Friday, November 28, 2008

Mengenang Asrul Sani

Rumah Mimpi Asrul
(Turut Melepaskan Seniman Besar Tanah Air & Bangsa: Asrul Sani)



Pada tanggal 11 Januari 2004, Asrul Sani yang lahir di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1927, meninggal dunia di Jakarta. Selama 76 tahun, seniman-pemikir ini telah memberikan waktu hidupnya dengan isi yang padat, kaya-raya dan makna maksimal. Dengan isi waktu hidup yang demikian, Asrul yang dikenal sebagai ”pelopor sastra Angkatan ‘45” bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, seperti sudah mewujudkan apa yang dikatakan Chairil Anwar: ”sekali berarti sudah itu mati”, sehingga kematian akhirnya, jika menggunakan istilah sastrawan Slamet Sukirnanto, merupakan suatu ”kematian yang indah” (lihat: Kompas, Jakarta, 13 Januari 2004).

Mengapa Asrul bisa membuat kehidupan dan kematiannya indah? Jika memperhatikan lika-liku jalan kesenimanannya, maka kudapatkan jawabannya pada kenyataan bahwa Asrul merupakan seniman-pemikir yang selalu mencoba mencari jawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan zaman kepadanya. Asrul adalah seorang penanya dan pemimpi besar. Mimpi yang dibangunnya dengan membuka diri di hadapan dunia sehingga memungkinkan rupa-rupa acuan masuk leluasa memperkaya khazanah pengetahuannya. Kemudian ia menyusun dan membangun rumah mimpinya.


Berangkat dari rumah mimpi inilah, Asrul mencoba menjawab segala pertanyaan zaman yang tak pernah henti mengusik dan menggelitik. Jawaban-jawaban yang antara lain ia tuangkan dalam sanjak, esai dan rupa-rupa bentuk karya seni. Jalan pemimpi tentulah jalan sunyi dan bukanlah jalan lurus dan bertabur bunga, tapi justru lika-liku dan pergulatan ini pula yang menguji.

Mimpi bukanlah untuk mimpi. Mimpi seorang pemikir dan seniman sesungguhnya adalah mimpi untuk mewujudkan dunia baru yang manusiawi. Dengan segala kemampuan, Asrul dalam waktu hidup 76 tahun mencoba mewujudkan mimpinya jadi kenyataan dengan tidak menabukan bidang apa pun, termasuk berorganisasi dan berpolitik. Kegiatan berorganisasi dan berpolitik Asrul menunjukkan bahwa ia melihat jelas hubungan antarmimpi, sastra-seni, organisasi dan politik tanpa merumuskan dengan jelas misalnya ”politik sebagai panglima” dan sebagainya. Tapi, berangkat dari rumah mimpinya, ia praktikkan filsafat budaya dan politik. Jadi, tidak mengherankan jika ia melakukan politik praktis dengan menerima kedudukan sebagai anggota DPR dari tahun 1966 sampai 1982.

Jelas, Asrul bukanlah seniman-pemikir yang hanya bergelut dengan buku-buku di menara gadingnya. Terhadap mimpi dan jalan untuk mewujudkannya, orang bisa setuju atau tidak setuju, orang bisa sepakat atau menolak bahkan mengutuknya. Namun, Asrul sudah memberikan pilihannya. Pilihan ini menjadi sangat penting dalam tatanan masyarakat yang bhinneka sehingga memungkinkan dialog ide untuk mencapai jalan yang bisa ditempuh bersama dengan tenggang-menenggang terhadap hal-hal belum bisa disamakan. Kebhinnekaan akan sirna jika dialog ide tidak dimungkinkan. Dialog ide akan jadi omong kosong jika tidak disertai dengan rupa-rupa tawaran konsep dan diberlakukannya pikiran tunggal (pensée unique).

Dialog pun akan jadi pensée unique terselubung dengan meniadakan ruang bagi kebenaran pihak lain dan mengurung diri di satu ruang sempit berwarna hitam-putih. Dunia pensée unique dan kebhinekaan tidak pernah bisa mendamaikan diri. Agaknya sejarah selalu memperlihatkan diri bahwa cepat atau lambat akhirnya dunia pensée akan diruntuhkan oleh hakikat kemanusiaan. Dibandingkan dengan masa pemerintah Orde Baru Soeharto, boleh jadi periode tertentu pada pemerintah Soekarno memungkinkan kita melakukan dialog ide yang hidup dan cepat menumbuhkan pendewasaan pikiran.

Asrul dan Angkatannya

Asrul dan Angkatannya, aku kira justru tumbuh dan membesar dalam dialog ide ini. Antologi puisi tiga sekawan Chairil-Asrul-Apin Tiga Menguak Takdir (1950), bisa dipandang sebagai ”kuakan” terhadap pendapat-pendapat Angkatan Takdir Alisjahbana (Pujangga Baru). Sementara itu, ”Surat Kepercayaan Gelanggang” adalah jawaban terhadap kenyataan yang dihadapi oleh bangsa dan tanah air pada saat Republik Indonesia yang masih muda berada dalam keadaan gawat. Jawaban lain diberikan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang juga berdiri pada Agustus 1950 melalui Mukadimah-nya.

Dua jawaban dua arah yang membuka dialog ide yang serius. Dialog ini di mana Asrul turut
aktif bahkan menjadi salah seorang penggagas ”Surat Kepercayaan Gelanggang” mengajak seluruh anak bangsa berpikir dan memilih jalan. Dialog yang dimunculkan oleh keadaan memungkinkan kita untuk mencari jalan bersama. Tentu saja Republik dengan nilai-nilai republikennya menetapkan konsepnya sendiri yang tentu saja tidak akan memilih konsep yang melikuidasi diri secara sukarela. Dialog ide tidak bisa lepas dari kepentingan politik. Dan dialog kebudayaan merupakan bagian dari dialog ide.

Di antara ide-ide itu, tentu ada yang tidak tanggap terhadap nilai-nilai republiken pada zamannya. Dialog memungkinkan kita menemukan jalan bersama, sanggup hidup dalam perbedaan. Boleh jadi inilah salah satu kebesaran Asrul dan Angkatannya. Sikap terbuka Asrul jelas-jelas tampak dari ”Surat Kepercayaan Gelanggang” yang antara lain mengatakan:”Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri....”. Bagaimana mungkin jadi ”ahli waris” kalau bersikap tertutup. ”Kebudayaan dunia” yang bagaimana yang akan diteruskan adalah masalah lain. Karena kebudayaan dunia pun bermacam-macam. Ini pun satu masalah polemis. Hanya yang paling pokok di sini adalah adanya sikap terbuka untuk dialog ide. Dan memang dialog ide pada masa Asrul dan Angkatannya sangat hidup. Polemik antara Harian Rakjat dan Harian Merdeka tentang Gerakan Aksi Sepihak, kukira merupakan contoh polemik bermutu yang jarang terjadi di negeri ini.

Lepas dari persetujuan dan penolakan, adanya gagasan-gagasan demikian dalam sejarah bangsa Indonesia merupakan satu kekayaan ide dan konsep budaya negeri ini. Manifes Kebudayaan pun, lepas dari kita setujui atau tidak, adalah salah satu kekayaan milik bangsa dan negeri. Republiken tidaknya konsep yang dibawanya adalah soal lain yang bisa diperdebatkan. Bisa tidaknya kita menghormati para penggagas konsep budaya merupakan petunjuk bisa tidaknya kita menghargai kebudayaan sendiri dan eksistensi sebagai bangsa. Satu contoh yang mencolok adalah bagaimana Prancis tetap memberikan penghargaan kepada Celine, penulis roman dan pemikir yang sangat menyokong ide fasisme. Tapi Celine sebagai budayawan tetap diakui kalangan sastrawan dan tetap dicatat dalam sejarah sastra Prancis. Dianggap sebagai milik Prancis sekalipun ide Celine bertentangan dengan ide-ide republiken: liberté, égalité dan fraternité (kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan). Tentu saja Celine tidak dinilai sebagai sastrawan-pemikir Republik tapi salah seorang sastrawan-pemikir Prancis. Di negeri kita, sayangnya kemampuan menghargai budayawan dan sastrawan masih minim apalagi jika sudah berbeda pandang. Jangankan menghargai, para sastrawan-seniman dan budayawan tidak sedikit yang dihadapi dengan penglikuidasian fisik, pemenjaraan, pembuangan dan dibatasi dengan rupa-rupa larangan.

Sadar atau tidak sadar cara-cara kekerasan menghadapi perbedaan ide demikian, sebenarnya merupakan lanjutan logis dari pensée unique yang bertolakbelakang dengan kebhinnekaan

Asrul dan Karya-Karyanya

Untuk memahami karya-karyanya, kukira patut disimak cermat filsafat politik dan budaya Asrul. Karena boleh jadi segalanya bermula dari filsafat politik dan budaya yang kusebut rumah mimpi Asrul. Bidang-bidang yang dia kecimpungi tidak lain merupakan pernyataan dan usaha nyatanya mewujudkan filsafat politik dan budaya tersebut karena Asrul selain pemimpi, ia juga seorang praktisi-pencinta kemanusiaan yang tidak memisahkan ide dan praktik. Dari memahami isi rumah mimpi Asrul lalu bisa direntangkan deretan panjang segala kegiatan dan karya-karyanya di berbagai bidang. Kegiatan-kegiatan dan karya-karya Asrul tidak lain dari terjemahan nyata isi rumah mimpinya.

Yang menarik dan patut diteladani adalah dalam berkarya Asrul selalu menuangkan isi rumah mimpinya ke tingkat artistik yang tinggi. Sejak puisi-puisinya dalam ”Tiga Menguak Takdir” sampai karya-karya terakhir, Asrul selalu mencoba mencapai taraf artistik yang maksimal dan mengelak kemungkinan merosot ke taraf slogan atau propaganda mentah. Ini pun tampak dari karya-karya filmnya yang kemudian mendapat penghargaan nasional dan internasional.

Misalnya diberikannya Bintang Mahaputera Utama dan perolehan piala Golden Harvest dalam Festival Film Asia tahun 1970 untuk Apa Yang Kau Cari Palupi. Sejak film pertamanya Titian Serambut Dibelah Tujuh (1959), ia kemudian menghasilkan sekitar 12 film dan menulis lebih dari 50 skenario film bioskop, televisi dan panggung. Ada di antara skenario ini yang belum dipublikasikan. Kuantitas dan kualitas karyanya di bidang perfilman, panggung dan televisi saja memperlihatkan tingkat tak terbantah bahwa Asrul adalah seorang seniman besar bangsa, merupakan kekayaan dan salah seorang pembangun budaya bangsa ini. Kenyataan ini diperkuat oleh bagaimana kegiatan Asrul membentuk barisan penerus sastra-seni yang berwawasan melalui membangun ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia). Salah seorang anak asuhnya adalah dramawan N. Riantiarno. Saban Asrul memberi kuliah, ruangan selalu ramai mahasiswa yang ingin mendengar kuliah Asrul.

Soalnya, mereka ingin mendengar ungkapan-ungkapan Asrul yang disampaikan dalam bahasa Indonesia yang sangat bagus, ujar Riantiarno dalam mengenang sang guru. Begitu pula dalam penulisan skenario, yang disebut Riantiarno ”sangat bagus, sampai sulit di-breakout”.

Dalam konteks membangun barisan sastrawan-seniman penerus ini, Asrul juga telah menemukan dan mengangkat penyair-dramawan Rendra. Mengenang sang penemunya Rendra berkata: Asrul Sani sebagai seorang penyair dan esais yang menonjol. Dia mengaku bahwa Asrul Sani-lah yang ”menemukannya”. Kata Rendra, ”Saya masih kelas II SMA. Asrul memuat sajak saya di lembaran ‘Gelanggang’ dari majalah Siasat. Baru setelah itu tokoh seperti HB Jassin tertarik pada sajak saya.” Sajak-sajak pertama Rendra yang dimuat di Gelanggang antara lain ”Telegram Tiba Senja”, ”Gerilya”, ”Balada Petualang”, ”Balada Kasan”, dan ”Fatima”. (Lihat: Kompas, Jakarta, 13 Januari 2004).

Asrul melakukan semua ini dengan kesadaran. Sadar pula bahwa ia cepat atau lambat akan pergi. Karena itu ia menyiapkan tenaga baru agar rumah mimpinya tetap berpenghuni dan melanjutkan pelaksanaan mimpi yang tak sempat ditunai, yakin pula bahwa penghuni rumah mimpinya akan memberi pengayaan. Kesadaran akan pentingnya membangun barisan sastrawan-seniman penerus ini menunjukkan pula bahwa Asrul tahu pekerjaannya belum selesai, ”belum apa-apa”.

Asrul ”memburu arti”

Meninggalnya Asrul berarti Indonesia kehilangan seorang besar dalam bidang sastra-seni dan pemikiran. Baris-baris ini adalah salam hormat penghabisan kepada Asrul yang telah mengisi hidup 76 tahunnya dengan ”arti” sehingga membuat kematian jadi indah. Tapi kematian ini pula yang oleh Chairil Anwar bermakna: ”… adalah karena kesementaraan segala yang mencap tiap benda, lagi pula terasa matikan datang merusak” (dari: Chairil Anwar, ”Kepada Pelukis Affandi”, dalam: Deru Campur Debu, Dian Rakyat, Jakarta, 1993, hlm. 31).

Benarkah kematian merusak mimpi? Penghuni baru rumah mimpilah yang paling bisa menjawabnya. Indonesia pun menanyakan para penghuni baru itu, sedang Asrul telah pergi! Akankah kepergian Asrul juga tanda kepergian kebhinnekaan dan berkuasanya kembali pensée unique yang membuat Indonesia merupakan rumah mimpi yang kosong dan lengang?!

Paris, Januari 2004.

JJ Kusni, Sinar Harapan, 2004

Thursday, November 27, 2008

Calon Arang

Pada suatu masa di Kerajaan Daha yang dipimpin oleh raja Erlangga, hidup seorang janda yang sangat bengis. Ia bernama Calon Arang. Ia tinggal di desa Girah. Calon Arang adalah seorang penganut sebuah aliran hitam, yakni kepercayaan sesat yang selalu mengumbar kejahatan memakai ilmu gaib. Ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Manggali. Karena puterinya telah cukup dewasa dan Calon Arang tidak ingin Ratna Manggali tidak mendapatkan jodoh, maka ia memaksa beberapa pemuda yang tampan dan kaya untuk menjadi menantunya. Karena sifatnya yang bengis, Calon Arang tidak disukai oleh penduduk Girah. Tak seorang pemuda pun yang mau memperistri Ratna Manggali. Hal ini membuat marah Calon Arang. Ia berniat membuat resah warga desa Girah.

“Kerahkan anak buahmu! Cari seorang anak gadis hari ini juga! Sebelum matahari tenggelam anak gadis itu harus dibawa ke candi Durga!“ perintah Calon Arang kepada Krakah, seorang anak buahnya. Krakah segera mengerahkan cantrik-cantrik Calon Arang untuk mencari seorang anak gadis. Suatu perkerjaan yang tidak terlalu sulit bagi para cantrik Calon Arang.

Sebelum matahari terbit, anak gadis yang malang itu sudah berada di Candi Durga. Ia meronta-ronta ketakutan. “Lepaskan aku! Lepaskan aku!“ teriaknya. Lama kelamaan anak gadis itu pun lelah dan jatuh pingsan. Ia kemudian di baringkan di altar persembahan. Tepat tengah malam yang gelap gulita, Calon Arang mengorbankan anak gadis itu untuk dipersembahkan kepada Betari Durga, dewi angkara murka.


Kutukan Calon Arang menjadi kenyataan. “Banjir! Banjir!“ teriak penduduk Girah yang diterjang aliran sungai Brantas. Siapapun yang terkena percikan air sungai Brantas pasti akan menderita sakit dan menemui ajalnya. “He, he... siapa yang berani melawan Calon Arang ? Calon Arang tak terkalahkan!” demikian Calon Arang menantang dengan sombongnya. Akibat ulah Calon Arang itu, rakyat semakin menderita. Korban semakin banyak. Pagi sakit, sore meninggal. Tidak ada obat yang dapat menanggulangi wabah penyakit aneh itu..

“Apa yang menyebabkan rakyatku di desa Girah mengalami wabah dan bencana ?” Tanya Prabu Erlangga kepada Paman Patih. Setelah mendengar laporan Paman Patih tentang ulah Calon Arang, Prabu Erlangga marah besar. Genderang perang pun segera ditabuh. Maha Patih kerajaan Daha segera menghimpun prajurit pilihan. Mereka segera berangkat ke desa Girah untuk menangkap Calon Arang. Rakyat sangat gembira mendengar bahwa Calon Arang akan ditangkap. Para prajurit menjadi bangga dan merasa tugas suci itu akan berhasil berkat doa restu seluruh rakyat.

Prajurit kerajaan Daha sampai di desa kediaman Calon Arang. Belum sempat melepaskan lelah dari perjalanan jauh, para prajurit dikejutkan oleh ledakan-ledakan menggelegas di antara mereka. Tidak sedikit prajurit Daha yang tiba-tiba menggelepar di tanah, tanpa sebab yang pasti.

Korban dari prajurit Daha terus berjatuhan. Musuh mereka mampu merobohkan lawannya dari jarak jauh, walaupun tanpa senjata. Kekalahan prajurit Daha membuat para cantrik, murid Calon Arang bertambah ganas. “Serang! Serang terus!” seru para cantrik. Pasukan Daha porak poranda dan lari pontang-panting menyelamatkan diri. Prabu Erlangga terus mencari cara untuk mengalahkan Calon Arang. Untuk mengalahkan Calon Arang, kita harus menggunakan kasih saying”, kata Empu Barada dalam musyawarah kerajaan. “Kekesalan Calon Arang disebabkan belum ada seorang pun yang bersedia menikahi puteri tunggalnya.“

Empu Barada meminta Empu Bahula agar dapat membantu dengan tulus untuk mengalahkan Calon Arang. Empu Bahula yang masih lajang diminta bersedia memperistri Ratna Manggali. Dijelaskan, bahwa dengan memperistri Ratna Manggali, Empu Bahula dapat sekaligus memperdalam dan menyempurnakan ilmunya.

Akhirnya rombongan Empu Bahula berangkat ke desa Girah untuk meminang Ratna Manggali. “He he … aku sangat senang mempunyai menantu seorang Empu yang rupawan.” Calon Arang terkekeh gembira. Maka, diadakanlah pesta pernikahan besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam. Pesta pora yang berlangsung itu sangat menyenangkan hati Calon Arang. Ratna Manggali dan Empu Bahula juga sangat bahagia. Mereka saling mencintai dan mengasihi. Pesta pernikahan telah berlalu, tetapi suasana gembira masih meliputi desa Girah. Empu Bahula memanfaatkan saat tersebut untuk melaksanakan tugasnya.

Di suatu hari, Empu Bahula bertanya kepada istrinya, “Dinda Manggali, apa yang menyebabkan Nyai Calon Arang begitu sakti?“ Ratna Manggali menjelaskan bahwa kesaktian Nyai Calon Arang terletak pada Kitab Sihir. Melalui buku itu, ia dapat memanggil Betari Durga. Kitab sihir itu tidak bisa lepas dari tangan Calon Arang, bahkan saat tidur, Kitab sihir itu digunakan sebagai alas kepalanya.

Empu Bahula segera mengatur siasat untuk mencuri Kitab Sihir. Tepat tengah malam, Empu Bahula menyelinap memasuki tempat peraduan Calon Arang. Rupanya Calon Arang tidur terlalu lelap, karena kelelahan setelah selama tujuh hari tujuh malam mengumbar kegembiraannya. Empu Bahul berhasil mencuri Kitab sihir Calon Arang dan langsung diserahkan ke Empu Baradah. Setelah itu, Empu Bahula dan istrinya segera mengungsi.

Calon Arang sangat marah ketika mengetahui Kitab sihirnya sudah tidak ada lagi, ia bagaikan seekor badak yang membabi buta. Sementara itu, Empu Baradah mempelajari Kitab sihir dengan tekun. Setelah siap, Empu Baradah menantang Calon Arang. Sewaktu menghadapi Empu Baradah, kedua belah telapak tangan Calon Arang menyemburkan jilatan api, begitu juga kedua matanya. Empu Baradah menghadapinya dengan tenang. Ia segera membaca sebuah mantera untuk mengembalikan jilatan dan semburan api ke tubuh Calon Arang. Karena Kitab sihir sudah tidak ada padanya, tubuh Calon Arang pun hancur menjadi abu dan tertiup kencang menuju ke Laut Selatan. Sejak itu, desa Girah menjadi aman tenteram seperti sediakala.

Diambil dari: http://www.e-smartschool.com

Tuesday, November 25, 2008

Tradisi Kritik

Puisi dan Tradisi Kritik

Oleh Cecep Syamsul Hari


Kegairahan berpuisi dalam perspektif tradisi sastra dapat dilihat sebagai gejala embrional dari tumbuhnya apresiasi puisi di berbagai-bagai lapisan masyarakat. Peran komunitas-komunitas sastra nonakademik yang bergerak dalam jaringan informasi yang kuat, dan peran media massa dengan kolom-kolom budaya yang dapat menjangkau jumlah pembaca yang luas, boleh dikatakan sangat besar terutama ketika dinamika sastra pada komunitas-komunitas sastra akademik mengalami stagnasi. Persoalannya adalah sejauh mana tradisi kritik ikut menjalankan fungsinya dalam proses apresiasi itu. Untuk menumbuhkan tradisi sastra yang kuat, sangat penting untuk selalu mempertanyakan apakah kita telah berhasil membangun tradisi kritik yang kuat pula.

Di luar fungsi-fungsi eksposisif, apresiatif, dan evaluatifnya, kritik dapat bersifat presence maupun absence. Para penulis kritik akademik maupun nonakademik yang mempublikasikan kritiknya melalui karya-karya akademik (skripsi, tesis, disertasi), media massa, media khusus atau buku, melakukan kritik yang bersifat presence. Tradisi kritik yang mereka bangun secara literat itu apabila ditopang oleh kehidupan sastra yang dialogis dan intelektualistis akan menumbuhkan penghargaan masyarakat sastra pada umumnya terhadap referensi bersama yang menjadi basis dari tradisi kritik mereka. Referensi bersama ini akan mencegah kegairahan berpuisi jatuh ke dalam nonsensitas karena berada di dalam ruang-ruang publik yang minus kritik. Dalam kehidupan sastra yang dialogis dan intelektualistis ini semua karya dapat didiskusikan, dinilai, dan diuji dengan mengacu pada referensi bersama. Sementara itu, para redaktur budaya di koran-koran, majalah atau jurnal dan para redaktur penerbitan buku menjalankan fungsi kritik mereka secara absence. Dengan tetap mengacu pada referensi bersama, mereka mempertimbangkan kualifikasi estetik puisi (dan karya sastra lain) seseorang. Tidak jarang kritik para redaktur yang absence menjadi presence dalam bentuk bocoran komunikasi di dalam lingkungan dan kalangan yang terbatas. Seandainya mekanisme tradisi kritik ini dapat berjalan, puisi-puisi (dan karya sastra lain) yang dilemparkan ke ruang publik diandaikan telah lolos dari suatu pengujian atas referensi bersama. Referensi bersama itu adalah parameter estetik.


Seorang penyair yang dibesarkan melalui tradisi kritik yang kuat dalam lingkungan tradisi sastra yang kuat pula tidak memerlukan beatifikasi (pembaptisan atau legitimasi) dari siapa pun. Puisinyalah yang membeatifikasi dirinya. Inilah pula yang menjelaskan mengapa di dalam lingkungan tradisi-tradisi sastra yang berumur panjang seperti Inggris (dihitung dari masa pra-Romantik hingga pasca-Romantik usianya telah lebih dari 450 tahun) para penyair yang diperhitungkan karena ketangguhan puisi-puisinya tidak lebih dari 140 orang. Begitu pula apabila kita melihat lingkungan tradisi sastra lain, seperti Jepang, Perancis, Jerman, Amerika dan negara-negara Skandinavia.

Kegairahan berpuisi di Indonesia yang muncul sejak tahun 1990-an dapat dipandang sebagai gerak dinamis dari dialektika kultural. Sangat disayangkan apabila kegairahan berpuisi itu hanya dilemparkan ke luar kosong, ke dalam ruang publik minus kritik. Kegairahan berpuisi itu sebenarnya dapat dipersepsikan sebagai kecenderungan alamiah dan hanya waktu yang akan dapat membuktikan apakah kegairahan itu semata-mata bersifat temporal sebagai bentuk komunikasi sosial untuk menunjukkan spirit kemajemukan dan keberbagaian, atau lebih substantif sifatnya sebagai gejala embrional dari telah tumbuhnya situasi apreasiasi sastra yang lebih baik yang pada perkembangannya di kemudian hari akan mendorong tumbuhnya tradisi sastra Indonesia yang kuat. ***

(Pikiran Rakyat, 23 Februari 1997)

Sunday, November 23, 2008

Mengenang Iwan Simatupang

Iwan Simatupang, 18 Januari 1928 - 18 Januari 2003
Mengenang Kaktus yang Murung

Hari ini, 18 Januari 2003, kalau sastrawan Iwan Simatupang masih hidup, umurnya 75 tahun. Novelnya Ziarah, yang dipersembahkannya buat Cory memenangkan sayembara Unesco/Ikapi tahun 1968. Tahun 1977, novel Ziarah menggondol hadiah lagi, kali ini untuk Hadiah Sastra Asean, yang saat itu pertama kali diselenggarakan.


Nama lengkap sastrawan yang oleh lingkungannya dianggap aneh ini adalah Iwan Maratua Dongan Simatupang. Ia dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928. Setamat SMA, dia masuk Fakultas Kedokteran di Surabaya pada tahun 1953. Kemudian, akhir 1954 dia menuju Amsterdam, Belanda untuk belajar atas beasiswa Sticusa (Stichting voor Culturele Samenwerking), bidang antropologi di Fakulteit der Letteren, Rijksuniversiteit, Leiden, lalu masuk jurusan Filsafat Barat Universitas Sorbonne, Paris.


Ketika di negeri Belanda, sejak 1955 sampai 1958, Iwan giat menulis di majalah Gajah Mada, terbitan Yogyakarta. Artikelnya mencakup esai sastra, drama, film, seni rupa, juga ihwal kebudayaan pada umumnya. Selama studi Antropologi dan Sosiologi di Amsterdam, Iwan pun mengarang drama. Tahun 1957 lahir dramanya berjudul Buah Delima dan Bulan Bujur Sangkar. Tahun berikutnya (1958), dia tulis drama Taman. Saat diterbitkan drama itu dijuduli Petang di Taman. Penulisan drama oleh Iwan Simatupang, menurut Dami N. Toda dari Hamburg, pada 28 Desember 1981 dalam pengantarnya untuk penerbitan buku kumpulan cerpen karya Iwan Tegak Lurus dengan Langit ada hubungan erat dengan salah satu kegiatannya di Amsterdam saat itu, yakni seni drama, selain studi Antropologi dan Sosiologi.

Iwan pernah menjadi guru, wartawan, pengarang cerpen dan puisi, selain menulis esai, drama dan novel. Justru kegiatan awal Iwan di bidang sastra menulis puisi. Puisinya yang pertama dipublikasikan berjudul "Ada Dukacarita di Gurun", dimuat majalah Siasat edisi 6 Juli 1952. Sajaknya yang lain adalah "Ada Dewa Kematian Tuhan", "Apa kata Bintang di Laut", dan "Ada Tengkorak Terdampar di Pulau Karang". Puisi-puisi itu dimuat di majalah Siasat Baru edisi 30 Desember 1959. Selanjutnya, judul-judul cerpen Iwan adalah "Monolog Simpang Jalan", "Tanggapan Merah Jambu tentang Revolusi", "Kereta Api Lewat di JauhanI", "Patates Frites", "Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu", "Tegak Lurus dengan Langit", "Tak Semua Tanya Punya Jawab " dan lain-lain.

Sebagai wartawan (terakhir pengasuh harian Warta Harian, ku), Iwan menulis banyak sketsa tentang orang-orang tersisih terpinggirkan. Misalnya, Iwan menulis di kolomnya itu, Oleh-oleh untuk Pulau Bawean, Prasarana; Apa Itu Anakku?, Aduh… Jangan Terlalu Maju, Atuh!, Husy! Geus! Hoechst!, Di Suatu Pagi, Seorang Pangeran Datang dari Seberang Lautan, dan Dari Tepi Langit yang Satu ke Tepi Langit yang Lain.

Sketsa-sketsa atau kolom khusus Iwan itu oleh Dami N. Toda dihimpun bersama dengan delapan cerpen Iwan yang lain di dalam satu buku kumpulan cerpen Tegak Lurus dengan Langit, diterbitkan Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1982.

Ada kesan aneh di dalam karya-karya Iwan, baik cerpen, novel maupun drama. Ada kritikus yang menyebut karya avant garde terhadap buah pena Iwan. Iwan sendiri menyebut dirinya manusia marginal, manusia perbatasan. Dalam novel-novel Iwan: Ziarah, Merahnya Merah, Kering dan Koong, juga pada drama-dramanya: Petang di Taman, RT 0 RW 0, maupun Kaktus dan Kemerdekaan, begitu pula dalam cerpen-cerpennya, para tokohnya terkesan berkelakuan aneh, tidak rasional.

Iwan pun mendapat hadiah penghargaan untuk cerita pendeknya dalam Erwin Gastilla (Filipina), dan hadiah untuk karya nonfiksi dari Mrs. Judi Lee dari Singapura.

Tokoh-tokoh dalam cerita Iwan adalah manusia terpencil, kesepian, terasing, dilanda tragedi, perenung, dan cenderung murung. Ketika mengenang Iwan Simatupang, tahun 1973, tiga tahun kepulangannya ke negeri Khalik-nya, saya terkenang saat pementasan dramanya Kaktus dan Kemerdekaan di Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki (TIM) tahun 1968.

Aktor Kusno Sudjarwadi yang memainkan tokoh lelaki dalam lakon melankolis, tetapi setegar kaktus padang pasir itu. Ada kerinduan di dada para tokoh. Ada rasa sunyi. Ada harapan. Banyak sikap aneh menurut kacamata kaum awam. Sesuai latar belakang Iwan (studi filsafat), tokoh,-tokohnya perenung dan cenderung murung, juga muram. Tokoh-tokoh Iwan memang kebanyakan manusia-manusia kecil, bukan para hero yang ingar-bingar, dan gegap gempita, dan senang retorika. Tokoh-tokoh Iwan menurut Iwan sendiri adalah manusia perbatasan, manusia eksistensialisme. Makanya, ada beberapa kalangan penikmat karya-karya Iwan, menilai karangan-karangan Iwan sulit dicerna. Karangan-karangan Iwan bertokoh manusia-manusia yang tidak masuk akal atau manusia aneh. Dalam drama Petang di Taman yang liris puitis, misalnya, tokoh-tokohnya seperti berkata pada dirinya sendiri (monolog), berfilsafat, dan putus komunikasi dengan orang lain, atau lingkungannya. Tapi, di sinilah kekhasan karya Iwan, yang membedakannya dengan karya-karya para pendahulunya.

Pada tanggal 4 Agustus 1970, saya lupa harinya, di Rumah Tahanan Militer (RTM), Jakarta Pusat, saya memegang terali besi pintu gerbang rumah tahanan. Terdengar siaran pagi RRI di rumah luar RTM. Penyiar mengabarkan berita duka cita. Katanya, sastrawan terkemuka Indonesia, Iwan Simatupang telah tiada, dalam usia 42 tahun, meninggalkan dua anak lelaki. Kaktus yang murung, yang lama menetap di Hotel Salak, Bogor, dan terakhir tinggal di Jalan Kencana, Jakarta itu, benar-benar telah pergi. Rasanya, ya serasa baru kemarin, saya menyalaminya seusai pementasan drama Kaktus dan Kemerdekaan di TIM, yang diiringi gerimis itu. ***

K. Usman.
Penulis adalah pengarang dan pengamat sosial budaya, menetap di Jakarta.
Sinar Harapan, 2003

Naskah Monolog Toga Nainggolan

Para Penjilat

Naskah Monolog Toga Nainggolan

Aku : perkenalkan saya, hmmm…siapa ya???(dengan wajah pura-pura tahu). Sebut saja saya Robert, atau Michael. Ya hanya nama itu yang bisa mencerminkan betapa kayanya saya.

( berjalan-jalan mengelilingi stage, sambil berpikir lagi )

Aku : aku memang kaya, tapi maaf saya bukan maksud hati untuk sombong atau congkak, tapi buat apa minta maaf, iya khan?(dengan wajah sinis)

( duduk dikursi sambil mengangkat kaki satu keatasnya )

Aku :kalian tahu, sebenarnya saya ini ramah, sudah kaya pula. Tapi kenapa kalian-kalian memaksa ku menjadi begini?(dengan nada marah)

( berdiri dan naik keatas kursi )

Aku : apa? Apa kau lihat-lihat? mau nantangin? Apa? Menyuruhku minta maaf? Gara-gara aku tak sopan? Pintar sekali kau. Enyah (semakin marah)

( kembali duduk di kursi )

Aku : baiklah, baik saya akan beri tahu kenapa saya seperti ini dan kenapa saya sangat enggan meminta maaf. (dengan ekspresi jengkel).

( membuka jas dan memutari kursi )

Aku : mama, aku sudah pulang kerja Mama? Ma? Masih di salon ya? (sambil melihat jam tangan)

Aku : papa? Oh iya, papa masih di amrik ya? Ck, bisa-bisanya aku lupa. Sudah lah.

Aku : rumah segede ini yang tinggal Cuma aku? Payah. Benar-benar payah jadi orang kaya, sangat kesepian, dengan tetangga saja tak kenal, bukannya aku tak mau tapi pasti mereka juga tak mau. Maklum, pasti sibuk alasannya. Alasan klasik yang manjur juga untuk menolak sesuatu.

( kembali berdiri dan mengelilingi stage )

Aku : mana bisa tahan kalau hidup ditengah-tengah orang yang hidupnya hanya memikirkan harta dan kekayaan saja.

Aku : pengen rasanya aku hidup sederhana, atau miskin sekalian. Yang penting dapat merasakan suasana kekeluargaan yang bahagia, yang dimana tak ada yang bersifat individualis dan hanya mencari uang tanpa peduli dengan keluarga dan anaknya sendiri.

( ke backstage mengganti pakaian )

Aku : pagi ibu, saya Michael. Boleh tidak saya tinggal beberapa waktu?(dengan wajah tersenyum).

Aku : boleh? Bener nich? Terima kasih ya bu.

( duduk di lantai )

Aku : kalo ibu kerjanya apa? Adik-adik, masih pada sekolah khan? Bapak kerjanya apa?

Aku : oh begitu(dengan wajah sedih). Jadi bapak tak kerja lagi ya? Jadi adik-adik ini sudah tak sekolah lagi ya? Oh, adik-adik masih sekolah tapi sudah tak punya uang lagi ya untuk melanjutkan sekolah?

Aku : adik kalau sekolah di jemput ya bu? Enggak? Tapi khan adik masih terlalu kecil kalau jalan sendiri. (merasa kasihan dan cemas)

Aku : ibu punya HP? Saya ingin menelfon ke rumah agar mereka tahu bahwa saya baik-baik saja. Tidak punya ya? Maaf ya bu(dengan tampang menyesal )

Aku : ya bu? Ibu butuh uang? Untuk beli dan bayar uang sekolah adik-adik? Oh ya, ini bu. Adik-adik juga?ini buat jajan ya(dengan perasaan senang)

(keesokan harinya )

Aku : pagi pak, duduk-duduk saja nich? Ah, bapak jangan seperti itu, saya tidak kaya hanya saja memiliki harta yang cukup.

Aku : apa? Bapak ingin motor? Iya, iya ntar saya usahakan.( dengan rasa sedikit jengkel)

Aku : bapak, saya izin keluar dulu ya? Sebentar saja kok.

( kemudian si Michael memutuskan untuk pergi dari rumah miskin itu selamanya )

Aku : semuanya sama saja. Keparat. Tak ada yang bermoral baik, yang kaya egois. Yang miskin pemeras. Semua sama, enyah saja( dengan nada marah dan berteriak)

( kembali ke belakang stage dan mengganti baju )

Aku : sekarang sudah tahu kenapa saya enggan minta maaf? Dasar para penjilat.

Download naskah ini:
silakan KLIK di sini

Wednesday, November 19, 2008

Esai Sastra: Sastra Jendra

Salah Eja Sastra Jendra


YA, barangkali Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu sebuah bentuk kekalahan para dewa. Konon, ketika Dewi Sukesi menceritakan mimpinya tentang ajaran (?) itu, tiba-tiba bumi berguncang. Kayangan, dunia para dewa itu, seolah runtuh. Dewa-dewa marah, cemas.

Di depan putrinya, Prabu Sumali bahkan bersimpuh agar Sukesi mengurungkan keinginan menjadikan ajaran itu sebagai prasyarat pernikahan. Tapi putri Alengka itu bergeming. ''Aku tak akan pernah menikah sampai ada orang yang mengupas ajaran itu,'' jawabnya.

Negeri Alengka bergetar. Hujan tangis seolah turun dari kayangan. Sindhunata, dalam Anak Bajang Menggiring Angin, menggambarkan betapa gelap menutupi negeri leluhur Rahwana.

Apa sebenarnya Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, sehingga ketika keberadaannya yang baru dalam tataran mimpi sudah begitu menggelisahkan Prabu Sumali, juga para dewa?


Sarasehan Rebo Legen di Sanggar Paramesthi, ''Sastra Jendra: Sastra (Ora) Cetha'', Selasa (1/10) malam lalu, pun tak memberikan penjelasan yang selesai, selain menawarkan banyak penafsiran tentang babak yang menjadi cikal bakal kelahiran Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Gunawan Wibisana itu.

Ya, semuanya masih dalam bentuk penafsiran. Sudiyatmono, misalnya, menduga Sastra Jendra berasal dari Sastra Kajita Indera yang tertulis dalam Serat Sumawur, yakni sebuah ajaran tentang penguasaan pancaindera.

''Jadi, hidup itu pada akhirnya bagaimana manusia mengendalikan hawa nafsu yang dianalogikan lewat pancaindera.''

Melewati Tahap

Adapun Prof Soedjarwo memandang Sastra Jendra merupakan satu dari pengajaran dalam Lokapala (Sindusastra). Dua yang lain adalah Sastra Cetha dan Hasta Brata.

Dia justru mempertanyakan, kenapa Dewi Sukesi hanya berhasil meruwat Gunawan Wibisana, bukan tiga saudaranya yang lain.

Sayuti Anggoro berpendapat, sebenarnya Dewi Sukesi tak meruwat anak-anaknya karena keburu mati. Empat anak Wisrawa-Sukesi menjadi simbol sifat dasar manusia, yakni angkara (Rahwana), penyesalan (Kumbakarna), nafsu seks (Sarpakenaka), dan kebijaksanaan serta cinta (Gunawan Wibisana).

Lantas kenapa jika Sastra Jendra sebagai ajaran kasunyatan, ilmu kesempurnaan, sangkan paran, dan pembebas petaka, justru Bathara Guru dan seisi kayangan gempar?

Menurut pendapat Gunawan Budi Susanto, bisa jadi Sastra Jendra menyimpan rahasia ''kebobrokan'' para dewa. Dia juga melihat ''kitab'' itu memuat ajaran tentang bagaimana menjadi manusia sempurna.

Jika hal itu terjadi, maka kewibawaan para dewa akan terongrong. Mereka barangkali akan bertanya, jika derajat manusia naik setingkat dewa, lalu apa arti dewa-dewa?

Gunawan melihat komposisi yang sama dalam Syekh Siti Jenar yang mengabarkan ajaran manunggaling kawula Gusti. Maka Sastra Jendra menjadi sesuatu yang mencemaskan karena sebelum mencapai kesempurnaan, manusia harus melewati tahap syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat.

''Dalam pandangan para wali, Siti Jenar harus disingkirkan. Sama seperti ketika akhirnya Danaraja mengusir ayahnya sendiri, Wisrawa, dan Dewi Sukesi.''

Tapi, tentu saja itu hanya satu dari banyak penafsiran. Jadi sah-sah saja ketika Sucipto Hadi Purnomo melihat bahwa Sastra Jendra sebagai kesalahan Yasadipura dalam mengeja dan menafsir.

Entahlah. Tapi apa pun sarasehan bulanan di Joglo Paramesthi itu sungguh gayeng. Sebelumnya, penggurit Sendang Mulyana, Sudiyatmono, Bowo Kajangan, Gunawan, dan Arsita tampil dalam ''Gurit Telek Lencung''.

(Ganug Nugroho Adi-75, Harian Umum Suara Merdeka, Kamis, 3 Oktober 2002)

Download tulisan ini? Klik di sini

Monday, November 17, 2008

Wayang dalam Sastra Indonesia Mutakhir

Wayang dan Sastra Indonesia Mutakhir


Tak dapat disangkal bahwa genre seni tradisi pertunjukan yang paling banyak dieksplorasi oleh para sastrawan mutakhir Indonesia adalah wayang. Prototipe wayang itu sendiri sering disebut sebagai puncak seni tradisional klasik Jawa, bahkan mendapat gelar adiluhung. Dalam masyarakat Jawa, kisah-kisah dalam wayang tak sekedar hiburan belaka, namun juga dianggap sebagai tuntunan. Dianggap sebagai ngelmu atau falsafah kehidupan yang bisa memberi katarsis bagi para penontonnya.

Bagi orang Jawa menonton wayang tidaklah sekedar menonton kesenian, melainkan untuk meneguhkan kembali jiwa manusia Jawa mereka, menggali kembali falsafah nilai, sikap hidup, atau dengan kata lain menonton wayang merupakan aktivitas latihan memelihara keyakinan dan nilai-nilai kearifan mereka.

Sears dalam bukunya Shadow of Empire (1996) mengatakan bahwa ada kebijakan mistik yang melekat pada wayang yang dianggap memiliki "kebenaran". Mangkunegara VII menguatkan hal tersebut melalui tulisannya On the Wayang Kulit (purwa) and its Simbolic and Mystical Elements. Dalam tulisan tersebut beliau menyarankan agar setiap lakon wayang Jawa melakukan kembali pencarian spiritual. Unsur mistik inilah salah satu magnet yang membuat daya pukau wayang terhadap para penontonnya.


Selain itu, wayang sebagai seni pertunjukkan memiliki peluang sebagai sarana kritik yang halus dan simbolis. Bagi masyarakat Jawa, kritik harus disampaikan dengan cara bijak, halus, dan simbolis sehingga tidak mengganggu keharmonisan dalam tata kemasyarakatan. Untuk menyampaikan kritik semacam itu masyarakat Jawa melakukannya melalui pasemon. Dan, wayang kaya akan pasemon. Pasemon dalam wayang muncul dalam bentuk narasi yang kuat atau pada dialog-dialog yang memungkinkan satu kisah yang sarat kritis disajikan dalam bentuk karikatural. Seorang dalang dapat dengan leluasa melalui pasemon-pasemon menyampaikan kritik-kritik politik atau kritik sosialnya.

Daya tarik-daya tarik itulah yang agaknya menjadikan wayang juga menjadi pesona tersendiri bagi sastrawan-sastrawan mutakhir Indonesia untuk mengeksploitasinya. Mereka mengadaptasi dan meminjam wayang sebagai sumber inspirasi dan memberi warna pada karya mereka. Sears menyebutnya sebagai 'anggur baru dalam botol lama'. Ia menegaskan bahwa cerita wayang dan pertunjukkan wayang selalu sudah kosong, tengah menunggu untuk diisi lagi oleh pendongeng baru dengan cerita baru. Jadilah wayang semacam blue print yang di atasnya selalu bisa diberi kisah dan pesan-pesan baru.

Tentu saja beragam bentuk karya sastra yang bersumber dari inspirasi dan eksploitasi wayang ini. Yudisthira Ardi Noegraha dengan cerdik mengubah cerita wayang menjadi novel populer yang diminati banyak anak muda. Ia mengubahnya menjadi cerita kaum remaja yang sarat dengan percintaan dan kehidupan remaja. Judulnya saja berhasil mengubah citra wayang yang serius menjadi konyol dan meremaja, seperti Arjuna Wiwaha ha ha, Arjuna Mencari cinta I, II, dan Arjuna droup Out.

Sindhunata setia menggali cerita-cerita wayang sesuai dengan pakemnya, namun diekspresikan melalui Bahasa Indonesia yang indah dan puitis. Jadilah Anak Bajang Menggiring Angin novelnya yang bersumber cerita Ramayana versi Jawa itu, menjadi sebuah novel yang indah, puitis, liris, dan kaya akan metafora baru.

Sindhunata berhasil mentransformasikan keindahan bahasa pewayangan dalam Bahasa Indonesia.dengan sangat memukau. Hal yang sama dilakukan oleh Yanusa Nugraha. Tak hanya merepresentasikan ulang kisah tragik Sumantri dan Sukrasana dalam kisah Arjunasasrabahu, namun ia juga menambahkan tafsiran-tafsiran dan konflik-konflik kejiwaan yang baru sehingga terasa bahwa konflik pengabdian, kesetiaan, dan kepentingan keluarga menjadi sangat universal dan selalu menjadi konflik yang abadi.

Seno Gumira Aji Darma mengeksploitasi cerita wayang dengan cara yang lebih unik. Memilih bahan dari kitab Ramayana tapi dari bagian yang tidak populer yaitu tragedi keluarga Rama setelah perang besar dengan Rahwana.

Seno juga memberi tafsir baru dalam cerita Ramayana. Rama yang biasanya merupakan tokoh hero bagi masyarakat Jawa ditelanjanginya sebagai pemimpin yang tak menghargai kesetiaan, ambisius, haus akan kekuasaan, dan berwatak agresor dan imperialis. Di tangan Seno, cerita-cerita dari parwa terakhir Ramayana menjadi sangat realis. Judulnya pun menjadi sangat menarik : Kitab Omong Kosong.

YB. Mangunwijaya melakukan perluasan jagat wayang ke dalam dunia kontemporer. Dengan kata lain ia meminjam nama tokoh-tokoh wayang, namun nama-nama tersebut mengusung persoalan-persoalan kontemporer seperti persoalan nasionalisme dan perubahan peradaban.

Novelnya Burung-Burung Manyar dan Durga Umayi jelas-jelas merupakan bentuk wayang dalam novel moderen. Ia sengaja mengambil nama-nama tokoh wayang, namun konflik yang disajikan jauh melompati persoalan wayang. Tokoh-tokoh wayang dalam novelnya seperti Larasati, Kakrasana, Durga merupakan pasemon yang menyimbolkan persoalan-persoalan mutakhir Indonesia. Mangunwijaya berhasil menggunakan acuan wayang untuk menjelaskan motif, perilaku, dan konflik kejiwaan tokoh-tokoh protagonisnya.

Lain yang dilakukan Putu Wijaya. Ia berusaha mendekonstruksi kebenaran dalam cerita wayang. Dalam novelnya Perang, cerita-cerita wayang menjadi wahana dan ruang untuk mengejek tatanan sosial dan politik di Indonesia. Putu wijaya melalui novel ini sengaja mengguncang tatanan sosial yang amat hierarki dan menyindir habis-habisan hegomoni politik orde baru. Novel Perang sengaja dibuat Putu Wijaya sebagai sebuah esai tentang sifat dan pelaksanaan kekuasaan.

Apa yang dilakukan Yudhistira Ardi Noegraha, Sindhunata, Yanunsa Nugraha, Seno Gumira, Mangunwijaya, dan Putu Wijaya merupakan upaya-upaya menyegarkan kembali wayang sekaligus memperkayanya dengan makna-makna baru untuk menghasilkan narasi-narasi baru.

Wayang akan tumbuh sebagai bentuk seni dengan paradigma terbuka yang selalu kontekstual dengan konteks sosial Indonesia dan menjadi salah satu bagian dari tradisi sastra Indonesia moderen.***

Tjahjono Widarmanto. penyair dan esais tinggal di Ngawi
Diambil dari Suara karya Online, Sabtu, 29 September 2007

download tulisan ini? Silakan klik di sini

Friday, November 14, 2008

Contoh Esai atawa Kritik Puisi

Mencari Penyair dalam Kesusastraan Kita

Oleh Cecep Syamsul Hari


Situasi penyair di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir dalam banyak hal kelihatannya jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan situasi yang dialami para pendahulunya. Ia lebih banyak memperoleh perhatian dibanding sebelumnya dan pada saat yang bersamaan terdapat lebih banyak karya-karya puisi dari para penyair terkemudian, yaitu mereka yang rata-rata usianya saat ini berkisar antara dua puluh hingga tiga puluhan tahun.

Selain Media Indonesia yang memposisikan dirinya sebagai surat kabar yang hanya mempublikasikan puisi-puisi dari para penyair yang relatif telah matang, terdapat koran seperti Republika yang membuka rubrik “Orbit” dan “Sirkuit” yang mengakomodasi puluhan penyair dari banyak tempat di Indonesia. Di Bandung, koran terbesar di Jawa Barat, Pikiran Rakyat, membuka lima rubrik yang berbeda, dari mulai “Seuntai Sajak dari Beranda” hingga sajak-sajak pilihan pada suplemen Khazanah. Konon, setiap minggu redaktur budaya koran yang disebut terakhir menerima 120 puisi termasuk dari mereka yang masih belajar menulisnya.

Bahkan, bagi penyair berusia muda dan belum lama menulis puisi, situasi sepuluh tahun terakhir ini juga terlihat jauh lebih menyenangkan. Majalah-majalah atau buletin yang mempublikasikan puisi pun relatif lebih banyak. Demikianlah misalnya, majalah sastra Horison yang terbit di Jakarta dan jurnal delapan halaman Lingkaran yang terbit di Serang dapat hidup berdampingan secara damai di atas meja pembaca puisi dan peneliti sastra.


Situasi yang menyenangkan itu ditandai pula dengan bermunculannya komunitas-komunitas sastra yang bergairah mempublikasikan puisi para penyair yang menjadi bagian atau bukan bagian dari komunitasnya. Sebagai contoh, Forum Sastra Bandung (FSB), Komunitas Sastra Indonesia (KSI, Tangerang), Lingkaran Sastra Serang (List), Cak Foundation (Bali), mempublikasikan sejumlah kumpulan puisi dari para penyair Indonesia yang berproses kreatif dalam sepuluh tahun terakhir ini. Dalam 1996-1997 saja, misalnya, FSB meluncurkan 14 kumpulan puisi tunggal. Pada 1997 KSI meluncurkan Antologi Puisi Indonesia. Sementara itu, List mengakomodasi penyair-penyair setempat untuk mempublikasikan puisi-puisinya, dan Cak Foundation pada 1997 mengundang 31 penyair dari Jawa, Sumatera, Bali dan Makassar untuk menyertakan puisi-puisi mereka dalam sebuah buku antologi puisi dwibahasa. Dalam spektrum yang lebih luas, Teater Utan Kayu (TUK, Jakarta) menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sastra dengan agenda pemikiran yang jelas dan terprogram secara baik. Kita melihat aktivitas-aktivitas serupa dilakukan dengan sejumlah komunitas sastra di Jawa dan Bali.

Pada banyak kasus kita juga sering melihat penyair yang mempublikasikan buku puisinya secara swadaya atau dengan bantuan kawan-kawan dekatnya dan tidak lagi bergantung pada kemurahan hati penerbit meskipun terdapat sejumlah penerbit yang setia menerbitkan buku puisi sebagai program nonprofitnya. Di Bandung hal itu antara lain dilakukan FSB dan aktifis-aktifis sastra idealis seperti Hikmat Gumelar.

Pada banyak kasus sering pula terjadi seorang penyair tidak semata-mata berperan sebagai kreator melainkan berperan pula sebagai penerbit sekaligus penjual bukunya sendiri. Dalam sejumlah esai saya menamakan situasi itu sebagai “kegairahan berpuisi” (passion for poetry) meskipun pola-pola anomali (anomaly patterns) kegairahan itu melahirkan pula puisi-puisi yang secara estetik masih dapat dikatakan banal atau prematur. Secara sosiologis, hal ini dapat dipahami karena pola-pola anomali ini selalui menyertai fenomena sosial apa pun.

***

Kita juga menemukan kenyataan bahwa puisi semakin mengkhalayak. Bertambahnya publik pembaca puisi membawa penyair pada suatu kontak langsung dengan publiknya. Sangat mudah bagi kita untuk menemukan aktivitas pembacaan puisi dalam berbagai-bagai bentuknya, termasuk pada peristiwa nonkesenian. Kerap kita temukan dalam peristiwa sosial-politis, seseorang membaca puisi. Barangkali dalam kasus seperti itu puisi dianggap medium yang tepat untuk mengungkapkan kepedihan (anguish) atau pesan (message) politis tertentu.

Pada sisi lain fenomena “musikalisasi puisi” juga membawa penyair dan karyanya bertemu dengan publik yang lebih luas. Harry Roesli melakukan interpretasi musikal terhadap sejumlah puisi penyair 1990-an. Pada September 1997, Ari Malibu dan kawan-kawan meluncurkan album Akan Kemanakah Angin? yang memusikalisasikan puisi-puisi sejumlah penyair. Terdapat kelompok-kelompok musisi serupa di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta yang bersungguh-sungguh melakukan interpretasi musikal terhadap puisi-puisi penyair 1990-an dan membuka ruang bagi munculnya publik puisi penyair yang lebih luas dan beragam.

Nama-nama seperti Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Agus R. Sarjono, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Joko Pinurbo, Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, Soni Farid Maulana, Warih Wisatsana, untuk menyebut beberapa nama, dikenal publik yang lebih luas dibandingkan dengan para pendahulunya, seperti Slamet Sukirnanto, Ikranagara, bahkan Leon Agusta. “Publik yang lebih luas” yang saya maksud adalah publik yang muncul sebagai resonansi dari fenomena kegairahan berpuisi. Dari segi pemikiran sastrawi pun kita dapat melihat bahwa sejumlah esai penyair Agus R. Sarjono, misalnya, sama kuatnya dengan, dan kadang-kadang lebih kuat dari, pemikiran sastrawi penyair Sutardji Calzoum Bachri.

Juga terdapat kenyataan kecenderungan eksplorasi estetik yang dilakukan sejumlah penyair 1990-an telah melahirkan a new kind of poetry dan juga a new kind of audience.

Acep Zamzam Noor telah sejak lama menemukan dan memapankan puisi-puisinya yang saya sebut journey poetry dengan kualitas estetik yang tinggi. Puisi-puisi yang dia tulis ketika atau setelah melakukan perjalanan di luar negeri semakin memperlihatkan kematangan estetiknya.

Ahmad Syubbanuddin Alwy melakukan pengembaraan estetik yang konsisten dengan terus-menerus mengeksplorasi wilayah makna dari suatu pengetahuan religiusitas yang luas dengan kecintaan yang kuat pada pemilihan diksi dan medan simbolik kepedihan dan kesunyian. Kumpulan puisinya, Bentangan Sunyi (1996), dapat dikatakan sebagai representasi signifikan dari pengembaraan estetiknya. Pengenalan sepintas terhadap struktur dan performansi fisikalnya yang presence di mata publik sering membuat orang mengabaikan keseriusan dan kualitas estetik puisi-puisinya.

Afrizal Malna melahirkan puisi-puisi yang pada kemunculan pertamanya secara estetik sangat mengejutkan dengan spirit menemukan sensation of newness yang melahirkan sejenis puisi yang disebut-sebut “puisi Afrizalian”. Sensation of newness adalah istilah Baudelaire yang diperluas maknanya oleh Theopile Gautier, Paul Verlaine dan Sthepane Mallarmé, yang dengan berbagai-bagai cara memutuskan hubungan dengan tradisi Romantik Eropa dan berusaha melakukan rekonstruksi bahasa yang subjektif yang di kemudian hari menjadi arus utama para pengarang modern seperti TS Eliot (puisi), Henrik Ibsen dan Luigi Pirandello (teater) dan muncul dalam novel-novel psikologis Dostoevsky yang dikemudian hari mempengaruhi karya-karya Joseph Conrad, Thomas Mann, Virginia Woolf, dan Franz Kafka.

Di Indonesia, rekonstruksi bahasa yang subjektif itu pernah dilakukan Armijn Pane (pada novel) dan Chairil Anwar (pada puisi) yang menandai penyebalan mereka berdua dari tradisi Pujangga Baru, “kaum Romantik yang terlambat”. Pada Chairil Anwar rekonstruksi itu dilakukan dengan menegakkan posisi individual dalam tradisi perpuisian modern. Tiga dekade kemudian, Sutardji Calzoum Bachri berusaha melakukan upaya yang serupa. Jika Sutardji berusaha melakukan sensation of newness itu melalui eksplorasi diksional dengan menggali khasanah mantra maka Afrizal Malna menggalinya dari psikologisme biografis manusia kosmopolit.

Agus R. Sarjono menulis puisi-puisinya dengan semangat mendamaikan gaya dan pengucapan estetik Chairil Anwar dan Goenawan Mohamad serta tradisi puisi Indonesia modern dengan tujuan menemukan bentuk pengucapan estetik baru. Kita dapat melihat upaya itu pada mukadimah kumpulan puisinya, Kenduri Airmata (1996): Di pelabuhan kecil senja hari kutemui lagi sajak Goenawan sunyi abadi dalam kristal kata. Tuhan, mengapa kita bisa bahagia pada hidup yang hanya menunda kekalahan dan Atmo Karpo yang terbunuh, meski Rendra jatuh cinta tak henti-henti pada Dik Narti. Terlalu hampir tetapi terlalu sepi tertangkap sekali terlepas kembali bagai Toto Sudarto Bachtiar menggoreskan Etsa bagi ibu kota senja dari sebuah negeri tempat matahari bersinar hanya pada malam hari dan Taufiq Ismail gelisah bermain pingpong dengan bola telur angsa…. Tuan, jangan ganggu permainan Sapardi sebab ada suatu kali tanganku akan jemu terkulai mainan cahaya hilang bentuk remuk…. Tetapi siapa yang melarang orang-orang Rangkasbitung itu bicara? Lihatlah semua seperti bunga di atas batu dibakar sepi bagai Sitor memanggil-manggil Toba dari Samarkand yang jauh hingga antara benua dan benua terbentang rindu samudera. Namun, makin menjauh dari cinta sekolah rendah….

Mukadimah ini dapat dipandang sebagai kredo atas penafsiran yang cerdas terhadap puisi Indonesia modern yang membawa Agus menemukan bentuk pengucapan estetik baru yang menjadi ciri khas puisi-puisinya di kemudian hari.

Puisi-puisi terakhir Joko Pinurbo memperlihatkan kecenderungan yang dihindari para penyair liris. Puisi-puisinya kaya dengan literasi humor yang cerdas, imajinasi yang liar, dan bersifat parodi. Membaca puisi-puisi Joko mengingatkan saya pada penyair parodi Inggris, D.J. Enright. Memasuki wilayah perpuisian seperti ini bukan sesuatu yang mudah. Enright sendiri menulis, “parodi sangat sulit untuk tidak ditulis tetapi menulisnya lebih sulit lagi.” Yang membedakan Joko dengan para penyair Indonesia terdahulu yang pernah membuat puisi-puisi serupa adalah cara berpikirnya yang ketat (rigorous). Sesuatu yang menjadi ciri khas para filosof. Waktu masih sangat panjang bagi Joko untuk mencoba memperkaya dan memperluas wilayah tematik karya-karyanya bagi suatu cara pandang estetik yang telah dipilihnya.

Soni Farid Maulana menulis puisi-puisi kritik sosial dalam cahaya pemikiran Rendra. Namun, pada puisi-puisinya yang kemudian, setidaknya dari yang terlihat dalam Impian Depan Cermin (1997), ia terlihat berusaha untuk kembali pada wilayah tematik yang benar-benar dialaminya dan dapat dikatakan bahwa ia telah menemukan bentuk dan pengucapan sendiri.

Sementara itu, puisi-puisi Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, dan Warih Wisatsana, memperkenalkan suatu cara pandang baru terhadap kosmologi dan tradisi Bali yang selama bertahun-tahun hanya dipandang sebagai entitas eksotik dan turistik. Puisi-puisi mereka memperlihatkan keseriusan yang teguh untuk menilai kembali segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan kosmologi dan tradisi Bali dengan cara yang kritis. Secara estetik, mereka juga telah menemukan bentuk pengucapan mereka sendiri.

Sembilan penyair yang disebutkan di atas merepresentasikan munculnya suatu generasi baru kepenyairan yang mencari dan menemukan pengucapan estetik mereka sendiri dan menempatkan mereka pada posisi yang menonjol (prominent) dalam kesusastraan Indonesia saat ini.

***

Kita menemukan pula kenyataan bahwa generasi baru publik pemerhati (a new kind of audience) puisi telah dilahirkan. Mereka rata-rata berusia muda dan terkadang terlihat nirkritis dalam pengertian akademis. Kita dapat menemukan mereka pada banyak peristiwa pembacaan puisi dan aktivitas kesenian pada umumnya.

Anatomi pendidikan mereka beragam, dari mulai lulusan perguruan tinggi, mahasiswa, santri, hingga pelajar sekolah menengah dan kejuruan. Begitu pula anatomi pekerjaan mereka, tersebar dari mulai artis-selebritis, eksekutif perusahaan, karyawan pabrik, guru, pegawai negeri, pemain sinetron, pedagang, atlet, dan sebagainya. Sebagian dari mereka melibatkan diri ke dalam berbagai-bagai komunitas komunitas sastra. Jumlah anggota komunitas-komunitas itu bervariasi dari hanya sekadar lima orang hingga puluhan orang. Mereka bukan saja pemerhati puisi tetapi dalam derajat tertentu telah menjadi “para pencinta puisi yang keras kepala”. Kita dapat menemukan mereka di banyak kota di Indonesia.

Tentu saja, untuk lebih jauh mengapresiasi situasi puisi dan penyair dalam kesusastraan Indonesia saat ini diperlukan suatu penelitian lebih jauh. Saya berharap tulisan ini dapat dipandang sebagai pendahuluan bagi penelitian dengan subjek yang sama. ***

(Media Indonesia, 19 April 1998)

Download postingan ini? Klik di sini

Thursday, November 13, 2008

Monolog Moundry Kebohongan atau?

KEBOHONGAN ATAU?

Naskah Monolog Aji Moundry


Adegan 1


(lampu agak redup, Aku duduk di sebuah kursi kayu yang sudah sangat tua dan merenung dan bergumam sendirian meratapi dan mengingat kejadian-kejadian dulu)

Aku : “hm…hm…memang kita tidak pernah tahu rencana Tuhan. Rencana-Nya pasti aneh-aneh, tidak ada yang tahu”

(diam beberapa saat, sambil sesekali melihat jam dinding)

Aku :”sudah jam segini, apa yang harus kulakukan ?berdiam diri atau melawan? Tetapi apa gunanya melawan misalnya tetap kalah. Hah..”

(diam sebentar)

Aku :”nama saya Odoy, umur saya belum terlalu tua sekitar 25-an lah… saya cuma lulusan sma…penganguran… pasti banyak yang berpikir bahwa saya menggerutu dari tadi karena saya tidak bekerja. Salah. Saya menggerutu karena saya akan mati. Ya…mati. Bertemu dengan yang
menciptakan saya. Saya akan mati beberapa menit lagi. Pasti banyak yang tidak percaya kalau saya sebentar lagi dan bertanya-tanya. Saya akan ditembak mati. Benar di tembak di kepala tepat di depan jidat saya karena saya…”


Adegan 2

(langsung gelap dan ganti adegan)

Aku : (terbirit-birit) “ bukan…bukan…bukan saya. Saya bukan pembunuhnya, Tolong jangan di buru saya ini. Tolong,,tolong,, bukan saya,,” (kecapekan dan bersembunyi di belakang batu)

Aku :”hah..hah…ha…capek, sumpah capek. Kok bisa saya diburu dan dituduh maling seperti itu ya…padahal saya kan cuma mau menolong orang yang tabrak lari, dan ketika saya pegang, orang itu sudah mati lalu banyak orang datang mengejar saya dan menuduh saya pembunuh. Kok pada tidak mau mendengarkan penjelasan saya ya…”

(lampu gelap dan pindah lagi ke adegan 1)

Aku :”nah…seperti itu lah awalnya kenapa sekarang saya menunggu maut menjemput saya. Saya dituduh sebagai pembunuh dan tidak ada yang percaya kata-kata saya”

Adegan 3
(lampu gelap dan langsung pindah adegan)
Aku :”hm…apa yang sebaiknya saya lakukan ya ?”
Aku :”saya akan melaporkan peristiwa ini kepada polisi pasti para polisi mempercayai saya”
(lampu gelap lalu adegan di kantor polisi)
Aku :”na…na…nama saya odoy” (dengan ketakutan) (diam)
Aku :”u…u…umur saya 25 tahun (dengan ketakutan) (diam)

Aku :”gini pak, faktanya, saya mau ban…bantuin seorang cowok yang di ta…tabrak lari tapi saat saya mau menolong, dia nya sudah tidak bernapas, orang2 yang melihat, menyangka saya yang membunuhnya, begitu pak cerita yang benar…tidak seperti cerita orang-orang kampung itu…mereka memfitnah saya”
(diam)

Aku :”itu bukan alibi atau apalah itu, saya tidak menutup-nutupi tetapi itulah fakta sebenarnya…saya bukanlah pembunuh” (dengan agak kasar) (diam)

Aku :” ya…memang sih, tak ada saksi yang melihat orang itu di tabrak lari, tetapi saya tidak berbohong.” (diam)

Aku :”bagaimana lagi saya bisa membuat bapak polisi ini percaya?, saya bukan pembunuh” (diam)

Aku :”kok bapak bisa tidak percaya dan mau menangkap saya yang dituduh pembunuh ini oleh para orang2 kampung?, tapi bapak bisa percaya kepada para pejabat yang sudah jelas memakan duit rakyat dan sudah dituduh sedemikian rupa tetapi tetap saja mereka tidak pernah merasakan “kelam”nya penjara” (nada meninggi) (diam)
Aku :”bukannya saya ingin melecehkan kerja bapak, tapi memang itu faktanyakan…yang jelas saya bukan pembunuh” (nada makin tinggi) (diam)

Aku :”saya akan melawan bapak pokoknya agar saya bebas” (diam)

Aku :”ya…saya akan melaksanakan apa saja…” (diam)

Aku :”contohnya…” (diam)

Aku :”tidak…tidak…saya tidak akan memakai pengacara…itu mahal… (diam)

Aku :”hm…hm…(dengan lemas) saya tidak tahu harus berbuat apa…hah…” (diam)

(lampu gelap, pindah adegan 1)

Aku :” ya…akhirnya saya dipenjara, memang tidak terlalu buruk di penjara, dapat makan dan tidur yang terjamin…tetapi masalah datang setelah kurang lebih 3 minggu saya dipenjara…saya dipanggil ke pengadilan…”

Adegan 4

Aku :”pak hakim, saya tidak bersalah…saya hanya di tuduh…percayalah” (diam)

Aku :”kenapa semua orang menanyakan seperti itu ?, saya tak punya bukti” (diam)

Aku :”kalau tak punya bukti berarti bersalah ? siapa yang membuat peraturan seperti itu ? apakah sudah tidak ada kepercayaan antar setiap orang ?” (diam)

Aku :”ya…aku tahu…ini bukan masalah kepercayaan…tapi benar, saya tidak bersalah” (diam)

Aku :”tidak…tidak…saya tidak punya pengacara. Mahal biaya sewanya.” (diam)

Aku :”lalu apa yang mau bapak perbuat kepada saya…terserah bapak saja” (diam)

Aku :”apa ? menghukum ? saya kan tidak bersalah…” (diam)

Aku :”ya…tadi saya memang bilang terserah bapak, tapi saya tidak mau di hukum atas kesalahan yang bukan saya yang melakukan” (diam)

Aku :”tapi…ya sudah, apa hukumannya, jangan berat-berat, ya…”(diam)

Aku :”apa ?(tidak percaya) hukuman tembak ?...tidak bisa…tidak… itu tidak mungkin terjadi padaku…itu namanya pelanggaran HAM… apa pak hakim tega ?... walaupun saya terbukti bersalah pun, saya tidak pantas dihukum tembak. Saya tidak terima” (diam)

Aku :”yang mau saya perbuat adalah…” (diam)

Aku :”adalah…” (diam)

Aku :”ya…memang tidak ada, tapi saya mau mengajukan pertanyaan ?” (diam)

Aku :”kenapa saya apabila terbukti bersalah telah membunuh 1 orang maka dihukum tembak, apa yang terjadi apabila ada seseorang yang membunuh hampir seperempat negara tetapi tidak langsung di bunuh melainkan di siksa perlahan sampai mati, apa hukumannya ?” (diam)

Aku :”dia juga akan disiksa dan dihukum mati…itu jawaban pak hakim…tetapi saya masih belum mengerti kenapa para koruptor masih banyak saja di negeri ini, padahal mereka sudah mati harusnya kalau menurut jawaban bapak hakim tadi” (diam)

Aku :”saya berbicara seperti ini karena saya sudah mau mati dan saya ingin mengeluarkan fakta-fakta di negeri ini, saya tidak takut lagi untuk berkata yang sebenarnya tentang negeri ini. Yasudah pak hakim, waktu saya kan 30 hari sebelum penembakan, jadi boleh g saya tinggal di rumah sebelum penembakan” (diam)

Aku :”terimahkasih pak, dan doakan saya semoga dapat melihat kejujuran yang sejujur-jujurnya di atas sana”

(kembali ke adegan 1)

Aku :”itulah alasan kenapa aku merenung terus dan menunggu waktu yang sepertinya berjalan cepat sekali. Aku mau mati” (setelah beberapa lama, melihat jam)

Aku :”sebentar lagi…” (diam)

(ekspresi senang)

Aku :”nah…itu jemputan ku datang…selamat tinggal semuanya, akhirnya aku tidak melihat kebohongan dan fakta-fakta tidak jelas lagi. Selamat tinggal” (meninggalkan panggung)

Wednesday, November 12, 2008

Whani Darmawan

Anak Semata Wayang
Cerpen Whani Darmawan


SELEMBAR diary tersibak, sebaris puisi tertera...

Ayah,....

Tuliskanlah darahmu, di atas kanvas putih jiwaku. Agar tak hanya kukenang selalu, tetapi mengalir juga dalam derasan darahku....


Wanadri tertegun. Jelas itu buku harian anaknya yang masih berusia delapan tahun. Apakah anak usia sewindu bisa menulis seperti itu? Jangan-jangan ia hanya menjiplak bait puisi yang ia temukan dalam koleksi buku yang ada di rak. Tetapi apa maksudnya? Mengertikah ia?

Wanadri meletakkan sapu yang sedang dipegangnya. Ia duduk, seolah bersiap memecahkan teka-teki sudoku yang gampang-gampang sulit.

"Hidup seperti mimpi," gumamnya kemudian tanpa mengerti pasti mengapa tiba-tiba kalimat padat itu terlontar demikian. Mungkin, ya, hidup memang seperti mimpi. Sudah setara umur anaknya ia menduda, semenjak Surati isterinya meninggal dalam kecelakaan gantung diri. Waktu itu Surati ketakutan tak mampu menjawab kebutuhan ekonomi, dan ketakutan akan hamil lagi. Wanadri merasa, kadang peristiwa dan persoalan hidup memang sulit untuk dipahami, kendati sesuatu sungguh-sungguh terjadi. Cerita seperti yang terjadi pada dirinya kadang-kadang lebih bisa dipercaya jika dilihat sebagai film. Ia sendiri dulu juga pernah menyangkal, kenapa kepahitan hidup bisa menimpa dirinya, tetapi selang ia merenung, ia sendiri menganggap bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sombong. Seolah menafikan dirinya sebagai manusia yang tak bakal bisa terjamah oleh peristiwa pahit sepahit-pahitnya. Ia pun menghela napas dan tafakur sejenak memohon ampunan atas kelancangan pertanyaannya itu kepada Tuhan.

Wanadri mengempaskan napasnya.


Masa itu sudah lama sekali. Wanadri sudah tak ingin mengingatnya. Tetapi ada yang ia lupa. Lupa mengingat rasa sakitnya. Itu mengherankan dirinya. Sudah lama ia tidak lagi bisa merasakan apakah ia sedih ataukah gembira, apakah perlu menangis ataukah tertawa. Seolah semua kelengkapan hidup, penderitaan, semua sudah lewat. Anaknya semata wayang menggoreskan tekad, bahwa ia tidak boleh menghindar dari tanggung jawab.

Wanadri menyadari gerunjalan napasnya, dan kembali menunduk mencermati jilidan kertas tulis di tangannya,....

Ayah,

Rekamlah kisahmu dalam recorder otakku. Agar tak hanya terngiang selalu, tetapi mengebor dalam pilihan sikap hidupku. Agar senantiasa cerita kepahlawanan sehari-hari menjadi milikku. Menjadi kakiku.

Ia tulis ini semua tentang kepahlawanan? Dari mana anak ini mampu menulis dengan bahasa dan pemaknaan sedalam itu!? Wanadri tak ingin mengecilkan arti anak kecil, ia hanya merasa takjub setakjub-takjubnya. Apakah ada kelainan spiritual pada anaknya tersebut? Ataukah kecerdasan emosinya terlalu tinggi? Hmm,...kepahlawanan. Itukah yang selama delapan tahun Wanadri lakukan kepada anaknya? Wanadri tak yakin dirinya seheroik kata-kata itu. Sepenuhnya ia hanya merasa tanggung jawab. Lumrah kalau ia melakukan hal-hal yang itu bisa mencukupi kebutuhan jiwa-raga anaknya. Oleh teman-temannya, Wanadri dijuluki sang akrobater. Pemain sirkus. Tentu, julukan itu bermakna canda, ledekan, sekaligus serius. Pagi hari sebelum termenung di hadapan mesin tulis, ia memasak untuk sarapan anaknya, kemudian mengantarnya ke sekolah. Siang pada saat ia istirahat, ia menjemput anaknya. Jika tak satu pun teman anaknnya itu muncul, ia taruh anaknya di antara tumpukan kertas, koran dan buku. Menggambar, mencoret-coret, menjadi permainannya yang biasa. Kadang waktu menulis dan mengasuh anak bertubrukan tak terelakkan. Wanadri sering memilih untuk menemani anaknya. Ada kalanya antara perasaan dan tubuhnya ia rasakan seperti cerai-berai. Antara tubuhnya yang lelah dengan kehendak ingin menemani anaknya guna mendapatkan dunia permainan yang semestinya sesuai umurnya. Bahkan ia pernah punya suatu simpulan atas peran orangtua kepada anaknya dan kemauan untuk menulis. Di tengah kepap pikirannya ia sering menarik napas dalam, "Ini keperkasaan ataukah kebodohan?" gumamnya. "Ataukah sesuatu yang biasa saja."

Apakah sikap bela semacam itu yang diterjemahkan anaknya menjadi kata "pahlawan sehari-hari?" Siapakah sesungguhnya anaknya itu?

Wanadri berdiri. Di tangannya masih terpegang buku harian anaknya. Ia berjalan menuju kamar dan mendapatkan anak itu tertidur pulas. Napasnya halus. Pelupuk matanya licin seperti diolesi minyak. Bibirnya ranum memerah.

"Siapakah kamu?" bisik Wanadri lembut, lebih kepada diri sendiri.


Ayah,

Ajarkanlah kesetiaan kepadaku. Agar tak hanya jadi bualan, tetapi menjadi serat dalam dagingku.



Memang. Ada beberapa peristiwa aneh tentang perilaku anaknya, yang membuat Wanadri tegang, cemas, sekaligus takjub. Pertama, saat ia berumur tiga tahun. Pada saat itu Wanadri sungguh-sungguh merasa naas. Tidak ada pekerjaan yang masuk hingga tabungannya ludes untuk bertahan hidup. Wanadri sangat cemas dan mengutuk dirinya sendiri. Menghakimi dirinya sebagai orangtua yang tidak becus. Bahkan untuk kebutuhan pokok anaknya pun ia harus berhutang. Tetapi ia tidak mampu berkelit. Ia ingat betul bagaimana ia memarahi anaknya karena anaknya tersebut tidak mau makan dan minum susu yang uangnya ia dapat dari pinjam. Bahkan anaknya sampai menangis ketakutan, meski tetap tak mau makan. Baru sehari kemudian anaknya itu mau makan dan minum seperti biasa. Tetapi anehnya, sehari kemudian ia kembali mogok makan. Wanadri sunguh-sungguh marah. Tetapi belum lagi tumpah emosinya, seorang tua tetangganya yang kebetulan lewat nyeletuk, "Anak nggak mau makan itu biasa. Kalau sehari makan sehari tidak, yaa....siapa tahu, mungkin dia sedang nDaud?"

Wanadri tercengang. Anak tiga tahun melakukan puasa Daud? Ia tidak ingin percaya, tetapi setelah anaknya melakukan pola makan demikian, ia menyerah, meski ia sangat cemas, khawatir kalau anaknya sakit. Setelah Wanadri mendapatkan pekerjaan, anaknya menghentikan kebiasaan makan melompat hari tersebut.

Peristiwa kedua pada saat Saketi, anaknya itu, berumur lima tahun. Oleh karena centang-perentang keinginannya untuk menemani anaknya dan kemampuan fisik dan psikisnya terbatas, Wanadri mengalami stres. Ia jadi sering marah dan membentak. Ia tahu itu tidak baik, tetapi ia tak mampu mengendalikan. Jika pada saat demikian datang, Saketi hanya terdiam. Hal yang ia lakukan kemudian adalah mengambil sapu kemudian menyapu lantai, atau mencuci piring dan gelas yang masih teronggok di jerambah sumur. Wanadri mau nangis menghadapi ketidakmampuannya. Wanadri merasa bahwa ia harus membebaskan diri dari himpitan itu. Ia pun mengajak anaknya untuk berenang di telaga Perwitasari -sebuah telaga berdebit raksasa dengan ukuran melingkar dua kali lapangan sepak bola, dengan kedalaman tak seorang pun tahu pasti.

Pada saat itu, Saketi justru tidak mau berenang. Ini sesuatu yang aneh, mengingat Saketi sangat suka bermain air. Jadilah Wanadri berenang sendirian, melepaskan penat pikiran dengan air. Berenang kian kemari, menyelam, melompat, seakan Wanadri lupa diri. Anaknya hanya menunggui di pinggir telaga sambil terus memandang bapaknya. Peristiwa tak dapat ditebak. Pada saat Wanadri berada di tengah telaga, perutnya terasa mengejang. Ia mencoba melawan, tetapi kejang di perut serasa mencengkeram seluruh kemampuannya berenang. Berkecipak tangan Wanadri bergerak serabutan. Ia kemudian tak ingat apa pun. Dan ketika terbangun banyak orang merubungnya. Anaknya menangis laiknya anak kecil kehilangan orangtua. Yang mengagetkan Wanadri kemudian adalah ungkapan orang-orang yang merubungnya,

"Siapakah anak bapak itu?"

Apa maksudnya? Wanadri tak dapat menjawab, karena tak mengerti maksud pertanyaan itu.

"Siapakah anak kecil itu?" tandas mereka lagi.

"Ya anak saya...kenapa?"

"Bukan. Anak bapak tadi berlari di atas air dan menyeret bapak, seperti ia sedang menyeret sesuatu di daratan."

Wanadri tidak mengerti. Ia memandang anaknya yang masih mewek dengan air mata berderai.

"Kamu tadi yang menyelamatkan bapak dari tenggelam?"

"Yaa...," ujar dia sambil merengek.

"Bagaimana?"

"Berenang..."

"Tidak! Dia tadi berlari! Sumpah demi Tuhan! Anak kecil itu tadi berlari di atas air!"

Serentak orang-orang itu bicara hal yang sama, nyaris keras seperti bantahan. Saketi semakin ketakutan dan merangkul bapaknya. Wanadri segera memeluk anaknya dan mengakhiri kemustahilan ini; pulang.

Benak Wanadri terus digumuli ketakjuban. Siapakah kamu, anakku? gumamnya dalam hati sambil memandangi wajah anaknya yang pulas tertidur. Tetapi perenungannya tidak tuntas. Sedari tadi ia terganggu oleh suara pertengkaran tetangga sebelah. Di pelataran, Wanadri melihat isteri Sokran si tukang becak, sedang mengusir suaminya,

"Macam bayi saja kamu! Uang sekolah anakmu kamu makan! Kemarin kamu curi gajiku, sekarang berani-beraninya kamu mau jual televisi hanya untuk berjudi!"

"Judi itu menganakkan uang. Nanti kalau menang juga untuk siapa!?" bantah Sokran.

"Kapan kamu menjadi pemenang!! Selamanya bayi ya tetap bayi! Minggat kamuu!"

Sementara mak dan bapaknya terlibat dalam baratayudha itu, Kopet, anak lelaki satu-satunya pasangan sangar itu terdiam sambil tangannya terus melap sepedanya. Drama pun selesai. Wanadri masuk.

Rasa takjub kepada anaknya mengalahkan peristiwa rumah tangga Sokran. Tiba-tiba terlintas kecemasan dalam diri Wanadri bahwa dia kelak tidak akan mampu menghadapi anaknya. Karena tiba-tiba saja ia merasa menjadi orang asing kepada anaknya. "Adakah antara anak dan orangtua itu sesungguhnya asing?" batin Wanadri. Adakah orangtua-anak yang sungguh-sungguh bisa memahami siapa mereka sesungguhnya, dan hubungan macam apa yang sesungguhnya berlangsung? Jika ketidaktahuan muncul, tidakkah sebaiknya sesama manusia saling menghormati, supaya tidak membuat kesalahan.

Wanadri meraih tangan anaknya di tengah lelap tidurnya. Ia cium punggung tangan anaknya, seperti ia mencium tangan kiai. Hatinya bergumam, "Kamu anakku, kamu bukan anakku. Mungkin saja kita ini kawan yang dijodohkan. Shubanallah.... ***
Omahkebon, Juli 2007.
Suara Merdeka 09/16/2007

Download cerpen ini? Silakan klik di sini

Monday, November 10, 2008

Contoh Biografi Tokoh Sastra

Mengenang Sastrawan A.A. Navis

Sejak akhir masa Presiden Sukarno dan masa Presiden Suharto sampai hari ini, Indonesia telah kehilangan beberapa sastrawan, seperti J.E.Tatengkeng, Anak Agung Panji Tisna, Idrus, Takdir Alisyahbana, Iwan Simatupang, Nugroho Notosusanto, H.B.Jassin, Trisnoyuwono, Muhamad Ali, Kirjomulyo, Chairul Harun, Satyagraha Hoerip, dan Motinggo Boesye.

Manusia memang fana tetapi seninya tetap hidup di tengah kehidupan bangsanya dan kehidupan umat manusia. Para sastrawan Indonesia yang telah pergi maupun yang masih hidup adalah tonggak budaya personal sedangkan karya mereka adalah budaya spiritual.

Beberapa hari yang lalu, media massa nasional memberitakan kepulangan A.A.Navis kepangkuan Tuhan Yang Maha Esa. Yakinlah bahwa Sang Pencipta Agung tidak akan menyia-nyiakan arwahnya, arwah seorang sastrawan yang telah diciptakanNya sebagai tonggak budaya personal yang selama hidupnya telah menciptakan budaya spiritual yang disebut sastra Indonesia – yang menjadi bagian dari sastra dunia.


Ars tonga (longa – Red.) vita brevis. (Seni berumur panjang, hidup manusia pendek – Red.). Sesaat setelah mengetahui kepulangannya, saya mengumpulkan sejumlah antologi sastra dalam negeri maupun antologi mancanegara dari perpustakaan pribadi. Sastrawan Ali Akbar Navis selalu ikut serta dalam antologi-antologi itu. Ia cukup diperhitungkan dalam sejarah sastra Indonesia maupun studi kesusastraaan oleh pakar-pakar asing sehingga setiap ada antologi dalam bahasa asing karya-karyanya diikutkan. Dengan demikian karyanya tersebar di dunia berbahasa Inggris dan sebagainya, di samping bahasa Indonesia, Malaysia dan Brunai. Dalam antologi raksasa berbahasa Inggris (709 halaman), dikatakan bahwa A.A.Navis, sastrawan peraih hadiah sastra bergengsi di Asia, Sea Write Award 1974, telah mempunyai dua kumpulan cerpen, yaitu The Downfall of Our Surau (1957), Hujan Panas (1962) dan Bianglala (1963). Sebenarnya cerpen yang belum dibukukan masih banyak lagi. Novelnya adalah Kemarau (1975), The Lonely Girl (1970). Di samping cerpennya yang cukup banyak, esei, artikelnya, paper dan makalahnya bertumpuk di lemarinya, menunggu ada kemauan politik dan industri penerbitan kita untuk memperkaya budaya spiritual bangsa dalam bentuk buku.

Saya tidak terlalu dekat dengan almarhum seperti halnya kedekatan saya dengan Trisnoyuwono yang maha nyentrik itu, atau Boesye, Oyik (Satyagraha Hoerip) dan Chairul Harun karena gaya hidup Navis agak ”aristokrat” seperti Asrul Sani dan Nugroho Notosusanto misalnya yang selalu tampak bersih, tidak slebor dan haram untuk tidur di sembarang tempat, terutama di Balai Budaya dan juga haram untuk makan di mana saja, di rumah teman atau di warteg.

Selain itu hanya sastrawan yang tinggal di Padang, Pekan Baru, Makassar dan Medan yang selalu muncul di Jakarta dengan menumpang pesawat terbang, kapal laut atau jalan darat. Selebihnya tidak mampu. Sastrawan Navis selalu muncul di Jakarta mungkin untuk urusan dinas dan ceramah di TIM. Akan tetapi saya selalu mencatat di mana ada sastrawan di kota-kota di Indonesia ini. Soalnya sebagai seorang wartawan freelance yang ketika itu lagi gila-gilanya mengembara di semua provinsi di negeri ini perlu tempat menggeletakkan badan di tikar mereka ketika kelelahan, lapar dan sakit. Di kota-kota yang ada sastrawannya, pasti rumahnya akan saya jadikan hotel prodeo. Ketika mengembara dari Banda Aceh, lewat Sumatera Utara menembus ke Padang, Sumatera Barat, saya jatuh sakit dalam perjalanan. Panas dingin, batuk pilek. Di benak saya rumah Navis akan saya jadikan rumah sakit sekaligus rumah makan karena di kantong hanya tinggal beberapa sen untuk membeli aspirin. Dibuang oleh bus di terminal, saya tertatih-tatih ke Pusat Budaya Padang menanyakan rumah Navis. Ternyata sastrawan kita ada di Jakarta. Untung saya bertamu dengan Chairul Harun sastrawan dan budayawan Minang, teman lama sejak bermanikebu di Jakarta dulu. Setelah panas badan turun pengembaraan di Pulau Sumatera diteruskan.

Di Jakarta, pada suatu malam. Ketika saya makan malam di warung tenda di depan TIM bersama Sutarji dan Ikranegara, di pojok sana duduk sastrawan Navis menikmati makan malamnya. Kami bertiga makan dan minum bir sejadi-jadinya. Makin lama Ikra dan Sutarji makin berceloteh, tertawa tergelak-gelak. Rupanya saya sedang menderita stres berat karena masalah rumah tangga sehingga bermalam-malam saya mengembara dari kaki lima ke kaki lima, dari stasiun ke stasiun, menggeletak di mana saja kalau sudah ngantuk. Setiap malam minum TKW putih, bir dan wiski. Rupanya alkohol (etil dan metil) segala telah til-til mengental menggerogoti otak saya sehingga cepat tersinggung, marah dan pemberani tak takut mati. Preman-preman saya ajak begadang minum TKW lalu meminta mereka adu panco. Ternyata otot saya lebih kuat sehingga mereka segan seakan menunggu waktu saya diangkat menjadi kepala preman. Ketika keduanya ribut saya masih tenang tetapi ketika Tarji menghamburkan kata tak tak tak dan biawak, saya tersinggung lalu mengambil botol bir dan memecahkannya di meja. Semua diam, membelalak. Tarji dan Ikra pergi setelah Navis membayar semua makanan dan minuman kami.

”Maaf, Bang, ” kata saya.

”Tarji dekaden, tapi Anda tak dapat menahan diri. Kalau pecahan botol kena mata orang...”

”Maaf Bang, maaf,” kata saya.

Untung saya segera sadar dan mencari Tarji untuk minta maaf.

Adegan itu tertera dalam buku biografi A.A Navis yang ditulis oleh Abrar Yusra. Hanya saja, dalam buku biografi Navis itu saya disebut alkoholik. Sebenarnya tidak sama sekali. Ketika badai krisis rumah tangga berlalu saya berhenti minum minuman haram itu. Bertobat, ceritanya. Mesin tik saya lalu berdetak-detik, tik tik tik setiap malam, buku-buku kembali dibuka, dibaca, dicoret sana sini. Siang malam membaca, mengarang mencari honor untuk membiayai kuliah anak-anak sehingga menjadi sarjana, wartawati dan dosen.

* * *

Ketika A.A.Navis menjadi direktur INS Kayutanam, sebenarnya tersedia jalan terbuka untuk membebaskan negeri ini dari pengangguran, urbanisasi dan utang yang menggunung. Lembaga pendidikan ini berseru sesuai dengan satu kalimat dari puisi Sitor. ”Anak, jadilah tukang”. Seruan atau imbauan ini sangat inspiratif bagi usaha penanggulangan pengangguran dan urbanisasi. Sayang, ketika membaca lifletnya, tampaknya lembaga ini dibawa ke pendidikan formal yang begitu banyak menelurkan penganggur di negeri ini.

Diharapkan suatu sayap pendidikan non-formal yang produktif dan kreatif dari lembaga ini dengan tamatannya yang membawa alat pertukangan dan teknologi tepat guna termasuk komputer dengan internetnya ke lembah-lembah sepanjang trans Sumatra untuk membuat desa-desa seni-budaya dan pariwisata yang subsisten di bidang pangan dan sandang serta pengobatan tradisional dari tumbuhan hutan dan tanaman. Dengan demikian, Navis dapat dikatakan sebagai bukan saja berbakti kepada keindahan lewat sastra tetapi juga telah merintis usaha mengatasi kemiskinan dan penderitaan melalui lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Semoga perjalanannya dilanjutkan oleh generasi muda. **


GERSON POYK. Sinar Harapan, 2003

Tertarik dengan postingan ini? Silakan download di sini

Saturday, November 08, 2008

Hikayat Bunga Kemuning

Bunga Kemuning

Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi diantara mereka.

Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning, Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.

Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. "Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?" tanya raja. "Aku ingin perhiasan yang mahal," kata Puteri Jambon. "Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau," kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya. "Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat," katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya. "Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu," kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi.


Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya.

Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. "Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,"kata seorang diantaranya. "Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!" ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya.

"Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!" Kata Puteri Kuning dengan marah. "Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!" ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang. Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puteri nya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih. "Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!" kata sang raja.

Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya. "Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning," kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. "Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah," ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat the, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya. Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri.

Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu," sahut Puteri Kuning. Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka. "Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!" kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal. "Astaga! Kita harus menguburnya!" seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi.

Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. "Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!" teriaknya. Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya." Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!" Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas.

Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya. "Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!" kata raja dengan senang. Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan kebaikan.

Diambil dari http://www.e-smartschool.com.

Download teks ini KLIK di sini

Friday, November 07, 2008

Stagnasi Puisi Indonesia

Perihal Stagnasi Dunia Puisi Kita


Puisi-puisi penyair mutakhir hadir sekadar mengadopsi puisi-puisi yang ditulis penyair terdahulu. Baik bentuk maupun tema/isi. Tampaknya penyair mutakhir kita telah menyerah pada bentuk dan gaya tradisi penulisan puisi yang dirintis oleh para pendahulu mereka sehingga timbul kesan, penyair Indonesia mutakhir adalah generasi sisa yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada upaya dan keberanian penyair mutakhir untuk melakukan terobosan dalam kerja kreatif mereka.

Dengan kata lain, dunia perpuisian Indonesia mengalami stagnasi. Demikian kira-kira kegelisahan seorang penyair dalam sebuah diskusi. Kegelisahan penyair muda usia ini seakan hendak menegaskan lontaran Jamal D Rahman. Dalam konteks sepinya pembaruan dalam ranah puisi Indonesia pasca-puisi mantranya Sutardji dan puisi lirik-imajisnya Goenawan dan Sapardi Djoko Damono, Jamal pernah mengeluhkan, apa lagi yang mesti dilakukan penyair mutakhir untuk memberikan tindak pembaruan ketika semua bentuk dan gaya pengucapan puisi telah dilakukan penyair pendahulu?

Kegelisahan penyair muda usia ini bertolak dari realitas yang dinilainya telah menimbulkan kekhawatiran puisi akan semakin ditinggalkan oleh publiknya sendiri. Puisi menjadi dunia yang membosankan dan sia-sia, tidak menawarkan kesegaran dan orisinalitas yang mestinya menjadi pertaruhan dan sikap kesenian. Bahasa sebagai perangkat satu-satunya milik penyair ditengarai kurang dikuasai secara memadai oleh penyair mutakhir. Inilah barangkali yang dimaksud Edy A Effendi sebagai terganggunya wilayah basis reproduksi puisi.

Saya sepakat dengan kegelisahan kawan penyair ini, bahwa dari tahun ke tahun tidak ada “kegaduhan” dalam dunia perpuisian kita. Kegiatan menulis puisi akhirnya menjadi sebuah proses adopsi bukan proses kreasi, sehingga tampak bahwa kerja kreatif penulisan puisi sekadar upaya untuk menghibur diri, iseng, mengisi waktu luang, klangenan yang tidak lagi mampu menambah perbendaharaan batin; memberi penyegaran dan rangsangan pemikiran. Puisi tidak berdaya mengimbangi realitas intelektual yang terus melaju. Laku klangenan serupa ini menjauhkan puisi sebagai ajang pertarungan pemikiran habisa-habisan dalam mencari bentuk pengucapan baru, pergulatan dengan bahasa. Yang menjadi pertanyaan, benarkah simplifikasi yang dibuat kawan penyair ini, bahwa fenomena ini merupakan gejala apa yang disebut Goenawan Mohamad sebagai machiavelisme kesusastraan? Yakni sebuah kecenderungan di mana pesan tema/isi menjadi pertaruhan dalam menulis puisi?

Kecenderungan ini sebenarnya merebak pada puisi-puisi yang muncul 80-90-an yang menjejalkan tema (pesan/isi) kepada puisi-puisi yang mereka tulis sehingga nasib puisi jatuh menjadi slogan dan jargon-jargon yang berakibat pada stagnasi, maka agaknya kegelisahan kawan penyair ini sudah terlambat. Bukan saja generasi tersebut sudah berlalu dan menjadi bagian dari perjalanan puisi Indonesia silam, tetapi juga bahwa sekarang telah lahir generasi penyair 2000-an yang bila dilihat kecenderungan mereka agaknya sesuai seperti yang diharapkan para pemuja bentuk serupa kawan penyair kita ini.

Dua Kubu

Bila kita cermati, arus besar kecenderungan puisi-puisi yang disiarkan media-media setidaknya sejak tahun 2000 adalah perayaan besar-besaran terhadap bentuk pengucapan seraya mengabaikan tema (pesan/isi). Bentuk menjadi pertaruhan habis-habisan. Dalam beberapa derajat tertentu kecenderungan ini juga menimbulkan kekhawatiran yang sama. Yakni keseragaman bentuk sehingga puisi kembali menjadi dunia yang membosankan dan sia-sia.

Fenomena ini dalam beberapa titik tertentu makin menemukan tempatnya yang lapang dengan munculnya kecenderungan dari sebuah kelompok yang bersemangat mengarahkan bentuk maupun gaya penulisan puisi pada selera yang mereka ciptakan, yang ditunjang dengan jaringan kuat dalam wilayah publikasi dan pertarungan ide, kelompok ini telah berhasil menjadi kiblat bagi arus kelahiran puisi dari para penyair mutakhir ini. Fenomena ini nampak dari berbondong-bondongnya para penyair mutakhir untuk menjadi epigon paling loyal terhadap kelompok ini. Keloyalan mereka ditunjukkan dengan perayaan mereka terhadap bentuk serta pengucapan yang dimirip-miripkan dengan sang “messiah” puisi Indonesia.

Salah satu ciri kelompok ini adalah kecenderungan yang menempatkan puisi sebagai entitas yang harus dijauhkan dari segala macam pesan. Sebagai karya seni puisi tidak selayaknya dibebani pesan, untuk menghindarkan sastra terpuruk menjadi slogan atau alat untuk menyampaikan sikap penyairnya terhadap kehidupan. Puisi semata diletakkan sebagai unjuk kemahiran memilin-milin kata, mengeksplorasi bahasa untuk mengejar efek ritmis. Dengan demikian puisi tidak berfungsi sebagai kontrol sosial, apalagi membersihkan politik yang kotor seperti harapan keterlaluan seorang John F Kennedy. Tetapi kondisi serupa ini tidak kemudian membuat sastra menjadi asing dari semangat jaman yang melahirkannya.

Puisi-puisi jenis ini yang lahir dari generasi 2000 tetap bisa menunjukkan semangat zamannya, yakni semangat yang lebih tenang dan dewasa menyikapi realitas sosial politik yang mengepung mereka. Dengan kata lain, puisi-puisi pemuja bentuk yang oleh sebagian kalangan dituding sebagai puisi-puisi masturbasis, adalah representasi dari cara lain dalam menyikapi gelimang realitas sosial politik yang carut marut. Tentu tidak ada yang salah dari fenomena ini. Sejarahlah yang kelak mengujinya.

Kembali pada mandeknya puisi-puisi era 80-90-an yang digelisahkan secara terlambat oleh penyair kawan kita, saya melihat justru ini bentuk pencapaian lain, setelah puisi lirik-imajinya Sapardi Djoko Damono, puisi mbelingnya Remy Silado, puisi mantranya Sutardji, puisi pamfletnya WS Rendra maupun puisi intelektualnya Goenawan Mohammad. Karena toh jargon-jargon yang dilekatkan pada puisi para penyair tersebut sebatas jargon yang juga bisa diciptakan dan dilekatkan pada jenis puisi yang lahir sesudahnya. So what gitu lho?

Pada akhirnya, tidak bisa tidak, wacana yang diangkat penyair kawan kita ini mengingatkan kembali pada pertarungan abadi antara dua kubu dalam sastra. Pertama, kubu yang memandang bahwa sastra adalah dunia teks yang bekerja di wilayah ide, kekuatan imajinasi dan bahasa; tidak berurusan dengan moral, politik, serta perkara di luar teks lainnya. Fuentes, salah seorang yang mengimani bahwa tanggung jawab penyair adalah meletakkan kekuatan imajinasi dan kemampuan berbahasa.

Sementara kubu yang kedua memandang puisi punya tanggung jawab terhadap masyarakat. Kubu ini mengukuhi bahwa kehadiran puisi harus merefleksikan situasi masyarakat yang melahirknanya, untuk kemudian ikut menyampaikan pesan-pesan dan memperjuangkan keberpihakan bagi “kebenaran” masyarakat luas.

Kedua kubu ini masing-masing memiliki argumen yang sama-sama kuat. Jadi saya kira biarlah keduanya menempuh jalannya masing-masing.***


Aris Kurniawan
Penulis adalah direktur Astra (Akademi Sastra Tangerang)
cited from
http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0903/bud2.html

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook