sosial budaya Rendra sebagai orang Solo (lahir 7 November 1935), tak bisa dimungkiri, punya andil besar dalam membentuk kesenimanannya yang diboboti kekuatan dan keindahan tembang-tembang Jawa, dongeng, musik, arsitektur, bahasa, seni rupa, juga sejarah. Hal lain yang menonjol--ini agaknya yang khas Rendra--adalah daya observasi, kenakalan, dan pemberontakan yang, oleh Goenawan Mohamad (GM), disebut mendorongnya bersikap urakan. Oleh sebab itu, realisme Rendra, seperti diungkap Binhad, mendominasi cerpen-cerpen yang dihimpun dalam dua buku ini, sebenarnya menyimpan kenakalan dan urakan yang dramatis itu.

Memang, puncak urakan Rendra yang pernah menggegerkan itu (1974) bukan terjadi semasa ia menjadi cerpenis, melainkan sebagai jawara teater. Ia memperkenalkan kata orang urakan, tulis GM, ke leksikon budaya dan politis Indonesia (Dari Ramayana Sampai Rendra: Sebuah Eksperimen Bernama "TIM", Tempo, 10 November 1990, yang kemudian juga dijadikan Kata Pengantar dalam buku Menonton Bengkel Teater Rendra, Kepel Press, 2005).

Kenakalan dan urakan Rendra--sekali lagi meminjam ungkapan GM: penolakan yang mengikuti aturan-aturan yang didiktekan lingkungan--dalam cerpen-cerpennya, baik sebagai tema maupun sekadar gimmick, malah bikin asyik, menggetarkan dan mengharukan. Tokoh anak yang memberontak dari rumah dalam Ia Sudah Bertualang itu, misalnya, justru rindu kehangatan rumah, pelukan lembut ibu, di kala ia menikmati kebebasannya sendiri.

Tiga cerpen yang menampilkan tokoh kanak-kanak, "Ia Sudah Bertualang", "Ia Masih Kecil," dan "Ia Melagu Merdu Sekali", dipakai Rendra sebagai pintu masuk untuk menggarap tema sosial yang menjadi kekuatannya. Ada juga humor mahasiswa putus cinta yang mengatasinya dengan cara menulis surat yang tak pernah dikirimkannya kepada sang pacar dalam Gaya Herjan (1961). Oh, ya, menulis surat dengan tangan: keindahan berkomunikasi yang orang-orang pada dekade 1950-1960-an dulu lebih beruntung mampu melakukannya dibanding generasi SMS sekarang, bukan?

Rendra telah jauh dan luas bertualang dalam kariernya sebagai sastrawan yang lebih dari setengah abad. Dua buku ini, setelah melalui riset panjang dan amat tekun untuk mengumpulkan kembali naskah-naskah yang berserak di koran dan majalah yang sebagian besar tinggal nama, bukan hanya pemanis nostalgia, bersejarah, atau mengukuhkan kepengarangan Rendra. Di samping beberapa buku kumpulan tulisan Rendra di masa lalu, lebih jauh, buku ini selayaknya juga dijadikan penggugah: apakah pemberontakan hanya dilakukan di masa muda, dan cerita pendek hanya ditulis sebagai pengisi waktu remaja?


EH Kartanegara, pekerja media

Tuesday, October 28, 2008

Paku di Kepala Istri Sanusi

Paku di Kepala Istri Sanusi
Cerpen: Gita Nuari

Cerita dari Desa Legok Sirah,
84 tahun yang lalu.


Yuni sangat terkejut setelah menemukan sebuah paku berukuran tujuh senti meter menancap di kepala ibunya sewaktu dia sedang mencarikan kutu. Lalu sang anak menyampaikan penemuannya itu kepada ibunya, "Ada paku di kepala Ibu!" Sang ibu tak sekejut anaknya.


"Bisa kamu cabut, Yun?" perintah sang ibu akhirnya. Yuni yang diberi tugas tampak serius memeriksanya. Perempuan yang bersuamikan Sanusi, seorang petani itu menunggu dengan harap-harap cemas. Sebab dia tahu, karena paku itulah dirinya tidak bisa lagi pergi ke dunia gaib sebagai makhluk yang bernama kuntilanak. Sanusi yang sempat kehilangan istrinya, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan istrinya kembali. Maka pada suatu malam Sanusi berhasil menangkap istrinya di atas pohon asam yang ada di belakang rumahnya dan langsung memantekkan sebuah paku ke kepala istrinya sehingga tidak bisa terbang lagi. Dan ini kali adalah kesempatan yang kesekian bagi istrinya untuk bisa pergi lagi ke alam gaib yang pernah dia jalani sebelumnya.

"Kayaknya pakunya panjang, Mak. Apa tidak sakit kalau dicabut?"

Istri Sanusi itu termenung sejenak, lalu berkata: "Emak rasa tidak, Yun. Coba dicabut saja."


"Yuni coba ya, Mak," kata Yuni, putri bungsu keluarga Sanusi yang memiliki dua orang anak itu berusaha mencabut paku dari kepala ibunya. Namun setelah paku itu berhasil dicabut, tiba-tiba sang ibu terbang sambil meninggalkan tawa menuju arah pohon asam di belakang rumahnya lalu menghilang di rimbun dedaunan. Menyaksikan ibunya bisa terbang, Yuni langsung pingsan. Yunar, kakak Yuni yang terakhir tahu kejadian itu langsung berlari menemui ayahnya di sungai yang sedang mencuci sayuran yang baru dia petik di ladang. Sanusi sangat terkejut setelah mendengar pengaduan anak lelakinya kalau ibunya sudah bisa terbang lagi. Tanpa banyak tanya Sanusi berlari menuju rumahnya. Didapatkan Yuni masih tergeletak. Buru-buru Sanusi menyadarkan Yuni dengan memberi minyak wangi. Yuni perlahan siuman. Lalu menceritakan ibunya telah hilang.

"Pasti ada yang mencabut paku di kepala Emak kalian!" tuding Sanusi geram. Sang anak tertunduk.

"Yuni menyesal, Pak," aku Yuni dengan suara lemah.

"Apa yang harus disesali kalau sudah begini," tukas sang ayah.

"Makanya, apa-apa yang aneh di keluarga kita segeralah diberitahukan. Jangan mengambil keputusan sendiri, sehingga antara anak dan Bapak tidak saling menyalahkan!"

"Maaf, Bapak tidak sempat memberitahukan kalau di kepala Emak kalian ada paku yang tidak boleh kalian cabut," terang Sanusi sambil merasakan sesal di hati.

"Jadi sekarang bagaimana, Pak?" tanya Yunar yang kesal sekali terhadap ayahnya.

"Kita harus menangkap Emak kalian lagi, lalu memakunya kembali."

"Bagaimana caranya, bukankah kita sendiri tidak bisa terbang seperti Emak?"

"Kita harus cari akal"
* * *
Menjelang gelap malam, Yunar, dengan paku dan batu di tangan, sudah berada di perkebunan karet yang tidak jauh dari rumahnya. Yunar berharap dirinya dapat menangkap ibunya di antara pohon-pohon karet yang tegak berdiri di sekelilingnya. Sedang Yuni yang dibantu oleh beberapa tetangganya memilih berjaga-jaga di bawah pohon asam yang ada di belakang rumahnya. Karena ke pohon itulah dia melihat ibunya terbang dan menghilang di situ. Lain halnya Sanusi, dia mengawasi istrinya dari bawah pohon mangga yang tengah berbuah lebat. Sebab dahulu sewaktu dia belum bisa menangkap istrinya, dia sering melihat istrinya memetik buah mangga itu bersama kelelawar-kelelawar. Dan sebagian buah yang dipetiknya sering dijatuhkan ke halaman rumah dengan maksud untuk dimakan oleh anak-anaknya yang waktu itu masih kecil-kecil.

"Untuk apa?" tegur Sanusi waktu itu karena menganggap perbuatan istrinya bukan perbuatan seorang ibu tapi perbuatan kuntilanak.

"Aku memberi makan anak-anakku," terdengar istrinya menyahut.

"Malam begini bukan waktunya memberi makan anak dengan makanan asam. Kau akan menyiksa anak-anakmu sendiri!" kata Sanusi. Sang istri tak menyahut, justru dia melesat terbang ke pepohonan yang lebih tinggi. Dua ekor tupai dan seekor burung yang sudah mati dilemparkan dari atas pohon ke pintu dapur.

"Itu bisa kamu panggang. Beri makan anak-anak kita," kata istrinya memohon dari atas pohon. Sanusi menolak karena tiga binatang buruan itu telah menjadi bangkai semua.

Dari pengalamam itu, Sanusi jadi lebih hafal dimana istrinya suka berdiam. Namun hari itu tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan istri Sanusi. Para tetangga yang turut mencari akhirnya kembali pulang dengan tangan hampa.

Akan tetapi, dibalik kecemasan di antara mereka, ada pula yang mensyukuri dapat dicabutnya paku dari kepala istri Sanusi, yaitu seorang perempuan yang bernama Emar, istri Leman, seorang penambang pasir di kampungnya. Emar berharap atas lepasnya Suti, yaitu istri Sanusi, akan ada perubahan nasib terhadap dirinya. Karena dirinyapun tak beda dengan istri Sanusi yang ingin lepas bebas seperti dahulu kala.

"Suti, datanglah kepadaku," bisik Emar sambil memandangi awan hitam yang berarak di antara bulan sabit yang terjebak oleh cuaca buruk melalui jendela rumahnya malam itu. "Ayo Suti, tolong temanmu ini. Aku tersiksa, Suti. Aku tersiksa" lemah suara Emar karena khawatir suaranya akan terdengar oleh suaminya yang tengah menunggu dirinya di pembaringan. Sedang Suti sudah mendengar suara temannya itu dari atas pohon waru.

"Sabar Emar, semua teman-temanku akan kubebaskan dari belenggu kaum lelaki yang serakah. Mereka akan bertekuk lutut nanti. Selama ini mereka hanya bisa memeras kita dan memperbudak kita. Mereka tak punya pikiran. Mereka gauli kita meski kita dalam keadaan sakit. Mereka terlalu menguasai kita. Kita harus balas. Dan sekaranglah waktunya. Dengan bebasnya aku, kalian semua akan kubawa ke tempat kita dulu. Tunggu saja, pada saatnya nanti kalian pasti lepas dari jerat mereka"

"Terima kasih, Suti. Terima kasih," balas Emar sambil menutup daun jendela dan terus menghampiri suaminya di pembaringan. Malam itu Emar memberi kehangatan tubuhnya untuk terakhir kali kepada suaminya. Sebab pada malam berikutnya Suti benar-benar datang menemui Emar yang menunggu di belakang rumahnya. Tanpa menunggu waktu lama, Suti sudah dapat mencabut paku yang ada di kepala teman dekatnya itu. Setelah paku dicabut, tubuh Emar seakan bersayap. Badannya jadi ringan. Dan akhirnya Emar bisa terbang bersama Suti menembus kepekatan malam.

Tampaknya seperti dendam kesumat, kedua perempuan yang sudah bisa terbang dan menghilang itu akhirnya mendatangi para kaumnya yang senasib. Dicabutinya paku-paku yang ada di kepala mereka masing-masing. Dan pada akhirnya para perempuan yang memiliki suami dari suku asli penduduk kampung itu semuanya dapat terlepas dari jerat paku yang dipantek oleh para suami mereka. Lalu mereka beterbangan layaknya kelelawar-kelelawar penghuni lautan malam hari. Mereka kembali menempati tempat tinggal mereka yang lama seperti pohon-pohon besar yang ada di lereng-lereng bukit.

"Aduh, bagaimana ini! Paku di kepala istriku ada yang mencabutnya," teriak Leman setibanya di hadapan teman-temannya yang sedang membantu mencari istri Sanusi sebagai orang pertama yang pakunya lepas dari kepalanya. Teman-teman Leman pada terkejut termasuk Sanusi sendiri.

"Jangan-jangan istri kita juga sudah tidak ada di rumah?" kata Lengger penuh kekhawatiran. Tanpa dikomando, para suami, serempak berlari menuju ke rumah mereka untuk melihat keberadaan istri mereka masing-masing. Obor yang mereka bawa berlari apinya cukup berkobar seakan menggambarkan perasaan hatinya yang teramat cemas. Dan lari mereka seperti srigala hutan yang tengah mengejar mangsanya. Mereka berpikir, kalau Suti sudah bisa lepas, urusannya akan jadi runyam. Contohnya sudah ada, yaitu istri Leman yang kedapatan sudah bisa terbang seperti Suti. Maka mereka para suami, berusaha untuk menyelamatkan istri-istri mereka dari hari pembebasan yang tengah dikibarkan oleh Suti, istri Sanusi itu.

"Apa aku bilang, istriku pun lenyap.Ini pakunya!" teriak Matarwi keluar dari dalam rumahnya sambil memperlihatkan sebuah paku kepada teman-temannya yang belum sempat melihat keberadan istrinya. Matarwi kembali masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh beberapa temannya. Matarwi melongok ke kolong-kolong tempat tidur siapa tahu istrinya bersembunyi di kolong tempat tidur. Tak ada. Teman-teman Matarwi akhirnya pada panik termasuk Lengger yang sudah curiga lebih awal tadi. Lalu mereka berlarian menuju ke rumah mereka masing-masing guna mencari istrinya.

"Menii Menii. Jangan pergi" suara Lengger cukup keras keluar dari dalam rumahnya sambil memegang sebuah paku yang dia temukan di atas tempat tidurnya. Anak-anak mereka bertangisan memanggil-manggil ibunya. Dan malam itu para suami telah kehilangan istri mereka masing-masing.

"Kita tidak akan mendapat istri sebaik mereka lagi," rintih Jagur sedih.

"Benar, kita akan kesusahan sepanjang hidup tanpa kehadirannya di sisi kita. Mereka begitu baik dan telaten mengurusi kita," sesal Dayut sambil menangis.

"Tapi mengapa mereka tega meninggalkan kita secara berbarengan? Apakah mereka dendam pada kita yang kedudukannya sangat terbalik dimana kita selalu mengandalkan tenaga dan pikirannya untuk urusan rumah tangga?" tanya Toyo.

"Sekarang kita harus berani mengaku bahwa kita yang salah. Karena, selain kita memasung istri kita, kita juga terlalu memperbudaknya. Di sinilah kekeliruan kita memperlakukan mereka," ujar Leman. Setelah mereka menyadari kekeliruannya, akhirnya satu persatu membubarkan diri untuk kembali mencari istrinya mereka masing-masing.

Malam kembali sunyi. Lolong srigala dari atas bukit melengking menyusup ke relung-relung jiwa yang ditinggalkan. Para suami dan anak merasa kehilangan buah hatinya. Hingga pada akhirnya, anak-anak di kampung itu menuntut bapak-bapaknya untuk bisa mengembalikan kembali ibu-ibu mereka yang telah pergi. Tapi para suami mengambil keputusan yang sama sekali janggal. Para suami tiba-tiba memantek kepalanya sendiri-sendiri dengan sebatang paku dan berharap bila kelak paku yang tertancap di kepalanya itu dicabut oleh anak-anaknya, mereka akan dapat terbang untuk menyusul istri-istri mereka yang telah pergi.

"Cepat cabut paku yang ada di kepala Bapak ini, Seno" pinta Lengger kepada anaknya setelah dia memaku kepalanya sendiri dengan sebuah paku hingga berdarah-darah. Seno amat terkejut melihat darah yang mengalir dari kepala bapaknya teramat deras. Spontan anak itu menjerit dan berlari keluar rumah.

"Tolong, Bapakku bunuh diri! Tolong Bapakku bunuh diriii" * * *
* Depok, Januari 2006/2007

Cited from Suara Karya, Sabtu, 7 Juli 2007

Tertarik dengan cerpen ini? Silakan download di sini

Sunday, October 26, 2008

Hikayat Burung Cenderawasih


Burung Cenderawasih

Sahibul hikayat telah diriwayatkan dalam Kitab Tajul Muluk, mengisahkan seekor burung yang bergelar burung cenderawasih. Adapun asal usulnya bermula dari kayangan. Menurut kebanyakan orang lama yang arif mengatakan ianya berasal dari syurga dan selalu berdamping dengan para wali. Memiliki kepala seperti kuning keemasan. Dengan empat sayap yang tiada taranya. Akan kelihatan sangat jelas sekiranya bersayap penuh adanya. Sesuatu yang sangat nyata perbezaannya adalah dua antena atau ekor ‘areil‘ yang panjang di ekor belakang. Barangsiapa yang melihatnya pastilah terpegun dan takjub akan keindahan dan kepelikan burung cenderawasih.

Amatlah jarang sekali orang memiliki burung cenderawasih. Ini kerana burung ini bukanlah berasal dari bumi ini. Umum mengetahui bahawa burung Cenderawasih ini hanya dimiliki oleh kaum kerabat istana saja. Hatta mengikut sejarah, kebanyakan kerabat-kerabat istana Melayu mempunyai burung cenderawasih. Mayoritas para peniaga yang ditemui mengatakan ia membawa tuah yang hebat.

Syahdan dinyatakan lagi dalam beberapa kitab Melayu lama, sekiranya burung cenderawasih turun ke bumi nescaya akan berakhirlah hayatnya. Dalam kata lain burung cenderawasih akan mati sekiranya menjejak kaki ke bumi. Namun yang pelik lagi ajaibnya, burung cenderawasih ini tidak lenyap seperti bangkai binatang yang lain. Ini kerana ia dikatakan hanya makan embun syurga sebagai makanannya. Malahan ia mengeluarkan bau atau wangian yang sukar untuk diperkatakan. Burung cenderawasih mati dalam pelbagai keadaan. Ada yang mati dalam keadaan terbang, ada yang mati dalam keadaan istirahat dan ada yang mati dalam keadaan tidur.

Walau bagaimanapun, Melayu Antique telah menjalankan kajian secara rapi untuk menerima hakikat sebenar mengenai BURUNG CENDERAWASIH ini. Mengikut kajian ilmu pengetahuan yang dijalankan, burung ini lebih terkenal di kalangan penduduk nusantara dengan panggilan Burung Cenderawasih. Bagi kalangan masyarakat China pula, burung ini dipanggil sebagai Burung Phoenix yang banyak dikaitkan dengan kalangan kerabat istana Maharaja China. Bagi kalangan penduduk Eropah, burung ini lebih terkenal dengan panggilan ‘Bird of Paradise‘.

Secara faktanya, asal usul burung ini gagal ditemui atau didapathingga sekarang. Tiada bukti yang menunjukkan ianya berasal dari alam nyata ini. Namun satu lagi fakta yang perlu diterima, burung cenderawasih turun ke bumi hanya di IRIAN JAYA (Papua sekarang), Indonesia saja. Tetapi yang pelik namun satu kebenaran burung ini hanya turun seekor saja dalam waktu tujuh tahun. Dan ia turun untuk mati. Sesiapa yang menjumpainya adalah satu tuah. Oleh itu, kebanyakan burung cenderawasih yang anda saksikan mungkin berumur lebih dari 10 tahun, 100 tahun atau sebagainya. Kebanyakkannya sudah beberapa generasi yang mewarisi burung ini.

Telah dinyatakan dalam kitab Tajul Muluk bahawa burung cenderawasih mempunyai pelbagai kelebihan. Seluruh badannya daripada dalam isi perut sehinggalah bulunya mempunyai khasiat yang misteri. Kebanyakannya digunakan untuk perubatan. Namun ramai yang memburunya kerana ‘tuahnya’. Burung cenderawasih digunakan sebagai ‘pelaris’. Baik untuk pelaris diri atau perniagaan. Sekiranya seseorang memiliki bulu burung cenderawasih sahaja pun sudah cukup untuk dijadikan sebagai pelaris. Mengikut ramai orang yang ditemui memakainya sebagai pelaris menyatakan, bulu burung cenderawasih ini merupakan pelaris yang paling besar. Hanya orang yang memilikinya yang tahu akan kelebihannya ini. Namun yang pasti burung cenderawasih bukannya calang-calang burung. Penuh dengan keunikan, misteri, ajaib, tuah.

Download teks ini KLIK di sini

Saturday, October 25, 2008

Di Meja Perjamuan

Di Meja Perjamuan
Cerpen Evi Idawati


Seakan embun yang menggumpal dari pekat kabut dan udara yang menempel di daun pagi ini, kekasihku. Tetesan yang jatuh perlahan dari ujung ke rimbun, seperti detak jantungku. Sunyi menggelepar di meja perjamuanku.

Menarik tanganku untuk menyentuhnya. Aku tak ingin membedahnya atau menari bersamanya. Sendok dan garpu di meja perjamuanku hanya menjadi patung abadi dari kegelisahan. Sepi yang menggantung di dinding telah jatuh. Dengan segenap hatiku, aku menangkapnya. Mendekap dan menyetubuhinya.

Aku tak bisa beranjak dari kursi di meja perjamuanku. Hidangan yang terhampar seperti lukisan mati. Hitam dan putih. Goresannya tegas dan kuat. Tanganku tak mampu melenturkannya atau menggantinya dengan beragam warna. Lalu suara sayup dari jauh menusuk. Nyeri yang terkirim lewat udara dan mengantarkannya untukku, memperlambat detakan jantungku. Aku semakin terpaku.

Suara ketukan mengejutkan, ibarat gong pertama diawal pertunjukan. Aku hanya mampu mengerdipkan mataku. Menajamkan pendengaranku. Aku hendak bangkit, membuka pintu. Tapi ketukan itu beku. Mendinginkan waktu. Aku menggigil sambil mencengkeram kuat telapak meja. Tak kuat menahan lama jari-jariku melepaskannya. Karena tak ada tenaga.


Kembali aku menatap sunyi yang menggelepar di meja perjamuan. Meski lapar seleraku hilang. Hanya inilah yang terhidang. Kumpulan dari segala nyeri dan duka. Bumbu dari kepedihan dan nestapa. Tak kuasa aku menelannya. Tapi aku tak akan bisa menguatkan kaki untuk beranjak, berdiri, apalagi berlari jika sampai sumsumnya aku tak memakannya. Aku hendak muntah, karena menahan diri untuk diam dan berpuasa. Tapi sudah berbulan-bulan waktu berjalan, jika aku diam, kematian yang akan datang. sekarang aku tak punya tenaga untuk menggerakkan tangan apalagi berkata. Aku meletakkan telapak tanganku dimeja. Menggesernya perlahan, mengambil pisau disisi kanan. Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku mengangkat pisau dan menggerakkannya. Aku menyentuh jari sunyi dengan tangan kiri. Menariknya mendekat. Lalu memotongnya.

Kemudian aku diam. Aku berharap sunyi merintih didepanku dan menghiba padaku untuk tetap membiarkannya berdiam dan mukim dimeja perjamuanku. Tapi sunyipun mati. Dia tidak merintih apalagi menghiba. Dia memandangku dengan matanya yang dingin. Seakan mengejek dan mengatakan, aku hanya perempuan pengecut yang tidak berani melahapnya meski sekian lama dia menggoda. Ibarat khuldi, dia pernah menarikku untuk memetiknya. Seakan malam, aku ingin mencicipinya. Tapi genderang yang terdengar setelahnya menampar dan menampar. Sekarang aku hanya memotong jarinya, membakar dan memakannya. Rasanya angus karena gosong. Api yang aku nyalakan terlalu besar untuk mematangkan secuil jari sunyi. Tapi aku toh tetap memakannya. Untuk bertahan. Tak ingin terpaku terus menerus dikursi dengan sunyi yang menggelepar dimeja perjamuan. Aku ingin memusnahkannya. Hanya ada satu cara. Aku harus memakannya.

Tapi sunyi yang menggelepar di meja perjamuan ini kekasihku, bangunan dari pedih dan dukaku. Kamu tahu, jari-jarinya aku tabung dari tetesan airmata. Tubuhnya aku bentuk dari kesendirianku ditengah malam. Dari redaman bisikan gairah dan rindu yang tak padam. Sementara wajahnya, aku ambilkan dari bintang-bintang yang terhampar. Aku memetiknya dari langit malam. Jika langit membelah dan mengirimkan jembatan. Aku menujunya membawa keranjang cinta dan meletakkan bintang di dalamnya. Bagaimana aku hendak memakannya.

Namun jarinya sudah terpotong. Dengan angusnya masuk ke tubuhku mengisi perutku. Barangkali sekarang sudah menyatu dengan darahku. Aku tak boleh berhenti untuk terus memakan dan memusnahkannya. Tapi aku tak tega. Terkadang aku merasa hidupku selesai hanya dengan memandangnya. Ada saatnya dia begitu berkilau dan mempesona. Itulah yang membuatku terpaku. Bertahun-tahun lamanya. Asyik duduk menghadap meja perjamuan dengan sunyi yang terhampar. Hari berjalan, waktu yang mengendap lambat tak membuatku sadar. Semua sudah berubah tapi aku masih lena dengan langit dan bintang. Dengan pikatan sunyi yang memabukkan.

Sementara aku semakin tidak berdaya dan tidak punya tenaga. Sudah begitu lama malam menggauliku dan aku tidak bisa beranjak darinya. Untuk menggerakkan jari tangan saja. Aku harus meyakinkan diri berjam-jam bahwa aku sanggup melakukannya. Terkadang ingin kuhabiskan waktuku hanya dengan memandang sunyi. Biarkanlah aku mati jika takdirku hanya memakuku di kursi ini. dan suara-suara dari jauh yang kadang dikirimkan membuatku bangun dan tersadar. Bukan dengan cara seperti ini aku memujamu, kekasihku.

Maka aku kuatkan hati untuk melahap sunyi. Menghabiskannya malam ini. aku akan menggunakan segala cara untuk memusnahkannya. Aku tikam jantungnya. Mencacah dan mencincang tubuhnya. Membakar dan memasaknya. Aku mengambil pisau yang terbuat dari ragam kenangan pahit dari silamku.

Dengan kaki gemetar aku berusaha berdiri. Menggeser kursi ke belakang. Aku lihat sekali lagi sunyi. Aku menutup mata dan berbalik melangkahkan kaki. Menjauhi meja perjamuan. Langkah kakiku yang lambat seakan batu yang memberat. Aku ambruk ditanah. Sambil duduk aku mencoba meraih pisau yang jatuh. Seperti menyayat kulit dari dagingku dalam kebisuan aku mengasah pisau. Menajamkannya.

Agar bisa kubunuh sunyi dan memusnahkannya dari meja perjamuanku. Setiap kali kugesek pisau, terasa nyeri di seluruh badanku. Sakitnya melenting, melompat-lompat, berpindah-pindah merajai seluruh tubuhku. Setiap kali kugesek, darah mengalir dan mengucur dari lukaku. Luka lama yang sepanjang usia mengigilkan aku. Ingin aku berhenti, tapi tak kuasa kukendalikan jari. Lirih suara mengaduh dari bibir yang gemetar. Aku mabuk dalam nyeri.

Sedang pagi sudah lewat hari dan aku masih mengasah sunyi. Tekad hati untuk beranjak telah berhenti. Tak ada kehendak apa-apa kecuali menjatuhkan airmata. Aku menyayat diriku sendiri. Pedihnya menjadi kebisuan abadi. Aku tak ingin berdiri dan membunuh sunyi. Biarlah aku memandang dan menikmatinya. Bumi memangkuku menjadi tempat membuang segala lara. Aku memaku mataku dengan gerakan tangan yang gemetar, aku meraba ujung pisau dan menyentuhnya. Tajam. aku menempelkan ujungnya di dadaku. Menggores kulit dadaku. Lalu turun ke bawah hingga ke ulu hatiku. Aku menghentikan ujung pisau disitu. Hanya perlu satu hentakan untuk menuntaskan semuanya. Jika aku membunuh sunyi maka sama saja aku memusnahkan diriku sendiri. Sekaranglah saatnya.

Meski, embun yang menggumpal dari pekat kabut dan udara yang menempel didaun pagi ini, kekasihku. Luruh oleh kepedihanku. Aku tak akan mengakhiri dan membunuh sunyi. Biarlah dia terhidang senantiasa dimeja perjamuanku. Dan aku hanya memandangnya. Sesekali menikmatinya sambil mendendangkan lara.

Aku kembali pada kursiku dan aku tetap akan memujamu. Dengan segenap jiwa yang kadang rapuh, sambil menyebut namamu, aku akan menghidupkan sunyi, untuk bangun dan menciptakan tarian dari keselarasan. Aku dan dia telah menyatu. Menari meniti mimpi.

Dan siapapun tak bisa mengganggu. Kecuali dirimu.***
* Jogja 2008

Friday, October 24, 2008

Keberadaan Kritikus Sastra

Menyoal "Keberadaan" Kritik(us) Sastra


Dalam buku The Sacred Word (Metheun & Co Ltd., New York, 1960) TS Eliot menulis, we might remind ourselves that criticism is an inevitable as breathing. Ya kita selalu menghormati, membutuhkan dan tidak dapat melepaskan diri dari kritik (sastra). Syukurlah, kritik sastra masih terus ditulis, meski memang telah kehilangan legitimasinya.

Legitimasi atau kehidupan kritik(us) sastra, ya, itulah yang kerap membuncahkan jagat sastra Indonesia. Banyak kajian berupa esai atau artikel yang intinya menyiratkan keresahan, kekecewaan dan keprihatinan kita menghadapi degradasi keberadaan kritik(us) sastra.

Ketika kebudayaan industri atau kebudayaan massa koran begitu berkuasa, tradisi romantik yang cenderung ke detail dan melahirkan kritik sastra buku dan majalah ala Jassin dianggap sudah tidak relevan. Persoalannya adalah, kehadiran kritik(us) sastra koran dirasa masih sangat jauh dari memuaskan.

Asumsi di atas seakan beroleh pembenaran dari beberapa figur sastra kita. Faruk HT, melalui tulisan berjudul "Situasi Kritik Sastra Dewasa Ini" mengatakan kritik sastra sekarang telah dikuasai media massa koran. Karena itu, sesuai orientasi serta kaidah jurnalistik media bersangkutan, kritiknya cenderung abstrak, mengambang, bertutur tentang soal-soal yang umum sehingga kehilangan kemampuan bicara menyangkut detail.



Dengan nada lain Agus Noor mengungkapkan, kritik maupun kritikus tidak lebih dari semacam mitra dialog(is), yang membuka dan memberi peluang cara pandang mendekati serta mengapresiasi karya sastra. Iwan Gunadi menilai kritikus tak memiliki perangkat yang memadai -selain teori-teori yang terlalu memBarat- untuk menguliti sebuah karya. Nirwan Dewanto mengemukakan "kemalu-maluan" serta ketidakberanian kritik(us) sastra menegakkan kepala.

Telaah(an) para figur sastra kita itu secara tidak langsung menyiratkan bahwa kritik(us) sastra, seiring zaman, terlihat mencari bentuk dan mediumnya. Dengan kata lain, kritik sastra ternyata begitu fleksibel, bisa menyesuaikan diri dengan zaman: buku, majalah, pengantar-buku dan koran. Akan tetapi keabsahan kritik sastra bukan ditentukan oleh medium kritik(us) melainkan oleh kebernasan atau "sesuatu" yang ada pada kritik itu. Artinya adalah, seekstrem apa pun orang menolak kehadiran seorang kritikus, tapi jika di antara kita ada yang sanggup memformulasikan kritiknya sebagai sebuah kritik maka akan jadi dan di"dikritikus"kan khalayaklah dia.

Sesuai sifat dan fungsinya, kritik sastra niscaya menjadi penghubung antara pembaca dan (pengarang) karya sastra. Kecuali itu, kritik dengan segala konsekuensinya mungkin sangat diperlukan sastra(wan), sebagai tolok ukur yang, ironisnya, bukan tidak mustahil justru akan membunuh atau sebaliknya melambungkan karya sastra -termasuk pengarang.

Sekaitan ini, dalam konteks relasi kritik dengan karya dan masyarakatnya Gus tf mengatakan sublimitas seorang seniman adalah kehidupan sedang sublimitas seorang kritikus adalah karya seni. Ketimbang menyerahkan dan menghadapkan diri pada "keangkuhan" sebuah karya, kritikus menempuh jalan tersendiri yang sebetulnya ironi: mengritik dengan bahasa yang karena keharusannya bermain dalam gugus pengertian.

Tersebab "intervensi" pemikiran filsafat, korelasi dan relevansi dikotomi kritik jadi lebih bersifat konseptual. Lebih spesifik, seni (baca: karya sastra) yang diposisikan sebagai sarana penyampaian masalah-masalah sosial ditempatkan kritik(us) sebagai subordinat suatu kepentingan politik. Karya yang dipandang sebagai "alat" pencapaian ide-ide besar tentang seni ditempatkan sebagai sesuatu yang sangat individualistik. Karya yang cenderung memanifestasikan tingkah-laku sehari-hari akan ditempatkan sebagai sesuatu yang agung, tinggi, didaktik dan karenanya akan terbebani oleh berbagai tuntutan dan harapan. Karya (dunia simbolik) yang selalu berinteraksi dengan dunia sosial dan material, tidak saja akan membuat karya kehilangan otonomi tetapi juga akan direduksi kritik(us) dengan banyak aspek kepentingan yang menyertai karya tersebut.

Hemat kita, di sinilah permasalahan yang sesungguhnya. Karya sastra bisa dimasuki kritik(us) dari segala sudut pandang. Dan keberhasilan kritik sastra bukan bergantung kepada siapa yang membuat atau apa dan di mana ia dipublikasikan. Kemangkusannya berkaitan erat dengan kearifan kritikus menjaga penetrasi porsi tulisan yang mengacu pada sifat serta fungsi kritik, di samping kepiawaian kritikus menyiasati medium (buku, majalah, pengantar-buku, koran) yang hendak dimanfaatkannya.

Namun kearifan dan kelihaian kritikus memahami maksud, kiat, style berikut gaya bahasa (yang pas) yang akan digunakan mengulas karya sastra jelas tak berarti andaikata ia tidak bijak dan jeli menangkap keindahan atau kelemahan yang terkandung dalam karya. Ini ditengarai bertali-temali dengan kejujuran dan obyektivitas kritikus sewaktu menimbang karya yang dikupas. Sebagai ilustrasi, konon di sinilah keunggulan HB Jassin. Sejarah membuktikan, Chairil Anwar yang (selamanya) ia sanjung langsung dikecam begitu menyadari penyair besar itu "mencuri" sajak A Song of the Sea Hsu Chih-Mo.

Barangkali inilah diskursus atau problem yang melatarbelakangi kegamangan Taufiq Ismail. Dalam "Kongres Kesenian Indonesia I" tempo hari penyair kondang itu mengungkapkan, semenjak HB Jassin "pensiun" menulis kritik dunia sastra kita merasa sangat kehilangan. Keadaan itu diperburuk karena beberapa kritikus yang bilangannya bisa dihitung dengan jari tangan sudah memasuki "masa persiapan pensiun" pula. Sementara FSUI yang pada masa jayanya punya sebarisan jago kayak Boen Sri Oemarjati, MS Hutagalung, Lukman Ali, Saleh Saad, seakan dilanda degenerasi alias tak melakukan regenerasi.

Sedikit berbeda dengan Taufiq, Sapardi Djoko Damono justru melontar sinyalemen yang lebih menjurus ke sebab-musabab "keterpinggiran" atau stagnasi keberadaan kritik(us) sastra itu sendiri. Dalam "Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia" di Denpasar, Bali, beberapa tahun yang lalu, Guru Besar FSUI itu mengatakan bahwa untuk bisa membicarakan karya sastra secara baik, kritikus harus lebih pintar atau minimal sama cerdasnya dengan pengarang. Selain itu tiap generasi harus memiliki juru bicara, karena tiap zaman punya keunikan dan problematikanya sendiri.

Ya, orang bilang pengarang mencipta berdasarkan kekuatan imajinasinya sedang kritikus bicara dengan keluasan (ilmu) pengetahuannya. Maka idealnya, seyogyanya seorang kritikus menguasai seluk-beluk sastra yang maksimal sembari terus mempelajari puspa-ragam informasi yang beredar di tengah masyarakat. Bermodal pengetahuan yang memadailah seorang kritikus leluasa menggeluti karya sastra. Tapi memang, kritikus yang (akan) berhasil dengan misi dan visi maupun citranya adalah kritikus yang cerdas memanfaatkan peluang zaman lewat medium yang dimasukinya.***
Nelson Alwi, pencinta sastra-budaya, tinggal di Padang
diambil dari Suara Karya online, Sabtu 19 April 2008

Thursday, October 23, 2008

Hikayat Siti Mariah

Siti Mariah

Hikayat Siti Mariah ini menceritakan petualangan dan kisah roman di seputar dunia pernyaian atau pergundikan dengan tokoh utamanya, Siti Mariah, di zaman kolonial Belanda. Hikayat ini banyak mengungkap situasi mengenai dunia pernyaian di Indonesia pada zaman kolonial. Pernyaian atau pergundikan adalah lembaga perkawinan tanpa pengesahan dari negara maupun agama. Lembaga perkawinan ini terjadi karena pihak pria dalam posisi sosial-ek onomi yang lebih tinggi ketimbang pihak perempuan. Praktik pergundikan semacam ini lazim terjadi pada masa kolonial. Seorang pria kolonial, atau dalam hal ini penjajah Belanda, sebelum menikah resmi dengan perempuan bangsanya sendiri atau yang sederajat biasanya mengambil seorang atau beberapa gadis pribumi untuk dijadikan gundik atau nyai atau istri tidak resmi.

Kendati para nyai itu layaknya hidup sebagai seorang istri dan bahkan mempunyai anak dari pria kolonial, namun ia harus rela meninggalkan kehidupannya sebagai nyai manakala pria kolonial tersebut memutuskan menikah dengan perempuan bangsanya sendiri. Sebagai konsekuensinya ia bahkan harus rela melupakan bahwa ia pernah bersuami dan mempunyai anak yang pernah dilahirkannya.

Diceritakan bahwa Siti Mariah adalah anak di luar perkawinan antara Elout van Hogerveldt, seorang kontrolir tebu, dengan seorang gadis pribumi bernama Sarinem. Ketika lahir, Siti Mariah dinamai Urip. Ia diberi nama Urip karena pernah jatuh sewaktu lahir, namun bisa tetap hidup atau urip. Urip tidak pernah mengenal ayah kandungnya sendiri karena sewaktu ia masih dalam kandungan, ayah kandungnya, Elout van Hogerveldt, telah meninggal.


Urip pernah hampir dibuang ke jurang oleh Wongsodorono, seorang petani bertabiat buruk yang tak lain adalah ayah tirinya sendiri, sewaktu masih berumur sebelas bulan. Sarinem, ibu Urip, dipaksa kawin dengan Wongsodorono oleh ayahnya sewaktu hamil 7 bulan. Namun, Urip masih beruntung tidak jadi dibuang karena Wongsodorono akhirnya menjual Urip kepada Joyopranoto, seorang mandor gula di Sokaraja yang sudah lama berkeluarga namun belum punya anak.

Urip kemudian tumbuh menjadi gadis indo yang cantik dengan nama Siti Mariah. Kisah petualangan dan roman Siti Mariah dimulai ketika ia mulai menjalin cinta dengan seorang opsiner gula bernama Henry Dam. Ia kemudian dijadikan nyai oleh Dam dan memperoleh anak darinya yang diberi nama Ari.

Namun, kebahagiaan Mariah ternyata tidak berlangsung lama. Kehidupan rumah tangganya terusik lantaran pengaruh Nyonya van Holstein, pemilik pabrik gula tempat Dam bekerja. Dengan segala cara, termasuk dengan menggunakan jasa dukun, Nyonya van Holstein mempengaruhi Henry Dam untuk menjauhi Siti Mariah sehingga Henry Dam dapat menikahi putrinya Nona Lucie. Usaha tersebut berhasil, Mariah dipaksa keluar dari kehidupan Dam dan ia pun harus berpisah dengan anaknya, Ari. Setelah sempat kabur dari rumah keluarganya, menyamar jadi jongos dan menjadi Nyonya Esobier, Siti Mariah akhirnya dipertemukan kembali dengan Henry Dam dan anaknya, Sinyo Ari, berkat bantuan Sondari. Seperti juga dengan hikayat-hikayat lain, sang tokoh cerita akan memperoleh kemenangan setelah melewati petualangan yang hebat.
====
Hikayat Siti Mariah sebelum diterbitkan kembali oleh Hasta Mitra dalam bentuk buku tahun 1987 sebenarnya sudah pernah dua kali diterbitkan. Pertama kali saat pengarangnya masih hidup diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di surat kabar Medan Prijaji yang dipimpin RM Tirto Adhi Soerjo di Bandung antara tahun 1910 - 1912. Kemudian masih dalam bentuk cerita bersambung, kurang lebih 50 tahun kemudian Lentera menerbitkannya kembali antara kurun waktu tahun 1962 sampai tahun 1965 dengan editor Piet Santoso Istanto.

Hikayat Siti Mariah karangan Haji Mukti ini penah dilarang beredar oleh Pemerintah Orde Baru. Kendati tidak dikarang oleh Pramoedya Ananta Toer, namun karena hikayat karya Haji Mukti ini kemudian diterbitkan kembali menjadi buku oleh Penerbit Hasta Mitra, dan yang menjadi editornya Pramoedya Ananta Toer, buku tersebut dilarang. Buku ini, bersama buku Gadis Pantai karya Pram, dilarang peredarannya oleh Kejaksaan Agung berdasarkan Surat Keputusan Kejaksaan Agung Nomor Kep-081/J.A/8/1988 pada tahun 1988. Hal ini disebabkan pemerintah pada waktu itu menganggap buku- buku tersebut bertentangan dengan Pancasila karena dianggap berbau ajaran komunis. Namun, belakangan seiring dengan runtuhnya rezim Orde Baru pada tanggal 28 Agustus tahun 2000 berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor Kep-223/J.A/08/2000 mencabut pelarangan peredaran buku- buku karangan Pramoedya, termasuk di dalamnya buku Hikayat Siti Mariah. Tahun 2003 Hikayat Siti Mariah kembali diterbitkan oleh Penerbit Lentera Dipantara.

Hikayat Siti Mariah menduduki posisi yang cukup penting bagi sejarah perkembangan sastra pra-Indonesia karena merupakan satu-satunya karya sastra pra-Indonesia pada zaman tanam paksa (cultuur stelsel) antara tahun 1830-1890. Seperti yang tercantum dalam sampul buku tersebut yang berbunyi: "satu-satunya roman kurun ’tanam paksa’ 1830-1890". Selain itu, hal lain yang menjadikan hikayat ini berbeda adalah bahasa yang digunakan, yakni bahasa Melayu linguafranca. Pada masa itu atau saat Pemerintah Kolonial Belanda menjalankan politik etis, perkembangan sastra ditandai dengan adanya penggolongan sastra, yakni sastra yang "diakui" kekuasaan dan yang "tidak diakui" kekuasaan. Sastra dalam bahasa Melayu linguafranca masuk dalam kategori yang "tidak diakui" kekuasaan, akibatnya sastra tersebut dianggap sebagai sastra rendahan, bahkan Melayu linguafranca sering disebut sebagai Melayu pasar atau Melayu rendah.

Hikayat Siti Mariah adalah sebuah hikayat dalam arti sesungguhnya, yakni sebuah cerita petualangan yang hebat dari tokoh-tokoh utamanya yang di dalamnya juga terkandung kejadian-kejadian supernatural. Dalam hikayat ini salah satu tokohnya, yakni Sondari, saudara tiri Siti Mariah, dilindungi oleh keris pusaka yang bernama Plered. Satu hal yang menarik dari hikayat ini adalah sang pengarang, Haji Mukti, ikut menjadi tokoh penting dalam cerita yang ditulisnya. Haji Mukti tak lain adalah Sondari. Hal ini terungkap dalam petikan berikut: "Tuan dan Nyonya Dam tak melupakan sahabatnya, yang selama itu tinggal di Jeddah bekerja sebagai pembantu konsul, yaitu si Sondari. Tuan dan nyonya Dam mengunjungi Sondari di Jeddah, wahai sama-sama lain dulu lain sekarang. Sama-sama berpelukan dan berciuman, lumrah, belum ada batas yang memisahkan antara dua sahabat itu. Sondari belum masuk Islam, belum naik haji, ha-ha- ha-ha. Dan belum ganti nama Haji Mukti, ha-ha-ha".

Lalu siapa Haji Mukti sebenarnya? Sampai buku ini diterbitkan tidak diketahui siapa sebenarnya Haji Mukti. Bahkan, nama Haji Mukti pun tidak diketahui apakah nama samaran atau nama sesungguhnya.

Download? Klik di sini

Novel dan cerpen Modern

Panorama Novel dan Cerita Pendek Modern


Oleh Cecep Syamsul Hari


NOVEL berasal dari bahasa Italia, novella, yaitu sebuah prosa naratif fiksional yang panjang dan kompleks yang secara imajinatif berjalin-berkelindan dengan pengalaman manusia melalui suatu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan satu sama lain dengan melibatkan sekelompok atau sejumlah orang (tokoh, karakter) di dalam latar (setting) yang spesifik. Perlu digarisbawahi bahwa pengertian fiksional itu sendiri senantiasa berkembang dari zaman ke zaman.

Dalam perkembangan sastra Barat (Eropa dan Amerika), novel telah menjadi genre sastra tersendiri dan dalam kerangka kerjanya yang luas berkembang ke dalam berbagai jenis, meliputi antara lain novel picaresque, gothic, historical, proletarian, psychological, sentimental, dan lain-lain. Jenis novel terkadang juga dirujuk melalui penandaan sejarah perkembangan kesusastraan yang ditandai pandangan dunia yang dominan pada masa itu tempat novel-novel yang menjadi wakil dari masing-masing pandangan dunia tersebut dominan pula pada masanya, seperti novel-romantik (masa ketika kaum Romantik dan pandangan-pandangannya dominan dalam dunia sastra) dan novel-realis (masa ketika kaum Realis dan pandangan-pandangannya menempati posisi yang pernah ditempati kaum Romantik).

Meskipun bentuk-bentuk awal novel modern dapat ditemukan di sejumlah tempat, antara lain pada zaman Roma klasik, di Jepang pada sekitar abad ke-10 dan ke-11, dan pada masa Elizabethan di Inggris, novel Don Quixote de la Mancha (1605) karya pengarang Spanyol, Miguel de Cervantes[28], dipandang sebagai asal-muasal novel modern. Tema novel tersebut, mengenai pertentangan antara idealisme yang muskil versus kehidupan praktis dan membumi yang dihadirkan dalam karakter seorang kesatria konyol yang bahkan dengan kincir angin pun bertarung, dipercaya menjadi referensi literer novel-novel Barat sesudahnya.


Sejumlah novel yang memikat perhatian diketahui telah bermunculan di Perancis pada abad ke-17; akan tetapi di Inggris-lah novel sebagai suatu genre sastra meletakkan dasar-dasar literernya melalui karya-karya novelis Daniel Defoe[29] dan Samuel Richardson[30] pada pertengahan abad ke-18, sekaligus memapankan posisi novel sebagai genre sastra yang memiliki akar literer kuat. Popularitas novel kemudian menjadi umum di Eropa hingga memasuki abad ke-19 ketika ia berkembang bukan saja sebagai karya prosa naratif fiksional semata-mata tetapi tumbuh sebagai bentuk karya sastra dengan variasi tema, karakterisasi, plot, latar, dan gaya yang berbagai-bagai dan luar biasa.

Novel menjadi karya yang memikat perhatian banyak orang karena dapat memberikan pencitraan dan perlambangan yang lebih meyakinkan (a more faithful image) dari suatu realitas kehidupan sehari-hari daripada yang dapat dilakukan genre sastra lainnya. Bahkan pun fantasi-fantasi extravagant novel-novel gothic dan science-fiction, sumber-sumber inspirasinya dapat dilacak dari permukaan realitas kehidupan sehari-hari. Kepercayaan terhadap takhyul dan alam supranatural komunitas masyarakat tertentu, misalnya, menjadi sumur imajinasi novel-novel gothic sedangkan kepercayaan terhadap suatu masa depan “yang mungkin lebih baik sekaligus mengancam” menjadi oase imajinasi novel-novel science-fiction. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa di kemudian hari para sineas Hollywood mengeksploitasi profitasi kedua jenis novel ini dengan mengangkatnya ke layar perak, seperti yang mereka lakukan terhadap karya-karya Marey Shelley (Frankenstein, 1818), Bram Stroker (Dracula, 1879), dan H.G. Wells (The Island of Doctor Moreau, 1896).

Pada dasarnya perkembangan novel menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah tarik-menarik antara upaya si pengarang untuk keluar atau menyebal dari konvensi-konvensi mapan sebuah zaman dan upaya untuk terus-menerus menangkap, mengolah, menilai, melukiskan tanpa pretensi atau bahkan melecehkan spirit zaman itu. Inilah yang menjelaskan kenapa novel-novel realis dan naturalis bermunculan pada pertengahan hingga akhir abad ke-19, sebuah zaman ketika karya sastra menemukan audiensnya yang sangat luas dan media massa belum begitu berperan. Pada masa inilah Charles Dickens, Thackeray dan George Eliot menulis di Inggris; Balzac, Gustave Flubert dan Emile Zola di Perancis; Turgenev, Tolstoy dan Dostoevsky di Rusia; Nathaniel Hawthorne dan Herman Melville di Amerika. Novel menjadi referensi jurnalistik untuk mengungkapkan realitas yang bersembunyi di tempat-tempat gelap karena sempadan hipokrisi moralitas dan kesantunan semu aristokratis.

Dengan datangnya abad ke-20 dan akibat-akibat yang ditimbulkan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada masa itu, khususnya Perang Dunia I dan II, karakter dalam novel pun menjadi semakin kompleks dan konvensi-konvensi lama yang secara kuat direpresentasikan dalam bahasa dan struktur novel sebelumnya, dipertanyakan. Hal itu antara lain dilakukan James Joyce, Virginia Woolf dan Franz Kafka, para penulis yang memeriksa kembali bagaimana realitas diletakkan “novel-novel konvensional” karena kesetiaan terhadap konvensi-konvensi sastrawi lama. Pada masa yang sama dalam penulisan drama (plays), Luigi Pirandello melakukan apa yang dilakukan Joyce dan Woolf dalam novel; dan di wilayah kesenian yang lain, Igor Stravinsky membongkar konvensi-konvensi lama musik klasik dan menulis sejumlah komposisi dengan karaktrer baru yang menyebal dari “persoalan abadi” pertentangan antara harmoni dan disonansi, tonalitas dan atonalitas, seraya mengedepankan konsep estetik baru, suatu konsep tentang bunyi yang disusun kembali dari horison kreativitas yang antara lain dapat kita simak dalam Le Sacre du Printers dan Symphony in Three Movements.

Di Indonesia, novel-novel awal yang terbit pada zaman Balai Pustaka dan Pujangga Baru dan masa-masa sesudahnya seperti yang misalnya terlihat dalam karya-karya Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer hingga karya-karya Mangunwijaya, Umar Kayam dan Ahmad Tohari, merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah tarik-menarik itu. Kita juga menemukan kenyataan adanya pencarian konvensi-konvesi baru sebagai upaya keluar dan menyebal dari konvensi-konvensi sastrawi lama seperti terlihat pada novel Belenggu Armijn Pane, yang dapat dikatakan sebagai tonggak novel Indonesia modern, dan pada novel-novel yang ditulis Iwan Simatupang dan Budi Darma.
***
Cerita pendek (cerpen) adalah prosa naratif fiksional yang relatif ringkas untuk membedakannya dengan bentuk prosa naratif fiksional lain yang lebih panjang, misalnya novel. Cerpen biasanya hanya memiliki efek tunggal (a single effect) yang disampaikan melalui sebuah episode atau adegan tunggal yang penting (a single significant episode or scene) dan melibatkan karakter (tokoh) yang jumlahnya terbatas, tak jarang cuma satu karakter. Dari segi bentuk, cerpen biasanya memiliki latar yang ekonomis dan narasi yang ringkas; karakternya disingkapkan dalam suatu tindakan dan persinggungan dramatik tetapi tak dikembangkan secara penuh. Berdasarkan bentuknya yang terbatas dan ringkas itu, cerpen pada umumnya lebih memberikan penekanan pada penciptaan suasana daripada menyampaikan suatu cerita yang lengkap.

Meskipun orang telah mengenal fabel dan roman-roman ringkas Yunani serta kisah Seribu Satu Malam, hingga abad ke-19 cerpen belum menjadi genre sastra tersendiri hingga munculnya karya Edgar Allan Poe[31], Tales of the Grotesque and Arabesque, yang sangat berpengaruh tidak saja di Amerika Serikat tetapi juga di Eropa, khususnya di Perancis. Orang pertama yang dipandang menyempurnakan teknik penceritaan genre sastra ini adalah Guy de Maupassant.[32] Selain pengarang Perancis itu, para pengarang Eropa dan Amerika yang keterampilan teknisnya menulis cerpen menjadi rujukan antara lain: Ernest Hemingway, Anton Chekov, Fyodor Dostoevsky, O. Henry, W. Somerset Maugham. Selain itu, dapat pula disebut Saki[33] dan Virginia Woolf[34]. Sebuah buku yang dapat dipertimbangkan untuk persentuhan pertama dengan karya-karya utama pengarang Amerika dari masa seratus tahun tradisi sastra negara itu, mulai dari Mark Twain dan O. Henry hingga Stephen Overholser dan Clay Fisher, adalah buku yang disunting Bill Pronzini dan Martin H. Greenberg.[35]

Jika Chairil Anwar meletakkan dasar-dasar puisi modern; Armijn Pane melakukannya dalam penulisan novel; maka Idrus dapat dipandang sebagai peretas cerpen modern di Indonesia. Pada era sesudahnya cerpen berdiri sama kuatnya dengan genre sastra lain, yaitu puisi dan novel. Novelis-novelis di Indonesia, misalnya Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Umar Kayam dan Budi Darma, pada umumnya juga menulis cerpen dan novel sama kuatnya.

Sebagian penyair Indonesia kadang-kadang menulis (dan menerbitkan buku) cerpen juga, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, Isbedi Stiawan ZS, Moh. Wan Anwar, Nenden Lilis A, Soni Farid Maulana. Sementara Beni Setia adalah penyair yang kemudian lebih dikenal sebagai penulis cerpen. Oka Rusmini dan Abidah El-Khalieqy adalah penyair yang juga dikenal sebagai penulis cerpen dan novelis. Ada penyair yang mengaku sama sekali tidak bisa menulis cerpen, misalnya Goenawan Mohamad. Ada juga pengarang yang dari waktu ke waktu lebih mendahulukan menulis cerpen daripada sesuatu yang lain, seperti yang dilakukan A.A. Navis, Fudoli Zaini, Hamsad Rangkuti, Muhammad Ali, Satyagraha Hoerip, Trisnojuwono, Danarto, Seno Gumira Adjidarma, Gus tf, Joni Ariadinata, Agus Noor, Bre Redana, Prasetyo Utomo, Hudan Hidayat, Jenar Mahesa Ayu, Yanusa Nugroho, meskipun sebagian dari mereka juga menulis novel.

Pada lebih dari satu dasa warsa terakhir, cerpen, seperti juga puisi, tumbuh pesat seiring dengan bermunculannya kolom budaya surat kabar yang menyediakan rubrik khusus untuk kedua genre sastra itu, berdampingan dengan majalah sastra Horison yang telah melahirkan banyak penyair dan pengarang cerpen kenamaan sejak pertengahan tahun 1960-an. Sementara itu, kegairahan menulis novel sampai akhir tahun 1990-an berlangsung biasa-bisa saja dan mungkin itu pula yang menyebabkan kenapa ketika sebuah novel baru diterbitkan, dari pengarang lama maupun baru, perhatian orang begitu besar. Itulah yang terjadi pada Olenka dan Ny. Talis Budi Darma, Bumi Manusia dan Arus Balik Pramoedya Ananta Toer, Burung-burung Manyar Mangunwijaya, Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari, Para Priyayi Umar Kayam, hingga Saman Ayu Utami.

Sejak awal tahun 2000-an penerbitan novel di Indonesia menunjukkan peningkatan yang pesat dan para novelis berbakat pun bermunculan, misalnya, untuk menyebut beberapa nama: Dewi Lestari, Eliza Vitri Handayani, Eka Kurniawan, Dewi Sartika, Ratih Kumala. Pada sisi yang lain, gairah penerbitan novel di Indonesia pertengahan pertama tahun 2000-an diramaikan pula dengan bertaburannya novel-novel teenager yang memiliki ciri-ciri arbitrasi yang seragam (homogeny arbitrary), baik dari aspek lingkungan sosial, kultural, psikologis, maupun lingkungan kebahasaan. Segi struktur novel-novel teenager yang cenderung ringan (light) ini, meskipun di sana-sini mengundang kritik dan polemik, memperlihatkan resepsitas yang tinggi di kalangan para pembaca yang menjadi sasaran-pasarnya.
***
Tidak ada cara yang lebih baik dalam mengapresiasi novel dan cerita pendek selain dengan sebanyak-banyaknya membaca novel dan cerita pendek. Pengetahuan atas struktur novel dan cerpen itu hanya diperlukan sebagai pengantar ke arah pengoptimalan cara baca kita terhadap kedua genre sastra itu. Tulisan ini akan sedikit menyinggung struktur intrinsik yang umum diketahui, yaitu tema, karakterisasi, plot, latar dan gaya.

Tema adalah ide sebuah cerita. Pada saat menulis cerita, pengarang bukan sekadar ingin bercerita tetapi juga menyampaikan sesuatu kepada pembacanya yang dapat berupa masalah kehidupan, pandangan hidupnya atau penilaiannya terhadap kehidupan. Pada karya yang berhasil, tema tersembunyi dalam tindakan-tindakan, pikiran-pikiran, dan ucapan-ucapan tokoh yang diciptakan pengarang. Tema tidak harus berwujud ajaran moral (seperti yang dipercaya para penganut mazhab lama kesusastraan) tetapi bisa semata-mata berwujud pengamatan pengarang atas kehidupan. Tema dalam karya-karya besar novel modern seringkali sederhana saja. Novel Boris Pasternak, Doctor Zhivago, misalnya, temanya adalah percintaan antara Yuri (Zhivago) dan Lara (Larissa). Perjalanan cinta mereka dibingkai latar peristiwa besar, yaitu revolusi Rusia. Tema yang sama dapat kita temukan dalam novel Ernest Hemingway, A Farewell to Arms. Hanya, dalam novel yang disebut terakhir, latarnya adalah Perang Dunia I. Pada kedua novel yang mengantarkan para pengarangnya meraih hadiah Nobel tersebut, sebagai pembaca kita dilibatkan ke dalam konflik dalam maupun konflik luar tokoh-tokoh utama yang mempengaruhi perjalanan dan akhir kehidupan mereka.

Karakterisasi adalah perwujudan atau representasi watak atau personalitas manusia dalam cerita fiksi. Pada novel-novel modern terdapat kecenderungan untuk memberikan penekanan pada perwatakan tokoh (karakter). Karakter dalam novel-novel modern, baik watak psikologis maupun sosialnya, biasanya kompleks. Yang dimaksud watak psikologis adalah struktur jiwa tokoh yang bersangkutan yang terkadang aneh, luar biasa, dan mengejutkan. Misalnya, seperti yang diperlihatkan pembukaan novel Notes from Underground (Dostoevsky) berikut ini: “I am a sick man… I am a spiteful man. I am an unattractive man. I believe my liver is diseased.” Membaca pembukaan novel itu saja sudah dapat dibayangkan kira-kira kita akan mengikuti karakter kehidupan macam apa. Watak psikologis yang dimiliki sang tokoh akan membimbingnya pada watak sosial yang dijalaninya dalam kehidupan ketika karakter yang bersangkutan bertemu, bersentuhan, bersinggungan dan melakukan relasi sosial dengan karakter-karakter lainnya. Pada novel-novel psikologis, Dostoevsky dipandang sebagai pelopornya, perhatian pengarang yang memberikan penekanan pada watak psikologis tokoh-tokohnya sangat terlihat. Di Indonesia, Budi Darma, pengarang beberapa novel psikologis yang kuat, adalah contoh yang baik dari bagaimana seorang pengarang membentuk watak psikologis tokoh-tokohnya.

Sementara itu, karya-karya Umar Kayam mengedepankan sejumlah karakter yang diangkat dari studi mendalam terhadap manusia dari lingkungan kultural yang dekat dikenalnya, seperti tampak dari karakter Marno (“Seribu Kunang-kunang di Manhattan”), Sri (“Sri Sumarah”), Tono (“Musim Gugur Kembali di Connecticut”) atau Lantip (Para Priyayi).

Secara teknis, pengarang melukiskan karakter dalam novel dengan lima cara: perbuatan tokoh, ucapan-ucapan tokoh, penggambaran fisik tokoh, pikiran-pikiran tokoh, dan keterangan langsung pengarang. Dalam novel, kelima cara itu digunakan secara optimal. Dalam penulisan cerpen, cara yang satu biasanya lebih ditonjolkan dari cara yang lain.

Plot adalah rencana atau cerita utama suatu karya sastra dan disebut pula sebagai struktur naratif. Dalam sejarah kritik kesusastraan, pengertian tentang plot telah mengundang banyak perdebatan. Dalam Poetics[36], Aristoteles menekankan pentingnya plot dan menyebutnya sebagai “jiwa” (soul) dari suatu tragedi. Apa yang disebut plot dalam cerita pada dasarnya sulit dicari. Ia tersembunyi di balik jalan cerita (narasi). Akan tetapi, jalan cerita bukanlah plot melainkan manifestasi atau bentuk jasmanih plot. Menurut E.M. Forster[37] dalam Aspects of the Novel, plot membutuhkan suatu level pengorganisasian naratif yang sangat tinggi daripada yang misalnya biasa diperlukan dalam cerita-cerita fabel. Jalan cerita, menurut Forster, adalah peristiwa-peristiwa naratif yang disusun di dalam rangkaian-waktu peristiwa-peristiwa itu (narrative of events arranged in their time-sequence) tempat plot mengorganisasikan peristiwa-peristiwa itu dalam kerangka pengertian hubungan sebab-akibat (sense of causality). Dengan demikian, plot dan narasi memiliki pengertian yang berbeda meskipun kedua pengertian tersebut sering dikacaukan. Narasi memuat peristiwa-peristiwa dan plot menggerakkan peristiwa-peristiwa tersebut. Jika Aristoteles menyebut plot sebagai jiwa dari suatu tragedi, kita dapat mengatakan bahwa plot adalah jiwa dari suatu narasi.

Narasi mengandung perkembangan peristiwa di dalamnya dan yang menyebabkan perkembangan peristiwa tersebut adalah konflik. Dengan demikian, intisari plot adalah konflik. Konflik dalam novel tak bisa diperikan begitu saja dan mesti ada dasarnya. Karena itulah plot sering dikupas menjadi elemen-elemen berikut: pengenalan, timbulnya konflik, puncak konflik, dan akhir konflik—yang dapat berupa klimaks maupun antiklimaks.

Latar adalah bingkai (frame) waktu, peristiwa atau lokasi tempat narasi (jalan cerita) berlangsung. Dalam novel modern latar disusun pengarangnya menjadi unsur narasi yang penting. Dalam sebuah narasi, latar berjalin-berkelindan dengan tema, karakterisasi dan plot. Bagi sejumlah pengarang, susunan dan perilaku tokoh yang ia ciptakan bergantung pada lingkungan tempat tokoh itu berada dan diperlakukan sama pentingnya dengan personalitas tokoh itu. Sebagai contoh, latar bagi Emile Zola[38], novelis dan kritikus Perancis pendiri gerakan naturalis, merupakan bagian sangat penting karena dia percaya bahwa lingkungan (environment) menentukan watak seseorang. Pandangannya dibuktikan dalam novelnya, Theresa. Kebetulan pada masa yang sama dalam kriminologi berkembang “mazhab lingkungan” yang beranggapan bahwa lingkungan sosial berpengaruh besar terhadap menjadi jahat atau saleh seseorang. Teori ini lahir sebagai kritik atas teori Lambrosso di Italia yang beranggapan watak jahat diturunkan secara genetik dan bahwa ciri-ciri orang jahat dapat dilihat dari bentuk fisiknya.

Latar juga menunjukkan aspek-aspek yang lebih terperinci dari waktu, peristiwa atau lokasi. Jika berbicara tentang tempat, misalnya, maka ia mestilah menunjukkan pula anasir lain yang hakiki dari tempat tersebut, seperti cara berpikir penduduknya, kekhasan pakaian atau cara hidup mereka. Membaca karya-karya R.K. Narayan, novelis dan pengarang cerpen India, kita akan dipertemukan dengan pengetahuan mendalam pengarang yang bersangkutan terhadap kota tempat tinggalnya (yang ia samarkan dengan nama “Malgudi”). Graham Greene, novelis Inggris, mengaku bahwa ia mengenal India karena ia membaca karya-karya R.K. Narayan.[39]

Ahmad Tohari lewat Ronggeng Dukuh Paruk berhasil melukiskan prototype desa kecil di Jawa; Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Balik merekonstruksi kota Blambangan abad ke-15 dengan memikat; tak kalah memikat pula, Eiji Yoshikawa, dalam Taiko, melukiskan latar kerajaan-kerajaan di Jepang pada abad yang sama dengan Arus Balik; dan latar yang dipilih Budi Darma dalam novel Olenka dan kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington sangat mendukung tokoh-tokoh kesepian yang diciptakannya.

Dalam novel yang berhasil, latar terintegrasi dengan tema, karakterisasi, gaya, maupun kaitan filosofis genre sastra itu dengan realitas. Latar tidak bisa dipaksakan. Demikian pula apa yang sering disebut-sebut para kritikus sastra sebagai “warna lokal”. Dalam novel, latar dan warna lokal muncul secara alamiah berjalin-berkelindan dengan karakter-karakter yang dihadirkannya. Oleh sebab itulah mencoba-coba mengubah latar Perang Dunia I dalam A Farewell to Arms dengan latar Perang Dunia II, misalnya, akan menyebabkan novel tersebut kehilangan kesatuannya. Demikian pula apabila latar pertempuran dalam cerpen-cerpen Trisnoyuwono diganti dengan latar lain, cerpen-cerpennya akan kehilangan kesatuannya; akibat yang sama akan terjadi jika kita mengubah latar “serba Betawi” yang riuh dalam cerpen-cerpen S.M. Ardan dengan latar keramaian Pasar Beringharjo, Yogayakarta.

Menjadi jelaslah bahwa pemilihan latar dapat membentuk tema atau plot tertentu. Contoh dalam novel-novel Indonesia mutakhir adalah pemilihan latar kehidupan tokoh-tokoh dari generasi in-between yang dilakukan Ayu Utami dan Dewi Lestari yang dengan sendirinya membentuk tema dan plot yang khas, baik dalam Saman dan Larung maupun Supernova dan Akar. Begitu pula latar kehidupan tokoh-tokoh dari masa depan yang diangkat Eliza Vitri Handayani dalam Area X, dan latar kehidupan tokoh-tokoh dari masa silam yang dihadirkan Eka Kurniawan dalam Cantik Itu Luka, membentuk tema dan plot yang tak kalah khasnya.

Dalam buku-buku pelajaran kesusastraan di Indonesia sering disebut-sebut tentang gaya yang lazimnya dikupas dalam judul “Gaya Bahasa”, lengkap dengan menyebutkan contoh penggunaan gaya bahasa itu, seperti: personifikasi, metafora, peyoratif, amelioratif, totem pro parte, asosiasi, hiperbola, repetisi, dan lain-lain. Pembicaraan tentang gaya bahasa biasanya kerap dilakukan ketika membahas karya-karya para sastrawan Indonesia masa Pujangga Baru dan Balai Pustaka. Memasuki periode 1945 dan sesudahnya, memperbincangkan “gaya” dalam pengertian “gaya bahasa” tidak lagi memadai. Pengertian gaya telah berkembang menjadi sangat luas meliputi bagaimana si pengarang menggunakan kalimat, dialog, dan detail; bagaimana cara ia memandang persoalan; dan bagaimana ia memilih bentuk dan teknik penulisan novelnya.

Menurut pengertian kesusastraan, gaya atau style (berasal dari bahasa Yunani: stilus) adalah cara berekspresi yang lain daripada yang lain (a distinctive manner of expression) yang membedakan satu pengarang dengan pengarang lainnya meskipun menjadi sesuatu yang biasa pula manakala kita menemukan keserupaan gaya antara satu pengarang dengan satu atau banyak pengarang lainnya.

Dalam penggunaan kalimat ada pengarang yang sering menyampaikan ceritanya, baik novel atau cerpen, dengan kalimat-kalimat pendek atau panjang, kompleks atau sederhana. Gabriel Garcia Marquez dalam Tumbangnya Seorang Diktator menggunakan kalimat-kalimat panjang dengan banyak sekali koma dan titik koma; Saki, pengarang Inggris kelahiran Birma menulis cerpen-cerpennya dengan kalimat-kalimat sederhana dan pendek-pendek, demikian pula Anton Chekov, Rudyard Kipling, Idrus, dan Mochtar Lubis; namun Guy de Maupassant, Virginia Woolf, A.A. Navis, Milan Kundera, Pramoedya, Umar Kayam, Hamsad Rangkuti, menggunakan kalimat-kalimat panjang atau pendek secara berirama; sedangkan kalimat-kalimat panjang atau pendek atau kedua-duanya sekaligus yang bertendensi filsafat dapat ditemukan antara lain pada karya-karya Iwan Simatupang.

Namun demikian, gaya bercerita karya-karya besar dunia biasanya sederhana, enak dibaca, kaya, dan padat.

Sifat ekonomis atau pemborosan dalam cerita juga merupakan unsur gaya. Ada pengarang yang suka memperpanjang cerita, boros dengan kalimat dan kadang-kadang kalimat yang satu hampir sama artinya dengan kalimat yang lain; para novelis Jepang seperti Kawabata Yasunari, Natsume Soseki, Yukio Mishima, Kenzaburo Oe, Kobo Abe (dilakukan pula sejumlah pengarang Jepang generasi sesudahnya yang besar di negeri lain, seperti Kazuo Ishiguro) menggunakan pengulangan-pengulangan kalimat yang dianggap perlu secara sengaja justru untuk memperoleh efek estetika tertentu; ada juga pengarang yang betul-betul hemat dengan kata-kata dan menggunakan kalimat yang perlu dan fungsional saja.

Yang juga menjadi ciri dari gaya seorang pengarang adalah penggunaan dialog sebagai unsur utama jalan cerita. Umar Kayam termasuk yang sangat efektif menggunakan kekuatan dialog sebagaimana Ernest Hemingway juga melakukan hal serupa dalam karya-karyanya. Baik Kayam maupun Hemingway membangun karakterisasi dan suasana melalui ucapan-ucapan tokoh-tokohnya. Pengarang yang belum berpengalaman dengan teknik ini tetapi dengan keras kepala mencobanya sering menjerumuskan ceritanya sendiri menjadi artifisial dan dibuat-buat.

Penggunaan detail juga merupakan gaya pengarang. Dalam puisi, di Indonesia, para penyair yang sangat teliti menggunakan detail dalam baris-baris sajaknya adalah Taufiq Ismail dan Sapardi Djoko Damono; Idrus dan Hamsad Rangkuti dalam cerpen; Pramoedya Ananta Toer dalam novel; Umar Kayam dan Ahmad Tohari dalam novel maupun cerpen. Virginia Woolf sangat memperhatikan detail pada hampir semua cerpennya. Penggunaan detail ini juga digunakan Franz Kafka bahkan sejak kalimat awal novelnya seperti dalam petikan pembukaan The Trial berikut ini: “Someone must have been telling lies about Joseph K., for without having done anything wrong he was arrested one fine morning.”

Penggunaan kata-kata, baik kasar, halus, spontan, terjaga atau konvensional, merupakan ciri dari gaya seorang pengarang pula; penyair Sapardi Djoko Damono dan Saini KM terkenal dengan pilihan katanya yang halus dan konvensional; puisi-puisi Taufiq Ismail dan Goenawan Mohamad, novel-novel Pramoedya Ananta Toer dan Budi Darma, dan cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti, terkenal dengan kata-katanya yang terjaga; sementara pada karya-karya Mangunwijaya, Darmanto Jatman, Beni Setia, Joni Ariadinata, kita menemukan penggunaan kata-kata yang terkesan kasar atau spontan atau kedua-duanya.

Banyak pembaca karya sastra menyediakan dirinya sendiri untuk tergila-gila pada karya pengarang tertentu; pada dasarnya mereka terpikat pada gaya si pengarang itu. *

(Versi lengkap esai “Passion for Novel” , Kompas, 31 Juli 2005)

Raudal Tanjung Banua


27 April 2008

Sapu Enau, Sapu Ijuk


Sapu enau, sapu ijuk
dari balik pintu tempat bergantung
berkelana engkau
sepenuh ruang. Jelajahi
sudut demi sudut, dari bilik ke bilik
ada yang telanjang
engkau saksi diam tiap kejadian.


Engkau temukan benda-benda lama
jauh tersuruk
dan hanya seusai bersin atau batuk
si tuan rumah, benda-benda itu kembali baru
dan bernama, jadi pajangan dan kenangan.
Engkau tetap bernama setia
dalam debu dan sampah terbuang.


Ah, sapu enau, sapu ijuk
Siapa engkau, jangan merajuk!

Yogya, 2007



*


Jalan-jalan di Bumi
: teringat SS (1924-1995)

jalan-jalan di bumi tidak membawa kita pergi
dari bumi, hanya menghantar ke dunia
sunyi dan kata-kata, di mana terlantar
ia yang tak berdaya dan tak pasti makna berita:
bumi atau duniakah yang kita cinta?


bumi dan dunia apalah bedanya!
bagai seorang sirkus peniti tali
tak tahu, jatuh ke kanan atau ke kiri
lebam di bumi, dan terluka
dunia mempermaknya kembali
maka ada barangkali: bumi ibu sejati,
menerima segala dengan kasih. dan dunia
adalah sabda yang senantiasa meminta
engkau tabu menyerah,
bangkit dan bangkit lagi
dalam adonan sepotong roti tawar
diterbangkan angin sakal waktu malam
tercelup sungai tohor dan kali dangkal.


jalan-jalan melingkar ke pusat dunia
jalan-jalan bercabang mengkhianati dunia
jalan-jalan di bumi kabut di peta
sejak itu, bukan oksigen atau ozon
menyelimuti bumi kita
tapi kata-kata
di mana terlontar firman pertama
dan bangkit ia yang menderita: bumi atau duniakah
yang bakal lebih dulu musnah?


Yogya, 2007


*



Catatan di Pesawat


di langit jauh
semua terasa diam
tak bergerak
hanya awan berarak
jadi pertanda
saya melaju
ke tubir waktu
yang tak nampak.


2007


*


Kabar dari Jawa


jalan-jalan di jawa, adik
bagus-bagus keadaannya
pun jembatannya
panjang dan lebar
bikin hati selalu berdebar
menempuhnya:
sebab, adik, yang sengsara
tetap sengsara jua
yang kuat tegak
di mana saja.


Yogya, 2007


*


Lagu Pingitan


Kau pandang gunung, gunung yang tinggi
hatimu murung, murung sekali
sebab menduga: hanya yang tegak mungkin didaki


Kupandang langit, langit yang jauh
hatiku ragu, ragu terlalu
sebab mengira: hanya yang dekat mungkin disentuh


maka kau pandanglah gunung
kupandangi langit
yang sama biru
dalam renung rindu
cinta dipingit.


Yogya, 2007


*


Gantosori
-dari sebuah pantun lama


cincin bernama gantosori
sesuai sahaja dengan kelingking
hilang adik ke mana abang cari
lautan iklan sekeliling.


Yogya, 2007


Kroya


jalan bersilang di sini
jalanan rel dari besi
kereta waktu
datang dan pergi
menyeret sunyi
dan nestapa dunia
di pelintasan kekal
cinta kita


2007



Bukan Pepatah


ini tak ada dalam pepatah:
yang menderita akan tetap menderita,
benih asal mustahil diubah


ini tak ada dalam berita:
yang bahagia akan tetap bahagia,
benih sesal hanya percuma


bukan pepatah, bukan berita
ini kehidupan sehari-hari
bangsa besar yang mengingkari
amsal puisi!



Yogya, 2007

Tuesday, October 21, 2008

Asmoro Djenar

Asmoro

Cerpen Djenar Maesa Ayu
(Kompas 07/28/2002)


ASMORO, waktu kita hampir habis.


LANGKAH Asmoro mencipta gaung di sepanjang lorong kosong itu. Kekosongan yang sama menyita hati Asmoro. Kekosongan itu mengirimkan hanya satu gema yang terus bergaung di telinganya, Adjani bersimbah peluh.

Adjani bersimbah peluh. Pelupuk matanya merapat. Tampak guratan-guratan halus di bawah matanya ketika kulit wajahnya menegang dan mulutnya terkatup. Adjani menahan luka. Orang-orang di sekeliling Adjani membisu. Semua menahan napas. Semua tidak berani bergerak. Ruangan itu begitu sunyi. Sangat sunyi hingga suara sehelai rambut yang jatuh bisa membuat siapa pun yang berada di dalam ruangan itu terlunjak dari kursi. Tetapi, mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain menyaksikan Adjani menahan luka. Tidak ada yang berani bertanya di mana persisnya Adjani terluka. Atau mengapa Adjani bisa terluka. Mereka hanya tahu Adjani luka. Luka yang begitu dalam. Luka yang begitu perih. Luka dari segala maha luka.

Adjani bersimbah peluh. Pipinya merah terbakar matahari. Kuncir rambutnya bergerak-gerak setiap kali kakinya mengentak tanah. Sesekali ia mengusap peluh di dahi yang menetes ke matanya dengan handuk yang ia selendangkan di bahunya. Tetapi, tidak sekalipun ia menghentikan larinya. Kadang-kadang ia biarkan saja peluh itu menetes hingga mulutnya. Setiap kali Adjani membuka mulut untuk membuang napas, maka masuklah tetesan keringat itu dan menyebabkan rasa asin di lidahnya.

Ketika Adjani berlari, tidak akan ada yang dapat menghentikannya. Waktu ia menyeberang jalan, mobil-mobil langsung berhenti. Bahkan, lampu lalu lintas yang tadinya berwarna merah, berubah hijau dan membiarkan Adjani lewat. Kalaupun ada Metro Mini ngebut yang tidak sempat menginjak rem ketika Adjani melintas secara mendadak, yang terjadi hanyalah Metro Mini itu menembus tubuh Adjani bagai menembus udara. Jika ada mobil yang kebetulan posisinya menyamping di depan Adjani, langsung terbelah dua. Jembatan rubuh berdiri kembali seperti adegan ulang dalam kamera. Sungai terbelah. Tembok tinggi merendah. Tidak ada satu pun yang dapat menghentikan Adjani.


Cerita tentang Adjani segera tersebar dari mulut ke mulut. Menyeberang dari satu telinga ke telinga, rumah ke rumah, sungai ke sungai, laut ke laut dan benua ke benua. Berbagai media massa baik koran maupun televisi meliput berita tentang Adjani. Para fotografer, kuli tinta, reporter lengkap dengan helikopter menunggu Adjani di setiap sudut jalan. Yang tidak kuat mengimbangi lari Adjani terpaksa mewawancarai di atas mobil, motor, bahkan bajaj. Selain wawancara dan melihat keajaiban yang disebabkan Adjani, mereka berharap menjadi orang pertama yang dapat mengabadikan saat-saat Adjani menyerah dan berhenti berlari. Maka, pada setiap headline koran-koran, majalah-majalah, siaran radio, talk show, siaran berita televisi, semua memuat, menceritakan dan membahas Adjani.

Di dalam sebuah kamar apartemen ukuran studio, sebuah televisi berukuran 24 inci juga sedang menayangkan talk show tentang Adjani. Bintang tamunya seorang produser besar Hollywood sedang diwawancara, apakah ia tertarik membuat film tentang Adjani. Tetapi, di dalam ruangan itu tidak ada penonton. Pesawat televisi yang panas, kursi ruang tamu dari rotan yang berdebu, asbak keramik berisi putung-putung rokok yang tidak pernah dibersihkan, pendingin ruangan yang tidak dinyalakan, onggokan baju-baju kotor yang berbau tidak sedap di dalam laundry room sebelah ruang tamu, menjadi bukti bahwa si pemilik apartemen mungil itu sudah lama tidak pernah keluar kamar.

Sudah hampir sebulan Asmoro mengunci diri di dalam kamar dan putus hubungan dengan dunia luar maupun berita-berita lokal dan mancanegara. Asmoro hanya mau menulis. Sudah lama Asmoro tidak dapat menulis. Tetapi, sebulan menyepi tidak juga membuat Asmoro dapat menulis. Di tengah-tengah rasa putus asa, Asmoro mendengar jendela kamarnya diketuk dari luar. Awalnya ia tidak mempedulikan. Tetapi, ketukan itu tidak juga berhenti, walaupun terkesan tidak memaksa. Ketukan itu begitu halus dan begitu menggoda. Hati Asmoro yang tergoda akhirnya memutuskan untuk melirik ke jendela. Tetapi, tidak ada apa-apa di sana, sementara ketukan itu terus membahana. Barulah Asmoro sadar, ia berada di lantai ketujuh. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengetuk jendelanya? Asmoro berjalan mendekati jendela lalu membukanya. Saat itu angin dingin sepoi menampar mukanya. Tangan-tangan angin dengan lembut menarik wajah Asmoro dan mendekatkan bibirnya di dekat telinga Asmoro. "Adjani bersimbah peluh," bisik angin, lalu pergi meninggalkan Asmoro sendiri di kamarnya.

Mendadak perut Asmoro keroncongan. Sudah tidak pernah ia bernafsu makan, padahal sudah sebulan ia hanya minum air mineral dan penganan ringan. Asmoro ingin segera memesan makanan dari brosur-brosur yang ditaruhnya di bawah meja ruang tamu. Pada saat itulah ia melihat pesawat televisi yang masih menayangkan talk show. Di sela-sela talk show itu terkadang ditampilkan insert gambar Adjani yang berlari. Adjani yang bersimbah peluh.

ADJANI bersimbah peluh. Lalu ada dua Adjani bersimbah peluh. Lalu empat Adjani bersimbah peluh. Lalu delapan Adjani bersimbah peluh. Penggandaan Adjani bersimbah peluh terus tumbuh hingga kepala Asmoro sudah tidak lagi punya ruang bagi hal lain, kecuali Adjani bersimbah peluh. Peluh yang membungkus tubuh Adjani bersinar keemasan tertimpa matahari. Dari sinar keemasan itu beterbangan ratusan kupu-kupu, kumbang, dan burung-burung gereja. Sinar keemasan itu menyerbak wangi bunga. Kadang mawar. Kadang melati. Kadang sedap malam. Kadang lili. Dari sinar keemasan itu juga keluar nada lagu. Irama musik sendu mendayu-dayu. Menyerang segenap jiwa Asmoro. Menyekap pikirannya untuk hanya terpaku pada Adjani yang bersimbah peluh.

Duduk di bawah temaram lampu sorot di atas meja, Asmoro menumpahkan segenap pikirannya itu ke dalam tulisannya. Adjani yang berlari dengan kupu-kupu. Adjani yang menyeka peluh di hidungnya dengan handuk. Derap kaki Adjani yang teratur. Mata Adjani yang menyipit ketika sinar matahari menyeruak dari sela-sela dedaunan pohon gundul. Naik-turun dada Adjani mengatur napas. Tangan Adjani yang mengepal ke depan dan bergerak kiri-kanan. Dan setiap kali Asmoro mengetik huruf per huruf demi melukiskan Adjani, ia mendengar suara musik nan indah menerpa telinganya. Ia mencium semerbak bunga yang mewangi dari tubuh Adjani. Asmoro mabuk kepayang. Ia tidak dapat berhenti menulis. Dan semakin ia menulis, gambaran Adjani bersimbah peluh makin lama makin mendekat ke dirinya.

Asmoro dapat mendengar sayup-sayup derap kaki Adjani dari kejauhan, lalu makin lama semakin jelas tertangkap pendengaran. Dan bau wangi yang samar-samar, lama kelamaan makin tajam. Suara lembut denting piano tunggal, berubah menjadi kesatuan orkestra besar. Asmoro menunggu Adjani.

Adjani bersimbah peluh, terus berlari di bawah samudera. Di kiri kanan dan depan Adjani air laut menjulang tinggi sementara di belakangnya air laut runtuh kembali. Oleh sebab itu tidak ada lagi yang mengikuti di belakang Adjani kecuali helikopter yang terbang rendah di atasnya. Air laut yang menjulang tinggi itu bagai akuarium bawah laut raksasa. Ada gurita, paus, ikan pari, dan berbagai jenis hewan laut menontonnya. Kadang-kadang kaki telanjang Adjani menginjak bangkai ikan juga bangkai bekas kapal karam. Peluh yang membungkus tubuh Adjani kini berwarna jingga kemerah-merahan tertimpa matahari senja. Dari sinar kemerahan itu, burung-burung senja berkepakan terbang dan sebagian yang tertinggal di belakang mau tidak mau tertelan air laut yang siap luruh bagai pohon tumbang. Walaupun matahari tidak lagi bersinar dengan garang, tubuh Adjani masih bersimbah peluh. Asin keringatnya bertambah ketika bercampur dengan percikan air laut.

Ketika Adjani hampir sampai di bibir pantai, angkasa sudah menyulap senja menjadi malam. Bulan bersinar temaram. Bintang-bintang bercengkerama dan ada dua bintang yang asyik bercanda sambil berdorong-dorongan, hingga bintang yang satunya jatuh dari cakrawala.

"Bintang jatuh," bisik Adjani dalam hati sambil terus berlari. Adjani tahu, seharusnya ia memohon satu permintaan yang konon akan terkabul jika melihat bintang jatuh. Tapi Adjani tidak punya keinginan apa-apa selain berlari tanpa henti. Dan ia pun sangat tahu, ia tidak akan berhenti. Tidak akan ada yang dapat menghentikannya berlari.

Pada saat itu juga melintas angin yang sama dengan angin yang baru saja mengetuk jendela apartemen Asmoro. Angin itu membuka hidung Adjani dan mengantarkan aroma segar tubuh laki-laki. Dan Adjani terkaget ketika menjilat peluhnya sendiri. Peluh itu tidak hanya asin, tetapi juga ada sedikit rasa manis madu menggoda lidahnya. Bintang yang jatuh hampir saja tenggelam hilang dari penglihatan Adjani ketika Adjani memohon, "Antarkan saya kepada aroma segar ini. Antarkan saya kepada rasa manis di lidah ini."

ASMORO, waktu kita hampir habis.

Adjani bersimbah peluh. Sudah hampir dua ratus halaman yang diketik Asmoro demi menggambarkan pujaan hatinya Adjani yang berlari dan bersimbah peluh. Sementara derap kaki Adjani makin jelas. Dengus napasnya semakin dekat. Suara orkestra semakin keras. Dan wangi bunga memenuhi seluruh ruangan apartemen Asmoro.

Tapi Asmoro tidak bisa berhenti menulis. Bahkan ia tidak dapat memperlambat laju tangannya sendiri. Asmoro tahu, sebentar lagi tulisannya selesai. Asmoro tahu sebentar lagi ia akan bertemu Adjani sekaligus berpisah dengan Adjani.

Adjani bersimbah peluh. Ia berlari menyusuri jalan raya yang padat. Lautan manusia berdiri di sisi kiri dan kanannya. Jalanan macet total. Lampu-lampu lalu lintas tidak bekerja. Indeks harga saham berhenti karena tidak ada transaksi. Semua orang keluar dari rumah, gedung perkantoran, restoran, hanya untuk menyaksikan Adjani. Aktivitas di kota itu lumpuh.

Seorang reporter meliput, "Sudah ada tanda-tanda kelelahan pada Adjani, tetapi Adjani terus berlari tanpa mau menjawab satu pun pertanyaan wartawan. Adjani hanya bergumam... Asmara... Asmara... mungkinkah Adjani sedang jatuh cinta?"

Dari liputan itu, stasiun-stasiun televisi lain segera menayangkan gambar-gambar Adjani yang pernah disiarkan. Semua yang berbicara dengan Adjani diperhatikan secara saksama, dengan harapan mereka dapat menjawab teka-teki asmara Adjani. Ada juga yang mendramatisir adegan wawancara Adjani dengan seorang wartawan muda dan langsung dihubungkan dengan pertalian asmara. Semua orang dari seluruh pelosok dunia tinggal di rumah atau menghentikan kegiatan hanya untuk mengikuti kisah asmara Adjani. Segala asumsi pun merebak. Kapan mereka berciuman? Pastilah pacar Adjani pelari, jadi mereka bisa berciuman sambil berlari. Atau orang kaya, sehingga bisa menyewa helikopter supaya setiap saat bisa berdekatan dengan Adjani. Atau jangan-jangan orang kaya itu, salah satu pemilik stasiun televisi? Hanya ada satu perdebatan, satu suara, satu tema di seluruh dunia, yaitu Adjani.

Di kota itu, satu-satunya orang yang bertahan dalam gedung ketika semua orang turun ke jalanan untuk menyaksikan Adjani lewat adalah Asmoro. Tangan kirinya memegang kencang tangan kanannya, tetapi tangan kanannya melawan dan terus mengetik. Lantas tangan kanannya berubah menghentikan tangan kiri, dan tangan kirinya yang ganti melawan balik dan terus mengetik. Asmoro tidak dapat berhenti. Sama seperti Adjani yang tidak bisa berhenti. Keletihan di muka Adjani yang tertangkap mata-mata penontonnya, tidak lain adalah keletihan yang diakibatkan karena Adjani berusaha keras menghentikan kaki-kakinya seperti Asmoro yang sedang berusaha menghentikan kedua tangannya. Ada pergulatan aneh yang merasuki mereka berdua. Keinginan yang meledak-ledak untuk segera berjumpa dan keinginan untuk lebih lama bersama, bagai satu mata koin dengan sisi yang berbeda. Betapapun besar usaha mereka untuk memperpanjang kebersamaan, sebesar itu pulalah usaha mereka untuk segera menyudahi.

Adjani bersimbah peluh. Peluhnya menetes di atas marmer dingin lobi apartemen dan menguap ke atas kamar Asmoro.

ASMORO, waktu kita hampir habis.

Asmoro bersimbah peluh. Dihirupnya dalam-dalam aroma peluh Adjani ketika tangannya berhenti pada titik terakhir tulisannya.

Adjani bersimbah peluh. Jatuh tersungkur di depan pintu Asmoro. Pelupuk matanya merapat. Tampak guratan-guratan halus di bawah matanya ketika kulit wajahnya menegang dan mulutnya terkatup. Adjani menahan luka. Semua orang yang mengikuti di belakang Adjani terdiam. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Tidak ada yang berani meliput. Tidak ada yang berani bertanya. Mereka hanya dapat iba menatap tubuh Adjani yang tergeletak di atas karpet, hingga akhirnya menjelma menjadi seekor kupu-kupu.

Asmoro membuka pintu kamar apartemennya. Langkah Asmoro mencipta gaung di sepanjang lorong kosong itu. Kekosongan yang sama menyita hati Asmoro. Kekosongan itu mengirimkan hanya satu gema yang terus bergaung di telinganya, Adjani bersimbah peluh. Dan abadi di atas tumpukan kertasnya, yang mengumandangkan kepak sayap kupu-kupu....


Jakarta, 21 April 2002, 14:47:47
Untuk sebulan bersama Asmorodadi

Monday, October 20, 2008

tentang Achdiat K Mihardja

Achdiat K Mihardja
Dari ”Sadar Nar” ke ”Sadar Nur”




Adalah lumrah bila agamawan bicara tentang Tuhan, karena memang di sanalah “maqam” dan perannya. Tapi, akan mencengangkan bila Achdiat K. Mihardja tampil seperti mubaligh, dan secara terang benderang menyeru agar manusia kembali pada “kesadaran kebertuhanan”. Menyibak tabir “kejahiliahan” modern bahwa rasionalisme, sekularisme, eksistensialisme dan “isme-isme tak bertuhan” lainnya telah menjerat manusia menjadi representator watak setan di muka bumi. Maka, sudah saat manusia “kembali ke pangkal jalan”. Apa istimewanya Aki (demikian panggilan akrabnya) bicara Tuhan? Ia bukan agamawan, kyai, dan pengkhutbah, melainkan novelis angkatan 45 yang dari tangannya lahir maha karya Atheis (1949).

Satu-satunya sastrawan angkatan 45 yang masih tersisa ini sudah terlanjur dicitrakan sebagai “seniman tak bertuhan”. Nama Achdiat K. Mihardja seakan tak terpisahkan dari term “ateisme”. Begitu diskursus ateisme dibicarakan, kurang lengkap bila tak dikaitkan dengan peran kepengarangannya. Kalangan Islam (utamanya dari sayap konservatif) menghujat Aki sebagai sastrawan “murtad”, karena ulah “skeptisisme teologis” yang melekat pada karakter Hasan dalam novel Ateis.


Sebaliknya, kelompok pro komunis bukannya memuji pencapaian estetik Aki, malah memaki-maki karena Ateis ternyata tidak sungguh-sungguh mampu mempertahankan ideologi komunisme yang amat berpengaruh waktu itu. Maka, Aki terjepit di antara dua construct ideologi besar yang saling berseberangan (Komunisme dan Islam). Ia seperti berdiri di antara dua tanduk yang siaga bakal menyeruduk.

Wajah Lain

Kini, Achdiat K. Mihardja hadir dengan sosok yang lain. Wajah baru yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya. Lelaki sepuh (94 tahun), yang benaknya penuh sesak oleh kearifan spritual, menghadirkan Manifesto Khalifatullah (Arasy, Mizan,2005) di tengah khalayak pembaca. Ikon sastra Indonesia yang hidup di lima zaman (Belanda, Jepang, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi) itu, tak menyebut buku ini sebagai novel, tetapi “kispan” (kisah panjang), yang memang tak sepanjang novel, tapi juga tak sependek cerpen.

Menyimak penuturan Aki dalam buku ini seolah menyimak rekaman petualangan intelektual, dan juga pencerahan spritual yang telah diraihnya. Berkisah tentang “pengembaraan filosofis” tokoh aku yang bertemu (dalam ruang “dialektika imajinatif”) dengan para penggagas ideologi-ideologi besar, dari Karl Marx, Engels, Siddarta, Bacon, Adam Smith hingga Nietzsche. (Aki tak menggunakan nama-mana imajiner, tapi langsung pada sasaran bidik). Melalui teknik narasi yang enteng, ringan dan tanpa basa basi, Aki menegaskan bahwa komunisme yang meniadakan Tuhan, kapitalisme yang “menyepelekan” Tuhan (ada atau tidaknya Tuhan, tak berarti apa-apa), rasionalisme modern yang hendak menguasai alam dan sekaligus menghancurkannya, adalah cerminan watak manusia dalam peran mereka sebagai “wakil setan”.

Ada “keresahan teologis” pengarang selama “bergaul” dan mendalami ideologi-ideologi yang telah “membunuh” Tuhan itu. Lalu ia mencoba melakukan “reuni imajiner” dengan kawan-kawan sejawat; Chairil Anwar, ST.Alisyahbana, Sanusi Pane dan Sutan Syahrir. Tapi, alih-alih kedahagaan spritualnya terpuaskan, Aki justru kecewa. Chairil Anwar yang terlalu mengagumi Nietzsche, bukannya menyeru akan kesadaran bertuhan (sebab Tuhan sudah mati). Aki tak seia sekata dengan Chairil. Sebab, konsep Ubermenschen (Nietzsche) yang dikaguminya hanya akan mengukuhkan semangat individualisme, menyuburkan egoisme dan egosentrisme, hingga menjauhkan manusia dari tuhan. Begitu pun dengan Sanusi Pane dan ST.Alisyahbana yang menurutnya terlalu “kebarat-baratan”, bahwa “kita kurang intelektualis, kurang individualistis, kurang egoistis bahkan kurang materialistis sehingga kita menjadi statis. Maka, kita harus memiliki unsur-unsur kejiwaaan Barat tersebut secara mutlak”. Bagi Aki, gagasan macam itu bukan hanya harus dibantah, tapi juga dianggap berbahaya. Karena, (lagi-lagi) arus pemikiran yang datang dari Barat itu bakal mengantarkan manusia menjadi orang-orang berwatak setan. Bukannya berwatak Tuhan.

Tokoh aku lebih tertarik merenungi pesan-pesan spritual-perenial yang disampaikan Abah Arifin, kyai nyentrik di pesantren “alhamdulillah”. Meski tak ada santri yang mondok, pengarang menyebutnya pesantren. Karena, rumah Abah Arifin selalu dikunjungi tamu-tamu untuk berdiskusi tentang soal-soal ketuhanan. Maka terbukalah jalan untuk menyingkap tabir keraguan-raguan Aki. Utamanya setelah ia mendengar “dongeng” segitiga (Tuhan, Manusia dan Iblis) dari Abah Arifin. Melalui karakter Abah Arifin, Aki merumuskan manifesto khalifatullah (khutbah yang meneriakkan gerakan kembali pada Tuhan, dan mempersiapkan kekuatan untuk menyingkirkan peran setan dalam diri manusia), yang disampaikan pada pengajian akbar di lembah Padasuka.

Fanatisme Agama

Manifesto Khalifatullah adalah novel Aki yang ketiga setelah Ateis (1949), dan Debu Cinta Bertebaran (1973). Novelis yang sejak 1961 bekerja sebagai pengajar di Australian National University (ANU) dan hingga kini bermukim di Canberra itu, lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911. Dibesarkan dalam keluarga muslim yang taat, Achdiat muda bersentuhan dengan kebudayaan Barat melalui sekolah Belanda (HIS-MULO-AMS). Menurut pengamat sastra, Maman S Mahayana (2005), Achdiat melihat masa lalu yang tak dapat melepaskan diri dari fanatisme agama, dan melihat masa depan penuh harapan tentang manusia Indonesia modern yang tak dapat menghindar dari pengaruh Barat. Tarik-menarik antara masa lalu yang religius, fanatis dan dogmatis di satu sisi dan masa depan yang penuh pengharapan di sisi lain, kemudian dianggap sebagai representasi Timur-Barat. Diskursus ini memuncak pada ajang perdebatan kaum terpelajar dan tokoh pemikir di zaman Pujangga Baru. (perdebatan ini dikenal sebagai Polemik Kebudayaan). Dari suasana yang “menggelisahkan” itulah sosok Achdiat K. Mihardja muncul sebagai sastrawan, yang kemudian menjadi salah satu “monumen hidup” dalam sejarah sastra Indonesia.

Melalui “kispan religius” ini pula, Aki ingin mewartakan “berita keinsyafan” Hasan (dalam novel Ateis) yang telah menemukan Tuhan. Karakter Hasan yang dalam buku ini hanya diganti dengan tokoh aku (merepresentasikan Aki sendiri) telah menempuh perjalanan ruhani selama puluhan tahun, dan akhirnya mampu melakukan sebuah “revolusi watak”. Dari watak self interest (egoisme dan egosentrisme) ke common interest (egaliterianisme), dari survival of the fittest ke survival of all mankind dari competition (etos persaingan) ke cooperation (etos kebersamaan). Maka, Hasan yang dulu ateis dan berperan sebagai “wakil setan” telah berubah menjadi Hasan yang berperan sebagai wakil Tuhan (khalifah), terus menerus berusaha membangun perilaku sebagaimana sifat-sifat Tuhan. Agaknya, demikian pula dengan puncak pergulatan batin Achdiat K. Mihardja. Ia berhasil melakukan “migrasi” kesadaran. Dari ranah sadar “nar” (kesadaran keapian) ke ranah sadar “nur’ (kesadaran cahaya/kebertuhanan).

Kini, usianya hampir satu abad, matanya nyaris buta. Namun, Aki masih hendak berkarya. Ia ingin menulis autobiografi. Ketika ditanya “sudah tua begini masih ingin menulis?”. Aki menjawab; “Aki tak mau kalah oleh Sophocles (penulis naskah drama zaman Yunani purba) dan Bernard Shaw”. Dua pengarang itu konon masih “bersitungkin” menulis naskah drama saat usia mereka sudah di atas 90 tahun. Semoga Ki!

Jakarta, 2005

Damhuri Muhammad
Penulis adalah cerpenis, tinggal di Jakarta
Sinar Harapan, 20-08-2005

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook